Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Sayangi bumi : tas kain anti sampah plastik, program Satu Hari tanpa Nasi, 100 RW ikut BG&C

leave a comment »

Pengantar A.Savitri

Sushi dalam kemasan. Anda tahu tuna sirip biru diambang kepunahan ? 2 jam sebelum kadaluarsa, produk makanan jadi biasanya dibuang. Karena kemasan lecet, sering konsumen mengabaikan produk yang berumur tak lebih dari 8 jam ini. Anda tahu sebelum dan setelah meninggalkannya ?

It’s ridiculous.  Gaya hidup modern ternyata menyesakkan dada. Pernah terpikir ketika di rak supermarket, anda menyingkirkan makanan siap santap atau potongan tuna karena sedikit lecet di kemasannya ?   Bagaimana nasibnya setelah anda meninggalkan kasir tanpanya ?  2 jam sebelum kadaluarsa, produk olahan semacam itu masuk ke tempat sampah. Padahal, begitu panjang perjalanan yang telah dilaluinya. Begitu banyak duka nestapa yang menyertainya. Begitu banyak manusia di belahan dunia lain terpinggirkan dan dikorbankan karenanya. Dan, ujung-ujungnya   berakhir di tempat sampah ?

Di mulai dari  pembabatan 26 km2 hutan hujan Amazon untuk menanam kedelai ( di Indonesia untuk kelapa sawit ). Ladang2 kedelai itu untuk memenuhi pesanan pakan sapi, ayam, ternak orang Eropa dan negara2 maju. Mereka sekarang makan daging 5 kali lebih banyak daripada 50 tahun yang lalu. Brasil mendapat 10 juta USD dari penanaman kedelai ini, namun petani dan rakyat yang tergusur hanya bisa gigit jari, mengerang lalu mati ( keracunan pestisida yang mencemari air sungai dan tanah mereka akibat intensifikasi pertanian/ revolusi hijau ). Hutan yang gundul menyebabkan erosi dan banjir yang menghanyutkan rumah serta harta benda. Juga, menjauhkan ikan dari warga penangkapnya.“Mereka ( warga negara maju ) hidup enak di atas penderitaan rakyat di sisi lain dunia,” kata seorang penggiat lingkungan di sana. ( saya jadi terpikir untuk makan daging sekali seminggu saja atau menggantinya dengan ikan ).

Belum lagi, nasib sapi, ayam, dll dari peternakan intensif. Yang sejak lahir hingga disembelih hanya bisa berdiri di kandang seukuran pas dirinya. Ia tak bisa bergerak, menoleh atau pun berputar. Ia hanya pasrah ketika ekornya dipotong agar tidak mengganggu sapi di sebelahnya. Ketika sakit, si sapi baru boleh masuk ke kandang yang lebih besar. Setelah reda sakitnya, si sapi yang malang dikembalikan ke kandangnya yang sempit. Lebih sering lagi, sapi2 ini dibiarkan sakit, sampai mati. Seorang juri di tayangan “Iron Chef” pernah mengatakan, sapi di negara2 maju disetelkan musik klasik sebelum dipotong, jadi dagingnya tidak liat ( sapi tidak tegang ). Di Indonesia, sapi2 dipotong begitu saja. Bahkan, ada yang baru setengah memotong lalu meninggalkannya ( si penjagal tak lama kemudian sakaratul maut dengan lolongan seperti disembelih berulang-ulang ( tidak tuntas ) seperti sapi2 yang suka dipermainkannya ). Lebaran tahun lalu, di teve, saya lihat sapi kurban lari ketakutan di antara kendaraan di jalan raya ketika akan disembelih. Lebih mengenaskan, setelah disembelih, dipajang di rak lalu dibuang di tempat sampah. Anda bisa menakar kekejaman manusia seperti ini ?

3 karung makanan dibuang, orang2  kelaparan hanya bisa mati.

Kemudian, nasib mengenaskan juga menimpa tuna sirip biru yang terus diburu. Padahal sudah diambang kepunahan.  2600 ton tuna sirip biru berubah menjadi sushi dan sashimi di meja makan setiap tahunnya.  Lebih sial lagi, cuma menghuni tempat sampah. Padahal kelestariannya terancam. Harganya perkilo 1000 euro. Tiap kapal menangkap 3000 kg/ hari. Lebih 50 %  tuna yang malang ditangkap dengan skala industri. Nelayan tradisional menangkap  2 % – nya. Warga Jepang fans beratnya. Meski ada larangan/ pembatasan tuna sirip biru agar populasinya kembali normal, ( seperti banyak hal genting lainnya di dunia ini )  generasi kita seperti burung yang menyembunyikan kepala di pasir. Menyangkal tanggung jawab melestarikan ( dan mengendali nafsu makannya ).

3 karung makanan di toko ini dibuang 2 jam sebelum kadaluarsa, kata pramuniaga Jepang ( sembunyi2, ia bisa dipecat kalau ketahuan memberi tahu ). Ada 45.000 toko seperti ini di Jepang. Padahal bahan makanan tsb sudah 4 kali keliling dunia untuk membuatnya. Anehnya, pemilik toko enggan memberi makanan terbuang itu pada orang miskin dan kelaparan. ( nggak nyangka, di Jepang pun ada yang melarat, yang pelit apalagi ). Populasinya 12 %. Di Perancis, 2 juta orang kekurangan makanan. Di dunia, 1 milyar orang kelaparan. Untuk menjaga citra produk, para pemilik toko memilih memberikannya pada ternak atau diolah menjadi pupuk. Mereka juga tak sudi memberikannya pada relawan sosial yang memintanya. Pemerintah tak peduli, jadi orang2 ini terlantar, kata sang aktivis. Bagaimana dengan Indonesia, ya ?

Ganti ponsel terbaru ?  Rakyat Kongo mati terkubur atau terbunuh.

Warga Kongo sedang menyaring coltan, bahan baku ponsel. Selera kita berganti ponsel menyuburkan kekerasan di negeri lain. Coltan ditukar dengan senjata untuk mempertahankan kekuasaan di wilayah yang saling bertikai. Rakyat menjadi korban.

Ponsel,  jins, komputer dan plastik. Merasa akrab ?  Benda2 tersebut atribut gaya hidup masa kini. Orang tak ingin ketinggalan jaman. Selalu mengejar keluaran terbaru. High end. Kuatir dibilang kuno, tersisih dari pergaulan. Namun, apakah kita sadar apa yang terjadi di belahan dunia lain, ketika kita memuaskan diri dengan tuntutan ‘modernisasi’ ?  Coltan, bahan baku ponsel, 20 % -nya disuplai dari Kongo. Kongo, negeri di tengah Afrika, 70 % wilayahnya mengandung coltan ;  bahan pembuat ponsel, komputer dan rudal. Keistimewaan coltan ; tahan karat dan panas, hingga nilainya 2-3 kali lebih mahal dari emas. Di Kongo, harga per kilogramnya mencapai 5 euro. Di pasar internasional melonjak hingga 50.000 euro/ kg.

Sayangnya, yang menikmati keuntungan ini bukan penambang tradisional ( rakyat atau pengungsi dari genosida di Rwanda ) yang sudah bertaruh nyawa mengikis  gunung hingga jauh ke perut bumi tanpa pengaman. Panglima2 bersenjata yang menguasai wilayah2 terpecah belah itu tinggal merebut coltan dari tangan penambang lugu. Seringkali mereka masih kecil, 6 – 7 tahun, tidak bersekolah, hanya bisa menyabung nyawa demi sesuap nasi ( di milenium kedua, masih banyak  derita serupa. Kemarin di TransTV, saya lihat penambang perak tradisional di Indonesia  bekerja dengan cara tak jauh berbeda. Dalam liang sesempit itu, dinding dan langit2 gua kapan saja bisa runtuh ). Dan yang paling untung, tentu, pemasok senjata dan perusahaan multinasional ( anda tahu siapa mereka ). Senjata  diperoleh dari Barat, demi mengamankan kepentingan masing2. Siklus kekerasan terus berputar, jika penduduk dunia keranjingan mengganti ponsel mengikuti trend terbaru, kata aktivis di sana.

Jins belel keliling dunia dan merusak lingkungan ?

Tahukah anda, jins sudah keliling 12 negara sebelum anda pakai ? Menempuh 65.000 km untuk mendapatkan kapas, kancing, dsb. Setiap 1 kg kapas butuh 25.000  liter air. Untuk mengolah limbah jins butuh 1 juta euro ( sangat sedikit pabrik yang sadar lingkungan lalu menggunakan instalasi pengolah limbah sesuai aturan, mereka merasa lebih ‘untung’ jika langsung membuang ke sungai atau laut. Biota di dalamnya pada mampus, go to hell ). Apalagi  jenis yang banyak menggunakan bahan kimia, seperti  jins belel ( buatan ). Untuk 1 jins perlu 1 liter pestisida dan 25 liter bensin. Penduduk dunia yang kini berjumlah 6,5 milyar menggunakan 90 juta jins per tahun. Bayangkan berapa banyak energi dan kerusakan lingkungan yang terjadi ketika penduduk bumi mencapai  9 milyar pada tahun 2050 ?

Aktivis lingkungan menyarankan penggunaan jins dari stand2 amal. Lebih baik menggunakan jins belel yang belel karena bekas pakai. Bukan di-wash hingga terkesan belel, lalu cairannya meracuni ikan di sungai yang akhirnya anda makan juga.

Gunjakima, masa depan Tokyo ?  Sampah beracun untuk negara berkembang.

Gunjakima, pulau berpenduduk 5000 orang yang kini telah ditinggalkan. Dotoku Samakana, mantan pekerja tambang, dulu tinggal di lantai 9  apartemen pekerja pada tahun 1974, sebelum pulau pertambangan itu ditutup. Pemerintah Jepang memilih membeli dari luar ketimbang meneruskan pertambangan dalam negeri.  Ego orang Jepang, kata Dotoku. Tokyo bisa berakhir seperti tempat ini yang dulu wilayah tercanggih di Jepang. Kini pulau Gunjakima menjadi bagian dari alam lagi. Reruntuhan.

Tiap tahun, 1 orang Perancis membuang sekitar 15 kg sampah komputer dan elektronik. Jika dijumlahkan, setara dengan 4000 menara Eifel. Di Guiyu, Cina, pemulung mendaur ulang sampah sampah2 tsb  seraya menghirup uap timah panas yang beracun. Cobalt, kadmium dan raksa dalam sampah tsb  menyebabkan TBC, kata dr.Kuo. 4000  ton sampah elektronik di buang ke Guiyu tiap jam. Tapi mereka tak berdaya. Sebagian warga Cina akan melakukan pekerjaan apa saja untuk bisa hidup. RRC sudah melarang impor sampah elektronik, tapi mereka yang bermain di luar hukum jalan terus. AS dan Jepang secara tegas menolak mengikuti perjanjian. Mereka memilih membuang sampah elektronik dari negara maju ke negara berkembang, daripada meracuni tanah dan rakyatnya sendiri. ( sementara negara2 berkembang harus/ dipaksa mematuhi kesepakatan iklim, ketetapan PBB, aturan HAM, dsb, negara maju terus mendapat perkecualian dan keistimewaan. Adakah badan dunia yang adil ? )

Segunung cinta dari para aktivis lingkungan.

Where is the love ? Sering kita mendengar itu. Dari tayangan “Earth from Above” garapan orang Perancis itu, saya baru ngeh kenapa aktivis lingkungan dan relawan sosial mau berbuat lebih bagi masyarakatnya. Di Jepang,  Ken Ginochi, memulai kampanye pembersihan gunung Fuji dengan beberapa orang kawan. Seperti di luar angkasa ( dengan sampah satelit, pesawat ulak alik, teleskop, dsb ), di gunung pun dipenuhi sampah peninggalan para pendaki dan pelancong. Kaleng bir, botol minuman, korek api, tenda, matras, dsb. Kepedulian Ken kemudian diikuti lebih banyak orang hingga mencapai lebih 7000 peserta, hari ini. Tiap tahun G.Fuji dikunjungi 30.000 orang. Saya lihat senyum Ken  merekah, ketika perhatiannya pada gunung tsb direspon positif oleh warga setanah air. Ia semula mengira idenya akan dilecehkan. Ternyata tidak, anak2 pun terlihat riang mengikuti jejaknya. Ken tak menduga perbuatan kecilnya memungut sampah bisa mengundang kebaikan dari ribuan orang. Wajahnya terlihat syahdu merenungi a-ha momennya ( andai ia tahu ia lebih tampan saat itu ). Tak ada yang kecil, selama manusia mau bersungguh-sungguh.

Di Amerika, Kapten Charles Moore menemukan banyak sampah plastik mengapung di laut hingga kedalaman 30 meter. 250 juta ton per tahun plastik dibuang orang ke laut hingga seluas 4 kali Perancis dan sebanyak 6 kali plankton di laut. Spiral Pasifik Utara, Arctik, Atlantik dan Samudera Hindia. Ia tergerak membersihkannya dengan kapal kesayangan. Di Hawaii,  Morgan Turband membersihkan laut yang kotor kiriman negeri seberang. Ada 200 ribu burung albatros di sana yang ingin ia lindungi.

Anda tersentuh ketika membaca buku ? Terharu ketika menonton adegan film ? Tergetar ketika berinteraksi dengan orang ? Ketika melihat seorang anak, anda ingin berkata, aku akan memberimu sesuatu ? Itulah cinta. Cinta yang sama yang menggerakkan para aktivis lingkungan dan relawan sosial, juga anda yang peduli.  Cinta berarti mencipta, bukan menghabiskan. Belajarlah pada alam. Lihatlah pada monyet yang asyik berendam di kolam hangat sambil memejamkan mata. Mereka mengambil sebatas yang mereka perlukan. 3/4 populasi manusia di bumi tidak menikmati kemewahan hidup. Banyak yang terpaksa merangkak, menggadaikan harga diri dan kehormatannya untuk sekedar bertahan hidup. Berhemat dan berbagilah dengan sesama. Kendalikan nafsu mengungguli manusia lain. Sayangi alam. No where to go when the earth’s gone ..

***

400 tahun sampah plastik baru terurai. 1.625 m3/ hari di Bandung. Belanja, bawa tas kain, ya ..

Forum Hijau Bandung ( FHB ) mendesak pemkot Bandung segera menyusun perda tentang penggunaan plastik oleh masyarakat. Selama ini, warga terbiasa bersentuhan dengan plastik. Padahal, plastik akan menjadi limbah yang merusak lingkungan Kota Bandung. Sifat plastik sulit diurai alam. Sekjen FHB, Christian Natalie mengungkapkan, penggunaan plastik saat ini mulai terlihat berkurang. Akan tetapi, sifat konsumerisme yang tinggi menyebabkan sampah plastik tetap menggunung.

“Kami sangat menghargai upaya pemkot yang akan mengedarkana surat pemberitahuan ke tempat perbelanjaan untuk mengurangi pemakaian kantong plastik. Hanya, pengendalian penggunaannya masih belum jelas. Jadi, kami berharap, perda mengenai penggunaan plastik segera disusun sebagai salah satu upaya menjaga lingkungan,”ujarnya.

Sebelumnya, wakil walikota Bandung, Ayi Vivananda mengatakan, Juni 2010 pemkot akan mengedarkan surat imbauan kepada pengelola mal dan hotel agar mengurangi penggunaan plastik. Saat ini, terdapat lebih dari 10 perusahaan produsen plastik di wilayah Bandung Raya. Beberapa di antaranya, mengolah plastik secara daur ulang atau dari chip plastik polymer yang dibakar kembali. Menurut Retno Gumilang Dewi dari Pusat Kebijakan Keenergian ITB, pembakaran chip2 plastik berbahaya karena menghasilkan klorin.”Zat klorin dapat berdampak buruk pada kesehatan dan lingkungan. Apalagi jika bereaksi dengan air. Hasil reaksinya ( asam klorida ), bisa menyebabkan sifat korosif yang lebih keras daripada asam sulfat,” tuturnya.

Kantong kertas, bioplastik mengurangi emisi karbon. Usulkan perda plastik ke dewan.

Berdasarkan data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah ( BPLHD ) Kota Bandung, sampah plastik menempati urutan kedua terbesar dengan 1.625 meter kubik setiap harinya. Padahal, sampah plastik perlu 200-400 untuk bisa terurai alami. Menurut Ayu Sukenjah dari Rehabilitasi Lingkungan BPLHD Kota Bandung, pemerintah belum memiliki standar penggunaan plastik sehari-hari. Kendati demikian, ada solusi yang bisa diterapkan, yaitu substitusi ke pemakaian kantong kertas atau bioplastik. Bioplastik berasal dari bahan alami seperti minyak nabati serta tepung jagung, kentang dan tapioka yang lebih mudah terurai alam. Bahan bakunya dapat diperbarui dan emisi gas rumah kacanya lebih sedikit.

Anggota Komisi C DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya mengatakan, pihaknya akan mendukung penyusunan perda penggunaan plastik. Akan tetapi, sebelumnya harus melalui tahap kajian yang komprehensif, termasuk aspek sosio-psikologis masyarakat.”Dari 22 raperda yang disusun tahun ini, tidak ada yang mengenai penggunaan plastik. Namun, bisa saja diajukan sebagai perda inisiatif dari masyarakat kepada dewan.” ( PR, 25/5/2010 ).

100 perwakilan RW ikuti pelatihan Bandung Grean & Clean. Warga sadar lingkungan.

Pelatihan kampanye sahabat sampah oleh Bandung Green and Clean ( BGC ) diikuti 100 orang perwakilan RW di Kota Bandung, Rabu ( 19/5/2010 ) di Gedung Wanita, Jalan L.L.R.E. Martadinata, Bandung. Pelatihan ini bertujuan menanamkan rasa cinta dalam pikiran dan hati masyarakat terhadap lingkungan bersih dan hijau. Juga, untuk menumbuhkan kreativitas warga dalam menyampaikan informasi atau pesan lingkungan yang berada di sekitarnya, terutama dalam pengelolaan sampah.

Dandan Riza Whardana, Kepala BPLHD Kota Bandung, mengatakan, perwakilan RW diajak untuk mengubah perilaku membuang sampah sembarangan yang dapat merusak lingkungan.  Seharusnya sampah tidak begitu saja dibuang, tetapi dipilih dulu antara sampah organik dan anorganik agar bisa diolah dengan baik. Kita harus mampu menerapkan 3R untuk menjaga lingkungan, katanya.

Ada 5 program BGC untuk lingkungan ;

  • Pemberdayaan masyarakat dari tingkat terbawah
  • Pengelolaan sampah, yakni memilah sampah organik dan anorganik.
  • Penghijauan, melatih penanaman.
  • Pengelolaan sanitasi air, seperti membangun daerah resapan air.
  • Ajarkan kepada orang lain bagaiman mengelola lingkungan dengan baik.

Menurut Dani Zaenal, perwakilan RW 7 Kel.Ledeng, Kec.Cibadak, Kota Bandung,  pelatihan ini sangat bagus untuk memotivasi masyarakat sadar lingkungan. ( PR, 21/5/2010 )

“Satu Hari tanpa Nasi” mulai Juni 2010. Ganti dengan jagung, sagu, singkong  dsb ..

Sejalan dengan target pemerintah untuk mengurangi konsumsi beras ( nasi ) 1,5 % per tahun, Badan Ketahanan Pangan ( BKP ) Jawa Barat mengusung program Satu Hari tanpa Nasi ( one day no rice ). Program ini akan mulai disosialisasikan pada masyarakat Juni mendatang, kata Lilis Irianingsih, Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan BKP Jabar usai seminar nasional “Potensi Makanan Tradisional dalam mendukung Percepatan Diversifikasi Konsumsi Pangan” di UPI, Bandung. Kegiatan itu untuk mengurangi konsumsi beras dan menjadikan makanan tradisional lainnya sebagai substitusi pengganti beras. Jadi, dalam satu minggu, satu hari tidak mengkonsumsi beras.

Di Jakarta, Menteri Pertanian Suswono dalam sidang regional Dewan Ketahanan Pangan 2010 mengemukakan ambisi pemerintah menurunkan konsumsi beras masyarakat hingga 1,5 % per tahun, agar ketergantungan beras berkurang dan bahan pangan lainnya dilirik masyarakat. Seiring pertumbuhan penduduk setiap tahunnya, kebutuhan beras semakin meningkat sehingga menjadi beban negara. Selama ini konsumsi beras orang Indonesia 139 kg per tahun, sedangkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sudah dibawah 100 kg per kapita per tahun. Upaya pemerintah ini untuk menjaga kemandirian pangan terutama di sektor beras, mengingat tantangan ke depan sangat kompleks, masalah konversi lahan yang meningkat, iklim yang tak stabil, penyakit hama, dll. Konversi lahan sawah mencapai 100.000 hektar per tahun, sedang penambahan lahan baru 20-30.000 hektar. Target 50.000 hektar ini pun masih kurang.

Program ini sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 2009 meski baru di lingkungan Departemen Pertanian dan BKP saja. Anton Apriyantono, mantan Menteri Pertanian, mengatakan, diversifikasi pangan sebenarnya sudah lama diupayakan pemerintah, tapi hingga saat ini masih sulit terwujud. Hal ini terkendala mindset dan budaya yang ada di masyarakat yang beranggapan ‘belum makan kalau belum makan nasi’. ( PR, 26/5/2010 )


Iklan

Written by Savitri

26 Mei 2010 pada 16:35

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: