Arsip untuk Desember 2011
Nurani vs materi : Mesuji, Papua, Somalia, PSSI, KPK baru & 4 kasus besar, Wa Ode. Who win ?

Perkebunan kelapa sawit membutuhkan lahan ribuan hektar. Ketamakan pengusahanya acap kali menyengsarakan komunitas warga yang sudah lebih dulu ada di sana. Belum lagi kita bicara kerusakan ekosistem, terbabatnya hutan tropis, yang menyebabkan banjir di mana2. Pemanasan global karena emisi gas buang melebihi ambang batas ( ada yang bilang, variasi iklim : periode bumi mengalami iklim terpanas dalam rentang iklim. Ribuan tahun lalu pernah juga terjadi ) telah menyulitkan petani dan nelayan ( mayoritas penduduk Indonesia ) menanam padi dan menangkap ikan karena cuaca tak bisa lagi diprediksi. Cuaca cerah bisa mendadak berubah hujan lebat dan ombak besar menggulung. Padi membusuk dan kapal tenggelam. Bagaimana kalau penderitaan ini ditambah perampasan lahan warga yang dilegalisasi negara ? Warga diusir, diintimidasi, dipenjara, ditembak, bahkan dipenggal. Lebih 102 kasus lahan sengketa seperti ini dibiarkan selama lebih 17 tahun di seluruh Indonesia ? Kemana perginya nurani ?
Kelapa sawit. Banyak disebut orang belakangan ini. Dalam kasus Nunun ( pengusaha kelapa sawit ), almarhum Ferry Yen ( pembeli lahan kelapa sawit ), pembantaian di Mesuji ( sengketa lahan perkebunan kelapa sawit ). Ada apa dengan varietas unggulan ini ?
Indonesia dikritik aktivis lingkungan dunia, karena mengganti sebagian kawasan hutan tropisnya ( terluas di dunia setelah Brasil ) dengan kelapa sawit yang butuh lahan ribuan hektar ( agar menguntungkan investor ). Paru2 dunia menciut, dan warga sekitar sengsara akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Apalagi dalam penanamannya, tidak menghiraukan warga yang sudah ada di lahan2 tsb. Pranata adat versus legalisasi hukum ( UU no 18 tahun 2004 tentang Perkebunan ). 30 korban tewas, 120 warga di penjara. Korban yang trauma ditembaki membabi buta ( Lampung, 6 Nov 2010, Sodong, 21 April 2011, Mesuji, 10 Nov 2011 ), diintimidasi, dikriminalisasi, dipenjara, bahkan disembelih agar tidak bersuara. Apa mereka menyerah ?
Mesuji : dukamu.
Siapa sih yang bisa membungkam rakyat kalau sudah marah ? Rekaman penjagalan berdurasi sekitar 2 menit pun mereka bawa ke Komisi III DPR-RI. Anggota dewan datang mengumpulkan data ke lokasi. Polisi membantah memenggal. Warga membantah rekaman tsb direkayasa. Negeri ini pun heboh.
Komnas HAM menyesalkan, rakyat bisa dilecehkan sedemikian rupa, dan negara melegalisasinya. ( BPN Lampung hanya menonton tragedi kemanusiaan akibat kelalaiannya itu ). Azhar Ethikana, tokoh Mesuji, Lampung dan Mukri Priatna, investigator Walhi untuk kasus Mesuji, menjelaskan 3 lokasi pembantaian tsb kepada pemirsa TVOne. Mukri bilang, pihaknya siap jika diminta mengukur lahan yang disengketakan. Wanmauli, ketua adat Megoupak, Lampung mengatakan, lahan seluas 33.500 di register 45 ( hutan negara pada jaman Belanda ), mengapa bisa berubah menjadi 43.100 hektar pada tahun 2004 ? ( tanpa ijin warga ).
Mayjen Purn. Saurip Kadi, jubir Koalisi Kemanusiaan & Korban Lampung, yakin yang dipenggal adalah warga Indonesia, bukan Thailand. Anak wak haji turun dari motor untuk bertanya, kok ditembak ( dan disembelih ). PT.BSMI ( Malaysia ? ) kok bisa2nya dibiarkan memelihara lebih 100 pamswakarsa ( preman ? ) selama 2 tahun lebih ? 2 polisi yang menembak pun hanya dikenai sidang disiplin ( kurungan 14 hari ), bukan hukum pidana ( bisa jera ? ).
Johny Nelson Simanjuntak, komisioner Komnas HAM, mengatakan ( Kabar Petang TVOne, 18/12/2011 ) bahwa selama puluhan tahun ada praktek tak terpuji dari oknum aparat ( terindikasi Polda Lampung, Brimob, pamswakarsa, marinir ? ) : membiarkan warga yang terusir, kembali masuk lahannya untuk menanam jagung, kelapa sawit, dll. Setelah panen, warga diusir lagi, dan panen tsb dirampas oknum2 tsb. Ada juga kebiasaan buruk di pemda : menunjuk lahan2 warga Pelita Jaya, Sri Tanjung, Setajin, Suku Agung, Talang Batu, dll, ketika investor datang mencari lahan perkebunan sawit dan perluasannya, tanpa berdialog ( ijin ) warga.
Kementerian Kehutanan memberikan tanpa crosscheck lagi, juga Badan Pertanahan Nasional ( BPN ) Lampung. Para perambah hutan ( pendatang ) membuat sertifikat ( lahan warga ada diam2 dirampas ). Perhutani lalu menyerahkan lahan pada investor ( perusahaan ) juga tanpa mengecek kredibilitasnya ( seperti PT.SWA yang ternyata tak bonafid di negerinya ).
Adang Daradjatun menawarkan solusi agar RUU Penyelesaian Konflik Sosial segera disahkan menjadi UU, sehingga ada payung hukum untuk kasus2 seperti ini. Ada tim yang dibentuk, hukum seperti apa nyatanya. Juga untuk melihat mana dari 3 tim yang turun ke Mesuji ( TPF bentukan pemerintah, Komisi Hukum DPR, Komnas HAM ) yang paling kredibel jika keterangan ketiganya bertentangan. Narasumber lain usul, Komnas HAM yang lebih didorong, dengan back-up 2 tim lainnya. Komnas HAM tidak hanya mengurusi masalah sipil politik. Tapi juga ekonomi, sosial, budaya masyarakat.
TPF diketuai Denny Indrayana, diwakili Ifdhal Kasim ( ketua Komnas HAM ) yang bekerja 30 hari, diharapkan bisa menginvestigasi kasus Mesuji dengan benar agar pemerintah bisa memberi kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan. Sebagian pihak meragukan kemampuan Denny, terlebih setelah ide pengetatan remisi koruptor yang menyebabkan Paskah Suzeta ( terpidana Rp 600 juta cek pelawat ) batal menghirup udara bebas. Celah impeachment ?
Saya pikir nawaitu ( niat, istilah Denny spirit ) perlu dipertimbangkan ketika kita menjudgement seseorang. Doktor hukum berusia 38 tahun ini juga dikritik terlalu banyak bicara ke media. Melihat backgroundnya yang mantan aktivis, saya mengerti jika Denny terbiasa dekat dengan massa dan tergerak memberi informasi sejelasnya sebagai pejabat publik. ( ingat, betapa rindunya kita dulu pada transparansi dan keterbukaan informasi publik ). Melihat potensi, keberanian dan niat baiknya, saya memilih memberi kesempatan pada Denny membuktikan kemampuannya, termasuk memimpin TPF Mesuji. ( seraya terus belajar dan menyimak input dari rakyat ). Alhamdulillah, sesuatu .. ( versi Syahrini ).
12 Januari 2012, akan ada demo massa di Jakarta menuntut reformasi aturan Agraria, juga daerah lain. Para petani Pulau Padang yang menjahit mulut di depan gedung DPR lebih dari 2 minggu apakah didengar anggota dewan dan pemerintah ? ( agar konsesi lahan swasta yang menyengsarakan mereka dicabut ). Kita lihat kepekaan nurani mereka.
Pekerja Freeport : senyummu.
Para pekerja yang berdemonstrasi menolak revisi UU Ketenagakerjaan ( soal pemotongan pesangon ) mengerumuni gerbang masuk kompleks DPR. Setelah beberapa waktu, gerbang akhirnya dibuka. Anggota dewan bersedia menemui perwakilan demonstran. Terlihat para pengunjuk rasa berhamburan masuk dengan wajah berseri ( antusias ). Terselip rasa haru ketika itu. Wakil rakyat mulai mendengar ( dekat dengan ) rakyat. Petang, saya lihat di running text : Sidang Paripurna DPR memutuskan mencabut revisi UU tsb. Duh, gimana rasanya .. ( tak terlukiskan ).
15/12/2011, pihak manajemen juga mengabulkan tuntutan pekerja Freeport : kenaikan gaji 40 % ( 27 % dan 13 % di tahun berikutnya ), menyilakan mereka kembali bekerja ( 17/12/2011 ) sehingga Natal & Tahun Baru nanti mereka bisa merayakan dengan uang yang diberikan ( gaji yang tertahan selama berdemo ? ). Mungkinkah, pada akhirnya PT.Freeport bisa jadi ‘single parent’ ( istilah Marzuki Darusman, komisaris Freeport, yang mantan Jaksa Agung dan Ketua Komnas HAM ) yang baik untuk warga Timika, terutama para pekerja tambang ?
Masih banyak pekerjaan di Papua menuju kondisi yang kita dambakan bersama. Tapi, penyelesaian seperti ini ( melibatkan berbagai komponen bangsa ) adalah awal yang baik. Papua kembali kondusif dan akan mengadakan pilkada pertengahan Januari 2012. BNN akan membangun 5 gedung baru di Papua. Saya lihat, sang negosiator ( ketua SPSI Freeport ) disambut sukacita oleh rekan pendemo yang berbusana adat khas Papua dan dikirab menuju markas mereka. Oh, so sweet… Selamat, ya ..
PSSI : kisruhmu
Persib didenda Rp 1 miliar oleh PSSI karena keikutsertaannya di ISL ? Pengprov DI Yogyakarta bersama 400 pengprov dan klub sepakbola semalam ( 18/12/2011 ) Rapat Akbar Sepakbola Nasional. Dengan 2/3 pengprov mereka bisa menggelar KLB. Rahmad Darmawan mengundurkan diri sebagai pelatih timnas U-23. Asosiasi Pemain Sepakbola Indonesia mengajukan 3 tuntutan. PSSI kisruh lagi ? Ada dualisme kompetisi. LPI dan ISL pisah lagi ? Pemain yang merumput di ISL, oleh karenanya tak bisa masuk squad timnas sepakbola Indonesia. Wah, kalau begini, timnas Malaysia bisa bikin timnas kita keok lagi. Pelatih berikutnya bisa mundur lagi. Hmm ..
Mungkinkah semua klub di LPI dan ISL berada di PSSI dengan cara menggelar satu kompetisi yang dibagi 2 wilayah ? ( Barat dan Timur ). Nantinya, 9 klub terbaik di Barat dan 9 klub terbaik di Timur masuk liga utama PSSI. Tahun berikutnya, kompetisi bisa berlangsung seperti biasa. Ini seleksi lebih adil ketimbang masuk begitu saja ke liga utama PSSI tanpa kompetisi. Can we do that ?
Nunun : nasibmu.
Di “Tokoh”-TVOne ( 15/12/2011 ), suami Nunun Nurbaeti ( NN ), Adang Daradjatun, mengatakan ( kalau saya tak salah tangkap ) : Nunun takkan mau membantu Miranda Goeltom ( MG ) kalau tahu akan diperlakukan seperti ini. Kondisi perusahaan NN baik saat itu ( 2004 ). Catatan kesehatan NN dibuat 6 tahun lalu. NN pernah stroke ( 2002 ). Waktu berobat ke Singapura, Adang sudah memberitahu kedubes dan KPK. Tapi, sebuah media memergoki dan menggambarkan NN seperti itu. Rasa tak enak dan tak percaya itulah yang membuat NN memilih melanglangbuana ke berbagai negara daripada kembali ke Indonesia dan dipersalahkan sebagai pelaku utama. Adang ingin kesamaan dan kesetaraan para pelaku dalam kasus cek pelawat yang menjerat NN. Adang ingin NN dihukum ringan, kalau bisa bebas, karena perannya hanya memperkenalkan MG ke anggota dewan.
Namun di koran PR ( 29/1/2011 ) disebutkan :
- 29 Mei 2004, Tjahjo Kumolo memberi arahan agar anggota PDIP memilih MG sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia ( DGS ). Saat itu, Panda Nababan ditunjuk sebagai koordinator pemenangan.
- 8 Juni 2004, setelah MG terpilih sebagai DGS, Dhudie Makmun Murod ( kini divonis 2 tahun penjara ) dihubungi Panda ( kini di lapas Salemba, karena menerima Rp 1,45 miliar / cek pelawat ) melalui telpon untuk menemui Ahmad Hakim Safari alias Arie Malangjudo yang menyerahkan titipan dari NN berupa cek pelawat BII ( diterbitkan atas pesanan Bank Artha Graha ) senilai Rp 9,8 miliar. Dari 473 lembar cek pelawat senilai Rp 23, 65 miliar, sebanyak 20 lembar ( senilai Rp 1 miliar ) diterima dan atau dicairkan oleh Sumarni, sekretaris NN.
- 26 Agt 2008, Agus Condro, mantan anggota Komisi Perbankan DPR periode 1999-2004 mengaku menerima 10 lembar cek pelawat senilai Rp 500 juta. Agus Condro, si whistle blower itu, menjadi orang pertama yang dipenjara KPK dan ditahan di rutan Salemba.
- November 2009, KPK memeriksa NN yang lebih banyak mengaku tidak tahu.
- Maret 2010, KPK meminta Ditjen Imigrasi untuk mencegah NN dan Arie ke luar negeri.
- 1 Sept 2010, KPK menetapkan 26 tersangka ( mantan anggota Komisi IX DPR-RI 1999-2004 : 10 politisi Golkar, 14 anggota PDIP dan 2 orang PPP ).
- NN tiga kali tidak datang ketika dijadwalkan diperiksa oleh KPK. Alasannya, berobat ke Singapura sejak Februari 2010. NN dinyatakan sakit ingatan ( dementia ? ) dan dirawat di RS. Mount Elizabeth, Singapura.
- 16 Nov 2010, Ditjen Imigrasi KemenkumHAM mencekal MG ke luar negeri.
Mungkinkah NN dikenai pasal gratifikasi ( seperti diharapkan pihak keluarga ) setelah menerima cek senilai Rp 1 miliar ( secara sadar tak mengembalikan uang yang beda2 tipis dengan yang diterima Panda ) dan buron hampir 2 tahun ( yang bikin kita semua blingsatan ) serta masih sakit, pingsan dan tutup mulut tentang pelaku di atasnya sampai sekarang ? Kita lihat tajamnya pisau keadilan KPK yang baru membedah kasus ini.
4 kasus besar KPK : rahasiamu.
Dalam ILC ( 6/12/2011 ), terungkap modus rampok ( berulang ) dana LPS ( Lembaga Penjamin Simpanan, uang nasabah/ rakyat ) yang dilakukan oknum BI dengan memelihara bank gagal sampai saatnya ‘pemutihan’ ( krisis ekonomi, dampak sistemik, bail-out ) oleh bankir maling dan pengusaha hitam ( bisnis fiktif, surat fiktif, rekening fiktif ). Dalam RDP-DPR Pansus Century, ada orang BI yang terpojok bernyanyi : biasa, orang2 partai minta2 ( dana ) ke BI.
Sabar Anton Tahihoran, pengawas di BI saat CIC merger dengan Bank Century. Robert Tantular ( RT ) bilang MG adalah informan terbaiknya di BI. RT yang membiayai dana kampanye MG. RT juga dekat dengan Anwar Nasution dan Aulia Pohan. Rafat Ali Rivzi dan Hesham AI Warraq hanya memegang 10 % saham B.Century. RT yang punya aset pengendali dan akses ke bank tsb. Kakak RT pernah terkait kasus gagalnya Bank Central Dagang. Rafat terakhir ke Indonesia ( 16/12/2009 ), mengira Sinar Mas mau membantu. Kini, dia tinggal di Singapura dan London. Katanya, penjahat sebenarnya adalah RT dan kroninya, yang menyebabkan uang Hesham dan Rafat ( keduanya terpidana in absentia di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat selama 15 tahun, tapi Hesham-Rafat menang di Pengadilan Arbitrase Internasional ) hilang juga. Sri Mulyani dan Boediono hanya korban, kata Rafat dalam wawancara di Singapura ( Metro Hari Ini, 24/12/2009 ).
Sejumlah narasumber ( Apa Kabar Malam, TVOne, 11/12/2011 ) bertanya-tanya : untuk apa ( NN mau berurusan dengan cek pelawat ) dan missing link ( Ferry Yen wafat 4 tahun lalu ). Do you know what ? NN menyanggupi permintaan sahabatnya ( MG ) untuk mengenalkannya pada anggota dewan ( sayangnya, sahabat ini lalu meninggalkan NN menjadi tersangka dan buronan interpol, sementara MG leluasa melenggang sebagai saksi, kabarnya sekarang ada di Bali ).
Karena gaji MG mentok hanya Rp 15 miliar ( Rp 250 juta perbulan ) jika tidak diutak-atik selama 5 tahun, padahal cek yang ditebarkan sebesar Rp 23,65 miliar. Tekor, dong. Nah, di sini, peran RT dan para maling necis sejenisnya, yang selama ini memanfaatkan jasa MG memberi bagian rampokan agar simbiosa mutualisma merampok uang rakyat ini tetap terjalin. Terbelilah cek, terpilihlah MG. Lalu, kemana sisa uang Gayatri dkk ( juga bail-out ) ? Ada di parpol, kata Fajroel. ( juga bankir maling, pengusaha hitam ).
Kegiatan memobilisasi dana tentu dilaporkan ke atasan ( sepengetahuan ketua parpol ). Jika kesalahan anak buah terjadi, pemimpin ( ketua ) yang terbesar mengambil tanggung jawab. Juga, ketika tim sukses pemenangan meraup dana siluman ( belum diaudit, tidak dilaporkan ke KPU ). Anda mulai ngeri kemana kasus ini akan berakhir ? ( jika hukum benar2 ditegakkan ).
Entah wisdom macam apa yang harus kita gunakan untuk melihat kasus ini ( agar Indonesia survive ). Dilema bak simalakama inilah yang mesti diselesaikan dalam setahun oleh pimpinan KPK yang baru. ( periode 2011-2015, Abraham Samad, Busyro Muqoddas, Bambang Widjojanto, Zulkarnain dan Adnan Pandu Praja ). Setidaknya satu ( per tahun ) dari 4 kasus besar : BLBI, Century-gate, cek pelawat MG dan Nazaruddin. Selamat bertugas. Semoga kalian kuat mengemban amanah rakyat. Jadikan nurani sebagai panglima. Jangan biarkan Sondang Hutagalung membakar diri sia2 ( tak didengar ), sang juara matematika, Christopher, tewas ditusuk sia2 ( tak terlindungi ), warga Mesuji dipenggal sia2 ( teraniaya ) , 417 TKI terlunta di depan algojo asing ( tak terhidupi di tanah air ), dst, karena uang rakyat ludes dikorupsi. Don’t let these happened. No more.
Somalia : harapanmu.

Perairan rusak bisa dipulihkan dengan penyehatan terumbu karang. I Wayan Patut dengan Terumbu Karang Asuh-nya telah membuktikan. Terumbu sehat, ikan bermunculan dan nelayan tersenyum kembali. Di seting Somalia, bisa jadi kelaparan dan kemiskinan sirna. Warga tak lagi berperang atau merompak kapal yang lewat. Mantan lanun bisa menangkap ikan dan menjualnya ke kapal asing, seperti yang dilakukan warga kita di perbatasan ( Natuna. Mereka bilang, butuh permodalan dan gudang penyimpanan ) dengan kapal ikan dari Hongkong. Halal. PBB sudah membantu 1,5 miliar USD untuk rakyat Somalia. Pasukan Kenya dan Indonesia sudah dikirim untuk menjaga keamanan di sana. Tinggal seorang seperti Patut lagi, mau merintis penyehatan perairan di Somalia. Atau Somalia punya generasi muda yang bisa diandalkan melakukannya ? ( foto : indonesiarevive )
Nemo ternyata butuh tempat bersembunyi agar sempat beranjak dewasa dan beranak pinak. Terumbu karang, tempatnya bermain petak umpet dengan ikan besar pemangsa. I Wayan Patut, aktivis lingkungan di Pulau Serangan, Bali, membuatkan terumbu karang bagi ikan badut oranye bersama teman-temannya. Terumbu karang yang asli habis dijual oleh nelayan yang kehabisan ikan setelah pantai mereka direklamasi ( 1992 ). Ekosistem laut terganggu, terumbu karang rusak dan ikan menghilang.
Dalam sebulan, nelayan bisa meraup Rp 15 juta dari penjualan terumbu karang. Namun, tak lama lagi terumbu karang itu akan habis. Anak cucu mereka tak mendapat apa pun. Wah, jangan sampai. Untung, ada penyelamat lingkungan bernama Patut. Bagaimana bisa seorang Patut menjaring nelayan mengikuti jejaknya ? Padahal mereka sebelumnya ngebet mencongkel terumbu karang untuk membuat dapur mereka tetap ngebul.
Rahasianya, pada anak2 yang masih polos dan mendengar ( jika ingin merubah dunia, mulailah dari anak2, kata Mahatma Gandhi ). Anak2 ini belajar di rumah Patut, di Banjar Kaja, Desa Serangan, dengan materi khusus : cara menanam terumbu karang. Mereka praktek membuat media untuk transplantasi terumbu karang dan menanamnya di dasar laut. Cerdiknya Patut, terumbu karang yang ditanam dipasangi label plastik bernama anak yang menanamnya. Sehingga si ortu batal mencongkel karang hasil tanam anaknya sendiri.
Barulah sang ayah tersentuh dan bergabung dengan kelompok nelayan “Karya Segara” ( berdiri tahun 2003 ). Hasil budidaya terumbu karang dan penangkapan ikan hias cukup memenuhi kebutuhan keluarga nelayan sehari-hari. Tahun 2009, Patut membuat program Terumbu Karang Asuh. Dicari bapak asuh yang mau membeli terumbu karang dan menanamnya. Cukup menyumbang Rp 2,5 juta per bapak asuh ke Karya Segara. Disusul paket reef ball ( bola beton berongga berdiameter 60-100 cm untuk media tanam terumbu karang ) seharga Rp 5 juta. Sudah terjual sekitar 60 unit untuk konservasi di Nusa Dua, kabupaten Badung ( Kompas, 12/8/2011 ).
Bekerja sama dengan agen wisata, Karya Segara berhasil menggaet 400 wisatawan per bulan untuk menanam terumbu karang dan melepas kuda laut. Juni 2011, perjuangan gigih Patut dan kelompok Karya Segara dihargai Kalpataru. Kerusakan seluas 5 hektar bisa terselamatkan 1,8 hektar. Patut juga dipercaya kaum nelayan mewakili mereka menghadiri forum internasional, seperti di Afrika Selatan dan Jepang. Ia juga sering diminta menjadi fasilitator program konservasi terumbu karang di Bali, NTT, NTB, dll.
Satu bukti, LSM ( tempat Patut menimba banyak informasi dan mengenal banyak orang ) menjadi salah satu komponen pembentuk masyarakat madani. Kiprah mereka mensejahterakan masyarakat patut diapresiasi. Apakah warga Somalia yang kelaparan karena tanah dan laut mereka rusak bisa belajar dari kegigihan dan prestasi seorang Patut ? ( lulusan SMEA Negeri Denpasar ). Adakah Patut berikutnya yang berbuat patut di antara para bajak laut Somalia ?
Wa Ode : semangatmu.
Wa Ode Nurhayati yang ditetapkan tersangka oleh KPK, membantah memiliki rekening Rp 50 miliar dan mempersilakan KPK memblokir ( menyelidiki ) rekening tsb. Saya tahu rasanya, ketika berusaha mengungkap kebenaran, tapi karena lebih banyak orang yang terlibat dan masa bodo ( atau pengecut ) maka pengungkapan itu mereka putar balik menjadi serangan dan fitnah ke saya. Sepertinya, dunia ini diisi 10 % pejuang kebenaran, 10 % penjahat tamak dan 80 % orang biasa ( silent majority, do nothing, hanya memikirkan diri dan keturunannya ) karena berorientasi materi ( hedonis ) atau menjadi civil society ( masyarakat madani ) ketika berorientasi nurani.
Great people thinking ideas. Average people talking things. Small people drinking wine. Kita tahu mainstream dunia saat ini ( kapitalis, liberal ). 1 % bankir zionis menguasai hajat hidup 99 % rakyat Amerika ( yang dikelabui pemerintahnya yang gemar berperang ). Mereka sedang bergerak menuntut keadilan dengan menduduki Wall Street. Kita ( pejuang kebenaran ) di Indonesia yang terimbas mahzab sekuler ini harus mengeluarkan effort luar biasa ( dengan mental baja ) agar lepas dari jaring2 gurita ( kapitalis ) yang meracuni hampir setiap lini kehidupan.
Jika Wa Ode sudah tersangka, siapa tahu bisa bernasib seperti Agus Condro ? Niat baiknya mengungkapkan skandal cek pelawat diapresiasi ( Denny pernah bicara reward untuk para whistle blower ) sehingga kemarin Agus bisa kembali leluasa ( dan tenang ) diwawancara penyiar TVOne di Kabar Petang. Saya lihat getar ekspresi Wa Ode. Antara ngeri dipojokkan ( dan ditinggalkan ) dan tekad nahi mungkar yang diperintahkan Allah. Which one will you choose ?
Menjadi idealis memang kerap sport jantung. Mungkin usaha membongkar ( dugaan ) korupsi di Badan Anggaran DPR RI saat ini, episode mendebarkan dalam naskah kehidupan Wa Ode. Tapi yakinlah, sebagai pekerja Allah, pada akhirnya Beliau akan menolong. Be strong .. ( you’ll be okay ).
One man ( person ) with a belief is equal to a social power of ninety-nine who have only interest, Stuart Mill said. Cukup satu orang untuk merubah dunia, versi sebuah iklan minuman. Tantangannya : membawa 80 % yang terombang-ambing bak buih ini ke kubu nurani. Is it you ?
Membangkitkan Nasionalisme di Papua

Kemegahan opening & closing ceremony SEA Games ke-26 di Gelora Sriwijaya, Jakabaring Sport City, Palembang, masih terpatri kuat di benak kita. Menyemangati kita untuk menjadi bangsa yang besar dan kuat. Terima kasih pada warga Palembang, Gubernur Sumsel ( Alex Noerdin ) dan penyelenggara ( INASOC dkk ). Kita bangga, Indonesia bisa menyajikan itu pada bangsanya sendiri dan bangsa2 Asia Tenggara. Indonesia juara umum. Hore ! Medali emas sepakbola masih terlepas dari timnas kita dengan skor adu penalti 4 : 5. Dengan Malaysia ( again ? ). Padahal secara kualitas, atlet kita lebih baik. Mental perlu dilecut lagi. Segitu horor-kah ( beringas ) penonton kita ? Kabarnya, lapangan bola akan dibangun di tiap kecamatan untuk menjaring bibit2 unggul harapan bangsa. Dalam sektor ini, Boaz, trio Papua dkk, mampu berbicara lebih banyak. Mereka seperti dilahirkan untuk bermain bola. Siapa tahu, nasionalisme di dada orang Papua berangkat dari sini. Kalian dengar riuh puluhan ribu warga RI mengelu-elukan kalian ? Feel good, right ? Dalam kebersamaan dan kesejahteraan, orang Papua akan sebangga kita setiap menyaksikan perhelatan akbar Indonesia di mata dunia. Let's do it..
Opening Ceremony SEA Games ke-26 spektakuler. Langit Palembang, tempat imperium Sriwijaya pernah 400 tahun berjaya, malam itu bercahaya. Megah. Apakah Papua juga melihatnya ?
Tentu saja. Duduk para gubernur dari 33 provinsi di tribun menyaksikan. Termasuk gubernur Papua ( dan Papua Barat ). Kami masih NKRI, tertulis di spanduk karyawan ( SPSI ) Freeport. Tahun 1969, kami sudah NKRI. Kalian ( aparat, pemerintah pusat, sebagian warga RI ) yang belum menganggap kami NKRI, kata tokoh Papua. Lho ?
Fakta Papua sudah NKRI
15 Agustus 1962 ( Persetujuan New York ), UNTEA – PBB ( United Nations Temporary Executive Authority ) menyerahkan pemerintahan Papua pada Indonesia. Brigjen Sarwo Edhie Wibowo memimpin Operasi Sadar sebagai Panglima Kodam Cenderawasih, merangkul warga Papua dan para kepala adat agar memilih Indonesia. Dibantu warga sipil, beliau juga berupaya mensejahterakan rakyat Papua, menghadang gelombang masuknya penduduk Papua Nugini dan menumpas OPM.
Sebelum akhir 1969, hak semua penduduk dewasa, laki dan perempuan untuk ikut serta dalam penentuan pendapat rakyat ( Pepera/ Referendum ) sesuai standar internasional, sudah terakomodasi. Disaksikan utusan PBB, Australia dan Belanda, hasil Pepera menunjukkan warga Papua ingin bergabung dengan NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ). 19 November 1969, Sidang Umum PBB menyetujui hasil Pepera.
Tahun 1926, sebelum Sumpah Pemuda ( 1928 ), orang Papua lebih dulu menggunakan bahasa Melayu sebelum warga daerah lain. Soal tanah air Indonesia, kami termasuk yang di depan, tambah tokoh Papua.
Bendera Bintang Kejora masa presiden Abdurrahman Wahid pernah diperbolehkan dikibarkan, asal posisinya lebih rendah dari bendera Merah Putih. Toh, sampai sekarang Papua belum merdeka, lanjut tokoh Papua. Kami setuju NKRI final.
( 1 Desember 2011, ada 2 bendera Bintang Kejora dikibarkan. Demonstrasi berakhir rusuh. Polisi menangkap 3 pelaku. Mereka akan dikenai tuduhan makar, kata wakapolda Papua. Hmm ..
Kita tahu, tiap provinsi punya logo daerah. Andai Bintang Kejora adalah logo Provinsi Papua dan dikibarkan di bawah bendera Merah Putih, tiap HUT Provinsi Papua, mungkin takkan terjadi penangkapan, apalagi tuduhan makar. Kita maklum, Papua merasa berbeda karena keturunan Melanesia, bukan Asia. Namun, jika fakta ini dijadikan latar untuk memisahkan diri, saya pikir kurang match. Oprah Winfrey adalah keturunan Afrika ( Afro-American ). Kita tak ragukan, nasionalisme Oprah pada negara tempat ia hidup dan bekerja ( Amerika ), meski ia dibesarkan dengan penyiksaan luar biasa dan diskriminasi rasial yang pekat. Alih2 meratapi dan memaki, Oprah memilih memacu diri menjadi yang terbaik ( ratu talkshow AS ) dan membantu menggolkan Barrack Obama menjadi presiden AS. Obama bilang, Chicago ( Oprah ) adalah keberuntungannya.
Sebelum Hasan Tiro wafat ( setelah tsunami 2004 ), Aceh yang keturunan Asia ( Melayu ), jauh lebih militan dan terorganisir daripada Papua, ingin memisahkan diri. Tapi toh akhirnya Aceh memilih tetap menjadi bagian dari Indonesia, dengan kesadaran : bersatu kita lebih kuat. Jika selama ini, warga Papua merasa ditelantarkan, sebagai warga RI ( yang ikut memikul tanggung jawab dari kesalahan para pendahulu ), kami mohon maaf. Memang dulu, rezim pemerintah yang lalu, mengabaikan kalian. Tapi sekarang, kami ( pemerintahan rakyat ) memperhatikan kalian. Kami berharap putra Papua, Maluku, daerah2 perbatasan, juga gigih memacu diri menjadi yang terbaik, sampai warga dari 33 provinsi yakin kalian sanggup memimpin Indonesia ).
Lalu, apa masalahnya ? Mengapa Papua masih bergolak hari ini ?
( Masih terjadi serangkaian penembakan di Papua. Razia senjata pun diberlakukan.
Warga Papua yang berada di hutan2, kalau mau, silakan bersekolah atau memanfaatkan fasilitas kesehatan di desa terdekat. Kalau tidak mau, ya tidak apa2. Asal jangan menembak warga lain yang ingin sekolah, bekerja atau pergi ke puskesmas. Jika mereka menembak, terpaksa Polri dan TNI bahu membahu mengambil senjata, menyisir hutan, gunung dan jurang untuk menangkap pelakunya. Setinggi apa pun gunung kita daki untuk memastikan hukum ditegakkan dan keamanan terjaga di seluruh wilayah Indonesia.
Tak ada operasi militer di Papua, kata kapuspen TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul. Selama banyak penembakan, Polri dengan back up TNI, harus berada di Papua untuk menghentikan ( yang ini harga diri Indonesia : memastikan kedaulatannya berlaku di seluruh wilayah negeri ). Jika senjata sudah terkumpul semua dan Papua aman dari penembakan liar, baru Polri – TNI menarik pasukan ekstranya. Namun, ribuan personel TNI harus tetap tinggal di perbatasan Papua dan Papua Nugini untuk menjaga NKRI. Kalau sekarang ditarik, malah berbahaya, tuturnya.
NKRI harga mati di blog ini, saya maksudkan : bentuk negara kesatuan adalah yang paling pas untuk Indonesia, mengingat beragamnya suku ( lebih 600 suku, bahkan sampai 1200 suku ), agama, bahasa dan budaya. Bukan yang menolak NKRI, harus mati. Konstitusinya ( konsensus rakyat ) yang terus didialogkan sehingga lebih mengakomodir kebutuhan rakyat pada tiap jamannya. NKRI sendiri tidak didialogkan. Paten ).
Aman sejahtera yang diidamkan.
Kami ingin aman dan sejahtera seperti daerah lain, jerit para ibu Papua.
Melalui UU no.21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus ( Otsus ) Papua, pemerintah ingin merangkul warga Papua melalui jalur humanis dan kultural. Inpres no.1/ 2003 untuk mengefektifkan UU no.45/1999 agar birokrasi pemda Papua tak berbelit-belit dan warga Papua bisa langsung merasakan hasil pembangunan.
Dengan Otsus, Papua sudah diberi kewenangan politik, sosial dan ekonomi. Tinggal merdeka saja yang belum diberikan, kata Jusuf Kalla. Hasil ( PAD ) Papua yang dikirim ke negara sebesar Rp 18 triliun. Yang dikembalikan negara ke Papua sebesar Rp 28,8 triliun ( setelah Otsus ). Tiap warga Papua disubsidi negara Rp 10 juta per tahun. Tiap warga luar Jawa disubsidi Rp 6 juta. Tiap warga RI di pulau Jawa disubsidi Rp 1,5 juta. Tetapi mengapa Papua belum sejahtera ?
Sebelum Otsus, Papua diperlakukan buruk oleh rezim terdahulu ( Orde Baru ). Hasil melimpah dari bumi Papua ( pernah ) hanya dikembalikan Rp 200 juta. Ketertinggalan Papua selama puluhan tahun ini ( kualitas SDM dan mindset ) menyulitkan Papua untuk mengelola dana Otsus yang besar dengan benar. Terlebih, peraturan daerah Otsus ( perdasus ) belum tuntas dibuat sehingga pemprov, pemkot dan pemkab Papua tak punya acuan melaksanakan Otsus.
Gubernur Papua juga kesulitan mengumpulkan dan mengkoordinir para bupati yang bersikap seolah raja kecil setelah pilkada langsung. APBD nyaris habis untuk belanja pegawai ( sebagian direkrut sebagai balas jasa kepala daerah pada anggota tim sukses pemenangan pilkada ) dan mismanajemen ( skill kurang dalam mengelola anggaran ).
Di Papua, ada kabupaten yang hanya berpenduduk 12 ribu orang, kata mendagri Gamawan Fauzi. Sebanyak penduduk kelurahan di Jawa. Kemendagri kemudian mengirim tim asistensi ke Papua. Dengan pendampingan tersebut, kita berharap warga Papua bisa lebih cepat merasakan hasil pembangunan di daerahnya.
Kami tak butuh Otsus ! Kami butuh harga diri ! Semua komponen di Papua harus dihadirkan dan bicara di forum, sehingga semua aspirasi dan solusi bisa dilaksanakan di lapangan ! , teriak pemuda Papua. Lantang dan menggegerkan.
Nasionalisme Indonesia di dada generasi muda.
Nasionalisme Indonesia perlu ditumbuhkan, kata Freddy Numberi. Karakter kebangsaan di hati orang Papua, bagaimana cara membangunnya ?
Otsus, ruhnya adalah harga diri. Penghargaan rakyat Indonesia akan eksistensi penduduk Papua. Warga Papua ingin dianggap setara, sama pintar ( sama aksesnya dalam lapangan pekerjaan ) dengan warga daerah lain yang dulu lebih diprioritaskan ( hasilnya sekarang lebih maju ). Kita ingat ada kasus mahasiswa PTN ternama yang merendahkan mahasiswa dari Papua di Facebook, yang berujung konflik dan sanksi. Sehingga dibutuhkan juga kearifan dari kalangan muda saat berinteraksi dengan saudaranya setanah air yang berasal dari Papua, juga daerah lain yang belum maju. Boleh jadi di dada mereka ada isak tangis, seperti halnya para pelajar kulit hitam di sebagian wilayah Amerika yang kurikulum sekolahnya didiskriminasi ( modul pelajaran SMP baru diberikan saat SMA ) sehingga mereka kalah bersaing dengan kaum kulit putih di perguruan tinggi dan bidang pekerjaan.

Anyaman daun pandan serta kelapa ( suku Kamoro, Timika, Papua ) atau Koteka ( sebagian suku Papua ) adalah keseharian warga asli Papua. Seperti juga lebih 600 suku lain di Indonesia yang tidak kita usik cara hidup dan busananya ( Etnic Runaway- TransTV ). Life happily. Biarkan mereka mengatur warga sukunya dengan cara adat dan melestarikan budaya mereka yang unik. Kita hanya perlu memastikan, mereka juga merasakan manfaat dari NKRI. Bisa mengambil makanan dari hutan ( atau bercocok tanam, beternak ) untuk dikonsumsi atau dijual ke pasar ( hutan jangan digunduli atau habis di-HPH ). Berikan hak ulayat mereka ( jatah hutan rakyat ) untuk bertahan hidup. Tahukah anda, apa yang membuat para pelancong, wisatawan asing terpikat Indonesia ? Mereka sudah punya yang serba tertata, mekanis dan artifisial di negara mereka. Mereka rindu yang alami, belukar dan tradisional. Wild, wild, Indonesia. So, izinkan para warga adat ini mempercantik Indonesia dengan keaslian dan kearifan lokal mereka. Shall we ?
Kita maklum jika sesekali warga Papua marah atau sensitif seputar isu ini. Mereka ingin nyaman dengan koteka yang menjadi keseharian penduduk asli Papua. Seperti juga kita tidak merendahkan kain tenun yang dikenakan warga suku Sasak ( NTB ), Belaragi ( Flores ) dan Dawan ( NTT ). Mereka ingin asyik menanam ketela dengan cara mereka sendiri, seperti kita tak mengusik warga suku lain yang tidur beralas tikar dan memanfaatkan kotoran sapi untuk campuran perekat rumah. Mereka sedang melestarikan adat istiadat leluhur yang membuat kita, bangsa Indonesia, sangat kaya budaya dan seni tradisi.
Rasa memiliki tanah air yang besar, nasionalisme Indonesia, belum terpatri di dada sebagian putra Papua, khususnya generasi muda, disebabkan mereka belum merasakan manfaat signifikan dari hadirnya Indonesia dalam kehidupan ( terdekat ) mereka. ( Andai para pengacara, jaksa, hakim, pakar, ilmuwan, praktisi terbaik mau turun dan membantu warga Papua mengatasi kesulitan mereka ). Andai pemerintah lebih bersungguh-sungguh memperhatikan aspirasi rakyat Papua dan merealisasikan Otsus secepatnya, warga Papua takkan semarah ini. Andai tiap pemprov di Indonesia bersedia menerima putra Papua untuk magang dan menyerap ilmu pemerintahan ( juga bisnis dari kalangan pengusaha ) sampai mereka bisa membaktikan keahlian untuk membangun Papua, mereka takkan sesensitif ini. Bahkan, mereka akan menikmati perayaan SEA Games dan pencapaian Indonesia lainnya di dunia bersama dan sebangga kita.
Di Jakabaring Sport City, kecanggihan teknologi multimedia, laser bertabur kembang api berpadu seni tradisi nusantara masa keemasan memang sungguh menawan. Kita bangga Indonesia bisa menyajikan itu kepada bangsanya dan bangsa-bangsa Asia Tenggara. United and rising. Nasionalisme Indonesia di Papua bisa bangkit jika kita peduli.




