Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Bangunan hemat energi, pendidikan arsitektur & kenaikan TDL 2010.

with one comment

Keterbatasan sumber energi tak terbarukan di Indonesia, belum diimbangi dengan kesadaran menciptakan bangunan hemat energi. Seiring makin menipisnya sumber energi, konsep arsitektur hemat energi harus dikembangkan dalam tataran akademis. Praktisi arsitek, Henry Feriadi mengatakan, pendidikan tentang arsitektur hemat energi sebenarnya telah diperkenalkan sejak 1970. Namun, dalam perkembangannya tidak lagi dipedulikan, karena murahnya tarif sumber energi.”TDL ( tarif dasar listrik ) di Indonesia masih relatif murah, sehingga orang2 tidak berpikir harus berhemat,” katanya, usai Seminar Nasional “Menyongsong Era Desain Arsitektur Hemat Energi di Indonesia”, Sabtu ( 12/9/2009 ) di Unpar.

Rumah bergaya minimalis, sekaligus hemat energi. Mengoptimalkan bukaan untuk pencahayaan dan penghawaan alami. Energi bisa dihemat, dengan mengurangi penggunaan lampu, ac, dsb.

Rumah bergaya minimalis, sekaligus hemat energi. Mengoptimalkan bukaan untuk pencahayaan dan penghawaan alami. Energi bisa dihemat, dengan mengurangi penggunaan lampu, ac, dsb.

Swirly skycrapers. Gedung pencakar langit yang menimbulkan green house effect dan pemanasan global. Sangat boros energi untuk mendinginkan bagian dalam bangunan. Hindari penggunaan kaca secara berlebihan.

Swirly skycrapers. Gedung pencakar langit yang menimbulkan green house effect dan pemanasan global. Sangat boros energi untuk mendinginkan bagian dalam bangunan. Hindari penggunaan kaca secara berlebihan.

Desain jendela, misalnya, saat ini kurang diperhatikan sebagai salah satu jalan masuknya cahaya, sehingga mengurangi pemakaian lampu. Belum lagi, bangunan modern seperti mal yang lebih berorientasi ke dalam ruang tanpa ada jendela, menggantungkan sepenuhnya pada lampu dan air conditioner ( AC ). Di kota besar, kalangan ekonomi menengah ke bawah menjadi target sejumlah rumah susun yang dibangun di pinggir kota, sehingga dibutuhkan banyak energi menuju kantor.”Arsitektur secara luas juga mempelajari urban planning, dengan memperhitungkan energi yang harus dikeluarkan oleh penghuni bangunan selama menjalankan aktivitasnya,”ujar Henry.

Dibandingkan Malaysia dan Singapura, kesadaran arsitektur hemat energi di Indonesia lebih rendah. Di Singapura, dalam aturan IMB ( izin mendirikan bangunan ), harus mencantumkan energi yang dikeluarkan. Adanya rencana kenaikan TDL pada tahun 2010, juga kian menipisnya cadangan sumber energi menjadi titik tolak bagi Indonesia untuk kembali berpikir ke arah penghematan energi. Pendidikan arsitektur turut menjadi kunci pentingnya mengutamakan bangunan hemat energi.

Dosen arsitektur Unpar, Alexander Sastrawan mengatakan, desain bangunan mempengaruhi konsumsi energi 50 %, sedangkan perilaku penghuni berpengaruh 25 % dan alat2 rumah tangga 25 %. Pendidikan arsitektur diharapkan dapat memperbaiki kelemahan2 dalam pemanfaatan energi. ( PR, 15/9/2009 )


hit counters
hit counter
Iklan

Written by Savitri

23 September 2009 pada 18:39

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Irur :
    Jawaban lengkapnya di e-mail aja, ya ..
    Sebagai pembangun, kita harus aware dengan persoalan terbatasnya minyak bumi. Jika, gedung didesain penuh kaca yang memanaskan udara di dalam gedung, sehingga AC harus dijalankan, bukankah itu berarti minyak bumi disedot lagi ? Saat ini, minyak masih tergolong relatif murah dibanding pembangkit energi lainnya, seperti matahari dan angin. ( perangkat solar cell untuk 1 rumah, mungkin masih terjangkau, tapi untuk menghasilkan ribuan megawatt untuk melayani satu wilayah, berapa investasinya ? ). Sebagai arsitek/ desainer, kita terpanggil memberi teladan dan pengertian pada klien untuk ikut menghemat energi. Bumi makin panas, karena belum banyak yang paham/ mau berhemat energi. Sepanas apa yang bisa kita tahan nanti ? Kalau diam2 saja, ikut arus. Di belahan lain bumi ini, tak sedikit yang sudah tewas oleh gelombang panas dan kacaunya iklim …

    Savitri

    29 Juli 2010 at 15:03


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: