Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

WOC, terumbu karang dan keamanan kota

with 2 comments

Adakah hubungan antara terumbu karang yang rusak dengan kriminalitas di kota ? Ada. Ketika masyarakat pesisir bermigrasi ke daerah perkotaan karena ketiadaan ikan yang bisa mereka tangkap untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan ketrampilan ala kadarnya, keluarga nelayan sulit memenangkan persaingan ketat di kota. Kala perut lapar, kebanyakan orang menggadaikan moralnya dan menjelma predator bagi sesamanya.

Jadi, apa yang sedang digelar di Manado, Sulawesi Utara ( 11-15 Mei 2009 ) ini patut mendapat perhatian kita. WOC ( World Ocean Conference ) yang digagas pertama kali oleh Indonesia.***

Poster WOC I, Manado

Poster WOC I, Manado

Menurut PR, 14/5/2009 ; 100 juta orang di 6 negara kawasan terumbu karang terancam kehilangan mata pencahariannya di bidang kelautan dan perikanan, jika saat ini dunia tidak juga mengambil tindakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim, ungkap Profesor Ove Hoegh-Guldberg dari Universitas Queensland, kepala Penelitian Coral Triangle World Wild Fund ( WWF ).

Pada tahun 2005, sektor perikanan Indonesia menyumbang 7,5 juta pekerjaan atau setara 10,76 miliar dolar AS. Belum termasuk turisme dan konservasi pesisir serta laut. Hal itu disimpulkan dari 300 publikasi studi ilmiah dan lebih 20 karya para pakar biologi, ekonomi dan perikanan. Segitiga terumbu karang hanya 1 % dari permukaan bumi, terdiri 30 % dari terumbu karang dunia dan 76 % dari spesies karang yang membentuknya. Lebih dari 35 % spesies ikan ( misalnya tuna ) bertelur di terumbu karang.

Penghancuran terumbu karang selama berabad-abad menyebabkan meningkatnya suhu lautan, keasaman laut dan kenaikan muka air laut. Ketahanan lingkungan pesisir juga makin buruk karena pengelolaan pesisir yang lemah. Kemiskinan meningkat, ketahanan pangan jatuh, ekonomi melemah, lalu berbondong-bondonglah masyarakat pesisir masuk perkotaan.

Terumbu karang yg terpelihara, memancarkan keindahan tersendiri.

Terumbu karang yg terpelihara, memancarkan keindahan tersendiri.

Dalam skenario terbaik pun, masyarakat lokal akan menghadapi kenaikan muka air laut, peningkatan aktivitas badai, kekeringan parah, kurangnya ketersediaan pangan dari perikanan pesisir dan kehilangan karang.

Dalam sidang pertama pertemuan pejabat setingkat menteri pada Konferensi Kelautan Dunia WOC, Eddy Pratomo sebagai Ketua Sidang, mengungkapkan para pakar kelautan dunia tengah bekerja keras membuktikan hipotesis tentang peran laut dalam mengabsorpsi karbon. Dua indikator kesuksesan WOC adalah isu kelautan menjadi sudut pandang bersama secara internasional dan pembuatan rencana aksi bersama yang dilakukan masing2 negara dan pemerintah daerah sebagai eksekutornya.

Para ilmuwan akhirnya menyepakati bahwa laut berperan dalam mengurangi emisi karbon dunia, yang selama ini menjadi faktor penyebab pemanasan global. Sidang tertutup itu mendaulat pembicara dari National Oceanic and Atmospheric Administration ( NOAA ) Amerika Serikat, Dr.Richard Spinrad dan Direktur Kelautan dan Hukum Laut PBB, Gabriele Goettsche.

Pengelolaan sumber daya pesisir bisa dilakukan dengan mengelola kawasan perlindungan laut, hutan bakau, padang lamun serta perikanan efektif, yang dikelola secara lokal, diharapkan bisa memperlambat penurunan sumber daya tsb. James Leape, Dirjen WWF International menghimbau para pemimpin dunia agar mendukung upaya negara2 segitiga terumbu karang, untuk melindungi masyarakat yang paling rentan terhadap naiknya air laut dan kehilangan sumber pangan. Caranya, dengan membantu mereka memperkuat pengelolaan sumber daya kelautan dan menyepakati komitmen penurunan gas rumah kaca di UN Climate Conference di Kopenhagen, Desember 2009.

Direktur Program Iklim dan Energi, WWF Indonesia, Fitrian Ardiansyah menegaskan solusi permasalahan tsa diantaranya dengan membangun pendanaan global dan mekanisme finansial untuk adaptasi dan aksi segera demi mencapai target nasional sehingga bisa berkontribusi terhadap kesepakatan. internasional.

PERTEMUAN TANDINGAN : KONGRES 400 NELAYAN

Forum yang bertujuan melindungi masyarakat dan negara pesisir itu tidak dihadiri satupun delegasi dari kalangan nelayan atau masyarakat pesisir yang dirugikan. Hal ini membuat kalangan LSM seperti Walhi dan beberapa perwakilan LSM asing yang turut hadir dalam WOC mempertanyakan tujuan WOC. Puluhan nelayan dan aktivis dari berbagai negara yang tergabung dalam Aliansi Manado lalu berkumpul dan menyelenggarakan pertemuan tandingan di kawasan Pantai Malalayang, Manado selama berlangsungnya penyelenggaraan WOC. Sekitar 400 nelayan tradisional dari Indonesia, Filipina, Malaysia dan Kamboja menggelar Kongres Nelayan Indonesia di dekat Kolongan Beach Hotel, Manado. Polisi mengamankan mereka, termasuk Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi ) Berry Nahdian Furqon dan Erwin Usman.

Menurut Yahya, Ketua Panitia Pelaksana Forum Internasional Kelautan dan Keadilan Perikanan, para nelayan tsb berkumpul karena tidak diakomodasi forum WOC. Sekjen Walhi, Dadang Sudardja mengatakan, rencana aksi ini sudah dihalang-halangi pihak keamanan ( Polda Sulut dan Mabes Polri ). Ketika aksi tetap dilakukan, polisi membubarkannya dengan cara sarkastis dan sangat tidak mencerminkan petugas.

Sekretaris WOC Indroyono Soesilo menyatakan, sidang WOC yang pertama di dunia ini memang masih diikuti tataran pengambil kebijakan baik di level nasional maupun internasional. Senin ( 11/5/2009 ) pagi, WOC secara resmi dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi. Di hadapan delegasi dan peserta WOC dari 73 negara, Freddy mengemukakan pentingnya rencana aksi bersama penyelamatan laut dan negara pesisir yang terkena dampak perubahan iklim.

***

TERUMBU KARANG BAGUS, BAKAU SUBUR, IKAN SEHAT

Saya lihat dinamika yang hidup selama WOC. Masing2 pihak ingin yang terbaik buat komunitasnya. Pemerintah Indonesia, dengan penyelenggaraan even2 dunia di tanah air, ingin membuktikan pada dunia dan para investor, bahwa negeri ini aman dikunjungi untuk wisata atau bisnis. Seperti dikatakan Menkeu Sri Mulyani ; Indonesia perlu kredibel, percaya diri dan dipersepsikan baik untuk mengangkat perekonomian dan meningkatkan pengaruhnya di level dunia. Dengan terjadinya insiden di pertemuan tandingan yang dilibati juga LSM asing, kita berharap tidak sampai menurunkan nilai pertemuan WOC.

Dalam WOC ke-2 dst, para nelayan dan masyarakat pesisir bisa lebih diakomodir gagasan pemikirannya, karena mereka yang mengalami langsung dampak pemanasan global. WOC I ini bisa jadi sarana pembelajaran bagi panitia ke depan. Kita tidak ingin terjadi kericuhan pada forum2 mendatang. Kita ingin penggambaran media2 asing bahwa Indonesia sarang teroris, tidak aman itu tidak benar. Kita bisa, kok, menyelenggarakan forum tingkat dunia dengan aman dan sukses. Sekalipun, membawa/ melibatkan nelayan atau warga lokal yang ingin menyampaikan aspirasinya.

Saya lihat di sana ( WOC ) ada Freddy Numberi, sang putra papua. Setelah kontrak2 SDA dan distribusi hasil pembangunan yang kurang adil pada mereka ( oleh pemerintahan di Jawa ) pada periode2 sebelumnya, terlintas di benak saya untuk membantu menyukseskan ajang2 yang mereka libati, WOC atau kontes2 bakat yang bertebaran di tanah air. Jika wajah mereka cukup mewarnai media nusantara dalam karya dan prestasi, menjaga kesatuan NKRI ini rasanya menjadi tak terlalu sulit.

Semula saya nggak ngeh akan pentingnya penyelamatan terumbu karang bagi kelangsungan hidup saya. Berita seputar WOC membuka mata saya tentang kaitan erat ekosistem laut dengan kejahatan yang makin marak di sudut2 kota kita. Bahkan sekarang, makin berani terang-terangan di tengah keramaian, di siang bolong pula. Sebagian mereka sudah tidak mampu berpikir lagi. Karena miskin dan lapar ( juga iman tipis ). Jika terumbu karang bagus, ikan sehat dan hutan bakau subur, pesisir dan masyarakatnya diuntungkan. Ekoturisme bisa menjadi sumber penghasilan yang memadai untuk keberlangsungan hidup mereka. Mari selamatkan terumbu karang dan laut kita…

( A.Savitri, 14/5/2009 )

Bagan peran terumbu pada ekosistem laut.

Bagan peran terumbu terhadap ekosistem laut.

Iklan

Written by Savitri

15 Mei 2009 pada 15:43

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Senang mendengar generasi penerus Indonesia mencintai laut. Negeri kita 2/3-nya merupakan lautan. Negeri bahari, yang di masa kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Demak, Ternate, Banten pernah tersohor sebagai penguasa maritim di mancanegara.Kita bisa menghidupkan lagi kejayaan negeri tercinta dengan merawat laut kita baik2 ; tidak menjadikan laut tempat sampah, tidak menangkap ikan dengan pukat harimau, tidak merusak terumbu karang, dsb.Juga, mencintai produk dalam negeri serta mendukung usaha lokal.
    Tentang WOC, moga2 ada kegiatan serupa tahun depan. Pantau saja berita/ situs dari Departemennya pak Numberi/ Kelautan. Smoga Eno bisa ikut serta.
    Trims komennya.

    anisavitri

    19 Agustus 2009 at 19:08

  2. Saya sangat mendukung kegiatan WOC, sebagai mahasiswa biologi saya ingin sekali ikut serta aktif dalam kegiatan tersebut. karena saya mengetahui bahwa ekosistem makhluk hidup di bumi saling terkait, contohnya antara kehidupan laut dengan kehidupan manusia….

    eno

    14 Agustus 2009 at 00:25


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: