Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Braga Festival menghidupkan akhir tahun di kota Bandung. Don’t miss it.

with 3 comments

Pengantar A.Savitri :

Hotel Preanger di Jl. Asia Afrika. Dulu Jalan Raya Pos. Bersama Jl.Merdeka dan Jl. Braga, ketiganya jalan tertua di Bandung.

Akhir tahun banyak kegiatan menarik. Siapkan sepeda atau dengkul anda menyelinap di sela2 kemacetan jalan, yang sudah ramai di hari2 biasa. Apalagi long week end. Jalanan Bandung bukan milik orang Bandung lagi, tapi warga seluruh pelosok tanah air. Tungpah ruah, seperti istilah sebuah grup retail. Mobil kurang berguna untuk bergegas sampai tujuan, kecuali anda bersiap memborong banyak produk kreatif karya urang Sunda. Be my guest. Mangga, we. Dalam hiruk pikuk menjelang tahun baru, Tisna Sanjaya menawarkan alternatif. Out of box. Braga Festival mestinya bisa tampil beda. Buat pasar yang sepi. Membuat kita merenung, nostalgia, waas ( kangen ). Undang para maestro seni budaya sebagai empu yang mengajari warga kota menari, membuat topeng sendiri. Adakan workshop yang mengasah jiwa berkesenian pada warga. Pada hari H mereka semua menari bersama, menghayati budaya leluhur, jati diri bangsanya. Para budayawan dan pelaku seni dihadirkan sebagai guru, bukan pementas bayaran sekedar lewat. Itu perlakuan ala kolonial. Kita sudah merdeka, bermartabat, mestinya bisa menghargai seni budaya di tempatnya yang layak.

Selama perenungan di Braga, seraya memandang deretan bangunan kuno peninggalan Belanda, kita bertanya bagaimana nasib seni budaya Indonesia setelah 64 tahun merdeka. Mengapa Malaysia sampai mengklaim budaya kita ? Mengapa para seniman Bandung sulit mencari tempat pementasan yang layak ? Mengapa Melly Goeslaw sampai harus menyisihkan penghasilannya untuk menyuport seniman2 yang hidupnya memprihatinkan ? Padahal orang2 luar sangat mengapresiasi produk budaya kita. Misslink-nya di mana ? Apa karena kita kurang menghargai budaya kita sendiri ? Jarang membeli tiket pertunjukan kesenian daerah. Jarang memakai batik Jabar, makan lotek, menyeruput bajigur dan nonton wayang ? Sehingga tak ada pemasukan bagi seniman2 ini untuk mengkreasi penampilannya. Kepayahan memenuhi ekspetasi penonton, karena hidup pun sudah kembang kempis. Menyedihkan.

Kilometer nol. Di sinilah, gubernur Hindia Belanda, Daendels memancangkan pasak seraya berkata,"saya ingin ketika saya kembali, tempat ini sudah menjadi kota". Kira2 begitu pesannya pada bawahan. Jalan ini sekarang Jalan Asia Afrika. Banyak peristiwa bersejarah terjadi di jalan ini. Tampak stoomwalls dipajang di kantor PU.

Cerita sedih ini, apa karena kita kurang bangga dan percaya diri mempromosikan budaya Indonesia ke teman2 mancanegara ? Setiap warga Indonesia di luar negeri adalah marketer/ pemasar bagi negerinya. Pengetahuan yang cukup tentang budaya sendiri akan mengundang ketertarikan dan respek dari bangsa lain. Seorang pemasar top adalah pengguna produk itu sendiri. Prospek menjadi lebih mudah diyakinkan. Tidak kenal, maka tidak sayang. Saya tak tahu, seperti apa Braga Festival tahun ini jadinya, persisnya. Apa mendekati mimpi Kang Tisna, atau masih seperti tahun2 sebelumnya ? Kita lihat saja.

Jalan Braga tahun 1940. Jaman baheula. Itu mobil mani antik.

Akhir November lalu ( 22/12/2009 ), saya menyempatkan diri datang ke Jalan Braga, Bandung. Awalnya mendarat di depan Grand Hotel Preanger di Jl. Asia Afrika, dekat kilometer nol-nya Bandung. Hotel rancangan Schoemaker ini berlanggam Art Deco dengan ciri khas elemen dekoratif geometris pada dinding eksterior. Melalui financial district sepanjang Jl. Asia Afrika yang dihiasi bangunan tua di kanan kirinya, anda bisa belok kanan masuk Jl. Cikapundung Timur. Saat itu anda sudah melihat Hotel Savoy Homman dan Gedung Merdeka, tempat Konferensi Asia Afrika pertama kali dilangsungkan tahun 1955. Lalu anda belok kanan lagi hingga berhadapan Gedung Bank Jabar yang dibangun tahun 1915. Di samping kiri anda, menjulurlah jalan Braga yang tersohor hingga daratan Eropa. Jl. Braga pada masa itu dikenal sebagai ”The Most Fashionable Street in the East Indies”. ( melihat keadaannya sekarang, anda jangan membayangkan yang fantastis. Tantangan generasi kita menghidupkan kawasan bersejarah ini kembali. Salah satunya sedang diupayakan penyelanggara Braga Festival ).

Di Jalan Braga dahulu, berderet bangunan pertokoan yang menjual berbagai produk terakhir Eropa pada Masa Keemasan. Di sekitarnya, ada Gedung Bank Indonesia ( 1930-an ), Gereja Protestan Bethel ( 1926 ), Gereja Santo Petrus ( 1922 ). Jika di Alun-alun Bandung ada Gedung Bioskop Elita yang kini jadi arena Futsal, maka di Jl. Braga ada Bioskop Majestic yang tersohor tahun 1920- an. Dulu dinamai Blikken trommel atau kaleng biskuit. Kini, Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC). Majestic berarti penuh keagungan. Gedung ini merupakan satu dari 750 bangunan yang dipersiapkan Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Ir FJL Ghijsels untuk mempercantik Bandung. Pembangunan Kota Bandung terjadi pada kurun waktu 1918-1925.

Gedung Sate, banyak orang sudah melihatnya. Awalnya akan digunakan sebagai gedung pemerintahan, menyusul rencana pemerintah kolonial Belanda memindahkan ibukota Belanda di Timur ini, dari Jakarta ke Bandung, tahun 1918. ( wah, Bandung jadi ibukota Indonesia, euy .. ). Kini Gedung Sate menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat. Landmark kebanggaan warga Bandung. Kang Ahmad Heryawan dan Kang Dede Yusuf berkantor di dalamnya. Masa keemasan pembangunan kota Bandung tempoe doeloe ( tahun 1920-1930-an ) mencakup 3 jalan pertama di Bandung, yaitu Jl. Asia Afrika, Jl. Braga dan Jl. Merdeka. Masa Bandung dijuluki ”Parijs van Java”. Meni waas. Happy New Year, people ..

Braga Festival menghidupkan akhir tahun di kota Bandung. Don’t miss it.

Pameran foto di Braga Festival. Akhir tahun ini akan diadakan lagi.

Menutup tahun 2009, Kota Bandung kembali menggelar even Braga Festival, pada 27-30 Desember di sepanjang ruas Jl.Braga, Bandung. Kegiatan ini ditargetkan menarik pengunjung hingga 2 juta orang. Rencananya, di ruas jalan sepanjang 700 meter tsb, akan digelar pameran karya seni, pemutaran film, produk industri kreatif, fashion dan kuliner. Juga digelar pertunjukkan musik dan atraksi kesenian dari berbagai komunitas di Jawa Barat, Kota Bandung dan sejumlah kota lainnya di Indonesia.

Direktur Perfomance Martha Topeng, Sabtu ( 19/12/2009 ) mengungkapkan, selama 4 hari kegiatan tsb digelar, telah dipersiapkan sejumlah pertunjukkan musik dan atraksi kesenian. Bahkan, untuk mendukung pertunjukkan musik, akan disiapkan 2 panggung berukuran 4 x 8 meter di depan Gedung Gas dan Gedung Bank Jabar. Juga dipersiapkan 5 panggung kecil di ruas jalan yang sama. Hari pertama, sepenuhnya akan ditampilkan pergelaran perkusi yang melibatkan 500 pemain perkusi dari berbagai daerah, seperti dari Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. Hari kedua, akan tampil indie music dari berbagai aliran, seperti jazz, blues, country dan balada dari 150 grup musik indie. Hari ketiga, akan tampil world music dan tarian kontemporer, perpaduan tradisional dan internasional, seperti samba Sunda. Hari keempat, puncaknya, pengunjung akan disuguhi seluruh penampilan yang digelar sejak hari pertama. Tema yang diusung adalah kontemporer, kata Martha.

Presdir Kharisma Nusantara Kris Syandi Kurnia mengatakan, dengan mengusung tema Wujud Citra Braga Kreatif, kegiatan tahunan tersebut akan memotret kecenderungan kreativitas yang terjadi di Jawa Barat dan Kota Bandung. Memperjelas, bahwa Kota Bandung sebagai kota seni dan budaya, pintu gerbang pariwisata Jawa Barat. ( PR, 20/12/2009 ).

Pekan Kerajinan Jawa Barat 2009 : inspirasi hidup baru.

Stand2 memamerkan produk kreatif & kuliner orang Sunda. Siap mencuci mata dan mulut anda.

West Java Craft bertempat di Graha Manggala Siliwangi, Bandung, pada 23-27 Desember 2009. menampilkan stand2 ; handycraft, perhiasan, batik, kulit, garmen, perangkat interior, houseware, talkshow, workshop, aneka lomba dan festival anak Jabar. Lomba tsb diantaranya ; lomba menulis surat kepada ibu gubernur, lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba kaligrafi, lomba lipat kertas, lomba kreasi plastisin ( malam ), lomba kreasi batang es krim, lomba menyusun puzzle dan lomba peragaan busana daerah. ( PR, 20/12/2009 )

Jalan Braga sebagai kawasan wisata komersial.

Jalan Braga yang tak henti-hentinya dikenang, diperbincangkan dan diperdebatkan. Berbagai isu dapat digali dan dilontarkan mengenai Jalan Braga sebagai kawasan komersial, dengan bekal sejarahnya yang panjang dan gemilang. Komersial yang diwisatakan ?

Pengertian Commerce ( English ) :

· Hubungan sosial, transaksi antara individu ataupun kelompok dalam hal pertukaran ide, opini ataupun perasaan

· Transaksi atas berbagai jenis inter-relasi, koneksi atau komunikasi

· Pertukaran atau jual beli komoditi, khususnya dalam skala besar dan melibatkan transportasi

· Perniagaan, perdagangan

Komersial, dari commercial :

· Segala sesuatu yang berkaitan dengan perniagaan/ perdagangan

· Segala sesuatu yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama

Pariwisata

· Segala sesuatu yang berkaitan dengan proses ketertarikan orang untuk datang berkunjung ke suatu tempat dan fasilitas2 yang membawa ke tempat tersebut, termasuk sarana transportasi, imigrasi, akomodasi, sarana dan prasarana serta tuan rumah

Kawasan komersial dapat dipahami sebagai suatu kawasan yang mewadahi aktivitas komersial, dengan kata lain kawasan yang merupakan pusat komersial. Wujudnya adalah suatu kawasan niaga dalam berbagai bentuk ( blok, ruas jalan dll ). Kegiatan perdagangan merupakan indikator vitalitas perekonomian dan tingkat intensitas sosial dari suatu tempat dan kita dapat membaca karakter penduduk suatu wilayah melalui aktivitas niaga yang terjadi di wilayah tersebut. Selain itu aktivitas komersial juga memilik peranan dalam ketenagakerjaan dan tingkat upah

Dari segi ekonomi, perencanaan suatu pusat komersial harus mempertimbangkan faktor2 berikut :

· Menuntut adanya studi kelayakan secara ekonomi yang matang, jauh sebelum perencanaan dimulai. Studi kelayakan harus bisa menjamin pusat komersial tersebut memberikan keuntungan bagi investornya

· Menuntut adanya cost planning, cost estimating dan cost control sehingga investasi yang ditanamkan menjadi efektif, tidak sia-sia. Dalam hal ini perlu diperhitungkan BEP ( Break Event Point ) yang cepat dan tepat

· Lokasi lahan dan situasi juga merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Umumnya bangunan komersial menempati lahan di pusat kota yang strategis sehingga harganya mahal. Untuk itu perlu dirancang metoda pembangunan apa yang sesuai, efesien dan ekonomis.

· Efesiensi pemintakatan yang sesuai sehingga setiap luasan ruang memiliki nilai yang hampir sama

· Aspek hukum untuk menjamin kepemilikan yang jelas, karena bangunan2 komersial umumnya digunakan oleh banyak pihak ( multi users )

Ditinjau dari sudut pandang pariwisata, kawasan komersial wisata dapat diartikan sebagai kawasan komersial yang menjadi atraksi wisata, sekaligus berfungsi memfasilitasi pusat2 akomodasi wisata yang ada di lingkungannya. Dalam kaitannya dengan Urban Tourism, kawasan komersial wisata tidak hanya dipandang sebagai aktivitas urat nadi kehidupan kota, tapi juga sebagai tempat yang memiliki potensi ( dalam hal ini menarik ) untuk dijadikan sebagai atraksi wisata. Aktivitas utama sekaligus sebagai atraksi wisata pada kawasan komersial tersebut adalah berbelanja.

Berbelanja merupakan kegiatan yang menarik, yang diminati oleh sebagian besar orang dan merupakan aktivitas wisatawan yang cukup menonjol. Selain sebagai atraksi wisata, fasilitas perbelanjaan juga penting sebagai fasilitas pendukung pariwisata yang meyediakan barang-barang sehari-hari, seperti film, koran, majalah, buku, toiletries dan lainnya juga pelayanan pribadi seperti barber shop, salon, massage. Untuk itu fasilitas perbelanjaan tersebut harus mudah diakses dari setiap tempat dan setiap waktu dibutuhkan.

Kesuksesan suatu kawasan komersial wisata sebagai sebuah atraksi wisata sangat tergantung pada keberadaan fasilitas pariwisata yang lain dan sebaliknya keberadaan suatu kawasan komersial wisata akan mendorong dan menjadi faktor penarik pariwisata di suatu wilayah. Keberadaan suatu kawasan komersial wisata harus didukung oleh pusat akomodasi wisata, transportasi, pencapaian yang jelas, fasilitas2 pendukung.

Menurut Mathias de Vito, Chief Executive dari Rouse Company, USA :

“Keberhasilan Festival Market milik kami sangat tergantung pada beberapa pre-existing conditions, yaitu :

· Otoritas kota yang aktif, untuk menarik pemerintah agar menyuntikkan dana ke CBD

· Perkantoran dan ketenagakerjaan, untuk menciptakan pasar, yaitu worker-shoppers

· Perkembangan hotel dan pusat akomodasi wisata, untuk mendukung terciptanya pasar : tourist-shopper ..”

Sebagai sebuah lokasi tujuan wisata, kawasan komersial wisata harus memiliki kekuatan, yaitu sesuatu yang menarik pengunjung, baik berupa suasana, karakter visual, setting tertentu, lokasi dll. Pusat2 perbelanjaan merupakan salah satu penarik kedatangan turis ke berbagai kota di dunia. Bentuk2 kawasan komersial wisata yang terkenal :

· Japanese Tourist Market – terkenal dengan tingkat penjualan souvenir yang tinggi

· Singapura dan Hongkong terkenal dengan kegiatan wisata belanja yang dipromosikan besar-besaran dan menjadi program utama pariwisata negara2 tersebut, menjual kawasan pusat perbelanjaan modern

· Berbagai duty free

· Kawasan2 dengan karakter yang khas seperti kawasan Pecinan, baik yang berada di Amerika maupun di kota2 Asia, contoh lain adalah Jalan Arab di Singapura

· Untuk Indonesia, contoh kawasan komersial wisata : Malioboro, Yogyakarta

Dalam proses terbentuknya, suatu kawasan komersial wisata mungkin merupakan :

· Kawasan komersial utama suatu kota yang menjadi identitas kota tersebut, sehingga orang2 yang mendatangi kota tersebut merasa wajib berkunjung ke sana, misalnya Malioboro, Braga tempo dulu.

· Kawasan komersial yang memiliki satu jenis aktivitas tertentu yang menarik, seperti pusat industri kulit, pusat jeans, pusat industri keramik, pusat sayur dan buah, pasar kembang, dll

· Kawasan komersial yang dengan sendirinya tumbuh karena adanya aktivitas wisata pada daerah sekitarnya, misalnya komersial di sekitar Kuta dan Legian

· Kawasan komersial yang memang dirancang untuk menjadi sebuah atraksi wisata, misalnya pusat2 perbelanjaan besar di Jepang ( Ginza ), Singapura ( Orchard Road ) dan Jakarta ( PI Mall, Senayan Square )

· Kawasan komersial wisata yang dihidupkan sebagai usaha revitalisasi suatu kawasan, seperti banyak dilakukan pada pasar2 festival di Boston, New York, Baltimore, Miami, Los Angeles dan Singapura.

Masalah yang sering dijumpai dalam perkembangan kawasan komersial di pusat kota

Atraksi kesenian, tidak ketinggalan.

Banyak pengalaman menunjukkan adanya kawasan pusat kota yang semula memiliki peran cukup vital di dalam kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya, dalam perkembangannya menunjukkan kemunduran yang disebabkan oleh kondisi sarana dan prasarana kurang mampu mendukung kegiatan yang ada. Masalah2 tersebut antara lain :

1. Masalah dalam penggunaan lahan

· Pergeseran fungsi dari single-use menjadi mixed use

· Kecenderungan perubahan layout bangunan sehingga sempadan tidak seragam

· Munculnya sektor informal

2. Masalah lalu lintas, berupa kemacetan yang disebabkan oleh

· Daya tampung jalan tidak sepadan dengan jumlah kendaraan

· Terpusatnya arus kendaraan yang melalui ataupun menuju kawasan

· Penyatuan sistem sirkulasi lalu lintas kendaraan dan manusia yang belum teratur

3. Masalah fisik lingkungan

· Masalah peremajaan bangunan2 lama

· Pertumbuhan dan perkembangan kota yang tidak terkendali, pada akhirnya menyebabkan munculnya bangunan2 yang tidak kontekstual.

Faktor2 yang dapat dijadikan dasar dalam perencanaan kawasan komersial wisata

Untuk menunjang keberhasilan suatu kawasan komersial wisata, dalam proses perencanaan suatu program Urban Tourism, karakter lingkungan dan kualitas lingkungan kota yang harus dievaluasi adalah :

· Kualitas visual dari karakter dan langgam arsitektur

· View dan vista yang ditawarkan

· Ketersediaan lalulintas dan kenyamanan-keamanan pedestrian

· Masalah2 air, udara, kebisingan, iklim

· Ketersediaan ruang2 terbuka, ruang publik dan lingkungan yang layak

· Ketersediaan fasilitas pendukung lainnya

· Kebersihan dan penanganan sampah

· Tingkat kejahatan dan tingkat keamanan umum

Lebih lanjut dalam perencanaan suatu kawasan komersial wisata, fasilitas2 pendukung pariwisata dan infrastrukturnya harus terintegrasi dengan baik. Sepuluh fasilitas pendukung pariwisata adalah :

· Pusat akomodasi wisata

· Fasilitas pusat makanan dan minuman

· Perbelanjaan dan pelayanan pribadi

· Fasilitas kesehatan

· Pelayanan pos

· Tour and travel operations

· Pusat informasi bagi wisatawan

· Money changer, banking dan pelayanan2 finansial lainnya

· Fasilitas keamanan umum, meliputi petugas keamanan dan fasilitas kebakaran

· Fasilitas keluar dan masuk ( entry & exit facilitations )

Sementara itu infrastrukturnya meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi dan fasilitas lainnya seperti suplai air, listrik, penanganan sampah, telekomunikasi, drainase, jaminan kesejahteraan tuan rumah dan pelayanan masyarakat bagi tuan rumah.

Perencanaan suatu kawasan komersial wisata merupakan bagian dari perencanaan suatu program Urban Tourism yang tetap akan mengacu pada teori2 perancangan ruang kota. Menurut Roger Trancik, tiga pendekatan bagi teori perancangan ruang kota yang paling dominan adalah figure-ground theory, linkage theory dan place theory. Ketiga teory ini berbeda satu dengan lainnya dan secara bersamaan membantu dalam menentukan strategi2 potensial bagi perancangan ruang kota yang teintegrasi

Figure-ground theory didasarkan pada hubungan antara penutupan permukaan lahan dengan bangunan yang solid sebagai figure, dengan void yang terbuka sebagai ground. Setiap lingkungan kota memiliki pola solid dan void, dan pendekatan figure-ground bagi perancangan ruang kota adalah usaha untuk memanipulasi hubungan ini dengan menambahkan, mengurangi ataupun mengubah geometri fisik dari pola tersebut.

Berbeda dengan figure-ground theory, linkage theory diturunkan dari garis2 yang menghubungkan satu elemen kota dengan elemen lainnya. Garis2 ini dibentuk oleh jalan2, jalur pedestrian, ruang terbuka linier ataupun elemen penghubung lainnya yang secara fisik menghubungkan bagian2 kota.

Place theory lebih maju selangkah dari figure-ground theory dan linkage theory, dengan menambahkan komponen kebutuhan manusia, kebudayaan, konteks sejarah dan konteks alami. Penekanan teori ini adalah memberi kekayaan spesifik bagi sebuah tempat dengan cara menggali bentuk2 dan detil2 yang unik yang mengingatkan akan setting tersebut.

Dalam kajian kawasan komersial wisata yang merupakan bagian dari Urban Tourism, ketiga teori perancangan ruang kota tersebut akan sangat menentukan tingkat integrasi antar atraksi2 wisata, dan integrasi antara atraksi2 tersebut dengan fasilitas2 pendukung pariwisata.

Braga sebagai warisan sejarah kota.

Mau lihat foto2 Braga tempoe doeloe. Ada ..

Braga sebagai jalur pertokoan ( shopping street ) merupakan salah satu contoh nyata dari warisan masa kejayaan Parijs van Java dalam bidang ekonomi ( 1920-1930 ). Bahkan masa lalu, Braga sempat dijuluki De Meest Europeeschen Winkelstraat van Indie ( Kompleks Pertokoan Eropa yang Paling Terkemuka Di Hindia Belanda ). Jalur pertokoan lama ini hingga kini masih berfungsi.

Braga sebagai kawasan komersial

Braga saat ini dihargai sebagai kawasan historis, dengan karakter kolonialnya yang sangat kuat dan layak dipertahankan. Berbagai pihak tertarik dan telah mengadakan studi2 mengenai kawasan ini, dan berbagai usulan rancangan telah dihasilkan. Keadaannya sebagai shopping street tetap dipertahankan ( gambar 3 ), namun terlihat tidak begitu berhasil karena tersaingi oleh pusat2 perdagangan berupa shopping center. Menurut RBWK 2005 Kota Bandung, daerah ini termasuk ke dalam daerah dengan fungsi perdagangan, eceran ( retail ), hiburan, restoran dan hunian.

Apabila ditinjau dari aspek pariwisata, kawasan ini memiliki potensi sebagai atraksi wisata, karena lazimnya wisatawan ingin melihat sesuatu yang khas atau merasakan suasana yang berbeda. Faktor penarik yang dominan dan potensial di Braga adalah karakter kawasan yang unik, yang bercerita tentang nostalgia zaman kolonial Belanda di Indonesia. Skala ruang dan karakter lingkungannya yang unik tidak dapat dijumpai di tempat lain di Bandung.

Kawasan Braga juga memiliki bagian yang dapat disebut sebagai urban waterfront, yaitu daerah di dalam kota yang berbatasan dengan air, seperti sungai atau kanal ( gambar 4 ). Pada negara2 yang sudah lebih maju, waterfront merupakan lokasi yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata

Sejarah Kawasan Komersial Braga

Perkembangan Kota Bandung secara langsung maupun tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan dan kemajuan Jalan Braga. Bila ditilik kembali, perkembangan Jalan Braga dapat didefinisikan sebagai ribbon-development, mengingat Braga merupakan salah satu lintasan utama pada masa2 awalnya.

Pada 1810 ketika ibukota kabupaten dipindahkan ke tepi Jalan Raya Pos ( Groote Post Weg ), Jalan Braga merupakan jalur pedati yang dibangun penduduk untuk menghubungkan rumah/ gudang kopi milik Tuan Andries de Wilde yang sekarang menjadi Kantor Pemerintah Kodya Bandung dengan Jalan Raya Pos.

Selama periode 1920-1930 Gemeente Bandung mengadakan modernisasi Jalan Braga. Tindakan yang dilakukan antara lain pengaturan lalu lintas dan perencanaan Cikapundung Boulevard yang salah satu tujuannya adalah mengantisipasi kepadatan lalu lintas di Jalan Braga.

Pada tahun 1937-1939 dilakukan pembangunan ruas jalan ABC dan Suniaraja. Kedua jalan tersebut menambah keramaian kawasan Braga dan sekitarnya, dengan bermunculannya fasilitas2 penunjang, berupa bioskop, bank, restoran, dll. Jalan Braga adalah tempat berbelanja dan cuci mata yang eksklusif bagi masyarakat kelas atas. Selain merupakan ajang pameran mode2 terbaru dari Paris, segmen utara Braga juga menjadi tempat para Preanger Planters saling berebut mengganti dan memamerkan mobilnya. Sebagai sebuah shopping street, Braga merupakan sebuah rute jalan kaki yang menyenangkan untuk dilalui oleh wisatawan. Di sepanjang Jalan Braga, orang bisa berjalan-jalan sambil melihat-lihat etalase pertokoan ( window shopping ). Disinilah kesemarakan masa Parijs van Java yang glamour dapat dilihat dengan aktivitas intelektual dan budaya yang mengesankan.

Penurunan kualitas Braga sebagai kawasan pusat komersial berawal dari adanya ‘malaise’ pada tahun 1930-an, dan semakin melesu dengan pecahnya Perang Dunia II, dilanjutkan dengan pendudukan Jepang.

Kondisi dan fenomena yang terjadi pada kawasan Braga saat ini.

Bule juga turut memeriahkan.

Munculnya pusat perdagangan di Jalan Dalem Kaum, Kosambi, Merdeka, Pasar Baru dan Asia Afrika yang lebih modern dan eksklusif sepertinya merupakan penyebab awal kemunduran Braga. Selera masyarakat beralih pada gaya lain dari berbelanja yang baru melanda Indonesia. Berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan yang tertutup dan ber-AC jauh lebih nyaman daripada berjalan di tepi Braga yang mulai dipadati kendaraan.

Braga tidak lagi memiliki daya tarik sebagai suatu shopping street, barang dagangan yang dijual kurang menarik pembeli dan menimbulkan kesan bahwa barang2 tersebut adalah barang mahal. Masalah lalu lintas dan parkir juga menyebabkan pengunjung enggan berbelanja di Braga. Pada saat ini fungsi baru yang ada pada Jalan Braga adalah pelayanan jasa, perkantoran, pusat hiburan, penyalur utama dan penjualan non daily goods. Fungsi2 tersebut membuat Braga tidak banyak dikunjungi pada siang hari.

Toko2 yang ada kini banyak yang menjual barang2 dagangan dalam partai besar. Jenis barang yang demikian bukanlah jenis yang menarik untuk dilihat, dan pembelinya hanyalah penyalur2 barang tersebut. Pengunjung yang datang ke Braga saat ini umumnya sudah memiliki satu keperluan t ertentu, dan tidak lagi menganggap Braga sebagai tempat aktivitas window-shopping.

Hal ini mengakibatkan toko2 yang keuntungannya sangat tergantung pada jumlah pengunjung seperti toko pakaian, tas dan sepatu, mengalami kebangkrutan. Sebagian besar toko2 tersebut pindah ke lokasi yang lebih menguntungkan, sehingga toko2 yang bertahan semakin sepi pengunjung.

Pada malam hari aktivitas tidak merata mengakibatkan terdapat kekosongan2 di sepanjang Braga. Sementara itu penerangan jalan didominasi oleh lampu2 billboard yang mengalahkan lampu jalan ( hanya beberapa lampu jalan yang menyala ). Kondisi seperti ini menimbulkan kesan rawan dan rasa tidak aman bagi pengunjung. Aktivitas terpusat pada segmen II dengan adanya Caesar Palace, Disko Dangdut, dll. Sementara itu pada segmen II aktivitas malam hari tidak merata. Pada segmen satu adanya Sarinah, Majestic dan dua buah restoran tidak mengurangi kesan rawan pada ruas jalan tersebut. Fungsi dan aktivitas yang terdapat di Braga saat ini antara lain pertokoan, rekreasi/ hiburan, perkantoran, hotel, kebudayaan dan permukiman.

Aksesibilitas kawasan Braga

Dari segi lokasi, Braga adalah kawasan di pusat kota Bandung yang memiliki tingkat pencapaian yang tinggi. Namun dari segi teknis, sistem one-way membuat aliran kendaraan menjadi membingungkan dan menyulitkan pencapaian. Ada beberapa pencapaian Braga.

· Segmen I dapat dicapai dari Jalan Naripan, satu arah ke Jl.Asia Afrika

· Segmen II dapat dicapai dari Jalan Banceuy, satu arah ke utara.

· Segmen III dapat dicapai dari segmen II dan dari Jalan Suniaraja, satu arah ke utara.

Terdapat beberapa akses yang sesungguhnya potensial bagi Braga sebagai kawasan komersial wisata. Akses2 tersebut adalah :

1. Cikapundung Boulevard

Cikapundung Boulevard adalah rencana jalan yang akan dibangun disepanjang sisi kali Cikapundung, berawal dari Jalan Gereja kemudian membelah pusat kota Bandung sampai Cikapundung Boulevard. Pada tahun 1938, Gemeente Bandung baru bisa menyelesaikan sebagian rencana, yaitu 4 buah jembatan beton bertulang di sisi jalan Gedung PLN ( Cikapundung Barat dan Timur ), sedangkan jalan yang menghubungkan Jalan Suniaraja dan Jalan ABC belum sempat dibangun. Akses ini sangat potensial untuk menghubungkan kawasan Viaduct dengan pusat perbelanjaan Banceuy-ABC.

2. Permorin

Merupakan bangunan bekas bengkel Fuchs and Rens dengan entrans dari Jalan Braga. Site ini sangat unik dan potensial sebagai penghubung Braga dengan tepian kali Cikapundung.

3. Gang Affandi dan Gang Cikapundung

Merupakan akses ke perkampungan di Lembah Braga, dan terusan dari Gang Cikapundung yang berhubungan langsung dengan kawasan perdagangan Banceuy.

Karakter Lingkungan Braga

Dalam teori perancangan ruang kota kita mengenal titik simpul ( node ) dan lorong ( path ) yang merupakan bagian dari pembentuk identitas suatu kota Karakter lingkungan kawasan Jalan Braga terbentuk dari komposisi massa dan ruang yang sangat khas, yang membentuk lorong dengan empat titik simpul. Selain itu lingkungan Braga juga memiliki beberapa arah pandang dan peralihan ruang yang menarik.

Keempat titik simpul tersebut membagi Jalan Braga menjadi tiga ruas lorong, serta merupakan ruang peralihan dari satu ruas ke ruas lainnya, yang memiliki karakter masing2. Lorong Braga terbentuk oleh deretan bangunan di sepanjang Jalan Braga, yang memiliki dua macam skala ruang, yang dipengaruhi oleh sempadan dan ketinggian bangunan. Pada segmen I dan segmen III suasananya lepas dan terbuka. Sementara itu pada segmen II kesan lorong sangat terasa. Kesan lorong tersebut juga ditunjang oleh panjangnya jarak antara titik2 simpul yang membatasinya.

Komposisi massa Jalan Braga jug membentuk beberapa vista dan peralihan ruang yang menarik. Misalnya arah pandang dari segmen II ke segmen tiga yang disambut oleh menara Savoy Homann dan menara BPD Jabar, dan dari segmen II ke segmen I yang disambut oleh Center Point, arah pandang dari segmen I ke Jalan Asia Afrika disambut oleh sebuah bangunan bermenara, sangat potensial untuk dijadikan vista yang menarik.

Karakter Bangunan

Dari segi bentuk, bangunan2 yang terdapat di Jalan Braga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bangunan teras ( terrace building ) dan bangunan tunggal ( individual building ). Bangunan2 teras yang lebih mendominasi segmen II, memiliki peran besar dalam membentuk lorong Braga. Sementara itu bangunan2 tunggal terdapat pada segmen I dan II

Tidak seluruh bangunan di jalan Braga memiliki gaya yang dapat ditelusuri, karena umumnya, merupakan paduan beberapa gaya. Adanya keanekaragaman gaya tersebut tidak membuat komposisi fasade Jalan Braga menjadi kacau. Sebaliknya, suasana yang tercipta adalah harmonis, karena peralihan dari satu gaya ke gaya lainnya benar2 dipikirkan secara matang.

Linkage Braga dengan fasilitas2 pariwisata

Braga merupakan lokasi strategis dan berdekatan dengan daerah pusat akomodasi wisata di Jalan Asia Afrika, Jalan Merdeka dan Tamblong, dan Lembong. Sebagai lokasi pusat akomodasi wisata, sarana utama telah ada, seperti penginapan, bank, money changer, pertokoan dan pusat perbelanjaan, pub, restoran, nite club, diskotek, entertainment, amusement dan lain2 dengan jarak tempuh s/d 2 km. Namun perlu diingat bahwa komposisi jumlah dan penyebaran dari fasilitas2 tersebut belum bisa dikatakan baik dan layak untuk menopang Braga sebagai kawasan komersial wisata.

Kelemahan Braga sebagai kawasan komersial wisata

· Komposisi fungsi dan aktivitas bangunan pada Braga saat ini tidak memungkinkan terjadinya interaksi antar bangunan, sebagaimana layaknya suatu shopping street.

· Fasade bangunan yang tertutup billboard mengurangi kekuatan karakter bangunan di Braga

· Pedestrianisasi yang kurang lebar tidak diteduhi, dan tidak ada kontinuitas antara link2 dari Braga menuju pusat2 komersial maupun akomodasi wisata

· Adanya arus kendaraan yang melewati Braga menghalangi terciptanya sirkulasi pedestrian dengan pola zig-zag, yang sebenarnya merupakan ciri utama suatu shopping street.

· Braga tidak memiliki kendaraan fungsi urban, sehingga pada kawasan ini terjadi intensitas kegiatan yang tidak merata ( dari segi komposisi aktivitas terhadap lokasi maupun terhadap waktu ). Hal ini sangat jelas terlihat, terutama pada malam hari.

Kawasan Terpadu Braga : regenerasi kota

Dalam usulan Braga ini, penulis menyusun skenario yang didasarkan pada evaluasi, mengambil setting RBWK 2005. Braga meliputi Jalan Braga dan Lembah Braga dijadikan sebagai salah satu kawasan komersial wisata. Hal ini akan didukung oleh letaknya yang strategis di pusat kota. Kawasan terpadu Braga ini akan menjadi city regeneration bagi Kota Bandung.

Sebagai sebuah kawasan komersial, dipandang dari intensitas ekonominya Braga bukanlah pusat komersial yang utama di Kota Bandung. Namun dilihat dari karakter ruang kota dan urban tourism, Braga merupakan Major Space ( ruang utama ) bagi Kota Bandung.

Tindakan2 awal untuk menghidupkan kawasan komersial wisata Braga adalah :

· Menutup Jalan Braga dari kendaraan, terutama pada segmen I dan segmen II. Jalan Braga dijadikan pedestrianisasi yang nyaman bagi warga kota

· Program Kali Bersih bagi Cikapundung, yang dilanjutkan dengan realisasi rencana Cikapundung Boulevard, jalur river front di sepanjang tepian Kali Cikapundung. Selain berfungsi sebagai ruang terbuka kota, jalur ini juga berfungsi sebagai jalur limpahan kendaraan dari Jalan Braga

· Mengembangkan Lembah Braga sebagai sebuah kawasan waterfront dengan retail sebagai aktivitas utama, sebagai bagian dari kawasan terpadu Braga.

· Menata kembali arus transportasi umum bagi kawasan ini sehingga mendukung fungsinya sebagai bagian dari urban tourism Kota Bandung

· Sebagai sebuah kawasan komersial di pusat kota, sasaran pengunjung Braga bukan hanya tourist-shopper, namun juga worker shopper. Sebagian besar calon pengunjung adalah warga kota yang menggunakannya setiap hari. Justru kehidupan dan keramaian warga kota yang terus menerus itu yang akan menjadi menarik dan menjadi atraksi tersendiri.

· Pengunjung yang dapat ditarik ke kawasan ini adalah pengunjung dari pusat komersial BIP- Gelael-Dago dan Alun-alun-Dalem Kaum- Kepatihan, sebagai dua pusat keramaian yang paling dekat dengan Braga.

· Memperjelas linkage Braga dengan dua lokasi tersebut, dan dengan pusat2 atraksi serta akomodasi wisata lainnya.

Membuat arahan aktivitas kawasan Braga

Secara umum diterapkan konsep keterpaduan sebagai arahan aktivitas di seluruh kawasan Braga, yaitu :

a) Mixed Economic Strata

Seluruh kawasan terdiri dari aktivitas yang berbeda tingkatan ekonominya, tetapi saling terkait dan saling menguntungkan.

b) Mixed Land Use

Seluruh lahan yang tersedia dialokasikan secara sepadan untuk menampung kegiatan seperti rekreasi, komersial, perumahan dan parkir. Menurut CIAM ( Congress International Architecture Modern ) fungsi2 tersebut merupakan aktivitas dasar manusia yaitu : pemukiman ( habitating ), tenaga kerja ( working ), rekreasi dan sirkulasi.

Keuntungan Mixed Use

· Mempersempit jarak antar fungsi, sehingga dapat dicapai dengan jarak berjalan kaki. Sebagai acuan, John Portman menyebutnya dengan Coordinate Unit, yaitu jarak di mana seseorang rela berjalan tanpa memerlukan alat transportasi untuk mencapai tempat aktivitas. Jarak tersebut sejauh + 400 m. Hal ini akan mengurangi kepadatan dan mobilitas pada lahan.

· Pemanfaatan lahan secara efesien dan produktif untuk berbagai aktivitas manusia

· Adanya aktivitas yang beragam memungkinkan pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan dalam suatu tempat.

· Adanya aktivitas yang beragam memungkinkan pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan dalam suatu tempat.

· Mencegah matinya kawasan, terutama lantai dasar, sehingga terjadi pergantian aktivitas yang hidup selama 24 jam. Contoh : Malioboro, Yogyakarta.

Menata zoning kawasan.

· Segmen I dan segmen II Jalan Braga diperuntukkan bagi kegiatan retail yang eksklusif. Pemilihan dan penempatan tenants harus dilakukan dengan cermat.

· Segmen III tetap menjadi kawasan perkantoran dan pemerintahan, karena karakter ruangnya memang sangat berbeda dengan segmen I dan II

· Sepanjang Cikapundung Boulevard diperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan dan aktivitas rekreasi termasuk makan, minum dan hiburan. Bangunan2 di sepanjang boulevard diperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan dan aktivitas rekreasi termasuk makan, minum dan hiburan. Bangunan2 di sepanjang boulevard ini dapat berbentuk ruko maupun komersial murni

· Akses2 dari Cikapundung Boulevard ke Jalan Braga dihidupkan dengan menempatkan fungsi retail dan eksibisi

· Daerah antara Cikapundung Boulevard ke Jalan Braga dihidupkan dengan menempatkan fungsi retail dan eksibisi

· Daerah antara Cikapundung Boulevard dan Jalan Braga diperuntukkan bagi akomodasi dan hunian. Bangunan2nya lebih diarahkan kepada bentuk Guest House. Untuk hunian penduduk, disediakan rumah susun dengan kapasitas optimal

· Pool2 parkir ditempatkan pada Jalan Banceuy-ABC dan Suniaraja ( Viaduct )

· Disekitar kawasan ditempatkan fasilitas2 pendukung pariwisata, sebagai usaha melengkapi yang ada sekarang.

Menata kawasan komersial Braga sebagai Ruang Kota

· Pedestrianisasi dan tata hijau di sepanjang Cikapundung Boulevard

· Penataan fasade dan perbaikan kondisi fisik bangunan di sepanjang Jalan Braga. Elemen2 arsitektur orisinilnya ditampilkan semaksimal mungkin, dan dilakukan penataan etalase

· Menghidupkan suasana dengan penataan signage dan street furniture lainnya

· Memaksimalkan keberadaan node2 di kawasan ini. Sesuai dengan teori, jarak yang optimal bagi pedestrian adalah 400 m. Untuk kawasan Braga, jarak2 antar node-nya berkisar antara 150-300 m, maka node2 tersebut cukup ideal untuk dijadikan pusat2 orientasi

· Menghidupkan suasana malam hari dengan aktivitas hiburan, makan-minum dan eksibisi. Untuk meningkatkan keamanan, penerangan jalan harus ditata dengan baik. Etalase toko2 tidak boleh ditutup panil yang masif, melainkan lebih baik dengan jeruji yang artistik, sehingga turut menyumbang kesan hidup bagi kawasan dan menerangi pedestrianisasi.

( Akmalia )


Iklan

Written by Savitri

23 Desember 2009 pada 10:47

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Henny :
    Thanks, ya ..

    anisavitri

    27 Januari 2010 at 13:56

  2. Wow, web nya bagus nihhh
    Sukses ya

    Henny

    25 Januari 2010 at 10:59

  3. Kerja yang sukup mengesankan, mudah-mudahan dapat ikut serta kembali pada BragFest 2010.
    http://www.facebook.com/album.php?aid=2047744&id=1257324562

    salam budaya

    Mahagenta

    kalbuadi cahyoko

    1 Januari 2010 at 09:10


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: