Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Indonesia kembali menangis, Ranah Minang diluluhlantakkan gempa.

leave a comment »

Hotel Ambacang, before.

Hotel Ambacang, before.

Hotel Ambacang, after 30/9/2009 ( gempa Padang/ Sumbar )

Hotel Ambacang, after 30/9/2009 ( gempa Padang/ Sumbar )

Sekitar 300 orang terkubur hidup2 oleh longsoran tanah sedalam lebih 10 meter di lereng Gunung Tandikek, Desa Lubuk Laweh, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Gempa berkekuatan 7,6 skala Richter yang mengubah 5 dusun seluas ratusan hektar di Sumatera Barat itu menjadi kuburan massal, Rabu sore ( 30/9/2009 ). Empat hari kemudian pemerintah provinsi Sumbar menyepakati pembuatan kuburan massal di sana setelah lebih 3 hari, korban2 yang belum terevakuasi itu diyakini tak mungkin hidup. Hanya 36 jenazah yang baru bisa dievakuasi. Warga dusun Jumana ( hilang 69 orang ), Darek ( hilang 13 orang ), Pulau Koto ( hilang 3 orang ), Simpang Kaliki ( 15 orang ) dan dusun Lubuh Laweh ( hilang 276 orang ) pada saat longsor tengah melangsungkan hajatan perkawinan. Versi Depkes 618 orang yang terkubur.Wakil gubernur Sumbar, Marlis Rahman, mengatakan pihaknya akan meminta fatwa MUI mengenai kuburan massal di Lubuk Laweh dan membuat monumen peringatan.

Berdasarkan data Bakornas jumlah korban tewas hingga saat ini 704 orang, hilang 295 orang. Terbesar di Kota Padang, 327 orang, menyusul Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, 37 orang, Kabupaten Agam, 32 orang, Kabupaten Pesisir Selatan, 10 orang, Kota Solok, 3 orang dan Kabupaten Pasaman Barat, sebanyak 3 orang. Korban yang belum ditemukan terbanyak di Kabupaten Padang Pariaman ( 237 orang ), Kabupaten Agam ( 54 orang ), Kota Padang ( 4 orang ). Menurut Bupati Padang Pariaman, Muslim Kasim, warga Kecamatan Patamuan yang masih tertimbun berada di dusun Pulau Air ( 4 orang ) dan Cumanak ( 7 orang ).

Menko Kesra, Aburizal Bakrie mengungkapkan, pemerintah mengalokasikan dana sampai Rp.6 trilyun untuk proses rehabilitasi berbagai prasarana fisik dan rumah warga yang hancur akibat Gempa Sumbar. Untuk perbaikan rumah2 warga sekitar 3-4 trilyun rupiah. Untuk perbaikan sarana dan prasarana umum seperti rumah ibadah, sekolah2 dan bangunan pemerintah sekitar Rp.1 trilyun. Sisa dana untuk perbaikan jalan yang hancur. Verifikasi rumah2 penduduk yang rusak akan dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum ( PU ). Pemerintah pusat akan mengedrop kebutuhan rehabilitasi itu dalam bentuk block grant atau model yang sama dengan penanganan gempa di Yogyakarta. Pemda setempat diharapkan turut membantu melakukan inventarisasi bangunan warga yang rusak. Pucuk pimpinan upaya rehabilitasi pasca gempa di Sumbar itu adalah gubernur setempat.

Jumlah anggota tim SAR gabungan dan relawan hingga Minggu ( 4/10/2009 ) terdata lebih dari 7500 orang. Jumlah ini akan terus bertambah karena sejumlah relawan asing hingga kemarin masih terus berdatangan. ( PR, 5/10/2009 )

Korban gempa Sumbar mulai kelaparan

Korban gempa Sumbar sedang dievakuasi. Banyak korban kelaparan karena tersendatnya bantuan. Jalan & transportasi sudah mulai lancar, bantuan sebagian menumpuk di gudang. Apa yang kurang ? Daerah sekitar yang tidak terkena gempa mesti inisiatif & gesit membantu, termasuk mahasiswa dan karyawan instansi di dekatnya. Seperti para relawan di Gempa Jabar. Penuh pengorbanan & pengabdian.

Korban gempa Sumbar sedang dievakuasi. Banyak korban kelaparan karena tersendatnya bantuan. Jalan & transportasi sudah mulai lancar, bantuan sebagian menumpuk di gudang. Apa yang kurang ? Jangan menunggu pemerintah saja. Daerah sekitar yang tidak terkena gempa mesti inisiatif dan gesit membantu, termasuk mahasiswa dan karyawan instansi/ institusi di dekatnya. Seperti para relawan di Gempa Jabar. Penuh pengorbanan & pengabdian. Pemerintah hanya bisa membantu 20 % saja, sisanya dari masyarakat, dunia usaha & bantuan negara sahabat.

Korban gempa di sejumlah kecamatan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat ( Sumbar ) mulai kelaparan, karena belum tersentuh bantuan. Meski telah 6 hari pasca gempa, distribusi bantuan gempa masih terkesan lamban. Padahal akses jalan ke sejumlah kabupaten dan kecamatan telah lancar. Namun, pemerintah setempat sangat lamban dalam mendistribusikan bantuan sembako dan tenda2 darurat. Akibatnya, sebagian besar korban gempa kini kelaparan. Stok beras mereka di rumah sudah habis. Satu-satunya harapan, meminta bantuan beras dari pemerintah.

“Awak ( saya ) sudah 2 hari ini numpang makan sama keluarga. Tak ada lagi beras di rumah. Seisi rumah awak sudah hancur,” keluh Ujang warga Kecamatan Patamuan. Menurut warga, jangankan bantuan sembako, tenda plastik darurat untuk berteduh pun tidak mereka dapatkan. Minimnya bantuan sembako, mengancam ribuan korban kelaparan.

“Sudah 6 hari ini kami hanya makan mi instan yang disumbangkan dari warga yang melintas dengan mobil pribadi. Belum ada kami terima beras,” kata Sahrul ( 35 ), warga lainnya. Ia mengaku sebelumnya sempat numpang makan di keluarganya. Namun belakangan, ia merasa sungkan terus menerus menumpang makan. Oleh karena itu, ia berusaha kesana kemari menemui sejumlah posko bantuan. Namun, sembako yang dia harapkan tak kunjung dapat.”Awak merasa malu kalau numpang makan terus. Tapi sampai sekarang anak2 awak masih menumpang di rumah saudara, biar mereka tetap bisa makan nasi. Awak biarlah makan mi saja.”

Banyak warga yang mengaku sama sekali belum tersentuh bantuan, baik makanan maupun obat-obatan. Riskan dengan bahaya penyakit dan kelaparan, terutama anak2 dan balita. Kalau pun ada bantuan, biasanya berupa mi instan, yang tidak cocok untuk bayi. Karena tak ada pilihan lain, terpaksa para orang tua memberikan mi instan pada bayi2 mereka.”Jangankan susu bubuk untuk bayi, beras pun belum pernah kami terima walau hanya satu kilogram. Kalau terus begini, bayi kami bisa kelaparan dan meninggal dunia,”ujar Siswandi, warga Kecamatan Patamuan.

“Bagaimana anak2 kami tidak sakit, saban malam kedinginan karena tidur di tenda. Belum lagi, mereka lebih banyak makan mi instant daripada makan nasi,” kata Yunus, warga lainnya. Untuk membawa berobat ke rumah sakit umum, jaraknya lumayan jauh. Satu sisi, posko pengobatan tidak tersedia di sana.”Biarlah rumah kami hancur diterjang gempa, yang penting anak2 kami selamat. Kami tak mau kehilangan keluarga. Tolonglah anak2 kami yang kini terancam kelaparan,”ujar ibu Aisah ( 31 ) yang mempunyai balita usia 2 tahun.”Anak awak sekarang makannya mi terus, kasihan awak melihatnya. Tapi mau bagaimana lagi ?” ( PR, 6/10/2009 )

Komen A.Savitri :

Belum lama Gempa Jabar ( 7,3 SR ) mengharubirukan perasaan kita, gempa Sumbar ( 7,6 SR, kemudian di up date 7,9 ) sudah mengoyak-ngoyak kalbu kita lagi. Pukul 17.16 bencana menggegerkan itu terjadi. Korban sampai hari  Rabu ( 14/10/2009 ) menurut BNPB tembus hingga 1.115  orang tewas. Dengarlah suara seruling adat yang ditiup penuh perasaan, menyayat hati. Korban tewas diperkirakan sampai seribu jiwa. Lebih besar, sedikit. Relawan dari luar negeri bahkan kini ikut dilibatkan untuk mengevakuasi korban terkubur. Saya lihat di teve, korban hidup mengeluh setengah marah karena kurangnya bantuan yang diterima. Ia hanya makan mi instan selama 5 hari pasca gempa. Perut melilit dan buang air tak nyaman ( mencret2 ). Padahal, ekpose gempa Sumbar di media rasanya lebih intens dari gempa Jabar kemarin. Mengapa ?

Seorang ibu korban gempa Jabar hanya mendapat jatah 4 bungkus ( bukan dus ) mi instan untuk satu keluarga, pasca gempa. 4 bungkus thok, untuk sekian hari ( bukan tiap hari ). Selebihnya dia berjuang mencari sendiri. Wajahnya nrimo, bikin kasihan dan terketuk. 20 % bantuan yang bisa diupayakan pemerintah. Sisanya ( 80 % ), oleh masyarakat, dunia usaha dan bantuan asing. Korban gempa Jabar kemarin banyak dibantu oleh mahasiswa Unpad, ITB, dan perguruan tinggi di sekitarnya. Dinas sosial, ormas dan instansi pemerintah banyak yang terjun, menyingsingkan lengan, meluangkan waktu, dana/ tabungan/ gaji/ honor, tenaga dan pikirannya untuk korban gempa Jabar. Penuh inisiatif ( tidak malas/ menunggu ) dan pengorbanan. Bahkan sampai hari ini, selalu ada mahasiswa dan tim relawan yang standby di lokasi bencana meski masa tanggap darurat telah dicabut. Adakah wajah nrimo dan marah berkaitan di sini ? Adakah relasi baik warga Sunda dengan non Sunda berpengaruh ? Adakah keramahtamahan orang Jabar mengesankan orang Jakarta, Yogya, Jateng dan Jatim sehingga mereka senang membantu ?

Orang Sumatera banyak bertebaran di Jabar, bekerja dan menetap. Mereka diterima dengan baik dan ramah. Saya kurang tahu mengapa perlakuan berbeda jika orang Jawa yang ke Sumatera. Apakah karena pembagian kue pembangunan kurang adil di masa lalu ( rezim orde baru ). Apakah itu salah kami ? Ada semacam kebanggaan berlebih pada asal suku yang terlihat kurang pas di mata sebagian orang. Mungkinkah kesan itu mengendap di bawah sadar sebagian orang yang mestinya kini bergegas membantu saudara sebangsa di Sumatera ? Ada keengganan yang mengendala langkahnya. Mungkin kita menemukan jawabnya dalam perenungan masing2.

Kemarin mahasiswa UGM, relawan PMI dan kru Media Group terlihat banyak membantu korban bencana gempa Sumbar. Masih ada kebaikan dari tanah Jawa. Jangan berkecil hati, kawan …

Cincin api & 174 juta nomor ponsel peringatan dini.

Sumatera dan Jawa berada di ring of fire. Cincin api, jalur gempa. Di satu sisi, kita bersyukur tanah air subur karena berkah erupsi, di sisi lain kita harus siap dengan skenario terbaik menghadapi bencana. Pihak BMKG ( Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ) mengatakan adanya selected person yang dikabari setiap gempa besar terjadi, diantaranya Depkominfo. Orang2 tertentu ini yang diharapkan segera mengabari orang2 lainnya untuk meminimalisir korban dan kerusakan yang terjadi. Selanjutnya, ada sekitar 174 nomor ponsel yang bisa dimanfaatkan untuk early warning.

Mulanya gempa terbaca oleh 150 seismograf/ sensor gempa yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dalam orde detik, lalu via satelit dengan kecepatan gelombang elektromagnetik, data ini dikirim ke Jakarta, diolah dengan siskompi. Dalam 2 menit hasil keluar, dianalisa supervisor, kemudian diseminasi ke selected person/ pihak tertentu seperti ; TNI, Mabes Polri, 33 gubernur, Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB ), 10 stasiun televisi, radio, Orari ( interface ), partai, departemen terkait, provider, web operation dan pelabuhan2.

Perlu sekitar 4 menit untuk data sampai ke mereka sejak gempa terjadi. Warning tsunami akan diberitahukan sekian menit berikutnya jika memang ada ( masih punya waktu antara 8-25 menit untuk menjauhi pantai ). Dari selected person ini, info terjadinya gempa besar disampaikan ke masyarakat, sesuai sense of crisis masing2. Masyarakat tidak perlu panik jika gempa masih 5,1 SR seperti terjadi di Tasik ( 12/10/2009 pukul 9.56 WIB ) kemarin. Dua lempeng aktif ( Eurasia, Indo-Australia ) ini lebih baik mengeluarkan energinya sedikit demi sedikit, daripada diam untuk waktu lama, terakumulasi, lalu mengguncang dahsyat, memporak-porandakan kota, menimbulkan banyak korban jiwa. Siapkan tas survival, dan ketahui cara mengevakuasi diri dengan benar. Suatu saat diperlukan, bisa menyelamatkan nyawa anda.

Ingin tahu info tentang terjadinya gempa ? Telpon ke nomor 021-65463161 atau browsing ke www.bmkg.go.id

Ingin tahu status bencana, lokasi bencana, berapa jumlah korban bencana, korban butuh apa di mana, bagaimana kondisi korban ( berapa tewas, luka, patah tulang, hilang dsb ), berapa rumah rusak, fasilitas publik hancur, lokasi LSM, SAR terdekat, punya apa saja mereka di markasnya, lokasi rawan bencana di masa berikutnya, dsb bisa klik ke http://dm.saksigempa.org/ ( Sahana : Disaster Management System ). Para kepala daerah yang wilayahnya terkena bencana bisa memanfaatkan software ini untuk menghimpun data dan berkomunikasi dengan pihak lainnya untuk memperoleh bantuan secepatnya. ( Tapi perlu dipikirkan juga oleh kang Onno Poerbo dkk, bagaimana menggunakan software ini di daerah bencana yang infrastrukturnya rusak dan listriknya mati ? )

Pengalaman gempa Desember 2006 di Taiwan yang memutuskan kabel backbone bawah laut dan memutuskan koneksi internet dan komunikasi, pemerintah cepat bertindak dengan menggantinya dengan pemakaian satelit. Tak peduli biayanya, asal komunikasi jalan dan korban minimal. Good decision.

Administrator untuk wilayah Indonesia ( software mitigasi )
Email : sahana@saksigempa.org
Telephone : +62 274 418929

Tiap daerah wajib punya gudang & sukarelawan tanggap bencana.

Hariyanto Imadha dalam surat pembacanya di PR ( 2/10/2009 ) menulis : akhir 2007 dan awal 2008 terjadi banjir besar di Kabupaten Bojonegoro, pemda kebingungan mencari dana karena dana di APBD tinggal Rp.300 juta, karena sebagian besar APBD habis untuk pesta pilkada. Boleh dikatakan tidak ada polisi yang berjaga. Perahu karet datang terlambat, dan tidak semuanya operasional, dengan alasan terbatasnya BBM. Pompa penyedot air tidak siap dan kekurangan2 lainnya. Setelah beberapa hari, fasilitas penanggulangan bencana alam baru tersedia. Pemimpin kita berpikir setelah ada bencana. Pemimpin Jepang, Australia, dll telah berpikir jauh2 hari sebelum bencana alam terjadi. Negara maju telah menyiapkan banyak obat-obatan, tenaga medis, tenda, pangan, air bersih, pakaian dan kebutuhan mendesak lainnya.

Seharusnya, ada undang2 yang mewajibkan tiap daerah memiliki gudang penyimpanan barang2 dan fasilitas penanganan bencana. Isi gudang itu antara lain : tenda, obat-obatan, air bersih, pangan, pakaian, alat2 berat, sepeda motor trail, perahu karet dan kebutuhan lainnya. Di samping itu, buat aturan yang mewajibkan tiap instansi pemerintah dan lembaga pendidikan ( sekolah dan universitas ) memiliki tenaga sukarela untuk membantu penanganan bencana. Pemerintah perlu menunjuk salah satu departemen atau instansi/ institusi untuk mengumpulkan dana mulai dari pecahan Rp.5000 sampai Rp.50.000 dan langsung diumumkan di semua stasiun televisi. Termasuk mengumumkan terjadinya bencana di suatu daerah, misalnya di Padang atau Jambi, baru2 ini.***

Puing reruntuhan rumah penduduk setelah diguncang gempa dahsyat 7,6 SR, Rabu sore.

Puing reruntuhan rumah penduduk setelah diguncang gempa dahsyat 7,6 SR, Rabu sore.

Setiap media dan instansi yang membuka dompet peduli gempa juga harus dicek. Donasi masyarakat itu disalurkan kemana saja. Setelah terkumpul di gudang, diharapkan pimpinan daerah sudah memiliki data di mana saja korban yang perlu bantuan, jenis bantuan yang diperlukan ( air minum, beras, selimut, tenda, obat-obatan, genset, dll ), berapa yang patah tulang, kelaparan, kedinginan, diare, di mana jalan dan jembatan yang putus, dsb. Semuanya dipetakan dengan benar, sehingga bantuan tidak cuma menumpuk di gudang, bapak yang makan mi instan tidak terus menerus muncrut dan marah2 di teve, dan seruling menyayat-nyayat hati tidak makin mengoyak-ngoyak hati ( membuat kita merasa hopeless/ useless ). Semua bantuan yang menumpuk di gudang segera terdistribusi dengan benar/ merata. ( Di Jabar, menurut pengakuan korban gempa, distribusi bantuan oleh tim mahasiswa lebih lancar daripada tim pemda )

Indonesia adalah supermarket bencana. Fenomena global warming/ climate change, menyebabkan bencana alam akan makin besar dan sering terjadi daripada waktu2 sebelumnya. Dibutuhkan jenderal cakap yang sanggup memimpin pasukan elit tanggap bencana di negeri ini, sehingga relawan asing dan relawan kita tidak bekerja sendiri2 menarik reruntuhan hotel Alabacang, dll, membahayakan satu sama lain. Sehingga lebih banyak korban yang bisa diselamatkan. Satu komando di lapangan. Lebih aman, pasti dan gesit.

Demikian yang bisa saya pikirkan tentang gempa Sumbar. Tahun ini begitu meletihkan. Banyak bencana dan peristiwa menyedihkan, menguras energi dan kebahagiaan kita. Kami turut belasungkawa. Semoga, para korban gempa, baik di Sumbar, Jabar, dan tempat lainnya di Indonesia, diberi ketabahan dan kekuatan lahir batin untuk melalui semua musibah ini dengan baik. Diberi ganti yang lebih baik oleh-Nya. Bertahanlah, Indonesia …


Iklan

Written by Savitri

7 Oktober 2009 pada 18:33

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: