Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Posts Tagged ‘Lebanon

Suriah, siapa bersalah ? Deritamu terasingkan propaganda simpang siur.

with 3 comments

Pasukan Suriah

Pasukan Suriah ( pemerintah ) yang sering dikambing hitamkan atas penjagalan yang dilakukan pemberontak ( oposisi ) dengan pasukan Al Qaeda di dalamnya. Bashar Al-Assad difitnah membunuh ribuan rakyatnya, gara2 membantu HAMAS  ( Palestina ) dan Hizbullah ( Lebanon ). Sekuler yang anti Israel memang tidak biasa.  Untung China, Rusia memveto serangan militer ke Suriah atas nama PBB. Jangan termakan propaganda Barat.  Berpikir kritislah. Pemberontak-lah yang jahat. ( foto : IslamTimes )

Suriah. Sangat  mencemaskan dilihat dari video jurnalis Rusia, juga berita TVRI. Yang pertama mendukung pasukan pemerintah Suriah. Yang kedua , cenderung memihak pasukan pemberontak ( oposisi ). Ke mana hati ini berpihak ?

Beruntung, ada orang2 berintegritas tinggi yang selama ini saya percayai, memiliki data berharga juga analisis mereka ( yang bisa dicerna akal, logika, iman ), sehingga saya sampai  pada satu kesimpulan : pemerintah Suriah-lah yang seharusnya diselamatkan ( terlepas dari kekurangan2  presiden Bashar Al-Assad ). Bukan pemberontak yang memakai tangan asing untuk mewujudkan impian mereka ( membentuk khilafah ) secara brutal.

“Tidak ada jalan atas orang yang menzalimi manusia dan membuat kerusakan di bumi dengan tidak benar, kecuali bagi mereka azab yang pedih.” ( QS  Asy-Syura : 42 ). Proses pencarian kebahagiaan di dunia dan akhirat jangan sampai menimbulkan ketidakbahagiaan pada orang lain dan alam sekitar. Hasil yang baik harus dilalui dengan proses yang baik.

Jika kaum oposisi di Suriah ingin mendirikan khilafah, seharusnya mereka mengikuti cara damai Mesir. Melakukan proses dakwah yang panjang dengan sabar sampai mayoritas rakyat Suriah menerima ide pemerintahan Islam tersebut. Bukan memaksa, mengebom, menjagal dengan senjata dan dana dari musuh2 Islam.

Lalu, bagaimana ceritanya ? ( motif, kronologi dan analisanya ). Sebagian besar saya ambil dari Kajian Timur Tengah – Dina Sulaeman. Saya merasa perlu merangkumnya, melihat pemberitaan di TV  dan media lokal yang masih bersuara mengikuti media mainstream, milik perancang kekacauan di Suriah, Libya, Irak, dsb. Indonesia jangan sampai  tidak kritis melihat pertikaian di Suriah mengingat perannya kian besar di masa datang. Jangan malu-maluin.

Suriah, Bashar dan Hafesz dan rekayasa konflik Sunni Syiah.

Suriah berpenduduk 22.517.750 orang ( tahun 2010 ). Muslim Sunni 74%, Muslim Alawi-Syiah-Druze 16%, Kristen dan lainnya 10%. Presiden Suriah sekarang : Bashar Al-Assad  menggantikan ayahnya, Marsekal Hafesz Al-Assad. Hafesz memimpin Suriah dengan keras ( diktator ). Bersama saudaranya, Rifyad Assad, membawa Suriah melewati masa2  sulit Perang Enam Hari melawan Israel ( tahun 1967 ). Hafesz menggantung Ellie Cohen, mata2 Israel yang menyusupi pemerintah Suriah dan  memberangus Ikhwanul Muslimin.

Hafesz menerima Hamas berkantor di Damaskus ketika negara2 Arab menolaknya. Hafesz banyak menampung pengungsi Palestina, diantaranya di kamp Yarmuk. Bashar ( kalangan sipil/ dokter mata ) lebih lembut dari ayahnya yang berlatar militer. Rezim Assad didukung Partai Ba’ath yang didirikan tahun 1910 di Damaskus oleh tokoh Kristen, Michel Alfaq.  Assad seorang Syiah Alawi ( mazhab yang berbeda jauh dengan Syiah ala Iran yang sangat patuh pada garis komando ulama ), dengan pandangan hidup dan politik  sekuler seperti Barat. Assad bukan pendukung Wilayatul Faqih ( pemerintahan ulama di Iran ). Suriah berhubungan baik dengan Iran karena faktor geopolitik ( sama2 anti Israel dan pembela Palestina ), bukan mazhab. Karena Assad bersikeras tak mau berdamai dengan Israel, maka ia harus dijatuhkan. Sentimen mazhab pun ditiupkan ( kebencian Wahabi pada Syiah ).

Orang fanatik , merasa benar sendiri , dengan senjata di tangan ? Brutal.

pasukan pemberontak

Pasukan pemberontak ( oposisi ) tengah meluluhlantakkan Suriah dan membombardir warga sipil tak berdosa itu. Berharap bisa membangun khilafah dari puing2 berdarah. Meski bekerja sama dengan kafir yang menjajah banyak negara dan melakukan kejahatan perang sejak berabad-abad silam. Kebodohan macam apa yang sedang mereka lakukan ? Membantai sesama muslim dan saudara sendiri ? ( foto : okezone )

Mengerikan. Melihat orang bodoh- fanatik dipegangi senjata. Orang yang merasa paling benar sendiri. Merasa kelompoknya, satu-satunya dari 73 golongan, yang benar.  Bagaimana mungkin mereka bisa menjagal manusia dengan brutal dan menuduh penjagalnya golongan lain ? Lalu, ingin membangun khilafah di atas pembantaian sadis yang mereka lakukan dan fitnahkan. Khilafah macam apa yang terbangun nanti oleh para barbar ini ?

Para barbar menyeret sejumlah orang untuk dijejerkan ke dinding lalu dibombardir peluru selama 43 detik sampai tewas bermandikan darah.Para jasad malang itu disebut Mustafa al-Sheikh, Ketua Dewan Tinggi Militer FSA ( oposisi ) adalah shabiha yang bisa mereka bantai sesukanya. Ketika mereka melakukan pembantaian massal terhadap warga Suriah ( ditusuk, digorok, dan ditembak jarak dekat ), yang tak bisa dituduhkan ke tentara Assad ( karena tidak ada bukti kehadiran militer di sana ), barbar ini lalu menciptakan musuh khayalan : shabiha ( bermakna ‘hantu’ ) yaitu milisi sipil pendukung Assad yang mereka bilang melakukan pembunuhan sadis di seantero negeri.

Suriah, sejak 22 bulan lalu mengalami tragedi kemanusiaan ini. Bashar al-Assad, presiden Suriah ( 2000 – skrg ), yang selama ini membantu Hamas dan Hizbullah melawan Israel menjadi sasaran tembak AS-Israel kali ini. Khaled Meshal ( pejuang HAMAS ), bertahun-tahun berkantor di Damaskus dan mendapatkan fasilitas perlindungan penuh dari pemerintah Suriah. Ketika barbar ( sebagian yang disesatkan media dan rekayasa foto menyebut mereka ‘mujahidin’ ) mengobrak-abrik Suriah, Meshal pindah ke Qatar ( negara penyuplai dana dan senjata para barbar ). Assad menyindir Meshal, “Sekelompok warga Palestina memperlakukan Suriah layaknya hotel.”

Assad yang Alawy juga dimusuhi muslim garis keras dan media2 Islam yang dulu berseberangan dengan media mainstream. Skenario Libya coba dipentaskan lagi oleh zionis internasional ( Bernard Levy cs ). Kelompok teroris dari Libya ( cabang Al Qaida ) dan negara2 Arab berbondong masuk Suriah dan membuat kekacauan di sana. Israel juga sudah terjun ke Suriah mengeruhkan suasana. Melakukan aksi teror yang menimpa warga sipil, tentara dan anggota misi PBB ( UNSMIS ).  Dinas rahasia AS ( CIA ) menyuplai  senjata bagi orang2 bodoh ini. Pihak oposisi Suriah tak cukup mendapat dukungan rakyat Suriah ( seperti juga Libya ) sehingga perlu mencari bantuan asing, dari kafir sekalipun.

Front Al Nousra : kelompok oposisi yang banyak meledakkan bom di fasilitas publik. Kaum oposisi Suriah rajin membantai dan mengunggahnya ke internet dan menyebutnya korban tentara pemerintah Suriah. Media massa mainstream ( berafiliasi dengan zionis, juga yang tidak kritis ) langsung melahap dan menyebarluaskan ke segala penjuru dunia. Assad dibunuh karakternya habis-habisan oleh media2 ini dengan harapan bisa segera terguling dari posisinya. Banyak rekayasa foto dan film yang diunggah untuk memprovokasi opini publik. Korban Gaza dan Irak pun dikatakan korban Assad. Gambar demo di Tunisia disebut demo di Suriah. Gambar demo pendukung Assad disebut demo anti-Assad. Gedung hancur di Palestina disebut gedung hancur di Suriah. Orang tewas bermandikan darah di Palestina disebut korban pembunuhan Assad. Serangan brutal  yang dilakukan pasukan barbar diklaim sebagai serangan tentara Assad.

Bashar, sang sasaran tembak. Gara2 mendukung Palestina dan Hizbullah.

Kekurangan Bashar : tak transparan soal keuangan negara ( di mata Barat : belum mengembangkan demokrasi  di Suriah, membantu perjuangan rakyat Palestina, mendukung penuh Hizbullah ). Hamas ( Sunni ) dan Hizbullah ( Syiah ) sama2 didukung Bashar karena mereka kelompok  perlawanan terhadap Israel. Kedua kelompok ini menjadi ancaman serius Israel, karena secara kekuatan bisa mengimbangi, meski bukan pasukan negara. Bahkan dalam perang darat 34 hari tahun 2006, Hizbullah mengalahkan Israel.

Untuk melumpuhkan Hamas, Israel lalu memblokade Gaza. Untuk melumpuhkan Hizbullah, Israel memutus jalur pendukungnya ( Suriah ) dengan mengganti presiden Bashar  Al-Assad, seperti halnya Qaddafi ( yang mengirim bertruk-truk bantuan untuk rakyat Palestina saat diserang Israel tahun 2009 ). Isu minus demokrasi di Suriah ditambah isu sektarian ( konflik Sunni-Syiah ) menjadi bumbu operasi penggulingan ini. Israel, AS, Arab Saudi, Qatar, Turki, ( juga Ikhwanul Muslimin Mesir ), serta Eropa berada dalam blok Barat, melawan blok ( Timur ) Rusia, Cina dan Iran yang mendukung Assad.

Rusia berkepentingan melawan dominasi AS di Timur Tengah, karena tinggal Suriah tempat berpijak Rusia setelah Libya jatuh ke tangan Barat. Karena AS juga telah menempatkan perimeter anti-rudalnya di Georgia ( dulu bagian Uni Soviet ). Cina diancam AS melalui pergerakan AL AS di Pasifik. Cina menciptakan kapal perang anti radar yang membuat AS was2. Iran tak disukai Saudi Arabia, Qatar dan negara Arab lainnya karena menumbangkan Raja Reza Pahlevi ( sahabat penguasa Saudi Arabia ) dalam Revolusi 1979. Raja2 Arab itu kuatir revolusi tsb menulari negeri mereka sehingga mereka tak berkuasa lagi. Iran lalu mereka sebut negara Syiah ( bukan negara Islam alias sesat ). Iran berkepentingan di Suriah karena Bashar bisa menjamin jalur logistik Hizbullah.

Israel dan Barat menggunakan segala cara untuk menurunkan Bashar, termasuk mempersenjatai oposisi dengan senjata berat. Menggunakan media dan PBB sejak tragedi pembantaian keji 25 Mei di Houla, Suriah ( Barat segera menarik dubes2-nya ). Militer Suriah dituduh, padahal pelakunya para teroris kiriman Barat, dan korban2 terbunuh itu adalah para pendukung Bashar ( orang2 Alawi , salah satu sekte Syiah ). Sehari sebelum tragedi Houla, sekjen PBB menyurati DK PBB, menginformasikan kelompok2 teroris mapan-lah yang melakukan aksi teror di Suriah.  Indikasinya, bom2 yang digunakan sangat canggih. Saudi Arabia, Qatar, Turki juga berperan tak kecil dalam kekacauan di Suriah. Mereka digunakan untuk memperkeruh  situasi, berharap AS dan NATO dapat mengintervensi dengan payung PBB atas nama ‘kemanusiaan’.

Jubir Ikhwanul Muslimin, Mahmoud Ghozlan, menyerukan pengiriman pasukan internasional ke Suriah, persis suara Israel, AS, dan Inggris. IM ikut membiayai dan mendukung pasukan oposisi Suriah ( Free Syrian Army ) yang berbasis di Turki, bersama Arab Saudi dan Qatar. Keterlibatan IM dimediasi faksi Hariri di Lebanon ( yang selama ini memang anti-Suriah ). NATO merekrut ribuan sukarelawan muslim dari negara2 Timur Tengah untuk ikut bertempur bersama pemberontak Suriah. Turki menjadi tuan rumah dari para ‘pejuang’ ini, melatihnya, dan menyusupkannya ke Suriah. How could you,  Mr  Erdogan ?

Kenapa pemberontak mengemis bantuan asing ( imperialis ) ?

Kekuatan oposisi tidak mengakar luas di tengah rakyat sampai mampu memicu kerusuhan besar-besaran. Ini hanya hasil operasi rahasia intelijen AS dan NATO yang memicu kekacauan sosial dan mendestabilisasi Syria. Sejak pertengahan Maret 2011, kelompok2 militan bersenjata yang secara rahasia didukung intel Barat dan Israel, mulai meneror, menembaki gedung2 pemerintahan, polisi dan masyarakat sipil. M 16 ( Dinas Rahasia Inggris ) dan CIA pun hadir di Suriah.

Awalnya kaum oposisi bernaung di bawah panji Syrian National Council ( SNC ) dan Free Syrian Army (FSA) yang dibentuk di Turki.  Sheikh Adnan Al-Arour yang tinggal di Arab Saudi mereka dapuk sebagai pemimpin spiritual. Al Arour berjanji jika ‘pasukan oposisi’ menang, kaum Alawi akan dicincang dan diberikan ke anjing.

Kaum muslim ‘moderat’ ( dipimpin Ikhwanul Muslimin ), memilih bergabung dalam National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces ( dibentuk di Doha, Qatar ). Koalisi baru ini didukung Qatar, Arab Saudi, AS, Inggris dan Prancis yang selama ini membiayai, mengirimi senjata, memfasilitasi kedatangan pasukan barbar ke Suriah. Mereka juga akan melawan Assad. Hizbut Tahrir ( termasuk dari Indonesia ) mengecam pembentukan koalisi baru ini. Gabhat al Nousra, Ahrar Al Sham Kataeb, Liwaa al Tawhiid dan Ahrar Souria memilih memisahkan diri dan mendeklarasikan perjuangan membentuk khilafah di Suriah dengan cara mereka sendiri.

Oleh pihak oposisi, rezim Assad dicitrakan sesat, kafir, kejam, sedemikian brutal membantai rakyatnya sendiri. Untuk menutupi fakta sebenarnya : AS dan Israel ingin mengganti presiden Assad dengan orang yang mau ‘mengamankan’ kepentingan Israel. Sejak Januari 2011, warga Suriah diseru via Facebook dan Twitter turun ke jalan. Tak banyak yang datang ( dibanding aksi demo di Kairo ). Demo di Daraa, kota kecil berpenduduk 75.000 jiwa, menelan korban tewas : 7 polisi dan 4 demonstran. Jika ada polisi tewas, berarti para pendemo bersenjata ( bukan demo damai ), apalagi markas Partai Baath dan kantor pengadilan mereka rusak juga. Setelah tragedi Daraa, demo besar-besaran mendukung Assad berlangsung di Damaskus ( 26/3/2011 ).

Rezim Assad sebetulnya berideologi sosialis dan haluan pemerintahannya sekuler. Assad bermazhab Alawi sedang 80% rakyat Suriah beraliran Sunni ( juga mayoritas pasukan Suriah ).Jika ingin menumbangkan Assad tentu mudah saja. Tinggal berdemo masif berminggu-minggu, tanpa senjata, seperti rakyat Iran ( ketika menumbangkan Syah Pahlevi yang pro-Barat ). Tak perlu menjagal dan minta bantuan kafir seperti kaum oposisi barbar ini. Itu artinya, mayoritas rakyat Suriah pro-Assad.

Setelah menaruh Gabhat Al Nousra dalam daftar teroris ( karena akan mendirikan khilafah ), AS pun mulai terjun langsung ke medan perang : mengirim 6000 tentara ‘jihad’ ( 4000 dari Lebanon ). Diupayakan beberapa mantan jenderal berhasil meraih kekuasaan lalu meminta bantuan internasional. Isu penggunaan senjata kimia oleh Assad akan dijadikan pretext perang yang melibatkan NATO atau PBB.

Intervensi kemanusiaan artinya serangan militer. Bukan bantuan kemanusiaan.

Pengungsi Suriah

Pengungsi Suriah mencapai lebih 122 ribu di Lebanon dan Yordania. Dalam pelarian pun mereka masih sempat dibantai pemberontak. Dasar tak berperikemanusiaan. ( foto : liputan6 )

Negara adalah entitas berdaulat yang berhak penuh dalam mengendalikan rakyat, menetapkan hukum dan mengamankan wilayahnya.  Negara mana pun tak berhak melakukan intervensi terhadap negara lain, apapun alasannya. PBB menyatakan : sebuah negara tidak boleh melakukan serangan militer terhadap negara lain, kecuali seizin Dewan Keamanan PBB. Dalam kasus Irak, DK PBB sama sekali tidak memberikan izin, namun AS dan sekutunya tetap menyerang Irak. Dalam kasus Libya, DK PBB memberi izin untuk ‘melakukan segala hal yang dianggap perlu demi melindungi rakyat sipil Libya’ ( dan kemudian disalahgunakan ). Saat itu, Rusia dan China abstain. Dalam kasus Suriah, Rusia dan China menggunakan hak vetonya dan menolak dilancarkannya serangan militer atas nama PBB ke Suriah.

Doktrin humanitarian  intervention pertama kali dikemukakan tahun 1800-an oleh Eropa dalam menghadapi Imperium Turki. Kriteria justifikasinya saat itu : ‘ketidakadilan dan kekejaman’ yang menyinggung moral Kristen dan peradaban Eropa. Eropa lalu merasa berhak melakukan serangan militer ke wilayah2 yang dikuasai Turki : Yunani ( 1826 ), Suriah ( 1860 ), Armenia ( 1896 ), dll. Realitas sebenarnya :  agenda kolonialisme Eropa terhadap Imperium Ottoman. Ketika Eropa menyerang Turki, nilai2 kemanusiaan justru dilanggar, muslim mereka anggap kaum barbar lalu diperlakukan secara brutal.

Kini muncul gerakan mengajukan NATO ke Pengadilan Penjahat Perang Internasional dengan tuduhan melakukan intervensi terhadap negara berdaulat, melakukan serangan dan pengeboman terhadap kota-kota, desa, menghancurkan gedung-gedung, dan membunuh rakyat sipil yang tidak bisa dijustifikasi sebagai kepentingan militer.

Dengan dukungan Rusia, pasukan Suriah akhirnya menyerbu Homs ( 9 Februari ), setelah semua upaya mediasi dengan pasukan pemberontak ( FSA ) gagal. FSA akhirnya kalah dan mundur ke wilayah Emirat seluas 40 hektar yang langsung dikepung pasukan Suriah ( pemerintah ) sekaligus merebut wilayah tsb ( 1 Maret ). Pasukan FSA sempat membantai orang2 Kristen di dua desa, saat mereka melarikan diri ke Lebanon. Jumlah pengungsi Suriah ke Lebanon  lebih 122 ribu orang.

Ada apa dengan Dubes Stevens dan Direktur CIA Petraeus ?

Pengunduran diri Direktur CIA, Petraeus, sebenarnya terkait  skandal konsulat AS di Benghazi. Bukan kasus perselingkuhan, melainkan upaya agar Petraeus urung memberi kesaksiannya atas Benghazi. Massa datang berdemo ke gedung konsulat AS di kota Benghazi, memprotes pembuatan film yang menghina Nabi Muhammad Saw. Lalu, datang 20 militan membombardir gedung konsulat dengan RPG7 yang menewaskan Dubes AS ( Stevens ) dan 3 stafnya. Demo itu untuk pengalih perhatian bagi serangan yang sudah direncanakan.

Banyak teroris Suriah datang dari Libya ( setelah penggulingan Qaddafi ) dengan dukungan NATO dan AS. Sebagian besar dari Al Qaeda. Benghazi, salah markas Al Qaeda ( sumber utama pemberontakan di Libya dan Irak ) yang kini mengontrol sebagian besar Libya. Waktu Qaddafi nyaris menggempur mereka, pesawat2 NATO melindungi Benghazi dan menghentikan aksi Qaddafi. Pasukan oposisi Suriah, sebagian besar teroris Al Qaeda. Oposisi Suriah telah dipersenjatai AS sejak tahun 2006. Pemerintah Libya pasca Qaddafi adalah penyandang dana terbesar dan penyuplai senjata bagi oposisi Suriah.

Konsulat AS di Benghazi dipakai sebagai markas operasi rahasia CIA. Keberadaan Kemenlu AS hanya kedok diplomatik. Misi CIA : mencari dan membeli kembali senjata berat yang dijarah dari gudang2 senjata pemerintah Libya. Mendiang Dubes Chris Stevens ( dibunuh karena ) dianggap mengetahui pengiriman2 senjata2 berat dari Libya untuk pemberontak Suriah. Maret 2011, Stevens menjadi penghubung resmi AS dengan oposisi Libya yang terkait al-Qaeda, berhubungan dengan Abdelhakim Belhadj dari Libyan Islamic Fighting Group ( sekarang sudah bubar ), dan sejumlah pasukan dari grup ini yang kemudian merenggut nyawa Stevens dalam penyerangan.

Belhadj ( kontak utama Stevens selama revolusi Libya ) sebagai direktur Tripoli Military Council bertemu dengan pimpinan Free Syrian Army ( FSA ) di Istanbul dan di perbatasan Suriah-Turki untuk membicarakan komitmen pemerintah baru Libya menyediakan uang dan senjata bagi oposisi Suriah. Kapal Libya yang membawa 400 ton senjata ( SA-7 surface-to-air  anti-craft missiles, rocket-propelled grenades, dll ) lalu berlabuh di Turki sebelum ke Suriah. Senjata2 berat itu lalu digunakan pemberontak untuk menembak jatuh helikopter dan jet tempur militer Suriah.

1,2 mil dari konsulat AS di Benghazi ada markas CIA yang pengamanannya jauh lebih canggih dari pengamanan di vila sewaan Stevens maupun konsulat AS di Benghazi. CIA juga menyalurkan senjata bagi pemberontak di selatan Turki. Kebijakan luar negeri AS ( ditentukan lobi2 zionis Israel : AIPAC, ADL, CFR, Rand Coorporation, Bilderberg, dll ) selama ini adalah mendukung para teroris untuk mencapai tujuan geopolitik. Pemerintah AS secara konsisten merencanakan perubahan rezim di Suriah dan Libya selama 20 tahun terakhir. AS memimpin perang melawan terorisme di Afghanistan dan Irak, dengan dalih memburu Al Qaida dan Osama bin Laden. Tapi di Suriah, AS justru bekerja  sama dengan Al Qaida untuk menggulingkan Assad. Al Qaida didirikan dan didanai AS.

Jihad ala Taliban dan Al Qaeda. Gurunya AS  yang mencuci otak pelajar di ‘madrasah’.

Jihad artinya bekerja keras menjalani hidup di jalan yang diridhoi Allah.  Namun, Islam dalam propaganda Barat adalah sumber terorisme ( ajaran jihad ). Jihad ala Taliban hasil ‘pendidikan’ AS. AS dengan dana miliaran dolar menyuplai buku2 teks berisi gambar2 kekerasan dan ajaran militan ke sekolah2 di Afganistan. Gambar pistol, peluru, tentara, granat masuk kurikulum utama. CIA mendanai iklan2 di koran dan newsletters di seluruh dunia, mengajak bergabung dengan ‘jihad’ ini. Osama bin Laden merekrut  4000 relawan dari Arab Saudi dan berhubungan dekat dengan pemimpin mujahidin paling radikal ( juga CIA, meski sejak 11/9/2001 mereka menampiknya ).

Osama ( 22 tahun ) direkrut CIA tahun 1979 untuk dilatih di kamp gerilyawan yang disponsori CIA.Pada era Reagan dimulai operasi rahasia mendukung berkembangnya ‘fundamentalisme Islam’, menyusul ‘Perang Melawan Terorisme Global’ ditiupkan setelah meledaknya menara kembar WTC. Para pejuang kebebasan Islam ( Islamic freedom fighters ) itu kini dilabeli AS sebagai teroris.  Habis manis sepah dibuang.

Dalam pendidikan ‘jihad’ini, AS bekerja sama dengan misi Wahabi dari Arab Saudi. Taliban ( berarti pelajar ) yaitu pelajar di madrasah2 yang didirikan Wahabi dengan dukungan CIA. Sistem pendidikan di Afghanistan sebelum penjajahan Soviet adalah pendidikan sekuler. Namun, sejak operasi pengembangan fundamentalisme Islam oleh CIA, jumlah madrasah dari 2.500 ( tahun 1980 ), kini menjadi lebih 39.000 madrasah. ISI ( dinas rahasia Pakistan) juga terlibat dalam operasi CIA ini dengan merekrut dan men-training mujahidin. Dari tahun 1982 hingga 1992, sebanyak 35.000 muslim dari 43 negara muslim di seluruh dunia direkrut ISI untuk berjihad di Afghanistan.

Di  Pakistan juga didirikan madrasah2 yang didanai Arab Saudi dengan dukungan AS, untuk penanaman ‘nilai’ Islam ( yang mengerikan ). Perempuan diwajibkan mengenakan burqa,  dilarang bersekolah dan bekerja, perempuan lebih baik mati ketimbang ditangani oleh dokter pria, kekayaaan arkeologi Afghanistan, seperti patung Budha Bamiyan, dihancurkan, dst. Ketakutan menyebar ke seluruh dunia. Islam ( seolah ) identik dengan kekerasan, penindasan, fanatisme buta, brutalisme, anti-toleransi. Ketika WTC  ( milik pengusaha zionis ) itu mereka ledakkan sendiri, segera Osama menjadi sang tertuduh, dikejar hingga ke lubang tikus ( lalu di bunuh di villa persembunyiannya di Pakistan ) . Perang melawan terorisme ( judul iklannya ) dikobarkan di seluruh penjuru dunia ( melariskan dagangan senjata pengusaha zionis ). Efeknya terus terasa : ketika terjadi teror di Norwegia langsung ‘teroris Islam’ dituduh. Meski terbukti kemudian bukan muslim pelakunya, tiada kata maaf terucap.Kaum muslim yang termakan propaganda ini menjadi sinis pada segala sesuatu berbau pemerintahan Islam. AS pun dibiarkan mengobok-obok Afganistan,  Iran, Irak, Libya, dan dunia Islam, dengan dalih ‘membebaskan’ masyarakat dari ‘penindasan’.

Simbol kerukunan agama pun dibom. Mengobarkan kebencian antar etnis ?

Suriah

Suriah ketika masih indah.  ( foto : mobypicture )

“Apa yang mereka inginkan dari Suriah ?” tanya warga Jaramana, daerah pinggiran kota Damaskus, Suriah, yang dikenal sebagai daerah “pluralis”, setelah terjadinya aksi2 pemboman yang menelan lebih 50 warga sipil tak bersenjata tewas dan 120 org luka. Tak ada kantor dan fasilitas militer di sini yang bisa dijadikan alasan dilakukannya serangan.“Kota ini menampung semua orang dari seluruh penjuru Suriah dan menyambut hangat semua orang yang datang ke sini,” tambahnya.Kota Jaramana simbol kerukunan beragama dan pluralisme di Suriah yang dilindungi negara. Islam Sunni, kaum Alawi, Kristen dan Druze telah hidup rukun selama berabad-abad di sini. Mereka mendukung presiden Bashar al Assad.Para pengebom ingin mengganti toleransi dengan kebencian antar etnis.

Gerakan pemberontakan Syria dikendalikan zionisme internasional dengan agen pelaksana : para ekstremis Wahabi Salafi yang melihat pluralisme dan hubungan erat antar pemeluk agama sebagai “musuh”. Agen2 pelaksana lainnya adalah para “prajurit bayaran” yang mencari uang dengan membunuh. Tak peduli siapa sasarannya, termasuk wanita dan anak-anak sekalipun.

Kedua kelompok pemberontak ini disatukan misi : menghancurkan Suriah sehancur-hancurnya. Cara termudah : memprovokasi pertikaian antar kelompok agama dan etnis yang ( diharapkan ) melemahkan, dan lalu menumbangkan pemerintah pusat yang selama ini menjadi pelindung kebebasan beragama. Negara berada dalam pertikaian SARA yang tak berujung.

Agenda zionis ( Israel, AS, Barat ) di Timur Tengah dan Afrika. Dominasi dan hisap minyak emasnya.

Zionisme internasional memandang Suriah pengganjal proyek zionisme di Timur Tengah. Rezim Sunni di Arab, Turki, Mesir ingin menghancurkan pengaruh Iran, sekutu dekat Suriah, yang kian kuat di kawasan. Jika Suriah hancur, maka pengaruh Iran akan berkurang dan zionisme leluasa mendominasi Timur Tengah.Kampanye pembebasan Suriah untuk demokrasi yang didengungkan Barat hanya kedok untuk imperialisme sesungguhnya nanti. Pelaku kampanye nyatanya negara2 paling tidak demokratis di dunia : Arab Badui ( Arab Saudi, Qatar, dll ) yang tak kenal pemilu.

Berbagai aksi biadab, termasuk pembantaian di Houla akhirnya terbongkar sebagai aksi keji pemberontak. Warga sipil, termasuk wanita, anak, balita diberondong senjata ketika tertidur. Lainnya, digorok lehernya. Pemboman masjid bersejarah di Aleppo memperlihatkan pasukan pemberontak menikmati aksi brutal mereka. Pemerintah negara2 Barat dan sekutu mereka biasanya membisu melihat kekejian ini. Atau mengecam, dan menuduh pemerintah dan pasukan Suriah yang melakukan. Misalnya, saat teror di Jaramana, tanpa penyelidikan dulu, pemerintah Amerika, Inggris, Perancis, Arab Saudi, Qatar, Turki kompak mensponsori resolusi mengutuk pemerintah Suriah. Untung, masih ada blogger2 berintegritas, para pejuang keadilan dan media independen yang membongkar kebohongan2 itu.

Iran, Rusia, Cina, Irak, Venezuela, Bolivia, Kuba dan Lebanon menganggap krisis Suriah sebagai kejahatan konspirasi Barat dan sekutu regionalnya untuk mewujudkan dominasi Barat di Timur Tengah. Lebih 20 bulan gagal menggulingkan pemerintah Assad, teror pemberontak kian masif dilakukan. ( di TV, saya lihat mereka minta bantuan internasional untuk menuntaskan aksi keji mereka yang mereka sebut ‘perjuangan’ ). Iran melihat permintaan ini ( dan kejahatan kian masif mereka ) sebagai keputus-asaan dan sinyal penghabisan.

Mursi yang tertekan, mengabaikan Palestina. Tunjukkan solidaritas dan nyalimu !

Makan Solahuddin

Makam Solahuddin yang sederhana berada di kompleks gedung ini. Pejuang, pemimpin dan pahlawan Islam yang gagah berani membebaskan Palestina ketika diduduki pasukan Salib-Eropa,  tetap sederhana di akhir hayatnya.  Gedung ini terletak di Damaskus, ibukota Suriah yang tengah berkecamuk dilanda krisis. Akankah seheroik Solahuddin- kah, presiden Mursi ( Mesir ) dan Assad ( Suriah ) dalam menjaga harga diri Islam ? No way dalam jeratan kekuatan asing. Mandiri dan bermartabatlah.

“Saya yakin di era baru ini, bangsa Mesir akan bergerak menuju puncak kehormatan dan kemajuan,” ujar Ahmadinejad pada presiden Mohamed Mursi ( sejak 30/6/2012 ) setelah keberhasilan referendum Mesir ( 25/12/2012 ).

Sejak Mursi berani mengeluarkan Dekrit 22 November, pemimpin Barat dan media asing yang dulu mendukung revolusi Mesir sekarang menghujat Mursi habis-habisan dan berusaha menggulingkannya. Demo pro-Mursi tidak diliput. Media2 berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin dan blogger2 dari Al Azhar lalu berjuang meng-counter pemberitaan Barat yang menyesatkan. Tanpa dekrit, upaya perumusan konstitusi baru Mesir akan selalu diganggu kelompok pro-Mubarak dan pro-Barat.

Hasil referendum berpihak pada konstitusi baru Mesir yang berhaluan Islam. Iran menyebut Revolusi Mesir sebagai kebangkitan Islam ( sebagian besar media dunia menyebut Revolusi Mesir sebagai kehendak rakyat berdemokrasi setelah 30 tahun dibungkam rezim represif Mubarak ).

Jamaluddin Al Afghani, ulama Islam pemberani dan pejuang besar, mendapati tempat yang tepat untuk melawan Barat dan Eropa adalah di Mesir.Pemerintahan Islam dikehendaki sebagian besar rakyat Mesir. Kini rakyat Mesir mendukung Ikhwanul Muslimin.  Presiden Mursi dari Ikhwanul Muslimin, dikenal saleh dan hafal Quran.Juli 2012, Mursi sempat membuka gerbang Rafah ( bagi warga Palestina untuk berbagai keperluan ). Namun, setelah 16 tentara Mesir dibunuh teroris, sejak Agustus 2012, Mesir kembali menutup Rafah.( teroris itu bisa jadi suruhan Israel, karena setelah membajak 2  kendaraan militer Israel lalu lari ke Israel. Tujuannya, agar warga Palestina tetap terpenjara dengan ditutupnya gerbang Rafah oleh pemerintah Mesir ).

Tentara Mesir juga mulai menutup terowongan2 Gaza dengan membanjirinya dengan air. Operasi penghancuran terowongan galian itu dikatakan untuk ‘mewujudkan keamanan di kawasan Gurun Sinai’. Sebetulnya, Mursi terbelenggu oleh IMF setelah mendapati hanya tersisa 14 miliar dolar untuknya menjalankan roda pemerintahan Mesir. ( IMF : dikuasai pengusaha zionis yang mewajibkan negara yang diperbudaknya membayar kembali berkali lipat ( riba ), memaksa banyak hal seperti mencabut subsidi yang memiskinkan rakyat dan menjual sumber daya alam murah meriah ke perusahaan asing ).Tekanan yang diterima Mursi terkait ‘keamanan Israel’sehingga Mursi sedemikian lemah dalam membela Palestina.

Warga Mesir pendukung Mursi sebaiknya mendorong Mursi agar tidak menyerah pada kekuatan asing ( IMF, imperium kapitalis, zionis ). Lebih baik mati syahid menjaga martabat muslim sejati dan belajar dari Iran, bagaimana bisa tetap tegak menjaga kehormatan rakyat dan kedaulatan negara dengan kekuatan sendiri. ( setelah mendirikan Republik Islam, para pemimpin, pejabat dan ilmuwan Iran dibunuh teroris, namun rakyat Iran tetap bertahan dan menolak tunduk pada kekuatan asing ).

Nasib Libya dan Suriah setelah dikeroyok para pembenci nan serakah.

Suriah hancur

Suriah ketika hancur dibombardir NATO, teroris Al Qaida, relawan Arab, AS, Israel, Eropa. Para pelanggar kedaulatan yang tak pernah dihukum karena mengirim senjata ilegal, pasukan asing, dst. Dunia memang ( masih ) timpang. ( foto : Indonesiarayanews )

Konflik di Suriah belum reda.  Negara2 Barat, Turki, Arab Saudi, Qatar, Emirat, Libya yang selama ini mendukung kelompok pemberontak ( dengan dana, senjata, pasukan ) masih terus melancarkan upaya menghalangi proses stabilisasi di Suriah. Intervensi kemanusiaan ( ‘Humanitarian Intervention’ ) adalah serangan militer bukan‘bantuan kemanusiaan’ ( obat, uang ) ketika negara tertimpa bencana. NATO dianggap  boleh menyerang Libya dan menggulingkan Qaddafi karena konon Qaddafi adalah diktator yang menyengsarakan rakyatnya. Kini, banyak pihak ( akibat propaganda hitam pemberontak yang disebarluaskan media mainstream milik pengusaha zionis dan media lokal yang tidak kritis ) menyerukan serangan militer AS dan NATO ke Suriah dengan alasan Assad sudah membunuhi ribuan rakyatnya.

Libya, salah satu yang menjadi korban ‘Humanitarian Intervention’. Tengok nasibnya kini. Libya yang sebelumnya salah satu negara terkaya di Afrika, setelah hancur dibombardir NATO kini jatuh miskin dan terjerat hutang. Para negara sponsor perang-lah yang menikmati konsesi minyak, rekonstruksi Libya dari hutang baru Libya pada Barat.

Suriah, negeri indah yang kini luluh lantak setelah ‘disentuh’ Israel-AS-Barat. Lebih setengah juta warga Suriah kini mengungsi ke Yordania dan sekitarnya. Perempuan2 Suriah menjadi korban perdagangan perempuan. Dijual ke pria2 hidung belang negara2 Arab pendukung perang.

Media corong Barat dengan propaganda menyesatkan.

Aljazeera ( Qatar ), Al-Arabiya ( Saudi Arabia ), France24 ( Perancis ), BBC ( Inggris ) and CNN ( Amerika ) di bawah koordinasi jurnalis Israel adalah media2 yang rajin menyebarkan propaganda bohong yang memojokkan Assad. Video palsu tentang kerusuhan di  Suriah juga dibuat Danny Abdul Dayem ( 22 tahun, warga Suriah-Inggris ) bekerja sama dengan Anderson Cooper dari CNN Amerika. Video ini menggunakan efek suara bom dan letusan senjata seolah para aktivis sedang dibantai pasukan ( pemerintah ) Suriah.

Revolusi ( Arab Spring ) terus menggelinding ke berbagai negara di Timur Tengah, seperti Yaman dan Bahrain. Berharap sampai menggilas rezim zionis-Arab Saudi ( Islam-Amerika ). Gelombang protes massal juga menghantam daratan Eropa : serunya aksi massa di Yunani, Spanyol, Italia, Jerman, Inggris ( London ). AS di tubir kebangkrutan ekonomi ?  Israel digerogoti krisis multi dimensional ? Semoga hegemoni mereka berakhir lebih cepat.

Setelah Libya, Suriah dan Iran, para gangster abad 21 ini akan mengincar target lain di Timur Tengah yang kaya minyak, terutama. Indonesia juga dipandang sebagai target untuk dipecah menjadi negara2 kecil agar kekayaan alamnya semakin mudah mereka eksploitasi. Imperialisme Anglo-Amerika ( Barat ) – lah yang selama berabad-abad melakukan kejahatan yang sama adalah musuh sebenarnya bagi Sunni, Syiah, dan seluruh umat manusia dari berbagai agama dan ras. Skenario disintegrasi di Suriah dan Libya perlahan sedang  diimplementasikan di  Indonesia. Kita mesti cerdas melihat siapa kawan siapa lawan sesungguhnya, sebelum Indonesia hancur seperti Libya.

Do we just get many lessons here,  people ?

Written by Savitri

10 Maret 2013 at 00:08

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , , , , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.