Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Reading Lights dan Tobucil, toko buku inovasi serasa di rumah sendiri.

with one comment

Interior toko buku Reading Lights yang homy

Interior toko buku Reading Lights yang homy

Pintu “Reading Lights” belum lama terbuka ketika Alamanda ( 19 tahun ) datang. Dia segera masuk, memilih satu dari ratusan judul buku yang berderet di rak dan mengambil tempat duduk. Dia menuju sofa kesayangannya, tidak jauh dari meja kasir. Dari tempatnya duduk, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Parahyangan Bandung itu bisa menyaksikan hiruk pikuk lalu lintas Jalan Siliwangi.

Selain membaca, Ala, demikian dia biasa dipanggil, menyiapkan komputer jinjingnya. Ada tugas kuliah yang harus dia kerjakan. Waktu itu pukul 10.30 WIB. Kuliahnya dimulai 4 jam lagi. Untuk menemani waktu menunggunya, dia memesan kopi.”Ah, serasa di rumah sendiri,”ujar gadis yang tinggal di kawasan Dago itu.

Akan tetapi, Ala tidak sedang berada di rumah. Dia di Reading Lights ( RL ), salah satu toko buku. Tetapi jangan bayangkan toko buku ini sebagai bangunan angkuh yang diisi ribuan buku berikut beberapa pramuniaga yang dingin.”Ini seperti keluarga kecilku. Aku kenal dengan hampir semua petugas di sini,”ungkapnya mendeskripsikannya.

RL menggarap serius layanan bagi para pelanggan atau anggota.”Yang terpenting dari toko, menurut saya, adalah kualitas layanannya,”kata Vitri. Di RL, orang bebas membaca sambil memesan kopi. Pengelola pun menyediakan wadah berinteraksi, disebut circle ( lingkaran ). Macam2 bentuknya ; ada lingkaran menulis, membatik dan menonton film.”Kami membebaskan anggota untuk berekspresi dan memilih wadah bagi minat mereka masing2. Circle dibentuk atas permintaan anggota,”ungkap Vitri.

Tampilan fresh di toko buku Tobucil, Bandung

Tampilan fresh di toko buku Tobucil, Bandung

Konsep pendekatan personal juga diterapkan di Tobucil ( Toko Buku Kecil ). Tidak hanya menjual buku, toko asri di Jalan Aceh, Bandung ini memanjakan para anggotanya dengan berbagai kelompok kegiatan, seperti menulis, merajut dan menonton film. Lokakarya dan pameran kerajinan tangan pun kerap diselenggarakan.

Buku berbeda dengan televisi, membawa manusia dalam interaksi personal yang akrab. Membeli dan membaca buku, karenanya, pastilah mempertimbangkan sisi intimitas semacam itu. Perpustakaan dan toko buku mesti terus melakukan inovasi agar dapat menarik minat masyarakat. Ketua Umum Gabungan Toko Buku Indonesia ( Gatbi ) Firdaus Umar menilai, inovasi merupakan strategi tepat bagi toko buku untuk tetap bertahan. Tetapi permasalahannya, hal tersebut baru mungkin dilakukan di ibukota provinsi.

Di kabupaten/ kota, minat baca masyarakat masih rendah. Itulah sebabnya banyak toko buku gulung tikar. Maka, yang perlu dilakukan sekarang adalah mendorong minat baca tersebut,”ujarnya. Data Gatbi menyebutkan penurunan signifikan jumlah toko buku di Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir, lebih dari 2 ribu toko buku, khususnya yang ada di daerah2, gulung tikar. Jadi upaya Reading Lights dan Tobucil patut dipuji dan dicoba.

( PR, 6/5/2009 )

Iklan

Written by Savitri

8 Mei 2009 pada 19:27

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hmm~,. emang ya membaca di Reading Light itu nyantai, suasananaya hommy gt,.
    Kebetulan Jacktour.com juga punya ulasan mengenai toko buku ini,.
    http://bandung.jacktour.com/2011/05/reading-lights.html
    Smoga kita bisa saling share yaaa,. 🙂

    Andini Jacktour

    9 Mei 2011 at 12:58


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: