Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Hari Berkesan di depan TV

leave a comment »

“Anda datang ke Gaza ? Anda percaya dua reporter yang kalian kirim ke sana ? Begitu juga saya yang mendengar laporan dari empat orang yang saya kirim untuk menonton “Perempuan Berkalung Sorban.” Saya dan bunda terhenyak di atas kursi, karena kerasnya suara yang dilontarkan. Host, penonton di studio dan pemirsa di seluruh Indonesia ( mungkin juga ) terkesima menyaksikan ‘adegan menegangkan’ yang disiarkan langsung malam itu.

Mestinya tak perlu terjadi. Kedua nara sumber yang punya reputasi baik mestinya bisa lebih elegan menanggapi perbedaan pendapat di antara mereka. Kalau saja keduanya mau menilik kesulitan pihak lain. Betapa sulitnya mengemas film religi yang diminati khalayak di tengah gempuran film komersial berkualitas rendah yang mengumbar kekerasan, gaya hidup hedonis, seks bebas dan mistik. Betapa sulitnya pemuka agama menyadarkan umat di tengah derasnya terpaan sistem sekuler kapitalis yang melanda hampir semua sendi kehidupan.

Dekat rumah saya, seorang ustad muda menanggalkan sorban dalam kesehariannya. Ia ditinggalkan jemaahnya. Di negeri ini, sangat sulit orang muda didengar substansi pembicaraannya oleh para senior kalau tidak menggunakan atribut keagamaan, semisal sorban. Masyarakat kita sangat visual dan mengakrabi simbol dalam menyerap informasi. Di Palestina, korban pembantaian terus berjatuhan. Sebagian kita terus mengklaim pihaknyalah yang paling benar.

Orang muda yang relatif menguasai teknologi mutakhir, informasi terkini, frustasi menyampaikan kebenaran yang diketahui. Terhalang mindset lama. Sesepuh, simbol ( sorban ) dan patriakis. Terlebih perempuan muda tak bersimbol ( mewarisi kharisma orang tua ). Anda tahu rasanya diperlakukan ‘belum tua belum boleh bicara’ seperti jargon sebuah iklan teve. Lalu kapan penderitaan saudara kita di Palestina akan berakhir ?

Butuh energi raksasa dan kerjasama solid untuk menjungkirkan sistem kapitalis yang merajalela sejak berakhirnya imperium Ottoman ( 1917 ). Mengganti dengan sistim syariah kekhalifahan. Pemimpin tangguh dari sistim yang pernah membawa kedamaian di Timur Tengah selama 1280 tahun inilah yang bisa menyeret penjahat perang dan kemanusiaan di Palestina, Irak dan Afganistan ( yang didukung penuh imperialis Barat ) ke Mahkamah Internasional dan menghentikan kebiadaban. Selama ini mereka lolos terus.

Solusi film ; ditarik, diperbaiki bagian yang kurang berkenan, lalu diedarkan kembali, cukup baik untuk dikemukakan dan ditindaklanjuti. Lebih berkesan, jika disampaikan dengan kepala dingin. Supaya pemirsa non muslim tidak ikut islamphobia karena ketegangan yang selalu hadir setiap pihak yang kurang mengerti, tergelincir menyentil posisi muslim yang rapuh masa ini, yang sensitif pada aspek penting keberagamaan. Cukup Obama yang mengatakan,‘kami mau bicara jika Iran tidak mengepalkan tangan’. Tak perlu yang lainnya.

Kembali ke siaran teve ; siang hari “Oprah Show” menghadirkan O Ambassador. Sekelompok remaja dikirim ke wilayah termiskin di dunia. Membangun sekolah dalam tiga minggu. Mereka dibimbing untuk merasakan derita di luar ‘dunia’ mereka yang nyaman. Ada orang baik di sana yang dengan keterbatasannya, berupaya menjangkau dunia ketiga. Masih muda. Bahkan penggagas gerakan ‘tidak ada yang terlalu muda untuk mengubah dunia’, sudah memimpikannya sejak usia sepuluh tahun.

Sore hari ; “Supernanny” menampilkan Nanny Jo yang cool menangani perempuan sembilan tahun yang kurang ajar. Sumpah serapah dan tangan habis dicakari tak membuat Jo lepas kendali menjadi anak kecil yang kedua. Dengan kalem, wibawa dan kepakarannya dalam pengasuhan anak, Jo berhasil menjinakkan si ‘monster’ cilik dalam dua minggu. Orang tua puas menjalani perannya. Anak senang, karena didengar dan dipahami.

Malam hari ; film dokumenter memperlihatkan ambisi zionis mendirikan negara Israel di tanah Palestina, kelak melebar ke Yordania, merembet Timur Tengah, akhirnya seluruh dunia. Masjidil Aqsa di Yerusalem dan Masjidil Haram di Mekah sudah pasti diacak-acak jika ekstrimis Yahudi ini tak ada yang mampu membendungnya dari sekarang.

Untuk menggarami sekitar kita hingga peduli perjuangan warga Gaza, tidak bisa langsung putih dan terkaget-kaget. Jika merah, mulailah dengan merah jambu. ‘Perempuan Berkalung Sorban’ adalah merah jambu. Ia sedang menuju putih. Kita harus bersabar dan arif membantunya sampai tujuan. Sesabar Nanny Jo dan secerdik penggagas O Ambassador.

Menonton teve di rumah, dengan bekal pemahaman Qur’an yang benar, Hadis shahih dan koran terpercaya, membuat hari Minggu anda menyenangkan dan irit. Perlu orang baik yang mau terjun ke teve, tempat sebagian besar masyarakat kita mendapat informasi. Baik pembuat acara maupun penonton yang mengkritisi. Kecerdasan masyarakat adalah tanggung jawab kita semua. Pastikan anda tidak tersesat dalam perang opini, pemikiran, ideologi di dalamnya. Selamat menonton…

( A.Savitri / pemirsa teve akhir pekan )

Nonton televisi bersama keluarga.

Nonton televisi bersama keluarga.

Iklan

Written by Savitri

12 Mei 2009 pada 14:56

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: