Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Balita Tegar dilindaskan ke kereta api : kemiskinan & moralitas di titik nadir

leave a comment »

Endy Tegar Kurniadinata, baru menginjak umur 3,5 tahun. Namun, balita itu telah menderita cacat seumur hidup. Kakinya putus setelah sengaja dilindaskan pada kereta api oleh ayah kandungnya sendiri. Tragedi memilukan ini terjadi di Madiun, Jawa Timur, Minggu ( 5/7/2009 ). Hanya gara2 hasrat biologisnya ditolak sang istri, si suami melampiaskan kemarahan dengan menumbalkan kaki kanan anak lelakinya. Setelah itu si bapak kabur. Tegar, demikian panggilan si anak malang itu, harus merangkak sejauh seratus meter dengan darah segar bergelimang sambil menahan sakit yang tiada tara.

Bayangkan seorang ayah tega menggelindingkan anaknya di bawah kereta api, dan meninggalkannya begitu saja.

Bayangkan seorang ayah tega menggelindingkan anaknya di bawah kereta api, dan meninggalkannya begitu saja.

Entah apa yang ada di dalam benak si bapak hingga tega melakukan tindakan yang sangat kejam dan biadab. Sungguh tidak masuk akal. Rasanya sangat sulit melukiskan dengan kata2 untuk menyebut jenis perbuatan apa yang dilakukan si bapak itu.

Akan tetapi, begitulah faktanya. Banyak hal irasional, tidak masuk akal, susah dicerna dengan logika, kini akrab hidup di tengah2 kita. Kejahatan telah mencapai tingkatannya yang paling liar. Ini pertanda tingkat moralitas kita sebagai bangsa sudah mencapai level paling rendah.

Sesuatu yang ekstrabanal. Di belakangnya ada masalah sosial, ekonomi, politik, dan akhirnya kebudayaan yang saling berkelindan membentuk labirin. Keadaban tanpa bentuk ( formless ) dan tanpa nilai ( anarki ), sehingga sulit untuk mengindentifikasi dari jenis apa kategori moralitas kita.

Anomali2 moralitas itu kini kerap hadir, muncul dalam bentuk parade tragedi yang seolah tak pernah berakhir di layar peradaban dan keadaban kita. Terus-menerus mengejutkan akal sehat ( ruang pikir ) dan nurani ( ruang batin ), serta menembus batas2 nalar kita sebagai manusia ( individu ), masyarakat ( sosial ) ataupun bangsa ( kultural ).

Tragedi Tegar merupakan potret buram peradaban dan keadaban bangsa yang tak pernah absen dari beragam musibah dan bencana ini. Justru terjadi di tengah hiruk pikuk perayaan politik yang diharu-biru produksi dan reproduksi masif kebohongan melalui selebaran, poster, spanduk, baliho dan iklan. Kepalsuan yang disembur bagai gelembung sabun, sangat hiperealis, sekadar retorika tebar pesona, doktriner, manipulatif dan tak lebih hanya sebagai fatamorgana.

Tragedi Tegar menyadarkan kita, bahwa selebaran, poster, spanduk, baliho dan iklan, bukanlah kenyataan. Yang sungguh nyata, ialah seorang anak harus cacat seumur hidup karena kakinya sengaja dilindas kereta api oleh bapaknya.

Lalu mengapa si istri ( ibunda Tegar ) menolak hasrat biologis suaminya ? Ternyata, si ibu mengaku kecapean. Sebab, pagi buta harus berjualan di pasar mencari tambahan penghasilan untuk menyambung hidup. Tragedi Tegar, lagi2 menyadarkan, bahwa yang nyata di depan kita adalah kemiskinan. Kemiskinan yang menyebabkan matinya hasrat biologis, memicu emosi liar, menghapus akal dan nalar, hingga berujung pada putusnya kaki seorang bocah balita. ( Agung Nugroho/PR, 14/7/2009 )

Komen A.Savitri :

Dalam sebuah tayangan Oprah Show, dibahas soal perilaku kasar di sekitar kita. Dari tanpa malunya, orang menyerobot tempat parkir orang lain yang sudah akan menempatinya. Pengunjung restoran berulah/ protes pada tiap makanan yang dipesannya hingga sempurna sesuai seleranya ( mood ) saat itu. Penumpang melecehkan petugas bandara yang mengingatkan dia akan tata tertib yang dilanggarnya. Pengunjung spa yang sibuk bicara dengan ponselnya di depan staf yang menunggu pesanan darinya. Pembeli melempar duit ke muka pelayan toko, mengira takkan bertemu lagi. How rude.

Di Indonesia, kita bisa temui supir angkot yang teriak2 tidak proporsional karena penumpang kurang Rp.500,- ketika membayar perjalanannya ( gampang meletup orang2 masa ini, ya ). Pemuda pengangguran menyambar ponsel di kuping pemiliknya, sembari cengangas-cengenges merasa top abis bisa memperdaya dan merampas milik korban. Remaja2 tanpa masa depan bergerombol membentuk geng motor, meneror siapa saja yang ditemuinya di jalanan malam hari, unjuk kebrutalan. Atau bahkan tanpa alasan sama sekali, sekedar bisa menunjukkan pada kawannya, ia pemberani ( absurd, ya ).

Beberapa tahun di atas usia mereka, lelaki2 paruh baya menjelma gerombolan si berat menyatroni rumah2 kosong ( perlu 15 – 60 menit ), pertokoan atau perkantoran yang dijaga sekuriti, menjarah harta benda. Ketika sedang solo, ada yang mencopet di bis ( cuma 15 detik ), membius teman seperjalanan di kereta atau bis ( cuma perlu 15 menit, menurut “Reportase Investigasi” – TransTV, 27/6/2009 ).

Ketika warga kota tak peduli, cari aman, menyingkir melihat peristiwa kriminal di dekatnya, para debutan kelas teri ini menepuk dada, penuh kemenangan, seolah mendapat angin. Tak ada yang berani menghentikannya ( sekaligus membuatnya kapok ). Dalam situasi begini, tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi penjahat kawakan. Beberapa dari kelas teri ini mengorganisir diri menjadi spesialis curanmor, perampok rumah kosong, sindikat kereta api, sindikat narkoba, dsb. Kita bisa baca aksi mereka yang kian canggih/ nekat/ mengerikan di surat kabar. Mereka berjumlah belasan bahkan puluhan, menguras bank dan pabrik2 yang dijaga 8 lebih satpam. Siang bolong.

Keluarga di tengah keramaian pasar malam.

Keluarga2 di tengah keramaian pasar malam. Kegagalan bangsa dimulai dari kegagalan membina keluarga.

Mulanya, bandit2 itu seorang bayi sepolos kertas. Kegagalan orang tua dalam pengasuhan anak ( parenthing ) menyebabkan umur 4 tahun si balita sudah tahu cara menyiksa adiknya. Dari menyerap lingkungannya ( anak2 peniru yang hebat ). Kata2 kotor yang ia dengar dari pertengkaran orang tuanya atau televisi yang dibiarkan menyala terus, mengganti keberadaan orang tuanya yang sibuk mencari materi, mematut diri dengan iklan produk di layar kaca, billboard, media cetak dsb. Melariskan barang ( yang sebagian besar milik zionis yang dipakai untuk membantai rakyat Palestina dan menjarah tanahnya ), sekedar bisa diterima dalam kelompok hedonis. Atau sekedar mengganjal perut, bertahan hidup di jaman serba sulit ini.

Si anak kian besar, tak seorang pun dalam rumah yang mampu menasehati dan mengendalikannya. Ia mulai mencari korban ( pelampiasan amarahnya ) di luar rumah. Juga, mencari orang seperti dirinya. Makhluk jalang yang terbuang. Ia kemudian menikah dan memiliki anak seperti Tegar. Tak pernah diajari mengendalikan emosi dan keinginan, si ayah karbitan ini lalu ‘menjagal’ anaknya sendiri di rel kereta api, begitu mendapat penolakan. Penolakan yang menghantuinya sejak ia masih anak kecil.

100 trilyun kekayaan Indonesia bocor tiap tahun ke luar negeri. Bayangkan, jika kekayaan ini digunakan untuk program KB, sekolah gratis sampai universitas ( seperti di Australia ), kursus pengasuhan anak, program perbaikan gizi dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. Orang tua tidak harus banting tulang bertahan hidup dengan terpaksa menelantarkan anak, karena kecapekan dan kehabisan waktu. Tak perlu terjadi Tegar ke-2, ke-3, dst. Dengan adanya tempat berteduh yang layak, makanan, dan keluarga utuh, rasanya rakyat Indonesia sudah cukup bahagia. Pendidikan dan kesehatan adalah nilai plus. Keutuhan bangsa, negara berdaulat penuh dan disegani adalah sempurna. Kita harus bisa ke sana.

free html visitor counters
hit counter
Iklan

Written by Savitri

15 Juli 2009 pada 17:45

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: