Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Mencari struktur & bentuk kota yang kita inginkan.

leave a comment »

Taman Sari, Keraton Yogya.

Taman Sari, Keraton Yogya.

Beberapa pemikir2 Barat berupaya membangun jembatan antara Barat dan Timur. Dalam arsitektur, dilakukan oleh Henri Maclaine Pont,  R.Heine-Geldern, A.Rapport, P.Oliver dan Enrico Guidoni. Pola kehidupan masyarakat kota kita ( agraris ) ternyata berbeda dengan negara konseptor ( industri ). Konsepsi perencanaan yang memakai cara pendekatan negara industri, sudah dan akan terus diterapkan di masyarakat kita, jika tidak dievaluasi.

Sejak 1970-an, muncul konsep alternatif yang membagi kehidupan kota dalam 2 kategori ; sektor formal yang ‘modern’ dan sektor informal yang ‘bukan modern’ alias masih berkaitan erat dengan pola kehidupan tradisional. Meski studi2 yang dibuat jaman kolonial berperspektif kolonialistis, namun studi2 tsb belum ada gantinya. Sebagian besar pelaku studi itu adalah ilmuwan yang lahir dan tinggal di Indonesia, bahkan menganggap Hindia Belanda ( nusantara ) tanah airnya. Itu kelebihan mereka dibanding pemikir masa kini yang lebih generalistis, yang hampir tak terlibat langsung dengan keadaan negara berkembang.

Kotagede dan Plered dulu menentukan jalannya sejarah Jawa. Kini hanya tinggal nama besar. Struktur ruang dan bangunan asli kebanyakan hancur, tak dikenali. Perannya telah lama diambil kota2 lain. Hanya Yogyakarta dan Surakarta yang masih bisa mempertahankan bentuk asli mereka sampai batas tertentu.

Sampai dimana para arsitek dan perencana kota dapat menyumbangkan pemikiran dalam masyarakat yang sedang bertransformasi ? Mereka hanya bisa bekerja baik jika masyarakat sudah punya konsesus tentang struktur dan bentuk kota yang mereka inginkan. Saat ini tujuan akhir masih abstrak, misalnya “masyarakat adil makmur”. Belum ada gambaran jelas kemana proses perubahan akan diarahkan. Berbeda dengan Jepang, Singapura dan Cina yang sudah sangat jelas perkembangannya.

Berangkat dari sana, maka perlu dipelajari konsepsi, bentuk dan struktur kota2 Jawa, saat masyarakat Jawa masih punya gambaran jelas tentang bentuk masyarakat yang mereka inginkan. Lalu dipelajari juga sebab2 kehancuran kota Jawa sebagai sebuah konsepsi. Dari situ kita tahu lebih jelas faktor2 yang diperlukan untuk membangun konsensus baru yang bisa dijadikan dasar arsitek dan perancang kota berkiprah. ( Jo Santoso,”Arsitektur kota Jawa : Kosmos, Kultur & Kuasa”. Juni 2008 )

Iklan

Written by Savitri

5 Juni 2009 pada 15:01

Ditulis dalam Tak Berkategori

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: