Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Museum Amerta dan Rumah Sejarah, Kalijati. Heroik dan mengasyikan.

with 3 comments

Upacara pengibaran bendera merah putih di halaman Istana Negara. Dikibarkan pula saat atlet kita berjaya di pentas dunia. Bendera yang bisa menyelamatkan kita ketika kesasar di wilayah konflik di Afganistan dan negeri2  muslim lainnya.

Upacara pengibaran bendera kebanggaan Indonesia di halaman Istana Negara. Dikibarkan pula saat atlet kita berjaya di pentas dunia. Bendera yang bisa menyelamatkan kita ketika kesasar di wilayah konflik di Afganistan dan negeri2 muslim lainnya.

Dalam peristiwa the battle of Java Sea, 27 Februari 1942 antara pasukan sekutu pimpinan Laksamana KWFM Karel Doorman dan Belanda dari pasukan Jepang. Pasukan sekutu dengan flagship-nya De Ruyter kalah oleh pasukan Jepang yang dipersenjatai Long Lauch Torpedo yang berjarak jangkau 40 km/ jam dan meluncur tanpa jejak di air.

Dalam pertempuran laut Jawa ini, sejumlah besar orang Indonesia terutama yang bertugas di kapal perang Belanda mengalami nasib naas. Di kapal De Ruyter saja ada 108 orang Indonesia yang menjadi korban, 74 diantaranya tewas di tempat. Meski rata2 kedudukan mereka tidak lebih dari inheemse matros, stoker atau sekadar inheemse jongen.

Sejarah kekalahan demi kekalahan Belanda dengan sekutunya ( Amerika, Inggris, Australia ) hingga menyeret Belanda ke meja perundingan di Kalijati, Subang, Jawa Barat, 8 Maret 1942, menjadi salah satu bagian cerita yang dipaparkan kapten penerbang, Sodikin, penanggungjawab Rumah Sejarah dan Museum Amerta Dirgantara Mandala Suryadarma, Kalijati, kabupaten Subang, Jawa Barat, kepada 130 orang peserta Ekspedisi Situs dan Bangunan Cagar Budaya, yang diselenggarakan Balai Kepurbakalaan, Nilai Tradisi dan Sejarah Jawa Barat.

“Hal ini merupakan kesempatan sangat langka dan jarang didapat dari buku sejarah sekalipun. Di sini, benda2 koleksi museum mampu menguatkan cerita yang disampaikan dan kita seakan dibawa dan turut merasakan peristiwa heroik,” ujar dra.Romlah, Kasi BKNTS Jawa Barat. Jabar seperti halnya daerah2 lain yang menjadi pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia, menjadi tempat yang sangat menarik untuk berwisata sejarah dan budaya. Tak hanya mengunjungi bangunan tua bernilai sejarah, tetapi juga lokasi temuan benda2 pra-sejarah.

Wisata sejarah di Museum Amerta Dirgantara, tempat kita mengenang pertempuran seru di Laut Jawa tahun 1942.

Wisata sejarah di Museum Amerta Dirgantara, tempat kita mengenang pertempuran seru di Laut Jawa tahun 1942.

Salah satunya, Museum Amerta ini, di mana kita bisa menyaksikan langsung pesawat2 yang pernah digunakan pasukan Jepang untuk bertempur lalu digunakan para pejuang bangsa ini. Kita juga disuguhi cerita heroik pertempuran, semisal, pesawat L-4 J Viper Cub yang pernah digunakan untuk operasi menumpas DI/ TII di Jawa Barat, yang hingga kini masih terawat baik. Pesawat jenis ini pula yang dipakai pasukan Jepang pimpinan Letjen Hithoshi Imamura untuk membumihanguskan kota Bandung, sebelum Hein Terporten akhirnya menandatangani penyerahan Belanda atas Jepang di Kalijati. Ada juga pesawat Viper Cherokee buatan Amerika yang selama masa kemerdekaan menjadi sarana transportasi, pesawat latih PZL Glatik dan PVA.

Wisata sejarah ke bunker dan parit pertempuran

Masih di kawasan Kalijati, wisata sejarah diteruskan dengan mengunjungi bunker2 maupun parit tempat pertempuran. Juga, Rumah Sejarah yang menjadi saksi bisu penyerahan kekuasaan Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun, pada Jepang. Rumah ini awalnya dibangun tahun 1917 untuk rumah dinas perwira staf sekolah penerbangan Hindia Belanda di PU Kalijati. Guna mengenang sejarahnya, pada 21 Juli 1986 atas inisiatif komandan Lanud Kalijati, Letkol Pnb Ali BZE meresmikannya sebagai museum dengan nama “Rumah Sejarah”.

Saat menjejaki kaki di teras rumah, kita dihadapkan pada tonggak dari semen beton bertuliskan huruf kanji.”Ini merupakan kata sandi yang hingga kini belum dapat maknanya. Kemungkinan besar kata kunci yang disampaikan Imamura. Bahkan mantan Gyugun maupun Kalijati Kai ( perkumpulan mantan prajurit yang pernah bertugas di Kalijati ) juga belum dapat mengungkapnya.”

Rumah Sejarah, Kalijati, saksi bisu menyerahnya pasukan Sekutu pada jenderal Jepang, Imamura.

Rumah Sejarah, Kalijati, saksi bisu menyerahnya pasukan Sekutu pada jenderal Jepang, Imamura.

Memasuki ruang samping, kita akan disuguhi diorama dan foto2 yang berkenaan dengan pertempuran yang terjadi di lapangan udara Kalijati. Diawali dengan mendaratnya pasukan tentara Jepang ke Eretan Wetan dipimpin kolonel Shoji dan merangsek masuk ke Subang untuk bertempur dengan pasukan Sekutu hingga lapangan udara Kalijati direbut.

Terpampang tulisan menyerahnya pemerintah Belanda kepada Jepang dan dialog panglima Imamura dengan gubernur jenderal Belanda serta panglima Ter Porten. Terdapat foto bersama pejabat kedua negara sebelum/ setelah perundingan dan foto bangunan lama di PU Kalijati. Di sisi kanan terdapat lukisan yang menggambarkan 3 lokasi pendaratan pasukan Jepang ke Indonesia.

Di ruang tengah, terdapat meja persegi panjang dengan 8 kursi kuno beserta kain penutup bercorak kotak2 hitam putih. Di depan tiap kursi terdapat nama para pejabat Belanda dan Jepang yang berunding. Di kanan kirinya, terdapat 2 bendera kedua bangsa dan pada tembok menempel lukisan suatu momen perundingan.

Pada kamar kedua, terdapat rak buku2, album foto dan radio kuno. Di sampingnya, terdapat papan foto2 sejarah mengenai kondisi sekolah penerbang Belanda dan mes para penerbang dan kru pesawat di PU Kalijati. Ada foto kondisi PU Kalijati, PU Husein Sastranegara, Bandung, PU Semarang dan PU Cililitan di Jakarta. Ada foto2 pesawat tempur Jepang dan aktivitas tentara Jepang, pula.

Di kamar ketiga ada sebuah tempat tidur kuno dari besi, wastafel dan papan foto2 pesawat tempur Jepang. Ada papan yang bertuliskan proses penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang dalam bahasa Jepang dan Belanda. Di ruang belakang, ada ruang bekas kamar mandi dan dapur. Di beranda belakang, terhampar halaman luas, dari pintu belakang ada jalan berlantai dan beratap sirap menuju bangunan pada kiri halaman.

Veteran Jepang doa bersama di Tugu Kinoshita, Kalijati

Jangan lupa kunjungi Tugu Kinoshita atau Monumen Sejarah Tentara Jepang. Di tempat ini, tiap bulan September, mantan tentara Jepang atau keluarganya melakukan ritus doa bersama. Di sini bersemayam sersan Kinoshita yang meninggal saat pertempuran melawan Belanda. Selain mereka yang rutin berkunjung sejak diresmikan 21 Juli 1986, para pejuang kemerdekaan Indonesia juga mengenang peristiwa bersejarah itu di sini. Seperti Yayasan 19 September 1945 dan Yayasan Ermelo 96 sebagai paguyuban pejuang kemerdekaan. Siswa sekolah dari tingkat TK sampai mahasiswa juga kerap berwisata pendidikan di tempat bersejarah ini.

Rumah Sejarah dan Museum Amerta memang bisa mengasyikan. Jaraknya hanya 48 kilometer dari kota Bandung, 10 km dari Subang. Lokasi mudah dicapai. Sepanjang jalan banyak pemandangan yang dapat dinikmati. Tunggu apa lagi ? ( PR, 2/5/2009 )

Komen A.Savitri :

Masa2 ini kita diuji dengan berbagai persoalan yang menghendaki kita bersatu. Kebangsaan, nasionalisme, kecintaan pada tanah air, nusa, bangsa dan bahasa, kita gunakan untuk meng-counter klaim angklung oleh negara lain, perselisihan hasil pilpres 2009, intimidasi ledakan bom di JW.Marriott, kasus terbunuhnya David Hartanto, penyiksaan yang menimpa Manohara, Siti Hajar, gangguan kedaulatan di blok Ambalat, dsb. Kita tak ingin diguncang prahara seperti di Iran, Thailand, Afganistan, Irak, Palestina dan banyak tempat lain yang disusupi agen asing yang sengaja menciptakan ketidakstabilan ini untuk mempertahankan hegemoninya. Kita butuh bersatu, agar bisa menjalani kehidupan dengan wajar.

Tantangan ke depan masih banyak. Pakistan dan Afganistan masih membara. Banyak pengungsi ke luar dari sana. Crying for help. 70.000 sudah ada di Malaysia, siap masuk ke Indonesia, sebelum ke Australia. Orang2 kaya di Pakistan, Timur Tengah mengira negeri kita dalam cengkeraman asing sehingga perlu dibebaskan. Noordin M.Top, Saefuddin Juhri ( perekrut Dani ) salah satu eksekutor di lapangan mereka tugaskan untuk membebaskan kita dari kendali asing. Jujur saja, negara kita memang belum berbuat banyak untuk membebaskan rakyat Afganistan, Pakistan, Palestina, Irak dari pendudukan asing. Tapi kita juga tak ingin bangunan Indonesia yang sudah susah payah didirikan para founding father kita dirusak sedemikian rupa untuk memenuhi tuntutan pihak asing. Baik itu Amerika maupun militan Afganistan ( Taliban/ Al Qaeda ). Kita punya akar dan visi sendiri. Kita tak sudi Indonesia diacak-acak.

Sebagai muslim terbesar di dunia kita punya tanggungjawab moril membela saudara kita yang teraniaya di negeri2 yang diduduki. Puluhan tahun mereka tertindas, dan mungkin takkan bertahan lagi kalau kita terus terdiam dan asyik sendiri. Lugu. Loe-loe, gue-gue. Jadi, bagaimana ?

Allah memberi kekayaan alam demikian besar kepada kita, tidak untuk suka2 saja. Tambang emas di Timika membuat Freeport dari perusahaan tak dikenal menjadi perusahaan tambang emas terbesar di dunia. Chevron, Exxon, Shell juga menikmati keuntungan besar dari sumber daya alam kita. Mereka sudah kaya, dan tambah kaya. Di bawah laut Ambalat, tersimpan cadangan minyak untuk puluhan bahkan ratusan tahun umur anak cucu kita.

Kapal Republik Indonesia ( KRI ) siap menjaga kedaulatan NKRI di wilayah laut kita yang sangat luas.

Kapal Republik Indonesia ( KRI ) Diponegoro siap menjaga kedaulatan NKRI di wilayah laut kita.

Pasukan kontingen Garuda dilepas Panglima TNI ke medan konflik di luar negeri.

Pasukan kontingen Garuda dilepas Panglima TNI ke medan konflik di luar negeri.

Wilayah laut yang 2/3 dari luas daratan kita telah memunculkan kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Goa, Ternate, Demak, Banten yang tersohor di mancanegara sebagai penguasa maritim pada masa lalu. Kita punya semua yang dibutuhkan untuk menjadi negara besar, berdaulat penuh, disegani, sejahtera sekaligus melindungi rakyat negeri2 muslim teraniaya. Kita punya rasa cinta air dan cinta pada Allah. Militan Afganistan itu melihatnya, apa kita melihatnya ? Why don’t we do anything to release them ?

Mulai bebaskan diri dari ketergantungan asing, merk asing, impor minded. Hargai dan gunakan produk lokal. Isi tabungan kita dan kas negara, serta awasi penggunaannya. Singapura punya 4 skuadron masing2 6 pesawat tempur untuk menjaga negara kota sekecil itu. Malaysia juga. Kedua negara yang kerap menguji kesabaran kita itu luasnya tak sampai separuh pulau Sumatera. Kita hanya punya 1 skuadron untuk menjaga wilayah seluas ini.

TNI/ kontingen Garuda yang sangat diandalkan masyarakat internasional untuk menjaga wilayah2 konflik di luar negeri itu perlu kita persenjatai dengan peralatan mutakhir dalam jumlah memadai. Sehingga kedua negara tetangga kita itu kembali respek pada kita, seperti saat kita menjadi macan di Asia Pasifik puluhan tahun berselang. Sehingga kita bisa menjaga wilayah laut kita dari susupan agen asing, bajak laut, pencuri ikan dan teroris. Sehingga kita bisa menekan negara2 asing di meja2 perundingan setiap mereka menginvasi negara lain. Sehingga Al-Qaeda, Taliban, Noordin M.Top tak perlu putus asa mengebom tempat2 sipil untuk membangunkan kita, karena kita sudah melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba Allah.

Prof. Yohanes Surya

Prof. Yohanes Surya

Selebriti Dik Doank

Selebriti Dik Doank

Sineas, Hanung Bramantyo

Sineas, Hanung Bramantyo

Museum Amerta dan Rumah Sejarah di Kalijati mengingatkan kita akan masa2 merebut kemerdekaan RI. Pentas bagi para pejuang pendahulu kita. Pesawat2 tempur yang digunakan Jepang ketika mengalahkan sekutu di laut Jawa, terpajang di sana dan menginspirasi kita. Dari penghayatan sejarah, mulai siapkan pentas kita.

Mari penuhi langit nusantara dengan pesawat tempur tercanggih untuk menjaga kedaulatan udara kita. Mari penuhi wilayah laut pertiwi dengan kapal terbaru yang gesit menghalau kapal2 asing yang mengusik kedaulatan laut kita. Mari lengkapi peralatan tempur Angkatan Darat dan keamanan Polri untuk mengantisipasi aksi teror, kriminalitas dan kejahatan kemanusiaan.

Gunakan produk Indonesia dan dukung usaha lokal untuk mensejahterakan kita semua. Profesor fisika Yohanes Surya, selebriti Dik Doank, sineas muda Hanung Bramantyo sudah meniti kiprahnya di depan. Kita susul mereka dengan mengeluarkan keajaiban pemberian Tuhan dari dalam diri, dan berkarya untuk kemajuan nusa dan bangsa. Tetaplah bersatu untuk memenuhi takdir masa depan kita.

Dirgahayu Indonesia ..


free html visitor counters
hit counter
Iklan

Written by Savitri

19 Agustus 2009 pada 17:38

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nilai sejarahnya sangat besar, dan kayanya rumah tua sangat mengasikan tuh kelihatannya untuk nguji nyali he..he..he…

    Dado

    2 November 2009 at 15:25

  2. @ iklan rumah property :
    Memang rumah tua. Soal seram nggak seram relatif. Kalo nginep sendirian di situ, ya seram… he3x. Kaum muda, idealnya, menyempatkan diri melongok museum2 perjuangan bangsa untuk membakar semangat nasionalisme. Negeri kita lagi banyak diuji sekarang, mesti dihadapi dengan tekad sekuat baja & patriotisme tinggi. Trims komennya.

    anisavitri

    5 September 2009 at 13:54

  3. wew…besar banget y nilai sejarahnya . tapi disitu seram ga y, kaya rumah tua gitu

    iklan rumah property

    27 Agustus 2009 at 08:44


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: