Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Prinsip teknis rancang kawasan permukiman kota.

with one comment

Peta Struktur Ruang Kawasan Permukiman Kota Tarakan. Terlihat batas kecamatan, kelurahan, permukiman kota, tradisional dan real estate, juga jalan arteri dan kolektor. Meski diijinkan untuk perumahan, cek juga berapa kepadatan hunian dan ketinggian bangunan yang diijinkan ( KDB & KLB ).

Kawasan permukiman adalah tempat dibangunnya kelompok rumah2 yang dihuni keluarga. Secara sosial terorganisir menjadi kelompok RT ( Rukun Tetangga ) dan RW ( Rukun Warga ). Secara arsitektural, perencanaan RT meliputi 20 hingga 40 keluarga yang memiliki masing2 satu unit hunian. RW mencakup 3 – 7 RT dengan populasi 300 – 1400 penduduk. Kelurahan mencakup 7 – 13 RW dengan populasi sampai 10.000 jiwa ( Peraturan Mendagri no.2/ 1980 ). Wilayah kecamatan mencakup hingga 13 kelurahan dengan populasi lebih 20.000 – 50.000 jiwa. Untuk mencapai kesatuan lingkungan yang berpotensi komunitas, radius pembentukan lingkungan hendaknya tidak lebih dari 300 meter atau 36 hektar ( ha ), agar dapat tercapai oleh warga. Luasan lebih dari 36 hektar, perlu memperluas daerah pelayanan umum, sosial dan ekonomi.

Ada 3 kategori kepadatan perencanaan permukiman :

  • Kepadatan rendah, antara 4 – 48 orang/ ha
  • Kepadatan rata-rata, antara 49 – 200 orang/ ha
  • Kepadatan sangat padat, lebih 201 orang/ ha

Untuk satuan daerah rencana permukiman, digunakan indikator kepadatan bangunan setara rencana kepadatan populasi penghuninya. Kepadatan bangunan mencakup :

  • Kepadatan rendah, Koefesien Dasar/ Denah Bangunan ( KDB ) antara 10 – 20 % dan Koefesien Lantai Bangunan ( KLB ) antara 0,2 – 0,5
  • Kepadatan cukup, KDB antara 30 – 50 % dan KLB antara 0,6 – 1,5
  • Kepadatan tinggi, KDB antara 60 – 80 % dan KLB antara 1,6 – 6

Secara fisik permukiman dibentuk rumah2 dalam berbagai morfologi, seperti

  • Rumah tunggal berhalaman/ villa/ wisma, untuk satu kepala keluarga ( KK )
  • Rumah gandeng/ deret ( row houses ) atau berpasangan ( kopel ), untuk 2 keluarga
  • Rumah toko atau rumah kantor
  • Rumah blok/ susun, untuk hunian sewa/ guna/ milik
  • Menara apartemen ( bangunan medium atau tinggi ), untuk kondominium.

Rumah susun menjadi keniscayaan masa kita. Ketika lahan terbatas ( bahkan menyusut karena pemanasan global, air laut meluas ke daratan ) sementara manusia terus bertambah ( program KB yang mengalami banyak kendala ) mungkin kita terpaksa menerima hunian vertikal, sampai akhirnya terbiasa. Pada satu titik menjadi kota vertikal.

Bangunan medium : berlantai banyak yang tingginya 1/5 panjang denah atau kurang.

Bangunan tinggi : berlantai banyak yang tingginya 5 kali panjang denah atau lebih.

Dari morfologi tsb, ukuran umum menentukan kapasitasnya :

  • Kapasitas kecil, antara 2 m2/ orang sampai 6 m2/ orang.
  • Kapasitas sedang/ rata2, antara 7 m2/ orang sampai 14 m2/ orang.
  • Kapasitas besar, antara 15 m2/ orang sampai 50 m2/ orang.
  • Kapasitas mewah, diatas 51 m2/ orang.

Rasio area rumah dengan fasilitasnya.

Kawasan permukiman diarahkan untuk menumbuhkan dan membina rasa solidaritas sosial dan kerjasama beragam penghasilan, etnis, agama, usia, profesi, pendidikan dan jenis kelamin. Masyarakat majemuk yang didasari Pancasila. Sebaliknya, masyarakat yang eksklusif dan homogen hendaknya dihindari karena akan menciptakan kecemburuan sosial yang menahun.

Prinsip tata laksana permukiman majemuk didasari komposisi 1 : 3 : 6. Keberadaan satu hunian besar di kawasan permukiman, mesti diikuti 3 hunian menengah dan 6 enam hunian sederhana/ kecil. Komposisi ini berlaku untuk kawasan perencanaan lebih dari 200 ha. Pada prakteknya, karena mekanisme pasar, tak semudah itu. Namun, desain bisa menjawabnya.

Jumlah fasos, fasum dan fasek lebih ditentukan oleh jumlah populasi. Satu wilayah RW memerlukan satu pusat pelayanan umum dan ekonomi, sbb :

  • Area perumahan … maks. 60 % dari luas wilayah RW.
  • Fasilitas jalan dan utilitas umum … 25 %
  • Area hijau … 10 %
  • Area cadangan … 10 %
  • Area komersial lokal … 0,5 %

Rasio sekolah dengan jumlah penduduk, dan lokasinya.

SD Al-Azhar. Sekolah mestinya diletakkan di dekat/ memiliki area bebas terbuka yang bisa dimanfaatkan untuk olahraga atau upacara bendera, sekaligus ruang penyangga antara permukiman dan fasilitas pendidikan.

Jika dalam RDTR ( Rencana Detail Teknis Ruang ) sebuah kawasan ditetapkan sebagai daerah permukiman/ hunian, maka perlu diketahui berapa kepadatan hunian yang diijinkan. Secara tata ruang, juga mengindikasikan pengesahan pemilik lahan di situ untuk membuat sertifikat. Pedesaan yang lahannya belum berstatus/ sertifikat hak milik/ guna maka perbaikan infrastruktur bisa dilakukan di dalamnya.

Sekalipun sudah ditetapkan sebagai daerah permukiman, realisasi tata guna mikronya tidaklah homogen. Selalu dilengkapi fasilitas dan utilitas umum yang memberi daya hidup sehari-hari. Komunitas warga minimal terdiri 120 kepala keluarga dengan wilayah seluas lebih 30 ha. Rasio perbandingan fasilitas pendidikan dengan jumlah penduduk yang dilayani sbb :

  • SD ( Sekolah Dasar ) Umum, 1200 m2/ 300 murid untuk populasi 1 : 1500, radius layanan 400 meter
  • SMP ( Sekolah Menengah Pertama ), 3000 m2/ 600 murid,  rasio  1 : 12.500, radius 600 meter
  • SMU ( Sekolah Menengah Umum ), 3300 m2/ 600 murid, rasio     1 : 50.000, radius 2000 meter
  • Sekolah Tinggi profesional, 6-12 m2/ mahasiswa, rasio populasi    1 : 250.000, radius 5000 meter

Lokasi sekolah sebaiknya memiliki jalan alternatif, serta bukan jalan kolektor atau arteri agar tak menimbulkan kemacetan pada jam2 tertentu. Untuk keselamatan siswa, sekolah jangan diletakkan di pinggir jalan primer. Melainkan di daerah yang memiliki area bebas terbuka yang bisa dimanfaatkan untuk olahraga atau upacara bendera, sekaligus ruang penyangga antara permukiman dan fasilitas pendidikan. Halte bus atau angkutan umum lainnya berada dalam radius capai kurang dari 200 meter ke sekolah tsb. ( Bagoes P. Wiryomartono ).

Anak2 SD di film "Laskar Pelangi". Ingat ? Meski bangunan sekolah mereka memprihatinkan, tapi semangat belajar dan berprestasi mereka tak kalah dengan sekolah favorit yang lengkap sarananya. Akhirnya, mental juara dan kegigihan yang menentukan anak berhasil menjadi orang, seperti penulis novel "Laskar Pelangi" ; Andrea Hirata

Iklan

Written by Savitri

12 Februari 2010 pada 05:12

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Andini : saya mengambil dari catatan kuliah dosen saya dulu. Saya kuatir, saya tak menyimpan/ mencatat sumber referensi-nya. Maaf.

    Savitri

    14 Oktober 2011 at 15:27


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: