Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Keindahan hati manusia, membuat mereka kembali. Piece ..

leave a comment »

Jalan layang Pasopati, kian sering digunakan sebagai ciri Kota Bandung. Kemacetan di mulut jalan sering membuat orang memacu kendaraan terlalu cepat ketika sampai di jalan lowong, sehingga menimbulkan kecelakaan. Tragedi yang tak perlu terjadi. Berhati-hatilah mengemudi.

Long week end, wafat Isa al-Masih, bisa ditebak. Bandung kembali diserbu warga Jakarta dan sekitarnya. Bertepatan usainya Ujian Nasional ( UN ) tingkat SMP. Seminggu sebelumnya, tingkat SMA. Pemajuan jadwal UN menyebabkan para pelajar membatasi diri dari kegiatan sekunder. Surfing internet, termasuk diantaranya. Warnet sepi, bahkan banyak yang tutup sementara. Trafik ke blog GP & C juga drop, sampai setengahnya ( haii .. para pelajar, kalian ternyata separuh pengunjung tersayangku. Semoga kalian lulus semua, ya .. ).  Mereka berkutat dengan buku pelajaran dan latihan soal ujian. Sebagian menambahnya dengan rajin sholat malam dan sedekah. Memohon kemudahan dari Sang Pencipta.

Mario Teguh berkata, jika kita sudah mempersiapkan diri dengan baik, kita tak perlu takut hasilnya. Kegiatan kecil, bertahap, namun konsisten dijalankan akan mendapat hasil yang besar. Termasuk nilai dan kelulusan UN. Kerjakan soal dengan tenang, dengan cukup nutrisi dan istirahat pada malam sebelumnya. Berlaku dalam semua situasi, ketenangan batin adalah sikap terbaik. Damai di hati, lalu hasil UN memuaskan. Damai di hati, pekerjaan menarik diperoleh. Damai di hati, dipercaya memegang posisi lebih tinggi. Damai di hati, uang penuh berkah mengucur deras. Isn’t that nice ? Is that what we want ?

Hukum ditegakkan, korupsi lenyap, Indonesia disegani di Timur Tengah.

Memang, gambaran horor sempat terbayang. Di media, siswa menjerit histeris dan pingsan, mendengar dirinya tak lulus. Para orang tua gusar, protes pada kebijakan dan pelaksanaan UN. Mengapa infrastruktur pendidikan belum merata di seluruh penjuru nusantara, tapi UN ( dan tetap ) dilaksanakan ? ( meski sudah kalah di MA ).  Ini tidak adil bagi anak daerah. Pemerintah berargumen, standar hasil pendidikan yang berlaku secara nasional itu perlu, dan mereka sudah melakukan penyesuaian. Nilai UN bukan satu-satunya faktor kelulusan, ada parameter lain.

( Entah, dengan keputusan Mahkamah Konstitusi ( MK ) kemarin, yang membatalkan UU Badan Hukum Pendidikan. ITB yang sudah 8 tahun mengimplementasi BHMN ( Badan Hukum Milik Negara ) sedang berpikir keras merespon keputusan tsb. Tentunya, mahasiswa gembira kalau biaya kuliah terjangkau lagi seperti dulu. Generasi muda adalah aset bangsa yang wajib dicerdaskan, dengan pendidikan sebagai ujung tombaknya. Indonesia adalah negeri dengan sumber alam terkaya di dunia. Amien Rais berkata, Indonesia ini terlalu kaya untuk dicuri. 350 tahun kita pernah dicuri oleh Belanda. Negeri kincir angin itu, sebagian besar dibangun dari rempah2, keringat dan darah bangsa Indonesia, para pendahulu kita. Sebelumnya, nusantara dijarah oleh bangsa Portugis dan Inggris. Sesudahnya, oleh Jepang. Sekarang, oleh perusahaan2 asing yang menancapkan kukunya dalam2 di bumi persada.

Karena mismanajemen yang kelewat parah di negeri ini ( disebabkan lemahnya penegakan hukum dan korupsi yang menempatkan Indonesia kembali di posisi juru kunci di Asia Pasifik ), hutang Indonesia sampai lebih 1600 trilyun.  Setiap tahun, kita harus membayar 50 trilyun, baru bunganya saja. Itu sebabnya, penuntasan skandal Century menjadi penting. Menjadi pintu masuk bagi perbaikan sistem dan aparat yang korup. Kasus Gayus Tambunan, staf Ditjen Pajak, yang sedang hangat dibicarakan, juga momentum untuk membersihkan Direktorat Pajak, kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Kita harus terus mengawal reformasi di segala lini, hingga Indonesia sampai ke perfoma puncaknya. Disegani bangsa2 lain di level dunia, termasuk di Timur Tengah.

Keramik Dinasti Ming dan blok Ambalat, pelajar dan mahasiswa studi gratis ?

Australia bisa menggratiskan pendidikan bagi warganya hingga jenjang perguruan tinggi. Indonesia, mestinya bisa. Utopis ? Tidak. Ada puluhan ribu artefak kuno di dasar perairan Indonesia yang bisa dijual untuk membayar seluruh hutang, bahkan surplus. Kemarin ( 31/3/2010 ), Danlanal Cirebon, Letkol laut Deny Septiana menyerahkan 2.386  keramik yang diperkirakan dari Dinasti Ming, kepada Panitia Nasional BMKT ( Benda Muatan Kapal Tenggelam ). Belum lagi, kalau kita bisa mengeksplorasi minyak di blok Ambalat dan mengawasi penggunaannya, setelah sebelumnya mengawal reformasi di jajaran pemerintah dan penegak hukum kita. Jika kita bisa melakukannya, maka angka pertumbuhan ekonomi kita tidak hanya 4,3 di masa krisis global . Nomor 3  setelah Cina dan India di G-20. Indonesia mestinya bisa seperti India yang angkanya 7, kata George Soros, ahli finansial ( juga filsuf, dermawan, dan spekulan sukses di saat yang lain bangkrut ). Dengan angka itu lapangan pekerjaan baru, bisa tercipta.

Allah Maha Kaya. Yang Maha Pemurah berkenan menganugerahkan mahligai mutu manikam di zamrud khatulistiwa untuk kita huni. Kita sangat bersyukur. Kekuatan besar diiringi tanggung jawab besar, kata paman Spider Man. Kekayaan besar juga menuntut kemampuan besar untuk mengelola. Iman tebal untuk menjaganya ( juga hati untuk tetap rendah hati ). Selanjutnya, peran besar untuk mendorong terciptanya perdamaian dunia. Setelah Amerika gagal melakukannya, apakah Indonesia harus maju ?  Allah memberi sumber alam terkaya dengan harapan ( peran ) besar pada bangsa ini, don’t you think ?

Anak, kebanggaan orang tua. Semata ?

Pendidikan penting. Agama penting. Keduanya bersinergi membentuk rakyat yang cerdas dan pemerintah yang amanah. Pejabat pemerintah diambil dari stok yang ada di masyarakat. Masyarakatnya baik, pemerintahnya akan baik juga. Lalu, bagaimana dengan kasus sms bocoran jawaban UN yang 85 % benar, atau kertas jawaban yang nilainya bagus, ditukar dengan yang jelek sehingga siswa yang pintar dan jujur justru tidak lulus ? Sistem UN harus terus diperbaiki dari hulu hingga hilir. Semua pemangku kepentingan mengawal. Bagi siswa yang merasa dirugikan, bisa berkaca,  kekurangan apa yang masih dia lakukan di aspek kehidupannya yang lain. Mungkin kurang hormat pada orang tua, atau guru ? Atau sombong ?  Allah Maha Adil, tak mungkin Beliau mendzalimi hamba-Nya. Di sisi lain,  Mario berkata, siapa tahu malaikat mau menyetip jawaban yang salah jika kalian sudah bersikap yang terbaik, sehingga masih bisa lulus UN. Saya baca di koran, ada siswa yang tidak sempat belajar pada saat UN, tapi  bisa lulus. Ajaib ?

Jadi, ditukarnya jawaban kalian yang benar juga terjadi atas seizin-Nya. Tekanan ortu pada anaknya pada masa ini kian kuat. Anak seolah menjadi aset kebanggaan orang tua semata. Anak harus berhasil. Dan, keberhasilan di mata sebagian besar penduduk republik ini masih berorientasi materi. Berhasil artinya punya rumah mentereng, mobil mewah, jabatan basah, atau uang banyak. Ortu lupa kebaikan sebagian dari kita yang membuat negeri ini merdeka, republik ini masih bertahan,  setelah serangkaian bencana alam dahsyat, serbuan produk dan pengaruh asing yang merusak.  Narkoba dan teroris, yang jaringannya sudah mendunia. Sulit ditaklukkan.

Pandang rendah koruptor, Indonesia bersih.

Ada orang yang berdedikasi menyelamatkan manusia tak dikenalnya dari kobaran api. Ada yang membantu menyambung hidup ( juga harapan ) bagi  para korban banjir, longsor dan gempa.  Ada yang membawa orang2 gila yang berkeliaran di jalanan ke rumahnya, dimanusiakan. Ada yang merehabilitasi  dan merawat puluhan pecandu narkoba seperti  putra sendiri dengan kocek pribadi. Ada orang cacat yang memacu semangat rekannya agar tak menyerah pada nasib,  sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.  Ada guru dan perawat yang bersedia mengabdi di pelosok2 terpencil karena panggilan hati. Ada yang ke daerah2 konflik, bahkan sampai ujung Palestina dan Afganistan. Demi mengukir nama Indonesia di ingatan kolektif bangsa lain.

Orang2 baik ini yang membanggakan. Bukan, orang yang bermobil, berumah mewah, yang sibuk menimbun kekayaannya setinggi gunung, terlebih dengan cara mark up, menipu orang atau korupsi. Lalu, ongkang2 kaki menikmati jarahannya di Singapura atau kawasan wisata prestisius, tak peduli sebagian penduduk negeri ini masih mengais hidup atau meregang nyawa akibat dari ulahnya, langsung atau tidak. Bisakah masyarakat memandang rendah orang kaya model begini ?  Selama ini, judgement rendah (  langsung memalingkan muka pada orang yang tidak selevel, meski ia sudah berbuat banyak bagi lingkungannya ) pada orang sederhana  terbukti manjur meningkatkan angka korupsi. Orang2 berbondong-bondong make over rumah, mobil dan penampilannya demi ‘pengakuan sosial’ itu, meski dengan menghalalkan segala cara.

Hukuman sosial ( memandang rendah ) sebaiknya dialihkan pada para koruptor atau orang kaya yang tak jelas asal usulnya itu. Kalau penjara tak cukup menjerakan, hukuman sosial yang konsisten,  menjadi jurus pamungkasnya. Atau, terpikir hukuman mati seperti di Cina ? Karena penjara kita sudah kelebihan penghuni, hingga berjejal-jejal bak ikan pindang. Gerakan anti korupsi didukung penuh seluruh komponen masyarakat dengan memandang rendah para pelakunya. Orang akan berpikir 1000 kali jika mau korupsi. Indonesia akan lebih cepat mencapai peran dan perfoma riil-nya.

Menjadi orang baik lebih penting. UN siapa takut ?

Dan, pelajar tidak stres menjalani UN atau menerima hasilnya. Orang tua sudah punya paradigma baru, yang namanya keberhasilan hakiki. Di mata Allah, berujud damai di hati. Menekan ( mengintimidasi ) anak bukan harga mati. Masih banyak jalan keberhasilan. Jalan lebih manusiawi. Menjadi orang penting itu baik, tapi menjadi orang baik itu lebih penting. Knowledge is power, but character is more, moto SMA 3.  Saya tidak takut UN, saya takut tidak lulus UN, kata 2 pelajar ketika ditanyai. Dunia ini tak selebar daun kelor, adikku. Andre Wongso yang membakar semangat pasukan biru Maung Bandung, Persib, hanya lulusan SD. Ia disegani sebagai motivator nomor satu di Indonesia. Andre belajar dari pengalaman hidupnya yang serba sulit sejak kecil. Jika anda lunak pada kehidupan, maka kehidupan akan keras pada anda.  Jika anda keras pada kehidupan, maka kehidupan akan lunak pada anda, kata Andre bijak. Bekerja keraslah selagi muda.

( Jangan kalah dengan UN. Jangan menyerah, jangan menyerah …, kata d’Masiv ).

Kalian kenal Bob Sadino ? Ya, Om Bob yang suka bercelana pendek ke mana2. Beliau pengusaha sukses agrobisnis. Ia pernah jadi supir taksi untuk menyambung hidup. Tapi, tengok kehidupannya sekarang. Hidup nyaman, mensyukuri hidup, puas bermain dengan anak cucu. Gambaran sukses yang didambakan orang. Kalian tak mengira Om Bob hanya lulusan SMA, kan ? Tidak bergelar insinyur pertanian, master atau doktor seperti kita kira. Sukses, menurut beliau, adalah setitik keberhasilan dari segunung kegagalan. Lebih banyak gagalnya daripada suksesnya. Kita baru benar2 gagal jika berhenti mencoba. Sukses tercapai di puncak ( perfomanya ) dan berlangsung lama. Kemudian, kerajaan bisnisnya berangsur-angsur didelegasikan pada kaum muda. Regenerasi yang mulus.

Ingat masa mudamu, sebelum datang masa tuamu.

Lewat 60 tahun, umumnya manusia mengalami penurunan fisik, yang berpengaruh pada ketajaman penilaian, insting bisnis, kegesitan bertindak dan keberanian mengambil resiko. Serangkai tool yang diperlukan wirausahawan sejati. Wanita di atas usia 35 tahun, umumnya memasuki masa tidak subur. Pra menopause. Produksi estrogen, progesteron dan testoteron menurun. Badan terasa panas, mudah letih, gatal2 dan kering. Sulit tidur, tak berselera, dan tak ingin melakukan apa pun, kata penderitanya yang parah. Sulih hormon dalam pengawasan dokter dan apoteker profesional sesuai kebutuhan spesial masing2 penderita, menjadi solusinya. Tapi, di Amerika sendiri, terapi ini masih sangat mahal. Kalau begitu, ingat masa sehatmu sebelum masa sakitmu. Ingat masa kayamu sebelum masa miskinmu. Ingat masa mudamu, sebelum masa tuamu. Demikian, agama menasehati. Gunakan masa mudamu sebaik-baiknya. Mengumpulkan pahala dan biaya hidup di hari tua.

Tapi, saya masih takut gagal, Mbak. Hmm ..  Apa nasehat ‘kalau takut gagal masalahnya, jangan gagal, solusinya’ bisa berlaku di sini ? Bingung ? Solusinya, jangan bingung. Cari tahu, agar tidak bingung lagi. Saya merasa, dari pengalaman hidup, ada orang2 tertentu di dunia ini yang seperti diberi bulan-bulanan masalah. Belum selesai satu masalah, sudah muncul masalah lain. Bertubi-tubi. Padahal, dari orang tua, tak banyak bekal hidup yang diberi. Terjadi, penyiksaan verbal puluhan tahun. Anak dibanding-bandingkan. Dihina, dibentak, direndahkan terang-terangan di muka umum. Di keramaian peron kereta api atau kepadatan pengunjung konser. Ada sindrom sejenis ortu yang merasa harkatnya naik jika sudah merendahkan orang lain, termasuk anaknya. Mantan staf dekat dan anak2 yang lain, yang tak menyadari parut emosional ini, menerapkan sindrom serupa ke sekitarnya. Satu-satunya cara yang diketahuinya dalam mengasuh anak. Membaca atau mencari tahu teknik mengasuh anak yang lebih baik ? Ogah, ah. Malas baca. Malas mikir.

Mereka memilih ( lebih mudah ) terus menyakiti orang terdekatnya, hingga berakhir selingkuh, yang berujung derita pada anak2 . Anak2 yang diperlakukan buruk, ‘alarm’-nya tak berfungsi ketika para penyiksa ( penipu, manipulator, predator, pemerkosa, psikopat )  datang mendekatinya. Sinyal penyiksa ini mirip dengan ortunya. Anak tak bisa membedakan mana orang yang jahat, lampu merahnya tidak menyala, insting bahaya tak berujung tindakan untuk menjauhi atau menghentikannya. Terjadilah kekerasan seperti yang dialami penyanyi kondang Rihanna, Chris Brown dan top model Tyra Bank. Jika, anda merasa terus bertemu orang yang salah, cek masa lalu anda. Kesalahan terbesar dalam hidup, adalah ketika kita salah memilih orang. Anak2  yang disiksa ( secara verbal atau fisik ) sangat rentan bertemu dengan orang2 sesat ini. Istilahnya, mereka sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kesengsaraan demi kesengsaraan seperti membutuhi perjalanan hidupnya. Anda baca beritanya di koran ; anak dilecehkan ayah kandungnya, direnggut tetangganya, diperdagangkan orang yang baru dikenalnya ( trafficking ), disiksa dan dihamili pacarnya, dinodai pengajarnya, dihabisi pembunuh berdarah dingin, serial killer, dsb.

