Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Renungan : model jilbab syar’i

leave a comment »

”Mama lebih suka jilbab I atau A ?”, tanya seorang putri pada ibunya, usai melihat tayangan sahur di sebuah stasiun tv swasta.  Sang ibu menjawab, jilbab yang dipakai A takkan dipakai orang lain karena terlihat seperti lap yang disampirkan.“Mengapa Mama begitu yakin ?” tanya si putri, penasaran. “Karena Mama tak  melihatnya di pengajian, arisan maupun undangan yang sering Mama datangi.” Dahi si anak berkerut, setahunya jilbab yang terulur  menutupi dada lebih memenuhi syariat ketimbang jilbab gaul yang sebatas leher. Nah, lho ?

Diskusi merembet ke soal selera, mengacu subyektivitas penilai. Seorang perancang busana mengatakan ia biasa menciptakan dua tipe desain di tiap pagelaran. Satu dilempar ke publik yang berselera standar. Satu untuk show yang mengeksplor beragam pengalaman estetika. Cenderung eksklusif. Seni untuk seni. Seperti lukisan yang dihargai ratusan juta, sering dianggap kemahalan bagi mata awam yang pengalaman seninya terbatas. Disambung soal otak kanan yang peka terhadap rasa, intuisi, keindahan, kreativitas dan otak kiri yang unggul dalam logika, rasio, matematis, rutinitas terukur. Ketika adu argumen tak kunjung usai menjelang shubuh, si anak mulai berpikir, mungkinkah dirinya yang getol berseni tengah berkonfrontasi dengan otak kiri ibunya ? Bahasa berbeda,  tak menemui titik temu.

Sang ibu mengelak, kalau pilihannya semata faktor selera. Si anak kemudian berandai-andai jika I menggunakan jilbab A, juga figur publik lainnya, diikuti para fans, bisa jadi ibunya berubah pendapat. Jilbab syar’i layak dikenakan teman-teman beliau di berbagai acara. Lihatlah krim pemutih wajah, wajah indo dan produk pengatrol citra yang membombadir media elektronik dan cetak selama ini. Pembentukan alam bawah sadar dengan paparan berulang terus menerus, menggerakkan orang melakukan apa yang mereka mau. Para pengiklan dan produser. Cara ini bisa dilakukan pula untuk hal yang positif, seperti jilbab.

Masyarakat kita masih dalam fase mengenal jilbab agar kelihatan ngetrend. Disadari dunia fashion sudah cukup berkontribusi mempopulerkan jilbab sehingga busana nyar’i ini kini banyak penggemar dan menempati posisi terhormat di even penting dan bergengsi warga Indonesia. Rupanya, perlu waktu dan upaya lebih kreatif untuk membuatnya makin syar’i seperti yang dikenakan A. Perubahan kecil berkesinambungan lebih baik daripada perubahan besar mendadak tapi mandek, kata bijak Quraish Shihab.

Perjalanan bangsa ini masih panjang menuju keemasannya. Soal model jilbab saja masih bergeser dari tuntunannya, dan itu yang dipahami dan diikuti sebagian besar orang. Bagaimana dengan soal yang lebih rumit, semisal hukuman mati bagi koruptor atau pelaksanaan UU Antipornografi yang disahkan 30 Oktober 2008 ? Bisakah kita sepaham atau sedikitnya, tidak panjang lebar berpolemik ? Melelahkan.

Menurut ahli, perilaku buruk baru berhenti jika pelaku dihukum berat dan dipandang rendah oleh masyarakat ( hukuman sosial ). Hukuman maksimum 7,5 milyar dan penjara 15 tahun, akankah menggetarkan para pelaku bisnis maksiat ? Lemahnya penegakan hukum di negeri ini sudah berlangsung terlalu lama. Menyuburkan peredaran bacaan dan vcd cabul. Membiarkan pelaku pelecehan seksual, seks pranikah dan aksi pemerkosaan merajalela ( dengan hukuman ringan/ bebas ). Sehingga dalam konten mesum, negeri muslim terbesar di dunia ini mendapat peringkat kedua setelah Rusia, negeri tak bertuhan. Miris, bukan ?

PR  kita sebagai anak bangsa, untuk lebih gigih melawan suara-suara negatif di kepala. Dari masa lalu, bisikan nafsu, setan dalam diri kita, setan jin dan paparan buruk yang bertebaran di sekeliling kita.  Selebihnya, Sang Pencipta yang akan membantu dengan cara-Nya yang misterius. Bukankah urusan mukmin yang dikasihi-Nya adalah urusan-Nya ? Insya Allah.

Jilbab syar'i

Jilbab syar'i

Adzan berkumandang dari mesjid sebelah. Teve dimatikan. Ibu dan putrinya mengambil air wudhu, lalu sama-sama melaksanakan sholat shubuh.

Ya, perbedaan pendapat tak perlu membuat kita terpecah belah sebagai keluarga muslim. Seiring berjalannya waktu, dengan kesabaran dan kreativitas kita, pemahaman yang benar tentang penerapan syariat akan tercapai juga. Semoga. ( A.Savitri  )

Iklan

Written by Savitri

15 April 2009 pada 15:16

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: