Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Kolam Renang Tjihampelas menjadi rusunami.

leave a comment »

Kolam Renang Tjihampelas menjadi rusunami. Perda Cagar Budaya, Bandung tersalip ?

Kolam renang pertama di kota Bandung, bahkan pulau Jawa, yakni kolam renang Tjihampelas, saat ini kondisinya sudah rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa dari kolam pemandian yang sempat menjadi primadona itu. Seluruh bangunan dan ornamen tak terlihat lagi. Hanya puing bangunan.

Padahal Maret 2009 lalu, pembongkaran baru dilakukan pada sebagian bangunan. Bangunan di bagian luar, seperti ruang ganti dan ruang petugas tiket telah rata dengan tanah. Demikian pula dengan bagian atap kantin dan tempat istirahat, sudah dibongkar. Tinggal patung Neptunus yang memegang trisula dan kendi yang mengucurkan air. Tiga kolam renang sudah tak berisi air, di dasarnya berlumut.

Kolam Tjihampelas setelah dibongkar.

Kolam Tjihampelas setelah dibongkar.

Kolam renang Tjihampelas, dahulu.

Kolam renang Tjihampelas, dahulu.

Seorang warga sekitar, Usep ( 59 ) mengatakan, pembongkaran dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Bagi dirinya, kolam itu memiliki kenangan tak terlupakan.”Dari kecil kalau main ke sana. Rasanya ingin menangis melihat sekarang sudah rata dengan tanah. Mau melapor juga tidak tahu ke mana,” ujarnya, Kamis ( 30/7/2009 ).

Usep menyayangkan pembongkaran kolam yang bernilai sejarah itu. Pernah digunakan untuk PON ke-1 yang diselenggarakan di Solo. Saat itu cabang renangnya dilaksanakan di Kolam Renang Tjihampelas, sebab di pulau Jawa, baru di Bandung yang memiliki kolam renang. Selain itu, pernah menjadi arena pertarungan SEA Games, ujarnya.

Ketua Bandung Heritage, Harastoeti mengaku pernah diundang pengembang dan pemilik bangunan. Saat itu, Bandung Heritage memberi arahan dan masukan, juga meminta agar pemandian itu tidak dibongkar.

“Waktu itu dikatakan akan dibangun rumah susun. Namun melihat kondisi kawasan itu dengan beban jalan yang tinggi, kami memberi arahan jangan, bahkan kami meminta agar kolam tidak dibongkar. Hal itu atas pertimbangan nilai sejarah, konservasi dan juga beban daerah,”tuturnya.

Kolam renang Tjihampelas di samping Ciwalk, dilihat dari atas.

Kolam renang Tjihampelas di samping Ciwalk, dilihat dari atas.

Pemilik bangunan, Henri Husada, mengatakan, proses pembangunan di bekas areal kolam renang itu dilakukan sejak Januari 2009, dan rencananya akan dibangun rumah susun hak milik ( rusunami ).”Awalnya kami ingin membangun untuk komersil, tapi atas usulan beberapa pejabat, akhirnya diubah menjadi rusunami sekaligus mendukung program pemerintah,”katanya.

Henri menegaskan, kolam renang tsb tidak termasuk bangunan cagar budaya.”Saya punya daftar bahwa itu tidak termasuk cagar budaya. Kalau cagar budaya, saya juga tidak berani.”

Daftar yang dimaksud adalah daftar benda cagar budaya milik Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan Provinsi Jawa Barat, 3 Juni 2009. Sedangkan walikota Bandung mengeluarkan surat edaran mengenai Rehabilitasi, Renovasi dan Restorasi Bangunan Cagar Budaya. Dalam edaran tersebut, Kolam Renang Tjihampelas termasuk dalam daftar 240 bangunan cagar budaya. ( PR, 31/7/2009 )

Pemandian Tjihampelas tak masuk 99 bangunan Perda Cagar Budaya, Bandung.

Pemkot Bandung tak bisa memberi sanksi apa pun terkait pembongkaran bangunan kolam renang Tjihampelas, kata Dada Rosada, walikota Bandung di Ruang Serba Guna, Jl.Wastukancana, kota Bandung, Senin ( 3/8/2009 ). Awalnya Pemandian Tjihampelas termasuk 240 bangunan cagar budaya dalam daftar surat edaran mengenai Rehabilitasi, Renovasi, dan Restorasi Bangunan Cagar Budaya. Namun dalam perkembangannya, saat menyusun Perda Cagar Budaya, hanya 99 bangunan yang termasuk dalam Perda tsb. Pemandian tsb tidak termasuk di dalamnya.

Keluarnya Surat Edaran Walikota Bandung digunakan ketika proses penyusunan perda belum berjalan. Sementara pembongkaran dilakukan ketika proses pembuatan perda sedang dilakukan.”Proses pembuatan perda kan sudah berjalan, termasuk dialog antara pemerintah, DPRD dan pihak terkait. Perda juga tidak berlaku surut, tutur Dada. Kolam pemandian Tjihampelas setelah dibongkar akan dimanfaatkan untuk pembangunan selanjutnya yang sesuai tata ruang dan rekomendasi dari gubernur.

Tanggapan berbeda diungkapkan ketua DPRD kota Bandung, Husni Muttaqien, yang menilai pemkot mestinya bisa menegur pemilik bangunan karena telah mengabaikan surat edaran yang telah dikeluarkan. Surat edaran itu sudah memenuhi bagi pemkot untuk menegur. Idealnya ada teguran kepada pemilik. Pembongkaran tsb menunjukkan lemahnya pengawasan yang dilakukan aparat kewilayahan. Jika terjadi pembongkaran bangunan cagar budaya, aparat kewilayahan bisa melaporkan. Mungkin aparat kewilayahan tidak dibekali informasi mengenai bangunan cagar budaya sehingga kurang memahami permasalahan tsb, tuturnya.

DPRD kota Bandung seharusnya membahas dan mengevaluasinya di tingkat komisi yang membidanginya. Namun, itu tidak berjalan semestinya, karena dewan disibukkan menyelesaikan 16 raperda menjelang akhir periode mereka. Setelah pergantian dewan, pimpinan sementara DPRD dapat menindaklanjuti masalah tsb.

Sebelumnya, pakar hukum, Asep Warlan Yusuf mengatakan, pemkot Bandung dapat mengambil tindakan terhadap pembongkaran pemandian Tjihampelas. Meski belum ada perda, masih ada aturan lebih tinggi, yakni UU no.5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya. Selain itu, surat edaran walikota berfungsi mengisi kekosongan hukum sebelum perda disahkan. ( PR, 4/8/2009 )


hit counters
hit counter
Iklan

Written by Savitri

4 Agustus 2009 pada 17:08

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: