Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Citizen journalist : kepercayaan, integritas & independen

leave a comment »

Go digital, baca koran online lewat laptop, mulai menjadi hal jamak dewasa ini.

Go digital, baca koran online lewat laptop, mulai menjadi hal jamak dewasa ini.

Berbagai wacana bahkan warning tentang masa depan suram bagi massa tradisional ( cetak dan elektronik ) di tengah tantangan era digital, sudah kerap disampaikan banyak pihak. Lihat Philip Meyer dalam “The Vanishing Newspaper : Saving Journalism in the Information Age, 2005”, yang menyebutkan 2043 akan menjadi tahun ketika semua surat kabar di Amerika mati.

Seruan untuk go digital, termasuk dengan beragam “jargon” turunannya semacam konvergensi atau pengintegrasian newsroom, telah menjadi keniscayaan yang mesti diadopsi institusi pers cetak. Pesan transformasi digital itu tetap menjadi common discourse pada WAN-IFRA Newsroom Summit Asia ( NSA ) 2009 selama 2 hari di Kuala Lumpur, Malaysia, 8 – 9 Juli lalu.

Banyak hal penting yang diungkap dari pertemuan yang dihadiri para pemimpin redaksi, CEO media massa, serta para pengembang teknologi media massa. Satu pesan utama, situasi yang tengah dihadapi media massa tradisional begitu keras dan penuh ketidakpastian. Kreativitas, inovasi, dan kesungguhan melakukan perubahan, merupakan prasyarat utama agar tak ketinggalan zaman atau mati di tengah gelombang deras arus era digital.

Benang merah yang mengemuka, awak media massa tak bisa lagi mengklaim diri sebagai yang paling tahu segala hal serta menafikan perubahan di sekelilingnya, termasuk perubahan bahwa semua orang juga bisa melakukan praktik jurnalisme ! Perlahan tapi pasti, privilege jurnalis media mainstream semakin terpreteli oleh kehadiran kaum digital natives ; citizen journalists. Mereka yang karena pengetahuan dan pergaulan yang erat dengan internet, tak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi sekaligus produsen informasi.

Dr.Stephen Quinn, Associate Professor of Journalism, Deakin University, Australia, mendeskripsikan, kini berbagai akun digital sebagai media sosial di internet, kian tak terhitung jumlahnya. Sejatinya, Quinn ingin menggambarkan bahwa kini tersedia banyak kanal yang bisa dipakai siapa saja untuk melaporkan tentang apa saja, kapan saja, dan dari mana saja. Gempuran platform digital semacam inilah, tantangan besar yang dihadapi pers cetak kita. Apalagi, di tengah tidak pernah beranjaknya tiras surat kabar secara nasional.

Tak ada pola baku yang dianut atau diadopsi media massa mainstream dalam upaya go digital dengan membuat platform online ( dengan segenap turunannya ) sebagai media lain penyampai informasi ( selain cetak, televisi, radio ). Go digital memang sebuah keniscayaan ( taken for granted ), namun bagaimana upaya penyebaran informasi itu dalam beragam platform bergantung dan diserahkan pada kondisi, kebutuhan, dan kemampuan ( sumber daya dan dana ) intenal masing2 media.

Dietmar Schantin, direktur IFRA Newsplex menegaskan, konvergensi media melalui integrative newsroom ( satu newsroom untuk penyebaran content ke berbagai platform ) adalah jawaban bagi media mainstream/ tradisional untuk go digital. Akan tetapi, kenyataannya, beragam kreativitas bisa dilakukan, termasuk dengan masih memisahkan newsroom untuk platform cetak dengan newroom untun online dan platform lainnya.

Patrick Daniel, pemred “the Strait Times”, Singapura, menegaskan, dirinya tidak begitu peduli dulu dengan penerapan konvergensi atau integrasi di kelompok penerbitannya. Oleh karena itu, jangan terjebak pada adu argument di internal karena yang paling penting adalah membuat platform baru di luar cetak. Platform baru yang dikembangkan Singapore Holding Press ( SHP ) adalah siaran televisi berbasis internet ( ipTV ), Razor TV.

Namun, semua menyepakati matra dari Dietmar Schantin, perihal makna konvergensi. Hal yang terpenting adalah karakteristik dari setiap platform harus menjadi perhatian awak media. Memindahkan content cetak ke online, bukan perkara copy-paste. Karakteristik cetak dengan platform lainnya berbeda. Jangan sampai bukan konvergensi yang berlangsung, tetapi kanibalisasi karena asal mengisi content dengan mengesampingkan kualitas.

Apakah lantas content surat kabar cetak akan ditinggalkan begitu saja ? Tidak, bahkan justru harus terus ditingkatkan kualitas dan perfomanya agar tetap paralel dengan ekspetasi pembaca dan berbagai perubahan. Tren penurunan pendapatan dari platform cetak mempersyaratkan kreativitas tersendiri dari pengelolanya. Menurut P.N.Banji, direktur Asian Journalism Fellowship, tanpa harus kehilangan independensi, redaksi dapat berkoordinasi dengan bagian pemasaran dalam upaya merebut animo pembaca dan tentunya klien iklan. Tak ada pelanggaran etika jurnalistik karena fire wall redaksi dengan iklan tetap terjaga.

Redaksi menyampaikan rencana peliputan, menentukan tema, serta siapa yang diwawancarai. Tema liputan memperhatikan tren atau kebutuhan pembaca lewat survey atau penelitian litbang. Rencana peliputan itu dikoordinasikan dengan bagian iklan dan pemasaran untuk dijual. Pada saat eksekusi dengan klien iklan, yang berperan hanya bagian iklan. Redaksi tetap dengan independensinya.

Kita tak bisa mengelak dari gelombang deras era digital, Siapa lebih cepat dan siap, dengan penyediaan beragam platform, akan menyelami perubahan itu. Prinsip etis jurnalisme yang dipraktikkan dengan nyata oleh media mainstream adalah kekuatan utama di tengah era banjir informasi. Inti dari bisnis media sesungguhnya adalah kepercayaan khalayak. Kepercayaan itu identik dengan integritas dan independensi awak redaksi. ( Erwin Kustiman/ PR, 1/8/2009 ).

Blogger patriot di Vietnam dihukum penjara & berhenti blogging.

Seorang wanita dipenjara setelah mengkritik pemerintahan Vietnam dalam sebuah blog. Ia dibebaskan dengan syarat berhenti menulis dalam blog, Senin ( 14/9/2009 ).”Ini waktunya bagi saya menghentikan blog ini. Saya masuk ke dunia blogging sebagai suatu petualangan di dunia informasi. Akan tetapi, setiap permainan ada akhirnya,”kata Nguyen Ngoc Nhu Quynh dalam sebuah pernyataan yang ditulis tangan dan dipublikasikan dalam situsnya, menyusul pembebasannya dari penjara, akhir pekan kemarin.

Quynh adalah salah satu dari 3 penulis online, yang ditangkap akhir Agustus lalu oleh pemerintah Vietnam. Ketika penulis blog itu mengkritik kebijakan pemerintah Vietnam, tentang hubungan dengan pemerintah Cina. Menurut seorang diplomat asing, ketiga blogger juga berencana memproduksi kaos yang bertuliskan anti Cina. Mereka mengkritik pemerintah Vietnam, karena tidak mempertahankan sengketa territorial dengan Cina atas kepulauan Spratly dan Paracel di Laut Cina Selatan. Mereka juga keberatan dengan rencana Vietnam yang membiarkan investasi Cina secara besar-besaran ke tambang bauksit penting dan strategis di Central Highland. Saat ini, sebuah perusahaan Cina sedang membangun proyek, tsb.

“Saya salah dan bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan,” tulis Quynh. Ia tahu keputusannya untuk berhenti blogging akan mengecewakan teman-temannya. Akan tetapi, ia sudah membuat janji untuk berhenti menulis dalam blog demi kebebasannya dari penjara.”Saya sudah membuat janji dan akan menepatinya.” Ia menjelaskan bahwa ia harus sadar dengan kenyataan dan kemampuan untuk mengekspresikan patriotisme itu dibatasi oleh realitas politik. Quynh mengatakan, jika saja dirinya berani seperti patriot2 Vietnam dulu, ia akan melanjutkan blog. Namun, setelah 10 hari di penjara, ia memutuskan untuk menyerah saja.”Dari dasar hatiku, saya percaya kita akan bertemu lagi di suatu tempat di jalan raya informasi yang sangat luas ini, karena berbagi kepercayaan pada roh Vietnam.”

Quynh ( 30 tahun ) yang membuka blog dengan nama pena “Aku Nam” atau “Ibu Jamur” dibebaskan Minggu ( 13/9/2009 ), seminggu setelah polisi membebaskan blogger lainnya, yakni Bui Thanh Hieu dan jurnalis online Pham Doan Trang. Juru bicara menteri luar negeri Nguyen Phuong Nga, mengatakan, ketiga blogger ditahan karena dituding telah mengganggu keamanan nasional. Pada awal tahun 2009, pemerintah memperketat peraturan bagi para blogger. ( PR, 15/9/2009 )

Komen A.Savitri :

Persaingan antara Blogger dan WordPress, sampai pengguna WordPress  di black list oleh sebagian penyelenggara ppc terutama Google Adsense.

Persaingan popularitas antara Blogger dan WordPress, sampai2 pengguna WordPress di black list oleh sebagian penyelenggara ppc.

Pengelola Kompasiana pernah menyatakan bahwa pembaca blog Kompasiana lebih banyak daripada koran Kompas edisi cetak. Keheranan saya tentang kian sulitnya tulisan menembus media cetak, terjawab sudah. Rupanya, banyak dari mereka seperti hidup segan mati pun tak mau. Kembang kempis. Banyak yang kolaps, gulung tikar. Apalagi majalah arsitektur kota. Saya pun jadi mengerti mengapa blog “Great People & City” ini cukup banyak pembacanya. Rupanya blog ini menjadi kanal bagi mereka yang tak menemukan konten seperti di blog ini di media off line. Ceruk kecil yang cukup berarti. Mungkin dibutuhkan.

Saya memulai blog ini, semula untuk memamerkan contoh tulisan yang dimuat di media cetak. Tak dinyana, dari hari ke hari, pembacanya kian banyak. Saya tak begitu tahu persisnya, apa yang mereka cari di blog ini. Dari statitik blog, yang paling banyak diklik adalah kisah Manohara, bencana Situ Gintung dan 2000 pulau akan tenggelam. Tulisan2 mengenai arsitektur kota berada di posisi2 berikutnya. Pembaca awam lebih banyak, rupanya. Tak heran media cetak arsitektur seret peredarannya.

Satu kelebihan blog di wordpress adalah kotak search. Saya bisa memanggil data yang saya perlukan dengan menulis kata kunci di kotak tsb, tanpa repot membalik-balikkan kertas seperti data arsip atau kliping saya. Waktu bisa dihemat. Blog ini tak ubahnya data base, perpustakaan, diary atau bahkan majalah online. Lengkap dengan fasilitas untuk umpan balik/ komen/ surat pembaca, pooling, menyimpan gambar/ naskah, juga kapling iklan. Saya cukup surprise ketika beberapa pengunjung sepikiran dengan saya dalam menggunakan blog, sama2 mencari data/ info dari blog ini. Seperti pengunjung perpustakaan saja. Bedanya, saya sekaligus yang mengisi, menulis, ilustrator dan editornya. More weird ?

Lalu ada istilah citizen journalist. Setiap orang bisa berpraktek jurnalisme. Iwan Piliang, blogger yang ulet menginvestigasi kasus terbunuhnya mahasiswa Indonesia di Singapura, David Hartanto, mengaku dirinya seorang citizen journalist. Saat itu, definisi tsb masih sedikit abstrak buat saya. Apalagi, buat orang sekitar saya. Sulit menjelaskan profesi baru tsb pada mereka. Wong, menyebut penulis atau kerjaannya menulis, alis mereka sudah mengernyit dalam, meragukan. Sungguh, tantangan tersendiri.

Tapi kemudian media cetak, radio, televisi juga mulai nyebur ke dunia maya. Di satu sisi, kita makin sadar bahwa dunia online kian bergaung dan menjadi andalan masa depan. Di sisi lain, habitat para blogger dan surfer yang semula “blue ocean” ini nantinya bisa jadi arena pertarungan berdarah-darah memperebutkan pengunjung. Semoga persaingan sehat yang terjadi. Semoga pembaca online lebih smart dalam memilih situs dan blog yang berkualitas dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Karena aturan hukum di dunia maya lebih sulit diterapkan daripada di dunia “nyata”. Kita tahu media2 surat kabar zionis di Amerika telah menyesatkan mayoritas publik di sana tentang keadaan sebenarnya di Timur Tengah dan negeri2 muslim, juga Indonesia. Betapa powerfull-nya kekuatan media dalam perwajahan kekuasaan di muka bumi ini, yang sayangnya masih penuh ketimpangan dan ketidakadilan.

Namun, di atas semuanya Allah Swt masih penguasa mutlak di jagad raya ini. Dengan keimanan ini, saya berharap blog “Great People & City” bisa berarti untuk anda, para pembaca. Saya coba arungi lautan luas cyber ini dengan pengalaman hidup, persentuhan saya dengan beragam situasi, juga orang2 yang dihadirkan-Nya ke hadapan saya untuk memperkaya batin, selanjutnya dibagikan ke khalayak pembaca.

Saya juga berharap, Indonesia masih cukup memberi ruang gerak bagi para blogger untuk menyuarakan perbaikan kualitas produk, layanan jasa/ publik dan kehidupan bernegara. Jangan sampai sikap patriot malah dihajar penjara. Kontra produktif terhadap kemajuan bangsa. Kasus Prita semoga hanya kasus anomali, lebih disebabkan oknum di badan peradilan kita, bukan pandangan secara umum. Kita tak ingin daya tarik tulisan online yang berani dan menyentil, terpasung oleh kekakuan penguasa dengan berbagai dalih. Kita tetap ingin memikat dan mencerahkan. Thanks for reading, people ..


hit counters
hit counter
Iklan

Written by Savitri

23 September 2009 pada 18:16

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: