Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Monotheisme Suami Nefertiti di AMARNA

leave a comment »

”Ayah para dewa yang menciptakan umat manusia, yang mencipta hewan… dan semua tanaman … Tuan dari sinar matahari yang memberi cahaya….”, bunyi bilah Amarna. Raja cilik, wanita tercantik, pembangkang tradisi, pendiri ibukota baru, lenyap misterius, menyertai orang paling dipenasari sejarawan kuno. Pembuat bilah itu, Akhenaten, hidup 3379 tahun yang lalu.

Patung Akhenaten ( fir'aun Imhotep IV )

Patung Akhenaten ( fir'aun Imhotep IV )

Nefertiti, wanita tercantik di Mesir, istri Akhenaten.

Nefertiti, wanita tercantik di Mesir, istri Akhenaten.

Wow. Betapa sulit dan lama pencarian Tuhan sejati. Jauh sebelum kedatangan nabi Musa ke negeri piramid, seorang pendobrak mengadaikan nyawa demi keyakinan yang teguh. Seorang fir’aun muda bergelimang kemegahan, beristri wanita tercantik di Mesir, mendadak kehilangan segalanya. Bisa jadi prequel “The Ten Commandments”-nya Charlton Heston. Barangkali.

ARTEFAK AMARNA

Salah satu bilah Amarna yang ditemukan.

Salah satu bilah Amarna yang ditemukan.

Napoleon Bonaparte dengan pasukan Perancis yang dipimpinnya, saat menduduki Mesir ( 1797-1799 M ) menemukan batu tulis di Rosetta. Batu berhurufkan hieroglif ini setelah dibaca Jean Francois Champollion ( 1800 M ) menguak tabir sejarah Mesir kuno. Mesir menjadi pusat kebudayaan tertua di benua Afrika. Riset Champollion selama 20 tahun menjadi perpustakaan Mesir kuno, yang ditulis diatas papyrus ( tumbuhan air di tepi sungai Nil ).

Sebuah stasiun di pertengahan jalan antara Thebes dan Memphis, memperlihatkan situs kota kuno Akhetaten. Tell-El-Amarna atau Tel El Amarna adalah nama modern Akhetaten, ibukota Mesir untuk fir’aun Akhenaten ( 1353-1336 SM ). Tempat ia berdiam, sebagai pengganti istananya di Luxor. Disusun dari nama perkampungan terdekat.

Kamar arsipnya ditemukan di sana, selama penggalian ekstensif tahun 1887-1888 M. Sekitar 300 bilah lempung ( disebut bilah Tel-el-Amarna atau bilah Amarna ) ditemukan, meliputi korespondensi antara Akhenaten dengan ayahnya, surat-menyurat Amarna dengan negeri luar seperti Babilonia, Assyria, Palestina, juga sejarah Asia dari tahun 1400-1370 SM. Ditulis dalam huruf cuney.

Makam adik Akhenaten ditemukan hampir lengkap oleh Howard Carter tahun 1922. Ada patung perunggu Tutankhamun ( 1332-1322 SM ) sebatas dada dengan hiasan kepala dari emas. Bentuk wajah memanjang, paha dan pangkalnya terlihat gemuk mengindikasikan fir’aun muda tsb.

Meski masa keemasan Amarna berlalu cepat, periode itu memukau kita karena keunikan Akhenaten dan misteri keturunan fir’aun Amarna. Bak mimpi, kisah fiksi sineas Hollywood sekaligus digairahi para sarjana dalam debat keilmuan. Seni Amarna terdiri lebih dari 100 karya dan artefak ibukota bergurun gersang yang kini tak berpenghuni. Jurang di lokasi pusat sudah runtuh, membentuk kata ‘akhet’ dari huruf serupa hieroglif. Penampakan harian matahari melalui formasi batu karang aneh di Amarna, mungkin yang menginspirasi sang fir’aun menamai ibukota barunya Akhetaten ( horizon dari Aten ).

Peta yang menunjukkan lokasi situs Amarna di wilayah Mesir.

Peta yang menunjukkan lokasi situs Amarna di wilayah Mesir.

Revolusi radikal dalam hidup singkat Akhenaten dalam kepercayaan diiringi seni visual, berupa patung naturalis yang rileks, segar. Pahatan profil menghadap ke kanan, dua bentuk lengan terulur tinggi ke arah cakram matahari Aten, yang sinarnya menerpa tangan sang dermawan. Representasi keduanya, dewa dan adegan religius menjadi contoh standar seni masa Amarna. Inovasi artistik agaknya disetujui fir’aun, sehingga lahir gambar distorsi manusia yang menegaskan lengkung sensualnya. Selain itu, ada patung relief monumental keluarga fir’aun, karya seniman, perhiasan emas, barang pribadi Akhenaten dan pengiringnya.

POLYTHEISME MESIR KUNO

Dewa nasional bangsa Mesir kuno adalah Amun-Ra ( dewa bulan matahari ), yang diringkas Amun. Raja Mesir yang disebut fir’aun dianggap putra dewa Amun. Burung elang menghubungkan Amun dengan manusia. Mereka percaya ruh hidup terus asal badan utuh, sehingga jasad mati diawetkan menjadi mummi. Kehidupan alam baqa sama dengan dunia.

Matahari seharian bertransformasi. Terbit disebut Khepri, pagi Re-Horakhte atau Re-Horemakhet, siang Aten, terbenam Amun. Selain matahari, masyarakat juga memuja dewa Osiris, Isis, Aris, Thot, Anubis, Apis dll. Polytheisme begitu kuat mengakar di benak orang Mesir selama ribuan tahun, sehingga melindas Akhenaten yang beralih memuja Sang Pencipta tunggal.

SIAPA AKHENATEN

Situs Amarna

Situs Amarna

Akhenaten adalah anak kedua dan pengganti Amenhotep III ( Nebmaatre ). Fir’aun dinasti ke-18 ini, tahun 1425 SM, mengawini Tiye, putri Yey, komandan kereta tempur. Gadis berambut pirang ini terkenal karena kecantikan, kepintaran dan berkah langka ‘membaca hati orang’. Selama 38 tahun pemerintahan, Amenhotep III dan Tiye punya banyak keturunan. Pertama dalam urutan pewaris tahta, Thutmosis ( sesuai tradisi Mesir ; anak pertama fir’aun dinamai seperti kakeknya, Thutmosis IV Menkheprure ), lalu Amenhotep, Smenkhkare dan Tutankhamun. Putri mereka diantaranya Sitamun dan Beketaten, si bungsu kesayangan ayah.

Singgasana dewa Ra adalah Heliopolis ( secara harfiah, kota matahari ). Amenhotep dan kakaknya dikirim ke Heliopolis untuk belajar. Meski Heliopolis tetap menjadi pusat studi berpengaruh, usai dinasti ke 5, cara memuja Ra menjadi beragam.

Amenhotep III dinobatkan sebagai raja mesir tahun 1408 SM. Setelah 35 tahun berkuasa, ia perbolehkan putranya, pangeran Amenhotep, berbagi takhta dengannya, menjadi wakil pemerintahan selama empat tahun. Wilayah yang tunduk pada Mesir waktu itu diantaranya Babilonia, Assyria, Sisilia dan Cyprus.

Saat penobatan fir’aun disebut dengan 5 nama ; nama lahir, nama putra dewa, nama persembahan, nama kefir’aunan dan angka tradisional. Amenhotep kelak bergelar Amenhotep IV Neferkherure Waenre. Amenhotep naik tahta karena Tuthmosis wafat sebelum waktunya.

Setelah tujuh tahun bertahta, Amenhotep mengawini Nefertiti yang legendaris. Ia putri dari istri kedua Ay, atau keponakan Tiye ( jaman dulu, pernikahan antar anggota keluarga terdekat masih umum ). Ada gambar dua orang berpelukan, yang diduga menggambarkan cinta mendalam Akhenaten pada Nefertiti. Dari istri cantiknya, Amenhotep memperoleh 6 putri ; Meritaten, Meketaten, Akhesenpaaten, Nefernefruaten-Tasherit, Nefernefrure dan Setepenre. Meritaten kelak kawin dengan Smenkhkare. Ankhesenpaaten kawin dengan Tutankhamun.

Amenhotep selama di Thebes ( 1353-1348 SM ) sempat mendirikan empat struktur di kuil terindah Amun di Karnak. Ia mengagumi karakter matahari di Heliopolis, sampai bangunannya dinamai ‘matahari ditemukan’, ‘yang teragung, matahari’, ‘kuat, gerakan matahari’ dan ‘rumah matahari’. Ada patung kuarsit merah berskala manusia berujud sang fir’aun yang sedang menyilangkan lengan. Relief lain menggambarkan fir’aun dengan satu lengan terulur mengusap matahari. Penyelenggara persembahan di kuil ‘rumah matahari’ ini Nefertiti. Relief di dua kuil yang belum ditemukan, menggambarkan apartemen domestik, penghargaan pejabat dan kehidupan rumah tangga.

Kepercayaan Amenhotep yang bersifat monotheis tak diterima para pendeta penyembah banyak dewa. Pendeta-pendeta Amun terus menyulitkan hidup fir’aun ‘menyimpang’ ini sampai hengkang ke kota baru ia bangun, ia sebut Akhetaten, tempat ia memuja Aten. Ia berganti nama, dari Amenhotep ( kegembiraan Amun ) menjadi Akh-en-aten ( tunduk pada Aten ).

Hanya 12 tahun ( 1348 – 1336 SM ) Akhenaten tinggal di Akhetaten, sebelum lenyap misterius. Smenkhare, penggantinya pun hanya sempat memerintah 2 tahun. Tutankhaten, pengganti berikutnya, kembali ke nama asli Tutankhamun, sekembalinya ke Luxor dan menjadi raja tahun 1334 SM. Para pendeta Amun merebut kembali pengaruh mereka. Tutankhamun terpaksa tunduk dan merestorasi pemujaan Amun di Thebes. Ia memerintah selama 9 tahun sebelum wafat misterius.

Sampai hari ini tak ditemukan dokumen yang menyebut tanggal dan keadaan saat kematian mereka. Bukti historis sangat sedikit, untungnya, penafsiran komparatif dari dokumen yang tersisa pasca periode represif Amarna memungkinkan para spesialis memecahkan beberapa teka-teki. Ada dugaan, karena terganggu perubahan monotheisme ini, para pendeta Amun meracuni Akhenaten saat krisis ekonomi mendera Mesir. Untuk semua kehebohan yang menimpanya, pantaslah Akhenaten ditempatkan dalam daftar orang terpenting untuk diselidiki dalam sejarah kuno.

Di bawah pemerintahan adik Akhenaten, Mesir mengalami kemunduran dan akhirnya terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Setelah perselisihan antara golongan agama dan raja, Mesir diserbu bangsa lain seperti ; Hitit, Persia, Yunani, Romawi, Arab, Turki, Inggris dan Perancis. Mesir merdeka 28 Februari 1922, menjadi republik 18 Juni 1953. Mayoritas penduduk Mesir ( 90 % ) kini memeluk Islam. Jutaan rakyat Mesir inilah yang dihimbau para pejuang Palestina agar mendesak Hosni Mubarak, membuka pintu perbatasan Gaza – Sinai untuk penduduk Gaza yang kini seperti berada di penjara terbuka tanpa tempat tinggal, obat, air dan makanan, diantara desingan maut, hujan bom dan fosfor putih pasukan Israel hingga hari ini. Akankah penyerbuan dan pemusnahan etnis terus berlanjut ? Sejarah kemudian yang akan mencatatnya.

JANGKAR MEMORI MASA EMAS

Pencarian panjang manusia menemukan Yang Maha Esa terasa mengharukan. Tarik menarik antara yang batil dan yang hak, terus berlangsung hingga hari ini. Dari masa nabi Nuh ( sekitar 3000 – 2500 SM ), nabi Ibrahim dan nabi Luth ( awal 2000 SM ), nabi Musa ( 1300 SM ), nabi Hud ( sekitar 1300 SM ), nabi Shalih ( sekitar 800 SM ), terselip diantaranya Akhenaten. Di bawah terik matahari, kejadian selalu berulang. Setelah menemukan Tuhan, sebagian besar manusia kembali khufur. Berpuas hati. Merasa semua keberhasilan yang diraih semata jerih payahnya. Merasa indah semua perbuatannya. Tuhan murka, lalu musnahlah manusia bersama peradaban tinggi yang jatuh bangun mereka capai. Akankah Tuhan bosan dengan perilaku kambuh manusia dalam waktu dekat ini ? Setelah masa keemasan yang dimulai tahun 2020, diperkirakan, akan terjadi keruntuhan sosial yang cepat, mengakhiri kehidupan di muka bumi.

Dari riset, manusia hidup sejak 3 juta tahun lalu. Setelah jaman es 150 ribu tahun lalu, tersisa hanya sekian ribu manusia di daerah Afrika. Leluhur manusia sekarang, di antaranya menghuni lembah sungai Nil, Mesir, tempat Akhenaten bermukim. Sedikit banyak kita menerima pengaruh Mesir ( tempat sebagian ulama kita belajar ) dan terinspirasi perjuangan Akhenaten yang berani mendobrak tabu kepercayaan nenek moyang, untuk menjadi monotheis.

Kita berharap di negeri ini juga lahir pejuang-pejuang tangguh yang gigih mengawal Indonesia menuju keemasannya dan menjaganya selama mungkin. Jika, kemudian ia gugur sebagai kusuma bangsa, itu bukan cerita baru. Apa yang dialami fir’aun Akhenaten dan kedua adiknya setelah kejayaan Mesir bisa menjadi jangkar memori kita untuk masa emas kelak. Untuk selalu mawas diri, waspada dan rendah hati. Kejahatan dan kebaikan, silih berganti menguasai panggung kehidupan. Ya, dunia kadang lebih magis dan misterius daripada cerita dongeng. ( A.Savitri / peminat arsitektur kota )

Iklan

Written by Savitri

5 Mei 2009 pada 18:13

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: