Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Jørn Utzon, Sang Arsitek Puitis

with 6 comments

oleh : A. Savitri
dimuat di Kiprah, edisi 23 / 2007

Sydney Opera House

Sydney Opera House

Anda tahu Sydney Opera House ? Cangkang indah berbalur putih, yang dikenal dunia sebagai ikon negeri Australia seperti halnya Borobudur untuk Indonesia. Saking indahnya sampai seorang wanita yang siap terjun bunuh diri dari Sydney Harbour Bridge, terkesima pemandangan berkilau Opera House di bawahnya dan mempertimbangkan kembali hidupnya. Siapa penyelamatnya waktu itu ? Tak lain Jørn Utzon yang menerima Pritzker Prize for Architecture tahun 2003 – nobel-nya dunia arsitektur – karena karya masterpiece-nya ini.

Menakjubkan. Sepertinya takdir menempatkan Jørn pada posisi terhormat ini. Ditilik latar belakang keluarganya yang pembuat kapal, Jørn seperti diuntungkan untuk memenangi proyek kompetisi ini. Lihatlah atap Sydney Opera House yang mirip rangkaian layar terkembang dan lokasinya yang di tepi laut, Jørn bagai menemukan masa kecil yang dahulu diakrabinya, bermain-main dengan kreasi dan fantasinya. “Saya suka memacu kemampuan sampai batas kemungkinan,” ujar Jørn Utzon. Untuk kenekadannya ini, setelah melalui rentang panjang dedikasinya, Jørn diganjar berbagai penghargaan dan namanya dikenal dunia luas. Bagaimana Jørn mencapai ini semua, kita simak bersama perjalanannya.

Interior Sydney Opera House

Interior Sydney Opera House

MASA-MASA PENGEMBLENGAN

Jørn Utzon adalah arsitek Denmark paling berbakat dan orisinil di abad modern. Pria kelahiran Copenhagen, 1918 ini semula tak ada niatan untuk berkarir sebagai arsitek. Utzon muda malah membayangkan kehidupan laut sebagai awak kapal. Anak dari Aage Utzon ini, menghabiskan masa kecilnya di Aalborg, Denmark dimana ia menyelesaikan SMU-nya tahun 1937. Sang ayah yang mengepalai galangan kapal di Alborg adalah arsitek perkapalan yang brilian, banyak dari desain yacht-nya masih diproduksi hingga hari ini.

Beberapa anggota keluarganya dikenal sebagai pengemudi perahu balap yang hebat. Sampai usia 18 tahun, Jørn membantu ayahnya, mempelajari desain baru, menggambar denah dan membuat model, berlatih menjadi arsitek perkapalan seperti ayahnya. Pengaruh lebih jauh diperkenalkan selama liburan musim panas dengan kakek-kakeknya. Di sana Jørn bertemu dengan Paul Schrøder dan Carl Kyberg, yang memperkenalkannya pada seni. Saudara sepupu ayahnya, Einar Utzon-Frank, seorang pemahat juga profesor di Royal Academy of Fine Arts, memberi inspirasi tambahan.

Jørn tertarik memahat. Pada satu titik, sepertinya Jørn ingin menjadi seniman, tapi yang jelas meyakinkan, sekolah arsitektur akan menjadi jalur karir yang terbaik untuknya. Meski nilai akhirnya di SMP, terutama matematika kurang, bakat menggambar freehand-nya yang hebat cukup membantunya diterima di Royal Academy of Fine Arts di Copenhagen. Jørn kemudian dikenal memiliki bakat arsitektur luarbiasa. Mereka mengamati pengaruh lingkungan pada diri Utzon muda dan melihat minatnya yang besar pada hubungan manusia dengan tempat tinggal dan tetangganya.

Jørn belajar di bawah bimbingan Kay Fisker dan Steen Eiler Rasmussen. Ketika lulus tahun 1942, karena PD II, Jørn, seperti banyak arsitek waktu itu, melarikan diri ke Swedia, negeri netral, dan bekerja di kantor Stockholm milik Hakon Ahlberg. Di sana, Utzon berhasil memenangkan Medali Emas Danish Royal Academy. Selanjutnya, Jørn ke Finlandia bekerja dengan Alvar Aalto. Lalu bersamanya, Jørn mengunjungi arsitek dan seniman besar waktu itu seperti Le Corbusier, Mies van der Rohe, Frank Lloyd Wright dan Henry Laurens. Jørn juga bersahabat dengan arsitek Norwegia, Arne Korsmo. Utzon mengakui Aalto, Asplund dan Wright adalah tiga arsitek yang memberi pengaruh utama padanya.

PENCARIAN JATI DIRI

Jorn Utzon

Jorn Utzon

Jørn kembali ke Denmark dengan keluarganya setelah perang dan mendirikan kantor prakteknya di Copenhagen tahun 1950. Jørn mulai dengan proyek rumah pribadinya di Hellebaek tahun 1952, disusul rumah beberapa kliennya, dan banyak desain kompetisi. Minat awal Utzon pada pemukiman manusia menggiringnya bereksperimen dengan rumahnya sendiri, karya pertama berupa model berskala penuh dari kayu dan kanvas. Dengan rumah itu, Utzon memperkenalkan sistem open plan yang digagas idolanya, Frank Lloyd Wright, pada publik Denmark. Dua puluh tahun kemudian Jørn membangun rumah tetirahnya di pulau Majorca. Tapak spesifik di ketinggian karang di atas laut membentuk gugusan empat kotak kecil yang terpisah dengan pemandangan berlainan yang luar biasa dari laut Tengah.

Jalan menuju kediaman Jorn Utzon

Jalan menuju kediaman Jorn Utzon

Pembangunan Kuwait Assembly

Pembangunan Kuwait Assembly

Dalam hidupnya kemudian, pendekatan arsitektur Jørn tak pernah berdasarkan rasio namun lebih ke spontanitas. Intuisinya mencatat reaksi manusia terhadap visual dan sekelilingnya. Misalnya pada kompleks sidang Kuwait (1972 ), Jørn membuat kolom raksasa yang mendominasi lobby, menopang balok yang menggantung, yang dibentuk seperti kanopi dari kanvas. Keindahan bangunan ini disebut-sebut menyamai kuil Karnak.

Pengalaman ruang alami Jørn, juga bisa dilihat pada proyek fantastiknya di musium bawah tanah di Silkeborg ( 1964 ). Jørn terilhami gua-gua di Tatung, Cina, dimana seluruh dinding gua ditutupi patung Budha berbagai ukuran. Berkas cahaya masuk dari celah-celah dinding. Untuk proyek interior showroom furniture Paustian ( 1986 ), Jørn mengambil unsur kreatif sejenis pohon besar di Denmark, dengan matahari dan langit berkilauan di celah rerimbunan daun dan dahan yang kokoh. Peralihan puitis interior tersebut, dicapai dengan sistem kolom dan balok prefabrikasi dengan bermacam variasi tinggi, bentang dan irama.

Interior Kuwait Assembly, dengan kolom raksasa dan kanopi kanvas.

Interior Kuwait Assembly, dengan kolom raksasa dan kanopi kanvas.

Kompleks sidang Kuwait, meniru Kuil Karnak, Mesir

Kompleks sidang Kuwait, terinpirasi keindahan Kuil Karnak, Mesir

Gereja Bagsvaerd Kirke, Copenhagen ( 1974-76 ) oleh Jørn dibuat persegi, sederhana, tapi dengan ruang interior sangat tinggi, ditutupi balok tinggi bervariasi, sehingga memungkinkan matahari menembus dan memantul, memperlihatkan perubahan langit sepanjang waktu, terinspirasi variasi awan yang menghiasi hari-hari cerah di pantai. Jørn mendapatkannya saat berbaring di pantai Hawai saat jeda mengajar. Jørn melihat fenomena aneh dari awan lewat di atas kepalanya dan tak bisa melupakannya !

Tahun 1950-an, Jørn sempat mengunjungi Maroko, Meksiko, Amerika Serikat, Cina, Jepang, India dan Australia. Dari perjalanan itu, Utzon terkesan tanah datar buatan manusia di piramida Meksiko,“Sebagai elemen arsitektonis, panggungnya sungguh mempesona. Hati saya tertambat pada Meksiko ( 1949 ), ketika saya menemukan gagasan yang kaya pada sebuah panggung tunggal dikelilingi alam yang masih perawan. Semua panggung di sana diletakkan secara halus dalam lansekap, selalu dengan kreasi dan gagasan brilian, melingkari sebuah kekuatan besar. Anda bisa rasakan tanah kokoh di bawah anda, ketika berdiri di atas tebing besar. Izinkan saya memberi anda contoh kekuatan ide ini. Yucatan adalah daerah lembah yang rata diliputi hutan yang tak bisa ditembus, di manapun kita memandang terlihat ketinggian yang meyakinkan.

Masyarakat Maya terbiasa tinggal di kampung yang dikelilingi huma kecil hasil pembukaan hutan. Pada semua sisi, dan juga di atas, ada hutan hijau, lembab dan hangat. Semula tak ada pemandangan bagus, serasa monoton, tapi dengan membangun panggung setinggi pucuk hutan, masyarakat ini seolah menaklukkan dimensi baru sebagai tempat penting untuk menyembah dewa mereka. Mereka membangun kuil di panggung tinggi ini yang bisa ratusan meter panjangnya. Di sini, mereka punya langit, awan dan angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba atap hutan bertransformasi menjadi dataran terbuka yang luas. Dengan cara ini mereka berhasil mentransformasikan lansekap, menghadirkan ke pandangan mata mereka, kebesaran yang sejajar dengan keagungan dewa mereka. Pengalaman mengesankan dari ketebalan hutan yang beralih ke keterbukaan luas di atas panggung itu masih ada di sana hingga hari ini. Pembebasan yang anda rasakan di sini di tanah Nordic, seperti pengalaman berminggu-minggu hujan, awan dan kegelapan lalu tiba-tiba muncul sinar matahari lagi.” Pengalaman ‘panggung’ ini kemudian diterapkan di banyak karya Jørn, termasuk Sydney Opera House.

Di Kota Terlarang Beijing, Jørn mengagumi harmoni yang tercipta dari kontras mimbar yang berat dengan lengkungan atap yang indah berlapis genteng glasur. Dari buku pengrajin Cina berumur ribuan tahun, Jørn mengetahui prefabrikasi kayu bertaraf tinggi Cina telah menyempurnakan rumah-rumah Jepang sehingga nampak seperti potongan furnitur dengan peninggian lantai sebagai meja. Semua kesan ini dicatat, namun Utzon tak pernah menyalin atau secara langsung mentransfer gagasan itu. Dia selalu merubah kesan itu terlebih dahulu ke proyek imaginatif, individual melalui serangkaian perubahan bentuk. Meski karya dan proyek arsitekturnya berbeda satu sama lain, masih mungkin menemukan karakteristik menonjol dikaitkan dengan studinya di masa muda. Mimbar atau dataran buatan sebagai elemen alas diulangi dalam proyek lain yang nyaris tak terwujud.

SYDNEY OPERA HOUSE

Sydney Opera House saat petang.

Sydney Opera House saat petang.

Sydney Opera House adalah kompleks teater dan hall yang saling terhubung di bawah cangkang putih yang terkenal itu. Sejak dibuka tahun 1973, gedung opera ini menjadi pusat pertunjukkan seni tersibuk di dunia, menggelar sekitar 3000 even tiap tahunnya dengan penonton sekitar 2 juta orang, dioperasikan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu dan hanya tutup saat natal dan paskah. Sejumlah buku dan film mencatat sejarah 30 tahun, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek Sydney Opera House secara keseluruhan. Salah satunya karya Françoise Fromonot, “Jørn Utzon – The Sydney Opera House”.

Kisah gedung opera bergaya Modern Ekspresionis ini dimulai tahun 1957, kala Jørn berumur 38 tahun. Jørn yang membuka studio tahun 1945 dekat kastil Hamlet-nya Shakespeare ini, masih belum dikenal. Jørn tinggal di kota kecil Hellebæk, bersama istri dan ketiga anak mereka, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi arsitek. Konsep Jørn “tiga cangkang beton berlapis keping putih” tak dinyana terpilih sebagai salah satu pemenang dalam kompetisi internasional merancang gedung opera di tanjung pelabuhan Sydney yang diikuti 230 peserta dari lebih 30 negara pada tahun 1957. Setelah mengerjakan proyek ini di Denmark bertahun-tahun disertai kunjungan berkali-kali ke Sydney, Jørn akhirnya memutuskan memboyong keluarganya ke Sydney akhir 1962. Utzon memang senang menggarap bangunan publik monumental dan proyek perumahan yang rendah hati. Kekuatan motivasi telah membentuk karir arsitek Denmark ini.

Atap cangkang bertumpuk karya Jørn bertahta di atas panggung mengesankan karya Ove Arup – pemenang asli kompetisi tahun 1957 ini – adalah skema yang mendobrak tradisi. Utzon bekerja sama dengannya pada proyek ini, sedang saat menuntaskan desain akhir Jørn bekerja dengan Tobias Faber. Hal itu bermanfaat bagi Utzon untuk menguji gagasannya, sedangkan bagi Faber kesempatan berharga dapat mengamati kreasi dari gagasan besar. Mereka berdua mempelajari karya Gunnar Asplund, mengagumi kekuatan gagasan utamanya yang selalu didukung kesempurnaan detail. Ketika para arsitek tertarik arsitektur Jepang, mereka mempelajari buku-buku tentang monumen Cina dan arsitektur lokal untuk dasar mempelajari tradisi bangunan Jepang. Mereka pelajari juga buku-buku Frank Lloyd Wright dan pendekatan arsitekturnya serta foto-foto menawan dalam buku Jerman ‘Wunder der Natur”.

Semua itu dilakukan berdasarkan intuisi Utzon akan hal yang akan menjadi esensi arsitektur masa datang. Reaksi mereka atas ketakpedulian kualitas umumnya hasil Gerakan Modern waktu itu, dikumpulkan dalam suatu artikel di majalah Denmark ‘Arkitekten’ tahun 1947. Inspirasi mereka peroleh dari struktur dan tekstur alam, bangunan lokal dan monumental masa lalu di Meksiko, India, Yunani dan Cina. Pendeknya setelah itu, dalam sebuah introduksi pameran kecil, Utzon menjelaskan gagasannya untuk pendekatan baru arsitektur dengan bekal latihan kepekaan diri, pemahaman hukum alam, kebutuhan imaginasi dan mimpinya.

Suasana khusus senantiasa mendorong Utzon membuat solusi khusus pula. Sydney Opera House terletak di atas dermaga pelabuhan Sydney, dikelilingi pegunungan dan lereng, dimana penduduk dapat memandang ke bawah kota. Atap menjadi bagian penting ke lima tampak. Bangunan itu bagai pahatan yang dibungkus cangkang, memantulkan langit dan awan.

Denah Sydney Opera House

Denah Sydney Opera House

Perhatian Utzon pada prefabrikasi menunjukkan usahanya menggunakan industri lebih dari sekedarnya. Menyusun elemen berbeda bentuk, ukuran dan bahan ternyata bisa menghasilkan struktur yang kaya dan mengesankan. Untuk Sydney Opera House, Utzon bermain dengan bentuk-bentuk geometris dan sterometris murni, agar dapat mengontrol perhitungan kekuatan strukturnya. Dari sebuah bola dia memotong seluruh elemen menjadi shell setinggi 60 m.


Tahun 1966 Jørn meninggalkan Sydney karena pertikaian politik yang berujung penundaan kontrak. Utzon, yang waktu itu digambarkan media agak tertutup, tak sengaja terseret dalam intrik politik dan diserbu pers yang memusuhinya. Untungnya Jørn sempat menyelesaikan struktur dasarnya, sedangkan bagian interior di kerjakan pihak lain. Gedung opera ini akhirnya diselesaikan pembangunannya pada Agustus tahun 1973 oleh Peter Hall.

Belakangan hari menjelang pensiun, Utzon mengutus putranya Jan dengan bendera Utzon Architect, bekerja sama dengan Sydney Opera House Trust dan pemerintah Australia, dalam pengembangan dan renovasi gedung opera ini di masa mendatang, meliputi pembuatan dokumen prinsip desain dan panduan modifikasi untuk generasi muda Australia yang akan mewarisinya. Jørn berpesan,” Saya harap gedung ini bisa bertahan untuk seni. Generasi berikut mesti punya kebebasan untuk mengembangkan gedung ini untuk kebutuhan masa tersebut.”

Duduk di Bennelong Point, memandang ke bawah dari jembatan tersohor Sydney Harbour Bridge, Opera House terekspos seutuhnya, sejelas segmen berwarna dimana gedung opera ini berdiri. Tak heran si wanita di awal kisah langsung terpesona. Terang saja, ia melihat bangunan kebanggaan rakyat Australia ini di tempat paling strategis untuk mengaguminya. Allah memang Maha Indah !

ARSITEK, GURU DAN AYAH YANG BERHASIL

Utzon sebagai arsitek internasional, dapat bekerja di mana saja di dunia. Meskipun ia mempunyai dasar tradisi bangunan Denmark, namun kesederhanaan dan kerendahan hatinya membuat semua bangunan ciptaannya bebas dari perasaan sentimentil dan kebiasaan membesar-besarkan diri. Beberapa karya penting yang dibuat Jørn di Denmark diantaranya ; Courtyard-Style Housing ( 1956-58 ), Kingo Houses di Helsingør, Fredensborg Houses ( 1962 ), Kalkbrænderihavnen di tepi laut Copenhagen, kantor Herning Shipping ( 1986 ), gedung pertemuan Stride Strømme di Denmark Institute of Technology, Odense ( 1986 ), proyek perluasan Hotel Marienlyst di Helsingør, Hotel Vejle, stasion pompa bensin ‘uno-X petrol’ di Herning, Ro-house di Fyn, Kalvebod Hotel di Copenhagen, Esbjerg Theatre and Concert Hall (Musikhuset Esbjerg), Skagen Odde Nature Centre ( 1999-2000 ) oleh Jørn, Kim and Jan Utzon. Sedangkan di luar Denmark, Jørn merancang Humana Zimbabwe, proyek IICD – Dowagiac, Michigan, USA, dua rumah mirip acropolis mini dinamai Can Feliz di pulau Majorca, Spanyol awal 1970-an yang ia tinggali bersama istrinya, Lis. Utzon pensiun di usia 84 tahun dan menikmati hari tuanya di sana.

Putranya, Jan dan Kim menjadi arsitek berbakat, sedangkan putrinya Lin Utzon bekerja sama dengan sang ayah membuat semua tenunan untuk gereja Bagsvaerd. Lin, seniman mural porselen dan media dekoratif, memiliki putra-putri bergelar sarjana arsitektur. Utzon dan kedua putranya mendirikan Utzon Associates di Haarby, Denmark. Wisma budaya Dunkers Kulturhus di Hälsingborg, Swedia di desain Kim Utzon, sedangkan kompleks Kuwait National Assembly ( 1982 ) dan Paustian Building di Copenhagen adalah proyek pertama Jørn dengan Kim Utzon. Kedua putra Utzon ini melanjutkan pekerjaan di Utzon Associates dan berhasil mengembangkan gagasan dan metode ayah mereka.

Boks Telpon, desain Utzon Associates

Boks Telpon, desain Utzon Associates

Dalam periode aliran Post Modern yang dangkal, Utzon menjadi pribadi yang menarik perhatian. Jørn sepanjang hidupnya bekerja dengan brilian, selektif, tidak mudah puas untuk mencapai yang terbaik. Pribadi yang tenang, terbuka, antusias, peka, loyal, tapi penuh ilham, sulit ditebak. Menggambar bentuk-bentuk alam dan persepsi manusia yang menghasilkan karya termasyhur. Sidney Opera House adalah epik keseniannya yang indah.

Cirinya pada gairah arsitektur yang terbangun dengan jernih, terinspirasi alam, memadukan gagasan keseimbangan Asplund, kualitas pahatan Alvar Aalto, dan struktur organik Frank Lloyd Wright. Ia melebihkan arsitektur sebagai seni dan mengembangkan bentuknya sampai ke tingkat puitis, dengan perencanaan matang, keutuhan struktural dan harmoni seni pahat. Karya arsitektur imaginatifnya, tentu terlalu personal untuk ditiru, namun penghargaannya terhadap kaidah arsitektur di masa lalu dan metode kerja progresifnya yang serius mestinya mengilhami imajinasi arsitek muda hari ini. ( A.Savitri/ peminat arsitektur kota/ pelbagai sumber )

Iklan

Written by Savitri

18 Februari 2009 pada 11:16

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sydney Opera house sanagt infah meski dengan bentuk atap yang sederhana..Komposisi besaran dan bentuk massa bergitu proprsional dan nyaman bagi mata..

    fariable

    23 November 2010 at 20:38

  2. I thought your readers would be interested in two series of photographs I’ve made of the more subtle charms of the Opera House:

    Into Silent Skies
    http://blog.quintinlake.com/2010/03/03/into-silent-skies-images-of-sydney-opera-house-roof-shells-australia/

    Abstract images of the tiled concrete shells
    http://blog.quintinlake.com/2010/03/03/abstract-images-of-the-tiled-fan-pattern-on-the-roof-sydney-opera-house-australia/

    Quintin Lake

    24 Maret 2010 at 09:45

  3. Thank you. Good luck for you too.

    anisavitri

    26 Agustus 2009 at 18:23

  4. i like it…always good luck

    key_fast

    22 Agustus 2009 at 18:26

  5. Ani Savitri wanita tulen, meski agak tomboy. Saya mengasah sisi feminin dan maskulin dalam diri saya dengan berpikir, banyak membaca, menulis/ berbahasa juga menggambar dan bela diri. Dunia makin pelik. Butuh optimalisasi otak kiri ( detail, logika, bahasa ) dan otak kanan ( konsep, gambar, spiritual ) untuk survive dan tetap berada di jalan-Nya. Komen cewek dengan kemampuan cowok, saya anggap sebagai pujian. Trims.

    anisavitri

    10 Juli 2009 at 17:05

  6. Anisavitri ini cewek atau cowok ya? maaf ya, kalo dari nama sih kayak cewek, tapi kalau dari kreativnya dan produktivitasnya waduh cowok kalah kok..

    adhimastra

    9 Juli 2009 at 02:09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: