Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Archive for Desember 2009

COP 15 : kenaikan suhu global harus di bawah 2’ celcius. Sekarang 2 – 4,5’ C.

with one comment

Pengantar A.Savitri :

Beginilah medan sulit nan jauh yang mesti ditempuh beruang kutub untuk mencapai makanannya. Singa laut. Karena pemanasan global, beruang keburu mati keletihan dan kelaparan.

“Earth”, sebuah film yang mengharubiru. Seekor beruang kutub betina tewas mengenaskan. Ia berjuang keras mencari makan untuk kedua anaknya setelah badai salju selama 2 bulan. Lapar dan letih menapaki jalan yang kian panjang. Apa pasal ? Kutub mencair. Lapisan es menipis, sangat rapuh untuk dijejaki. Singa laut berkerumun nun jauh di sana. Mereka sudah bergeser dari habitatnya semula. Gara2 global warming yang dipicu efek rumah kaca. Saya terkadang memalingkan muka ketika adegan “sadis” dalam rantai makanan. Seperti ; macan memangsa anak rusa yang terpencar dari kelompoknya. Singa memangsa anak gajah yang letih/ tertinggal induknya dalam migrasi mencari air sejauh bermil-mil dan berminggu-minggu perjalanan. Dalam dunia binatang, anak yang baru lahir sudah harus bisa bermigrasi sejauh itu. Yang tertinggal segera dicabik-cabik karnivora.

Entah kenapa, ketika si beruang kutub frustasi tak bisa menjatuhkan hewan bergigit tongos itu, terbersit rasa kasihan. Selama ini, saya selalu berpihak pada yang lemah. Melihat secara parsial dari sudut korban. Lalu, terpikir 2 bayi beruang yang ditinggalkan sang induk, bisa mati kelaparan. Keduanya pun jadi korban. Kali ini, kita, manusia, “omnivora” itu. Karena emisi karbon yang kita buang ke udara seenak udel. Dari pembakaran sampah, hutan untuk perladangan, buangan knalpot kendaraan, CFC dari hair spray dan kulkas, dsb. Keserakahan manusia yang membunuh 3 beruang kutub itu. Tahun 2030, beruang kutub akan lenyap dari muka bumi, kalau kecepatan global warming ( pemanasan global ) seperti sekarang.

Paus bungkuk ketika memberi tanda pada anaknya, bahwa ia masih menyertainya ke kutub selatan. Demi krill, makanan favorit berdua.

Anda penggemar udang ? Ikan paus juga. Ibu paus dan anaknya terpaksa mencarinya hingga ke kutub selatan. 4000 mil jaraknya. Migrasi terjauh mamalia laut. Planton adalah sumber kehidupan di laut. Termasuk, paus bungkuk yang mencari krill ( semacam udang ) dan ikan layaran, kata Patrick Stewart. Pemanasan global menyebabkan planton sulit tumbuh. Ketiadaan makhluk di bagian dasar piramida makanan berarti bencana bagi makhluk2 di atasnya. Puncaknya, hiu, paus atau .. kita. Apakah kita harus mencari udang sampai kutub selatan juga ? Brr…brr… ( dingin ).

Sepertiga luas bumi adalah daratan. Sebagian besar gurun. 3 % – nya hutan tropis, di mana lebih separuh flora fauna dunia hidup di dalamnya. Anda kini tahu betapa berharganya hutan tropis Indonesia ? Tak ada yang menyangkal keanekaragaman hayati yang dimiliki nusantara. Coba, anda tanya ke tukang jamu atau toko obat. Nyanda lawan, orang Manado bilang. Rempah2 dan tanaman obat Indonesia, top abis. Sampai dijajah 350 tahun sama wong londo yang ngiler. Sayangnya, karena perut lapar ( sebagian lain karena tamak ), hutan2 lebat yang perlu 4 juta tahun untuk tumbuh itu dihancurkan dengan gergaji mesin dalam waktu 4 menit saja. Kelanjutannya anda tahu ; banjir merebak di mana-mana.

5 milyar tahun lalu, meteor raksasa menabrak bumi. Poros bumi mendadak miring 23,5 derajat ke arah matahari. Satu bulan penuh tanpa matahari di kutub utara. Bayangkan malam2 yang beku selama 30 hari. Tak ada siang. Hanya malam. Sunyi yang menggigit tulang. Bayangkan, malam2 beku itu milik kita. Setelah kepunahan beruang kutub. Di atas atmosfir, jutaan meteor mengintai setiap detik. ( anda nonton film “2012”, yang memprediksikan kutub selatan bergeser ke Wincousin, AS ? ). Kun fayakun. Sangat mudah bagi Allah Swt mendatangkan satu meteor lagi untuk menggeser poros bumi. Kali ini menjadikan Indonesia kutub selatan ( kutub selatan lebih dingin dari kutub utara ). Wahai makhluk tropis yang ceroboh, bisakan engkau bertahan ? Jangan buat Allah murka dengan perilaku sembrono manusia terhadap lingkungan dan makhluk2 ciptaan-Nya. Kurangi emisi karbon anda. Sekarang.

COP 15 : kenaikan suhu global harus di bawah 2’ celcius. Sekarang 2 – 4,5’ C.

KTT Perubahan Iklim. Jaga kenaikan suhu jangan sampai lebih 2 derajat celsius. Atau beruang kutub dan paus bungkuk punah tahun 2030.

Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim atau Konferensi Para Pihak ( Conference of Parties/ COP ) XV di Kopenhagen, Denmark, sudah berakhir pekan lalu. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah munculnya kesepakatan 26 pemimpin negara yang terangkum dalam “Copenhagen Accord” atau Kesepakatan Kopenhagen. Kita akui, banyak aktivis dan pakar lingkungan hidup yang tak puas bahkan kecewa dengan hasil pertemuan tsb karena COP 15 hanya menerima Kesepakatan Kopenhagen sebagai lampiran keputusan konferensi. Ini berarti “Copenhagen Accord” tidak memiliki kekuatan hukum yang cukup kuat untuk memaksa negara2 untuk mematuhinya.

Terlepas dari itu, Indonesia secara keseluruhan merasa puas dengan hasil COP. Menurut Menlu Marty Natalegawa, hasil konferensi tsb sudah mengakomodasi 5 agenda permasalahan yang diangkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kelimanya adalah ;

  • usaha bagi seluruh dunia untuk menahan agar dampak perubahan iklim tidak sampai menaikkan suhu global sampai 2 derajat celcius pada 2050,
  • perlunya negara maju menyebutkan target penurunan emisi gas rumah kaca secara ambisius,
  • perlunya pembiayaan dari negara maju untuk penanganan dampak perubahan iklim,
  • perlunya penerapan pola pembangunan yang ramah lingkungan,
  • masalah measurement, reporting, verifying pelaksanaan komitmen penanganan perubahan iklim, dan masalah kehutanan.

Dengan begitu, Indonesia secara aktif ikut memprakarsai dan mendukung Kesepakatan Kopenhagen tsb bersama sejumlah negara maju lainnya, seperti Amerika Serikat, Australia, Cina, Inggris, Jerman, Korea Selatan, Perancis, Rusia, Spanyol, maupun negara berkembang dan tertinggal di antaranya ; Bangladesh, Brasil, Etiopia, Gabon, Grenada, India, Kolombia, Lesotho, Maladewa, Meksiko, Papua Nugini, Sudan, dan Swedia.

Presiden SBY setibanya di tanah air, Minggu ( 20/12/2009 ) menyatakan, pemerintah bertekad menindaklanjuti hasil kesepakatan KTT Perubahan Iklim, di antaranya dengan membuat rencana aksi nasional untuk mengurangi emisi karbon. Menurut Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, rencana aksi tsb akan dilakukan hingga tingkat provinsi dengan tujuan mengurangi emisi karbon hingga 26 % pada 2010.

Menindaklanjuti Kesepakatan Kopenhagen memang harus dengan aksi nyata. Berbagai program yang sederhana seperti gerakan aksi satu orang satu pohon akan lebih terasa dampaknya daripada menunggu bantuan pembiayaan dari negara maju. Bayangkan, jika setengah saja dari total penduduk Indonesia yang tergerak untuk melakukan aksi tsb, berarti akan ada sekitar 120 juta pohon. Daripada menunggu negara2 lain melakukannya, lebih baik memfokuskan pada negeri sendiri. Oleh karena itu, kita pun menyambut baik program2 penghijauan yang digerakkan pemerintah daerah, seperti rencana pembuatan sabuk hijau ( green belt ) antara 4 kabupaten/ kota se-Bandung Raya ( Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat ) yang diluncurkan Rabu ( 23/12/2009 ).

Kita berharap tidak hanya “sabuknya” saja yang dihijaukan, tetapi juga pemakai dan pemilik sabuknya, yaitu kawasan dalam kota dan kabupaten, karena manfaat dari program2 tsb akan dirasakan kita juga. Jika program2 hijau yang kita gerakkan terus melingkar keluar dan mengimbas ke negara2 lain, kita akan mendapati bumi yang hijau kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama. ( PR, 22/12/2009 )

Hutan tropis. Lebih separuh flora fauna dunia ada di hutan tropis, yang luasnya cuma 3 % luas permukaan bumi. Indonesia salah satu pemilik hutan tropis. Lestarikan.

Perlu 4 juta tahun untuk menumbuhkan hutan tropis. Manusia cuma butuh 4 menit menebangnya dengan gergaji mesin. Jaga hutan kita, atau alam membalas perlakuan buruk manusia berkali-kali lipat.

Written by Savitri

23 Desember 2009 at 11:41

Ditulis dalam Ragam

Tagged with ,

Braga Festival menghidupkan akhir tahun di kota Bandung. Don’t miss it.

with 3 comments

Pengantar A.Savitri :

Hotel Preanger di Jl. Asia Afrika. Dulu Jalan Raya Pos. Bersama Jl.Merdeka dan Jl. Braga, ketiganya jalan tertua di Bandung.

Akhir tahun banyak kegiatan menarik. Siapkan sepeda atau dengkul anda menyelinap di sela2 kemacetan jalan, yang sudah ramai di hari2 biasa. Apalagi long week end. Jalanan Bandung bukan milik orang Bandung lagi, tapi warga seluruh pelosok tanah air. Tungpah ruah, seperti istilah sebuah grup retail. Mobil kurang berguna untuk bergegas sampai tujuan, kecuali anda bersiap memborong banyak produk kreatif karya urang Sunda. Be my guest. Mangga, we. Dalam hiruk pikuk menjelang tahun baru, Tisna Sanjaya menawarkan alternatif. Out of box. Braga Festival mestinya bisa tampil beda. Buat pasar yang sepi. Membuat kita merenung, nostalgia, waas ( kangen ). Undang para maestro seni budaya sebagai empu yang mengajari warga kota menari, membuat topeng sendiri. Adakan workshop yang mengasah jiwa berkesenian pada warga. Pada hari H mereka semua menari bersama, menghayati budaya leluhur, jati diri bangsanya. Para budayawan dan pelaku seni dihadirkan sebagai guru, bukan pementas bayaran sekedar lewat. Itu perlakuan ala kolonial. Kita sudah merdeka, bermartabat, mestinya bisa menghargai seni budaya di tempatnya yang layak.

Selama perenungan di Braga, seraya memandang deretan bangunan kuno peninggalan Belanda, kita bertanya bagaimana nasib seni budaya Indonesia setelah 64 tahun merdeka. Mengapa Malaysia sampai mengklaim budaya kita ? Mengapa para seniman Bandung sulit mencari tempat pementasan yang layak ? Mengapa Melly Goeslaw sampai harus menyisihkan penghasilannya untuk menyuport seniman2 yang hidupnya memprihatinkan ? Padahal orang2 luar sangat mengapresiasi produk budaya kita. Misslink-nya di mana ? Apa karena kita kurang menghargai budaya kita sendiri ? Jarang membeli tiket pertunjukan kesenian daerah. Jarang memakai batik Jabar, makan lotek, menyeruput bajigur dan nonton wayang ? Sehingga tak ada pemasukan bagi seniman2 ini untuk mengkreasi penampilannya. Kepayahan memenuhi ekspetasi penonton, karena hidup pun sudah kembang kempis. Menyedihkan.

Kilometer nol. Di sinilah, gubernur Hindia Belanda, Daendels memancangkan pasak seraya berkata,"saya ingin ketika saya kembali, tempat ini sudah menjadi kota". Kira2 begitu pesannya pada bawahan. Jalan ini sekarang Jalan Asia Afrika. Banyak peristiwa bersejarah terjadi di jalan ini. Tampak stoomwalls dipajang di kantor PU.

Cerita sedih ini, apa karena kita kurang bangga dan percaya diri mempromosikan budaya Indonesia ke teman2 mancanegara ? Setiap warga Indonesia di luar negeri adalah marketer/ pemasar bagi negerinya. Pengetahuan yang cukup tentang budaya sendiri akan mengundang ketertarikan dan respek dari bangsa lain. Seorang pemasar top adalah pengguna produk itu sendiri. Prospek menjadi lebih mudah diyakinkan. Tidak kenal, maka tidak sayang. Saya tak tahu, seperti apa Braga Festival tahun ini jadinya, persisnya. Apa mendekati mimpi Kang Tisna, atau masih seperti tahun2 sebelumnya ? Kita lihat saja.

Jalan Braga tahun 1940. Jaman baheula. Itu mobil mani antik.

Akhir November lalu ( 22/12/2009 ), saya menyempatkan diri datang ke Jalan Braga, Bandung. Awalnya mendarat di depan Grand Hotel Preanger di Jl. Asia Afrika, dekat kilometer nol-nya Bandung. Hotel rancangan Schoemaker ini berlanggam Art Deco dengan ciri khas elemen dekoratif geometris pada dinding eksterior. Melalui financial district sepanjang Jl. Asia Afrika yang dihiasi bangunan tua di kanan kirinya, anda bisa belok kanan masuk Jl. Cikapundung Timur. Saat itu anda sudah melihat Hotel Savoy Homman dan Gedung Merdeka, tempat Konferensi Asia Afrika pertama kali dilangsungkan tahun 1955. Lalu anda belok kanan lagi hingga berhadapan Gedung Bank Jabar yang dibangun tahun 1915. Di samping kiri anda, menjulurlah jalan Braga yang tersohor hingga daratan Eropa. Jl. Braga pada masa itu dikenal sebagai ”The Most Fashionable Street in the East Indies”. ( melihat keadaannya sekarang, anda jangan membayangkan yang fantastis. Tantangan generasi kita menghidupkan kawasan bersejarah ini kembali. Salah satunya sedang diupayakan penyelanggara Braga Festival ).

Di Jalan Braga dahulu, berderet bangunan pertokoan yang menjual berbagai produk terakhir Eropa pada Masa Keemasan. Di sekitarnya, ada Gedung Bank Indonesia ( 1930-an ), Gereja Protestan Bethel ( 1926 ), Gereja Santo Petrus ( 1922 ). Jika di Alun-alun Bandung ada Gedung Bioskop Elita yang kini jadi arena Futsal, maka di Jl. Braga ada Bioskop Majestic yang tersohor tahun 1920- an. Dulu dinamai Blikken trommel atau kaleng biskuit. Kini, Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC). Majestic berarti penuh keagungan. Gedung ini merupakan satu dari 750 bangunan yang dipersiapkan Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Ir FJL Ghijsels untuk mempercantik Bandung. Pembangunan Kota Bandung terjadi pada kurun waktu 1918-1925.

Gedung Sate, banyak orang sudah melihatnya. Awalnya akan digunakan sebagai gedung pemerintahan, menyusul rencana pemerintah kolonial Belanda memindahkan ibukota Belanda di Timur ini, dari Jakarta ke Bandung, tahun 1918. ( wah, Bandung jadi ibukota Indonesia, euy .. ). Kini Gedung Sate menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat. Landmark kebanggaan warga Bandung. Kang Ahmad Heryawan dan Kang Dede Yusuf berkantor di dalamnya. Masa keemasan pembangunan kota Bandung tempoe doeloe ( tahun 1920-1930-an ) mencakup 3 jalan pertama di Bandung, yaitu Jl. Asia Afrika, Jl. Braga dan Jl. Merdeka. Masa Bandung dijuluki ”Parijs van Java”. Meni waas. Happy New Year, people ..

Braga Festival menghidupkan akhir tahun di kota Bandung. Don’t miss it.

Pameran foto di Braga Festival. Akhir tahun ini akan diadakan lagi.

Menutup tahun 2009, Kota Bandung kembali menggelar even Braga Festival, pada 27-30 Desember di sepanjang ruas Jl.Braga, Bandung. Kegiatan ini ditargetkan menarik pengunjung hingga 2 juta orang. Rencananya, di ruas jalan sepanjang 700 meter tsb, akan digelar pameran karya seni, pemutaran film, produk industri kreatif, fashion dan kuliner. Juga digelar pertunjukkan musik dan atraksi kesenian dari berbagai komunitas di Jawa Barat, Kota Bandung dan sejumlah kota lainnya di Indonesia.

Direktur Perfomance Martha Topeng, Sabtu ( 19/12/2009 ) mengungkapkan, selama 4 hari kegiatan tsb digelar, telah dipersiapkan sejumlah pertunjukkan musik dan atraksi kesenian. Bahkan, untuk mendukung pertunjukkan musik, akan disiapkan 2 panggung berukuran 4 x 8 meter di depan Gedung Gas dan Gedung Bank Jabar. Juga dipersiapkan 5 panggung kecil di ruas jalan yang sama. Hari pertama, sepenuhnya akan ditampilkan pergelaran perkusi yang melibatkan 500 pemain perkusi dari berbagai daerah, seperti dari Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. Hari kedua, akan tampil indie music dari berbagai aliran, seperti jazz, blues, country dan balada dari 150 grup musik indie. Hari ketiga, akan tampil world music dan tarian kontemporer, perpaduan tradisional dan internasional, seperti samba Sunda. Hari keempat, puncaknya, pengunjung akan disuguhi seluruh penampilan yang digelar sejak hari pertama. Tema yang diusung adalah kontemporer, kata Martha.

Presdir Kharisma Nusantara Kris Syandi Kurnia mengatakan, dengan mengusung tema Wujud Citra Braga Kreatif, kegiatan tahunan tersebut akan memotret kecenderungan kreativitas yang terjadi di Jawa Barat dan Kota Bandung. Memperjelas, bahwa Kota Bandung sebagai kota seni dan budaya, pintu gerbang pariwisata Jawa Barat. ( PR, 20/12/2009 ).

Pekan Kerajinan Jawa Barat 2009 : inspirasi hidup baru.

Stand2 memamerkan produk kreatif & kuliner orang Sunda. Siap mencuci mata dan mulut anda.

West Java Craft bertempat di Graha Manggala Siliwangi, Bandung, pada 23-27 Desember 2009. menampilkan stand2 ; handycraft, perhiasan, batik, kulit, garmen, perangkat interior, houseware, talkshow, workshop, aneka lomba dan festival anak Jabar. Lomba tsb diantaranya ; lomba menulis surat kepada ibu gubernur, lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba kaligrafi, lomba lipat kertas, lomba kreasi plastisin ( malam ), lomba kreasi batang es krim, lomba menyusun puzzle dan lomba peragaan busana daerah. ( PR, 20/12/2009 )

Jalan Braga sebagai kawasan wisata komersial.

Jalan Braga yang tak henti-hentinya dikenang, diperbincangkan dan diperdebatkan. Berbagai isu dapat digali dan dilontarkan mengenai Jalan Braga sebagai kawasan komersial, dengan bekal sejarahnya yang panjang dan gemilang. Komersial yang diwisatakan ?

Pengertian Commerce ( English ) :

· Hubungan sosial, transaksi antara individu ataupun kelompok dalam hal pertukaran ide, opini ataupun perasaan

· Transaksi atas berbagai jenis inter-relasi, koneksi atau komunikasi

· Pertukaran atau jual beli komoditi, khususnya dalam skala besar dan melibatkan transportasi

· Perniagaan, perdagangan

Komersial, dari commercial :

· Segala sesuatu yang berkaitan dengan perniagaan/ perdagangan

· Segala sesuatu yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama

Pariwisata

· Segala sesuatu yang berkaitan dengan proses ketertarikan orang untuk datang berkunjung ke suatu tempat dan fasilitas2 yang membawa ke tempat tersebut, termasuk sarana transportasi, imigrasi, akomodasi, sarana dan prasarana serta tuan rumah

Kawasan komersial dapat dipahami sebagai suatu kawasan yang mewadahi aktivitas komersial, dengan kata lain kawasan yang merupakan pusat komersial. Wujudnya adalah suatu kawasan niaga dalam berbagai bentuk ( blok, ruas jalan dll ). Kegiatan perdagangan merupakan indikator vitalitas perekonomian dan tingkat intensitas sosial dari suatu tempat dan kita dapat membaca karakter penduduk suatu wilayah melalui aktivitas niaga yang terjadi di wilayah tersebut. Selain itu aktivitas komersial juga memilik peranan dalam ketenagakerjaan dan tingkat upah

Dari segi ekonomi, perencanaan suatu pusat komersial harus mempertimbangkan faktor2 berikut :

· Menuntut adanya studi kelayakan secara ekonomi yang matang, jauh sebelum perencanaan dimulai. Studi kelayakan harus bisa menjamin pusat komersial tersebut memberikan keuntungan bagi investornya

· Menuntut adanya cost planning, cost estimating dan cost control sehingga investasi yang ditanamkan menjadi efektif, tidak sia-sia. Dalam hal ini perlu diperhitungkan BEP ( Break Event Point ) yang cepat dan tepat

· Lokasi lahan dan situasi juga merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Umumnya bangunan komersial menempati lahan di pusat kota yang strategis sehingga harganya mahal. Untuk itu perlu dirancang metoda pembangunan apa yang sesuai, efesien dan ekonomis.

· Efesiensi pemintakatan yang sesuai sehingga setiap luasan ruang memiliki nilai yang hampir sama

· Aspek hukum untuk menjamin kepemilikan yang jelas, karena bangunan2 komersial umumnya digunakan oleh banyak pihak ( multi users )

Ditinjau dari sudut pandang pariwisata, kawasan komersial wisata dapat diartikan sebagai kawasan komersial yang menjadi atraksi wisata, sekaligus berfungsi memfasilitasi pusat2 akomodasi wisata yang ada di lingkungannya. Dalam kaitannya dengan Urban Tourism, kawasan komersial wisata tidak hanya dipandang sebagai aktivitas urat nadi kehidupan kota, tapi juga sebagai tempat yang memiliki potensi ( dalam hal ini menarik ) untuk dijadikan sebagai atraksi wisata. Aktivitas utama sekaligus sebagai atraksi wisata pada kawasan komersial tersebut adalah berbelanja.

Berbelanja merupakan kegiatan yang menarik, yang diminati oleh sebagian besar orang dan merupakan aktivitas wisatawan yang cukup menonjol. Selain sebagai atraksi wisata, fasilitas perbelanjaan juga penting sebagai fasilitas pendukung pariwisata yang meyediakan barang-barang sehari-hari, seperti film, koran, majalah, buku, toiletries dan lainnya juga pelayanan pribadi seperti barber shop, salon, massage. Untuk itu fasilitas perbelanjaan tersebut harus mudah diakses dari setiap tempat dan setiap waktu dibutuhkan.

Kesuksesan suatu kawasan komersial wisata sebagai sebuah atraksi wisata sangat tergantung pada keberadaan fasilitas pariwisata yang lain dan sebaliknya keberadaan suatu kawasan komersial wisata akan mendorong dan menjadi faktor penarik pariwisata di suatu wilayah. Keberadaan suatu kawasan komersial wisata harus didukung oleh pusat akomodasi wisata, transportasi, pencapaian yang jelas, fasilitas2 pendukung.

Menurut Mathias de Vito, Chief Executive dari Rouse Company, USA :

“Keberhasilan Festival Market milik kami sangat tergantung pada beberapa pre-existing conditions, yaitu :

· Otoritas kota yang aktif, untuk menarik pemerintah agar menyuntikkan dana ke CBD

· Perkantoran dan ketenagakerjaan, untuk menciptakan pasar, yaitu worker-shoppers

· Perkembangan hotel dan pusat akomodasi wisata, untuk mendukung terciptanya pasar : tourist-shopper ..”

Sebagai sebuah lokasi tujuan wisata, kawasan komersial wisata harus memiliki kekuatan, yaitu sesuatu yang menarik pengunjung, baik berupa suasana, karakter visual, setting tertentu, lokasi dll. Pusat2 perbelanjaan merupakan salah satu penarik kedatangan turis ke berbagai kota di dunia. Bentuk2 kawasan komersial wisata yang terkenal :

· Japanese Tourist Market – terkenal dengan tingkat penjualan souvenir yang tinggi

· Singapura dan Hongkong terkenal dengan kegiatan wisata belanja yang dipromosikan besar-besaran dan menjadi program utama pariwisata negara2 tersebut, menjual kawasan pusat perbelanjaan modern

· Berbagai duty free

· Kawasan2 dengan karakter yang khas seperti kawasan Pecinan, baik yang berada di Amerika maupun di kota2 Asia, contoh lain adalah Jalan Arab di Singapura

· Untuk Indonesia, contoh kawasan komersial wisata : Malioboro, Yogyakarta

Dalam proses terbentuknya, suatu kawasan komersial wisata mungkin merupakan :

· Kawasan komersial utama suatu kota yang menjadi identitas kota tersebut, sehingga orang2 yang mendatangi kota tersebut merasa wajib berkunjung ke sana, misalnya Malioboro, Braga tempo dulu.

· Kawasan komersial yang memiliki satu jenis aktivitas tertentu yang menarik, seperti pusat industri kulit, pusat jeans, pusat industri keramik, pusat sayur dan buah, pasar kembang, dll

· Kawasan komersial yang dengan sendirinya tumbuh karena adanya aktivitas wisata pada daerah sekitarnya, misalnya komersial di sekitar Kuta dan Legian

· Kawasan komersial yang memang dirancang untuk menjadi sebuah atraksi wisata, misalnya pusat2 perbelanjaan besar di Jepang ( Ginza ), Singapura ( Orchard Road ) dan Jakarta ( PI Mall, Senayan Square )

· Kawasan komersial wisata yang dihidupkan sebagai usaha revitalisasi suatu kawasan, seperti banyak dilakukan pada pasar2 festival di Boston, New York, Baltimore, Miami, Los Angeles dan Singapura.

Masalah yang sering dijumpai dalam perkembangan kawasan komersial di pusat kota

Atraksi kesenian, tidak ketinggalan.

Banyak pengalaman menunjukkan adanya kawasan pusat kota yang semula memiliki peran cukup vital di dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya, dalam perkembangannya menunjukkan kemunduran yang disebabkan oleh kondisi sarana dan prasarana kurang mampu mendukung kegiatan yang ada. Masalah2 tersebut antara lain :

1. Masalah dalam penggunaan lahan

· Pergeseran fungsi dari single-use menjadi mixed use

· Kecenderungan perubahan layout bangunan sehingga sempadan tidak seragam

· Munculnya sektor informal

2. Masalah lalu lintas, berupa kemacetan yang disebabkan oleh

· Daya tampung jalan tidak sepadan dengan jumlah kendaraan

· Terpusatnya arus kendaraan yang melalui ataupun menuju kawasan

· Penyatuan sistem sirkulasi lalu lintas kendaraan dan manusia yang belum teratur

3. Masalah fisik lingkungan

· Masalah peremajaan bangunan2 lama

· Pertumbuhan dan perkembangan kota yang tidak terkendali, pada akhirnya menyebabkan munculnya bangunan2 yang tidak kontekstual.

Faktor2 yang dapat dijadikan dasar dalam perencanaan kawasan komersial wisata

Untuk menunjang keberhasilan suatu kawasan komersial wisata, dalam proses perencanaan suatu program Urban Tourism, karakter lingkungan dan kualitas lingkungan kota yang harus dievaluasi adalah :

· Kualitas visual dari karakter dan langgam arsitektur

· View dan vista yang ditawarkan

· Ketersediaan lalulintas dan kenyamanan-keamanan pedestrian

· Masalah2 air, udara, kebisingan, iklim

· Ketersediaan ruang2 terbuka, ruang publik dan lingkungan yang layak

· Ketersediaan fasilitas pendukung lainnya

· Kebersihan dan penanganan sampah

· Tingkat kejahatan dan tingkat keamanan umum

Lebih lanjut dalam perencanaan suatu kawasan komersial wisata, fasilitas2 pendukung pariwisata dan infrastrukturnya harus terintegrasi dengan baik. Sepuluh fasilitas pendukung pariwisata adalah :

· Pusat akomodasi wisata

· Fasilitas pusat makanan dan minuman

· Perbelanjaan dan pelayanan pribadi

· Fasilitas kesehatan

· Pelayanan pos

· Tour and travel operations

· Pusat informasi bagi wisatawan

· Money changer, banking dan pelayanan2 finansial lainnya

· Fasilitas keamanan umum, meliputi petugas keamanan dan fasilitas kebakaran

· Fasilitas keluar dan masuk ( entry & exit facilitations )

Sementara itu infrastrukturnya meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi dan fasilitas lainnya seperti suplai air, listrik, penanganan sampah, telekomunikasi, drainase, jaminan kesejahteraan tuan rumah dan pelayanan masyarakat bagi tuan rumah.

Perencanaan suatu kawasan komersial wisata merupakan bagian dari perencanaan suatu program Urban Tourism yang tetap akan mengacu pada teori2 perancangan ruang kota. Menurut Roger Trancik, tiga pendekatan bagi teori perancangan ruang kota yang paling dominan adalah figure-ground theory, linkage theory dan place theory. Ketiga teory ini berbeda satu dengan lainnya dan secara bersamaan membantu dalam menentukan strategi2 potensial bagi perancangan ruang kota yang teintegrasi

Figure-ground theory didasarkan pada hubungan antara penutupan permukaan lahan dengan bangunan yang solid sebagai figure, dengan void yang terbuka sebagai ground. Setiap lingkungan kota memiliki pola solid dan void, dan pendekatan figure-ground bagi perancangan ruang kota adalah usaha untuk memanipulasi hubungan ini dengan menambahkan, mengurangi ataupun mengubah geometri fisik dari pola tersebut.

Berbeda dengan figure-ground theory, linkage theory diturunkan dari garis2 yang menghubungkan satu elemen kota dengan elemen lainnya. Garis2 ini dibentuk oleh jalan2, jalur pedestrian, ruang terbuka linier ataupun elemen penghubung lainnya yang secara fisik menghubungkan bagian2 kota.

Place theory lebih maju selangkah dari figure-ground theory dan linkage theory, dengan menambahkan komponen kebutuhan manusia, kebudayaan, konteks sejarah dan konteks alami. Penekanan teori ini adalah memberi kekayaan spesifik bagi sebuah tempat dengan cara menggali bentuk2 dan detil2 yang unik yang mengingatkan akan setting tersebut.

Dalam kajian kawasan komersial wisata yang merupakan bagian dari Urban Tourism, ketiga teori perancangan ruang kota tersebut akan sangat menentukan tingkat integrasi antar atraksi2 wisata, dan integrasi antara atraksi2 tersebut dengan fasilitas2 pendukung pariwisata.

Braga sebagai warisan sejarah kota.

Mau lihat foto2 Braga tempoe doeloe. Ada ..

Braga sebagai jalur pertokoan ( shopping street ) merupakan salah satu contoh nyata dari warisan masa kejayaan Parijs van Java dalam bidang ekonomi ( 1920-1930 ). Bahkan masa lalu, Braga sempat dijuluki De Meest Europeeschen Winkelstraat van Indie ( Kompleks Pertokoan Eropa yang Paling Terkemuka Di Hindia Belanda ). Jalur pertokoan lama ini hingga kini masih berfungsi.

Braga sebagai kawasan komersial

Braga saat ini dihargai sebagai kawasan historis, dengan karakter kolonialnya yang sangat kuat dan layak dipertahankan. Berbagai pihak tertarik dan telah mengadakan studi2 mengenai kawasan ini, dan berbagai usulan rancangan telah dihasilkan. Keadaannya sebagai shopping street tetap dipertahankan ( gambar 3 ), namun terlihat tidak begitu berhasil karena tersaingi oleh pusat2 perdagangan berupa shopping center. Menurut RBWK 2005 Kota Bandung, daerah ini termasuk ke dalam daerah dengan fungsi perdagangan, eceran ( retail ), hiburan, restoran dan hunian.

Apabila ditinjau dari aspek pariwisata, kawasan ini memiliki potensi sebagai atraksi wisata, karena lazimnya wisatawan ingin melihat sesuatu yang khas atau merasakan suasana yang berbeda. Faktor penarik yang dominan dan potensial di Braga adalah karakter kawasan yang unik, yang bercerita tentang nostalgia zaman kolonial Belanda di Indonesia. Skala ruang dan karakter lingkungannya yang unik tidak dapat dijumpai di tempat lain di Bandung.

Kawasan Braga juga memiliki bagian yang dapat disebut sebagai urban waterfront, yaitu daerah di dalam kota yang berbatasan dengan air, seperti sungai atau kanal ( gambar 4 ). Pada negara2 yang sudah lebih maju, waterfront merupakan lokasi yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata

Sejarah Kawasan Komersial Braga

Perkembangan Kota Bandung secara langsung maupun tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan dan kemajuan Jalan Braga. Bila ditilik kembali, perkembangan Jalan Braga dapat didefinisikan sebagai ribbon-development, mengingat Braga merupakan salah satu lintasan utama pada masa2 awalnya.

Pada 1810 ketika ibukota kabupaten dipindahkan ke tepi Jalan Raya Pos ( Groote Post Weg ), Jalan Braga merupakan jalur pedati yang dibangun penduduk untuk menghubungkan rumah/ gudang kopi milik Tuan Andries de Wilde yang sekarang menjadi Kantor Pemerintah Kodya Bandung dengan Jalan Raya Pos.

Selama periode 1920-1930 Gemeente Bandung mengadakan modernisasi Jalan Braga. Tindakan yang dilakukan antara lain pengaturan lalu lintas dan perencanaan Cikapundung Boulevard yang salah satu tujuannya adalah mengantisipasi kepadatan lalu lintas di Jalan Braga.

Pada tahun 1937-1939 dilakukan pembangunan ruas jalan ABC dan Suniaraja. Kedua jalan tersebut menambah keramaian kawasan Braga dan sekitarnya, dengan bermunculannya fasilitas2 penunjang, berupa bioskop, bank, restoran, dll. Jalan Braga adalah tempat berbelanja dan cuci mata yang eksklusif bagi masyarakat kelas atas. Selain merupakan ajang pameran mode2 terbaru dari Paris, segmen utara Braga juga menjadi tempat para Preanger Planters saling berebut mengganti dan memamerkan mobilnya. Sebagai sebuah shopping street, Braga merupakan sebuah rute jalan kaki yang menyenangkan untuk dilalui oleh wisatawan. Di sepanjang Jalan Braga, orang bisa berjalan-jalan sambil melihat-lihat etalase pertokoan ( window shopping ). Disinilah kesemarakan masa Parijs van Java yang glamour dapat dilihat dengan aktivitas intelektual dan budaya yang mengesankan.

Penurunan kualitas Braga sebagai kawasan pusat komersial berawal dari adanya ‘malaise’ pada tahun 1930-an, dan semakin melesu dengan pecahnya Perang Dunia II, dilanjutkan dengan pendudukan Jepang.

Kondisi dan fenomena yang terjadi pada kawasan Braga saat ini.

Bule juga turut memeriahkan.

Munculnya pusat perdagangan di Jalan Dalem Kaum, Kosambi, Merdeka, Pasar Baru dan Asia Afrika yang lebih modern dan eksklusif sepertinya merupakan penyebab awal kemunduran Braga. Selera masyarakat beralih pada gaya lain dari berbelanja yang baru melanda Indonesia. Berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan yang tertutup dan ber-AC jauh lebih nyaman daripada berjalan di tepi Braga yang mulai dipadati kendaraan.

Braga tidak lagi memiliki daya tarik sebagai suatu shopping street, barang dagangan yang dijual kurang menarik pembeli dan menimbulkan kesan bahwa barang2 tersebut adalah barang mahal. Masalah lalu lintas dan parkir juga menyebabkan pengunjung enggan berbelanja di Braga. Pada saat ini fungsi baru yang ada pada Jalan Braga adalah pelayanan jasa, perkantoran, pusat hiburan, penyalur utama dan penjualan non daily goods. Fungsi2 tersebut membuat Braga tidak banyak dikunjungi pada siang hari.

Toko2 yang ada kini banyak yang menjual barang2 dagangan dalam partai besar. Jenis barang yang demikian bukanlah jenis yang menarik untuk dilihat, dan pembelinya hanyalah penyalur2 barang tersebut. Pengunjung yang datang ke Braga saat ini umumnya sudah memiliki satu keperluan t ertentu, dan tidak lagi menganggap Braga sebagai tempat aktivitas window-shopping.

Hal ini mengakibatkan toko2 yang keuntungannya sangat tergantung pada jumlah pengunjung seperti toko pakaian, tas dan sepatu, mengalami kebangkrutan. Sebagian besar toko2 tersebut pindah ke lokasi yang lebih menguntungkan, sehingga toko2 yang bertahan semakin sepi pengunjung.

Pada malam hari aktivitas tidak merata mengakibatkan terdapat kekosongan2 di sepanjang Braga. Sementara itu penerangan jalan didominasi oleh lampu2 billboard yang mengalahkan lampu jalan ( hanya beberapa lampu jalan yang menyala ). Kondisi seperti ini menimbulkan kesan rawan dan rasa tidak aman bagi pengunjung. Aktivitas terpusat pada segmen II dengan adanya Caesar Palace, Disko Dangdut, dll. Sementara itu pada segmen II aktivitas malam hari tidak merata. Pada segmen satu adanya Sarinah, Majestic dan dua buah restoran tidak mengurangi kesan rawan pada ruas jalan tersebut. Fungsi dan aktivitas yang terdapat di Braga saat ini antara lain pertokoan, rekreasi/ hiburan, perkantoran, hotel, kebudayaan dan permukiman.

Aksesibilitas kawasan Braga

Dari segi lokasi, Braga adalah kawasan di pusat kota Bandung yang memiliki tingkat pencapaian yang tinggi. Namun dari segi teknis, sistem one-way membuat aliran kendaraan menjadi membingungkan dan menyulitkan pencapaian. Ada beberapa pencapaian Braga.

· Segmen I dapat dicapai dari Jalan Naripan, satu arah ke Jl.Asia Afrika

· Segmen II dapat dicapai dari Jalan Banceuy, satu arah ke utara.

· Segmen III dapat dicapai dari segmen II dan dari Jalan Suniaraja, satu arah ke utara.

Terdapat beberapa akses yang sesungguhnya potensial bagi Braga sebagai kawasan komersial wisata. Akses2 tersebut adalah :

1. Cikapundung Boulevard

Cikapundung Boulevard adalah rencana jalan yang akan dibangun disepanjang sisi kali Cikapundung, berawal dari Jalan Gereja kemudian membelah pusat kota Bandung sampai Cikapundung Boulevard. Pada tahun 1938, Gemeente Bandung baru bisa menyelesaikan sebagian rencana, yaitu 4 buah jembatan beton bertulang di sisi jalan Gedung PLN ( Cikapundung Barat dan Timur ), sedangkan jalan yang menghubungkan Jalan Suniaraja dan Jalan ABC belum sempat dibangun. Akses ini sangat potensial untuk menghubungkan kawasan Viaduct dengan pusat perbelanjaan Banceuy-ABC.

2. Permorin

Merupakan bangunan bekas bengkel Fuchs and Rens dengan entrans dari Jalan Braga. Site ini sangat unik dan potensial sebagai penghubung Braga dengan tepian kali Cikapundung.

3. Gang Affandi dan Gang Cikapundung

Merupakan akses ke perkampungan di Lembah Braga, dan terusan dari Gang Cikapundung yang berhubungan langsung dengan kawasan perdagangan Banceuy.

Karakter Lingkungan Braga

Dalam teori perancangan ruang kota kita mengenal titik simpul ( node ) dan lorong ( path ) yang merupakan bagian dari pembentuk identitas suatu kota Karakter lingkungan kawasan Jalan Braga terbentuk dari komposisi massa dan ruang yang sangat khas, yang membentuk lorong dengan empat titik simpul. Selain itu lingkungan Braga juga memiliki beberapa arah pandang dan peralihan ruang yang menarik.

Keempat titik simpul tersebut membagi Jalan Braga menjadi tiga ruas lorong, serta merupakan ruang peralihan dari satu ruas ke ruas lainnya, yang memiliki karakter masing2. Lorong Braga terbentuk oleh deretan bangunan di sepanjang Jalan Braga, yang memiliki dua macam skala ruang, yang dipengaruhi oleh sempadan dan ketinggian bangunan. Pada segmen I dan segmen III suasananya lepas dan terbuka. Sementara itu pada segmen II kesan lorong sangat terasa. Kesan lorong tersebut juga ditunjang oleh panjangnya jarak antara titik2 simpul yang membatasinya.

Komposisi massa Jalan Braga jug membentuk beberapa vista dan peralihan ruang yang menarik. Misalnya arah pandang dari segmen II ke segmen tiga yang disambut oleh menara Savoy Homann dan menara BPD Jabar, dan dari segmen II ke segmen I yang disambut oleh Center Point, arah pandang dari segmen I ke Jalan Asia Afrika disambut oleh sebuah bangunan bermenara, sangat potensial untuk dijadikan vista yang menarik.

Karakter Bangunan

Dari segi bentuk, bangunan2 yang terdapat di Jalan Braga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bangunan teras ( terrace building ) dan bangunan tunggal ( individual building ). Bangunan2 teras yang lebih mendominasi segmen II, memiliki peran besar dalam membentuk lorong Braga. Sementara itu bangunan2 tunggal terdapat pada segmen I dan II

Tidak seluruh bangunan di jalan Braga memiliki gaya yang dapat ditelusuri, karena umumnya, merupakan paduan beberapa gaya. Adanya keanekaragaman gaya tersebut tidak membuat komposisi fasade Jalan Braga menjadi kacau. Sebaliknya, suasana yang tercipta adalah harmonis, karena peralihan dari satu gaya ke gaya lainnya benar2 dipikirkan secara matang.

Linkage Braga dengan fasilitas2 pariwisata

Braga merupakan lokasi strategis dan berdekatan dengan daerah pusat akomodasi wisata di Jalan Asia Afrika, Jalan Merdeka dan Tamblong, dan Lembong. Sebagai lokasi pusat akomodasi wisata, sarana utama telah ada, seperti penginapan, bank, money changer, pertokoan dan pusat perbelanjaan, pub, restoran, nite club, diskotek, entertainment, amusement dan lain2 dengan jarak tempuh s/d 2 km. Namun perlu diingat bahwa komposisi jumlah dan penyebaran dari fasilitas2 tersebut belum bisa dikatakan baik dan layak untuk menopang Braga sebagai kawasan komersial wisata.

Kelemahan Braga sebagai kawasan komersial wisata

· Komposisi fungsi dan aktivitas bangunan pada Braga saat ini tidak memungkinkan terjadinya interaksi antar bangunan, sebagaimana layaknya suatu shopping street.

· Fasade bangunan yang tertutup billboard mengurangi kekuatan karakter bangunan di Braga

· Pedestrianisasi yang kurang lebar tidak diteduhi, dan tidak ada kontinuitas antara link2 dari Braga menuju pusat2 komersial maupun akomodasi wisata

· Adanya arus kendaraan yang melewati Braga menghalangi terciptanya sirkulasi pedestrian dengan pola zig-zag, yang sebenarnya merupakan ciri utama suatu shopping street.

· Braga tidak memiliki kendaraan fungsi urban, sehingga pada kawasan ini terjadi intensitas kegiatan yang tidak merata ( dari segi komposisi aktivitas terhadap lokasi maupun terhadap waktu ). Hal ini sangat jelas terlihat, terutama pada malam hari.

Kawasan Terpadu Braga : regenerasi kota

Dalam usulan Braga ini, penulis menyusun skenario yang didasarkan pada evaluasi, mengambil setting RBWK 2005. Braga meliputi Jalan Braga dan Lembah Braga dijadikan sebagai salah satu kawasan komersial wisata. Hal ini akan didukung oleh letaknya yang strategis di pusat kota. Kawasan terpadu Braga ini akan menjadi city regeneration bagi Kota Bandung.

Sebagai sebuah kawasan komersial, dipandang dari intensitas ekonominya Braga bukanlah pusat komersial yang utama di Kota Bandung. Namun dilihat dari karakter ruang kota dan urban tourism, Braga merupakan Major Space ( ruang utama ) bagi Kota Bandung.

Tindakan2 awal untuk menghidupkan kawasan komersial wisata Braga adalah :

· Menutup Jalan Braga dari kendaraan, terutama pada segmen I dan segmen II. Jalan Braga dijadikan pedestrianisasi yang nyaman bagi warga kota

· Program Kali Bersih bagi Cikapundung, yang dilanjutkan dengan realisasi rencana Cikapundung Boulevard, jalur river front di sepanjang tepian Kali Cikapundung. Selain berfungsi sebagai ruang terbuka kota, jalur ini juga berfungsi sebagai jalur limpahan kendaraan dari Jalan Braga

· Mengembangkan Lembah Braga sebagai sebuah kawasan waterfront dengan retail sebagai aktivitas utama, sebagai bagian dari kawasan terpadu Braga.

· Menata kembali arus transportasi umum bagi kawasan ini sehingga mendukung fungsinya sebagai bagian dari urban tourism Kota Bandung

· Sebagai sebuah kawasan komersial di pusat kota, sasaran pengunjung Braga bukan hanya tourist-shopper, namun juga worker shopper. Sebagian besar calon pengunjung adalah warga kota yang menggunakannya setiap hari. Justru kehidupan dan keramaian warga kota yang terus menerus itu yang akan menjadi menarik dan menjadi atraksi tersendiri.

· Pengunjung yang dapat ditarik ke kawasan ini adalah pengunjung dari pusat komersial BIP- Gelael-Dago dan Alun-alun-Dalem Kaum- Kepatihan, sebagai dua pusat keramaian yang paling dekat dengan Braga.

· Memperjelas linkage Braga dengan dua lokasi tersebut, dan dengan pusat2 atraksi serta akomodasi wisata lainnya.

Membuat arahan aktivitas kawasan Braga

Secara umum diterapkan konsep keterpaduan sebagai arahan aktivitas di seluruh kawasan Braga, yaitu :

a) Mixed Economic Strata

Seluruh kawasan terdiri dari aktivitas yang berbeda tingkatan ekonominya, tetapi saling terkait dan saling menguntungkan.

b) Mixed Land Use

Seluruh lahan yang tersedia dialokasikan secara sepadan untuk menampung kegiatan seperti rekreasi, komersial, perumahan dan parkir. Menurut CIAM ( Congress International Architecture Modern ) fungsi2 tersebut merupakan aktivitas dasar manusia yaitu : pemukiman ( habitating ), tenaga kerja ( working ), rekreasi dan sirkulasi.

Keuntungan Mixed Use

· Mempersempit jarak antar fungsi, sehingga dapat dicapai dengan jarak berjalan kaki. Sebagai acuan, John Portman menyebutnya dengan Coordinate Unit, yaitu jarak di mana seseorang rela berjalan tanpa memerlukan alat transportasi untuk mencapai tempat aktivitas. Jarak tersebut sejauh + 400 m. Hal ini akan mengurangi kepadatan dan mobilitas pada lahan.

· Pemanfaatan lahan secara efesien dan produktif untuk berbagai aktivitas manusia

· Adanya aktivitas yang beragam memungkinkan pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan dalam suatu tempat.

· Adanya aktivitas yang beragam memungkinkan pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan dalam suatu tempat.

· Mencegah matinya kawasan, terutama lantai dasar, sehingga terjadi pergantian aktivitas yang hidup selama 24 jam. Contoh : Malioboro, Yogyakarta.

Menata zoning kawasan.

· Segmen I dan segmen II Jalan Braga diperuntukkan bagi kegiatan retail yang eksklusif. Pemilihan dan penempatan tenants harus dilakukan dengan cermat.

· Segmen III tetap menjadi kawasan perkantoran dan pemerintahan, karena karakter ruangnya memang sangat berbeda dengan segmen I dan II

· Sepanjang Cikapundung Boulevard diperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan dan aktivitas rekreasi termasuk makan, minum dan hiburan. Bangunan2 di sepanjang boulevard diperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan dan aktivitas rekreasi termasuk makan, minum dan hiburan. Bangunan2 di sepanjang boulevard ini dapat berbentuk ruko maupun komersial murni

· Akses2 dari Cikapundung Boulevard ke Jalan Braga dihidupkan dengan menempatkan fungsi retail dan eksibisi

· Daerah antara Cikapundung Boulevard ke Jalan Braga dihidupkan dengan menempatkan fungsi retail dan eksibisi

· Daerah antara Cikapundung Boulevard dan Jalan Braga diperuntukkan bagi akomodasi dan hunian. Bangunan2nya lebih diarahkan kepada bentuk Guest House. Untuk hunian penduduk, disediakan rumah susun dengan kapasitas optimal

· Pool2 parkir ditempatkan pada Jalan Banceuy-ABC dan Suniaraja ( Viaduct )

· Disekitar kawasan ditempatkan fasilitas2 pendukung pariwisata, sebagai usaha melengkapi yang ada sekarang.

Menata kawasan komersial Braga sebagai Ruang Kota

· Pedestrianisasi dan tata hijau di sepanjang Cikapundung Boulevard

· Penataan fasade dan perbaikan kondisi fisik bangunan di sepanjang Jalan Braga. Elemen2 arsitektur orisinilnya ditampilkan semaksimal mungkin, dan dilakukan penataan etalase

· Menghidupkan suasana dengan penataan signage dan street furniture lainnya

· Memaksimalkan keberadaan node2 di kawasan ini. Sesuai dengan teori, jarak yang optimal bagi pedestrian adalah 400 m. Untuk kawasan Braga, jarak2 antar node-nya berkisar antara 150-300 m, maka node2 tersebut cukup ideal untuk dijadikan pusat2 orientasi

· Menghidupkan suasana malam hari dengan aktivitas hiburan, makan-minum dan eksibisi. Untuk meningkatkan keamanan, penerangan jalan harus ditata dengan baik. Etalase toko2 tidak boleh ditutup panil yang masif, melainkan lebih baik dengan jeruji yang artistik, sehingga turut menyumbang kesan hidup bagi kawasan dan menerangi pedestrianisasi.

( Akmalia )


Written by Savitri

23 Desember 2009 at 10:47

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Desa : definisi, asal mula, bentuk, pola, ciri & romantikanya

with 3 comments

Pengantar A.Savitri :

Bulir padi yang siap dipanen. Jika saja anda tahu, perjuangan orang desa memberi makan orang kota. Anda akan respek dengan para petani & memikirkan nasib memprihatinkan sebagian mereka.

Butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak, kata penonton “Golden Ways”- Mario Teguh, Minggu petang ( 13/12/2006 ). Butuh orang sedusun untuk mendandani cover girl, kata Oprah sebelum difoto untuk cover majalahnya. Butuh orang sedesa untuk menyiapkan makanan sepiring, kata suhu seorang calon kaisar. Orang desa banyak disebut ketika kita membicarakan sebuah pencapaian mulia. Namun, mereka lebih banyak dilupakan jika karya itu menjadi rutin dinikmati. Seperti sayur asem lezat yang pertama kali disantap. Santapan berikutnya, perhatian kita sudah teralih ke hal lainnya. Ritme hidup masa ini begitu cepat, ya. Belum tuntas satu kegiatan, pikiran kita sudah melesat ke kegiatan berikutnya. Di Amerika, seorang ibu mendapati balitanya tewas terpanggang di jok belakang mobilnya. Kulitnya melepuh, mengelupas karena diterpa terik matahari seharian dalam mobil tertutup rapat. Mengenaskan. Rupanya, si ibu tergesa-gesa ingin menghadiri rapat di kantornya. Setelah sore, ia baru sadar kalau ia ke kantor bersama putri bungsunya.

Di keluarga lain, seorang lelaki men-chas aki mobilnya yang mogok dengan aki mobil istrinya. Mesin hidup, ia langsung ngebut. Kuatir telat masuk kantor. Ia tak menoleh lagi. Sepulang kantor sore hari, ia mendapati istri, kedua anak, bahkan anjing peliharaannya terkapar tewas. Si pria rupanya lupa mematikan mesin mobil istrinya ketika berangkat tadi. Akibatnya, semua orang2 kesayangannya, mati lemas menghirup gas monoksida. Kelalaian kecil terseret ritme modernisasi, berakhir petaka. Penyesalan hidup yang tak berujung. Slow down, people ..

Saya senang melihat anak2 diajak orang tuanya kembali ke alam. Belajar bercocok tanam, memanen, menumbuk padi, menanak nasi. Saya teringat Jet Lee di film “Fighter” menjinakkan ego dan kebrutalannya dengan belajar bercocok tanam pada seorang gadis buta di desa. Mengikuti perjalanan sebutir beras hingga terhidang di piring makan. Sungguh melatih kesabaran. Terpikir, betapa banyak peluh mengucur demi persembahan desa untuk negeri ini. Namun, berapa banyak perhatian negara/ kita pada kaum petani, nelayan, orang desa ? Kaum termariginalkan. Terpinggirkan.

Posting kali ini, saya menyoroti mereka. Ada apa dengan desa ? Mengapa mereka berbondong-bondong meninggalkan desa untuk mengadu untung di kota ? Sebagian yang tak beruntung, berserakan di sudut gelap, keremangan malam dan taman kota, sebagai gepeng ( gelandang pengemis ) atau PSK ( pekerja seks komersial ). Di perempatan jalan, menadahkan tangan demi satu dua receh, penyambung hidup. Sebagian lain menyatroni rumah2 kosong, menguras isinya. Jadi maling. Lainnya, terjerat pusaran trafficking ( perdagangan manusia lintas negara ). Meski kepedihan yang didapat, asa mereka tak surut untuk terus membanjiri kota. Urbanisasi, terutama musim pulang mudik, jadwal paling afdol. Seorang migran selesai berlebaran di kampung kembali ke kota bersama adik, tetangga dan teman sekampung. Begitu menarikkah kota ? Begitu sedihkah hidup di desa ? Something wrong here ?

Mari kita belajar ke desa. Untuk berlatih sabar, tenang, menghargai menit demi menit kehidupan dengan kesadaran penuh. Be present. Demi keselamatan diri, dan orang2 yang kita cintai. Demi orang desa yang sudah memberi makan orang kota. Demi Indonesia.

Desa : definisi, asal mula, bentuk, pola & cirinya

Desa dalam pengertian umum adalah permukiman manusia di luar kota yang penduduknya berjiwa agraris. Dalam keseharian disebut kampung, sehingga ada istilah pulang ke kampung atau kampung halaman. Desa adalah bentuk kesatuan administratif yang disebut kelurahan. Lurahnya kepala desa. Dalam lingkup kota yang dipenuhi pertokoan, pasar dan deretan kios, juga ada desa, seperti desa Kalicacing di kota Salatiga. Desa di luar kota dengan lingkungan fisisbiotisnya, adalah gabungan dukuh. Dukuh mewujudkan unit geografis yang tersebar seperti pulau di tengah persawahan atau hutan.Dukuh di Jawa Barat disebut kampung. Gampong di Aceh, huta di Tapanuli, nagari di Sumatera Barat, marga di Sumatera Selatan, wanus di Sulawesi Utara, dan dusun dati di Maluku. Desa menurut definisi Bintarto, adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur2 geografis, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang ada di sana dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan daerah2 lain.

Desa, dalam definisi lainnya, adalah suatu tempat/ daerah di mana penduduk berkumpul dan hidup bersama, menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan dan mengembangkan kehidupan mereka. Desa adalah pola permukiman yang bersifat dinamis, di mana para penghuninya senantiasa melakukan adaptasi spasial dan ekologis sederap kegiatannya berpangupajiwa agraris. Desa dalam arti administratif, menurut Sutardjo Kartohadikusumo, adalah suatu kesatuan hukum di mana sekelompok masyarakat bertempat tinggal dan mengadakan pemerintahan sendiri.

Asal mula terbentuknya desa

Desa di Jawa, mulanya dihuni orang seketurunan. Mereka memiliki nenek moyang sama, yaitu para cikal bakal pendiri permukiman tsb. Jika desa sudah penuh, masalah2 ekonomi bermunculan. Beberapa keluarga keluarga keluar, mendirikan permukiman baru dengan cara membuka hutan. Tindakan ini disebut tetruka. Di Tapanuli, pembukaan desa baru, menurut Marbun, sebagian karena kelompok baru ingin mencapai hak dan kewajiban sebagai raja adat, atau tanah desa tak memadai lagi untuk menghidupi penghuninya. Desa sebagai kesatuan masyarakat memiliki 3 hal ;

  • Daerah/ rangkah/ wilayah, yaitu tanah2 pekarangan dan pertanian beserta penggunaannya, termasuk aspek lokasi, luas, batas, yang merupakan lingkungan geografis setempat.
  • Penduduk/ darah/ keturunan, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, penyebaran dan matapencarian.
  • Adat/ warah/ ajaran, yaitu ajaran tentang tata hidup, tata pergaulan, dan ikatan2 sebagai warga desa. Tata kehidupan ini terkait usaha penduduk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraannya.

Desa memiliki seting geografis dan sumber daya manusia yang berbeda-beda. Ada desa yang dikarunia alam yang kaya, namun semangat membangun, ketrampilan dan pengetahuan masyarakat serba kurang, sehingga tidak maju. Ada pula desa yang sumber alamnya terbatas, tetapi ekonominya maju, berkat kemampuan penduduknya mengatasi berbagai hambatan alam. Sehubungan dengan ini, ada 4 unsur geografis yang turut menentukan persebaran desa, yaitu : lokasi, iklim, tanah dan air.

  • Lokasi, menyangkut letak fisiografis, misalnya ; jauh dekatnya dengan jalan raya, sungai, rawa, pegunungan, pantai, kota, dsb, yang mempengaruhi ekonomi desa, kemajuan budaya, pendidikan. Contohnya, persebaran desa2 di wilayah kecamatan Batu, Malang. Desa2 ini menempati wilayah vulkanis yang tersebar di sekitar puncak2 gunung. Batas alam hampir berhimpit dengan batas administrasi. Kondisi fisiografis ( topografi, iklim, vegetasi ) cocok untuk agrowisata. Sungai Brantas di hulu memiliki banyak cabang sehingga baik untuk pertanian sayur, bunga dan budi daya pekarangan.
  • Iklim desa ( tipe iklim ), tergantung letak topografi desa dari atas permukaan air laut ( dpl ). Kaliurang ) 1000 m dpl ) dan Kopeng ( 1350 m dpl ) menjadi kota peristirahatan, lengkap dengan fasilitas rekreasi, perhotelan, perwarungan, perdagangan sayur dan bunga-bungaan. Di ketinggian tsb, tak ada sawah atau pun pohon kelapa yang tumbuh.
  • Tanah, misalnya tanah berkapur, berpasir, berlempung, bertanah liat, dsb, mempengaruhi keberhasilan pertanian. Tebu, tembakau, karet, coklat, teh, kopi, dsb, dibudidayakan menjadi perkebunan dengan modal teknologi dan perencanaan yang tepat.

Desa swasembada & desa mengkota

Suasana pedesaan yang menyejukkan. Membuat ingin kembali, menyandarkan diri dari letih dan gemerlapnya kota. Queit place. Peacefull, man ..

Dalam telaah geografi desa, dibahas letak desa terhadap kota atau desa lain. Makin terpencil letaknya dari jangkauan kota, makin terkebelakang desa itu. Di situlah pentingnya sarana transportasi dan faktor2 pendorong kemajuan ekonomi maupun pendidikan pedesaan. Desa yang dapat dikembangkan harus ditelaah unsur-unsurnya ; tanah, sumber air, warga desa, tata kehidupan desa, tanaman dan hewan.

Persebaran desa, menggerombol atau menjauhnya desa, dilatari iklim di ketinggian tempat tsb. Sumber air menentukan kelangsungan irigasi, perikanan, peternakan, dsb. Tanah karst yang kurang air, penduduknya akan menderita. Masyarakat desa berhubungan erat dengan alam. Terutama iklim dengan permusimannya, yang seakan mengatur kegiatan manusia untuk bertani. Misalnya, padi jenis C4 yang dalam setahun dapat dipanen 4 kali, karena masa tanam dan tuainya sekitar 90-100 hari.

Penduduk desa merupakan satu unit sosial dan unit kerja. Jumlah mereka relatif tak besar, umumnya agraris. Karena pengaruh kota atau pendidikan formal, desa mulai mengkota, memperlihatkan ciri2 kekotaan, baik secara fisik, ekonomi maupun budaya. Meski perubahan itu lambat, karena masyarakat paguyuban ini, kontrol sosialnya ditentukan oleh adapt, moral dan hukum informal. Makin lancar hubungan desa dengan kota, makin terbuka alam pikiran penduduk desa. Ekonomi dan pendidikan makin maju. Bagi kota, desa berfungsi sebagai penyuplai material dan tenaga kerja, meski tak terlatih. Dalam perkembangan selanjutnya, desa2 yang berhasil pembangunannya, diharapkan menjadi desa swasembada.

Ciri wilayah desa, bentuk & polanya

Menurut dirjen Bangdes, ciri2 wilayah desa antara lain ;

  • Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar ( lahan desa lebih luas dari jumlah penduduknya, kepadatan rendah ).
  • Lapangan kerja yang dominan adalah agraris ( pertanian )
  • Hubungan antar warga amat akrab
  • Tradisi lama masih berlaku.

Ada beragam bentuk desa yang secara sederhana dikemukakan sbb ;

  • Bentuk desa menyusur sepanjang pantai ( desa pantai ).
  • Di daerah pantai yang landai dapat tumbuh permukiman yang bermatapencarian di bidang perikanan, perkebunan kelapa dan perdagangan. Perluasan desa pantai itu dengan cara menyambung sepanjang pesisir, sampai bertemu dengan desa pantai lainnya. Pusat2 kegiatan industri kecil ( perikanan, pertanian ) tetap dipertahankan di dekat tempat tinggal semula.
  • Bentuk desa yang terpusat ( desa pegunungan ).
  • Terdapat di daerah pegunungan. Pemusatan tsb didorong kegotongroyongan penduduknya. Pertambahan penduduk memekarkan desa pegunungan itu ke segala arah, tanpa rencana. Pusat2 kegiatan penduduk bergeser mengikuti pemekaran desa.
  • Bentuk desa linier di dataran rendah.
  • Permukiman penduduk di sini umumnya memanjang sejajar dengan jalan raya yang menembus desa tsb. Jika desa mekar secara alami, tanah pertanian di luar desa sepanjang jalan raya menjadi permukiman baru. Ada kalanya pemekaran ke arah dalam ( di belakang perrmukiman lama ). Lalu dibuat jalan raya mengelilingi desa ( ring road ) agar permukiman baru tak terpencil.
  • Bentuk desa mengelilingi fasilitas tertentu.
  • Fasilitas yang dimaksud, misalnya, mata air, waduk, lapangan terbang, dll. Arah pemekaran ke segala arah, sedangkan fasilitas industri kecil tersebar di mana pun sesuai kebutuhan.

Bentuk2 desa tsa bertalian erat dengan usaha pengembangan dan penggalian sumber dayanya secara optimal. Dengan cara bijaksana, perkembangan permukiman harus direncanakan secara khusus, sehingga terjamin wajah permukiman yang baik dan menguntungkan. Di samping bentuk desa, Bintarto menyatakan ada 6 pola desa ; memanjang jalan, memanjang sungai, radial, tersebar, memanjang pantai, memanjang pantai dan sejajar jalan kereta api. Daerah Bantul, Yogyakarta merupakan line village ( pola desa memanjang jalan ). Permukiman di sekitar Gunung Slamet dan sungai di lerengnya membentuk desa berpola radial. Pola desa di daerah karst Gunung Kidul, Yogyakarta adalah tersebar. Permukiman di daerah Rengasdengklok, Jawa Barat dan Tegal membentuk desa berpola memanjang ( desa nelayan ) dan sejajar rel kereta api.

Pola2 desa, dari bujur sangkar sampai bulat telur.

Di Pakistan, geograf Misra merincinya lebih lengkap lagi menjadi 14 pola desa, yaitu :

  • Segi empat memanjang ( rectangular ) ; tipe paling umum karena bentuk lahan pertaniannya. Kekompakan desa membutuhkan letak rumah yang saling berdekatan, karena tak ada tembok keliling yang mengamankannya. Pola segi 4 cocok bagi permukiman berkelompok.
  • Bujur sangkar ( square & 4 square ) ; tipe ini muncul di persilangan jalan, juga di permukiman bentuk segi 4 panjang yang terbagi 4 kelompok.
  • Desa memanjang ( elongated ) ; kondisi alam dan budaya setempat telah membatasi pemekaran desa ke arah2 tertentu sehingga terpaksa memanjangkan diri.
  • Desa melingkar ( circular ) ; bentuk ini diwarisi ketika tanah masih kosong. Desa dibangun di atas urugan tanah, sehingga dari luar nampak seperti benteng dengan lubang untuk keluar masuk.
  • Tipe beruji ( radial plan ) ; jika pusat desa berpengaruh besar atas perumahan penduduk, maka tercapai bentuk beruji. Pengaruh tsb berasal dari istana bangsawan, rumah ibadah atau pasar.
  • Desa poligonal ; karena desa tak pernah dibangun menurut rencana tertentu, maka nampak bentuk2 luar yang beragam. Bentuk ini antara melingkar dan segi empat panjang.
  • Pola tapal kuda ( horse shoe ) ; dihasilkan oleh sebuah gundukan, bukit atau lembah, sehingga pola desa menjadi setengah melingkar.
  • Tak teratur ( irregular ) : desa yang masing2 rumahnya tak karuan alang ujurnya.
  • Inti rangkap ( double nucleus ) ; desa kembar hasil pertemuan 2 permukiman yang saling mendekat, misalnya akibat lokasi stasiun kereta api di antara keduanya.
  • Pola kipas ; tumbuh dari pusat yang letaknya di salah satu ujung permukiman, dari situ jalan raya menuju ke segala arah.
  • Desa pinggir jalan raya ( street ) ; desa ini memanjang sepanjang jalan raya, pasar berada di tengah, jalan kereta api menyusuri jalan raya tsb.
  • Desa bulat telur ( oval ) ; sengaja dibuat menurut rencana demikian.

Warga Salamungkal swasembada, dari air sampai bahan pangan.

Terletak di ketinggian 800 meter dpl, berpenduduk lebih 1.264 jiwa, terbagi atas 150 kepala keluarga. Dukuh tsb laksana pulau terapung di tengah lautan persawahan nan hijau. Di dalamnya terdapat rumah2 penduduk tersebar di pekarangan masing2. Setiap pekarangan dihiasi beraneka jenis pohon buah, kolam ikan dan kandang kambing. Di sisi selatan dan barat dukuh, nampak jalan desa menyusurinya. Air sawah dialirkan dari lereng2 bukit di luar desa. Untuk membersihkan bahan pangan dan mencuci pakaian, dipakai air yang mengalir dari kolam2 ikan, yang asalnya dari sawah. Kebiasaan yang menyebabkan banyak anak berpenyakit cacingan. Dalam pekarangan, penduduk menanam pisang, ketela, sayuran, kelapa, bambu, dll. Di bawahnya ditanami aneka tumbuhan untuk bumbu masakan ( dapur hidup ) dan obat sehari-hari ( apotek hidup ).

Transmigran Sitiung, dapat tanah 2,25 hektar untuk mulai hidup baru.

Sekelompok rumah yang membentuk dukuh, atau desa. Umumnya berasal dari satu keturunan. Memegang adat sebagai norma yang mengatur perilaku anggotanya, dan berpencarian sebagai petani ( agraris ).

Ketika waduk Gajah Mungkur, Surakarta mulai dibangun, penduduk diungsikan secara bedol desa ke Sitiung, Sumatera Barat. Proyek transmigrasi di pinggir Trans Sumatera Highway ini berada di areal persawahan baru seluas 27.000 hektar, menggantikan 40.000 hektar dukuh2, tegalan dan persawahan para transmigran yang digenangi air waduk. Mereka terdiri 67.517 kepala keluarga ( kk ). Tiap2 angkatan yang terdiri sekitar 500 kk, secara bertahap berhasil dimukimkan kembali. Tiap kk disediakan 1,25 ha sawah, 0,75 tegalan dan 0,25 ha pekarangan di sekitar rumah tinggal. Letaknya, tidak di hutan liar, namun diapit permukiman penduduk asli yang telah lama ada.

Letak proyek transmigrasi di dekat pertemuan 2 batang sungai sehingga irigasinya lancar. Persebaran pedukuhan di tengah lautan persawahan. Berada di antara kota Sitiung dan Kotabaru menguntungkan perkembangan lanjut kawasan transmigrasi tsb. Di buatkan pula, jalan2 terobosan baru untuk keperluan transportasi dan komunikasi. ( drs.N.Daldjoeni ).

Sekolah di daerah terpencil : jarang angkot, tanpa listrik & langka guru

Didirikannya sekolah di daerah terpencil cenderung belum dibarengi dengan akses transportasi yang memudahkan siswa menuju ke sekolah. Akibatnya, penyerapan pelajaran kurang optimal dan libur sering diberlakukan saat cuaca tak mendukung. Pendiri pusat belajar-mengajar swadaya Cinta Madani Kabupaten Bogor, Ahmad Zayyadi, menuturkan, di Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, misalnya, untuk menuju pusat belajar, siswa harus berjalan sekitar 5 km dengan jalanan berbatu dan menanjak. Bangunan tak permanen itu berada di lereng Gunung Siyeum. Belum dialiri listrik, dan tak ada angkutan umum.

Di daerah tsb ada sekitar 170 anak usia SD hingga 18 tahun. Kebanyakan SD. Pendiri Yayasan Bina Anak Pertiwi itu juga mengatakan, tak ada guru di daerah tsb. Selama ini, ia memanfaatkan tenaga 4 guru yang digaji dari yayasannya. “Sejak tahun 1963, masyarakat di sini mengharapkan sekolah dan memang banyak yang menjanjikan. Tetapi, tidak ada yang terbukti. Jadi, ini memang sebagai komitmen kami untuk dunia pendidikan,” kata Zayyadi.

Menanggapi hal tsb, pengamat pendidikan dari UPI, Said Hamid Hasan, menuturkan, pemerintah seharusnya menggencarkan konsep guru kunjung yang sebenarnya telah digagas sejak lama. Pada intinya, seperti tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20/2003, masyarakat tidak boleh terkendala oleh ekonomi, geografis, sosial, politik, suku, dll, dalam mendapatkan pendidikan. Dengan guru kunjung, para siswa bisa tetap belajar tanpa harus menempuh jarak yang jauh, karena gurulah yang lebih aktif berkunjung ke permukiman anak. Untuk itu, seharusnya pemerintah memperbanyak jumlah guru kunjung dan memberikan fasilitas yang bagus kepada guru kunjung atau guru di daerah terpencil agar mereka mudah menjalankan tugas.”Berilah mereka mobil dan fasilitas lain yang mendukung,”katanya.

Selain itu, pemerintah seharusnya memberi apresiasi yang proporsional pada guru di daerah terpencil dan merotasinya setelah 5 tahun di daerah. Sejauh ini yang terjadi, apresiasi pemerintah masih rendah. Contohnya saat mengambil gaji, tidak mudah, bahkan tunjangan pun masih tersendat-sendat. Tahun 1990-an UPI mengirim 30 guru ke pedalaman Kalimantan Barat. Namun, yang bertahan hanya 3 orang karena lemahnya apresiasi. Padahal di pedalaman juga banyak anak berpotensi. ( PR, 14/12/2009 )

Padi & ikan mati. Andai ada saluran irigasi di kampung kami.

Air adalah sumber kehidupan masyarakat di desa kami karena 80 % masyarakatnya adalah petani. Sumber pencarian mereka hanya dari menanam padi, sayur-sayuran dan beternak ikan. Akan tetapi, bila musim kering, air hampir tidak ada, dan petani banyak yang gulung tikar karena padi dan ikan tak ada air. Jadi, banyak padi dan ikan yang mati. Andai saja ada saluran irigasi, mungkin masyarakat di desa kami dapat terbantu. Kepada instansi yang terkait, tolong dibuatkan saluran irigasi di Kampung Balong, Margaharja, Ciamis. Masyarakat menunggu bantuan pembuatan saluran irigasi. ( Arip Hidayat/ Surat Pembaca PR, 14/12/2009 ).

Sistim ijon : pupuk Rp.130.000/ kuintal dibayar padi Rp.250.000,-/ kuintal. Tengkulak vs petani.

Pemkab Majalengka harus segera menangani persoalan masa tanam yang kini tengah dihadapi para petani di sejumlah sentra produksi padi agar mereka tak terjebak tengkulak2 yang merugikan usaha pertanian dengan sistem ijon. Jika terus dibiarkan, mereka akan semakin miskin, kata Nasir, wakil ketua DPRD Majalengka, didampingi Cecep Jalaludin, Wirman dan Muhamad Sihabudin. Petani tak memiliki dana untuk membeli pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya. Pemerintah harus menyediakan pupuk murah, pinjaman lunak dan mudah, yang bisa dibayar saat panen. Dengan cara demikian, petani takkan meminjam pada tengkulak, melainkan pada lembaga yang disediakan pemerintah.

Pengadaan saprotan ( sarana produksi pertanian ) yang pernah dilakukan pada program Bimas ( Bimbingan Masyarakat ) harusnya bisa dilakukan lagi oleh Pemkab Majalengka, atau mungkin membentuk BUMD ( Badan Usaha Milik Daerah ) yang khusus menangani saprotan, di mana petani bisa membayar pinjaman saat panen. Namun, regulasi di BUMD harus dikaji lebih komprehensif agar tak terjadi tunggakan atau disalahgunakan oleh orang2 yang tak berkepentingan. Program Bimas yang lalu pun sebenarnya dinilai berhasil, jika saja tak disalahgunakan oknum2 yang mengambil keuntungan pribadi.

Memasuki musim tanam saat ini, banyak tengkulak yang mendatangi petani di sentra produksi Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati. Mereka aktif menawarkan pupuk pada petani dengan sistem ijon, yang akan dibayar dengan padi saat panen dengan perbandingan 1 : 1. Harga pupuk menjadi jauh lebih mahal dibanding harga pupuk yang dibeli kontan ( di tingkat pengecer Rp.130.000 – Rp.135.000,- per kuintal, sedang harga padi Rp.220.000,- hingga Rp.250.000,- per kuintal ). Kondisi seperti itu biasa dilakukan para petani tiap tahun pada saat musim tanam, karena menjelang musim tanam para petani sudah tak memiliki stok padi untuk biaya garap dan pembelian pupuk. Akibatnya, banyak petani terlibat dengan tengkulak karena alasan mudah mendapatkan pupuk. Bahkan, kondisinya sudah merambah ke pengecer pupuk dari luar daerah.

“Mereka pikir, daripada petani mengambil pupuk pada orang lain yang tak punya pupuk, lebih baik mereka yang menyediakan pupuk ke petani. Untungnya, jauh lebih besar dibanding sekedar pengecer pupuk,”ujar Sarif, petani asal Jatitujuh. Para tengkulak tak pernah berpikir atas kerugian yang dialami petani saat panen. Mereka tahunya hanya mengambil gabah ke petani saat panen untuk membayar hutang. Tengkulak tak pernah mau tahu atau berpikir, apakah panennya diserang hama atau tidak. Untung atau tidak. Yang penting dapat gabah dari petani sesuai perjanjian. Soal ke depan petani tak punya gabah untuk biaya garap, itu soal lain. Mereka kembali menawarkan pinjaman hutang dengan bunga tinggi, keluhnya. ( PR, 3/12/2009 )

3200 ha sawah : dirusak tikus ( 178 ha ) dari 739 ha lahan diserang hama.

Para petani di 8 desa di Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang berhasil membasmi ribuan tikus pada sejumlah areal sawah. Petani mengaku khawatir gagal tanam mengingat serangan tikus pada musim sebelumnya, yang menyebabkan sekitar 100 hektar sawah gagal tanam. Pemberantasan hama tikus difokuskan di sepanjang tanggul Pertamina yang disinyalir petani sebagai sarang tikus. Mulanya, sarang tikus digali, lalu diasapi menggunakan alat emposan. Nanti, tikus akan keluar sendiri. Kami tinggal menangkapnya, kata Bambang ( 40 ), petani asal Desa Medang Asem, Kecamatan Jayakerta. Banyaknya serangan hama tikus karena masa tanam petani tak serempak. Setelah menyerang satu lahan, tikus berpindah dengan cepat ke lahan lainnya. Kalagumarang ( pemberantasan tikus ) kali ini dilakukan di 8 desa, yaitu ; Medangasem, Kampung Sawah, Ciptamarga, Kemiri, Jayamakmur, Makmurjaya, Jayakerta, dan Kertajaya.

Menurut kepala desa Kemiri, Salwani, kalagumarang dilakukan tiap musim panen tiba. Sehingga saat padi sudah tertanam, petani sedikit lega karena sarang tempat hama tikus sudah dibasmi. Antisipasi dini dapat dilakukan petani dengan cara segera menghancurkan sarang tikus yang ditemukan, karena tikus sulit dibasmi dengan obat. Camat Jayakerta, drs.H. Hamdani mengatakan, tak kurang dari 100 hektar ( ha ) lahan diserang tikus dari 3200 hektar lahan sawah di kecamatannya.

Kepala Bidang Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang, Kadarisman, mencatat, hama padi yang dominan menyerang di antaranya ; hawa wereng ( 312 ha ), penggerek tanaman ( 239 ha ), tikus ( 178 ha ) dan siput ( 10 ha ). Total 739 hektar. ( PR, 3/12/2009 )

4000 anjing liar/ rabies berkeliaran di pedesaan. Racun anjing Rp. 9 juta/ kg.

Bidang peternakan dan Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan melakukan vaksinasi terhadap 1000 anjing peliharaan di 4 lokasi, termasuk mengambil sampel darah sebagai bahan pemeriksaan untuk mengetahui antibodi anjing terhadap rabies. Namun, masih terdapat 4000 anjing liar yang seharusnya sudah dieliminasi ( dibunuh ), tetapi dibiarkan berkeliaran akibat terbatas dan mahalnya harga racun anjing. Kepala Dinas Pertanian, Kuningan, H.Iman Sungkawa, melalui Kabid Peternakan, Tatang Rustandi, usai melakukan vaksinasi ( 2/12/2009 ) menyebutkan, untuk mengantisipasi penularan rabies, sejumlah petugas memvaksin 400 ekor anjing di Kecamatan Kuningan, 150 ekor di Kecamatan Cilimus, 200 ekor di Kec.Ciawigebang dan 250 ekor di Kec.Luragung.

Sejak 5 tahun lalu, Kab.Kuningan sudah dinyatakan bebas rabies, tapi hal itu tak menutup kemungkinan rabies akan muncul lagi, karena belakangan ini ada sekitar 4000 ekor lebih anjing liar yang berkeliaran di pedesaan. Petugas siap bekerja sama dengan aparat desa untuk memberi racun pada anjing liar yang ada di masing2 desa/ kelurahan. Meski demikian, harga Strygnine ( dari Perancis, India ) relatif mahal mencapai Rp. 8 – 9 juta/ kg. Satu kilogram racun itu bisa efektif membunuh 4000 anjing, ukuran besar maupun kecil. ( PR, 3/12/2009 )

Harga kubis Rp.500,- per kg. Biaya produksinya Rp.900,- . Petani butuh pengetahuan pasar.

Para petani sayur mayor di Kecamatan Pangalengan mengeluhkan harga sayur mayur yang belum berpihak kepada mereka. Penjualan sayur hanya cukup menutup biaya produksi. Malah, kadang harus nombok. Menurut tokoh petani Pengalengan, H.Usep, harga sayur saat ini, seperti tomat sekitar Rp.2000,- per kg. Sementara, biaya produksi tomat sekitar Rp.2000,- Pas-pasan. Para petani sekedar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya untuk makan. Harga kubis sekarang rata2 Rp.500,- per kg dan biaya produksi sekitar Rp.900,-. Pengalengan saat ini, sedang tidak musim tanam kentang. Para petani membutuhkan pengetahuan pasar sehingga tidak terjadi tanam serentak yang berdampak pada anjloknya harga sayuran. ( PR, 14/12/2009 )

Bambu + kreativitas = green design, ramah lingkungan, berkelas, bernilai ekonomi tinggi.

Bambu sudah dikenal masyarakat Jawa Barat dengan beragam fungsi pendukung aktivitas sehari-hari. Saat plastik mengganti fungsi bambu, sejumlah daerah masih menjadikan bambu sebagai bahan utama. Bahkan, pamor bambu belakangan ini kembali dilirik. Bambu tak lagi menjadi kerajinan cindera mata atau hiasan, tapi juga peralatan rumah tangga, kesenian, atau alat bantu lainnya.

Dalam pameran hasil karya kompetisi desain “Awi-awi 2009”, bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, potensi bambu tak hanya ditonjolkan sebagai bahan untuk peralatan tradisional, tetapi juga peralatan modern. Misalnya, karya Rizki Zulian N. berjudul “Cigee”, berupa bangku relaksasi yang tak hanya memperlihatkan cita rasa alami, tetapi juga nilai estetika dan ergonomic. Bangku relaksasi bercitrakan daun ini, memberi nilai lebih dari batang bambu. Bambu sebagai tanaman khas tanah Parahyangan mampu memberi identitas pada bangku relaksasi “Cigee” sebagai produk green design.

Karya Muhammad Ihsan berjudul “Bambu Pincuk Set” juga menyedot perhatian pengunjung. Karya kriya berupa alat makan makanan ringan terdiri atas pincukboo dan sendokboo. Gabungan material stainless steel dan bambu. Tak hanya meningkatkan nilai estetika alat makan tsb, namun juga nilai bambu yang identik sebagai produk tradisi berharga murah, menjadi produk berkelas.

Keunikan inovasi produk bambu yang ditampilkan, sejak Jumat ( 11/12/2009 ) kemarin, tak hanya menarik perhatian pengunjung, yang sebagian besar seniman dan mahasiswa seni & desain sejumlah universitas, tapi juga diminati masyarakat umum. Mereka yang berminat banyak yang memesan. Sayangnya, karena masih berupa konsep, permintaan tsb belum bisa dilayani. Melalui kreativitas, nilai estetika bambu tak kalah dengan logam atau plastik. Tanaman bambu masih memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Dan yang terpenting, ramah lingkungan. ( PR, 14/12/2009 )

Rp. 2 milyar/ tahun dari wisata hutan. Warga desa dilibatkan dengan sistem bagi hasil.

Selamat datang di Curug Cilember. Masyarakat sekitar yang dilibatkan, menjadikan obyek wisata aman, bersih, dan terjaga kelestarian.

Di antara sejumlah obyek wisata kehutanan yang tengah dioptimalkan bisnisnya oleh Perum Perhutani Unit III adalah Curug Cilember, Kec.Cisarua, Kab.Bogor. Obyek wisata seluas 5 hektar yang dibuka untuk umum sejak 1993 itu menjadi salah satu primadona eco-tourism dan tujuan wisatawan ke Puncak. Curug yang dikelola Kesatuan Pemangkuan Hutan ( KPH ) Bogor ini, memiliki sejumlah andalan, di antaranya ; 7 air terjun, rumah kupu2 ( ada spesies langka Troides helena dan Papilio meiunon ), obyek perkemahan, tempat menginap, outbond, flying fox dan lokasi wisata lainnya. Lokasi cukup mudah dicapai karena banyak jalur alternatif. Umumnya wisatawan mengambil jalur dari arah Kec.Cisarua. Mereka datang dari Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Sukabumi, Cianjur, Bandung, dan Timur Tengah. Apalagi, kawasan Puncak, Bogor, ada “kampung” Arab.

Masyarakat sekitar melalui Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat ( PHBM ) sudah dilibatkan melalui seleksi ketat KPH Bogor, mempertimbangkan kemauan, kemampuan dan rasa tanggung jawab mereka memelihara lingkungan. Kemajuan paling menyolok setelah masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan adalah faktor keamanan dan kebersihan yang kian meningkat. Mereka ikut menjaga kelestarian lingkungan. Resep yang jitu adalah bermitra dengan ikatan remaja masjid desa setempat. Langkah adaptif yang ditempuh KPH atas kekritisan masyarakat sekitar atas efek sosial budaya, keamanan, kenyamanan, moral, dsb, seiring perkembangan obyek2 wisata.

Besarnya kontrol sosial dari mereka menjadikan Curug Cilember tempat rekreasi yang sehat, terjaga, nyaman untuk rekreasi keluarga, pelajar dan umum, terutama bagi wisata alam dan ilmu pengetahuan. Pengelola bersama masyarakat bersepakat memanfaatkan obyek wisata Cilember untuk berkemah bermalam untuk keluarga. Mereka tak menerima pelajar, mahasiswa, pemuda yang datang berpasangan. Hasilnya, kunjungan wisatawan kian meningkat. Diraih pendapatan lebih Rp.2 milyar dari target Rp.1,8 milyar tahun 2009. Rekornya 4000 pengunjung/ hari pada Lebaran lalu.

Konsep pengembangan wisata kehutanan oleh Perhutani Unit III disusun untuk ramah lingkungan dan menghindari kerusakan hutan. Tak membangun pondok permanen, hanya boleh bangunan kayu atau rumah pohon, serta fasilitas umum seluas maksimal 10 % dari wilayah kehutanan. Sistim pengamanan hutan menjadi salah satu pertimbangan utama pengunjung dan investor. Hampir seluruh kawasan kehutanan Perhutani sudah dilakukan PHBM dengan sistem bagi hasil. Kepala Seksi Keamanan Perum Perhutani Unit III, Amas Wijaya, salah satu dampak positif adalah keamanan hutan setempat meningkat. Logikanya sederhana, karena masyarakat sekitar diperbolehkan ikut terlibat dan menikmati hasil usaha dari kawasan kehutanan, paling tidak, mereka termotivasi ikut menjaga keamanan dan kenyamanan tempat usaha mereka.

Sejumlah pemerhati lingkungan mengatakan, Perhutani harus mengantisipasi resiko tumpukan sampah pengunjung, perubahan struktur tanah, perubahan iklim mikro, gangguan terhadap ekosistem hutan, resiko kebakaran hutan, dll, karena banyaknya manusia yang masuk ke hutan. Potensi resiko itu harus dapat ditelaah Perhutani. Apalagi, salah satu peran, tugas, dan misi penting yang mereka emban adalah melakukan pemulihan dan pelestarian lingkungan. Pengembangan kawasan wisata hutan jangan jadi bumerang. Hutan adalah titipan yang harus dirawat. Bukan warisan yang dieksploitasi. Juga, jangan berubah jadi wisata “ziarah” yang berbau mistik. ( PR, 30/11/2009 )

Curug yang menggoda untuk diceburi. Berdoa dulu, sebelumnya. Ion negatif yang terlepas dari air terjun bisa membuat awet muda. Seperti granit dalam ruang piramid, tempat mummi para raja awet disemayamkan. Anda ingin muda berseri ?

Written by Savitri

17 Desember 2009 at 15:15

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Arsitektur Kampung Naga : sederhana, adat, selaras lingkungan

leave a comment »

Keserasian antara bangunan dan alam di Kampung Naga. Mengundang rasa ingin tahu pengunjung.

Kampung Naga, salah satu permukiman tradisional rakyat Parahyangan. Berarsitektur adaptif, menyelarasi lingkungannya. Terletak di lembah subur, di kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dusun ini dibatasi hutan, sawah, dan aliran sungai Ciwulan. Di capai setelah menuruni 300 anak tangga yang berkelok menuju lembah. Kampung Naga yang sekarang adalah permukiman baru yang dibangun, setelah kampung lama dibumihanguskan oleh gerombolan DI/TII Kartosuwiryo tahun 1956.

Benda sakral, senjata adat, buku sejarah Naga, semuanya berbahasa Sansekerta. Akibatnya, penduduk tak tahu lagi asal usul nenek moyang mereka menamai desa mereka Kampung Naga. Namun demikian, mereka tetap kuat memegang dan memelihara tradisi adat Naga. Saat kampung dibangun kembali, desain rumah sedikit berubah ; jendela ditambah pada setiap hunian. Dusun ini prototipe kampung Sunda dengan pola perkampungan khas masyarakat yang sudah maju.

Kuncen = kepala adat. Manusia pusat dunia tengah ?

Rumah dan bangunan di Kampung Naga berjumlah 105 buah, tertata rapi dalam pola mengelompok dan tanah lapang di tengah. Tanah lapang merupakan pusat aktivitas sosial dan ritual masyarakat, sekaligus tempat orientasi. Di sekitarnya ada masjid, balai pertemuan dan beberapa rumah penduduk. Di tempat yang lebih tinggi, sebelah barat kampung, terdapat Bumi Ageung dan rumah kuncen ( kepala adat ). Semua bangunan diletakkan memanjang ke arah barat timur, sehingga kampung seakan terlihat menghadap ke sungai Ciwulan yang berfungsi sebagai area servis penduduk. Dekat sungai, dalam kampung, terdapat kolam2 ( balong ) dan beberapa pancuran air.

Hunian masyarakat Naga berbentuk rumah panggung dengan kolong setinggi 40-60 cm dari tanah. Selain untuk pengatur suhu dan kelembaban, kolong difungsikan sebagai tempat penyimpanan alat pertanian, kayu bakar serta kandang ternak. Rumah2 persegi panjang ini ditata secara teratur di atas tanah berkontur berbentuk teras2 yang diperkuat dengan sengked/ turap batu. Bentuk rumah panggung terkait kepercayaan warga Naga bahwa dunia terbagi menjadi dunia bawah, tengah dan atas. Dunia tengah melambangkan pusat alam semesta dengan manusia sebagai pusatnya. Tempat tinggal manusia di tengah, dengan tiang sebagai penopang yang tak boleh menyentuh tanah, sehingga diletakkan di atas tatapakan/ umpak batu.

Ukuran rumah tergantung besar kecilnya keluarga dan kemampuan penghuni. Jika perlu tambahan ruang, dibuatlah sosompang di bagian kiri atau kanan rumah. Memberi warna pada rumah adalah tabu, kecuali dikapur atau dimeni. Pintu harus menghadap utara atau selatan, semua pada satu sisi rumah, sesuai ketentuan adat.

Menghindari petaka dengan cagak gunting ?

Masjid di Kampung Naga. Di atas umpak batu, dari bahan kayu, bentuk simetris, tahan gempa. Kearifan leluhur. Inspiring, isn't it ?

Jenis konstruksi dan atap yang digunakan sangat genial dalam memecahkan masalah iklim setempat. Struktur tiang dan umpak membuat bangunan adaptif terhadap gempa dan kontur tanah. Umpak juga mencegah tiang kayu lapuk terkena kelembaban tanah dan serangan serangga tanah.

Ventilasi diatur agar rumah tetap kering dan sejuk, mengimbangi kondisi iklim tropis. Bentuk atap pelana rumah adat Kampung Naga disebut suhunan panjang atau suhunan julang ngapak ( bila sisi rumah ditambah sosompang ) dan terbuat dari ijuk. Selain kedap air, atap juga menjaga kehangatan rumah saat malam, karena teritis antar rumah yang nyaris bersentuhan itu membentuk lorong yang mengurangi masuknya angin. Berdasar kepercayaan bahwa manusia tak boleh menentang kodrat alam, maka pada ujung timur dan barat atap, sesuai arah edar matahari, diletakkan dekorasi cagak gunting atau capit hurang untuk menghindari mala petaka.

Dinding anyaman bambu, menyekat muka tengah belakang rumah.

Dinding rumah terbuat dari bambu yang dianyam ( bilik ). Jenis anyaman sasag paling banyak digunakan karena kuat dan tahan lama. Anyaman bercelah tsb, terutama dipakai untuk dinding dan pintu dapur, sesuai ketentuan adat. Untuk keperluan bahan baku bilik, penduduk yang hampir seluruhnya perajin bambu, menanam bambu di sekitar kampung dan hutan.

Pada dasarnya rumah di Kampung Naga terdiri 3 bagian ; muka ( hareup ), tengah ( tengah imah ) dan belakang. Bagian depan berupa teras/ emper, tempat menerima tamu yang dicapai dengan menaiki gelodog ( tangga ). Bagian tengah adalah ruangan besar tempat keluarga serta tamu berkumpul ketika acara selamatan. Di sebelahnya, pangkeng/ enggon ( kamar tidur ), yang kadang hanya berupa area kosong, tanpa penyekat atau pintu, di sudut ruang tengah. Dapur dan padaringan/ goah ( tempat penyimpanan beras ) terletak di bagian belakang, tempat yang diperuntukkan khusus untuk kegiatan kaum perempuan.

Arsitektur tradisional Kampung Naga, walau dibuat dengan pengetahuan teknis sederhana yang banyak terkait dengan kepercayaan, ternyata secara logis, efektif mencapai keselarasan dengan lingkungan yang telah lama dipelihara dan dilestarikannya. ( Supie Yolodi, Andre Kusprianto ).

Written by Savitri

17 Desember 2009 at 14:22

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.