Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Sriwijaya : pusat agama, perdagangan, militer Asia Tenggara. Seberapa dekat kita dengan bahari ?

with 4 comments

Armada laut andalan Sriwijaya untuk melindungi wilayah kedaulatan dan kekuasaannya selama lebih 400 tahun. Juga, mengawasi kapal2 dagang mancanegara yang singgah di pelabuhan2 Sriwijaya yang bertebaran di Asia Tenggara. Kemudinya dari kayu onglen hitam sepanjang 8 meter. Armada ini membawa komoditas perkebunan, rempah2, emas dan perak sampai ke China untuk ditukar dengan porselen, kain katun dan sutra. Dengan kekayaan dan kekuatan sebesar ini, jangan coba2 membual ( menghina ) maharaja Sriwijaya. Salah2, kepala anda menjadi teman wortel dan kentang di kuali. Apakah negara asing serespek itu pada kita ( Indonesia ), hari ini ?

Kejayaan gilang gemilang. Siapa mau ? Indonesia ternyata pernah mengalami. Sriwijaya, nama bercahaya itu. Kemaharajaan maritim yang menguasai Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Filipina, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam, Sri Lanka, bahkan sampai Madagaskar ( 3.300 mil dari ibukota Sriwijaya ). Negeri bahari yang hebat hingga abad ke-13. Sebuah imperium. Bagaimana bisa ?

Pada tahun saka 605 hari kesebelas bulan waiseka, Dapunta Hyang naik di perahu, mengadaan perajalanan pada hari ke tujuh bulan terang. Bulan jyestha, Dapunta Hyang berangkat dari Minanga. Tambahan, beliau membawa tentara dua laksa ( 20.000 ), dua ratus koli di perahu, yang berajalan darat seribu, tiga ratus dua belas banyaknya datang di mukha upang, dengan senang hati. Pada ghari ke lima bulan terang bulan asada, dengan lega gembira datang membuat wanua … perajalanan jaya sriwijy memberikan kepuasan.

Demikian, isi prasasti Kedukan Bukit, yang menyebut maharaja Sriwijaya ( Dapunta Hyang ) dan ibukota Sriwijaya kala itu ( Minanga ).

Sriwijaya, di mana situsmu ? Budha atau Islam.

Sriwijaya, kerajaan Melayu Kuno di Sumatera, berpengaruh di nusantara ( 683-1100 M ). Sri berarti gemilang. Wijaya berarti kejayaan.  Sekitar tahun 500 M, Sriwijaya mulai berkembang di sekitar Palembang. Tiga zona utama : ibukota muara berpusat di Palembang ( diperintah raja ), daerah pendukung di lembah Sungai Musi ( diperintah datu setempat ), dan daerah pesaing yang menjadi pusat kekuasaan saingan.

Tentang ibukota Sriwijaya, ada yang mengatakan di tepi Sungai Musi ( antara Bukit Seguntang dan Sabokingking, Sumatera Selatan ). Lainnya ( Soekmono ) mengatakan di kawasan sehiliran Batang Hari ( antara Muara Sabak sampai Muara Tembesi, Jambi ). Yang jelas, hulu S.Musi kaya komoditas berharga bagi pedagang Tiongkok. George Coedes, sejarawan Perancis, mengetahui keberadaan situs Sriwijaya, tahun 1918. Pierre Yves Manguin membuktikan letak ibukota Sriwijaya, tahun 1992.

Masyarakat kosmopolitan nan kompleks dengan pikiran Budha Wajrayana menghuni ibukota Sriwijaya. Negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya mengenal istilah kadatuan, vanua, samaryyada, mandala dan bhumi. Kadatuan : kawasan datu ( tanah rumah ), tempat tinggal bini haji, tempat disimpan emas, hasil cukai yang mesti dijaga. Vanua : mengelilingi kadatuan, merupakan kawasan kota Sriwijaya dengan vihara untuk tempat ibadah masyarakatnya. Samaryyada : kawasan yang berbatasan dengan vanua, yang terhubung jalan khusus dengan kawasan pedalaman. Mandala : kawasan otonomi dari bhumi yang dipengaruhi kadatuan Sriwijaya.

Penguasa Sriwijaya disebut Dapunta Hyang ( maharaja ). Dalam lingkaran raja, ada putra mahkota, putra mahkota kedua dan pewaris berikutnya. Dalam catatan Arab, Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan Zabag, karena bandar utamanya berada di Muara Sabak, di Sungai Batanghari.

1000 biksu, maharaja muslim. Chengho vs perompak.

Sriwijaya setelah dipengaruhi budaya India ( Hindu ), kemudian Budha ( 425 M ). Pusat terpenting Budha Mahayana. Melalui perdagangan dan penaklukan ( abad 7-9 M ) oleh raja2 Sriwijaya, bahasa dan budaya Melayu di nusantara turut berkembang. Semula, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana2 Asia yang ingin belajar ajaran Budha Vajrayana, Hinayana dan Mahayana. Lebih 1000 biksu Budha hilir mudik dalam benteng kota Sriwijaya.

Kemahsyuran Sriwijaya sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara, kemudian menarik minat para pedagang dan ulama muslim Timur Tengah. Bahkan, Sri Indrawarman ( raja Sriwijaya, tahun 718, diduga masuk Islam ) tertarik mempelajari Islam dan kebudayaan Arab. Surat pun dikirim ke khalifah Umar bin Abdul Aziz ( 717-720, dari Bani Umayyah ) di Damaskus, Suriah, agar khalifah sudi mengirim da’I ke istana Sriwijaya. Tahun 724, utusan Sriwijaya berikutnya dikirim ke khalifah Muawiyah I.

( saya sempat heran, mengapa saya gandrung nonton film silat mandarin ? padahal kulit sawo dan mata bulat ( bukan tikus, si mata bulat, ya ). Sampai di kepala, ada pria khayalan, sosok ksatria tanpa tanding. Berkaca pada masa lalu,meski ada ribuan biksu dalam benteng Sriwijaya, toh maharaja Sri memeluk Islam. Bahkan, Laksamana Chengho ( asli China, diutus kaisar untuk membasmi perompak di Sriwijaya ) juga seorang muslim. Mengapa saya merasa familiar dengan para biksu, sedikitnya, sudah terjelaskan kini ).

I Tsing, biksu China, mengunjungi Sriwijaya ( 671 M ) untuk belajar tata bahasa sansekerta selama 6 bulan. Lalu, belajar Budha Mahayana di Universitas Nalanda ( tertua ke-3 di dunia, setelah Academia ( didirikan Plato, abad 3 SM ) dan Leichon ( didirikan Aristoteles, abad 3 SM ), selama 13 tahun. Tahun 685, I Tsing kembali ke Sriwijaya menterjemahkan teks Budha ke bahasa China dan 4 tahun menyusun buku memoarnya. Tahun 695, ia kembali ke China.

Tahun 902, Sriwijaya mengirim upeti ke China. Tahun 904, raja dinasti Tang menganugerahi gelar pada utusan Sriwijaya yang bernama Arab. Tahun 1011-1023, Atisa, reformis Budha di Tibet, belajar pada mahaguru Dharmakirti ( kepala kuil Budha, sarjana terbesar masa itu ) di Sriwijaya. Kulothunga Chola I ( ketika Sriwijaya dianggap bagian dari dinasti Chola ) membantu perbaikan candi Tien Ching Kuan ( Yuan Miau Kwan ).

Kekuatan ekonomi Sriwijaya. Malaysia, Singapura dari mana ?

Pagoda Borom That bergaya Sriwijaya di Chaiya, Thailand. Chaiya, di provinsi Surat Thani, adalah ibukota kerajaan Khmer awal ( daerah Sriwijaya ). Setelah itu, Chaiya terbagi menjadi 3 kota : Chaiya, Thatong dan Khirirat Nikhom. Ternyata kemiripan kita ( warga Asia Tenggara ), karena leluhur kita.

Sriwijaya penghasil kapur barus, wangi2-an, kayu gaharu, buah2-an, kapas, gading gajah, cula badak, emas, timah, cengkeh, pala, kapulaga, dan rempah2 lain, membuat raja2-nya sekaya raja India. Memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal2-nya di seluruh Asia Tenggara. Menjalin hubungan dagang dengan India, China dan Arab. Mendapat keuntungan dari jatuhnya dinasti Tang, naiknya dinasti Sung ( Fujian ), Ming dan Han ( Guangdong ) di China.

Utusan Sriwijaya datang ke Tiongkok ( China ) tahun 702-716, 728-742, 960 & 983, 988-992-1003, 1008, 1017, 1079. Begitu intens. Why ? Mengapa kebanyakan orang Palembang mirip China ? Kuning langsat, bermata sipit. Ternyata perintis Sriwijaya, Atung Bungsu, adalah putra mahkota Kerajaan Kushans ( Rau ), India, yang raja2-nya keturunan kaisar Liu Pang ( dinasti Han ), China. Selama 200 tahun kejatuhannya, Sriwijaya sempat dikuasai para perompak China, sampai Chengho dan pasukannya datang, menghentikan kebringasan mereka. So, darah biru, darah ksatria ( dan darah bandit ) beranak pinak di sana.

Sriwijaya menjadi pengendali rute perdagangan rempah yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Pelabuhan dan gudang perdagangan dibangun untuk melayani pasar Tiongkok dan India. Tahun 903, penulis muslim, Ibnu Batutah, sangat terkesan dengan kemakmuran Sriwijaya. Daerah urban kerajaan meliputi Palembang ( Bukit Seguntang ), Muara Jambi dan Kedah.

Faktor2 yang mendorong Sriwijaya menjadi kerajaan besar : letaknya yang strategis di jalur perdagangan, kemajuan pelayaran dan perdagangan antara China dan India melalui Asia Tenggara, runtuhnya kerajaan Funan di Indochina sehingga Sriwijaya bisa menggantikan perannya, Sriwijaya mampu melindungi pelayaran, perdagangan di perairan Asia Tenggara dan memaksa singgah di pelabuhan2-nya.

Sejarah Malaysia terkait dengan sejarah Indonesia. Malaka, kerajaan tertua di negeri jiran ini, pendirinya seorang pangeran Palembang dari trah Sriwijaya ( sesuai Hikayat Melayu ). Pada abad 15, keagungan, gengsi dan prestise Sriwijaya menjadi sumber legitimasi politik penguasa di kawasan Asia Tenggara. Kesultanan Malaka mengontrol wilayah Semenanjung Malaysia, Pattani ( Thailand selatan ) dan pantai timur Sumatera. Malaka menjadi pelabuhan penting di tengah rute perdagangan China dan India. Pada abad 10, tumbuh kota2 pelabuhan ( Hindu Budha ) seperti : Langkasuka & Lembah Bujang di Kedah, Beruas dan Gangga Negara di Perak, Pan Pan di Kelantan. Islam baru tiba abad 14 di Terengganu.

Kekuatan militer Sriwijaya : di laut kita jaya.

Negara adidaya dengan kekuatan ekonomi dan keperkasaan militernya bukan milik AS dan sekutunya ( PD I & II ). Tahun 682, Sriwijaya ( masa Sri Jayanasa ) pernah mengirim ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang dianggap tak berbakti. Kerajaan Tarumanagara ( Jawa Barat ) dan Kalingga pun runtuh ( dikuasai Sriwijaya ).

Setelah ekspansi ke Jawa dan Semenanjung Malaya, Sriwijaya mengendalikan 2 pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Pelabuhan Cham, timur Indochina ( abad 7 ) yang mulai mengalihkan banyak pedagang di Sriwijaya diserang Dharmasetu ( maharaja Sriwijaya ). Kota Indrapura ( tepi Sungai Mekong ) jatuh ke tangan Sriwijaya. Langkasuka di Semenanjung Melayu, Pan Pan dan Trambralinga pun di bawah pengaruh Sriwijaya.

Putri raja Kien-pi ( Jambi ), bawahan Sriwijaya, menulis surat dan menyerahkan ( melalui duta besarnya ) 227 tahil perhiasan, rumbia dan 13 potong pakaian pada kaisar Yuan Fong ( China ) pada tahun 1082.

Menurut sumber Tiongkok ( buku “Chu-fan-chi” ), tahun 1178, di kepulauan Asia Tenggara, ada 2 kerajaan yang sangat kuat dan kaya, yakni : San-fo-ts’i ( Sriwijaya ) yang memeluk Budha, dan Cho-po ( Jawa ) yang memeluk Hindu dan Budha. Sriwijaya ( masa Dharmasraya ) membawahi 15 daerah : Kamboja, Tambralingga ( Thailand ), Chaiya, Langkasuka, Kelantan, Pahang, Terengganu, ( muara sungai ) Dungun, Cherating, Semawe, ( sungai ) Paha, Lamuri ( Aceh ), Palembang, Jambi dan Sunda ( Sin-t’o )

Sriwijaya mengandalkan hegemoni kekuatan armada laut untuk menguasai jalur pelayaran, perdagangan dan membangun pangkalan armadanya yang strategis untuk melindungi kapal2 dagang, memungut cukai dan menjaga wilayah kedaulatan ( dan kekuasaannya ).

Apa kata prasasti dan manuskrip ?

Prasasti Talang Tuwo ( abad 7 ) menggambarkan ritual Budha untuk memberkati peresmian Taman Sriksetra, hadiah raja Sriwijaya untuk rakyatnya. Prasasti Telaga Batu menggambarkan hirarki pejabat kerajaan dan kerumitannya. Prasasti Kota Kapur menyebutkan keperkasaan balatentara Sriwijaya atas Jawa. Semuanya menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Prasasti Kedukan Bukit ( 682 M ) menyebutkan : raja Jayanasa ( Sriwijaya ) menaklukkan kerajaan Minanga ( Melayu ) yang kaya emas ( memiliki pertambangan emas ) sehingga meningkatkan prestise kerajaan. Swarnnadwipa ( pulau emas ). Koin emas digunakan sebagai alat tukar di pesisir kerajaan sejak abad 7. Prasasti yang ditemukan di Sungai Tatang ini juga menyebut ibukota Sriwijaya kala itu di Minanga.

Menurut prasasti Nalanda ( 860 M ), raja Balaputradewa mendedikasikan sebuah biara pada Universitas Nalanda. Prasasti Leiden menyebutkan raja Sri Mara-Vijayottunggawarman membangun Vihara Culamanivarmma di Negapatam ( 1005 M ) untuk dinasti Chola, India, dan meminta kawasan sekitar vihara tersebut dibebaskan dari cukai.

Keterkaitan Sriwijaya dan dinasti Syailendra tersebut di prasasti Kalasan ( Jawa ), prasasti Ligor ( Thailand selatan ), prasasti Nalanda ( India ) dan prasasti Sojomerto. Kedatangan Dapunta Hyang ke Palembang menyebabkan salah satu keluarga dalam dinasti ini ( Syailendra ) pindah ke Jawa Tengah atau Yogyakarta, menggantikan wangsa Sanjaya. ( sebelumnya, tahun 672 M, Jawa ditaklukkan Sriwijaya ). Tahun 856, Balaputradewa kehilangan kekuasaannya di Jawa dan kembali ke Suwarnadwipa ( Sriwijaya ). Tahun 990, Jawa menyerang Sriwijaya. Tahun 1183, menurut prasasti Grahi ( Thailand ), Sriwijaya diinvasi Dharmasraya ( dinasti Mauli kerajaan Melayu ).

Prasasti Pucangan menyebut peristiwa Mahapralaya : Haji ( gelar bawahan Sriwijaya ) Wurawari dari Lwaram, menyerang kerajaan Medang di Jawa Timur hingga menewaskan Teguh Dharmawangsa. Prasasti Tanjore ( bertarikh 1030 M ) menyebutkan : tahun 1017 dan 1025, raja Rajendra Chola I mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya dan menawan raja Sangrama-Vijayottunggawarman. Rajendra membiarkan raja2 taklukkannya tetap berkuasa selama tunduk kepadanya. Prasasti Tanjore juga menyatakan ibukota Sriwijaya kala itu di Kadaram ( Kedah ). Kemudian, Dharmasraya muncul sebagai kekuatan baru dan menguasai kembali Sriwijaya dan wilayah kekuasaannya.

Dalam Pararaton, untuk menaklukkan Bhumi Malayu, Kertanagara ( raja Singosari, penerus Kediri ), mengirim ekspedisi Pamalayu ( 1275 M ) dan menghadiahkan arca Amoghapasa pada Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa ( raja Melayu ) di Dharmasraya. Tertulis di prasasti Padang Roco ( di Siguntur, 1286 M ) dan prasasti Grahi ( di Thailand, 1183 M ). Manuskrip Nagarakretagama menguraikan daerah jajahan Majapahit, namun tak menyebut lagi nama Sriwijaya untuk kawasan yang sebelumnya dikuasai Sriwijaya.

Dalam Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan, disebut Arya Damar ( Adityawarman ) sebagai bupati Palembang, membantu Gajah Mada menaklukkan Bali ( 1343 M ). Tahun 1347, Adityawarman memproklamirkan diri sebagai raja di Malayapura ( sesuai manuskrip di belakang arca Amoghapasa. Sebelum 1377, dalam Kitab Undang2 Tanjung Tanah terdapat kata Bumi Palimbang ( Sriwijaya ).

Hati2 erosi, bisa meluluhlantakkan imperium.

Candi Bungsu, di Muara Takus ( Riau ) dibangun raja Sri Cudamaniwarmadewa ( Sriwijaya, tahun 1003 ) untuk kaisar China. ( foto : wisatamelayu )

Kemunduran Sriwijaya dimulai sejak serangan raja Teguh Dharmawangsa ( Jawa, 990 M ), lalu serangan raja Rajendra Chola I ( Koromandel, India, 1025 M ), menyusul serangan kerajaan Dharmasraya ( 1183 M ), lalu diserang Singosari ( 1290 ) dan terakhir ditaklukkan kerajaan Majapahit ( Jawa Timur, 1377 M ) dalam upaya menyatukan nusantara ( Sumpah Palapa, Gajah Mada ). Antara tahun 1377-1512 M, Sriwijaya sempat dikuasai perompak China, sampai Chengho datang memerangi mereka.

Tahun 1293, muncul Majapahit, pengganti Singosari. Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi naik tahta dan menugasi Adityawarman ( peranakan Melayu dan Jawa ) untuk menaklukkan Swarnnabhumi ( 1339 M ). Nama Sriwijaya tak disebut lagi, diganti nama Palembang. Tahun 1347, menjadi Malayapura, di bawah dinasti Mauli. Tahun 1409, ditaklukkan kembali oleh Majapahit. Sebagian bangsawan Sriwijaya pindah ke Malaka ( Tumasik ).

Faktor kemunduran Sriwijaya : perubahan alam sekitar Palembang, sungai menjadi dangkal karena endapan lumpur sehingga kapal sulit merapat ke pelabuhan, terbukanya Selat Berhala menjadikan posisi Jambi lebih strategis dari Palembang, Sriwijaya hanya memiliki angkatan laut yang bisa diandalkan, sehingga terpaksa berbagi hegemoni dengan Airlangga, Jawa Timur yang memiliki pasukan tangguh di darat, serangan beruntun dari kerajaan2 pesaing akhirnya menumbangkannya. Peninggalan2 Sriwijaya banyak dijarah dan dibenamkan dengan alasan ekonomi dan teologi sehingga sulit menemukan jejak kejayaan Sriwijaya pada masa kita.

Malaka menjadi koloni Portugis ( 1511 M ) dengan kekuatan militer. Sultan terakhir lari ke Kampar ( Sumatera ) dan wafat di sana. Putranya pergi ke utara Semenanjung Malaysia dan mendirikan Kesultanan Perak. Putra lainnya ke selatan, melanjutkan Kesultanan Malaka Tua ( kini dikenal Kesultanan Johor ). Setelah Malaka jatuh, kontrol atas Selat Malaka diperebutkan antara Portugis, Kesultanan Johor dan Kesultanan Aceh.

Peperangan berakhir tahun 1641, ketika Belanda ( bersekutu dengan Kesultanan Johor ) mengambil alih Malaka. Tahun 1824, Inggris mengambil alih Malaka, melalui perjanjian dengan Belanda. Pemukiman Selat yang kemudian dibentuk, memiliki 3 pelabuhan : Singapura, Penang dan Malaka.

Warisan Sriwijaya : bahasa & bangsa yang besar.

Warisan terpenting Sriwijaya adalah bahasa yang digunakan di berbagai bandar dan pasar. Hubungan dagang menjadi wahana penyebaran bahasa Melayu Kuno ( leluhur bahasa Melayu ( bahasa nasional Malaysia ) dan bahasa Indonesia ( bahasa nasional kita )). Sebagai alat komunikasi kaum pedagang dari berbagai suku bangsa di nusantara, bahasa Melayu kemudian menjadi lingua franca ( penghubung ), yang digunakan secara luas oleh banyak penutur.

Samaratungga ( 792-835 M ), berbeda dengan pendahulunya yang ekspansionis, memilih memperkuat penguasaan Sriwijaya atas Jawa. Raja dari wangsa Syailendra ini membangun Candi Borobudur ( 825 M ), Candi Kalasan, Candi Sewu, dari batu andesit. ( candi Budha yang dibangun di Sumatera dari bata merah : Candi Muaro Jambi, Candi Muara Takus, Biaro Bahal ). Arca Budha dan Bodhisatwa Awalokiteswara ditemukan di Bukit Seguntang, Jambi, Bidor, Perak dan Chaiya, menampilkan keanggunan khas seni Sriwijaya, yang diilhami langgam Amarawati, India dan Syailendra, Jawa.

Keluhuran Sriwijaya menjadi inspirasi seni budaya, seperti lagu dan tari tradisi Gending Sriwijaya. Tari Sevichai ( Sriwijaya ) diciptakan kembali oleh masyarakat Thailand selatan, berdasarkan keanggunan seni Sriwijaya.

Sriwijaya adalah sumber kebanggaan nasional dan segenap bangsa Melayu. Bukti kejayaan masa lampau Indonesia. Identitas daerah bagi penduduk kota Palembang, Sumatera Selatan. Diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, universitas ( Universitas Sriwijaya, sejak 1960 ), unit komando militer ( Kodam II Sriwijaya ), perusahaan pupuk ( PT. Pupuk Sriwijaya ), harian umum ( Sriwijaya Post ), televisi ( Sriwijaya TV ), maskapai penerbangan ( Sriwijaya Air ), stadion ( Gelora Sriwijaya ), klub sepakbola ( Sriwijaya Football Club ), dll.

Negara kesatuan, kebanggaan bangsa. Bercerminlah ..

Sriwijaya dan Majapahit menjadi referensi kaum nasionalis abad 20 untuk menunjukkan Indonesia sebagai negara kesatuan sejak dahulu kala. Persatuan politik raya, berupa kemaharajaan ; persekutuan kerajaan2 bahari yang bangkit, tumbuh dan berjaya di masa lalu.

Menengok sejarah nenek moyang kita, anda percaya kita bangsa yang besar ?

Raja muda Khmer ( Kamboja ) pernah membual ingin menyantap kepala maharaja Sriwijaya di piringnya. Tak lama, Sriwijaya menyerang Khmer, memenggal kepala si pembual, membalsemnya, mengirimnya dalam kuali, sebagai peringatan bagi pengganti raja naas itu. Jayawarman II dibawa ke istana Syailendra ( di Jawa ) untuk dididik menjadi raja Khmer yang benar.

Kisah mendebarkan ini terjadi tahun 851 M, ketika Borobudur dibangun ( masa keemasan Sriwijaya ). Ditulis seorang Arab bernama Abu Zaid Hasan dari cerita pelayaran seorang pedagang bernama Sulaiman. ( tahun 2011, Indonesia menjadi penengah konflik perbatasan Kamboja – Thailand )

Hari ini, ketika aparat negara tetangga memprovokasi perbatasan ( kedaulatan ) NKRI, apakah kita masih besar ? Negara2 asing menguras kekayaan alam dan laut Indonesia ( sampai anak cucu kita yang belum lahir pun terjerat hutang ), apa kita masih besar ?

( Kongres Luar Biasa PSSI, 9 Juli 2011, berjalan lancar ( geuning bisa ). Terima kasih pada Pak Agum Gumelar dan Komite Normalisasi PSSI, serta warga Solo ( I know, we can count on you ). Selamat bekerja pada Ketua PSSI baru, Pak Djohar Arifin Husein beserta jajarannya. Indonesia – Turkmenistan : 4 – 3 pada laga pra-Piala Dunia 2014 ( 28/7/2011 ). I love it. Well, .. it’s a good start ).

Leluhur kita, sangat dipandang oleh bangsa2 Asia Tenggara, China, India dan Arab. Dua populasi manusia terbesar di dunia melalui halaman rumah kita ( Selat Malaka : Singapura, Penang, Malaka, Selat Karimata, Selat Sunda, Laut Jawa, Laut China Selatan ). How rich we were. How strong we will ..

About these ads

Written by Savitri

5 Agustus 2011 at 20:07

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. pemimpin itu, harus TEGAS, JUJUR dan MENGERTI. dahulu, pemimpin-pemimpin bersifat seperti ini. sekarang…? negara diinjak-injakpun pemimpin pura-pura tidak tahu. seperti kutipan di atas “Raja muda Khmer ( Kamboja ) pernah membual ingin menyantap kepala maharaja Sriwijaya di piringnya. Tak lama, Sriwijaya menyerang Khmer, memenggal kepala si pembual, membalsemnya, mengirimnya dalam kuali, sebagai peringatan bagi pengganti raja naas itu”.

    Tama Bin Ponidi

    11 November 2012 at 11:08

  2. @ Kia : Trims. Benang merah dari tulisan2 saya di blog ini adalah nasionalisme, sejarah dan seni budaya. Kita mengharapkan generasi berikut lebih baik, lebih diandalkan untuk menjaga Indonesia. Saya juga berharap, banyak media lain, acara televisi, film bioskop, buku, novel, majalah, koran, radio, dsb, mengusung tema yang membangkitkan kecintaan terhadap tanah air. Film tentang kerajaan dan sejarah Indonesia ? Hmm, saya juga menantinya .. ( impian saya bisa terlibat, bahkan memproduserinya suatu saat nanti ).

    Savitri

    26 Oktober 2012 at 03:57

  3. Bagi penulis sangat mengispiratif dan menjadi refrensi yang baik untuk membuka kembali kenangan masa lalu dan membuat kita menyadari Indonesa Besar dan bangun dari “Nina Bobo” yang panjang. So selanjutnya bagaimana membuat Para Pemuda dan Mahasiswa serta kaum terpelajar di Indonesia menghargai Sejarah dan mau mempelajari serta membacannya. Perlu trik cerdas mengemas sejarah agar blog ini semakin ramai dikunjungi dan penulis bisa memberikan data-data yang valid dan menggugah setiap pengunjung yang mampir. Trik untuk membuat pelajaran sejarah menjadi menarik tanpa perlu menghafal karena sejarah identik dengan menghafal andaikan para Mahasiswa IT dan Multimedia mau eluangkan sejenak untuk membuat video tentang sejarang dengan slide2 gambar masa lalu mungkin pelajaran sejaran tak akan membosankan di Kelas banhkan para Siswa aka lebih mencari video alternatif untuk untuk ditinton, bacaan alternatif yang dibaca mencintai komik sejaran, buku sejarah dan bahkan mungkin suatu saat nanti akan ada film tentang kerajaan dan sejarah indonesia. Amiinnn

    Kia Rebelina

    2 September 2012 at 13:11

  4. Sepertinya ada kekuatan pada saat itu,yg sengaja menghilangkan situs atau jejak sejarah leluhur bangsa ini,oleh siapa lagi jika bkn belanda,yg kemungkinan besar,tujuannya adalah”lupakan jika leluhur Indonesia adalah bangsa yg kaya raya”dan kekayaan itu tlh pindah jauh ke negeri eropa atau barat

    Aku gaptek

    6 Juni 2012 at 20:43


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.