Pengalaman traumatik, membuahkan kepekaan.

Ya, ada orang2 tertentu yang harus setengah mati berusaha untuk bisa dikatakan normal oleh masyarakat, atau sekedar mendapatkan sesuatu yang menjadi haknya. Di saat anak seusianya, mendapatkan begitu mudahnya dari ortu dan lingkungannya. Seperti di jalan tol, mulus. Smooth, dan menerima banyak pujian dengan begitu gampangnya. Sementara, ada anak lain yang berjuang keras, terkuras energinya, hanya untuk meredakan pikiran2 negatif di kepalanya, hasil omelan dan penistaan orang terdekatnya yang mengendap di selama belasan bahkan puluhan tahun di kepalanya. Letih, sebelum berperang melawan persaingan hidup yang makin keras dan rumit. Tapi, sekali kita bisa melampaui trauma masa kecil itu, mengatasi rintangan2 berat yang seperti tak ada habisnya, tahu2 kita sudah sampai di puncak gunung. Menjadi seseorang, yang kita kira kita tak mampu. Hampir tak menapak, atau justru tersungkur tawadhu. Nikmat. ( Ingat, bagaimana para biksu shaolin menempa diri ? Mengangkat 2 ember penuh air lalu penuh batu ke puncak gunung secepatnya. Ribuan kali ? Tubuh mereka jadi sekuat baja dan seringan bulu )

Jika mau lebih dalam merenung, orang dengan serangkaian ujian berat ini pastinya ada apa-apanya. Kenapa ia ditempa begitu berat ? Kenapa Allah begitu sibuknya mendatangkan banyak cobaan dan orang brengsek pada kita ? Kan, lebih gampang dibiarkan seperti yang lainnya, lempeng2 saja. Allah menyiapkan sesuatu yang besar, yang hanya bisa ditangani oleh orang2 yang sudah ditempanya. Orang yang harus mengerahkan seluruh kemampuannya dari A sampai Z, otak kanan, kiri, kecil dan belakang, agar bisa survive. Instingnya terasah tajam, nuraninya digosok bening, pengetahuannya ditimba luas, ototnya dibetot sekuat baja, stamina dipacu hingga Himalaya.

Membulatkan lingkaran, memenuhi takdir.

Oprah Winfrey, salah satu yang berangkat dari masa kecil tak bahagia, kemudian menjelma figur yang berpengaruh di dunia. Menentukan kemenangan Obama, disamping Jesse Jackson, veteran politikus yang sekulit dengannya. Banyak pengarang besar lahir dari masa kecil traumatik. Berbekal kepekaan di atas rata2 orang pada umumnya. Makin tragis hidupnya, makin banyak yang harus dipelajarinya, agar bisa keluar dari siklus derita. Makin luas pengetahuan dan wawasannya. Makin besar kemampuannya mempengaruhi orang. Para motivator top terasah dari pengalaman  hidupnya yang sulit. Sania Twain dan Titiek Puspa menjadi legenda karena kegigihan berjuang sejak remaja membesarkan adik-adiknya. Jadi, tilik apa peran anda di dunia ? Istilah Oprah, membulatkan lingkaran anda.

Jadi, UN bukan akhir dunia. Apa pun hasilnya. Rencana besar sudah disiapkan-Nya untuk kalian. Jemputlah dengan persiapan matang dan ibadah kusyu’. Oke ?

Supir angkot bak guide. Putra E.Douwess Dekker di Lembang.

Setelah nonton “Oasis” di Metro TV  tentang Desa Jelekong, desa pelukis yang dirintis bapak Odin Rohidin, tangan saya tiba2 gatal melukis. Butuh sedikitnya 2 kanvas untuk melampiaskan hasrat yang berkecamuk. Arah destinasi jelas, diskon 30 % di Gramedia dan pembukaan gerai Electronic Solution di Istana Plaza ( 1 – 4 April 2010 ), lengkap dengan harga2 promonya yang menggiurkan dompet. Dengan prediksi macet, saya memilih naik angkot. Look, what I find out ?

“Wah, kalau mau ke Setiabudi, mesti naik ini dulu, nanti berhenti di Gandok. Lalu, diteruskan naik angkot Ledeng ke Setiabudi, ” kata supir dengan logat Sunda yang kental pada mahasiswa baru keturunan Tionghoa, yang menyetop angkotnya di depan kampus Unpad. Sesampainya, di pertigaan Gandok yang macet, si supir menawarkan si mahasiswa turun berganti angkot.”Atau nanti di Lamping saja, daripada muter lagi, jalan. Capek.” Si mahasiswa mengiyakan.

”Tah, eta di sana, angkot Ledengnya, Dik.” Si supir tersenyum sumringrah, dibalas senyum si mahasiswa baru dengan mimik lega. ( Orang baru tahu Bandung, rupanya ). “Terima kasih, Mang,” kata si mahasiswa.”Sami2”, sahut si supir senang. Saya duduk persis di belakang supir, ikut senang. Ini supir kayak guide saja. Tahu seluk beluk Bandung. Ramah pula. ( Di Jalan Lembang, setelah Setiabudi, ada kediaman Kesworo ( 64 tahun ), putra Dr. Setiabudi alias Ernest Douwess Dekker, keponakan Multatuli yang mengarang “Max Havelar”. Putra pahlawan nasional ini membuka pabrik kerupuk palembang dan memberi pekerjaan pada rakyat kecil di sekitarnya. Bule Belanda yang turun temurun membantu orang Indonesia. Bule yang jadi pahlawan di sini. Keren, ya .. ).

Dengan keramahan dan sopan santun, siapa yang tak betah di Bandung ?  Kemacetan yang seperti menjadi keseharian Kota Bandung, tak terlalu dihiraukan lagi,  jika keindahan hati manusia menyapanya. Hati panas, langsung sueejuuk. Supir angkot ini salah satu bentuk hidupnya. Si mahasiswa dan saya, saksinya. Buat yang dianugerahi kepekaan lebih, akan bisa menikmati ‘sajian’  kalbu dari-Nya. Buah yang bisa dipetik dari para pengecap masa kecil suram, jika pandai memaknai semua peristiwa dalam hidupnya. Rasanya jauh lebih nikmat dari berjemur di Pantai Kuta, Bali. Minum kelapa muda seraya melihat bule2 surfing atau bergelimpangan di pasir,  mencoklatkan badan ( aneh ya, orang kita ingin memutihkan kulit, bule2 malah ingin melegamkan kulit. Kulit sawo matang, seksi dan eksotis, kata mereka. Weird ). Sungguh. Pantas, Jero Wacik, Menbudpar kita mem-favoritkan Kota Bandung, setelah kampung halamannya sendiri, Bali. Jalur penerbangan dari Kuala Lumpur diputuskannya bisa langsung ke Bandung.

Pilih jalanan mulus atau warga yang santun ?

Tiba di IP, isi rak buku sudah berceceran, sebagian. Rupanya, anak sekolah mengekspresikan ‘kemerdekaan’-nya setelah ujian dengan mengaduk barang murah meriah yang dipajang di Gramedia. Mencari-cari buku cerita yang disukai. Komik asyik, dsb. Saya sampai rebutan dengan 2 anak menggunakan komputer customer service. Novel “Gajah Mada, Perang Bubat” di database ternyata kosong stoknya. Saya lalu melenggang ke bagian alat tulis. 2 kanvas yang saya pilih, ternyata di data base harganya lebih tinggi. Setelah didiskon, memang masih lebih murah daripada harga yang tertera di tepi kanvas. Melihat usaha asisten kasir mengecek kembali ke rak dan permintaan maaf sang kasir, hati siapa yang tidak luluh ? Ah, masih lumayan. Bungkus, kata saya. Dibandingkan pramuniaga butik, kasir swalayan dan pedagang pasar tradisional ketika saya menjadi turis domestik di Bali,  perlakuan yang saya terima hari ini masih menyenangkan. Saya meninggalkan IP dengan perasaan puas.

Saya teringat, tulisan orang Bandung di Surat Pembaca PR kemarin, yang mengeluhkan kantong ekstra yang tidak diberikan pramuniaga sebuah toko donat, untuk temannya dari Malaysia. Padahal, ia sudah memborong banyak. Ia merasa perlu menulis di PR, agar keberatan si pramuniaga tidak membuat orang Malaysia menganggap orang Bandung pelit. Satu bentuk kecintaan warga Bandung terhadap kotanya. Patut diapresiasi. Itukah sebabnya, dari hari ke hari, pelayanan penggiat wisata belanja di Bandung terus membaik ? Bahkan, sampai level supir angkot. Mungkinkah, pihak Organda juga mem-briefing anggotanya tentang kepuasan wisatawan ?  Anda pilih kota mentereng dipenuhi gedung pencakar langit, tapi warganya dingin, acuh tak acuh,  seperti negara tetangga ? Atau, kota macet dengan jalan berlubang, penuh bangunan antik, dan warganya santun, ramah dan senang membantu ? Kalau anda betul2 humanis tentu anda memilih yang kedua. Kota indah, dengan gedung pintar dan jalanan mulus, sekaligus warganya ramah bersahaja, bisakah ? Tantangan bagi Kota Bandung, selanjutnya.

( Jika anda menemui anomali dari sikap rata2 penghuni Kota Bandung, seperti sebuah komen dari pengunjung blog ini, yang pernah ketemu orang berucap kasar yang katanya dari Bandung, anda mesti bisa membedakan mana warga Bandung asli dan mana warga pendatang yang baru belajar bahasa yang katanya Sunda. Bahasa Sunda adalah bahasa tersulit setelah bahasa Perancis, kata orang. Ada undak unduk, tingkatannya. Lebih mudah, tentu, mencomot sana sini semau gue, lalu mengaku dari Bandung dan mengaku sedang berbahasa Sunda. Tapi, roh Sunda-nya ( tutur kata dan perilaku santun ) tak dihayati. Nama Bandung dipertaruhkan.

40.000 PKL menyesaki Bandung. 80 % pendatang.

Kota tak hanya kumpulan gedung. Namun, harmoni antara lingkungan fisik dan warga kota. Keduanya berinteraksi selama kota berkembang. Perubahan positif memberi manfaat. Degradasinya berdampak merugikan. Contoh, keberadaan PKL di Alun-alun, Bandung. Di mana ada orang berkumpul, maka di situ pula para PKL muncul. Larangan PKL di 7 titik, termasuk Alun2 tak dihiraukan. Apa daya, desakan perut lebih mengemuka. Sementara, pemerintah tak bisa berbuat banyak untuk mengangkat rakyat kecil. PKL menjadi katup pengaman ekonomi.

Fredi Rigaswara, ketua satpol PP, Bandung pernah mengatakan, sulitnya menertibkan pedagang kaki lima ( PKL ) di Bandung. PKL di kota lain relatif bisa ditertibkan. Dengan pendekatan kultural ( Solo ) dan represif ( Surabaya ). Di Solo, jumlah PKL hanya 4000. Surabaya, cuma 14.000. Di Bandung, jumlah PKL mencapai 40.000. 80 % -nya adalah pendatang. Bandingkan dengan luas wilayahnya sendiri. Bandung dibandingkan Surabaya. Anda bayangkan mengaturnya. Para PKL ini jika ditertibkan, bahkan ada yang mengobrak-abrik dagangannya sendiri agar dipotret media sehingga aparat satpol yang disudutkan, dituduh memaksa dengan kekerasan. Anda lihat banyak pengamen dan gelandangan di perempatan jalan dan sudut2 taman kota. Kalau anda mau bertanya, anda akan tahu, kebanyakan mereka datang dari luar kota Bandung. Para pelaku curanmor, perampokan, kejahatan serius, kebanyakan dari luar kota, bahkan luar Jawa. Terdesak kebutuhan hidup dan tuntutan sukses ( kaya ) di tanah rantau.

Keramahan warga Bandung mempunyai 2 sisi. Satu sisi menarik wisatawan dan investor. Sisi lainnya, menarik predator yang kepepet hidup atau dibutakan nafsu. Anda yang mampir ke Bandung, mesti tetap waspada dan melindungi diri. Terutama setelah jam 9 malam. Saat geng motor dan pelaku dark side mengambil alih ‘kekuasaan’ atas kota yang tenang ini. 3 minggu lalu, saya ‘mengembara’ di trotoar Jalan Asia Afrika dengan tustel di tangan. Di depan Gedung Asia Afrika, selop saya putus talinya. Meski, saya tak mengulum Mentos, saya ingin tetap cool berjalan dengan  kaki kanan tanpa alas. Merasakan tekstur trotoar di sana, jiwa raga. Namun, niat saya tak kesampaian. Sebuah Toyota Avanza diam2 mengikuti saya. Pengemudinya melongok menawari tumpangan kepada saya.

Ingat statistik trafficking di Jawa Barat cukup tinggi, saya lalu berpikir, apa si pengemudi sedang menawar saya ? Kuatir dari pintu2 berkaca gelap itu tiba2 keluar beberapa orang menyekap saya, saya urung bersikap cool. Saya memilih lari terbirit-birit mencari toko sepatu terdekat di bawah tatapan heran orang2 yang saya lewati. Ada gerai Bata di Dalem Kaum. Saya harus punya selop super kuat, mencegah terulangnya peristiwa ini. Saya tak ingin tinggal nama, seperti peristiwa penculikan di koran2. Saya harus punya alas kaki cadangan, kemana pun saya pergi. Berlari gesit, kapan pun saya mau. Citizen journalist tanpa alas kaki, sepertinya memelas, ya .. )

Migran dipulang paksa. 2 makhluk aneh.

Dari IP, saya naik angkot lagi  dengan 2 kanvas dan 3 buku di tangan. Ada gadis muda di seberang tempat duduk saya. Mungkin baru sweet seventeen. Katanya baru pulang dari Malaysia. Datang dari arah bandara Husein Sastranegara. Jadi pembantu bergaji 1,8 juta. Saat itu pukul 20.45 malam. Di sebelah TKI muda, seorang wanita berusia 34 tahun, berkerudung, menimpali,” Kalau segitu mah di Bandung juga ada. 1- 1,5  juta mau ? Nggak usah jauh2 ke negeri orang. Negeri sendiri lebih aman. Penyiksaan TKI nggak ada. Di tempat bule lebih bagus lagi gajinya”. ( Di Ciumbuleuit atas yang berhawa dingin, tempat tinggal si kerudung, memang banyak keturunan bule. Sebagian mereka dari tentara Belanda yang tidak kembali ke negerinya. Perkawinan silang dengan pribumi membuat status mereka dipertanyakan ( dipandang sebelah mata ) oleh keturunan murni di Belanda. Mereka memilih tetap tinggal di Indonesia, mendiami rumah peninggalan orang tuanya ).

Saya menoleh heran,”Kalian berdua saling kenal ?”. Keduanya menggeleng. Inosen. Kalian aneh, kata saya. Orang lain, boro2 menyapa dan mau tahu kesulitan orang. Ini malah nawarin kerjaan. Hari gini. Si kerudung tersenyum dan berkata,”Saya juga kenalan di angkot dengan penumpang dari Unpad, tadi. Saya mah sudah biasa nawarin kerja ke orang yang perlu dibantu. Anak ini mau balik ke Cirebon dan kekurangan uang. Kebetulan, saya tahu info, orang2 yang perlu pembantu. Tinggal dihubungkan, kan ? Saya mengernyit sekaligus takjub masih orang sebaik ini di Bandung.

Ah, cek dulu identitasnya, kata saya.”Coba lihat KTP-nya. Masuk kota Bandung harus jelas asal usulnya”. Si TKI hanya bisa menyodorkan paspor. Saya lihat cap 9 September 2009. Kadaluarsa. Apa remaja ini termasuk para migran yang dipulangkan secara paksa oleh pemerintah Malaysia karena melebihi izin tinggal ? Potensi masalah. Ia lalu saya sarankan kangen-kangenan dulu dengan keluarganya di Cirebon yang telah 2 tahun ia tinggalkan, mengurus kartu  identitas jika ingin bekerja menerima tawaran si kerudung. Saya turun, hanya bisa membantu ongkos angkot si TKI sampai terminal. Dalam hati saya berdoa agar Allah memberinya pekerjaan di Cirebon saja, dekat dengan keluarganya.

Saya berjalan ke rumah, seraya mencerna pengalaman hari itu. Di antara hiruk pikuk kota dan kesibukan warganya, masih ada seuntai kebaikan yang mendamaikan hati. Warga Bandung yang nyunda dan santun terus terngiang di benak saya. Mungkin juga di benak sebagian orang yang pernah bertandang di kota ini. Mereka pasti ingin datang lagi. Memacetkan jalan2 Bandung lagi, untuk wisata belanja atau kuliner. Studi, atau lainnya. Tak ada yang seperti ini di tempat lain. Saya tahu apa yang sebetulnya yang mereka cari. Keindahan hati manusia memang tiada duanya.  Good job, people..

Iklan

Written by Savitri

2 April 2010 pada 16:55

Ditulis dalam Ragam

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: