Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Gerontocrazy : Menumpas Kekuatan Orang Muda

leave a comment »

( Petikan wawancara Dr.Eep Saefulloh Fatah, M.A ( 42 th ) dengan Erwin Kustiman dari PR. Eep pernah menjadi anggota MPR Utusan Golongan mulai 1 Juli 1998 sampai akhirnya mengundurkan diri 2 bulan 7 hari kemudian )

Eep Saefulloh & istri, Sandrino Malakiano

Eep Saefulloh & istri, Sandrino Malakiano

PR : Demokrasi liberal kian menjadi kenyataan dalam praktik politik kita. Terutama juga didorong keputusan Mahkamah Konstitusi tentang sistem suara terbanyak. Pandangan anda ?

Eep : Indonesia saat ini adalah representasi autentik dari apa yang disebut dengan demokrasi elektoral yang sibuk. Rangkaian pemilu di Indonesia dapat dikuantifikasi sbb. Kita melakukan sekali pemilu utnuk memilih presiden/ wakil presiden, kemudian 4 kali untuk pemilu legislatif ( DPRD kabupaten/ kota, DPRD provinsi, DPR, dan DPD ), 32 kali untuk memilih gubernur/ wakil gubernur, serta 466 kali untuk memilih bupati/ wabup dan walikota/ walkot. Ada 19.438 kursi yang diperebutkan. Rinciannya, presiden satu kursi, wapres satu, DPR 560, DPD 132, DPRD provinsi 1.998, DPRD kab/kota 15.750, gubernur 32, wakil gubernur 32, bupati/walikota 466. Dalam rentang 5 tahun, ada 503 pemilihan umum di Indonesia. Artinya, lebih dari 100 pemilu setiap tahun, lebih dari 8 pemilu setiap bulan, 2 pemilu setiap minggu. Jadi, seorang warga negara Indonesia bisa berpartisipasi dalam 10-11 pemilu dalam 5 tahun hidupnya. Ini belum ditambah dengan 65.260 pemilihan kepala desa di negeri ini.

PR : Di negara2 demokrasi mapan, “das sein” beriringan dengan “das sollen”, harapan dan kenyataan seiring sejalan. Tetapi, dalam konteks negara dengan transisi demokrasi, absurditas kerap menggejala di tengah iklim liberalisasi politik. Termasuk misalnya, popularitas yang justru bertolak belakang dengan kompetensi ?

Eep : Memang, demokrasi transisional memunculkan absurditasnya sendiri. Barack Obama lahir dari rahim demokrasi yang sudah mapan. Ia tidak muncul secara serta merta, akan tetapi melalui sebuah proses panjang praktik pelayanan sosial dan public, rekam jejaknya jelas, kompetensi tinggi paralel dengan kepemimpinan kharismatiknya. Demikian pula infrastruktur dan pranata sosial politiknya sudah mapan, sehingga pilihan rakyat dengan keterpilihan sosok yang mumpuni.

Secara prosedur, kita tengah memasuki iklim liberalisasi politik, akan tetapi pranata dan infrastruktur politik lainnya belum berjalan beriringan. Demikian pula unsur2 lain dalam konsep politik modern yang beririsan dengan konsep political marketing. Di mana independensi lembaga2 survei kita ? Pengabaian etika dan kode etik, tak hanya dilakukan aktor2 politik, akan tetapi juga oleh lembaga2 yang mestinya mengawal arah demokratisasi. Kode etik itu adalah jangan pernah membuat hasil survey sebagai iklan politik. Kedua, tidak boleh menggunakan hasil survey untuk memobilisasi pemilih pada waktu mendekati pemilihan. Ketiga, pelaku survey jangan menjadi konsultan politik. Ketiga etika ini justru semuanya di langgar di sini.

PR : Putusan MK menolak hadirnya calon perseorangan. Bagaimana kita melihat arah demokrasi kita di masa depan ?

Eep : Bagi saya pemimpin tidak harus dinilai dari ukuran tua atau muda, berasal dari parpol atau tidak. Kita sekarang justru melihat sebagian kecil kalangan muda yang memperoleh kesempatan untuk mengendalikan pos2 politik penting justru mencontek pikiran, perilaku dan ‘ketrampilan’ kalangan tua. Partai2 yang dikendalikan kalangan muda, misalnya, tetap saja menunjukkan ‘perilaku politik yang tua’, yang konvensional. Maka dalam konteks Indonesia, gerontocrazy ( pemerintahan yang kekuasaannya berpusat pada dan dikendalikan oleh orang2 tua ) pun memperoleh pemaknaan baru.

Gerontocrazy yang meluas ini membawa serta sejumlah bahaya. Politik diam2 atau terang2an kerap kali bekerja untuk menumpulkan kesadaran orang2 muda, menumpas kekuatan orang2 muda, dan menutup kesempatan bagi orang2 muda. Maka, tak terelakkan, salah satu agenda demokratisasi Indonesia yang penting adalah melawan gerontocrazy dalam pengertiannya yang luas. Sayangnya, banyak orang mengabaikan agenda ini. ( PR Minggu 15/3/2009 ).


Iklan

Written by Savitri

28 Maret 2009 pada 15:57

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: