Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Desa : definisi, asal mula, bentuk, pola, ciri & romantikanya

with 3 comments

Pengantar A.Savitri :

Bulir padi yang siap dipanen. Jika saja anda tahu, perjuangan orang desa memberi makan orang kota. Anda akan respek dengan para petani & memikirkan nasib memprihatinkan sebagian mereka.

Butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak, kata penonton “Golden Ways”- Mario Teguh, Minggu petang ( 13/12/2006 ). Butuh orang sedusun untuk mendandani cover girl, kata Oprah sebelum difoto untuk cover majalahnya. Butuh orang sedesa untuk menyiapkan makanan sepiring, kata suhu seorang calon kaisar. Orang desa banyak disebut ketika kita membicarakan sebuah pencapaian mulia. Namun, mereka lebih banyak dilupakan jika karya itu menjadi rutin dinikmati. Seperti sayur asem lezat yang pertama kali disantap. Santapan berikutnya, perhatian kita sudah teralih ke hal lainnya. Ritme hidup masa ini begitu cepat, ya. Belum tuntas satu kegiatan, pikiran kita sudah melesat ke kegiatan berikutnya. Di Amerika, seorang ibu mendapati balitanya tewas terpanggang di jok belakang mobilnya. Kulitnya melepuh, mengelupas karena diterpa terik matahari seharian dalam mobil tertutup rapat. Mengenaskan. Rupanya, si ibu tergesa-gesa ingin menghadiri rapat di kantornya. Setelah sore, ia baru sadar kalau ia ke kantor bersama putri bungsunya.

Di keluarga lain, seorang lelaki men-chas aki mobilnya yang mogok dengan aki mobil istrinya. Mesin hidup, ia langsung ngebut. Kuatir telat masuk kantor. Ia tak menoleh lagi. Sepulang kantor sore hari, ia mendapati istri, kedua anak, bahkan anjing peliharaannya terkapar tewas. Si pria rupanya lupa mematikan mesin mobil istrinya ketika berangkat tadi. Akibatnya, semua orang2 kesayangannya, mati lemas menghirup gas monoksida. Kelalaian kecil terseret ritme modernisasi, berakhir petaka. Penyesalan hidup yang tak berujung. Slow down, people ..

Saya senang melihat anak2 diajak orang tuanya kembali ke alam. Belajar bercocok tanam, memanen, menumbuk padi, menanak nasi. Saya teringat Jet Lee di film “Fighter” menjinakkan ego dan kebrutalannya dengan belajar bercocok tanam pada seorang gadis buta di desa. Mengikuti perjalanan sebutir beras hingga terhidang di piring makan. Sungguh melatih kesabaran. Terpikir, betapa banyak peluh mengucur demi persembahan desa untuk negeri ini. Namun, berapa banyak perhatian negara/ kita pada kaum petani, nelayan, orang desa ? Kaum termariginalkan. Terpinggirkan.

Posting kali ini, saya menyoroti mereka. Ada apa dengan desa ? Mengapa mereka berbondong-bondong meninggalkan desa untuk mengadu untung di kota ? Sebagian yang tak beruntung, berserakan di sudut gelap, keremangan malam dan taman kota, sebagai gepeng ( gelandang pengemis ) atau PSK ( pekerja seks komersial ). Di perempatan jalan, menadahkan tangan demi satu dua receh, penyambung hidup. Sebagian lain menyatroni rumah2 kosong, menguras isinya. Jadi maling. Lainnya, terjerat pusaran trafficking ( perdagangan manusia lintas negara ). Meski kepedihan yang didapat, asa mereka tak surut untuk terus membanjiri kota. Urbanisasi, terutama musim pulang mudik, jadwal paling afdol. Seorang migran selesai berlebaran di kampung kembali ke kota bersama adik, tetangga dan teman sekampung. Begitu menarikkah kota ? Begitu sedihkah hidup di desa ? Something wrong here ?

Mari kita belajar ke desa. Untuk berlatih sabar, tenang, menghargai menit demi menit kehidupan dengan kesadaran penuh. Be present. Demi keselamatan diri, dan orang2 yang kita cintai. Demi orang desa yang sudah memberi makan orang kota. Demi Indonesia.

Desa : definisi, asal mula, bentuk, pola & cirinya

Desa dalam pengertian umum adalah permukiman manusia di luar kota yang penduduknya berjiwa agraris. Dalam keseharian disebut kampung, sehingga ada istilah pulang ke kampung atau kampung halaman. Desa adalah bentuk kesatuan administratif yang disebut kelurahan. Lurahnya kepala desa. Dalam lingkup kota yang dipenuhi pertokoan, pasar dan deretan kios, juga ada desa, seperti desa Kalicacing di kota Salatiga. Desa di luar kota dengan lingkungan fisisbiotisnya, adalah gabungan dukuh. Dukuh mewujudkan unit geografis yang tersebar seperti pulau di tengah persawahan atau hutan.Dukuh di Jawa Barat disebut kampung. Gampong di Aceh, huta di Tapanuli, nagari di Sumatera Barat, marga di Sumatera Selatan, wanus di Sulawesi Utara, dan dusun dati di Maluku. Desa menurut definisi Bintarto, adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur2 geografis, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang ada di sana dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan daerah2 lain.

Desa, dalam definisi lainnya, adalah suatu tempat/ daerah di mana penduduk berkumpul dan hidup bersama, menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan dan mengembangkan kehidupan mereka. Desa adalah pola permukiman yang bersifat dinamis, di mana para penghuninya senantiasa melakukan adaptasi spasial dan ekologis sederap kegiatannya berpangupajiwa agraris. Desa dalam arti administratif, menurut Sutardjo Kartohadikusumo, adalah suatu kesatuan hukum di mana sekelompok masyarakat bertempat tinggal dan mengadakan pemerintahan sendiri.

Asal mula terbentuknya desa

Desa di Jawa, mulanya dihuni orang seketurunan. Mereka memiliki nenek moyang sama, yaitu para cikal bakal pendiri permukiman tsb. Jika desa sudah penuh, masalah2 ekonomi bermunculan. Beberapa keluarga keluarga keluar, mendirikan permukiman baru dengan cara membuka hutan. Tindakan ini disebut tetruka. Di Tapanuli, pembukaan desa baru, menurut Marbun, sebagian karena kelompok baru ingin mencapai hak dan kewajiban sebagai raja adat, atau tanah desa tak memadai lagi untuk menghidupi penghuninya. Desa sebagai kesatuan masyarakat memiliki 3 hal ;

  • Daerah/ rangkah/ wilayah, yaitu tanah2 pekarangan dan pertanian beserta penggunaannya, termasuk aspek lokasi, luas, batas, yang merupakan lingkungan geografis setempat.
  • Penduduk/ darah/ keturunan, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, penyebaran dan matapencarian.
  • Adat/ warah/ ajaran, yaitu ajaran tentang tata hidup, tata pergaulan, dan ikatan2 sebagai warga desa. Tata kehidupan ini terkait usaha penduduk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraannya.

Desa memiliki seting geografis dan sumber daya manusia yang berbeda-beda. Ada desa yang dikarunia alam yang kaya, namun semangat membangun, ketrampilan dan pengetahuan masyarakat serba kurang, sehingga tidak maju. Ada pula desa yang sumber alamnya terbatas, tetapi ekonominya maju, berkat kemampuan penduduknya mengatasi berbagai hambatan alam. Sehubungan dengan ini, ada 4 unsur geografis yang turut menentukan persebaran desa, yaitu : lokasi, iklim, tanah dan air.

  • Lokasi, menyangkut letak fisiografis, misalnya ; jauh dekatnya dengan jalan raya, sungai, rawa, pegunungan, pantai, kota, dsb, yang mempengaruhi ekonomi desa, kemajuan budaya, pendidikan. Contohnya, persebaran desa2 di wilayah kecamatan Batu, Malang. Desa2 ini menempati wilayah vulkanis yang tersebar di sekitar puncak2 gunung. Batas alam hampir berhimpit dengan batas administrasi. Kondisi fisiografis ( topografi, iklim, vegetasi ) cocok untuk agrowisata. Sungai Brantas di hulu memiliki banyak cabang sehingga baik untuk pertanian sayur, bunga dan budi daya pekarangan.
  • Iklim desa ( tipe iklim ), tergantung letak topografi desa dari atas permukaan air laut ( dpl ). Kaliurang ) 1000 m dpl ) dan Kopeng ( 1350 m dpl ) menjadi kota peristirahatan, lengkap dengan fasilitas rekreasi, perhotelan, perwarungan, perdagangan sayur dan bunga-bungaan. Di ketinggian tsb, tak ada sawah atau pun pohon kelapa yang tumbuh.
  • Tanah, misalnya tanah berkapur, berpasir, berlempung, bertanah liat, dsb, mempengaruhi keberhasilan pertanian. Tebu, tembakau, karet, coklat, teh, kopi, dsb, dibudidayakan menjadi perkebunan dengan modal teknologi dan perencanaan yang tepat.

Desa swasembada & desa mengkota

Suasana pedesaan yang menyejukkan. Membuat ingin kembali, menyandarkan diri dari letih dan gemerlapnya kota. Queit place. Peacefull, man ..

Dalam telaah geografi desa, dibahas letak desa terhadap kota atau desa lain. Makin terpencil letaknya dari jangkauan kota, makin terkebelakang desa itu. Di situlah pentingnya sarana transportasi dan faktor2 pendorong kemajuan ekonomi maupun pendidikan pedesaan. Desa yang dapat dikembangkan harus ditelaah unsur-unsurnya ; tanah, sumber air, warga desa, tata kehidupan desa, tanaman dan hewan.

Persebaran desa, menggerombol atau menjauhnya desa, dilatari iklim di ketinggian tempat tsb. Sumber air menentukan kelangsungan irigasi, perikanan, peternakan, dsb. Tanah karst yang kurang air, penduduknya akan menderita. Masyarakat desa berhubungan erat dengan alam. Terutama iklim dengan permusimannya, yang seakan mengatur kegiatan manusia untuk bertani. Misalnya, padi jenis C4 yang dalam setahun dapat dipanen 4 kali, karena masa tanam dan tuainya sekitar 90-100 hari.

Penduduk desa merupakan satu unit sosial dan unit kerja. Jumlah mereka relatif tak besar, umumnya agraris. Karena pengaruh kota atau pendidikan formal, desa mulai mengkota, memperlihatkan ciri2 kekotaan, baik secara fisik, ekonomi maupun budaya. Meski perubahan itu lambat, karena masyarakat paguyuban ini, kontrol sosialnya ditentukan oleh adapt, moral dan hukum informal. Makin lancar hubungan desa dengan kota, makin terbuka alam pikiran penduduk desa. Ekonomi dan pendidikan makin maju. Bagi kota, desa berfungsi sebagai penyuplai material dan tenaga kerja, meski tak terlatih. Dalam perkembangan selanjutnya, desa2 yang berhasil pembangunannya, diharapkan menjadi desa swasembada.

Ciri wilayah desa, bentuk & polanya

Menurut dirjen Bangdes, ciri2 wilayah desa antara lain ;

  • Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar ( lahan desa lebih luas dari jumlah penduduknya, kepadatan rendah ).
  • Lapangan kerja yang dominan adalah agraris ( pertanian )
  • Hubungan antar warga amat akrab
  • Tradisi lama masih berlaku.

Ada beragam bentuk desa yang secara sederhana dikemukakan sbb ;

  • Bentuk desa menyusur sepanjang pantai ( desa pantai ).
  • Di daerah pantai yang landai dapat tumbuh permukiman yang bermatapencarian di bidang perikanan, perkebunan kelapa dan perdagangan. Perluasan desa pantai itu dengan cara menyambung sepanjang pesisir, sampai bertemu dengan desa pantai lainnya. Pusat2 kegiatan industri kecil ( perikanan, pertanian ) tetap dipertahankan di dekat tempat tinggal semula.
  • Bentuk desa yang terpusat ( desa pegunungan ).
  • Terdapat di daerah pegunungan. Pemusatan tsb didorong kegotongroyongan penduduknya. Pertambahan penduduk memekarkan desa pegunungan itu ke segala arah, tanpa rencana. Pusat2 kegiatan penduduk bergeser mengikuti pemekaran desa.
  • Bentuk desa linier di dataran rendah.
  • Permukiman penduduk di sini umumnya memanjang sejajar dengan jalan raya yang menembus desa tsb. Jika desa mekar secara alami, tanah pertanian di luar desa sepanjang jalan raya menjadi permukiman baru. Ada kalanya pemekaran ke arah dalam ( di belakang perrmukiman lama ). Lalu dibuat jalan raya mengelilingi desa ( ring road ) agar permukiman baru tak terpencil.
  • Bentuk desa mengelilingi fasilitas tertentu.
  • Fasilitas yang dimaksud, misalnya, mata air, waduk, lapangan terbang, dll. Arah pemekaran ke segala arah, sedangkan fasilitas industri kecil tersebar di mana pun sesuai kebutuhan.

Bentuk2 desa tsa bertalian erat dengan usaha pengembangan dan penggalian sumber dayanya secara optimal. Dengan cara bijaksana, perkembangan permukiman harus direncanakan secara khusus, sehingga terjamin wajah permukiman yang baik dan menguntungkan. Di samping bentuk desa, Bintarto menyatakan ada 6 pola desa ; memanjang jalan, memanjang sungai, radial, tersebar, memanjang pantai, memanjang pantai dan sejajar jalan kereta api. Daerah Bantul, Yogyakarta merupakan line village ( pola desa memanjang jalan ). Permukiman di sekitar Gunung Slamet dan sungai di lerengnya membentuk desa berpola radial. Pola desa di daerah karst Gunung Kidul, Yogyakarta adalah tersebar. Permukiman di daerah Rengasdengklok, Jawa Barat dan Tegal membentuk desa berpola memanjang ( desa nelayan ) dan sejajar rel kereta api.

Pola2 desa, dari bujur sangkar sampai bulat telur.

Di Pakistan, geograf Misra merincinya lebih lengkap lagi menjadi 14 pola desa, yaitu :

  • Segi empat memanjang ( rectangular ) ; tipe paling umum karena bentuk lahan pertaniannya. Kekompakan desa membutuhkan letak rumah yang saling berdekatan, karena tak ada tembok keliling yang mengamankannya. Pola segi 4 cocok bagi permukiman berkelompok.
  • Bujur sangkar ( square & 4 square ) ; tipe ini muncul di persilangan jalan, juga di permukiman bentuk segi 4 panjang yang terbagi 4 kelompok.
  • Desa memanjang ( elongated ) ; kondisi alam dan budaya setempat telah membatasi pemekaran desa ke arah2 tertentu sehingga terpaksa memanjangkan diri.
  • Desa melingkar ( circular ) ; bentuk ini diwarisi ketika tanah masih kosong. Desa dibangun di atas urugan tanah, sehingga dari luar nampak seperti benteng dengan lubang untuk keluar masuk.
  • Tipe beruji ( radial plan ) ; jika pusat desa berpengaruh besar atas perumahan penduduk, maka tercapai bentuk beruji. Pengaruh tsb berasal dari istana bangsawan, rumah ibadah atau pasar.
  • Desa poligonal ; karena desa tak pernah dibangun menurut rencana tertentu, maka nampak bentuk2 luar yang beragam. Bentuk ini antara melingkar dan segi empat panjang.
  • Pola tapal kuda ( horse shoe ) ; dihasilkan oleh sebuah gundukan, bukit atau lembah, sehingga pola desa menjadi setengah melingkar.
  • Tak teratur ( irregular ) : desa yang masing2 rumahnya tak karuan alang ujurnya.
  • Inti rangkap ( double nucleus ) ; desa kembar hasil pertemuan 2 permukiman yang saling mendekat, misalnya akibat lokasi stasiun kereta api di antara keduanya.
  • Pola kipas ; tumbuh dari pusat yang letaknya di salah satu ujung permukiman, dari situ jalan raya menuju ke segala arah.
  • Desa pinggir jalan raya ( street ) ; desa ini memanjang sepanjang jalan raya, pasar berada di tengah, jalan kereta api menyusuri jalan raya tsb.
  • Desa bulat telur ( oval ) ; sengaja dibuat menurut rencana demikian.

Warga Salamungkal swasembada, dari air sampai bahan pangan.

Terletak di ketinggian 800 meter dpl, berpenduduk lebih 1.264 jiwa, terbagi atas 150 kepala keluarga. Dukuh tsb laksana pulau terapung di tengah lautan persawahan nan hijau. Di dalamnya terdapat rumah2 penduduk tersebar di pekarangan masing2. Setiap pekarangan dihiasi beraneka jenis pohon buah, kolam ikan dan kandang kambing. Di sisi selatan dan barat dukuh, nampak jalan desa menyusurinya. Air sawah dialirkan dari lereng2 bukit di luar desa. Untuk membersihkan bahan pangan dan mencuci pakaian, dipakai air yang mengalir dari kolam2 ikan, yang asalnya dari sawah. Kebiasaan yang menyebabkan banyak anak berpenyakit cacingan. Dalam pekarangan, penduduk menanam pisang, ketela, sayuran, kelapa, bambu, dll. Di bawahnya ditanami aneka tumbuhan untuk bumbu masakan ( dapur hidup ) dan obat sehari-hari ( apotek hidup ).

Transmigran Sitiung, dapat tanah 2,25 hektar untuk mulai hidup baru.

Sekelompok rumah yang membentuk dukuh, atau desa. Umumnya berasal dari satu keturunan. Memegang adat sebagai norma yang mengatur perilaku anggotanya, dan berpencarian sebagai petani ( agraris ).

Ketika waduk Gajah Mungkur, Surakarta mulai dibangun, penduduk diungsikan secara bedol desa ke Sitiung, Sumatera Barat. Proyek transmigrasi di pinggir Trans Sumatera Highway ini berada di areal persawahan baru seluas 27.000 hektar, menggantikan 40.000 hektar dukuh2, tegalan dan persawahan para transmigran yang digenangi air waduk. Mereka terdiri 67.517 kepala keluarga ( kk ). Tiap2 angkatan yang terdiri sekitar 500 kk, secara bertahap berhasil dimukimkan kembali. Tiap kk disediakan 1,25 ha sawah, 0,75 tegalan dan 0,25 ha pekarangan di sekitar rumah tinggal. Letaknya, tidak di hutan liar, namun diapit permukiman penduduk asli yang telah lama ada.

Letak proyek transmigrasi di dekat pertemuan 2 batang sungai sehingga irigasinya lancar. Persebaran pedukuhan di tengah lautan persawahan. Berada di antara kota Sitiung dan Kotabaru menguntungkan perkembangan lanjut kawasan transmigrasi tsb. Di buatkan pula, jalan2 terobosan baru untuk keperluan transportasi dan komunikasi. ( drs.N.Daldjoeni ).

Sekolah di daerah terpencil : jarang angkot, tanpa listrik & langka guru

Didirikannya sekolah di daerah terpencil cenderung belum dibarengi dengan akses transportasi yang memudahkan siswa menuju ke sekolah. Akibatnya, penyerapan pelajaran kurang optimal dan libur sering diberlakukan saat cuaca tak mendukung. Pendiri pusat belajar-mengajar swadaya Cinta Madani Kabupaten Bogor, Ahmad Zayyadi, menuturkan, di Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, misalnya, untuk menuju pusat belajar, siswa harus berjalan sekitar 5 km dengan jalanan berbatu dan menanjak. Bangunan tak permanen itu berada di lereng Gunung Siyeum. Belum dialiri listrik, dan tak ada angkutan umum.

Di daerah tsb ada sekitar 170 anak usia SD hingga 18 tahun. Kebanyakan SD. Pendiri Yayasan Bina Anak Pertiwi itu juga mengatakan, tak ada guru di daerah tsb. Selama ini, ia memanfaatkan tenaga 4 guru yang digaji dari yayasannya. “Sejak tahun 1963, masyarakat di sini mengharapkan sekolah dan memang banyak yang menjanjikan. Tetapi, tidak ada yang terbukti. Jadi, ini memang sebagai komitmen kami untuk dunia pendidikan,” kata Zayyadi.

Menanggapi hal tsb, pengamat pendidikan dari UPI, Said Hamid Hasan, menuturkan, pemerintah seharusnya menggencarkan konsep guru kunjung yang sebenarnya telah digagas sejak lama. Pada intinya, seperti tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20/2003, masyarakat tidak boleh terkendala oleh ekonomi, geografis, sosial, politik, suku, dll, dalam mendapatkan pendidikan. Dengan guru kunjung, para siswa bisa tetap belajar tanpa harus menempuh jarak yang jauh, karena gurulah yang lebih aktif berkunjung ke permukiman anak. Untuk itu, seharusnya pemerintah memperbanyak jumlah guru kunjung dan memberikan fasilitas yang bagus kepada guru kunjung atau guru di daerah terpencil agar mereka mudah menjalankan tugas.”Berilah mereka mobil dan fasilitas lain yang mendukung,”katanya.

Selain itu, pemerintah seharusnya memberi apresiasi yang proporsional pada guru di daerah terpencil dan merotasinya setelah 5 tahun di daerah. Sejauh ini yang terjadi, apresiasi pemerintah masih rendah. Contohnya saat mengambil gaji, tidak mudah, bahkan tunjangan pun masih tersendat-sendat. Tahun 1990-an UPI mengirim 30 guru ke pedalaman Kalimantan Barat. Namun, yang bertahan hanya 3 orang karena lemahnya apresiasi. Padahal di pedalaman juga banyak anak berpotensi. ( PR, 14/12/2009 )

Padi & ikan mati. Andai ada saluran irigasi di kampung kami.

Air adalah sumber kehidupan masyarakat di desa kami karena 80 % masyarakatnya adalah petani. Sumber pencarian mereka hanya dari menanam padi, sayur-sayuran dan beternak ikan. Akan tetapi, bila musim kering, air hampir tidak ada, dan petani banyak yang gulung tikar karena padi dan ikan tak ada air. Jadi, banyak padi dan ikan yang mati. Andai saja ada saluran irigasi, mungkin masyarakat di desa kami dapat terbantu. Kepada instansi yang terkait, tolong dibuatkan saluran irigasi di Kampung Balong, Margaharja, Ciamis. Masyarakat menunggu bantuan pembuatan saluran irigasi. ( Arip Hidayat/ Surat Pembaca PR, 14/12/2009 ).

Sistim ijon : pupuk Rp.130.000/ kuintal dibayar padi Rp.250.000,-/ kuintal. Tengkulak vs petani.

Pemkab Majalengka harus segera menangani persoalan masa tanam yang kini tengah dihadapi para petani di sejumlah sentra produksi padi agar mereka tak terjebak tengkulak2 yang merugikan usaha pertanian dengan sistem ijon. Jika terus dibiarkan, mereka akan semakin miskin, kata Nasir, wakil ketua DPRD Majalengka, didampingi Cecep Jalaludin, Wirman dan Muhamad Sihabudin. Petani tak memiliki dana untuk membeli pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya. Pemerintah harus menyediakan pupuk murah, pinjaman lunak dan mudah, yang bisa dibayar saat panen. Dengan cara demikian, petani takkan meminjam pada tengkulak, melainkan pada lembaga yang disediakan pemerintah.

Pengadaan saprotan ( sarana produksi pertanian ) yang pernah dilakukan pada program Bimas ( Bimbingan Masyarakat ) harusnya bisa dilakukan lagi oleh Pemkab Majalengka, atau mungkin membentuk BUMD ( Badan Usaha Milik Daerah ) yang khusus menangani saprotan, di mana petani bisa membayar pinjaman saat panen. Namun, regulasi di BUMD harus dikaji lebih komprehensif agar tak terjadi tunggakan atau disalahgunakan oleh orang2 yang tak berkepentingan. Program Bimas yang lalu pun sebenarnya dinilai berhasil, jika saja tak disalahgunakan oknum2 yang mengambil keuntungan pribadi.

Memasuki musim tanam saat ini, banyak tengkulak yang mendatangi petani di sentra produksi Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati. Mereka aktif menawarkan pupuk pada petani dengan sistem ijon, yang akan dibayar dengan padi saat panen dengan perbandingan 1 : 1. Harga pupuk menjadi jauh lebih mahal dibanding harga pupuk yang dibeli kontan ( di tingkat pengecer Rp.130.000 – Rp.135.000,- per kuintal, sedang harga padi Rp.220.000,- hingga Rp.250.000,- per kuintal ). Kondisi seperti itu biasa dilakukan para petani tiap tahun pada saat musim tanam, karena menjelang musim tanam para petani sudah tak memiliki stok padi untuk biaya garap dan pembelian pupuk. Akibatnya, banyak petani terlibat dengan tengkulak karena alasan mudah mendapatkan pupuk. Bahkan, kondisinya sudah merambah ke pengecer pupuk dari luar daerah.

“Mereka pikir, daripada petani mengambil pupuk pada orang lain yang tak punya pupuk, lebih baik mereka yang menyediakan pupuk ke petani. Untungnya, jauh lebih besar dibanding sekedar pengecer pupuk,”ujar Sarif, petani asal Jatitujuh. Para tengkulak tak pernah berpikir atas kerugian yang dialami petani saat panen. Mereka tahunya hanya mengambil gabah ke petani saat panen untuk membayar hutang. Tengkulak tak pernah mau tahu atau berpikir, apakah panennya diserang hama atau tidak. Untung atau tidak. Yang penting dapat gabah dari petani sesuai perjanjian. Soal ke depan petani tak punya gabah untuk biaya garap, itu soal lain. Mereka kembali menawarkan pinjaman hutang dengan bunga tinggi, keluhnya. ( PR, 3/12/2009 )

3200 ha sawah : dirusak tikus ( 178 ha ) dari 739 ha lahan diserang hama.

Para petani di 8 desa di Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang berhasil membasmi ribuan tikus pada sejumlah areal sawah. Petani mengaku khawatir gagal tanam mengingat serangan tikus pada musim sebelumnya, yang menyebabkan sekitar 100 hektar sawah gagal tanam. Pemberantasan hama tikus difokuskan di sepanjang tanggul Pertamina yang disinyalir petani sebagai sarang tikus. Mulanya, sarang tikus digali, lalu diasapi menggunakan alat emposan. Nanti, tikus akan keluar sendiri. Kami tinggal menangkapnya, kata Bambang ( 40 ), petani asal Desa Medang Asem, Kecamatan Jayakerta. Banyaknya serangan hama tikus karena masa tanam petani tak serempak. Setelah menyerang satu lahan, tikus berpindah dengan cepat ke lahan lainnya. Kalagumarang ( pemberantasan tikus ) kali ini dilakukan di 8 desa, yaitu ; Medangasem, Kampung Sawah, Ciptamarga, Kemiri, Jayamakmur, Makmurjaya, Jayakerta, dan Kertajaya.

Menurut kepala desa Kemiri, Salwani, kalagumarang dilakukan tiap musim panen tiba. Sehingga saat padi sudah tertanam, petani sedikit lega karena sarang tempat hama tikus sudah dibasmi. Antisipasi dini dapat dilakukan petani dengan cara segera menghancurkan sarang tikus yang ditemukan, karena tikus sulit dibasmi dengan obat. Camat Jayakerta, drs.H. Hamdani mengatakan, tak kurang dari 100 hektar ( ha ) lahan diserang tikus dari 3200 hektar lahan sawah di kecamatannya.

Kepala Bidang Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang, Kadarisman, mencatat, hama padi yang dominan menyerang di antaranya ; hawa wereng ( 312 ha ), penggerek tanaman ( 239 ha ), tikus ( 178 ha ) dan siput ( 10 ha ). Total 739 hektar. ( PR, 3/12/2009 )

4000 anjing liar/ rabies berkeliaran di pedesaan. Racun anjing Rp. 9 juta/ kg.

Bidang peternakan dan Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan melakukan vaksinasi terhadap 1000 anjing peliharaan di 4 lokasi, termasuk mengambil sampel darah sebagai bahan pemeriksaan untuk mengetahui antibodi anjing terhadap rabies. Namun, masih terdapat 4000 anjing liar yang seharusnya sudah dieliminasi ( dibunuh ), tetapi dibiarkan berkeliaran akibat terbatas dan mahalnya harga racun anjing. Kepala Dinas Pertanian, Kuningan, H.Iman Sungkawa, melalui Kabid Peternakan, Tatang Rustandi, usai melakukan vaksinasi ( 2/12/2009 ) menyebutkan, untuk mengantisipasi penularan rabies, sejumlah petugas memvaksin 400 ekor anjing di Kecamatan Kuningan, 150 ekor di Kecamatan Cilimus, 200 ekor di Kec.Ciawigebang dan 250 ekor di Kec.Luragung.

Sejak 5 tahun lalu, Kab.Kuningan sudah dinyatakan bebas rabies, tapi hal itu tak menutup kemungkinan rabies akan muncul lagi, karena belakangan ini ada sekitar 4000 ekor lebih anjing liar yang berkeliaran di pedesaan. Petugas siap bekerja sama dengan aparat desa untuk memberi racun pada anjing liar yang ada di masing2 desa/ kelurahan. Meski demikian, harga Strygnine ( dari Perancis, India ) relatif mahal mencapai Rp. 8 – 9 juta/ kg. Satu kilogram racun itu bisa efektif membunuh 4000 anjing, ukuran besar maupun kecil. ( PR, 3/12/2009 )

Harga kubis Rp.500,- per kg. Biaya produksinya Rp.900,- . Petani butuh pengetahuan pasar.

Para petani sayur mayor di Kecamatan Pangalengan mengeluhkan harga sayur mayur yang belum berpihak kepada mereka. Penjualan sayur hanya cukup menutup biaya produksi. Malah, kadang harus nombok. Menurut tokoh petani Pengalengan, H.Usep, harga sayur saat ini, seperti tomat sekitar Rp.2000,- per kg. Sementara, biaya produksi tomat sekitar Rp.2000,- Pas-pasan. Para petani sekedar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya untuk makan. Harga kubis sekarang rata2 Rp.500,- per kg dan biaya produksi sekitar Rp.900,-. Pengalengan saat ini, sedang tidak musim tanam kentang. Para petani membutuhkan pengetahuan pasar sehingga tidak terjadi tanam serentak yang berdampak pada anjloknya harga sayuran. ( PR, 14/12/2009 )

Bambu + kreativitas = green design, ramah lingkungan, berkelas, bernilai ekonomi tinggi.

Bambu sudah dikenal masyarakat Jawa Barat dengan beragam fungsi pendukung aktivitas sehari-hari. Saat plastik mengganti fungsi bambu, sejumlah daerah masih menjadikan bambu sebagai bahan utama. Bahkan, pamor bambu belakangan ini kembali dilirik. Bambu tak lagi menjadi kerajinan cindera mata atau hiasan, tapi juga peralatan rumah tangga, kesenian, atau alat bantu lainnya.

Dalam pameran hasil karya kompetisi desain “Awi-awi 2009”, bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, potensi bambu tak hanya ditonjolkan sebagai bahan untuk peralatan tradisional, tetapi juga peralatan modern. Misalnya, karya Rizki Zulian N. berjudul “Cigee”, berupa bangku relaksasi yang tak hanya memperlihatkan cita rasa alami, tetapi juga nilai estetika dan ergonomic. Bangku relaksasi bercitrakan daun ini, memberi nilai lebih dari batang bambu. Bambu sebagai tanaman khas tanah Parahyangan mampu memberi identitas pada bangku relaksasi “Cigee” sebagai produk green design.

Karya Muhammad Ihsan berjudul “Bambu Pincuk Set” juga menyedot perhatian pengunjung. Karya kriya berupa alat makan makanan ringan terdiri atas pincukboo dan sendokboo. Gabungan material stainless steel dan bambu. Tak hanya meningkatkan nilai estetika alat makan tsb, namun juga nilai bambu yang identik sebagai produk tradisi berharga murah, menjadi produk berkelas.

Keunikan inovasi produk bambu yang ditampilkan, sejak Jumat ( 11/12/2009 ) kemarin, tak hanya menarik perhatian pengunjung, yang sebagian besar seniman dan mahasiswa seni & desain sejumlah universitas, tapi juga diminati masyarakat umum. Mereka yang berminat banyak yang memesan. Sayangnya, karena masih berupa konsep, permintaan tsb belum bisa dilayani. Melalui kreativitas, nilai estetika bambu tak kalah dengan logam atau plastik. Tanaman bambu masih memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Dan yang terpenting, ramah lingkungan. ( PR, 14/12/2009 )

Rp. 2 milyar/ tahun dari wisata hutan. Warga desa dilibatkan dengan sistem bagi hasil.

Selamat datang di Curug Cilember. Masyarakat sekitar yang dilibatkan, menjadikan obyek wisata aman, bersih, dan terjaga kelestarian.

Di antara sejumlah obyek wisata kehutanan yang tengah dioptimalkan bisnisnya oleh Perum Perhutani Unit III adalah Curug Cilember, Kec.Cisarua, Kab.Bogor. Obyek wisata seluas 5 hektar yang dibuka untuk umum sejak 1993 itu menjadi salah satu primadona eco-tourism dan tujuan wisatawan ke Puncak. Curug yang dikelola Kesatuan Pemangkuan Hutan ( KPH ) Bogor ini, memiliki sejumlah andalan, di antaranya ; 7 air terjun, rumah kupu2 ( ada spesies langka Troides helena dan Papilio meiunon ), obyek perkemahan, tempat menginap, outbond, flying fox dan lokasi wisata lainnya. Lokasi cukup mudah dicapai karena banyak jalur alternatif. Umumnya wisatawan mengambil jalur dari arah Kec.Cisarua. Mereka datang dari Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Sukabumi, Cianjur, Bandung, dan Timur Tengah. Apalagi, kawasan Puncak, Bogor, ada “kampung” Arab.

Masyarakat sekitar melalui Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat ( PHBM ) sudah dilibatkan melalui seleksi ketat KPH Bogor, mempertimbangkan kemauan, kemampuan dan rasa tanggung jawab mereka memelihara lingkungan. Kemajuan paling menyolok setelah masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan adalah faktor keamanan dan kebersihan yang kian meningkat. Mereka ikut menjaga kelestarian lingkungan. Resep yang jitu adalah bermitra dengan ikatan remaja masjid desa setempat. Langkah adaptif yang ditempuh KPH atas kekritisan masyarakat sekitar atas efek sosial budaya, keamanan, kenyamanan, moral, dsb, seiring perkembangan obyek2 wisata.

Besarnya kontrol sosial dari mereka menjadikan Curug Cilember tempat rekreasi yang sehat, terjaga, nyaman untuk rekreasi keluarga, pelajar dan umum, terutama bagi wisata alam dan ilmu pengetahuan. Pengelola bersama masyarakat bersepakat memanfaatkan obyek wisata Cilember untuk berkemah bermalam untuk keluarga. Mereka tak menerima pelajar, mahasiswa, pemuda yang datang berpasangan. Hasilnya, kunjungan wisatawan kian meningkat. Diraih pendapatan lebih Rp.2 milyar dari target Rp.1,8 milyar tahun 2009. Rekornya 4000 pengunjung/ hari pada Lebaran lalu.

Konsep pengembangan wisata kehutanan oleh Perhutani Unit III disusun untuk ramah lingkungan dan menghindari kerusakan hutan. Tak membangun pondok permanen, hanya boleh bangunan kayu atau rumah pohon, serta fasilitas umum seluas maksimal 10 % dari wilayah kehutanan. Sistim pengamanan hutan menjadi salah satu pertimbangan utama pengunjung dan investor. Hampir seluruh kawasan kehutanan Perhutani sudah dilakukan PHBM dengan sistem bagi hasil. Kepala Seksi Keamanan Perum Perhutani Unit III, Amas Wijaya, salah satu dampak positif adalah keamanan hutan setempat meningkat. Logikanya sederhana, karena masyarakat sekitar diperbolehkan ikut terlibat dan menikmati hasil usaha dari kawasan kehutanan, paling tidak, mereka termotivasi ikut menjaga keamanan dan kenyamanan tempat usaha mereka.

Sejumlah pemerhati lingkungan mengatakan, Perhutani harus mengantisipasi resiko tumpukan sampah pengunjung, perubahan struktur tanah, perubahan iklim mikro, gangguan terhadap ekosistem hutan, resiko kebakaran hutan, dll, karena banyaknya manusia yang masuk ke hutan. Potensi resiko itu harus dapat ditelaah Perhutani. Apalagi, salah satu peran, tugas, dan misi penting yang mereka emban adalah melakukan pemulihan dan pelestarian lingkungan. Pengembangan kawasan wisata hutan jangan jadi bumerang. Hutan adalah titipan yang harus dirawat. Bukan warisan yang dieksploitasi. Juga, jangan berubah jadi wisata “ziarah” yang berbau mistik. ( PR, 30/11/2009 )

Curug yang menggoda untuk diceburi. Berdoa dulu, sebelumnya. Ion negatif yang terlepas dari air terjun bisa membuat awet muda. Seperti granit dalam ruang piramid, tempat mummi para raja awet disemayamkan. Anda ingin muda berseri ?

About these ads

Written by Savitri

17 Desember 2009 at 15:15

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Azza : trims pujiannya. Main ke desa, dong. Lihat panorama alam yang masih alami. Sawah hijau, gunung biru, masyarakat kita yang masih guyub, gotong royong, dst, bisa menyegarkan semangat kita setelah didera kesuntukan di kota.

    Savitri

    24 Desember 2012 at 04:05

  2. ceritanya bagusssssssssssssssssssss saya tertarik

    azza

    18 Desember 2012 at 09:03

  3. Wah aq matur nuwun infonya.

    Kanjeng Narto

    24 Juli 2012 at 16:15


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: