Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Situs Dwaraka & Mohenjo Daro : Arjuna meluncurkan rudal nuklir dari atas piring terbang ?

with 11 comments

arjuna

Arjuna. Anda bayangkan tokoh pewayangan kita ini sudah mengenal perang nuklir. Di Mohenjo Daro ada sisa radiasi radio aktifnya. 15.000 tahun lalu ? Believe it or not.

kresnadipayana-begawan-abiyasa1

Krisna dipayana, begawan Abiyasa. Wayang kulit sudah resmi milik Indonesia

Bila membaca judul tulisan ini, saya yakin anda agak ragu, bahkan mungkin tidak percaya. Apa mungkin 15.000 tahun SM, ada perang nuklir dan peradaban manusia sudah demikian tinggi ? Padahal, teknologi nuklir merupakan teknologi hi-tech yang dikerjakan oleh para ahli fisika. Kesalahan kecil yang terjadi pada peralatan atau prosesnya dapat menjadi bencana, penebar maut. Seperti kebocoran di reaktor nuklir Chernobyl milik Rusia yang menelan banyak korban jiwa karena radiasi radio aktif.

Ada kabar menarik dari arkeolog India. Ditemukan sejumlah bukti yang menunjukkan di India diduga pernah terjadi 2 perang besar yang menggunakan senjata pemusnah massal. Penelitian dilakukan oleh oleh Michael Cremo tahun 2003, arkeolog senior dari AS. Selama 8 tahun, penganut agama Hindu ini meneliti narasumber dari kitab suci Weda dan Jain, yang ditulis pendeta Walmiki, ribuan tahun lalu. Cremo tertarik menginvestigasi dan mendalami 2 kitab suci tsb. Ia menemukan nama2 yang tertera di kitab tsb ada di India. Ditemani tim dan rekannya, Dr.Rao C.S, arkeolog terkemuka India, ia meneliti dengan perangkat canggih “penjejak waktu” ( thermoluminenscence dating method ) untuk setiap obyek. Dengan karbon radio isotop, keakuratan umur objek mampu dijejak hingga miliaran tahun ke belakang. Kitab Weda ternyata bisa menjadi nara sumber akurat, mengungkap kisah2 sebenarnya beribu tahun lalu. Tak semata kitab suci.

Mereka mencoba mengupas isi kisah Mahabarata, dari awal kejadian hingga perang Bharatayudha, ditandai berakhirnya perjalanan keluarga Bharata. Mereka yang berperang, berasal dari keturunan Pandu dan Destrarata, 2 bersaudara. Dr.Rao meneliti bukti2 sejarah di lautan, di teluk Gujarat, untuk mengungkap bukti keberadaan Kerajaan Dwaraka. Istana Sri Krisna, otak penggalang strategis dari pihak Pandawa. Konon, kerajaan ini musnah ditelan gelombang laut tahun 1443 SM, setelah perang Bharatayudha tahun 1478 SM.

Michael Cremo mengadakan penelitian di daratan, diantaranya ; Indraprasta, Hastinapura, dan padang Khurusethra, bekas perang itu terjadi. Seperti diketahui, Indraprasta merupakan tempat bermukim keluarga Pandawa di awal perjuangan merebut Hastina. Khurusethra adalah bekas pertempuran dahsyat keluarga Bharata. Para ahli menemukan banyak bukti yang mengejutkan. Tanah tegalan luas itu ternyata tak ditumbuhi tanaman apa pun, karena tercemar radio aktif. Pada puing2 bangunan atau sisa2 tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo Daro tercemar residu radio aktif yang cukup pekat.

Menurut Dr.Indrajit, ahli termonuklir, hal ini terjadi diduga akibat radiasi ledakan termonuklir skala besar dalam peperangan tersebut. Jelasnya ternukil dalam kalimat Weda yang diterjemahkan bebas seperti ini,”Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana ( wahana mirip mirip terbang ), mendarat di tengah air, lalu mengangkat gendewa dan meluncurkan sebatang anak panah. Semacam senjata mirip rudal/ roket, yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang bersinar terang di atas wilayah musuh. Curahannya seperti hujan lebat yang deras, mengepung musuh dengan kekuatan dahsyat. Setelah panah itu tiba pada sasarannya, dalam sekejap sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk seperti cendawan raksasa merekah di atas wilayah kurawa. Angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup wuuus .. wuuus, disertai debu pasir. Burung2 bercicit panik seolah olah langit runtuh dan bumi gonjang ganjing. Sementara itu di atas langit, matahari seolah-olah bergoyang, panas membara memancarkan udara mengerikan, membuat bumi berguncang, dan gunung2 bergoyang.”

“Di kawasan darat yang luas, binatang2 mati terbakar dan berubah bentuk. Air sungai kering kerontang, ikan, udang dan hewan laut lainnya, semuanya mati. Saat panah ( roket ? ) meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh berjatuhan bagaikan batang pohon yang terbakar hangus. Akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna tsb, tercipta badai api, diikuti ledakan dahsyat yang memancarkan debu beracun ( radio aktif ? ).”

dwarka

Di bawah Teluk Gujarat, India, ada reruntuhan Kerajaan Dwaraka, istana Prabu Krisna. Foto atas : peneliti berada di atas tumpukan batu memanjang, diduga benteng kota sebelum masuk ke istana.

Untuk memperluas dan memperdalam penelitian ini, Unicef dan NASA membantu pemotretan dengan citra lansat satelit. Dari hasil riset dan pemotretan yang difokuskan di hulu sungai Gangga, para arkeolog menemukan banyak sisa puing bangunan yang telah menjadi batu hangus. Batu besar reruntuhan ini ketika dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Ketika dicoba melebur bebatuan tsb, ternyata dibutuhkan suhu minimal 1.800 derajat celcius ! Batu biasa dalam keadaan normal tak mencapai suhu ini. Pada benda2 terkena radiasi nuklir, baru bisa mencapai suhu yang demikian tinggi. Di pedalaman hutan primitif India, peneliti juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus.

Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batu dalam bangunan juga telah dikacalisasi. Para peneliti heran, selain di India, batu radiasi juga ditemukan di bekas Kerajaan Babilonia Kuno, Gurun Sahara dan Gurun Gobi di Mongolia. Bukti reruntuhan perang nuklir prasejarah, derajat radiasi masih terekam meski kejadiannya ribuan tahun SM ( Sebelum Masehi ). Batu kaca pada reruntuhan tsb, semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini. Diduga kuat perang Bharatayudha adalah perang nuklir yang terjadi antara 30.000 – 15.000 SM. Untuk meneliti lebih jauh penyebaran batu radiasi ini, para ahli nuklir PBB akan mengungkapnya dalam program khusus.

Penelitian yang dilakukan Dr.Rao di bawah lautan didasarkan petunjuk Weda, bahwa Kerajaan Dwaraka ditelan laut beberapa saat setelah Bharatayudha usai. Dwaraka, kediaman Sri Krisna, raja yang pegang kendali strategis di perang saudara ini. Dalam kitab suci Hindu, ia merupakan jelmaan Dewa Wisnu, pemelihara perdamaian. Keberadaan Dwaraka dilakukan selama 8 tahun, dan baru jelas setelah dibantu citra satelit NASA. Dari sana ditemukan jejak kerajaan tsb di bawah Teluk Gujarat. Setelah ada petunjuk pasti, akhirnya Dwaraka berhasil ditemukan dalam keadaan hancur digulung gelombang Laut Arab yang cukup dahsyat. Dari hasil investigasi, banyak temuan berharga indikator kehidupan makhluk 15.000 tahun lalu.

Selain tembikar, ada bongkahan batu besar yang diduga benteng dan dinding istana. Batuan dipenuhi ornamen indah, lonceng kuil dari tembaga, jangkar kapal, pot bunga dari keramik, serta uang emas dan tembaga. Penemuan logam ini memperlihatkan kepada kita, peradaban 30.000 – 15.000 tahun lalu sudah tinggi. Tak heran temuan ini mengindikasikan penggunaan senjata pemusnah massal di perang itu. Dari penemuan2 itu, Dr. Michael Creko membukukan laporan dalam 3 buku yang dicetak tahun 2006. Beberapa diantaranya ; Forbidden Archaelogis, The Hidden History of Human Race, dan Human Devolution, yang isinya menentang teori Darwin, tentang evolusi manusia. Dr. Rao dari hasil karyanya memperoleh penghargaan “The World Ship Trust Award” dari PBB atas penemuan siklus kehidupan manusia yang memutus teori Darwin. ( Dedi Riskomar/ PR, 1/10/2009 )

Iklan

Written by Savitri

11 November 2009 pada 13:58

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

11 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah,,ini jadi ilmu baru kalo Barathayudha emang beneran ada..tak pikir itu hanya kisah imajinasi..
    kemungkinan mereka punya teknologi sekelas nuklir,tapi bukan nuklir seperti yang kita kenal..

    Sama halnya pembangunan bangunan megah (piramida atau kota Petra),,sekelas sama Empire State Building,,tapi bukan gedung yang kita kenal seperti saat ini..

    fariable

    8 Oktober 2010 at 12:37

  2. @ Yoni :
    Artikel itu saya ambil dari koran dengan tujuan memperluas wawasan pengunjung, akan apa yang mungkin yang terjadi di masa lalu, agar kita tidak mengulangi hal buruk di masa kita. Jika bukti dipaparkan begitu saja, orang takkan tertarik. Serasa baca jurnal ilmiah saja, hanya kalangan terbatas yang membaca. Pesan akhirnya tidak sampai. Boro2 orang mau baca. Kita perlu ‘seni’ untuk menyampaikan sesuatu. Itu bedanya penulis dengan pembaca.

    Lagi pula, banyak hal di masa lalu yang belum terjelaskan. Misalnya, tanda aneh ( di Amerika Latin, kalau tak salah ) yang sebagian orang bilang itu buatan UFO. Mungkin saja, itu dibuat nenek moyang yang pernah mencapai teknologi canggih, sebelum kiamat kecil terjadi, dan manusia memulai peradabannya dari nol lagi. Orang bisa pergi ke ruang angkasa, awalnya dari imajinasi, yang menuntun pada kemungkinan2 yang bisa diwujudkan. Mana tahu cara2 orang di masa depan ? Toh, kejadian juga. Orang bisa pergi ke bulan atau biosfir II di ruang angkasa.

    Beranilah bereksplorasi ( minimal, jangan skeptis pada mereka yang bisa melakukan ). Ok ?

    @ Rwidi :
    Saya kagum pada Sang Pencipta yang menghidupkan dan memberi ilham pada penulis weda.

    @ Tantular :
    Jawaban sudah dikirim ke alamat e-mail anda.

    Savitri

    27 September 2010 at 14:06

  3. kagum sama yg menulis weda?

    rwidi

    24 September 2010 at 23:48

  4. itulah kebenaran dari veda

    rian

    24 September 2010 at 23:36

  5. Pengetahuan yang diperoleh manusia pada akhirnya karena kesombongan dan keserakahan akan menghancurkan dirinya sendiri, sejarah akan selalu berulang kalau manusia tidak mau belajar dari sejarah masa lalu.

    rian

    24 September 2010 at 23:35

  6. Para saudara saudara hindu saya non hindu tapi sangat tertarik dengan sejarah dan kisah HANOMAN bisakah saudara saudara ku memberikan info ke saya terima kasih

    Tantular

    23 September 2010 at 07:56

  7. @roni
    Mana kita tahu cara-cara orang terdahulu…
    Yang terpenting itulah buktinya…

    yoni

    22 September 2010 at 11:35

  8. yah itulah kitab WEDA….
    kitab yg mengagumkan

    qwerty

    4 Agustus 2010 at 12:06

  9. sungguh memang semuanya akan terulang seperti sejarah yang lalu seperti sebuah cerita tapi dengan fersi dan seting yang berbeda, hal ini sebenarnya sebagai pelajaran bagi kita untuk instropeksi diri agar tidak mengalami kehancuran yang sama, tp untuk cerita yang positif bs sebagai contoh untuk menuju kebaikan…jangan pernah lupa akan sejarah…

    amali

    8 Juni 2010 at 12:02

  10. @ Roni : Sejarah memang berulang. Peradaban pernah begitu maju, tapi manusia takabur lalu terjadi kiamat kecil ( gunung meletus, gempa, zaman es, hujan meteor, dst, memusnahkan manusia yang lupa Tuhannya), diganti generasi yang baru, mulai dari nol lagi, jaman batu lagi, terus sampai teknologi nuklir dan ruang angkasa. Sekarang, pemilik teknologi tsb mulai takabur lagi, menginvasi sana sini dengan arogan. Sangat mungkin terjadi kiamat kecil lagi, mulai dari bawah lagi, dst … Atau kiamat besar, yang hanya Allah yang tahu. Menilik sejarah memang menakjubkan, termasuk keberadaan nuklir di masa lalu. I like it ..

    Savitri

    19 Mei 2010 at 11:12

  11. sunguh sulit di percaya……….
    padahal zaman dulu tidak ada peralaaaaaatan membat nuklir……

    takjub…..

    roni

    17 Mei 2010 at 06:50


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: