Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Gamelan, jaipongan, karawitan di Amsterdam. Penonton bule hormat & bangga mengenalnya.

leave a comment »

Gamelan Sunda, Jawa dan Bali memeriahkan perhelatan IGFA di Amsterdam. Long standing applaus selalu diberikan penonton usai penampilan mereka. Saya pikir hanya konser vokalis asing atau band populer lokal yang suka dimintai tambahan lagu. Ternyata para penggamel ini juga diminta.

Gamelan menarik orang asing. IGFA ( International Gamelan Festival Amsterdam ) 2010 buktinya. Mereka mengenal, mempelajari dan mencipta komposisi baru. Digagas Tropen Museum Belanda, sejak 2007. Komposer muda dari Sunda, Jawa dan Bali mempertunjukkan karya mereka. Workshop digelar, bertukar ilmu dan informasi dengan semangat persaudaraan. Gamelan menjadi media cipta musik dan pemersatu peserta.

Peserta mancanegara yang belajar dan menggarap gamelan, terlihat hormat dan bangga, bisa mengenal peninggalan budaya adiluhung Indonesia. Ensembel Kyai Fatahillah ( UPI Bandung ) dikomandoi Iwan Gunawan yang bisa membawakan komposisi baru karya komposer luar dalam notasi balok. Bagi Anmaro, Iwan adalah sosok muda karawitan sunda yang mengerti musik barat dalam praktek dan teori.

Pada acara “Gamelan Now” ( gamelan kontemporer ) diketengahkan karya komposer gamelan dari Belanda, Jerman, Spanyol dan Indonesia. “Su Lianto” karya Jonas Bisquert membuka acara. Disusul “Petruk” karya Gordon Lun Fung dalam gamelan salendro. Elemen tabuh gamelan wayang digabung dengan komposisi barat dan musik Cina.

Berikutnya, karya Matius Shan Boone berjudul “Balungan”, yang terilhami gending balungan gamelan Jawa. Iwan Gunawan, Klaus Kuiper dan Jonas Bisquert membuat komposisi bersama “Gending Meets Kyai Fatahillah” yang disambut meriah para penonton. Ada warna dan kedamaian di sana. Setelah jeda istirahat, pementasan selanjutnya, “Sonata da Camera” garapan Klaus Kuiper dalam gamelan salendro, membahana. Menyusul Iwan Gunawan dengan “Kulu Kulu”-nya yang sudah ia tulis sejak 1997. Jiwa kulu kulu dalam gending Sunda diungkapkan. Selanjutnya, “Six Maribas” yang dipengaruhi gaya musik Steve Reich, dan “Lalamba”. Evan Ziporyn menampilkan karyanya “Lapanbelas” dengan gamelan Bali. I Made Arnawa menyuguhkan “Pabuan”. Penonton terpaku. Tiap repertoar dihadiahi aplaus panjang. Ayu Bulantrisna Jelantik menyeling dengan tari Bali, “Sitarasmi”.

Usai pertunjukan, penonton berkerumun di depan panggung, bertanya dan berdecak kagum.

Penonton senang, pengundang puas, seniman bahagia.

Poster even IGFA yang ke-2 di Tropen Museum Belanda. Seni tradisi kita lebih dihargai orang luar, sedangkan kesenian luar lebih digandrungi di dalam negeri. Kenapa bisa tukeran begini, ya ..

Nano S menghadirkan karawitan gending “Warna” dalam gamelan salendro dan “Bubat” dalam gamelan degung. Mereka juga tak lupa meminta lagu “Kalangkang”. Euis Komariah, dkk, dari Jugala, diundang pihak museum Tropen untuk menampilkan seni tembang Sunda. Persembahan dari Sunda dibuka dengan tembang yang dilantunkan Euis Komariah dan Neneng Dinar, diiringi tabuhan kecapi Yusdiana, Galih dan Iwan pada suling. Tembang berlaras sorog ( madenda ) membius penonton yang terpesona.

Acara beranjak pada “Kliningan” garapan Iwan Gunawan bersama ensambel Kyai Fatahillah. Warna celempungan dan kliningan yang didahului gending tatalu lagu “Kawitan” dalam laras pelog dan salendro menghanyutkan suasana kaya warna dan wanda karawitan Sunda. Sesi pertama acara dipungkas tari topeng oleh Dwi Ginulur Apsari. Iwan beralih kendang, mengiringinya.

Bagian kedua, setelah istirahat, Iwan mengetengahkan lagu “Reumis Beureum Dina Eurih” karya Mang Koko/ Wahyu Wibisono dalam gamelan pelog. Diaransemen Dody Satya Eka, dari aransemen kecapi Mang Koko. Setelah karawitan gending “Warna” ada jaipongan yang ditarikan Cucu Sriwulandari dari Subang diiringi kendang yang ditabuh Iwan. Penonton tak henti-hentinya bertepuk tangan, minta ditambah.  Gemuruh tanda akhir pertunjukan tidak berhenti, walaupun penampil sudah beberapa kali membungkuk badan untuk menghormati mereka. Sampai keluar panggung, gemuruh masih riuh terdengar. Raut suka cita di wajah pengundang. Berbinar puas. Karangan bunga pun dikalungkan pada para seniman tradisi. ( Nano S / PR, 26/9/2010  )

Dari Belanda, ke Belgia. Sambutan tak kalah hangat dan bersahabat. Para penampil hebat ini orang2 biasa yang mencintai seni tradisi hingga bisa melanglang ke luar negeri. Bahagia bisa mengemban misi seni Sunda. Sekembalinya di tanah air, sebagian pulang ke rumah masing2 dengan angkot. Sungguh bersahaja, mengingat apa yang telah mereka lakukan untuk Indonesia. Terima kasih, para empu kami ..

http://kotamanusia.wordpress.com

About these ads

Written by Savitri

19 November 2010 at 16:09

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , , ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.