Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

CINTA dalam Sepiring Nasi

with one comment

( hikmah di balik konflik lansia dengan putrinya )

oleh : A. Savitri

dimuat di Purnabaktipos,  edisi  112 / 2008

Sinar menyeruak dari tingkap langit dan jendela rumah. Kesibukan pagi dimulai seperti biasa, menyiapkan sarapan bunda. Mestinya semua berjalan baik-baik saja, meski tak ada yang istimewa. Namun nyatanya tak begitu, tak ada petir, tak ada badai, meletuslah pertengkaran hebat ! Pemicunya, kantong kresek yang tak ada di tempat biasa. Menyusul adu argumen panas soal letak kresek seharusnya, merembet soal bumbu tempe gembus bulan kemarin sampai rentetan kekurangan si anak dari A-Z dipaparkan dengan nada ketus memerahkan telinga. Si anak, satu-satunya yang masih menemani bunda dengan segala pasang surut kondisi mental dan fisik beliau akibat kepergian bapak yang mendadak tujuh tahun lalu, terpekur bingung dengan drama pagi itu. Ada apa denganmu ?

Meski kuping serasa dijewer ketidakadilan, si anak mencoba menganalisis kehebohan pagi itu. Ada asap ada api. Di mana apinya ? Lalu berkelebat semua peristiwa, adegan dan informasi di kepala. Semua orang tahu berinteraksi dengan lansia tidaklah mudah. Terlebih orang tua sendiri yang tahu banyak soal anak, kekurangan dan kesalahannya. Umumnya orang lebih suka menyorot kesalahan daripada kebaikan yang sesungguhnya porsinya lebih besar. Berlaku noda setitik rusak susu sebelanga. Tak terkecuali lansia ( lanjut usia ), yang mengalami kemunduran fisik, menjadi lebih sensitif, terlebih mereka yang terbiasa dengan pola pikir kurang bijak di saat mudanya. Lebih berat lagi meladeni orang yang dulunya punya posisi tinggi, punya kekuasaan cukup besar, dihinggapi post power syndrome, yang terbiasa menempatkan orang terutama anggota keluarganya di bawah dia, mengikuti aturannya, memancang kita di tempat duduk untuk mendengar nostalgianya berjam-jam. Menjemukan. Apa ini suratan nasib ?

Lapisan kesadaran berikutnya mencoba lebih obyektif. Adakah bunda kurang tidur semalam karena asyik menyimak rumpian penyiar radio dengan pendengarnya ? Apakah ibu terlalu lelah dengan seabrek kegiatannya kemarin ? Ikut pengajian hampir tiap hari, dzikir sekian ratus kali, sholat Tahajud tiap malam, menyapu, berkebun di halaman depan dan tengah rumah hingga bunga terompet bertandan-tandan saking suburnya, atau asyik dengan kesibukan barunya seperti ngoprek mixer kue atau mesin aquarium yang rusak hingga lupa waktu ? Bisakah tubuh rentanya menanggung semua ritme cepat ini ?

Setelah dipikir-pikir, dibandingkan frekuensi marah, kok rasanya, lebih sering bunda merapikan handuk di tempat jemuran, mengingatkan si anak olahraga, makan atau sholat. Terkadang bunda juga mencuci, menyetrika baju tatkala si anak sedang sibuk. Teringat pula wajahnya yang menyisakan kecantikan itu tersenyum, tergelak lepas merespon teka-teki guide Bali atau sketsa komedi Extravaganza di televisi. Setelah mem-blow up kebaikannya yang memang lebih banyak, mendinginlah hati yang tadi panas. Belum lagi jasa beliau membesarkan anak selama puluhan tahun dengan segala keterbatasannya. Anda sebaiknya membawa tisu dan mengunci di kamar bila ingin memutar utuh semua peristiwa dalam hidup anda. Pastinya kantong kresek menjadi sempilan kecil di gambar besar itu. Tak begitu berarti lagi.

Seorang pembicara di ‘Oprah Show’ mengatakan ; wanita setelah menopause mengalami fase lebih sulit dari masa-masa sebelumnya. Kurang atau terhentinya produksi hormon ekstrogen memunculkan penyakit-penyakit yang dulu tak pernah diderita. Rambut rontok, kumis tumbuh, pinggang nyeri dsb. Teringat pula riset di Jepang pada waktu silam ; sekumpulan muda-mudi di Jepang diminta membungkus kakinya dengan ikatan kaku semacam gips lalu berjalan terseret kiloan meter untuk merasakan apa yang dialami para lansia. Mereka mengeluh terganggu, sengsara. Wajah mereka meringis ngilu, kelelahan.

Dug ! Teringat bunda turun tangga seperti anggota paskibra, mundur setahap demi setahap. Tak terbayangkan lansia melakoninya tiap hari selama bertahun-tahun, tak hanya saat eksperimen saja seperti yang dilakukan relawan Jepang. Di situ, empati melunakkan hati, mengerti asal muasal kata-kata tak berhati. Kita pernah merasakan betapa peningnya kepala jika perut keroncongan. Badan gemetar, sulit berpikir. Jika sudah demikian, semua sumpah serapah bisa saja muncrat tak terbendung, meninggalkan luka di dada tak terperi. Saat menenangkan diri, mestinya terlintas di benak kita. Apakah jati diri kita memang seperti yang didampratkan ? Atau bunda sedang tidak menjadi dirinya ?

Nutrisi sehat kesukaan bunda tersedia tepat waktu ! Itu yang terabaikan kemarin. Betapa lansia sangat tergantung pada asupan gizi secara teratur untuk menopang tubuhnya yang tak lagi cepat menyerap. Tak boleh terlambat. Bunda tak boleh kelaparan lagi. Mesti tersedia cukup karbohidrat, serat, protein, gula ( bunda darah rendah ) dalam menu harian, plus cemilan sehat mengenyangkan ( mis. ubi rebus, roti ) jika terbangun lapar malam hari. Mendengar pendapat dan keluhan sakit bunda, selain wujud perhatian kita juga antisipasi penyakit, sebelum terlambat dan menjadi lebih sulit/ mahal untuk diatasi.

Nasi soto dengan cinta.

Nasi soto dengan cinta.

Hal lain yang bisa kita lakukan untuk orang tua yang sudah lanjut usia, diantaranya ; membantu mengingatkan mengunci pintu sekembali beliau dari kegiatan luar tanpa menyinggung perasaannya atau kita mengeceknya sendiri, mengingatkan beliau makan, istirahat, sholat yang belum beliau lakukan, juga obat serta pantangannya jika beliau sedang sakit. Setelah semua ini dilakukan, anda bisa berharap hubungan anda dengan orang tua menjadi lebih baik. Bahkan bunda bisa, lho, jadi teman seru menonton putaran final Uber dan Thomas Cup 2008 di televisi kemarin. Hebohnya bahkan melebihi si anak.

Kantong kresek semula dianggap tak berarti. Tapi kalau kita pahami kantong kresek itu puncak gunung es pengabaian, maka kita bisa terhentak, secepatnya mengevaluasi diri. Bukan perkara letak kantong kresek, tentunya, tapi perhatian yang abai diberikan si anak sehingga semua perkataan dan tindakan disalahkan. Bunda tak bisa menerima pengabaian lagi, juga segala alasan terhadap pengabaian itu. Bunda terlanjur kesal ( merasa ) ditelantarkan. Dalam pikirannya yang kurang jernih karena tertundanya asupan nutrisi, si anak yang membuatnya menderita seperti ini, pastilah tak becus semua perkataan dan perbuatannya. Masuk akal, ya. Akhirnya, lansia memang bukan kantong kresek, sepatutnya ia menerima lebih dari sekedar sepiring nasi. Pertama kali, pastikan hati dan mata anda berbinar dengan tulus melihat bunda masuk ruangan. Love you, Mom !

( A.Savitri )

Sumber foto : Google Images/ internet

Iklan

Written by Savitri

18 Februari 2009 pada 11:26

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. thumbs up,,
    ini yg sring aku cari, n akhirnya dpt..

    asrils

    1 Desember 2009 at 03:42


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: