Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Desain arsitektur kota merespon pemanasan global

with 4 comments

Pemanasan global menjadi isu lingkungan signifikan dewasa ini. Diakibatkan akumulasi gas rumah kaca, meningkatnya penggunaan bahan bakar fosil ( minyak, batubara dan gas ) dan berbagai kegiatan pembangunan. Berdampak pada peningkatan pemanasan suhu bumi yang bermuara pada kenaikan muka air laut. Perlu langkah2 antisipatif untuk menghindarinya, diantaranya melalui desain arsitektur dan kota berkelanjutan yang responsif terhadap global warming.

Indonesia, negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia. Memiliki sekitar 17.500 pulau, dengan sekitar 75 % luas wilayahnya ( 5,8 juta km2 ) terdiri lautan dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Karena global warming, pulau2 kecil akan tenggelam, plus daratan rendah yang kita diami. Dengan asumsi kemunduran garis pantai 50 meter, maka Indonesia akan kehilangan lahan seluas 400.000 hektar. Masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas pantai dipastikan merugi.

Ruang terbuka di Vientianne, Laos.

Ruang terbuka di Vientianne, Laos.

Desain arsitektur yang responsif

Desain arsitektur berkonstribusi pada pemanasan global, karena masih banyak yang menggunakan penghawaan, pendinginan dan pencahayaan buatan yang menyerap banyak energi. Faktanya, 37 % energi di AS diserap oleh bangunan untuk 3 keperluan tsb. Strategi efektif untuk menunda global warming adalah dengan melakukan efesiensi energi, melalui desain arsitektur yang adaptif terhadap lingkungan, dengan memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami, serta penggunaan bahan bangunan yang ramah lingkungan. Norbert M.Lechner melakukannya dengan pendekatan sbb :

  • Penghindaran beban : Arsitektural bangunan dirancang untuk meminimalisir kehilangan panas di musim dingin, memperkecil peningkatan panas di musim panas dan memanfaatkan cahaya secara efesien.
  • Mengoptimalkan penggunaan energi : Menggunakan tenaga alami dengan sistem pemanasan, pendinginan dan pencahayaan pasif.
  • Pemilihan piranti engineering system yang tepat : Perangkat mekanikal dipilih yang lebih banyak menggunakan sumber tenaga yang dapat diperbaharui/ daur ulang agar dapat menangani sisa beban dari pendekatan pertama dan kedua.

Ketiga pendekatan tsa memungkinkan para arsitek menyediakan penghawaan dan pencahayaan bangunan dengan meminimalkan pemakaian energi serta memaksimalkan keberlanjutan, seperti yang terdapat dalam sustainable “green” design dan photovoltaic.

Menghijaukan atap

atap hijau di New York, mampu menyejukkan udara dan mengurangi efek urban heat island.

Atap hijau dari vegetasi di New York, mampu menyejukkan udara dan mengurangi efek urban heat island.

Untuk mengurangi temperatur udara di kota2 besar bisa dengan greening the top pada bangunan. Menurut Candice Lim, atap hijau menyejukkan udara, mengurangi efek urban heat island ( suhu panas kota mempengaruhi wilayah desa, terutama karena bertambahnya permukaan keras yang menyerap radiasi matahari ) dengan mengurangi suhu permukaan atap melalui bayangan dan evapotranspiration ( saat uap air sejuk dipancarkan oleh penguapan tanah dan saat tanaman bernafas ).

Atap hijau memiliki nilai isolasi lebih tinggi serta membutuhkan lebih sedikit energi untuk mendinginkan bagian dalam gedung. Menurut studi Badan Penelitian dan Pengaturan Lingkungan Pemerintah Kanada, gedung satu lantai dengan atap rumput medium setinggi 10 cm akan menurunkan 25 % kebutuhan pendinginan di musim panas. Riset di Tokyo menunjukkan atap hijau ( green roofs ) dapat menurunkan 25 % biaya pemanasan dan pendinginan gedung. Beberapa negara maju, seperti Jepang, sudah mensyaratkan atap hijau untuk meredusir panas perkotaan dan pencemaran udara. Chicago memberi insentif pada pemilik yang memasang atap hijau di gedungnya.

Kearifan arsitektural tradisional

Arsitektur tradisional yang tersebar di seluruh pelosok nusantara, mengandung kekuatan filosofi, nilai sosial budaya, sejarah, tradisi serta kearifan dalam bersinergi dengan alam. Tercermin dari tampilan arsitektur, lay out ruang, penggunaan elemen arsitektur, bukaan serta bahan bangunan yang ramah lingkungan. Filosofi arsitektur tradisional patut menjadi rujukan dalam merancang arsitektur masa kini dan mendatang.

Belajar dari alam

konsep rumah rayap pada Eastgate Center, Zimbabwe, yang berprinsip pendinginan pasif.

Konsep rumah rayap pada Eastgate Center, Zimbabwe, yang berprinsip pendinginan pasif.

Belajar konsep pendinginan bangunan pasif dari rumah rayap yang menyalurkan panas dengan saluran vertikal dan lorong horizontal dalam bangunan serta bantalan udara di atas dan bawah bangunan. Terkait dengan aspek ; orientasi bangunan, material, tipe bukaan dan teduhan, konstruksi bawah tanah, pendinginan terisolasi, pendinginan dengan penguapan, ventilasi alam, dll.

Permukiman tepi air

Potensi fisik kepulauan Indonesia yang dilingkupi air memungkinkan pengembangan konsep permukiman di tepi atau atas air ( terapung ). Contohnya, permukiman tepian sungai di Kalimantan yang memaksimalkan potensi sungai, urat nadi kehidupan masyarakat. Rekayasan teknis seperti di Dubai Island juga tengah dikembangkan.

Palm Island, Dubai.

Palm Island, Dubai.

Aspek penataan ruang

PP no.47 tahun 1997 tentang RTRWN dan UU no.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang menjadi sangat penting karena memuat kebijaksanaan pola dan struktur wilayah nasional masa mendatang. Studi mendalam tentang isu global warming seperti kenaikan muka air laut dan banjir, menjadi masukan penting RTRWN, utamanya pengembangan kawasan pesisir yang paling terkena dampak kenaikan muka air laut. Disusul RTRW provinsi, kabupaten dan kota.

Kota berkelanjutan

Menurut Budihardjo dan Sujarto, kota berkelanjutan adalah kota yang dalam perkembangan dan pembangunannya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat kini, mampu berkompetisi dalam ekonomi global, dengan tetap mempertahankan keserasian lingkungan, vitalitas sosial, budaya, politik, pertahanan, keamanan, tanpa mengabaikan atau mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka. Lima prinsip dasar yang diperlukan ; environment ( ecology ), economy ( employment ), equity, engagement dan energy, artinya memiliki basis ekonomi yang kuat, lingkungan yang serasi, tingkat sosial yang setara penuh keadilan, peran serta aktif masyarakat dan pemangku kepentingan, serta konservasi energi yang terkendali baik. Beberapa aspek yang berpengaruh antara lain ; land use, sistem transportasi dan ruang terbuka hijau.

Mixed land use

Penggunaan lahan campuran menjadi strategi yang perlu terus dikembangkan. Seperti kota yang kompak ( compact city ), yakni kota yang kompleks permukimannya terintegrasi dengan tempat bekerja, dilengkapi fasilitas sosial ( fasilitas kesehatan, pendidikan, tempat ibadah, dll ) dan fasilitas umum ( pusat perbelanjaan, ruang2 publik, dsb ), didukung infrastruktur perkotaan yang baik sehingga sangat efesien dalam melakukan pergerakan. Saat ini kota2 besar dihadapkan permasalahan kemacetan lalu lintas yang berimbas pada meningkatnya polusi dan pemborosan energi.

Transportasi umum & sepeda

Transportasi umum yang nyaman, aman dan terjangkau harus terus dikembangkan ( seperti busway, riverway, subway, trem, monorail ) sehingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Penggunaan sepeda perlu didukung dan dikembangkan dengan menyediakan jalur khusus sepeda dan trotoar yang ramah terhadap pejalan kaki.

Ruang terbuka hijau ( RTH )

RTH di kota2 besar berfungsi menyejukkan udara, estetika kota, ruang bersantai bagi warga, mengurangi volume dan laju air hujan. Berkurangnya RTH berimbas kenaikan suhu udara perkotaan. UU no.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, menyebutkan bahwa, proporsi RTH minimal 30 % dari luas wilayah kota, terdiri RTH publik ( 20 % ) dan RTH privat ( kebun/ taman/ tumbuhan di halaman kantor, rumah, gedung ). RTH publik meliputi taman kota, pemakaman umum, jalur hijau sepanjang jalan, sungai dan pantai. Proporsi 30 % adalah ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan sistem hidrologi, sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang meningkatkan ketersediaan udara, air bersih yang diperlukan masyarakat dan estetika kota.

pemanfaatan sungai untuk sarana transportasi air ( riverway ) di Copenhagen, Denmark.

Pemanfaatan sungai untuk sarana transportasi air ( riverway ) di Copenhagen, Denmark.

Fenomena global warming telah kita rasakan melalui peningkatan suhu udara, kenaikan muka air laut yang membenamkan sebagian wilayah pesisir, dan banjir ( air dari pusat kota yang menuju laut balik lagi ke kota karena permukaan laut sudah meninggi ). Bencana alam makin sering terjadi dan makin hebat. Namun, kita bisa mencegahnya berlanjut dengan ;


  • mengelola lingkungan dengan baik,
  • memanfaatkan energi secara bijak melalui desain arsitektur dan kota yang hemat energi,
  • mengembangkan riset mendalam terkait global warming dan dampaknya untuk strategi pengembangan wilayah kota dan pesisir, serta
  • penggunaan teknologi tepat guna.

Komitmen kuat dan partisipasi aktif semua pihak menjadi kunci utama keberhasilannya.

( Taufan Madiasworo/ Kiprah )

free html visitor counters
hit counter
Iklan

Written by Savitri

2 September 2009 pada 21:02

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wow..bner2 great people and idea…salut2…slm kenal ya..slm green..

    henryaja

    15 Oktober 2010 at 07:26

  2. @ Agus & Ciwir :
    Posting mantap, Insya Allah menjadi ciri khas blog ini. Terus dilanjutkan. Keberadaan ruang terbuka hijau sudah menjadi syarat baku pembangunan permukiman di perkotaan. Tinggal kekuatan iman aparat birokrasi & pelaksana di lapangan, dalam menghadapi iming2 atau tekanan pemilik modal yang mengincar lahan2 strategis untuk bisnis mereka. Thanks komennya.

    anisavitri

    9 September 2009 at 19:44

  3. harus ada ruang terbuka hijau…

    ciwir

    8 September 2009 at 19:05

  4. Salam kenal dari saya Agus Suhanto,
    lanjutkan posting yang mantap-mantap ini…

    Agus Suhanto

    6 September 2009 at 19:10


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: