Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Terburuk dalam penataan kota ? Bandung mesti berbenah, jadi kota ideal lagi.

with 4 comments

Jalan Asia Afrika, bagian dari Groote Postweg yang diperintahkan Daendels. Termasuk 7 titik yang tak boleh ada PKL dan papan reklame. Jalan paling top di Bandung, kebanggaan warga.

Kota Bandung mendapat predikat baru sebagai kota terburuk dalam aspek penataan kota. Predikat itu diberikan Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia ( IAPI ) yang melakukan survey Indonesia Most Liveable City Index tahun 2009. Hasil survey ini mengindikasikan, warga kota Bandung memang sangat tidak puas dengan kondisi penataan kotanya. Ada lima kriteria paling tidak nyaman yang dirasakan warga, yakni ; penataan kota ( 3 % ), kebersihan lingkungan ( 9 % ), ketersediaan fasilitas untuk kaum difabel ( 11 % ) dan ketersediaan ruang terbuka hijau ( 14 % ).

Predikat ini memang kurang mengenakkan kita semua. Kota yang dulu terkenal dengan Parisnya Jawa, kini menjadi kota yang tidak nyaman. Soal sampah yang tak kunjung tertangani dan drainase kota yang buruk, ikut berpengaruh sehingga kota ini kurang pantas lagi menyandang predikat Kota Kembang. Kesemrawutan lalu lintas mengakibatkan tingkat polusi udara sudah mengancam kesehatan warga. Banyak sungai tercemar dan mengalami pendangkalan di sana sini, menyebabkan banjir sering terjadi. Komersialisasi yang bergerak terlalu jauh hingga merampas ruang2 publik.

Hanya 5 kriteria paling nyaman yang dirasakan penduduk Bandung, yaitu ; telekomunikasi ( 97 % ), fasilitas pendidikan ( 94 % ), ketersediaan listrik ( 91 % ) dan angkutan umum ( 89 % ). Soal angkutan umum pun masih perlu ditata lagi. Selama ini, angkutan kota menyebabkan kemacetan lalu lintas hampir di semua jalan yang dilaluinya. Idealnya sebuah kota harus dilengkapi dengan ketersediaan ;

  • berbagai kebutuhan dasar masyarakat perkotaan, seperti hunian yang layak, air bersih dan listrik
  • berbagai fasilitas umum dan sosial, seperti transportasi publik, taman kota, fasilitas ibadah, kesehatan
  • ruang dan tempat publik untuk bersosialisasi dan berinteraksi
  • keamanan, bebas dari rasa takut, mendukung fungsi ekonomi, sosial dan budaya
  • sanitasi dan keindahan lingkungan fisik.

Beberapa masalah yang dimaksud ; plafon merana di Jl. Asia Afrika, depan Gedung Dezon. Pengemis, gelandangan dan PKL bertebaran sepanjang lorong ini.

Banjir cileuncang di Jl. Stasiun Timur. Ini sungai atau jalan, sih ? Siap2 dandanan rusak terciprat. BTW, grup band ST 12 mengambil singkatan nama jalan ini.

Rumah bedeng di pinggiran sungai Jl.Siliwangi. Jarak 50 meter untuk bantaran anak sungai tak diindahkan. Dilema antara ruang hidup yang mahal dan bencana hanyut saat banjir besar.

Dari berbagai kriteria tsb, hanya beberapa yang sudah cukup memuaskan warga kota Bandung. IAPI melakukan risetnya tidak hanya di Bandung, melainkan juga di 121 kota besar lain di Indonesia, diantaranya ; Medan, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banjarmasin, Pontianak, Palangkaraya, Makasar, Manado, dan Jayapura. Yang membuat kita prihatin adalah hasil penilaian IAPI ini menunjukkan Bandung memiliki rapor paling buruk. Namun, masuk akal jika kita memperhatikan kota Bandung saat ini yang padat, sumpek, lalu lintas semrawut, trotoar banyak berubah fungsi dan minimnya ruang terbuka hijau.

Rapor terburuk ini harus disikapi Pemkot Bandung dan warganya dengan langkah bersama mewujudkan kota yang dulu pikabetaheun, kembali menjadi kota ideal. Warga makin betah dan wisatawan makin sering datang dan berbelanja, tanpa mengeluh lalu lintas semrawut, kotor dengan sampah dan udaranya makin panas. ( PR, 4/1/2010 )

Komen A.Savitri :

Menjelang pergantian tahun 2010, saya sempat melihat buku2 karya mendiang Ir.Haryoto Kunto, alumni jurusan Planologi ITB, kelahiran Bandung, 23 Juli 1940. Bagi pria yang berkiprah di Bappeda Jabar ini, Bandung adalah kota penuh pesona, seperti tergambar di beberapa karya tulisnya, diantaranya ; “Wajah Bandung Tempo Doeloe” ( 1984 ), “Semerbak Bunga di Bandung Raya” ( 1986 ), “Savoy Homann : Persinggahan Orang-orang Penting” ( 1989 ), “Balai Agung di Kota Bandung” ( 1996 ), “Tempo Doeloe Cepat Berlalu” ( 1996 ) dan “Ramadhan di Priangan” ( 1996 ).

Beberapa turis Perancis yang datang ke Bandung mengatakan, tak melihat kemiripan antara kotanya dengan Bandung. Andai mereka membuka buku2 Haryoto Kunto, mengamati foto2 ilustrasinya yang antik, kemiripan itu ada. Saya sempat terpukau melihat rapinya penataan kota dan asrinya taman2 di seantero Bandung. Wajah Braga tempo doeloe, wanita2 bule berpakaian ala Cinderella di Gedung Merdeka ( dulu Societeit Concordia ) dan Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika ( dulu bioskop Majestic ) dan kemegahan markas Kementerian Peperangan Hindia Belanda ( kini kawasan Kodam III Siliwangi ). Desain jalannya begitu indah, layaknya Garden City. Ada sequence2 yang memikat, jalan lebar, teduh dan berbunga. Kabut nan sejuk menghiasi rumah2 besar berhalaman luas. Satu2nya yang mengganggu ; para pribumi leluhur kita di situ bukan sebagai pemilik rumah atau pengunjung opera. Tetapi sebagai budak dan pelayan para londo penjajah itu.

Sedihnya setelah merdeka, kota indah bakal ibukota Hindia Belanda ini, lambat laun menurun kualitasnya sampai dijuluki kota terburuk ( dalam penataan kota ). Justru setelah anak negeri yang mengurusnya. Apa kita kekurangan ahli penataan kota yang andal ? Atau pihak pamong praja tidak cukup paham cara menata kota yang baik dan implementasinya di lapangan ? Atau warga kota kurang peduli dengan perkembangan kotanya, sekaligus kurang displin terhadap aturan yang telah dibuat pemkot, seperti K3 ? Atau kurangnya dana dan pengawasan sehingga oknum petugas bisa main mata dengan oknum pengusaha untuk membengkokkan peraturan ? Atau memang kota ini sudah berlebihan beban, karena begitu banyaknya buruh migran/ pengadu nasib yang masuk, melebihi kapasitas desain awal kota Bandung. Atau warga Bandung sendiri ( responden ) sangat tinggi tuntutan pemuasannya ? ( ingat, banyak band yang grogi tampil di Bandung, karena “sadis”-nya penonton Bandung mengkritisi performance band2 di bawah standar mereka ). Atau a, b, c, d, e sekaligus ? ( seperti multiple choice saja ).

Yang jelas, banyak PR buat kita semua, para pemangku kepentingan ( stake holder ). Blog ini salah satunya bertujuan memberi wawasan perkotaan bagi orang awam agar terketuk berbuat lebih baik bagi lingkungan kotanya. By the way, dalam kondisi kurang tertata pun, pengunjung Bandung kian membludak dari hari ke hari, khususnya weekend. Jumlah unit kamar penginapannya lebih banyak dari kota2 di Bali, yang menjadi pilot destination kunjungan wisata Indonesia, bersama Jakarta dan Batam. Fully booked. Bandung punya magnet luar biasa. Keramahan sebagian besar warganya, produk kreatif anak mudanya ( distro, craft, dll ), ragam factory outlet-nya, banyaknya jenjang pendidikan bermutu, plus jangan lupa, kekayaan wisata kulinernya. Mak nyuss ..

Mungkin diawali dari kualitas beras Jabar yang kampiun seantero nusantara. Kata orang, kalau nasinya pulen, makan dengan garam pun enak. Kalau nasinya tidak enak, makan dengan rendang pun kurang enak. Apalagi kalau nasinya pulen dan lauknya nan lezat. Beragam pula. Makanan dari seluruh dunia ada di Bandung, tinggal pilih. Mau karedok atau kebab ? Makanan nusantara atau Eropa ? Timur Tengah ? Afrika ? Oriental ? Murah meriah. Setiap hari ada pilihan baru. ( Wah, jadi promo terselubung ).

Hawanya relatif sejuk pula. Dilihat dari permukaan laut, posisi Bandung ( 715 m dpl ) setelah Gunung Malabar ( 2.347 m dpl ), Tangkuban Perahu ( 2.075 m dpl ), dan Lembang ( 1.320 m dpl ). Di bawah Bandung, baru ada Garut ( 715 m dpl ), Sukabumi ( 600 m dpl ), Bogor ( 266 m dpl ), Yogyakarta ( 113 m dpl ), Solo ( 104 m dpl ), Madiun ( 62 m dpl ), Kediri ( 62 m dpl ), Cirebon, Surabaya, Semarang dan Jakarta. Terpikir juga, kalau kota Bandung kian tertata, saya benar2 harus ngumpet di rumah, terutama akhir pekan. Pasalnya, orang akan makin tumplek bleg di jalanan Bandung. Lalu lintas padat merayap. Sudah sejak jaman kolonial, jumlah turis lebih banyak dari jumlah penduduk Bandung sendiri. Bandung memang mooi …

Vila Isola, sekarang kompleks UPI ( dilihat dari udara ). Inset : tampak depan Isola. Sebagian dari keindahan masa lalu kota Bandung. Dirancang oleh Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker (1882-1949). Karya lainnya ; 1918, Villa Merah ITB, Jalan Tamansari 78
1918, Gedung Sabau, Jl. Kalimantan
1920, KOLOGDAM (Jaarbeurs), Jl. Aceh 50
1921, Gedung Merdeka, Jl. Asia Afrika 65
1922, Landmark (Van Dorp), Jl. Braga
1922, Gereja St. Petrus, Jl. Merdeka
1925, Bioskop Majestic, Jl. Braga
1925, Centre Point (Ruko), Jl. Braga 117
1925, Gereja Bethel, Jl. Wastukencana 1
1925, Observatorium Bosscha, Lembang
1929, Hotel Preanger, Jl. Asia Afrika 81
1933, Mesjid Cipaganti, Jl. Cipaganti 85
1934, Gedung PLN (Gebeo), Jl. Asia Afrika 63
1935, Penjara Sukamiskin, Jl. Ujung Berung
Iklan

Written by Savitri

5 Januari 2010 pada 15:21

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ htanzil : ini posting lama. Seingat saya, waktu itu ada daftar buku yang ditunjukkan, dan saya melihat buku itu ada, meski tak memiliki atau menyimpannya sampai sekarang di rumah.

    Savitri

    18 Agustus 2014 at 10:51

  2. Pada psotingan ini ada tertulis buku Haryoto Kunto berjudul “Tempo Doeloe Cepat Berlalu”, Bandung, 1996. Yang ingin saya tanyakan apakah Sdr/i. A. Savitri memiliki atau pernah melihat fisik bukunya?

    htanzil

    6 Agustus 2014 at 16:49

  3. @ Furqon : saya setuju semangat anda berpihak pada rakyat kecil. Kang Emil, walikota kita yang arsitek ini, setahu saya, juga belajar rancang kota. Visi dia tentang Bandung yang tertata baik mesti juga dipahami oleh jajaran pelaksana di bawahnya. Birokrasi pemerintahan mungkin masalah baru buatnya. Kita mesti sabar menunggu realisasi janji2-nya. Sambil mendisiplin diri, misalnya buang sampah atau berjualan di tempat yang benar. Mulai dari diri sendiri, syukur2 bisa mengingatkan tetangga. Seorang Ridwan Kamil tak bisa kerja sendirian. Ia hanya manajer kota. Kita yang 2,5 juta lebih warga Bandung ini, yang mesti pintar mengelola dan menertibkan diri sesuai aturan yang berlaku.

    Savitri

    4 Agustus 2014 at 13:33

  4. Mengharapkan keindahan dengan melihat ke masa lampau adalah lamunan semua orang, tapi bertentangan dengan sifat alami dari kehidupan bersama yang beragam. Penduduk bertambah banyak, yang ingin punya mobil bertambah sementara usianya tak dibatasi. Orang masuk berwisata ikut menambah macet. Logika mudahnya, jika jumlah kendaraan sedikit, maka bandung lebih nyaman. Tapi apa yang kini diwacanakan adalah yang bukan-bukan, membangun monorail yang nota bene akan menambah kepadatan ruang pandang. Buatlah aturan batasan usia kendaraan, buatlah aturan 3 in 1 di seluruh kota. Sebelum membangun yang baru, pelihara dulu yang ada (parit jalan, dll). Jangan dulu salahkan penduduk di pinggir Cikapundung. Banyak dari mereka sudah tinggal di situ sebelum peraturan pertanahan lahir, jauh sebelum gedung dan tanah negara di pinggir-pinggir jalan di Bandung Utara ditempati/dikuasai warga keturunan. Penghijauan dll jangan difokuskan dengan orientasi penggusuran warga pribumi (sedang warga non pribumi menikmati fasilitas negara). Hijaukanlah area yang gersang, dari batas rel ke Selatan. Jika tak bisa membayangkan, ya naik heli kopter. Anda bisa lihat asia-afrika, ahmad yani, dst, apa banyak pepohonan. Yang ingin ruang terbuka hijau, ya lihat ke purwakarta dll. Pembangunan bukannya harus kembali ke masa lalu, Bandung tempo dulu, melainkan kepada kedisiplinan dari apa yang ada. Di Bangkok, PKL boleh berjualan, tapi dengan tertib sehingga tetap nyaman. Di amerika dan negara lain pun banyak tempat kumuh, tapi mereka terima apa adanya. Anda sebut Venice, toh bangunannya tepat di pinggir sungai. Jangan meributkan hal yang bukan-bukan. Pembangunan bukan untuk investor, pengusaha, konsultan, kontraktor, dan bukan hanya untuk orang kaya. Pembangunan juga hak rakyat kecil, yang tak ingin dikorbankan. Pembangunan yang primer adalah: membuat rakyat mudah mencari nafkah, mudah menyekolahkan anak, mudah menjaga kesehatan, BUKAN pembangunan fisik atau keindahan. Salam

    furqon

    1 Juni 2014 at 22:58


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: