Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Rumah adat Cikondang versus gempa Jawa ? Tak sedikitpun rusak.

with 4 comments

Gempa Jawa & mitigasi bencana

Pengantar A.Savitri :

Pukul 14.55 sebuah balok memukul jam dinding hingga mati. Disusul kematian 82 orang di 10 kabupaten/ kota di Jawa Barat. Rinciannya ; kabupaten Tasikmalaya ( tewas 5 org, luka 108 org, mengungsi 142.577 org ), kota Tasikmalaya ( tewas 5 org, luka 22 org, mengungsi 3.387 org ), kabupaten Garut ( tewas 8 org, luka 164 org, mengungsi 13.928 org ), kabupaten Cianjur ( tewas 31 org, luka 22 org, hilang 21 org, mengungsi 17.555 org ), kabupaten Kuningan ( mengungsi 1.937 org ), kabupaten Sukabumi ( tewas 2 org, luka 20 org ), kabupaten Subang ( 1 org luka2 ), kabupaten Bogor ( tewas 2 org, luka 9 org, mengungsi 663 org ), kabupaten Ciamis ( tewas 7 org, luka 207 org, mengungsi 24.584 org ) dan kabupaten Bandung ( tewas 22 org, luka 681 org, mengungsi 5.661 org ), kabupaten Bandung Barat ( luka 18 org ).

Rabu ( 2/9/2009 ) siang itu, saya melihat bangunan 2 lantai di depan saya bergoyang, mobil yang di parkir bergeser ganjil. “GEMPA !!”, teriak saya pada orang sekitar juga supir angkot yang lewat. Orang2 berhamburan keluar dari bangunan2 itu menuju tepi jalan, juga di dekat saya berdiri. Terlihat wajah2 bingung, terpana juga senyum terheran melihat orang sudah berkumpul di tepi jalan. Tidak untuk menyetop angkutan umum, tapi melihat mereka yang baru keluar bangunan. Saling menonton, atau menilik perasaan. Ada kebersamaan yang mendadak tercipta, meski kami tidak saling kenal. Ada perasaan bersama, kami akan aman di sini.

Gempa yang terasa sekitar 3 menit itu mematikan juga sinyal ponsel dan aliran listrik. Melihat tak ada bangunan yang rusak di sekitar saya, feeling saya mengatakan ibu baik2 saja. Sebelum keluar rumah, saya sudah menitipkan keselamatan dan kesehatan ibu pada Allah Swt. Agustus 2007 pernah terjadi gempa di kota saya, cukup kuat, dan ibu pun selamat sentosa. Saya cek mesin ATM di supermarket sebelah, keduanya out of order. Saya dengar suara gemuruh mesin genset dinyalakan. Supermarket beroperasi kembali. Daripada bengong cukup lama di bangunan2 lain yang masih belum menyala penerangannya, saya dan beberapa penunggu masuk ke supermarket, mencari bahan yang bisa dijadikan hidangan berbuka 3 jam lagi. Pramuniaga menjadi lebih ramah dari biasanya. Peristiwa gempa seolah mendekatkan kami. Sama2 baru keluar dari lubang kematian. Lega.

Dari media kemudian saya tahu, gempa berkekuatan 7,3 skala Richter ( dicatat Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika/ BMKG ) itu melanda Jawa, Bali dan Sumatera. Pusat gempa berada di posisi 142 km barat daya Tasikmalaya dan berpotensi tsunami. Akibat tumbukan lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Menyebabkan orang luka, harta, rumah hancur, sekolah ambruk dan trauma psikologis. Entah kapan bisa pulih.

Di tayangan teve, saya lihat seorang saksi mengatakan, dirinya berada di perbatasan desa Pamoyanan dan Cikangkareng ketika gempa terjadi. Sejak pukul 3 kurang 20 menit, ia merasakan tanah yang diinjaknya bergetar. Ia menunjukkan arah di mana terlihat anak2 masih ceria menghabiskan waktu ngabuburitnya di sebuah lapangan. Dalam hitungan detik, pemandangan gembira itu seketika tersapu gemuruh longsoran tanah dari bukit Urug Hanafi. 15 KK dan 57 orang menjadi korban. 21 jasad terkubur itu belum berhasil dikeluarkan hingga hari ini. Pencarian korban dibatasi hingga Kamis ( 10/9/2009 ). Seorang pria pingsan kehilangan 11 anggota keluarganya sekaligus ; istri, anak, mertua dan 6 keponakannya. Pengalaman traumatik.

Indonesia dibilang Andi Hanindito ( direktur Bansos Bencana Alam ) adalah supermarket bencana. Terletak di pertemuan 4 lempeng bumi yang mengapung di atas magma cair yang panas. Kepulauan Indonesia termasuk wilayah Pacific ring of fire ( deretan gunung berapi Pasifik ) dan dipengaruhi 3 gerakan ; sistem Sunda di bagian barat, sistem pinggiran Asia Timur dan sirkum Australia. Teringat, gunung Krakatau, Tambora dan Toba, 3 gunung berapi terdahsyat di dunia, juga berada di negeri kita.

Gunung Krakatau, Tambora & Tambora terdahsyat di dunia.

Gunung Krakatau yang meletus tahun 1883 menimbulkan tsunami setinggi 100 kaki, indeks letusan 6. Gunung Tambora di Papua meletus tahun 1915, melepaskan gelombang panas dan debu ke stratosfir hingga terjadi musim dingin setahun penuh di Rusia dan Eropa, menewaskan 10.000 penduduk Tambora. Indeks 7, setara dengan gunung Thera di laut Aegean, Yunani. Gunung di Eropa itu meletus tahun 1864, juga 640 ribu tahun yang lalu. Gelombang panas dan tsunami yang ditimbulkan menewaskan seluruh penduduk Pompey dan pulau Kreta. Banyak korban ditemukan tengah berpelukan erat, telanjang, sesama pria, sudah membatu. Menurut sebuah situs, itu azab yang ditimpakan pada pelaku sodomi, yang bersikeras mempertahankan kebiasaan leluhurnya di wilayah Sodom, yang di kitab suci dikenal sebagai bangsa yang musnah.

Gunung Toba di Sumatera meletus 13 ribu tahun yang lalu, indeks letusan 8, terbesar dalam sejarah, penyebab satu jaman es ( sebelumnya jaman es terjadi 150 ribu tahun lalu, akibat benturan komet yang memusnahkan keluarga tyrex dan dinasourus yang hidup antara 120- 65 juta tahun yang lalu, manusia baru hidup 3 juta tahun yang lalu, setelah es mencair dan banjir, manusia tinggal sekian ribu saja di daerah Afrika, mereka nenek moyang manusia sekarang ).

Danau Toba, danau terluas yg adalah kawah gunung Toba yg meletus ribu tahun lalu, menyebabkan jaman es & menenggelamkan benua Atlantis.

Danau Toba, Sumatera, danau terluas yg adalah kawah gunung Toba yg meletus 13 ribu tahun lalu, menyebabkan jaman es & menenggelamkan benua Atlantis.

Letusan Toba memusnahkan banyak spesies hewan dan menenggelamkan benua Atlantis. Danau Toba yang seluas itu adalah kawahnya. Lumpur Lapindo di Porong, Jawa Timur yang diprediksi para ahli baru mencapai keseimbangan hidrostatis setelah 31 tahun, salah satu bukti tenggelam benua tsb. Lumpur Porong yang berasal dari gunung raksasa lumpur yang bercampur air laut, dulunya gunung besar di benua Atlantis. Bangsa Atlantis adalah bangsa dengan peradaban termaju pada masanya. Serial “Man from Atlantis” di TVRI, “Deni Manusia Ikan” di majalah remaja, terinsipirasi kisah benua yang hilang ini. Dan kita, bangsa Indonesia, hari ini, mendiami pucuk2 daratan Atlantis ini. Can you believe this ?

Kesimpulannya, Indonesia adalah wilayah yang sangat rawan bencana. Ironisnya, kita belum punya sistem penanggulangan bencana alam nasional. Kita belum punya mindset yang sama tentang penanganan bencana. Guyonnya, seperti rokok, bencana alam ini digunakan untuk mengurangi kepadatan penduduk, jika program KB tidak jalan seperti yang diharapkan, jika melihat penanganan dan pencegahan bencana kesekian kalinya terkesan lamban. Fakta, bahwa hanya 20 % dampak bencana yang sanggup ditangani pemerintah. Sisanya diurus masyarakat, dunia usaha dan internasional. Aturan manajemen bencana internasional menghendaki adanya satu komando, satu pedoman dan satu kesatuan. Tiga hal itu belum ada di Indonesia, setiap wilayah menangani dengan cara masing2.

UU no.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, belum tuntas dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah. Korps Penanggulangan Bencana Indonesia baru mulai dibentuk di tingkat kabupaten/ kota. Pemerintah juga perlu segera menetapkan tata ruang yang aman dari serangan gempa dan tsunami. Bencana yang tidak bisa diprediksi sebelumnya dan baru diketahui setelah terjadi. Berbeda dengan angin topan atau banjir. Kita bisa mengolah data kumpulan awan dari satelit yang diluncurkan manusia ke luar angkasa untuk memperkirakan waktu terjadinya. Setahu saya, manusia belum mampu meluncur ke perut bumi yang panas bagai neraka, untuk membaca gejolak magma.

Jepang dan Amerika belajar dari bencana di Onagawa dan Hawaii tahun 1960. Penduduk kedua negara maju itu memahami benar dan siap menghadapi bencana gempa dan tsunami. Apakah kita belajar dari pengalaman gempa dan tsunami di Aceh ( 2004 ) dan Yogyakarta ( 2007 ) ?

Kiat selamat dari gempa, banjir, tsunami, longsor, topan, kebakaran & petir

Sementara menunggu korps dan sistem tsb berproses menjadi seperti harapan semua pihak, kita perlu melatih diri sendiri untuk survive dari tragedi gempa. Saya sendiri sudah menyiapkan 2 tas di tempat yang mudah dijangkau dalam keadaan genting. Tas pertama berisi dokumen penting hidup saya, diantaranya akte kelahiran, sertifikat keahlian, dokumentasi karya berupa foto/ flash disk/ netbook, buku organizer, uang cash 500 ribu rupiah, kartu ATM, SIM dan terutama KTP ( untuk antre mendapat makanan, obat2an atau bantuan lain dari pemerintah atau masyarakat jika saya terpaksa tidur di tenda2 pengungsian ), tersimpan di kotak anti kebakaran.

Tas kedua berisi 1 stel baju ganti, jaket, jas hujan/ poncho ( bisa untuk tukar darurat ) sabun, sikat gigi, odol, sandal, handuk, selimut, botol minum, pisau lipat/ serbaguna, gulungan tali, kawat, sendok, garpu dan mangkuk stainless steel ( bisa jadi pengganti panci untuk menggayung air, memasak air atau mi/ super bubur ). Juga kotak P3K. Saya tak ingin merepotkan orang. Ingin jadi pengungsi yang manis. 2 tas ini bisa saya sambar jika ada kebakaran, banjir, tsunami ( perlu 8 – 20 menit untuk kabur sejak early warning ) atau bencana lain. Juga menghindari keponakan yang ramai atau tamu keluarga yang datang menginap, sementara saya dikejar deadline atau inspirasi menulis/ melukis dan perlu menginap di hotel atau travel/ camping.

Jika kita ada di suatu tempat, kenali lingkungan di sekitar kita. Berada di lantai berapakah kita ? Di mana tangga kebakaran dan firehose-nya ( alat pemadam dalam gedung ). Apakah di belakang kita ada tebing yang rawan longsor, dengan kolam ikan atau kolam renang ? ( beban air akibat curah hujan yang tinggi melebihi normal akibat climate change, sering melebihi kekuatan struktur penopang tebing atau kolam hingga tebing itu ambrol atau tanah longsor ). Gambarkan di otak, jika ada bencana, skenario terburuk, apa yang harus kita lakukan, lewat jalan mana ?

Jika kita berteduh di pondok di tanah lapang atau persawahan pada musim hujan, jika tak ada penangkal petir, kita buat sendiri dengan 2 buah garpu. Satu ditaruh di ujung bambu setinggi minimal 2,5 meter, satu lagi ditancapkan ke tanah untuk pentanahan ( grounded/ mengalirkan arus petir ke bumi ), hubungkan keduanya dengan kawat tembaga. Duduklah di jarak aman darinya ( sekitar 2 meter ), jangan berteduh persis di bawah pohon besar atau di ketinggian ( saya pernah membaca beberapa korban petir yang tewas berada di dalam langgar/ mushola di sebuah bukit, petir masuk lewat jendela.

Jika ada badai angin sebesar tornado, carilah tempat relatif aman di sudut ruangan/ dekat kolom/ tiang utama penopang bangunan atau di bawah jembatan fly over/ jembatan layang ( dekat struktur pendukungnya ). Jika di tepi pantai, ketika melihat air surut begitu jauh sehingga ikan2 bergelimpangan menggoda untuk ditangkap, atau melihat hewan2 bertingkah tak biasanya/ terlihat linglung/ lari ke ketinggian, segera berbalik dan cari tempat yang tinggi di atas bukit, kalau tak sempat segera panjat pohon kelapa yang tinggi. Berpeganglah erat dan berdoalah yang intens memohon keselamatan dari-Nya.

Jika anda bangun, tersadar api sudah berkobar besar dan asap mengepul di mana2, segera tutup pintu dan jendela, basahi handuk untuk mengganjal lubang di bawah pintu, mencegah asap masuk, pilin seprai helai demi helai hingga menjadi tali yang panjang. Dengan “tali darurat” itu, anda bisa meluncur dari lantai atas melalui jendela/ balkon hingga sampai selamat ke tanah dan menghirup udara segar. Gunakan kaki untuk mengerem kecepatan luncur dan tangan berpegang erat ke tali untuk merayap turun.

Menghadapi gempa, anda harus tenang, matikan lampu dan kompor, sambarlah kedua tas, berlindunglah di dekat kaki meja, kaki sofa, kaki ranjang atau sudut ruangan/ dekat tiang bangunan ( jangan di dekat daun pintu ), setelah hiruk pikuk/ jejalan orang yang menyelamatkan diri sudah berkurang, turunlah lewat tangga darurat ( jika tangga biasa berhati-hatilah, tangga termasuk bagian bangunan yang mudah ambruk digoyang gempa ). Carilah tanah lapang yang terhindari dari hempasan gedung, tiang listrik, papan reklame, dsb. Jika, anda di dekat mobil, meringkuklah di samping mobil, jangan masuk ke dalamnya. Pastikan ada ruang untuk anda jika tiang tiba2 roboh di atas plafon mobil.

Setelah itu hubungi posko2 bencana atau tim SAR jika anda kehilangan sanak saudara. Sebelumnya, hubungi dulu anggota keluarga anda ( bisa via ponsel ) atau cari tahu keberadaan mereka pada orang2 yang mungkin mengetahuinya. Siapkan nomor darurat di phone book anda, seperti polisi, dinas kebakaran, dinas sosial, tim SAR dan ketua lingkungan anda. Bersyukur pada Allah anda masih bernyawa dan tetap optimis menghadapi tantangan hidup di depan, sekelam apapun itu. Buktikan, diri anda orang Indonesia yang beriman. Survive ! ***

Bantuan mengalir dari berbagai pihak, tapi tak merata dan tersendat.

Katanya, bantuan sudah banyak mengalir ke daerah2 gempa di Jawa Barat. Namun, korban di kabupaten Bandung mengeluh distribusi bantuan, lambat dan tidak merata. Seperti warga di Pengalengan, yang hanya menyantap mi instan untuk sahur. Warga kecamatan Kertasari, kampung Sukamenak ( 60 pengungsi ) – desa Margamukti – kecamatan Pangalengan, kabupaten Bandung dan desa Baranangsiang ( menurut kepala desa, Heri Puryanto, ada sekitar 270 warga ) – kecamatan Cipongkor, Ngamprah, kabupaten Bandung Barat, kedinginan dan kurang makan. Mereka masih mengharapkan selimut, pakaian dan makanan segera datang. Jumlah warga yang terkena gempa tersebar di 26 kecamatan dan baru 10 kecamatan yang mendapat distribusi bantuan dari posko utama. Bantuan tsb berupa beras, mi instan dan air mineral.

Asumsi kebutuhan beras selama tanggap darurat untuk 38.779 pengungsi di kabupaten Tasikmalaya mencapai 150 ton beras. Baru tersedia 40 ton, dan 10 ton lainnya sudah disebarkan ke pengungsi, kekurangannya 100 ton. Juga dibutuhkan 110 tenda untuk pengungsi, kata Diswana, Kabag Kesra Kab. Tasikmalaya.

Seorang nenek mencoba menyelamatkan barang2 yang tersisa. Gempa Jawa ( Tasikmalaya ) Rabu, 2/9/2009 memaksanya untuk survive di tenda2 pengungsian.

Seorang nenek mencoba menyelamatkan barang2 yang tersisa. Gempa Jawa ( Tasikmalaya ) Rabu, 2/9/2009 memaksanya untuk survive di tenda2 pengungsian.

Mengenai banyaknya warga yang mendirikan posko di sepanjang Jalan Raya Pangalengan, bupati Bandung, H.Obar Sobarna, mengatakan pemkab sudah menertibkan. Tinggal 4- 5 posko lagi. Sebelumnya setiap 100 meter ada warga yang meminta bantuan. Deden Usman, warga desa Tribakti Mulya, kecamatan Pangalengan, mengatakan banyaknya warga yang meminta bantuan di pinggir jalan karena bantuan yang diterima amat minim. Ada yang hanya sekali menerima 4 bungkus mi instan untuk satu keluarga. Sejumlah spanduk dibentangkan warga di jalan tertulis “Bapak Perhatikan Nasib Kami”, atau “Bantuan Kok Lewat Saja.”

Ate Roesnadi, tokoh masyarakat desa Jatisari, kecamatan Cangkuang, di tenda pengungsian, kampung Nagrak, mengeluh,”Sejak gempa bumi, Rabu lalu, sampai saat ini kami belum menerima bantuan bahan makanan dari pemerintah.” Camat Cangkuang, drs.Uka Suska Puji Utama mengatakan pihaknya sudah menyalurkan bantuan korban gempa, namun jumlahnya terbatas, karena dari dana pribadi masing2 aparat kecamatan maupun desa.

Semua bantuan untuk korban bencana di kabupaten Bandung dikumpulkan di posko kantor kecamatan Pangalengan agar lebih terdata dan memudahkan koordinasi. Keterlambatan pendistribusian bantuan, diantaranya disebabkan oleh faktor demografi kabupaten Bandung yang luas, dan medannya yang berat serta terbatasnya sarana angkutan sehingga menyulitkan para petugas. Di lokasi lain, jalan terputus dan infrastruktur rusak.

Wabup Bandung Barat, Ernawan Natasaputra, Ernawan Natasaputra, saat ditemui usai rapat koordinasi bersama seluruh SKPD serta camat di Kantor Dinas Sosial Kab.Bandung Barat, Senin ( 7/9/2009 ), mengatakan KBB memerlukan sekitar 60 ton beras untuk memenuhi kebutuhan warga korban gempa. Pemkab Bandung Barat berupaya melakukan segala cara untuk menyediakan, meski harus berhutang pada pihak ketiga.”Hingga saat ini, kami telah menyalurkan 56 ton beras untuk 5.960 kepala keluarga ( KK ) atau sekitar 23.840 jiwa yang mengungsi.” Dengan asumsi kebutuhan beras sebanyak 6 ton setiap hari, maka dibutuhkan 60 ton beras untuk bertahan hingga waktu tanggap darurat ( dialokasikan 14 hari ).

Kerusakan akibat gempa di Majalengka dan Kuningan mencapai 1.700 rumah, musala dan gedung sekolah. Bakorwil Cirebon menyerahkan bantuan bagi ribuan korban bencana alam yang ada di 8 kecamatan di kabupaten Majalengka, Minggu ( 6/9/2009 ) di pendopo Gedung Negara Majalengka. Bantuan berupa bahan kebutuhan pokok seperti beras, mi instan dan minyak goreng. Bakorwil menghimbau agar pemkab Majalengka berupaya mencari donatur untuk membangun perumahan penduduk yang terkena gempa, seperti pada perusahaan swasta. Bupati H.Sutrisno didamping wabup Majalengka, H.Karna Sobahi, menjelaskan sebagian korban bencana alam masih tinggal di tenda2 darurat seperti di desa Wangkelang, kecamatan Cingambul. Pemkab Majalengka yang akan segera mendistribusikan bantuan Bakorwil hari Senin. Sebelumnya, pemkab Majalengka telah mendistribusikan beras ke Cikijing dan dan Wangkelang sebanyak satu ton.

Pengungsi gempa, bertahan hidup dengan nasi plus mi instan. Menghalau panas siang hari, menggigil dingin  malam hari.

Pengungsi gempa, bertahan hidup dengan nasi plus mi instan. Menghalau panas siang hari, menggigil dingin malam hari.

Gempa juga telah meluluhlantakkan kampung Sirnagalih, kampung Cipeuet dan Ciurug, desa Mangunreja, kecamatan Nyalindung, kabupaten Sukabumi. Menurut bupati H.Sukmawijaya, pihaknya akan segera memberi bantuan pada seluruh warga yang mengalami musibah gempa. Di kabupaten Sukabumi, 395 unit rumah hancur, rusak berat 4.762 unit dan ringan 14.264 unit. Karena jumlah kerusakan cukup banyak, kami menghimbau warga untuk bersabar, ujarnya.

Presiden SBY datang ke lokasi bencana dan menyumbang Rp.5 milyar, gubernur Aceh, Irwandi Yusuf datang ke lokasi bencana dan menyumbang Rp.500 juta. Pembaca melalui Dompet Gempa yang digalang harian PR, menyumbang Rp.370 juta lebih, juga makanan, minuman dan pakaian. Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang kab. Bandung Barat akan mendirikan 5 penampungan air bersih. Menurut kepalanya, Asep Sodikin, Bandung Barat mendapat pinjaman 2 unit kendaraan tangki air berkapasitas 4.000 liter, 10 unit hydrant umum, unit sarana mandi cuci kakus ( MCK ) dan 75 jeriken pengangkut air ke tenda. Ia menegaskan, peralatan tsb merupakan pinjaman, bukan untuk dibagikan cuma2.

Selain pencarian korban, upaya membuka jalur jalan yang terputus masih terus dilakukan. Namun, pengerjaannya tak mudah, membutuhkan kehati-hatian. Lokasi masih rawan pergerakan tanah. Ada 4 alat berat di lokasi. Banyak bebatuan sangat besar, yang bila disingkirkan dikhawatirkan membuat tanah di atasnya akan bergeser lagi.

Istri wapres, Ny.Hj.Mufidah Jusuf Kalla selaku ketua Dekranas ( Dewan Kerajinan Nasional ) Pusat, menyerahkan bantuan senilai Rp.650 juta. Bantuan berbentuk cek itu diserahkan Ny.Mufidah kepada wabup Tasikmalaya, H.E.Hidayat di lapangan SD Sukasetia, desa Sukasetia, kecamatan Cisayong, kabupaten Tasikmalaya, Senin ( 7/9/2009 ).

Dari kalangan selebriti, Gigi, Sherina dan Omelette manggung menyumbang lagu di daerah yang terkena gempa seperti kabupaten Bandung, Cianjur, Sukabumi, dan Majalengka.

Dwiki Darmawan menggelar konser amal yang bertajuk “Jazz for West Java”, di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Minggu ( 13/9/2009 ). Konser amal ini dihadiri Adang Daradjatun selaku ketua umum Simpay Wargi Urang dan ketua pimpinan pusat Muhammadiyah, Din Syamsudin serta pengusaha dan kelompok pengajian orbit. Ide konser amal ini pertama datang dari Dwiki bersama Farabi Musik dan Krakatau. Setelah melihat gempa bumi di Bandung, Tasik, Sukabumi dan Cilacap, Jawa Tengah, tiba2 Dwiki menemukan ide, sebagaimana ia juga membuat konser saat Aceh dilanda tsunami 2004.”Saat Aceh terkena tsunami kita membuat konser, kenapa saat Jawa diguncang gempa kita tidak membuat juga ?” ( PR, 15/9/2009 )

Universitas Padjajaran mengirimkan tim relawan dan bantuan ke sejumlah daerah di Jawa Barat. Bantuan berupa 7 ton beras sumbangan mahasiswa baru Unpad 2009, juga teknologi pembuatan rumah tahan gempa. Kepala Biro Administrasi Umum, Lili Permadi, mengatakan, bantuan akan disebarkan di 4 lokasi ; di Pengalengan, Cikelet, Cigalontang dan Pameungpeuk.”Empat truk telah disiapkan untuk mengangkut beras yang telah dikemas per 5 kg dan juga pakaian layak pakai. Dikirim juga tim pelayanan kesehatan dari Fakultas Kedokteran Unpad,” katanya, Jumat ( 4/9/2009 ).

Lili menjelaskan, pemilihan 4 lokasi tsb didasarkan pada hasil peninjauan tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat ( LPPM ) Unpad ke sejumlah daerah.”Kami bekerja sama dengan satkorlak dan aparat kelurahan setempat untuk penyaluran bantuan ini. Selain itu, kami berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar terhindar dari penjarahan sebelum sampai tujuan,”ujar Lili.

Sehari setelah gempa mengguncang, relawan dan mahasiswa Unpad dikirim ke lokasi gempa di desa Margamukti, Pangalengan. Mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa dan juga Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ). Sumbangan pemikiran juga dilakukan Pusat Inkubator Bisnis ( PIB ) Unpad. Sumbangan berupa teknologi pembuatan rumah tahan gempa.”Teknologinya sederhana, bahan bakunya juga berasal dari kearifan lokal yang banyak terdapat di sekitar lokasi kejadian,” kata Sekretaris PIB Unpad, Marleen Herudiyanto.

Sekitar 500 ton sayuran senilai Rp.1,5 milyar dari kecamatan Pangalengan, kabupaten Bandung tertunda masa panennya akibat musibah gempa. Tambahan pasokan sayur ke kota Bandung dari Pangalengan diperkirakan akan terlambat sampai 10 hari. Pasokan air terganggu, banyak irigasi rusak. Cadangan air yang tersedia difokuskan untuk memenuhi kebutuhan utama para korban gempa, baik di penampungan maupun tempat tinggalnya. Penundaan terparah menimpa komoditas kentang. Tomat, kol, bawang daun, wortel, lobak, selada, dll , juga terganggu. Selama 3 hari pascagempa, aktivitas bertani terhenti sama sekali.

Sekitar 130.000 liter susu peternak yang dikelola KPBS ( Koperasi Peternak Bandung Selatan ) gagal terjual sehari setelah gempa. Namun, keesokan harinya mulai berangsur normal kembali. Sejumlah pebisnis pengekspor kopi sudah memberi bantuan, terutama untuk para petani binaannya. Menurut penasehat Kowamah, Iyus Supriatna, bantuan diantaranya sudah dilakukan PT. Morning Glory Coffee Bandung, serta beberapa pebisnis lainnya.

Merana dan sakit di tenda pengungsian.

Para pengungsi tinggal di tenda2 di darurat yang jika malam kedinginan dan siang begitu panas plus terpaksa menghirup udara berdebu. Mereka stres dengan keadaan serba minim, berbagai penyakit mulai menyerang ( infeksi saluran pernafasan, batuk, pilek, pusing kepala, sesak nafas, gastritis, gatal2, pegal2, maag, diare, demam dan penyakit mata ), ditambah mendengar isu gempa susulan dan tsunami. Gangguan kesehatan menurut sejumlah warga disebabkan kurangnya penyediaan air bersih dan buruknya sanitasi pasca gempa. Warga saat ini hanya berkonsentrasi untuk bertahan hidup, tanpa berpikir membersihkan lingkungan. Para pengungsi yang berada di Sukamukti, Cisayong, Tasikmalaya, mulai sering masuk puskesmas karena batuk dan flu. Menurut data di posko Cisayong, setiap harinya tercatat 10 hingga 17 orang terserang penyakit.

Dinas Kesehatan kabupaten Bandung Barat, menurut kepalanya, dr.Pupu Sari Rohayati, telah menerjunkan seluruh personelnya hingga tingkat bidan desa untuk siaga melayani kesehatan warga korban gembpa sampai seminggu setelah bencana. Puskesmas Cipongkor dan Sindangkerta menjadi penanggungjawab penanggulangan penyakit di wilayah tsb. Pupu berharap warga tidak tidur di tenda2 yang rentan terkena penyakit, tapi pindah menempati kembali rumahnya yang masih layak huni atau mencari rumah lainnya. Ia menghimbau masyarakat luas agar berpartisipasi membantu korban bencana, terutama makanan. Pupu dan stafnya rutin setiap mengadakan pemeriksaan pada warga yang mengungsi untuk mengantisipasi masalah kesehatan. Semoga bantuan makin banyak serta terdistribusi lebih cepat dan merata.

Korban di desa Baranangsiang tercatat 23 orang luka ringan, 17 luka berat. Korban luka berat di wilayah utara kabupaten Bandung Barat sudah ditangani RS.Hasan Sadikin, sedang 4 korban di wilayah selatan, dirawat RS.Cibabat, Cimahi, dan saat ini sudah dipulangkan.

Wabup Bandung Barat, Ernawan Natasaputra, menghimbau korban gempa di wilayahnya agar sesegera mungkin meninggalkan tenda pengungsian.”Selain tidak layak huni, berlama-lama di tenda pengungsian akan mempercepat kerentanan terhadap penyakit serta menimbulkan gejala sosial baru.” Ia memahami jika banyak warga yang kehilangan tempat tinggal atau sudah tidak memiliki sanak saudara lagi. Ia akan secepatnya mengupayakan agar warga bisa menempati lokasi layak huni.”Bisa berupa bangsal atau menumpang sementara di tempat lain, seperti kantor2 yayasan, atau tempat lainnya. Berdasarkan data terakhir, sekitar 90 rumah hancur ( 2.528 rusak berat, 3.342 rusak ringan ). Jumlah ini belum ditambah dengan rumah permanen yang retak atau dindingnya hancur.

Wabah diare di desa Caringin, kabupaten Caringin, kabupaten Sukabumi menewaskan 3 warga. Sedangkan 70 warga lainnya terpaksa dilarikan ke RSUD Sekarwangi, Cibadak. Hingga Minggu kemarin ( 6/9/2009 ) sebagian besar warga saat dibawa ke rumah sakit dalam kondisi lemas. Wabah serupa terjadi di Singaparna kabupaten Tasikmalaya. Sekitar 50 pasien diare masuk puskesmas Tinewati, Singaparna. Di Sukabumi, warga mengeluh sakit melilit pada perut dan muntah2 sesaat setelah sahur. Warga lain mengungkapkan rasa sakit perut disertai buang air besar secara terus menerus. Setelah tiba di rumah sakit, seluruh pasien langsung dibawa ke UGD dan diberi infus untuk mengantisipasi dehidrasi/ kekurangan cairan. Warga yang meninggal dunia rata2 berusia 60 tahun ke atas. Mereka terlambat dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya, kata Dadang Sucipta, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan ( P2MPL ) Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi. Sebagian besar penderita diare adalah anak2 dan orang tua yang berasal dari Cigalontang, yang merupakan daerah terparah diterjang gempa bumi. Mereka sudah 4 malam berada di tenda.

Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) kabupaten Bandung menghimbau para dai agar terjun ke daerah2 untuk membantu menenangkan kondisi kejiwaan para korban. MUI Jabar menghimbau kaum muslim agar bahu-membahu memberi bantuan kepada korban. MUI kab.Bandung menyatakan duka yang mendalam atas musibah gempa yang melanda 26 kecamatan di kab.Bandung, kata K.H.Anwar Saifuddin Kamil, ketua MUI kab.Bandung di kantornya, Senin ( 7/9/2009 ).

“Jangan lupakan pula kebutuhan ketenangan jiwa agar mereka bisa tabah dalam menghadapi semua cobaan maupun peringatan dari Allah Swt. Kalau kita tetap berbaik sangka pada Allah, hati dan pikiran menjadi tenang sehingga dampak gempa tidak terlalu mengkhawatirkan. Sikap ini yang harus ditumbuhkan,” tutur Anwar. Rencananya, Selasa dan Rabu ini ( 8-9/9/2009 ), pengurus MUI kab.Bandung bersama MUI kecamatan dan MUI desa/ kelurahan akan bertemu di Wisma Haji Soreang.”Selain mencairkan bantuan operasional MUI, kami juga akan membahas pengiriman dai untuk menenangkan korban gempa. Minimal korban bisa berkeluh kesah, lalu kita arahkan agar bersikap sabar dan tawakal dalam menerima cobaan ini”, jelas Anwar.

“Para dai atau ustadz hendaknya memberikan ceramah yang menyejukkan hati dan menenangkan agar korban bencana bisa bersabar dan mencari hikmah di balik bencana. Apalagi di bulan Ramadhan, umumnya ada waktu2 khusus untuk ceramah,” ujar K.H. Hafizh Utsman, Ketua Umum MUI Jabar. ( PR, 8/9/2009 ).

MUI Jabar, saya dan seluruh warga Indonesia menyampaikan dukacita mendalam kepada para korban musibah Gempa Jawa. Semoga hati kalian dikuatkan Allah Swt untuk menerima semua kehilangan dan penderitaan. Dijadikan-Nya kalian manusia beriman yang lebih tangguh menyongsong hari depan. Arwah yang meninggal semoga diampuni dosanya dan diterima amal perbuatannya. Korban yang selamat bisa melanjutkan hidup dengan kondisi lebih baik. Amin.

800 sekolah hancur, sebagian besar dibangun belum tahan gempa.

Sedikitnya 800 sekolah hancur dan rusak berat akibat gempa di Tasikmalaya. Jumlah itu kemungkinan akan bertambah mengingat belum semua sekolah yang rusak terdata. Pemerintah pusat melalui Depdiknas berjanji menanggung biaya rehabilitasi bangunan sekolah yang rusak berat dan hancur, tutur Bambang Sudibyo, menteri pendidikan nasional saat meninjau sejumlah lokasi bencana gempa bumi di Jawa Barat, Minggu ( 6/9/2009 ). Sekolah dengan kerusakan sedang dan ringan ditangani Pemprov Jabar dan pemkab/ pemkot masing2 daerah bencana. Sekolah2 yang rusak itu akan diinventarisasi secepatnya hingga bisa segera direncanakan dan direalisasikan.

Bantuan untuk tanggap darurat masing2 daerah sebesar Rp.2 milyar. Untuk membantu rehabilitasi bangunan sekolah yang rusak sudah dianggarkan sedikitnya Rp.22 milyar. Pemerintah juga memberi bantuan berupa seragam sekolah, alat tulis, dll. Jumlah sekolah yang rusak akibat gempa di Jawa Barat kali ini lebih sedikit dibandingkan gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Untuk penanggulangan sekolah rusak dan hancur, Depdiknas akan melibatkan ahli dari ITB dan guru SMK untuk melakukan verifikasi, evaluasi, dan penilaian terhadap sekolah yang rusak. Ahli dari ITB nati yang akan meneliti, apakah sekolah itu harus direlokasi atau tidak, termasuk menilai apakah konstruksi bangunan yang tersisa masih bisa dimanfaatkan atau tidak.”Pemerintah juga melakukan nota kerja sama dengan gubernur, dilanjutkan ke kepala daerah, terkait rehabilitasi sekolah,” tutur Menteri.

Di Ciamis, Bambang mengatakan, sebagian besar bangunan sekolah di Indonesia belum tahan gempa. Ia meminta mulai tahun ini, sekolah yang dibangun harus menahan guncangan gempa hingga kekuatan 7 skala Richter ( SR ). Namun, ada beberapa yang sudah dirancang tahan gempa, diantaranya di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kabupaten Bantul DIY, dan kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Wilayah tsb sebelumnya juga korban bencana gempa bumi. Sekolah seharusnya menjadi tempat perlindungan yang aman, bukan sebaliknya menelan korban jiwa.

Mendiknas mengatakan, kegiatan belajar mengajar harus berjalan kembali secepatnya. Jangan sampai anak menjadi malas belajar. Pengalaman di Aceh dan Yogyakarta ketika ada gempa, proses belajar mengajar tetap berlangsung, bahkan ujian nasional bisa diselenggarakan. Begitu juga di Jawa Barat, harus diusahakan solusinya. Menurut Oslan Khaerul Falah, sekretaris Disdik kota Tasikmalaya, mengatakan,”Kegiatan belajar tetap jalan, apalagi sebentar lagi libur Lebaran. Beberapa sekolah bahkan sudah ada yang menghentikan kegiatan belajar dan menggantinya dengan kegiatan pesantren kilat.” ( PR, 7/9/2009 )

Hingga kemarin ( 8/9/2009 ) menurut Satkorlak PB Provinsi Jabar, tercatat 64.413 rumah rusak berat, 134.294 rumah rusak ringan dan 7.068 masjid, sekolah, madrasah, kantor dan pesantren rusak. Pemerintah mengalokasikan dana Rp.1,4 – Rp.1,5 trilyun untuk merehabilitasi dan merekonstruksi pascagempa bumi di Jawa Barat. Pemprov Jabar menganggarkan Rp.90 milyar untuk penanganan pascagempa tsb, ungkap Menko Kesra, Aburizal Bakrie, didampingi Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, usai rapat kabinet terbatas ( rakortas ) di Istana Bogor yang dipimpin presiden SBY. Besarnya dana sedang diverifikasi dan diharapkan dapat selesai pada pertengahan Oktober 2009. Model rehabilitasi dan rekonstruksi akan mencontoh model penanganan gempa Yogya. Pelaksanaan diharapkan selesai pada Februari 2010.

SBY membantah bahwa ia menolak bantuan asing atas terjadinya gempa tsb. Saat ini baik pemerintah pusat maupun daerah masih dapat mengatasi dampak bencana alam tsb dan memiliki kemampuan untuk memobilisasi sumber daya yang ada. Pemerintah Indonesia tengah melakukan kegiatan tanggap darurat, operasi kemanusiaan dan melakukan langkah2 yang berkaitan. ( saya setuju, kita harus mandiri, meminimalkan intervensi asing, agar urusan dalam negeri kita tak dicekoki kepentingan asing, mereka bermuka manis di depan kita, dibelakang, mereka sedang mengoyak-ngoyak bangsa kita dan terus menyedot kekayaan alam negeri ini_vitri )

Pembangunan kembali rumah pascagempa dengan model Yogya, yaitu : pembangunan dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan koordinasi dari pemerintah daerah. Pemerintah pusat akan memberikan dananya kepada gubernur, kemudian gubernur memberikan pada bupati, yang mengkoordinir kelompok2 masyarakat dalam pembangunan rumah2 tsb.

Gubernur Jabar mengungkapkan, alokasi dana itu tidak cukup untuk memperbaiki 54.171 rumah rusak berat dan lebih 100.000 rumah rusak ringan yang tersebar di 14 kabupaten. Pemprov Jabar mengandalkan dana bantuan dari APBN sebagai sumber pembiayaan tahap rekonstruksi dan rehabilitasi.

Dinas Perumahan, Penataan Ruang dan Kebersihan ( Dipertasih ) Kab.Bandung memperkirakan jumlah kerugian akibat rusaknya bangunan di wilayahnya mencapai sekitar Rp.1,4 trilyun. Bangunan yang rusak meliputi sekolah, rumah, tempat ibadah dan perkantoran. Berdasarkan data terakhir, Senin ( 7/9/2009 ) sebanyak 47.422 rumah rusak ( 15.086 rusak berat, 6.627 rusak sedang, 25.709 rusak ringan ), 97 sekolah rusak berat, 40 sekolah rusak sedang, 46 sekolah rusak ringan, 20 madrasah Ibtidaiah ( MI ), Tsanawiah ( MTs ), Aliah ( MA ) rusak, 344 tempat ibadah rusak dan 46 kantor dan sarana pemerintah juga rusak.

Hingga Senin ( 7/9/2009 ) di kabupaten Cianjur terdapat 140 gedung SD rusak, 29 gedung SMP rusak dan 3 gedung SMA rusak. Gedung sekolah dibagi dalam 2 kategori, yakni 735 ruang kelas rusak berat dan 125 ruang kelas rusak ringan, kata H.Agus S.Melani, sekretaris Dinas Pendidikan kab.Cianjur. Ia maklum bila para kepala sekolah yang bertugas di daerah rawan gempa meliburkan kegiatan belajar karena kondisinya masih belum stabil.”Masalah utamanya adalah keadaan trauma pascagempa yang dialami guru dan siswa sehingga tidak memungkinkan untuk menggelar kegiatan belajar-mengajar.” ( PR, 8/9/2009 ).

Banyak bangunan rusak sudah diprediksi ITB

Banyaknya sekolah yang rusak sebenarnya telah diprediksikan oleh Tim Pusat Mitigasi Bencana ITB. Sebaiknya dalam pembangunan selanjutnya, pemerintah menyerahkan kepada ahlinya.”Kondisi bangunan sekolah di Indonesia tidak siap dengan gempa karena memang tidak dirancang untuk mengantisipasi itu. Hal itu sudah pernah kami prediksikan berdasarkan kajian dari fakta dan pengalaman sehingga tidak main2. Tetapi responnya dingin2 saja,” ujar Krisna S.Pribadi, peneliti Pusat Mitigasi Bencana ITB.

Rumah “Dome” atau “Teletubbies” di desa Sengir Prambanan, Sleman. 71 unit rumah anti gempa dan tanah longsor ini dibangun Pemkab Sleman.

Model rumah bongkar pasang dari kayu atau bambu. Tahan gempa.

Model rumah bongkar pasang dari kayu atau bambu. Tahan gempa.

Pemerintah sebaiknya melakukan perkuatan ( retrofit ) semua bangunan sekolah. Pasalnya, semua bangunan sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar keamanan dan kualitas minimal. Konsultan Mitigasi Bencana, Teddy Boen memaparkan, dokumentasinya tentang kerusakan2 sekolah oleh bencana alam di Indonesia yang diamatinya selama 40 tahun menyimpulkan, perencanaan bangunan sekolah di Indonesia masih lemah. Hal tsb ditunjukkan dari gambar perencanaan yang tidak memenuhi syarat pelaksanaan, kualitas material yang rendah, dan kualitas insinyur dan arsiteknya yang masih perlu di up-grade.

“Oleh karena itu, dengan rusaknya bangunan sekolah sekarang, merupakan kesempatan untuk membangun lebih baik. Hanya, libatkan orang2 yang memang paham dan ahli gempa. Tidak semua insinyur paham tentang gempa,” kata Krishna. Dua SD yang dibangun ITB dengan struktur tahan gempa, yaitu SD Negeri Padasuka 2 Soreang da SDN di Cirateun Bandung, keretakannya hanya berupa retak halus, sementara banyak bangunan sekolah lain rusak berat bahkan ambruk. Sebenarnya, jika saat itu pemerintah menindaklanjuti hasil kajian Pusat Mitigasi, tak akan terlalu banyak mengeluarkan dana.

Bukit longsor yang masih mengubur 21 warga Cianjur jadi ajang ngabuburit. Miris.

Ambruknya Bukit Urug Hanafi di Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Rabu ( 2/9/2009 ) mengundang perhatian warga di beberapa daerah. Begitu mereka mendengar ada kejadian, banyak warga berdatangan ke lokasi kejadian. Kedatangan warga yang ingin menyaksikan langsung tempat kejadian dan proses evakuasi menjadi tak terbendung. Aktivitas tim SAR gabungan yang bekerja keras melakukan pencarian puluhan korban yang tertimbun longsor menjadi tontonan warga.

Ribuan warga setiap harinya terus mengalir silih berganti datang, memadati kawasan sekitar lokasi. Mereka datang dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda motor hingga mobil. Selain membuat semrawut lokasi, kedatangan mereka seringkali merepotkan petugas. Ruas jalan menuju lokasi menjadi padat oleh kendaraan yang parkir.

Kehadiran warga sering merepotkan dan mengganggu kerja petugas yang melakukan proses evakuasi. Petugas dibuat kewalahan mengaturnya. Berkali-kali berupaya menyingkirkan warga, namun upaya itu hanya berhasil sesaat. Warga kembali ke lokasi seperti main kucing-kucingan dengan petugas.”Kami bukan hanya menghimbau, tetapi sudah beberapa kali melarang warga mendekat ke lokasi. Susah, mereka dilarang di sebelah sini, bukannya pulang, eh malah pindah ke tempat lain,”ujar Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Kab.Cianjur, Darojat Ali, Senin ( 7/9/2009 ).

Padahal lokasi masih cukup rawan, beberapa kali terdengar suara gerakan tanah dari bukit tak membuat khawatir warga. Mereka berlarian ketika mendengar suara gemuruh berasal dari gerakan tanah di atas bukit. Namun tidak kapok. Begitu situasi mereda, mereka perlahan kembali mendekat ke lokasi. Beberapa warga yang ditemui di lokasi, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan proses pencarian korban.”Ya, ingin tahu saja, melihat sendiri lokasi kejadian dan proses pencarian. Jadi tidak hanya dari informasi,” kata Neneng, warga Tanggeung yang datang ke lokasi beramai-ramai. ( PR, 8/9/2009 ).

Rumah adat Cikondang versus gempa Jawa ? Tak sedikitpun rusak.

Rumah adat Cikondang tak bergeming diguncang gempa. Kearifan lokal yang membanggakan.

Rumah adat Cikondang tak rusak diguncang gempa. Kearifan lokal yang membanggakan.

Rumah adat di Cikondang yang terletak di RT 003 RW 03 Kp.Cikondang, desa Lamajang, Kec. Pangalengan, kabupaten Bandung, masih berdiri kokoh, kendati daerah tsb terkena dampak gempa berkekuatan 7,3 SR yang terjadi Rabu ( 2/9/2009 ). Kearifan lokal mencuat dari bangunan berwarna coklat sederhana itu, seakan menjawab tantangan, tak goyah diterjang gempa.

Tak seperti ratusan rumah di sekitarnya yang retak hingga ambruk akibat gempa, rumah berukuran 12 x 8 meter tsb, berdiri tegak seperti biasa. Nyaris tak ada yang berubah. Atapnya beralaskan ijuk, dengan dinding gedeg. Tak ada kerusakan, selain faktor usia bangunan dan minimnya perawatan, yang telihat pada 5 jendela yang menghiasi dinding, dan satu pintunya. Begitu pula pada 9 saregseg yang berdiri kokoh pada setiap jendela.

“Waktu gempa kemarin, gentingnya juga tidak jatuh satu pun, tidak ada yang rusak,”ucap Iin Dasyah ( 74 ), sesepuh kampung adat Cikondang. Kalimat Iin memang beralasan, bentuk rumah panggung yang diusung, memang menjadikan konstruksinya fleksibel sehingga tahan gempa.”Keistimewaan rumah panggung memang anti gempa. Kalau orang dulu itu kan tidak mewah, jadi waktu itu ada pantangan, jangan membuat rumah dari batu, karena berbahaya kalau ada gempa,” tutur Iin. Penggunaan genting juga dinilai tabu oleh Iin.”Genting kan terbuat dari tanah. Kalau orang dulu punya pemikiran, masih hidup kok dikubur di bawah tanah,” ucap Iin sambil tersenyum.

Kampung Cikondang sendiri merupakan kampung adat yang terletak di kaki gunung Tilu. Rumah adat Cikondang adalah peninggalan leluhur bernama Ma Empuh yang hidup di abad ke-16. Keberadaan kampung ini dilindungi Undang2 no.5 tahun 1992 tentang Situs dan Benda Cagar Budaya. Hingga tahun 1942, jumlah rumah adapt beratap ijuk di kampung ini ada 60 rumah. Namun, kebakaran besar di tahun itu telah menghanguskan 59 rumah adat lainnya. Hanya satu yang tersisa dan bertahan hingga kini.

Hengki Ashadi, pakar bangunan tahan gempa dari Universitas Indonesia, setuju jika konstruksi seperti rumah adat Cikondang tak goyah diterjang gempa.”Bahkan kalau dilihat-lihat, seluruh rumah adat di Jawa Barat itu sebenarnya tahan gempa. Itu menunjukkan bahwa sesepuh kita sangat mengerti keadaan alam sekitarnya,” ucap Hengki.

Modernitas dan kebutuhan urban, membuat masyarakat kian jauh dari niat melestarikan rumah adat. Padahal detail konstruksi rumah modern bisa dipelajari dari rumah adat. Salah satu caranya dengan menggunakan atap ringan, dinding jangan menempel pada tiang utama, beri jarak 2 cm, agar ada ruang fleksibel jika rumah digoyang gempa. ( PR, 7/9/2009 )

Gempa tanpa korban jiwa. Bata terlemah, beton bertulang terkuat hadapi gempa.

Bisakah tukang2 “tradisional” membuat bangunan tahan gempa ? Bisa ! Itu ditegaskan Suwandojo Siddiq, professor riset ahli bidang struktur bangunan dan teknologi gempa dari Puslitbang Permukiman. Dalam mengantisipasi gempa bumi, bangunan yang sudah ada maupun yang belum, harus disiasati agar menjadi tahan gempa. Bagi bangunan baru, harus didesain menggunakan bahan2 yang daktail atau ulet. Daktail adalah istilah dalam dunia pergempaan, yaitu kemampuan menahan daya berulang-ulang tanpa rusak. Hindari menggunakan bahan2 yang berat dan tidak daktail.

RISHA ( Rumah Instan Sederhana Sehat ) dirancang tahan gempa.

RISHA ( Rumah Instan Sederhana Sehat ) dirancang tahan gempa.

Pasangan bata sangat tidak daktail. Dari seluruh bahan bangunan, yang paling tidak tahan gempa adalah pasangan bata. Sedangkan yang paling bagus ( tahan gempa ) adalah beton bertulang. Kemudian, diantara keduanya ada kayu. Namun, pasangan bata dan juga conblock, yang perilakunya sangat jelek terhadap gempa ( gampang roboh ), jika dikawinkan dengan besi atau beton tulangan ( bisa tulangan dari kayu ) jadi bagus juga. Itu yang disebut reinforce masonry. Seperti kaca yang tidak mudah pecah karena diberi bingkai.

Jelas peneliti senior yang punya inisial resmi Swd ini, prinsipnya ; gaya yang menarik ditahan oleh besi, yang menekan ditahan pasangan bata. Sebab, pasangan bata kuat tekan, tidak kuat tarik. Besi kuat tarik, tidak kuat tekan. NES ( non engineer structure ) adalah bangunan rakyat yang dikerjakan tukang2 biasa. Kalau terpaksa menggunakan pasangan bata, pada pojok-pojoknya dipasang besi. Idealnya, setiap 8 m2 ada kolom. Misal, dinding setinggi 3 meter dipasang kolom tiap 2,5 meter. Dengan begitu, kalau terjadi gempa tidak roboh. Gempa itu sendiri tidak membunuh. Bangunan robohlah yang banyak menewaskan manusia. Kalau kolomnya kayu, antara kayu dengan pasangan bata dipasang angker, dengan besi 6 mm dan panjang ½ meter.

Pada bangunan tinggi, kesalahan banyak terjadi pada sistem detail tulangan. Kuncinya, pada join-joinnya, pertemuan kolom dan balok, di dalamnya harus ada sengkang yang berfungsi sebagai penguat, penahan join. Sayang sekali, banyak bangunan bertingkat yang tidak bersengkang.”Bangunan STIE Yogya roboh kenapa ? Tidak ada sengkangnya. Tapi coba perhatikan gedung UII Yogya, tidak ada yang retak, strukturnya utuh, kenapa ? Karena ada sengkang atau begelnya, yang dipasang dengan benar,” ungkap Swd.

Toko2 roboh karena tidak semetris kekakuan dan kekuatan kolomnya

Satu hal yang harus diperhatikan, bidang2 bangunan harus simetris. Banyak bangunan yang bagian belakang rapat berdinding, tetapi bagian depannya los tanpa dinding. Kalau terjadi gempa, bangunan seperti itu akan terpelintir. Itu sebabnya, banyak toko yang roboh saat gempa.

Tetapi bukankah toko memang harus dibuka bagian depannya ? Buatlah kekakuan di bagian depan seimbang dengan bagian belakang. Buatlah kolom beton di pojok2 bagian depan. Yang terpenting adalah kesimetrisan antar kekakuan dan kekuatan kolom, tambah Swd memberi solusi.

Gempa tidak membunuh, kelalaian manusia adalah pembunuhnya.

Gempa di Yogyakarta waktu itu sekitar 150 gal. Ukuran gempa dalam kaitannya dengan bangunan memakai Gal, yaitu percepatan dalam satuan cm/ detik2. Ukuran Skala Richter adalah energi yang dilepas di sumber gempa, sedang getarannya yang sampai ke lokasi dihitung dengan satuan Gal. Kekuatan gempa di Padang, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu, sekitar 200 gal. Hendaknya bangunan2 yang ada di mana saja saat ini dicek, bagian mana yang belum sempurna disempurnakan, mengingat wilayah Indonesia sangat rawan gempa.

Korban gempa tektonik Yogya tahun 2006 dengan 5,9 SR

Korban gempa tektonik Yogya tahun 2006 mencapai 5,9 SR

Seharusnya gempa tidak perlu menelan korban jiwa. Ketika gempa di Tanto, Jepang, tahun 1919, jatuh korban 150.000 meninggal dunia. Namun ketika terjadi gempa lagi 80 tahun kemudian, tidak ada yang meninggal. Yang luka pun hanya 2 orang. Padahal bangunannya makin tinggi.

Dengan kekuatan gempa sebesar di Yogyakarta waktu itu, seandainya bangunan2 didirikan secara benar, berapa persen kira2 resiko dapat terkurangi ? “O, Insya Allah, kalau ada gempa segede itu pun tidak akan terjadi apa2,” kata Suwandojo menyakinkan. ( Kiprah )

Dan gempa Jawa Barat, Rabu ( 2/9/2009 ) lalu, menelan korban tewas lebih dari 82 orang, ribuan orang luka, ratusan ribu rumah dan sekolah rusak. Jika gempa tidak membunuh, maka kelalaian manusia mengantisipasi gempa ( diantaranya membuat bangunan tahan gempa dan mengetahui cara yang benar mengevakuasi diri ), yang menjadi biang keladi korban tak perlu itu.

About these ads

Written by Savitri

9 September 2009 at 19:08

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sampai saat ini dana bantuan korban gempa wilayah padaherang ciamis, banyak yang belum menerima dana bantuan tsb

    Suharto budiman

    7 November 2010 at 15:28

  2. tolong kalo ada design detail ama cara pembuatanya,ataupun seseorang atau lembaga yang bisa dihubungi, jika kita ingin membuar rumah tahan gempa model kubah.
    Thanks.

    Rudi Kamseno

    6 November 2009 at 11:51

  3. @ Zipoer7 :
    Minal aidin juga. Kalo bisa untuk komentar berikutnya lewat moderasi saya dulu, ya. Tidak asal muncul. Trims.

    @ Strez :
    Silakan kalau mau melink. Wass.

    anisavitri

    7 Oktober 2009 at 20:34

  4. artikel menarik ijin mengelink-annya dalam artikel saya, wassalam

    strez

    6 Oktober 2009 at 09:32


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: