Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Pengendalian wujud bangunan, prasarana dan sarana permukiman.

leave a comment »

Pola fasad bangunan sering menjadi pemersatu sebuah kompleks perumahan.

Paket pengendalian besar dan wujud bangunan meliputi ;

Amplop bangunan, memberi petunjuk garis batas maksimal massa bangunan yang diijinkan. Koefesien luas lantai dasar dan luas total bangunan dapat dikendalikan agar penampilannya membentuk kesatuan sistem fisik yang terorganisir secara visual. Bentuk dan kemiringan atap, juga jarak sempadan ke jalan bisa membentuk sebuah permukiman menjadi satu kesatuan.

Pola fasad, mengarahkan komposisi padat dan transparan menjadi elemen pemersatu komposisi blok atau lingkungan. Diperkuat dengan jenis material, warna, tekstur dan rupa khas bangunan.

Asesoris dan dekorasi, membentuk karakter lingkungan dengan pengorganisasian kotak pos, pagar halaman, tempat sampah, lampu taman, lampu jalan dan pedestrian yang menerus antar unit2 hunian.

Sarana perumahan, meliputi ;

  • Jalan lingkungan, dirancang untuk kecepatan rata2 30 km/ jam sehingga jalan lurus tak lebih dari 500 meter. Sudut jalan harus memiliki putaran minimum 1,2 meter, tak tertutup bangunan, pagar, pohon atau struktur fisik lainnya. Jika pun ada tingginya tak lebih dari 90 cm dari permukaan jalan untuk menghindari kecelakaan atau tabrakan motor. Sudut daerah bebas minimal membentuk segitiga dengan kaki2 minimal 2,4 meter.
  • Pemasangan instalasi, meliputi antena, AC, hidran dan saluran limbah rumah dikendalikan agar tak mengganggu komposisi hunian, bahkan bisa menjadi bagian terpadu dari pola fasad atau komposisi. Ketentuan lokasi atau posisi yang seragam menjadi prinsip teknis setiap unit.
  • Mekanikal pendingin udara, genset dan pengolah limbah, harus diletakkan di lokasi yang tidak mengganggu ketentraman warga. Tidak bising, bergetar, bau dan menjijikkan. Sewage Treatment Plant ( STP ) membutuhkan area bebas terbuka dalam radius 7 meter ( minimal ) di luar jalan, sebelum hunian.
  • Area masuk gedung dan pintu darurat/ evakuasi, bebas dari parkir umum minimal selebar 3 meter sehingga tidak mengganggu keluar masuk orang, pasokan barang atau kendaraan penghuni.

Kenyamanan hidup bertetangga, dijaga dari proses pembangunan konstruksi baru di sekitarnya, meliputi suara, getaran, pemandangan dan keselamatan. Pembangun harus mendapat persetujuan tetangga terdekat, minimal 3 keluarga dengan pengesahan ketua RT setempat. Batas dengan tetangga dalam bentuk pagar atau dinding bangunan, lebih dari satu lantai atau 3,2 meter perlu mendapat persetujuan tetangga jika akan mengganggu pemandangan atau pemasukan cahaya matahari. Konsultasikan dengan tetangga jika pembangunan pondasi dari dinding berbatasan akan mempengaruhi stabilitas tanah di sebelahnya. Fungsi ruang yang bersebelahan tetangga juga perlu dipertimbangkan agar tidak saling mengganggu. Pembangunan hingga ketinggian tertentu akan mengganggu ketenteraman ruang pribadi ( privacy ). Ketinggian yang ditolerir mengacu prinsip amplop tsa.

Di daerah padat, sistem sanitasi lingkungan terpadu diperlukan. Tidak dibenarkan membuat septic tank individual yang rembesannya akan mempengaruhi kualitas air tanahnya sendiri atau tetangga. Sumur dari mata air tidak dianjurkan dibuat di perkotaan. Untuk daerah kurang padat, pembuatan sumur tradisional hanya diijinkan jika memiliki jarak minimal 10 meter ke septic tank dan bidang rembesan. Penggunaan pompa listrik untuk persediaan air minum di unit hunian tidak dianjurkan di daerah yang dilayani PDAM ( yang pelayanannya baik ). Sumur artesis dibatasi dengan ijin pemerintah daerah demi pelestarian lingkungan. Jarak antar sumur artesis 500 meter/ radius 250 meter atau lebih jauh.

Prasarana permukiman, meliputi ;

  • Titik sambung PLN/ listrik ke gedung, diletakkan di luar sehingga petugas meteran dapat mencatat angka pemakaian secara periodik tanpa mengganggu aktivitas dalam hunian. Letaknya lebih 140 cm dari atas lantai dasar yang mudah dicapai dari jalan masuk bangunan. Bebas dari panas matahari maupun api. Terlindung atap, terhindar hujan.
  • Titik sambung telpon rumah, diletakkan dalam hunian, terlindung dari sumber api.
  • Titik sambung gas, bagi pemakai tabung elpiji yang mesti terlindung dari kebocoran, memiliki jendela terbuka ke udara luar, ketika gas dibuka untuk menyalakan kompor gas.
  • Titik sambung air limbah dan hujan. Saluran air limbah hunian ke jaringan kota/ lingkungan harus mudah diperiksa untuk pemeliharaan dan perbaikan. Saluran limbah WC dipisahkan dari saluran limbah dapur. Sampah padat diseleksi dan disaring sejak awal. Bahan/ alat penghancur sampah padat pada sink/ bak cuci digunakan untuk mengatasi saluran mampet.
  • Titik kumpul sampah. Tempat sampah dari bangunan ke sistem pembuangan sampah kota/ lingkungan harus mudah dicapai unit kendaraan pengumpul tanpa mengganggu unit hunian. Tempat sampah sementara disiapkan di depan rumah, dan dirancang mudah untuk memindahkan isinya. Pembakaran sampah dihindarkan, jika sudah mengandalkan pengumpulan sampah oleh dinas kebersihan kota.
  • Akses kendaraan pemadam kebakaran. Disyaratkan jalan lingkungan yang mudah dilalui kendaraan pemadam, minimal selebar 3 meter.
  • Pedestrian dan jalur sepeda, dibangun lebih dari satu unit. Pedestrian ( trotoar ) dirancang agar pejalan kaki terhindar dari becek dan mudah mencapai fasilitas umum. Pembuatan trotoar disarankan terpadu dengan pembangunan saluran drainase dan jogging track.
  • Taman dan bangku umum, untuk menunjang kehidupan bersama. Aktivitas utama untuk tempat bermain anak2, olahraga ( volley, basket, tenis, senam, dll ). Taman umum mudah dicapai dari berbagai penjuru permukiman, oleh pejalan kaki, anak2 dan manula. Maksimum 200 meter dari tempat tinggal terjauh. Strategis, yang mengundang partisipasi dari berbagai arah.
  • Halte bis dan terminal transportasi umum lainnya, disyaratkan untuk wilayah permukiman lebih dari 20 hektar atau lebih dari 70 unit rumah/ hunian. 300 meter dari rumah terjauh ( mengantisipasi orang sakit ). Halte perlu dilengkapi bangku dan telpon umum.
  • Telpon umum dan wartel, untuk lingkungan/ kampung yang terdiri lebih dari 20 rumah, dengan jarak terjauh 300 meter. Satu unit telpon untuk 20-50 penghuni/ warga.
  • Toilet umum dan mushola, dicapai kurang dari 5 menit berjalan atau sekitar 600 meter dari rumah terjauh. Toilet umum tidak mutlak untuk permukiman, namun integrasinya ke mushola/ masjid sangat dianjurkan.
  • Gardu listrik dan fasilitas tampung air minum, biasanya tanggung jawab negara dan wajib dilindungi keberadaannya di daerah milik bersama/ publik. Lahan keduanya terlindung secara hukum dengan peruntukan yang jelas sehingga tak bisa digusur. Layanan gardu listrik distribusi daya ke unit2 hunian mencakup radius pelayanan kurang 800 meter sehingga setiap kawasan memiliki kesatuan ruang perencanaan listrik wilayah tak lebih dari 64 hektar.

(  Bagoes P.Wiryomartono ).

Iklan

Written by Savitri

3 Maret 2010 pada 14:37

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: