Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

MENGOLAH KONFLIK MENJADI KEKUATAN

leave a comment »

oleh :  A. Savitri

Dimuat di majalah Merpati Pos edisi Mei 1997

“Diro, kau tak bisa merencanakan segala sesuatunya. Kami bukan robot yang sanggup bekerja terus-menerus tanpa henti !,” protes Dimas, manajer pemasaran pada rekannya. Diro, manajer promosi balik menukas,” Lihat, hasil penjualan kita tak memenuhi target. Kerja kalian terlalu santai, sih. Salahmu kalau bos menegur !”.

Bersitegang mencari pemenang.

Bersitegang mencari pemenang.

Begitulah, keduanya adu mulut, ingin menang sendiri. Diro tak dapat bergaul dengan baik dengan Dimas dengan kekakuan sikapnya. Dalam emosi bergelora, tak seorangpun mengakui kelebihan pasangan bicaranya, bahwa masing-masing merupakan aset berharga bagi rekannya. Kenapa bisa begitu ?

Perusahaan akan rugi, persaudaraan atau pertemanan bisa rusak jika konflik dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Selain perbedaan selera, sudut pandang dan harapan, faktor lain seperti tubuh letih, pikiran kusut, tenggat waktu atau kantong cekak turut memperbesar konflik yang terpicu. Bagaimana menyiasatinya ?

Sesungguhnya, benih konflik itu sudah ada sebelum orang dilahirkan. Jika setiap bayi berbeda, maka setiap pribadi pun berbeda. Jadi pemikiran seperti, ’mengapa dia tak bisa seperti saya ?’ setiap kita mengeluhkan tindakan rekan kita, itu keliru. Kita cenderung senang dengan orang yang berkepribadian sama dengan kita. Tapi menuntut orang lain bersikap seperti yang kita inginkan, adalah tindakan berlebihan, apalagi kalau sampai salah dalam penyampaiannya, pastilah hanya pertengkaran yang didapat. Alih-alih dapat teman sepermainan, malah kita menambah musuh baru.

Diro, sang manajer promosi, suka mengatur dan menyukai peraturan. Ia paling senang dengan jadwal tugas dan perkiraan yang jelas. Di kantor, Diro ingin tahu apa yang diharapkan perusahaan darinya. Bagaimana ia harus mengerjakan tugas. Kapan proyek harus mulai dan kapan selesainya. Diro merasa puas bila ia dapat mengendalikan hidup. Dalam tipe kepribadian, Diro tergolong analitis, berorientasi ekonomi, penuh perhitungan, memikirkan kesejahteraan karyawan dengan sangat serius. Terlihat dari sikapnya yang banyak mengeritik dan cenderung kaku. Ruang kerjanya dipenuhi grafik, bagan yang rapih yang dia perlukan dalam mengupayakan efesiensi perusahaan. Orang dengan kepribadian analitis berguna sebagai pemindai jika perusahaan sudah melenceng arahnya atau di ambang kebangkrutan.

Dimas, koleganya lain lagi. Manajer pemasaran ini lebih santai dan menikmati hidup. Ia menganggap rencana dan jadwal adalah ‘kejahatan’ yang dipaksakan dalam perusahaan. Dimas lebih suka membiarkan semuanya terjadi dan menangani sebagaimana mestinya. Seumur hidupnya, ia telah berhasil dengan cara tersebut. Tugas diselesaikan dengan baik tanpa mengikuti perencanaan dan aturan yang kaku. Dimas amat cekatan jika menghadapi krisis dan keadaan darurat. Dimas digolongkan tipe amiable, yang berorientasi perdamaian dan bersikap kekeluargaan. Berpenampilan sederhana, seperti orang kebanyakan. Suka memajang foto keluarga di meja kerjanya. Sulit berkata tidak pada orang yang minta tolong kepadanya.

Lihat, sebetulnya Diro dan Dimas bisa bersinergi. Di saat rencana tak berjalan sesuai harapan, Dimas bisa diandalkan untuk mengatasi keadaan genting. Sebaliknya, Dimas dapat diingatkan Diro secara persuasif, jika terlalu santai atau kurang produktif. Keduanya jelas lebih baik jika mampu menghargai kelebihan rekannya.

Nah, daripada bertengkar terus, lebih baik kita saling melengkapi. Dalam dunia kerja, tipe kepribadian yang sama dengan kita tak selalu yang terbaik buat kita. Karena tiap pribadi punya keterbatasan, yang harus ditutupi dengan tipe kepribadian berbeda yang dimiliki rekan kita. Dalam lingkup yang lebih luas, semisal lingkungan tempat kita tinggal, kawasan kota/ desa maupun negara, sikap menerima kekurangan orang lain, mensinergikan kelebihan dengan rekan kita ditambah kemampuan berkomunikasi yang efektif dan santun sungguh menjadi perilaku yang sangat menguntungkan. Terlebih melihat keadaan bangsa kita saat ini yang sedang carut-marut, didera perbedaan antar komponen bangsa. Sikap ini sangat relevan untuk dikembangkan. Bayangkan, jika setiap dari kita bisa memulai dari rekan sekerja dan saudara di rumah. Wah, bakal damai negeri ini, karena sikap rukun bisa menjalar, menular dan menginspirasi yang lain.

Kutub berbeda saling menarik.

Kutub berbeda saling menarik.

Seperti halnya pria dan wanita, yang memiliki perbedaan tetapi senantiasa menarik lawan jenisnya, kepribadian yang berbeda di sekitar kita pun, layaknya magnet yang berlawanan kutub, akan ‘nempel kayak perangko’, menghasilkan kekuatan dan manfaat bagi kita, keluarga, perusahaan dan negara. Kuncinya, toleransi dan penghargaan.

Great People & City © 2009 – 2020. All Rights Reserved.

Sumber foto : Google Images/ internet

Iklan

Written by Savitri

3 Februari 2009 pada 07:18

Ditulis dalam Ragam

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: