Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Keraton Mangkunegaran Surakarta : kebanggaan wong Solo, kebanggaan orang Indonesia. Joglo terbesar ?

with 18 comments

Penguasa Mangkunegaran sekarang, Mangkunegara IX, sedang berjalan dari Dalem Ageng ke Pringgitan dalam prosesi Jumenengan ( peringatan naik tahta raja ). Dimulai sungkeman kerabat Puro Mangkunegaran, dilanjutkan doa keselamatan. Terselip kebanggaan, bahwa Indonesia punya keragaman budaya sebanyak ini. Terselip keharuan, keluarga kerajaan bertahan hidup dengan aset budaya seperti ini. Mari bantu mereka melestarikan seni tradisi Indonesia. Berwisata budaya-lah di tanah air. ( foto : skycrapercity )

Penasaran. Seperti apa sih rumah tradisional Jawa Tengah ? Rumah penduduk dan keraton Jawa biasanya terdiri 3 ruangan : Pendopo, Pringgitan dan Dalem. Seperti di pusat kota Solo.

Keraton Mangkunegaran berlokasi di Jalan Ronggowarsito, Surakarta ( Solo ). Penguasa Mangkunegaran disebut Mangkunegara. Secara resmi, bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang yang ke I, II, III, dst. Orisinil. Seolah ditakdirkan mengembalikan segala yang hilang dari Jawa.

Sejak umur 16, Pangeran Sambernyawa ( Mangkunegara I ) berjuang melawan Belanda.

Mangkunegaran dari dinasti Mataram. Pangeran Sambernyawa ( Raden Mas Said ) memulainya. Sejak umur 16 tahun, beliau telah berjuang. Dengan keahlian militernya, Mangkunegara I menghadapi pasukan gabungan Belanda, Pakubuwana III dan pangeran Mangkubumi sekaligus. Gagah berani.

Penguasa Surakarta dan Yogyakarta membangun kekuasaan dengan simbol. Mangkunegara I dengan aksi. Rasionalisasi kekuasaan ini dilanjutkan pewarisnya. Mangkunegaran II. Kerajaan kuat, kawula makmur. Karya sastra terbit dan dirujuk masyarakat Jawa hingga kini. Mangkunegaran menjadi penyeimbang tangguh dan pandai memainkan kartu truf. Tak suka didikte. Tak segan bertindak tegas menghadapi kekuasaan lain yang merongrong wibawa dan eksistensinya.

Setiap generasi raja Mangkunegaran dipersiapkan menjadi pemimpin yang cakap dan cerdik. Putra mahkota, bergelar Pangeran Prangwadana, secara berjenjang diberi beban tanggung jawab sejak remaja. Penguasa Mangkunegaran : Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara I ( 1757-1795 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II ( 1796-1835 ), Mangkunegara III ( 1835-1853 ), Mangkunegara IV ( 1853-1881 ), Mangkunegara V ( 1881-1896 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916), Mangkunegara VII ( 1916-1944 ), Mangkunegara VIII (1944-1987 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX (1987-sekarang ).

Gaya klasik Eropa pun terasa Jawa di keraton. Kreatif, inovatif, bermartabat.

Keraton Mangkunegaran hari ini. Otoritas wilayahnya tak seluas dulu. Namun, keluarga Mangkunegara tak perlu berkecil hati. Jika NKRI adalah milik kita bersama, maka seluas Indonesia pula kalian bisa berkiprah dan memetik kebanggaan. Suatu hari nanti. We know that. ( foto : skycrapercity )

Mangkunegaran terdiri 2 bangunan utama, Pendopo ( balairung istana, tempat menerima tamu ) dan Dalem ( balairung utama ) yang dikelilingi kediaman keluarga raja. Terbuat dari kayu jati utuh. Keraton indah dan terawat ini dibangun Raden Mas ( 17 Maret 1757 ) setelah pertarungan sengit keluarganya dengan VOC ( East India Company ).

Bangunan yang menghadap ke selatan ini mencermati pertemuan budaya Jawa dan Eropa lalu mengakulturasikannya menjadi milik Jawa. Pendopo beratap joglo baru dibangun masa Mangkunegara IV ( 1866 ). Bangunan Jawa aslinya tak kenal teras. Elemen dari villa Eropa ini lalu diadopsi dengan indah. Gaya klasik dan neo klasik Eropa berpadu dengan semangat neo klasik Jawa. Kolom bulat dari besi cor dan konsolnya menampakkan perpaduan tersebut.

Denah keraton berpola linear dan tertutup. Struktur dinding pemikul menyatukan atap dan dinding. Bukaan jendela dan pintu lebar. Skala ruang tinggi dan luas. Iklim tropis menjadi terasa nyaman. Ornamen dan pahatan secara simbolis menampilkan citra dan fungsi. Empire style menghadirkan kewibawaan raja. Mangkunegaran memang terbuka untuk inovasi dan ide baru.

Bagian timur, Bale Peni, kediaman para pangeran. Bagian barat, Bale Warni, kediaman para putri. Naskah langka agama dan filsafat dalam tulisan Jawa tersimpan di perpustakaan Reksopustoko. Mangkunegara IV membuat perpustakaan di lantai dua ini tahun 1867. Sejarawan dan pelajar mempelajari manuskrip bersampul kulit di sela semilir angin dari jendela kayu yang terbuka lebar. Juga, buku dalam berbagai bahasa, koleksi foto bersejarah dan data perkebunan milik Mangkunegaran.

Pendopo berjoglo terbesar di Indonesia. 10.000 orang tahun 1757 ?

Kereta kencana membawa pangeran tampan dalam sebuah kirab budaya. Seperti melihat film laga kolosal “Saur Sepuh”. Atau Saur Sepuh yang meniru para penghuni keraton ? Saya masih terkagum-kagum dengan budaya kita sendiri. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya bercita rasa tinggi. Dibalut karya seni adiluhung. Seganteng dan sekreatif itukah leluhur kita ? ( foto : pondrafficial )

Perundingan Giyanti ( 1755 ) membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Raden Mas lalu membangun kediamannya di tepi Sungai Pepe. Keraton berukuran lebih kecil ini terdiri pamedan, pendopo agung, paringgitan, dalem ageng dan keputren. Tembok kokoh mengelilinginya. Memasuki pintu gerbang utama, tampaklah Pamedan, lapangan luas tempat berlatih pasukan Mangkunegaran. Di timur, terlihat Gedung Kavaleri, bekas kantor pasukan berkuda Mangkunegaran. Revitalisasi keraton sekarang didanai pemerintah melalui pemda. Bangunan dipulihkan, sebagian dengan fungsi berbeda. Contohnya, markas legiun Mangkunegaran ini.

Melewati pintu gerbang kedua, terlihat Pendopo Agung seluas 3.500 m2. Pendopo joglo terbesar di Indonesia, menampung 5.000 – 10.000 orang. Tiang kayu persegi yang menyangga atap joglo berasal dari hutan Danalaya di perbukitan Wonogiri. Elemen konstruksi dihubungkan tanpa paku. Di sini, satu set gamelan dimainkan secara rutin, tiga set lainnya untuk upacara khusus. Warna kuning dan hijau ( padi muda ), warna khas keluarga Mangkunegaran. Lampu antik tergantung di langit-langit. Lukisan Kumudawati berwarna terang menampakkan pengaruh Hindu Jawa : 12 belas bintang astrologi dan 8 kotak berwarna. Kuning berarti siaga, biru berarti mencegah bencana, hitam berarti melawan kemarahan, hijau berarti melawan stres, putih berarti melawan hawa nafsu, oranye berarti melawan rasa takut, merah berarti melawan kejahatan, ungu berarti melawan pikiran jahat.

Di belakang Pendopo, terlihat beranda terbuka bernama Pringgitan. Tangga di sana mengarah ke Dalem Ageng seluas 1.000 m2. Dahulu, ruang tidur pengantin kerajaan. Kini, museum keraton Mangkunegaran. Ada Petanen ( tempat bersemayam Dewi Sri ) berlapis sutera tenun di dalamnya. Juga, perhiasan, senjata, pakaian, medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar raja-raja Mangkunegaran dan benda seni lainnya.

Di belakang Dalem Agung, kediaman keluarga Mangkunegaran terlihat seperti rumah pedesaan yang tenang. Pohon, bunga, semak hias menjadi cagar alam bagi burung yang berkicau dan kupu aneka warna. Air mancur menawarkan kesegaran di bawah matahari. Patung klasik gaya Eropa turut menghiasi.

Beranda dalam bersudut delapan menghadap taman ini, bersama tempat lilin dan perabot Eropa. Kaca berbingkai emas berjajar rapi di dinding. Tampak ruang makan mengintip, dengan jendela kaca berwarna ( pemandangan Jawa ), ruang ganti – rias, dan kamar mandi.

Masjid Mangkunegaran, arsitek Perancis ikut mendesain saat pemugarannya.

Denah Masjid Mangkunegaran atau Masjid Al-Wustho ( denah : mulyadi )

Menyeberang jalan raya, Mesjid Mangkunegaran berdiri anggun, seluas 4.200 m2 dan dipagari tembok berbentuk lengkung. Mesjid Lambang Panotogomo ini diprakarsai Mangkunegara I di Kadipaten. Sebelumnya, terletak di wilayah Kauman, Pasar Legi. Pada masa Mangkunegara II, dipindah ke Banjarsari, lebih dekat ke Mangkunegaran. Abdi dalem yang mengelolanya, sehingga mesjid ini berstatus Masjid Kagungan Dalem Puro Mangkunegaran. Mangkunegara VII meminta arsitek Perancis ikut mendesain ( dalam pemugaran ) kompleks mesjid Mangkunegaran.

Masjid Mangkunegaran terdiri : Serambi ( ruang  depan masjid dengan 18 saka, melambangkan umur Raden Mas saat keluar dari Keraton Kasunanan Surakarta, untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunegaran. Bedug di serambi  bernama Kanjeng Kyai Danaswara ), Ruang Sholat Utama ( ruang dalam dengan 4 saka guru dan 12 penyangga berhiaskan kaligrafi Qur’an. Kaligrafi juga ditemui di pintu gerbang, kuncungan, saka dan maligin ), Pawestren ( tempat sholat khusus wanita ), Maligin ( tempat khitanan putra kerabat Mangkunegaran. Mangkunegaran VII kemudian memperkenankan Muhammadiyah menggunakannya untuk khitanan umum ), Menara ( dibangun tahun 1926, masa Mangkunegaran VII. Di minaret, 4  muadzin mengumandangkan azan ke empat arah berbeda ). KH Imam Rosidi ( penghulu Mangkunegaran ) menamai Masjid Mangkunegaran ini Masjid Al-Wustho ( tahun 1949 ).

Bertahan dengan aset budaya. Pengorbanan keluarga kerajaan se-nusantara untuk NKRI.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kediaman keluarga Pakubuwana, lengkap dengan Alun-alun khas Jawa. Pusat pemerintahan Jawa ini kemudian terbagi menjadi Kasunanan, Mangkunegaran dan Yogyakarta. Gara-gara kompeni sih.. ( foto : zalfayahya )

Menurut Sudarmono ( sejarawan UNS ), Raden Mas Said sudah mengukuhkan diri sebagai raja dengan Deklarasi Adeging Pura Mangkunegaran ( 24 Februari 1757 ). Sesudah NKRI terbentuk, disusul penghapusan swapraja ( sekitar 1950-an ) dan pemberlakuan UU Pokok Agraria ( 1960 ), otoritas kerajaan di nusantara menciut. Dalam Babad Giyanti dan Babad Lalampahan, Pangeran Sambernyawa dikukuhkan sebagai adipati yang menguasai wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Dalam peta sekarang, wilayah tersebut menembus wilayah Karesidenan Surakarta, Kedu, bahkan Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ). Kenyataan, otoritas Mangkunegaran sekarang tinggal selebar keraton ini.

Mas Ngabehi Supriyanto Waluyo berpakaian layaknya masyarakat umum, meski di lingkungan istana. Sebagai abdi dalem, ia berpakaian adat jika ada acara resmi kerajaan. Abdi dalem pun tinggal 300 orang. Yang setiap hari di lingkungan istana hanya 150 orang. Kini, Mangkunegaran hanya memiliki 3 kantor departemen : Mandrapura ( bagian umum ), Kawedanan Kasatriyan ( mengurus peninggalan sejarah ) dan Reksa Budaya ( perpustakaan dan aktivitas budaya ). Untuk menjaga eksistensinya, Mangkunegaran memanfaatkan subsidi pemerintah. Selebihnya, bertahan dengan aset budaya.

Sudah terbayang sekarang, bagaimana rumah tradisional orang Jawa ? Berkunjunglah supaya lebih mantap. Monggo..

——————–

( Sabtu – Minggu 25-26 Juni 2011, lebih 300 bangsawan ( raja, sultan, ratu, putra mahkota, pangeran, putri raja dan kerabat kerajaan ) akan menghadiri acara “Silaturahmi Nasional Raja dan Sultan se-Nusantara ke-2 ” ( Silatnas II ) di Gedung Merdeka, Bandung. Bahkan, bangsawan dari mancanegara, seperti dari Filipina dan Afrika, turut hadir. Wah, weekend di Bandung kian meriah saja. Seperti apa sih wujud mereka ? Apa perjuangan mereka ? Kita simak, yuk .. )

http://www.kerajaannusantara.com/id/news/294-Kaum-Bangsawan-Mulai-Datang-di-Bandung

Anda pun bisa jadi 'putri' sehari ketika berwisata di Solo. Dari Keraton Kasunanan ke Pura Mangkunegaran di antar dengan kereta kencana. Berasa Pangeran William atau Putri Kate, ya ? ( foto : solopos )

Melihat tari tradisional membuat kita makin cinta tanah air. Percaya, deh .. ( foto : sekarkencono )

About these ads

Written by Savitri

24 Juni 2011 at 04:00

18 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Bambang :
    Beberapa pertanyaan pengunjung blog, sulit saya jawab dengan meyakinkan ( akurat ) karena saya tak punya datanya. Terima kasih, Bapak sudah memberi solusinya. Silakan yang ingin lebih jelas dan mendalami berkunjunglah ke Istana Mangkunagaran. Ketemu pak Bambang dkk yang dengan senang hati dan pakar menjawabnya. Ya, sekalian wisata sejarah di kawasan heritage yang patut kita banggakan dan lestarikan.

    Savitri

    12 Februari 2013 at 06:20

  2. Buat mbk. Alia Natasha, kalau anda ingin tahu silsilah itu para putra MN IV dan V datanglah ke Istana Mangkunagaran lihat silsilahnya ada. kalau saya punya dan sangat detail sekali para putra2 raja mataram tertulis.

    Bambang

    26 Januari 2013 at 17:34

  3. saya sudah coba membuka banyak situs tentang kraton mangkunegaran Surakarta, namun saya tidak memperoleh informasi siapa arsiteknya atau yang membangun puri Mangkunegaran ini tapi yang saya tahu dari keluarga saya bahwa arsiteknya adalah KI DJAJAKETARA apakah betul ? mohon konfirmasinya yang tahu. terima kasih Eddy Susilo

    R. Sulistyo Eddy Susilo

    3 Desember 2012 at 15:59

  4. subkhanaAlloh………….

    ririn wahyuni

    23 Oktober 2012 at 20:56

  5. salam buat kel besar kerton solo,titisan putra ibu ratu cakra yuda hadir di ciamis

    dodi

    30 Agustus 2012 at 19:33

  6. siapa di sini tahu salasilah putra mangkunegaran iv selain anaknya yang menjadi mangku negara v dan vi?
    trimas =)

    Alia Natasha

    18 Agustus 2012 at 01:43

  7. Dulu ayah saya pernah dapat gelar dari mangkunegaran dan bahkan nenek saya masih trah sanam sekarang saya lebih suka jadi orang biasa, kabur kanginan………..

    wawan

    9 Agustus 2012 at 19:58

  8. saya pernah dengar Pura mangkunegara ini bekas milik Patih Pringgoloyo atau Danurejo gitu, yang diminta oleh RM Mas said, waktu pembagian wilayah keraton. mas Said diminta memilih mana yang akan dibangun sebagai keratonnya (istana). Jadi yang benar yang mana, di bangun sendiri RM Said atau emang di ambil dari patih tadi…………….

    wawan

    9 Agustus 2012 at 19:55

  9. matur nuwun sanget carilah yang lain agar lebih bagus

    uyex

    15 Juli 2012 at 17:49

  10. terima kasih atas kesempatan dari keraton surakarta untuk menghubungi puri mangkunegaran untuk melakukan riset pustaka untuk karya tulis ilmiah dan bersilahturahmi menemui dr purbo wahyono di jawa pos center keraton solo.
    semoga saya bisa mendapat kemudahan dan bantuan dari puri mangkunegaran untuk kelancaran riset pustaka yang saya lakukan.
    gatot malaisianto thd.mph.(amsterdam universitiet alumny nederland)
    perum alam mutiara c1/44 candi sidoarjo
    jawa timur indonesia

    gatot malaisianto

    8 Juli 2012 at 18:25

  11. ada yang tau mau ngurus silsilah bulu kekancingan mangkunegaran ga ?

    cahyo pratomo

    3 Juli 2012 at 18:20

  12. Solo tak terlupakan, saya bangga terlahir dan menjadi orang solo. smoga tetap eksis budaya, kesenian serta filosofi Jawa.

    Mustikah Mudjianto

    29 April 2012 at 19:00

  13. @ Suyatno : Silakan yang tahu bisa kirim denahnya ke e-mail Suyatno : nano.tsu@gmail.com

    Savitri

    14 Februari 2012 at 15:47

  14. i love solo.
    ada yang tahu denah pendopo kraton solo?

    suyatno

    12 Februari 2012 at 19:05

  15. WE LUV SOLO…THE SPIRIT OF JAVA……

    aries

    22 September 2011 at 14:57

  16. @ Warjono : matur nuwun.

    Savitri

    26 Agustus 2011 at 12:01

  17. amazing .. !

    warjono

    22 Agustus 2011 at 14:00

  18. Keren!

    Save Our Nusakambangan Island

    5 Agustus 2011 at 12:30


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: