Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Kota2 Indonesia belum ramah pada anak-anak. 6,5 juta pekerja anak (under 15) di 13 sektor terburuk.

with 2 comments

Pengantar A.Savitri :

Kalau kita berhenti di perempatan lampu merah, ada banyak anak kecil menadahkan tangan pada kita. Dari yang keplak-keplok nyanyi fales, ngelap kaca dengan kain kumal, jualan koran setengah memaksa sampai nyanyian merdu diiringi petikan gitar dan suara ketipung para pengamen jebolan kursus mendiang Harry Roesli.

Seorang anak menyusuri trotoar yang panas, demi seonggok botol plastik yang mungkin ia temukan. Potret buram sebagian anak Indonesia. Generasi yang hilang ?

Seorang anak menyusuri trotoar yang panas, demi seonggok botol plastik yang mungkin ia temukan. Potret buram sebagian anak Indonesia. Generasi yang hilang ?

Di timbunan sampah TPA, anak2 mengais plastik dan botol minuman mineral, mengikuti jejak orang tuanya. Di tepi sungai, anak2 rela bersimbah lumpur berebut remah metal dari tangan mesin pengeruk. Di film “Jermal”, anak2 membahayakan dirinya di tengah gempuran ganas ombak laut demi sesuap nasi. Di film “Laskar Pelangi”, anak terpintar di kelas terpaksa melaut menggantikan mendiang ayahnya yang hilang ditelan gelombang. Lagi2 untuk bertahan hidup. Sebuah keterpaksaan.

Yang teranyar, 10 anak penyemir sepatu terpaksa mendekam di penjara dewasa, gara2 permainan koin yang disalahartikan. Ancamannya 10 tahun penjara, mereka telah sebulan di sana. Akan jadi apa generasi masa depan bangsa ini ? Generasi yang hilang ?

Semula saya mengira, kita hanya kurang menyediakan tempat bermain bagi anak2. Anak bermain layangan di jalanan, di antara tiang listrik. Petasan mengejutkan di gang2 yang sempit dan pengap. Ternyata persoalannya jauh lebih besar dari itu. 6,5 juta anak2, bertebaran mencari nafkah, di saat mereka mestinya di sekolah dan bermain dengan teman2.

Selama 12 tahun, 2400 trilyun kekayaan Indonesia bocor ke luar negeri, kata Prabowo Subianto.

Bayangkan kita punya kekayaan sebesar itu, tapi anak2 kita mengais hidup di tempat2 berbahaya ?

Saya merasa perlu menghadirkan tulisan di bawah ini ;

Kota2 Indonesia belum ramah pada anak. 6,5 juta pekerja anak (under 15) di 13 sektor terburuk.

Di tengah hangar-bingarnya berita politik dan tragedi bom J.W.Marriott dan Ritz-Carlton, kemarin kita melaksanakan puncak peringatan Hari Anak Nasional di Dunia Fantasi Ancol, Jakarta. Namun sayang sekali, presiden SBY yang sedianya menghadiri acara itu, tidak dapat hadir, demikian juga wapres Jusuf Kalla.

Kehadiran pimpinan negara pada hari anak2 ini sebenarnya secara simbolis sangatlah penting. Kita mengetahui bahwa perhatian kita terhadap anak2 Indonesia masih sangat kurang. Anak adalah masa depan bangsa, namun upaya untuk menumbuhkembangkan mereka masih kurang optimal. Padahal, tema Hari Anak Nasional tahun ini adalah,”Saya Anak Indonesia Kreatif, Inovatif dan Unggul untuk Menghadapi Tantangan di Masa Depan.”

Tema itu tampaknya masih berbau slogan karena kita merasakan bahwa ruang, waktu, anggaran dan peraturan di negeri ini tidak terlalu banyak menghargai anak-anak. Kemiskinan yang masih menyebar menyebabkan orang tua tidak paham bagaimana memilih makanan dan pendidikan yang baik untuk anak2. Ditambah dengan tidak adanya sistem yang adil, yang membuat anak2 kita sudah terbedakan sejak lahir. Status sosial satu anak dengan anak lain begitu jomplang. Ada anak yang orang tuanya mampu membesarkan mereka di lingkungan dan sekolah yang baik, namun lebih banyak orang tua yang tidak mampu menggapai pendidikan anak yang memadai.

Hukum dan peraturan untuk anak2 masih berupa macan kertas. Jumlah pekerja anak di bawah umur masih cukup besar, yaitu 6,5 juta ( 2008 ). Padahal UU no.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasal 68 dan 69 , jelas2 melarang mempekerjakan anak di bawah umur 15 tahun.

Anak2 yang mestinya belajar & bermain, terpaksa bekerja untuk menghidupi keluarganya. Gelombang maut senantiasa mengintai, kapan saja.

Anak2 yang mestinya belajar & bermain, terpaksa bekerja di jermal untuk menghidupi keluarganya. Gelombang maut senantiasa mengintai, kapan saja.

Selain itu, masih banyak anak2 kita yang bekerja di 13 sektor pekerjaan terburuk bagi anak2, di antaranya pelacuran, pembantu rumah tangga, pertambangan, pemulung, sektor konstruksi, industri perikanan, rokok, dll. Padahal, Keppres 50/2002 sudah melarang anak2 bekerja di 13 sektor tsb. Dengan demikian, dalam hal penegakan hukum anak2, kita masih kurang serius.

Dari segi tata ruang, kita malah ingin bertanya, sebutkan satu kota saja di Indonesia yang bersahabat dengan anak2 ? Kota yang bersahabat dengan anak2 adalah kota yang dibangun dengan syarat minmal perlindungan anak, menyediakan taman2 bermain bagi anak2 dan kota yang memberikan transportasi yang layak untuk anak2. Pada kota2 di negara kita, tidak memungkinkan bagi anak2 untuk mengembangkan gerak motorik secara optimal. Padahal, gerak motorik sangat penting bagi pengembangan diri anak.

Kota2 di negara kita bukanlah kota yang ramah terhadap anak2 ( “children-friendly city” ). Hampir semua orang tua merasa was2 ketika melepas anaknya ke sekolah. Kita mengkhawatirkan anak kita ketika ia akan menyeberang jalan menuju sekolahnya. Di satu sisi, kita ingin mendorong anak kita untuk meraih masa depan gemilang, di sisi lain, nyawa anak kita tergadaikan di jalan raya yang semrawut.

Kita bisa berdalih bahwa sebagai suatu bangsa, Indonesia masih diliputi berbagai masalah yang menghambat perhatian kita terhadap anak2. Namun, kita juga melihat bahwa perbaikan2 yang ada belum secara optimal berpihak kepada anak2. Ruang, waktu, anggaran, peraturan dan kasih sayang kita kepada anak2 Indonesia masih kurang. Kalau perhatiannya kurang, jangan harap generasi kita akan kreatif, inovatif dan unggul. ( PR, 24/7/2009 )

Generasi hilang cegah dengan Kota Layak Anak dan membeli produk lokal.

Data Dinas Sosial Jawa Barat tahun 2007 menunjukkan 851.433 anak masih bermasalah. Porsi terbesar adalah masalah ;

  • Pekerja anak sebanyak 351.189 anak ( 41,25 % )
  • Anak terlantar 330.461 anak ( 38,81 % )
  • Balita terlantar 53.670 bayi ( 6,3 % )
  • Remaja putus sekolah 45.215 anak ( 5,3 % )
  • Anak cacat 25.097 anak ( 2,95 % )
  • Anak nakal dan korban NAPZA sebanyak 23.495 anak ( 2,76 % )
  • Anak jalanan 20.630 anak ( 2,42 % )
  • Anak korban kekerasan 1.676 anak

Berdasarkan data Pokja Pengaduan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah ( KPAID ) kota Bandung, sampai dengan Juli 2009, masalah yang ditangani juga menunjukkan kasus beragam. Masalah terbanyak adalah kasus ;

  • Sengketa hak asuh anak sebesar 40,38 %
  • Penelantaran 13,46 %
  • Masalah pendidikan 13,46 %
  • Pelibatan anak dalam pemilu 2009 ( 9,61 % )
  • Anak korban kekerasan seksual ( pemerkosaan dll ) sebesar 7,69 %
  • Anak berhadapan dengan hukum ( korban/ pelaku ) 7,69 %
  • Anak dengan korban kekerasan fisik 5,77 %
  • Anak korban kekerasan serta anak hilang 1,92 %

Melihat fakta tsb, disimpulkan bahwa masalah anak memerlukan komitmen yang lebih kuat dari semua pihak dalam upaya perlindungannya. Salah satu program penting adalah pengembangan konsep kota/ kabupaten layak anak ( KLA ), yaitu sistem pembangunan suatu wilayah administrasi yang mengintegrasikan komitmen dan sumeber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam rangka memenuhi hak anak yang terencana secara menyeluruh ( holistik ) dan berkelanjutan ( sustainable ) melalui pengarusutamaan hak anak.

Pengembangan KLA ini tergantung sejauh mana komitmen kepala daerah ( gubernur, walikota, bupati ) berinisiatif menggagas pelaksanaan konsep ini di wilayah yang dipimpinnya. Sesuai ketentuan, komitmen tsb dapat ditindaklanjuti melalui pembentukan gugus tugas KLA di tingkat kabupaten/ kota. Gugus tugas ini beranggotakan lintas sektor baik eksekutif, yudikatif, legislatif, perguruan tinggi, LSM, dunia usaha, termasuk kalangan orang tua dan anak.

Anak asyik bermain dibimbing guru. Selain pendidikan terjangkau, sediakan ruang terbuka yang aman dan nyaman untuk bermain.

Anak asyik bermain dibimbing guru. Selain pendidikan terjangkau, sediakan ruang terbuka yang aman dan nyaman untuk anak bermain, berinteraksi dan mengenal lingkungannya.

Tugas penting gugus tugas ini selain mengkoordinasikan semua kegiatan KLA, juga menyusun rencana aksi daerah ( RAD ) untuk jangka waktu 5 tahun, mekanisme kerja, serta menyiapkan berbagai perda terkait perlindungan anak. Di Jabar sudah ada Perda no.5 tahun 2007 tentang Perlindungan Anak. Payung hukum ini mestinya dapat dijabarkan di tingkat kota/ kabupaten agar upaya penanganan masalah anak terarah dan efektif.

Di kota Bandung, kini sedang didorong berbagai kajian yang intensif menuju lahirnya perda perlindungan anak. Kajian ini menggunakan strategi dan fokus terhadap kluster masalah anak secara lebih spesifik. Tujuannya, agar pemetaan masalah dapat dilakukan, serta mudah mengajukan rekomendasi kebijakan untuk penanganannya.

Secara umum, misi utama KLA adalah perlunya pemerintah kota/ kabupaten menyediakan pelayanan kesehatan yang komprehensif, merata dan berkualitas bagi tiap anak. Termasuk memenuhi gizi seimbang, mencegah penyakit menular seperti HIV/ AIDS, serta mengembangkan lingkungan yang layak anak, juga pengembangan budaya dan perilaku sehat.

Selanjutnya, pemerintah daerah menyiapkan pelayanan pendidikan yang bermutu dan merata bagi tiap anak. Termasuk bagaimana usia dini dapat mengikuti pendidikan anak usia dini ( PAUD ), membangun sistem pelayanan sosial dasar, penegakan hukum yang responsif terhadap kebutuhan anak agar anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Bagaimana menumbuhkan budaya menghargai pendapat anak dan upaya pemenuhan hak partisipasi anak.

Agenda mulia tersebut memerlukan kebersamaan, dukungan dan peran semua pihak, baik unsur masyarakat, swasta maupun lembaga independen yang tugas pokoknya melindungi anak. Mestinya, institusi2 peduli anak tsb ke depan diberi perhatian, apresiasi serta dukungan yang lebih besar untuk menjamin terwujudnya generasi yang kreatif, inovatif dan unggul sesuai tema Hari Anak Nasional tahun ini. ( M.Hariman Bahtiar, PR, 23/7/2009 ).

free html visitor counters
hit counter
Iklan

Written by Savitri

29 Juli 2009 pada 17:17

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Trisnapanji :
    Model solusinya dengan mengembangkan Kota Layak Anak ( KLA ), meliputi pelayanan kesehatan, pendidikan bagi tiap anak di kota dan kabupaten melibatkan peran masyarakat, swasta dan pemerintah daerah ( lihat posting tentang KLA di atas ). Institusi2 peduli anak juga sebisanya kita apresiasi dan bantu. Secara individu kita bisa membantunya dengan membeli produk lokal dan mendukung usaha pribumi, sehingga pemerintah dan warga kita punya cukup dana untuk sama2 mewujudkan KLA. Jika anak punya akses pada pendidikan dan kesehatan yang baik, maka jalan kehidupannya lebih terang dan lebih mudah ditapaki. Alih2 generasi yang hilang, mereka malah menjadi tunas kebanggaan bangsa. Semoga.

    anisavitri

    19 Agustus 2009 at 17:58

  2. bagaimana dgn solusi da permodelanya?

    trisnapanji

    7 Agustus 2009 at 00:32


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: