Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

CAFTA & kenaikan TD Listrik. Ayam dulu, telur dulu ?

leave a comment »

Pengantar A.Savitri :

Demo buruh di depan Gedung Sate, memprotes pemberlakuan perdagangan bebas ASEAN-Cina di saat mereka belum betul2 dipersiapkan. Akankah Indonesia survive menghadapi gempuran produk Cina ? Ketika bea masuk nol ?

Malam Jumat Kliwon, bagi sebagian orang menakutkan. Apa pasal ? Tayangan mistis bertubi-tubi mendera memori kita. Dari cerita horor yang masih menjadi andalan sebagian sineas kita, produser acara televisi, radio, pengelola media cetak, sampai brosur2 praktek perdukunan di ruang2 publik ( ditempel di tiang listrik, bangku taman, dsb ), yang banyak mengeramatkan Jumat yang satu ini. Saya ingin menganggapnya biasa saja, sampai suatu hari bunda mengabarkan hal aneh sepulang tahlilan. 22 Januari 2010, Jumat Kliwon, seorang peserta tahlil kerasukan arwah yang sedang ditahlilkan. Ik ( inisial untuk menghormati keluarga almarhum ), mantan karyawan perusahaan motor ternama yang stres setelah di-PHK, ditemukan tewas gantung diri. Arwah Ik menyalahkan istrinya yang ingin menceraikan. Ik ingin tidur dengan ibunya, pemilik warung yang terkadang dikunjungi bunda. Mungkinkah Ik, satu dari sekian korban penerapan CAFTA sejak 1 Januari 2010 ?

Seorang pimpinan di serikat pekerja Bandung menceritakan alasan mereka berdemo di Gedung Sate pada penyiar radio ; Jika urusan perut, kami akan turun ke jalan. Dengan membanjirnya produk Cina ke tanah air yang murah meriah, para pengusaha kita cenderung memilih menjadi pedagang, daripada memproduksi barang sendiri, yang belum tentu laku di pasaran karena besarnya biaya produksi, yang dipicu sebagian besar oleh biaya2 siluman ( pungli ). Belum lagi listrik byar pet byar pet ( pemadaman bergilir yang terkadang tanpa pemberitahuan ), bagaimana kita mau menggenjot produksi memenuhi pesanan ?

Lalu muncul wacana kenaikan Tarif Dasar Listrik sebesar 15 % untuk pelanggan di atas 5000 KW . ( konsumen 450 sampai 900 KW masih disubsidi, konsumen menengah dikenai tarif keekonomian ). Alias harga tak bersaing. Artinya, pabrik2 banyak yang ditutup, pekerja diberhentikan. Meski perjanjiannya sudah diteken tahun 2003, masa pemerintahan Megawati, tapi pemerintah hingga hari ini dianggap belum cukup mempersiapkan rakyat untuk ‘bertanding’ secara fair dengan Cina. It make sense.

Ferry Juliantono, Ketua Dewan Tani Indonesia, yang dikenai tahanan kota karena kevokalannya mengkritisi pemerintah, meng-counter pernyataan Andi Arief, staf khusus presiden ; memang benar tahun 2008 ekspor Indonesia ke Cina mencapai 39 miliar USD berupa komoditas batu bara. Tapi, ingat pula, masuknya buah-buahan, produk hortikultura dan benih Cina ke Indonesia yang mencapai 6,2 miliar. Belum produk lainnya. Bahan baku yang dibutuhkan produsen kita justru yang diekspor sehingga terjadi kelangkaan. Bahan jadi yang kita beli akan menguntungkan mereka. Secara hitung-hitungan, kita masih tekor, ya ?

Dari Badan Pusat Statistik ( BPS ), nilai ekspor Indonesia pada tahun 2009 sebesar 116,49 miliar USD ( menurun 14,98 % dibanding tahun 2008 ). Angka impor produk nonmigas dari Cina selama 2009 mencapai 13,49 miliar USD ( tahun 2004 hanya 3,4 miliar USD ) dari total impor Indonesia sebesar 96,8 miliar USD pada tahun 2009. Cina cepat bangkit dan menyalip negara2 maju, termasuk Amerika dan Uni Eropa. Ketika CAFTA disiapkan 6 November 2001 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam dan 5 November 2002 di Phnom Penh, Kamboja, ekonomi Cina masih biasa2 saja. Negeri Tirai Bambu ini kini, demikian kuat ( sanggup ) menelan negara2 lain termasuk Indonesia.

CAFTA sebuah tantangan atau musibah ? CAFTA sejatinya pasar luas dengan 1,88 miliar penduduk ber GNP 4,27 triliun USD dari 11 negara. ( Cina, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina, Thailand, Laos, Myanmar, Kamboja, Timor Leste ). Dunia segera akan menyatu dan terintegrasi. Berbagai masalah infrastruktur, suku bunga bank, birokrasi harus diterobos. Kerja raksasa harus dilakukan. Jangan sampai tergilas. Jangan ada Ik lagi. Rejeki dari Allah. Sementara pemerintah melakukan renegosiasi dalam pemberlakuan CAFTA, kita mesti menyiapkan banyak hal untuk perang dagang tersebut. Prepare properly to be a winner, people !

CAFTA & kenaikan TD Listrik. Ayam dulu, telur dulu ?

Buruh pabrik sibuk mengerjakan pesanan, sebelum giliran pemadaman listrik. Ketika pengusaha memilih jadi pedagang, karena lebih mudah menjual barang Cina daripada membuat produk sendiri di Indonesia yang masih berbiaya tinggi, bagaimana nasib para buruh ini ?

Pemerintah berencana menaikkan TDL ( Tarif Dasar Listrik ) 15 % bagi pelanggan menengah ke atas tahun ini. Kalangan usaha di Jawa Barat menguatirkan kenaikan TDL tahun ini memunculkan gejolak pada saat mereka tengah menghadapi serbuan produk China dengan pemberlakuan CAFTA ( China ASEAN Free Trade Agreement ). Darwin Zahedy Saleh, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menjelaskan saat ini pemerintah berupaya meningkatkan pelayanan dan kualitas keandalan pasokan listrik untuk masyarakat. Berbagai tahap finalisasi sejumlah pembangkit listrik baru, akan diresmikan menyusul pasokan 530 MW PLTU Labuan Banten dan Labuhan Angin yang baru diresmikan presiden.

Pengamat ekonomi Acuviarta Kartabi di Bandung mengatakan, kenaikan TDL sebaiknya setelah lebaran 2010 agar tidak memicu ekspetasi inflasi selama setahun. Jika diberlakukan pada 6 bulan pertama 2010 akan berdampak berat terhadap perekonomian nasional. Walau kenaikkannya difokuskan pada kelompok pelanggan menengah ke atas, namun imbas terhadap kenaikan harga barang dan jasa tak bisa dihindarkan, tak bisa dilokalisasi. Idealnya, kenaikan TDL dilakukan pada akhir tahun, memanfaatkan trek inflasi yang agak melemah, kata Acuviarta.

Di sisi lain, kenaikan TDL dalam waktu dekat akan memukul industri lokal, yang saat ini berhadapan dengan serbuan produk Cina. Dunia industri masih memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan pemberlakuan CAFTA. Besaran kenaikan 5 % juga dipertanyakan. Idealnya 5 %.”Ini harus dijelaskan oleh pemerintah, atas dasar apa angka 15 persen ini keluar ?” tutur Acuviarta. Jika alasannya untuk membiayai investasi penyediaan listrik, masih banyak alternatif pembiayaan lain. Selain mengundang investor untuk mengembangkan energi dalam negeri, pemerintah juga bisa mengoptimalkan dana APBN dan obligasi PLN.

Hal senada dilontarkan Ketua Umum Himpunan Lembaga Konsumen Indonesia ( HLKT ) Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, Firman Turmantara. Ia menilai, kenaikan TDL tahun ini akan mengakibatkan gejolak di tengah masyarakat, baik dari segi ekonomi maupun politik. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia ( Apindo ) Jawa Barat, Deddy Wijaya, meminta agar pemerintah baru menaikkan TDL tahun depan. Pada dasarnya, pengusaha mendukung, asalkan mereka diberi kesempatan berkonsentrasi menghadapi CAFTA dulu. ( PR, 1/2/2010 ).

Produk lokal, bertahanlah. Sing laku, sing laku ..

Iklan

Written by Savitri

3 Februari 2010 pada 14:37

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: