Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Lahami Roesli mempesona 20 profesor di Jerman dengan anyaman bambu & batik Indonesia

leave a comment »

“Mereka hanya tahu nama Indonesia”, kata Lahami Khrisna Parana Roesli, menyimpulkan pengetahuan teman2 asingnya tentang Indonesia. Dari sejumlah negara yang disinggahinya, seperti Jerman dan Turki, belum ada satu pun orang asing yang sangat mengenal Indonesia.”Kalau Cina, Hongkong dan Jepang, mereka kenal. Dibandingkan Indonesia, Malaysia pun di Jerman lebih dikenal.”

Namun, wajar jika Malaysia lebih tersohor karena pemerintahnya pun rupanya gencar beriklan di stasiun televisi lokal ataupun CNN ( Cable News Network ). Iklan Malaysia yang lebih bersifat promosi pariwisata, dalam sehari bisa dikatakan tak pernah absen.”Ketika saya nonton televisi, mau saluran televisi Jerman atau pun CNN, ‘Malaysia Truly Asia’ itu kenceng. Selang beberapa menit pasti ada. Saya nungguin negara saya yang lebih kaya budayanya kok enggak pernah ada,” kata lulusan International Master of Interior Architectural Design Hochschule fur Technik ( HFT ) Stuttgart, Jerman, yang juga anggota Persatuan Pelajar Indonesia ( PPI ) di Jerman, ini.

Kampus Lahami

Kampus Hochschule fur Technik ( HFT ) Stuttgart, Jerman

Padahal antusiasme masyarakat dunia terhadap kebudayaan Indonesia tinggi. Hal itu terlihat dari betahnya warga negara asing menyaksikan acara “Malam Indonesia” yang digelar PPI pada Juli 2007. “Saat di Waimar, Jerman, acara diisi dengan presentasi oleh 4 orang. Kami juga menampilkan video sejumlah tarian, seperti Saman. Wah, itu acara sampai 3 jam, tetapi mereka ternyata masih bertahan,” ujar putra musisi alm. Harry Roesli, itu. Pengakuan uniknya kebudayaan Indonesia pun tidak sebatas lisan. Mereka meminta panitia dari PPI untuk mengajari tari Saman.

Setengah tahun berselang, antusiasme tsb rupanya tak berubah. Dalam festival kebudayaan sedunia di Jerman pada Januari 2008, kain ulos dan lagu “Suwe Ora Jamu” misalnya, mampu menyedot perhatian pengunjung. Oleh karena itu, lemahnya promosi pemerintah Indonesia atas kekayaan budaya bangsa, membuat mahasiswa Indonesia di luar negeri geram. Sekaligus iri dengan mahasiswa dari negara yang pemerintahnya lebih “sadar potensi” dan peduli.

Departemen arsitekturDep. Arsitektur HFT

Geramnya Lahami, akhirnya ia lampiaskan dalam bentuk tesis berjudul “Transformasi Budaya dalam Revitalisasi Bangunan, Konversi Bangunan Tua di Stuttgart Menjadi Pusat Budaya Indonesia.” Tak kalah menariknya budaya Indonesia disandingkan dengan budaya negara lain, dibuktikan dengan menangnya tesis tsb dalam The Best of 2009 Stuttgart Architekturschule, Juli 2009. Tesis itu pula yang mengantarkannya lulus dengan nilai tertinggi.

Lahami bukan mahasiswa pertama yang mampu membawa nama Indonesia dalam ajang internasional. Sebelumnya, seniornya berhasil menjadi pemenang dalam Kongres Architecture Competition di Italia. “Meski karyanya tentang Indonesia, dia mewakili Jerman karena dalam daftar negara kongres itu tidak ada nama Indonesia. Sebelum saya, ada 3 orang yang menang mengusung tema Indonesia. Itu baru yang saya ketahui, katanya. Sepulang dari Jerman, berita pengklaiman budaya Indonesia oleh negara lain pun membuatnya prihatin. Sikap Lahami sebagai kalangan muda terhadap klaim negara lain atas budaya Indonesia serta proses pembuatan tesisnya, terangkum dalam wawancara berikut :

Apa yang anda presentasikan melalui tesis tersebut ?

Intinya adalah tentang cirri khas arsitektur Indonesia. Kita punya bangunan yang arsitekturnya dipengaruhi oleh perkembangan Hindu, Budha, Islam dan kolonialisme. Di Bandung, contoh bangunan kolonialisme adalah Gedung Sate, kampus ITB dan rektorat UPI. Saya sangat bersemangat mengerjakan tesi ini. Di situ saya memperlihatkan hampir semua rumah adat di Indonesia seperti Toraja, Joglo dan bilik bambu anyam yang biasa dipakai masyarakat Sunda. Karena studi saya adalah interior arsitektur, saya pun menyertakan batik sebagai lapisan dinding bangunan.

Anehnya, saat saya perlihatkan foto saung yang biliknya terbuat dari anyaman bambu, mereka sangat antusias dan takjub dengan kemampuan orang Indonesia membuat itu. Sampai2 mereka minta dikirim contohnya. Kekayaan arsitektur di Indonesia benar2 belum mereka ketahui. Begitu presentasi selesai, asisten profesor saya dari Swiss mengatakan sangat berterima kasih kepada saya. Dia bilang saya sudah membuka matanya tentang Indonesia yang dia sebut sebagai negara Asia kecil di bawah. Waktu itu ada lebih dari 20 profesor yang menyaksikan presentasi saya. Alhamdulillah, saya mendapat nilai tertinggi di kampus.

Batik sudah ditetapkan milik bangsa Indonesia oleh PBB tanggal 2 Oktober 2009. Batik bisa digunakan untuk motif topi, sepatu, baju dan pelapis dinding interior. Batik juga bisa diolah dengan software tertentu menjadi motif unik yang memberi daya saing produk Indonesia di mancanegara.

Batik sudah ditetapkan milik bangsa Indonesia oleh PBB tanggal 2 Oktober 2009. Batik bisa digunakan untuk motif topi, sepatu, baju dan pelapis dinding interior. Batik juga bisa diolah dengan software tertentu menjadi motif unik yang memberi daya saing produk Indonesia di mancanegara.

Para pemenang di setiap kampus arsitektur kemudian dikompetisikan dalam The Best of Stuttgart Architekturschule. Ternyata dari sejumlah tesis yang dipamerkan dalam ajang tsb, saya yang menjadi juaranya. Kampus mengatakan akan menjadikan tesi saya itu sebagai wakil dalam eksibisi arsitektur yang akan diikuti kampus. Paling tidak itu bisa membawa nama Indonesia, karena kampus saya itu master internasional yang melibatkan Jerman, Inggris, Skotlandia, Turki, Finlandia dan Swiss.

Informasi tentang Indonesia di sana sangat minim. Bagaimana perjuangan studi literatur anda ?

Tesis ini saya buat selama 5 hingga 6 bulan. Memang lama saat pengumpulan datanya karena sulit menemukan literature penunjang tentang Indonesia, baik tentang budaya ataupun arsitekturnya. Saya hanya menemukan 3 buku, 2 buku di perpustakaan di Stuttgart dan satu lagi di Weimar, itu pun tentang Bali. Di sana lebih banyak buku tentang Cina, Jepang, India dan Korea. Jadi, data akhirnya saya cari melalui internet.

Harapan anda atas tesis tadi ?

Sebenarnya konsep tesis saya adalah membuat Taman Mini Indonesia Indah yang lebih mini di Jerman. Di sana banyak imigran, sehingga peluang memperkenalkan Indonesia cukup besar. Akan tetapi, sepertinya setelah proyek ini berakhir, ya, sudah. Projek tadi akan terwujud jika pemerintah Indonesia melalui kedutaannya benar2 punya niat karena tanah di Jerman mahal. Terlepas dari itu, harapan saya adalah pemerintah lebih mendukung dari segi apa pun bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Banyak anak Indonesia yang berprestasi tetapi tidak terekspos karena pemerintah kurang tanggap. Contoh kecil di dunia musik, saya sering mengamen di sana. Potensi muskunya masih bagus anak Indoneisa. Kenapa pemerintah tidak memfasilitasi untuk bisa perform ( tampil ) di sana ? Pemerintah tidak ada upaya untuk memperkenalkan budaya di luar. Padahal, itu bisa mengangkat derajat kita agar tak lagi dipandang sebelah mata.

Bagaimana anda menyikapi klaim asing terhadap budaya Indonesia ?

Tentang klaim, saya prihatin. Tidak pantas orang Indonesia berdiam diri, tetapi jangan terlalu menyalahkan negara lain. Saya tekankan budaya Indonesia itu tidak kalah saing dengan milik negara lain. Seharusnya kita berkaca, anak muda sekarang tahu tidak konsep tari pendet seperti apa ? Kenapa tidak kita mulai sekarang menonton wayang bersama ? Sekarang, saya mulai mengajarkan gamelan kepada anak2 di sini ( Rumah Musik Harry Roesli ).

Selama di Jerman, prinsip orang Jerman yang selalu saya kagumi adalah mereka sangat cinta kepada bahasa mereka. Sampai semua acara di –dubbing dengan bahasa Jerman. Melamar kerja harus bisa berbahasa Jerman bagus. Mereka pun berprinsip, pendatanglah yang harus menyesuaikan bahasa, bukannya mereka yang harus berbahasa Inggris. Akan tetapi, tidak demikian di Indonesia. ( Amaliya/PR, 11/10/2009 )

Iklan

Written by Savitri

21 Oktober 2009 pada 11:04

Ditulis dalam Ragam

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: