Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Mandi Kakus Umum prefab di kawasan banjir : mudah, cepat dan terjangkau

with 4 comments

Pengantar A.Savitri :

Kegembiraan penyu ketika sampah belum mencemari laut. Berenang mengarungi kebebasan dan mengembangbiakkan spesiesnya.

Tutup botol. Anda pernah memperhatikan ? Di hari yang terik, anda mencomot air mineral atau membeli teh botol di pinggir jalan untuk menyembuhkan dahaga. Cul. Tutup terpelanting ke udara, menggelinding masuk ke riol kota atau terserak di pinggir jalan, berikut botol yang sudah anda tenggak habis isinya. Tutup ini terhanyut, mengikuti lekak lekuk saluran air, bertemu dengan kawan2-nya sesama sampah, mengalir jauh sampai ke laut. Anda yang mengikuti kegiatan “Selamatkan Teluk Jakarta” yang digagas MetroTV dalam ulang tahunnya yang ke 9, tentu melihat volume sampah yang membahayakan lingkungah hidup kita. Kasihan, para penghuni ekosistem laut.

Di laut Pasifik, antara California hingga Jepang, sampah dari puluhan ribu kapal ( 20 % ), sampah dari penduduk Iowa, Texas, California, Jepang, China, Bangladesh, Irlandia, dll mengambang di permukaan air, hingga sedalam 90 kaki. ( 1 feed = 0,3 meter ). Penduduk Los Angeles membuang 152.523 milyar plastik. Setiap hari setiap orang membuang sekitar 4,5 pon sampah. Di TPA ( Tempat Pembuangan Akhir ) 8500 ton sampah dibuang tiap hari. Itu baru 1/3 sampah LA. 43.000 ton sampah dibuang orang Amerika, tiap harinya, kata Fabian Costeau.

Bagaimana nasib tutup botol anda ? Tutup itu berkubang bersama sampah2 plastik yang menggantung seperti belantara ubur2. Seekor ikan mengira tutup itu makanan. Ia melahapnya. Ikan lebih besar melahap ikan itu. Begitu seterusnya, mengikuti rantai makanan hingga ke puncaknya. Manusia. Surprise ? Tutup botol itu tersaji di piring makan dalam perut ikan yang anda kuak. Bayangkan juga, ketika anda melarang anak mendekati botol2 pembersih di lemari bawah dapur. Racun berbahaya. Hanya untuk kuman, virus, bakteri, cacing, rayap, serangga, tikus dan sebangsanya. Namun, sisa cairan itu anda buang ke kitchen zink yang menggelontor ke saluran air kotor, mengikuti rute tutup botol. Ringkasnya, anak anda toh akhirnya mengkonsumsi makanan tercemar, yang terakumulasi menjadi kanker atau mandul. One way or another.

Bangsanya Oprah Winfrey lalu menyiasatinya dengan Recycle Bank. Yang membuang sampah dengan tertib sesuai kategorinya ( sampah organik, sampah kertas, sampah logam, sampah plastik ) mendapat uang. Di Jerman, ada tempah sampah yang mengeluarkan koin uang setiap orang membuang sampah ke dalamnya. Di Indonesia, ada bank sampah “Gemah Ripah” yang didirikan Bambang Suwerda. Eko Rejoso Prabowo dan Devi Al Irsyadiah, sutradara film pendek “Bukan Negeri Sampah. Bukan Bangsa Pengemis” menceritakan keluarga2 pemilah sampah yang sederhana. Mereka punya tabungan sampah yang tiap 3 bulan sekali bisa diambil uangnya. Layaknya bank, ada teller yang menerima sampah warga. Ada pengepul yang memberi nilai pada sampah yang masuk. Ada direkturnya, yang saat ini dijabat Panut Susanto. Warga kampung lain mengumpulkan bungkus makanan untuk dirajut menjadi tas, taplak meja, tutup teko, tempat pensil, dsb. Sampah ternyata bisa menguntungkan dan bernilai ekonomi. Selain, ikan dan kita tidak jadi menelan tutup botol, tentunya. Anda terinspirasi ?

Di Amerika, Recycle Bank sudah diikuti 100 kota. Simran Sethi menyarankan warga berhemat listrik. Lampu menggunakan 10 % konsumsi listrik. Lampu LED seharga 40 USD yang tahan 10 tahun bisa menghemat uang hingga 740 USD. Lampu Fluorocent 25 kali lebih hemat listrik daripada bohlam. Teve LCD lebih hemat. TV ukuran kecil lebih hemat. 60-100 USD bisa dihemat jika keluarga makan dari hasil berkebun di halaman. 1/10 acre bisa menghasilkan 3 ton buah, sayuran dan rempah. Keluarga Dervaes memperoleh 40.000 USD pertahun dari kegiatan berkebun. Hasil kebun sendiri, apalagi organik lebih menyehatkan keluarga. Hindari pestisida. Gerakan tubuh selama mencangkul, berjingkat, jongkok berdiri selama berkebun adalah salah satu rahasia orang2 berumur panjang. Lebih dari 100 tahun. Michael Pollan, pengarang “In Defence of Food” menyarankan tidak makan daging, setidaknya sehari dalam seminggu. Rasakan bedanya. Sehat di badan juga sehat di kantong.

Namun demikian, saya masih dihantui nasib penyu yang mengenaskan di laut Pasifik. Waktu kecil ia terperangkap ring minuman kaleng. Setelah besar, penyu itu seperti mengenakan ikat pinggang. Bentuk tubuhnya tidak oval seperti penyu2 lain, tetapi berbentuk angka 8. Terjerat seumur hidup.

Di bawah ini ada tulisan tentang komposter rumah tangga, sumur resapan, instalasi pengolahan air, daur ulang air wudhu, teknologi memanen air hujan dan hunian di tepi sungai. Semoga anak cucu ikan dan penyu tak ada yang menderita lagi. Tunjukkan kita peduli.

Mandi Kakus Umum prefab di kawasan banjir : mudah, cepat dan terjangkau

Bencana banjir menimbulkan derita. Korban mesti mengungsi berhari-hari di tenda2 darurat. Repot. Belum lagi acara buang air besarnya. Bagaimana menyimpan jamban untuk ribuan orang. Kian hari makin banyak yang sakit. Sarana mandi kakus umum perlu dipersiapkan jauh hari untuk tanggap darurat yang bisa digunakan lintas waktu, lintas tahun. Pengadaannya bisa lewat kerjasama dengan perusahaan, semisal produk obat jamu masuk angin dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman di Bandung yang memiliki MKU prefab. Sponsor bisa memasang iklan di dinding MKU.

MKU sistem prefab mudah dan cepat pemasangannya. Mudah dipindah-pindahkan, mengurangi pencemaran air setempat dan menanggulangi masalah penyehatan lingkungan. Biaya pengadaan relatif tidak mahal. MKU memiliki kapasitas bak air bersih 500 liter, bak penampung air limbah 500 liter, ukuran ruang 1,2 m x 1,2 m x 2,25 m. Terdiri 2 tipe : dari bahan fiberglas ( tipe I ) dan rangka baja berlubang + panel melamin ( tipe 2 )

Sumur resapan : meminimalisir banjir & meninggikan air sumur.

Spesifikasi sumur resapan. Ingin menghalau banjir ? Berkecukupan air di musim kemarau ? Ini dia biangnya.

Minimnya sumur resapan dewasa ini turut andil menyebabkan banjir. Pemerintah mestinya bisa mewajibkan setiap pengembang membangun sumur resapan air hujan pada tiap atau beberapa unit rumah di lahan yang dikembangkannya. Teknologi sumur resapan sederhana pun sudah tersedia. Seperti yang dikembangkan Puslitbang Permukiman , mulai dari kapasitas 1000 hingga 4000 liter. Sangat cocok untuk kawasan permukiman yang memiliki angka permeabilitas tanah minimum 2 cm/ jam, tinggi muka air tanah minimum 1,5 meter. Bentuk sumur resapan bisa persegi, bisa lingkaran, dengan bahan lokal.

Sumur resapan bermanfaat mengurangi luas genangan banjir, menyelamatkan sumber daya air, mengurangi penurunan air tanah, bahkan meninggikan permukaan air tanah bagi daerah2 yang air tanahnya dangkal, mengurangi intrusi laut, juga menambah potensi air tanah. Acuan SNI sumur resapan air hujan dikembangkan Puslitbang Permukiman adalah SNI 03-2453-2002, Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan di Lahan Pekarangan. ( Soal SNI ini, Bang Deddy Mizwar lagi getol promosi di teve. Ayo, orang Indonesia, cinta dan gunakan produk Indonesia ).

Komposter rumah tangga : praktis dan ekonomis.

Selain sumur resapan minim, sampah pun menjadi penyebab banjir. Sebagian besar adalah sampah rumah tangga, yaitu sampah dapur, yang dengan teknik pengomposan sederhana bisa jadi pupuk alami bernilai ekonomi. Puslitbang Permukiman memperkenalkan komposter, yaitu tempat sampah yang berfungsi pula sebagai alat pengolahan sampah organik, berupa tong bekas yang dibenamkan ke dalam tanah. Prinsip kerjanya ; sampah basah ( organik ) dari dapur dimasukkan ke dalam tong komposter berukuran 100 L ( 1 KK ) atau Komposter 450 L ( 10 KK ). Sampah akan mengalami proses pembusukan yang cepat dalam keadaan semi aerobik dan menjadi kompos. Mikroorganisme yang berperan dalam pengomposan berasal dari sampah dan tanah. Dengan metode ini, sampah yang ditampung tidak tercecer dan tidak menebarkan bau tak sedap. ( Heru CW/ Kiprah )

Memanen air hujan untuk musim kemarau di rumah atau kawasan tandus.

Pembagian ruang di instalasi ABSAH. Orang kecil bisa mendapatkan air semurah orang kota dengan teknologi sederhana yang bisa diupaya secara swadaya ini.

Air hujan ternyata bisa makin bermanfaat, memenuhi hajat masyarakat lebih tepat, sehat dan bermartabat. Selama ini, air hujan secara tradisi, misalnya di Kalimantan, dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Namun, karena air yang ditampung di bak2 kurang kandungan mineralnya, gigi mereka menjadi tak sehat, kata Iskandar A. Yusuf. Air tanah yang 5-10 tahun lalu masih melimpah, kini langka dan terus memburuk. Pelayanan perusahaan air minum dengan pipanisasi, sistem jaringan terpusat, tidak menjangkau daerah kumuh dengan alasan ekonomis dan keamanan. Orang miskin akhirnya terpaksa membeli air bersih jauh lebih mahal ketimbang orang kaya di perkotaan.

Pengadaan air bersih skala komunal dengan memanfaatkan air hujan sudah dipikirkan Puslitbang SDA Departemen Pekerjaan Umum yang berpusat di Bandung. Memanen air hujan untuk dimanfaatkan di musim kemarau, kata William A. Putuhena. Akuifer Buatan dan Simpanan Air Hujan ( ABSAH ) namanya. Akuifer buatan sebagai filter dan penambah mineral melalui kontak air dengan butiran material yang diusahakan selama mungkin. Air hujan tertangkap di atap rumah, ditampung dan dialirkan melalui bak akuifer buatan untuk disimpan di bak penyimpan sebagai air bersih yang memenuhi standar mutu.

Sistem pelayanan air bersih skala komunal ini sangat tepat untuk permukiman di kawasan yang sistem peyediaan airnya tidak ada atau mengalami kerusakan, kata Sarwan, mantan Kasubid Diseminasi yang punya banyak pengalaman melakukan sosialisasi ke daerah2. ABSAH cocok pula untuk mereka yang tinggal di perbukitan, permukiman terpencar-pencar, daerah rawa dan bergambut, daerah berair asin atau payau, daerah yang airnya mengandung Fe dan Mn dengan konsentrasi tinggi sehingga tidak bisa diminum, pulau2 kecil yang kesulitan air, daerah sulit air seperti gamping karst ( faktor geologi ) dan daerah kering karena faktor iklim seperti NTB dan NTT.

Puslitbang SDA sesuai tupoksinya, menghasilkan karya2 teknologi terapan, tepat guna, sistem dan NSPM ( norma, standar, panduan, manual ). ABSAH, salah satu teknologi tepat guna yang dihasilkannya. Untuk pemanfaatannya, peran pemerintah daerah, baik pemkab maupun pemkot sangat menentukan. Puslitbang SDA sudah melakukan sosialisasi di hampir 20 provinsi. Teknisnya, di tingkat provinsi, masing2 kabupaten dan kota mengirimkan 3 orang utusan. Biaya kegiatan sosialisasi ditanggung Puslitbang SDA. Masalahnya, para utusan tsb belum tentu orang yang tepat, dan Puslitbang tak bisa ( berwenang ) menentukan siapa orang yang harus dikirim.

Air wudhu isi ulang untuk masjid dengan ABSAH

Akuifer Buatan dan Simpanan Air Hujan ( ABSAH ), selain untuk menyediakan air bersih di musim kemarau, juga bisa dimodifikasi untuk penyediaan air wudhu bersih ulang. Sistem ini sudah diterapkan di Desa Sugihwaras Kecamatan Pringkuku, Pacitan, Jawa Timur. Mulanya dikembangkan Puslitbang Sumber Daya Air untuk prasarana bersih ulang di daerah karst Pacitan.

Islam membedakan air untuk bersuci, yaitu : ( a ) air suci dan mensucikan atau air muthlaq, seperti air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air es, air embun selama belum dikotori atau dicemarkan, ( b ) air suci tetapi tidak mensucikan, seperti air mustakmal atau air bekas untuk bersuci, air pepohonan, ( c ) air mutanajis, yaitu air yang mengandung najis, ( d ) air suci dan mensucikan tetapi makruh ( lebih baik tidak dipakai ).

Untuk bersuci ( wudhu ) hukumnya jelas, harus menggunakan air muthlaq. Sementara, air bekas wudhu hukumnya suci tapi tak mensucikan. Air mustakmal, sebagaimana yang diyakini hukumnya dan berlangsung selama ini, dapat digunakan bersuci kembali, namun jumlahnya harus lebih dari 2 qullah ( lebih besar dari 0,25 m3 ). Atau harus kembali dulu ke bumi. Air wudhu model ABSAH, kalau dipandang sebagai air hujan yang bercampur dengan air mustakmal, jumlahnya jauh lebih dari 2 qullah dalam bak penyimpan air. Juga, sebagai air mustakmal, sudah kembali ke bumi lebih dahulu sebelum digunakan bersuci lagi. Jadi, sudah memenuhi syarat ( sudah dikaji dasar hukumnya, termasuk dikonsultasikan dengan ulama ).

Cara kerja & pemeliharaan ABSAH

Air hujan yang tertangkap atap masjid disalurkan lewat talang, langsung masuk ke bak pemasukan air. Dari bak ini mengalir ke bak akuifer buatan, selanjutnya ke bak penyimpan air untuk digunakan berwudhu. Air ditampung dalam bak tandon di atas bangunan utama instalasi air wudhu bersih ulang. Dalam perputarannya kemudian, air bekas wudhu pun mengalir ke bak pemasukan, mengalir ke bak akuifer buatan, ke bak pemasukan, ke bak penyimpanan. Selama air di bak akuifer buatan, terjadi kontak fisik dengan bebatuan, terjadi proses penyaringan dan pelarutan mineral. Kualitas air berubah, dari air bekas menjadi air layak pakai. Terjadi pensucian kembali, air mustakmal menjadi air muthlaq, atau air suci dan mensucikan.

Pemeliharaan prasarana dan sarana sistem penyediaan air wudhu ABSAH cukup mudah. Bantalan pasir dan bagian lainnya sebaiknya dilakukan 3 tahun sekali. Tinggalkan sisa air sekurang-kurangnya 3 mm untuk menjaga kelembaban agar bangunan tidak retak terkena panas matahari. Jika diperlukan, lakukan penguatan2 tambahan. Untuk menaikkan air, gunakan pompa berdaya kecil. ( sbr/Kiprah ).

Instalasi pengolahan air sederhana dekat irigasi

IPASS dilihat dari atas. Penduduk desa yang tak terjangkau PDAM bisa juga menikmati air bersih dengan mengolah air di lingkungannya.

Untuk pengadaan air, ada IPASS ( Instalasi Pengolahan Air Sangat Sederhana ). Alternatif di pedesaan yang sulit dijangkau PDAM, khususnya di sekitar saluran irigasi. Masyarakat bisa membuat dan memanfaatkan teknologi IPASS secara swadaya dengan bahan lokal. IPASS hanya dapat digunakan untuk air baku yang kekeruhannya tak lebih dari 100 NTU dan belum tercemar limbah industri.

Menurut Puslitbang SDA, terdapat 4 bagian penting sistem IPASS ; bak dengan keping pengendap untuk mengendapkan partikel kasar, saluran perata aliran untuk meratakan aliran dan inlet saringan pasir lambat, bak penampung dan disinfeksi. Air masuk ke saringan pasir lambat yang menyaring partikel halur yang tak terendap di bak pengendap. Air lalu ditampung di bak penampung dan disinfeksi. Bubuhkan kaporit di sini bila perlu.

Acuan teknis bak pengendap : waktu detensi antara 30 sampai 60 menit, dinding dibuat dari pasangan bata kedap air. Keping pengendap dibuat dari kayu atau bambu bersudut 45 sampai 60 derajat. Saringan pasir lambat : dinding dibuat dari pasangan bata kedap air, luas permukaan dengan kecepatan alir 1-3 meter/ jam, diisi pasir beton/ sungai setebal minimal 60 cm, ijuk setebal 5 cm, kerikil 1 cm yang telah dicuci setebal 10 cm. Bak penampung untuk kapasitas 1 m3/ hari dapat dipakai buis beton ukuran f 50 cm atau pasangan bata kedap air dengan waktu tinggal 4 jam.

IPASS beroperasi memanfaatkan gravitasi bumi sejak penyadapan air. Air diambil dengan timba atau pompa tangan. Sebaiknya air tetap dimasak jika akan diminum. Bila perlu pembubuhan kaporit dilaksanakan 1 hari 1 kali sekitar 2 mg/ liter ke bak penampung secara maksimal. Pembersihan bak pengendap dilaksanakan seminggu sekali dengan cara mengangkat keping pengendap. Media penyaring 2-3 minggu sekali dikeruk dan dicuci. Maksimal sebulan sekali bak penampung dibersihkan dari lumut dan kotoran melekat. Jika sedang tak digunakan, saringan pasir lambat dan bak penampung ditutup, dengan papan kayu misalnya. IPASS dapat digunakan untuk skala rumah tangga atau komunal. Bahkan, bila topografinya memungkinkan, dapat berfungsi sekaligus sebagai reservoir distribusi dengan konstruksi disesuaikan. ( sbr/ Kiprah ).

Iklan

Written by Savitri

10 Desember 2009 pada 12:39

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Siph!!! makasih artikelnya

    Jaenal

    8 Maret 2010 at 03:24

  2. great! 🙂

    devi al irsyadiah

    29 Desember 2009 at 11:41

  3. @ hotfreez :
    Thank you.

    anisavitri

    23 Desember 2009 at 10:23

  4. wah keren artikelnya….

    hotfreez

    13 Desember 2009 at 02:21


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: