Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Lalulintas makin macet ? Becak udara, kereta api, RHK motor , asuransi parkir & belantara reklame.

with 5 comments

Lalu lintas sepi di Jalan Asia Afrika, Bandung, sekitar pukul 7 pagi ( 26/6/2010 ). Andai kita bisa menghirup udara segar begitu keluar ruangan, tanpa harus jauh2 ke luar kota. Alangkah bahagianya. Transportasi massal, bike to work, bisa menjadi salah satu cara mewujudkannya.

Malas keluar rumah ? Sebagian orang Bandung mengeluhkan jalanan macet yang tidak hanya weekend dan peak hour saja, sekarang. Tapi tiap hari, dari pagi sampai malam. Gemasnya, antri hampir di setiap perempatan dan ruas jalan yang dilalui. Menguras tenaga, waktu, BBM dan kesabaran. Tua di jalan. Kalau orang Bandung saja sudah malas, apalagi orang dari luar ( saya belum mendengar ada yang berwisata ke Bandung demi menikmati kemacetan Kota Bandung ). Bandung menjadi tidak kompetitif lagi. Mau ke mana-mana susah. Mungkinkah Bandung ditinggalkan, jika orang sudah bosan dijebak kemacetan ?

Tahun 2014, atau 3 tahun lagi dari sekarang ( yang lebih optimis, mengatakan 5 tahun ) kendaraan akan stuck. Stagnan. Macet total. Tak bisa bergerak. Kalau kita tak melakukan tindakan besar untuk mencegah ‘kematian’ kota ini. Ibarat plak di pembuluh arteri jantung yang sudah menumpuk, mengeras, lalu terjadi stroke. Silent death. Anda bayangkan saja, 17 % pertumbuhan kendaraan di Bandung, sedangkan penambahan ruas jalan hanya 1 %. Tidak seimbang. Sebanyak 1.131.406 kendaraan berjubel di Bandung. ( 800 ribu sepeda motor, 300 ribu mobil, 285 ribu kendaraan pribadi, 45 ribu kendaraan umum ). Perbandingan angkutan umum dengan mobil pribadi, dulu 60 : 40. Kini kebalikannya, 40 : 60. Sebanyak 60-70 % kendaraan yang masuk Bandung berasal dari Jakarta ( berplat B ). Di Jakarta sendiri, yang mengalami kemacetan tak kalah parah, terus ditambah 2000 kendaraan tiap harinya. Saat ini,  9 juta kendaraan yang menyesaki jalanan Jakarta. Melihat sejarahnya, Kota Bandung dirancang Thomas Karsten untuk 300 ribu jiwa dengan fungsi residen ( hunian ). Kenyataan sekarang, dipadati 2 juta orang, untuk fungsi komersial juga. Plus komuter, menjadi 3 juta pada siang hari. Pantas berjubel.

Becak udara berpenumpang 20, solusi kemacetan Bandung ?

Kenyataan hari ini, Bandung macet, dan kian menjadi-jadi. Tidak kenal hari libur atau pun jam2 puncak, macet siap menjebak anda, hampir di tiap ruas jalan. Kapan saja. 3 tahun lagi, Bandung akan berhenti berdetak, jika tak ada upaya besar dan dramatis untuk menangani kemacetan dan mengerem laju pertumbuhan kendaraan. 1 juta kendaraan, dan terus bertambah 17 % tiap tahun ? 1 dari 2 orang memiliki kendaraan.

Orang Perancis merasa salut dengan ketabahan orang Bandung dengan lalu lintas seperti ini setiap hari ( ia sendiri stres menjalani kemacetan ini ). Menekuri jengkal demi jengkal jalan, waktu demi waktu. Anda merasa tabah ? Atau hopeless ? Bule ini menawarkan moda transportasi massal seperti monorel dan cable car ( kereta gantung ). Teknologi kereta yang dicapai hari ini sudah memungkinkan membawa 20 orang per unit. ( masih membayangkan becak di udara berpenumpang lebih dari 2 orang seperti di kawasan wisata bersalju, pegunungan Alpen ? ). Cable car ini misalnya bisa diletakkan di Bandung Utara, Alun-alun, Jalan Dago dan Jalan Sudirman yang sering macet. Tidak terlalu memakan tempat dibanding monorel, katanya. Studi tentang ini sudah dilakukan sejak tahun 2009.

Para mahasiswa mengusulkan sistim sewa sepeda. Dari ITB ke Unpad, atau kampus2 lainnya. Anak muda sudah bersedia ngaboseh seperti mang becak dari satu tempat ke tempat lainnya ( demi lancarnya lalu lintas dan segarnya udara Bandung ). Di pinggiran kota Bandung disediakan kantong2 parkir bagi kendaraan dari luar Bandung. Kalau mau hilir mudik di dalam Kota Bandung dipersilakan menggunakan transportasi massal ( disediakan yang aman, nyaman, terjangkau, minimal seperti di Yogya ). Rel kereta masih menjulur di berbagai lokasi di Bandung, tinggal direvitalisasi dengan keretanya. Kereta Parahyangan rise up again ? Bangkit lagi, kali ini melayani rute dalam Kota Bandung. Isn’t that cool ?

Back to the train. Naik kereta api, tut, tut, tut …

Halte busway Yogya dekat Jalan Malioboro, Yogyakarta. Bandung, kapan menyusul ? Sekarang masih darurat, berupa tenda. Transportasi massal menjadi keharusan, untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Bandung harus tetap bernafas. Keluar pagar rumah sudah dijemput angkutan massal yang nyaman. Dengan satu tiket sampai ke tujuan. Hmm..

Keberadaan jalan tol Cipularang mengurangi penumpang kereta Parahyangan sehingga KAI merugi dan terpaksa menutup jalur operasinya. Bagaimana kalau sekarang, wisatawan yang mau ke Bandung didaulat menggunakan kereta api lagi ? Daripada umur habis di jalan karena macet, hayo. Angkot2 yang sradak sruduk dan sering ngetem di jalan karena sepi penumpang turut menyumbang kemacetan jalan. Izin trayek jangan ditambah lagi. Keliru, jika perizinan menjadi ajang mengais PAD. Kalau macet, karut marut begini, begitu banyak yang diberi izin, perda dikoreksi dengan perwal ( seperti penambahan 17 kawasan reklame yang semula 24 menjadi 41 dengan kuota 104 buah ) akhirnya Bandung menjadi hutan besi yang kurang sedap dipandang mata. Sedih, kan ? PAD Bandung dari Pariwisata yang hampir 60 % itu akan merosot. Orang malas ke Bandung. Apa wisatawan datang ke Bandung hanya bisa tidur di lebih 15.000 hotel di Bandung ? Bagaimana dengan sektor kreatifnya ?

Dulu ada gagasan Bandung Raya dengan melibatkan daerah sekitarnya seperti, Ciwidey, Lembang, dsb. Sayang, tidak jalan karena infrastrukturnya tidak mendukung. Coba distrukturkan lagi. Dalam dialog “Cetak Biru Transportasi Massal Kota Bandung”, Trijaya ( 21/7/2010 ), diilustrasikan parkir khusus weekend atau parkir hari tertentu di Singapura untuk mengurangi tingkat kemacetan di negara kota tersebut. Mungkin Bandung bisa menerapkan hal itu, jika plat nomor ganjil atau genap yang digilirkan beroperasi di jalan belum berhasil ( di negara lain tidak berhasil ).

Warga Bandung nyumput di rumah.  Saatnya komuter diregulasi ?

Para komuter juga perlu diberi regulasi. Mereka yang parkir di hotel, di mall di-charge, dialihkan ke transportasi massal. Apakah sistem kita sudah bisa membaca keluar masuknya kendaraan komuter sehingga bisa diberikan keputusan yang tepat untuk mereka ? Begitu hiruk pikuknya Bandung dengan kegiatan komersialnya, tapi untuk membiayai penerangan jalan pada malam hari saja terkendala. Keuntungan investasi ini lari ke mana ? Siapa pemiliknya ? Warga Bandung yang harus membiayai prasarana, sarana di Bandung, tapi mereka, para pengguna dari luar Bandung  yang mendapat keuntungan, yang lalu dibawa ke daerahnya sendiri. Warga Bandung kebagian macetnya atau nyumput ( mendekam ) di rumah ( jangan tanya jalan berlubang di seantero Bandung ).

Suharso Monoarfa, menpera, mengingatkan sekarang sudah ada UU Pelayanan Publik dan UU Keterbukaan Informasi. Domain masyarakat. Ketika pelayanan publik tidak efesien, masyarakat bisa melakukan class action. Esensi UU ini untuk memotong perizinan yang dihadapi pengembang, reformasi birokrasi, hak masyarakat mendapatkan informasi dan pelayanan publik yang maksimal. Anda sudah merasakan implementasinya ?

Yang kasihan yah walikota. Kebaikan beliau dimanfaatkan untuk kepentingan oknum2 tertentu di lingkaran kekuasaan. Mau menolak juga susah, gimana pun walikota itu kan produk politik. Ada ketergantungan satu dengan yang lainnya, ujar seorang pelaku usaha reklame ( Tata Ruang, Juni 2010  hal. 83 ). Pernyataan tersebut seolah klop dengan perkataan Ir. Bahal Edison di Trijaya ( 21/7/2010 ), Pasar Majestic, Kebayoran dulu nyaman. Kekuatan ekonomi yang kemudian masuk, membuatnya kacau balau. Terjadi pengaturan yang tidak konsisten dari manajer kota ( walikota ), perda dilanggar-langgar, banyak celah dipermainkan oleh kekuatan modal. Stop membangun yang melanggar tata ruang kota. Right here, right now.

Ruang Henti Khusus 10 meter untuk sepeda motor. Kecelakaan berkurang ?

Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi kemacetan. Mulai 10 Agustus 2010, di Jalan Pasir Kaliki ( di bawah fly over ) dan di perempatan Jalan A.Yani – Jalan Riau ( Martadinata ) akan diujicobakan RHK ( Ruang Henti Khusus ) berupa garis merah sepanjang 10 meter dari garis putih ( setelah zebracross ). RHK ini untuk sepeda motor. Saat lampu stopan menghijau selama 64 detik, 10 detik pertama digunakan untuk melepas ( relieve ) gigi ( persneling ). Motor lebih gesit melakukannya, sehingga para bikers diberi ‘kehormatan’ mendahului supir mobil ( yah, daripada mobil anda diserempet atau dijadikan tumpuan bikers yang enggan menginjak tanah, kan ? Populasi mereka terus bertambah, terus merangsek. Kekuatan ( bahaya ) yang patut diperhitungkan ). Konsep orisinil yang akan diterapkan pertama kali di Indonesia, di Kota Bandung, kata Prijo Soebiandono, kadishub Jabar. Di Hongkong, bisa menurunkan tingkat kecelakaan ( di Bandung, plus menurunkan tingkat emosi ).

Anda pernah memperhatikan karakter pengendara motor di Bandung ? Mereka menguji setiap lubang. Banyak manuver, demi lolos dari kemacetan. Naik ke trotoar, mengambil space kendaraan dari arah berlawanan,  jika celah di depannya sudah tertutup motor lainnya. Tak sadar membahayakan pengguna jalan lainnya, juga dirinya. Terik matahari dan pekatnya polusi ( juga perut lapar, kepala penuh masalah ) membuat akal sehat terkesampingkan. Setelah RHK ini diterapkan, apakah perilaku mereka berubah ? Kita lihat nanti ..

Next problem, traffic lights. Idealnya, jika kita ketemu lampu hijau, ruas jalan berikutnya mestinya lampu hijau lagi. Jadi tidak menumpuk, mengular ( jarak antar persimpangan di Bandung, dekat  ), macet lagi, main pedal dan boros bensin. Namun, apa daya lampu2 ATCS berumur 14 tahun ini, dana maintenance-nya tidak ada. Ada geledek agak jauh saja, sensi. Ngadat. Kerlap kerlip kuning. Ada sensor canggih di bawah yang bisa membaca antrian kendaraan sehingga bisa memberi sinyal pada lampu di ruas jalan berikutnya, namun karena lapisan aspal kian menebal, sensor ini tertutup dan berkurang kepekaannya. Terjadilah apa yang kita alami sekarang. Berhenti hampir di tiap perempatan jalan yang kita lalui. Betul2 menguji tensi kesabaran. Lalu, anda diberi tahu ( atau bahkan melihat sendiri ) ada orang yang mencuri tutup besi bak kontrol lampu stopan seberat 25 kg. Bagaimana perasaan anda ? ( mangkel  ). Tutup itu lalu diganti beton. Tapi dipecah juga, diambil tulangan besinya oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Setelah terbuka, orang yang lalu lalang membuang puntung rokok di sana, menjadikannya tempat sampah. Lebih parah lagi, pembuang puntung itu pengendara yang mengutuk kemacetan. Ia tak sadar turut andil biang keladinya. Lampu stopan merana, tak bisa membantu mencairkan kemacetan di sekitarnya. Teronggok tak berdaya. Betapa malang nasibmu ..

Kendaraan raib di area parkir resmi ? Dial ( 022 ) 70547297

Any good news ? Kehilangan kendaraan di tempat parkir resmi, kini bisa menggugat ke pengadilan. Kasus serupa dimenangkan di tingkat MA. 60 juta ganti rugi bisa untuk membeli kendaraan yang hilang. Lumayan. Kehilangan sebelum itu ( kemenangan di MA ) juga bisa diajukan, kata Pak Erlan. Jangan ragu. Telpon ( 022 ) 70547297 bisa menjadi awal perjuangan mendapatkan hak2 anda sebagai konsumen. UU Perlindungan Konsumen melarang kausul sepihak. Ketika anda menerima tiket parkir, dan tertulis di sana “kehilangan kendaraan atau barang2 di dalamnya bukan tanggungan pengelola parkir” mestinya membuat kening anda berkerut. Itu klausul sepihak. Mereka beralasan, hanya menyewakan lahan. Apakah ketika menaikkan tarif parkir, anda ingat, mereka mengatakan untuk meningkatkan keamanan area parkir ?

Bagi yang parkir bukan di tempat resmi, kehilangan semacam itu, mungkin tak ada yang mau menanggungnya. Ibarat naruh sandal di tempat ibadah, lalu hilang, anda ikhlaskan saja. Kenapa, tidak menyimpannya di tempat penitipan ? Itu argumentasi yang akan menghadang anda, jika tetap komplain. Dana penggantian kendaraan yang hilang, mungkin diambil dari asuransi di pos masuk gedung ( sebagian protes menaikkan tarif parkir, sebagian mensyaratkan asal masih terjangkau, hitung2 untuk mengurangi populasi kendaraan yang hilir mudik di jalanan ).

Angkutan umum yang murah, cepat, frekuensi sering, tetap kita rindukan kehadirannya. Transportasi massal ini, tak perlu bagus2 amat, yang penting aman ( tidak ada candid camera, pelecehan di dalamnya ). Nyaman dan berhawa sejuk, tahap selanjutnya. Setelah kendaraan dibatasi pertumbuhannya, pertamax plus didorong penggunaannya untuk kendaran di atas tahun 2000 ( subsidi diarahkan untuk segmen yang lebih tepat ), setelah Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) sebesar 30 % kita dorong di RTRW kota,  kita awasi pelaksanaannya, semoga Kota Bandung menjadi kota yang lebih nyaman untuk ditinggali. Antri di kemacetan menjadi cerita masa lalu. Siapa yang butuh oksigen, jalanan mulus dan lancar ? Berjuanglah meraih hak anda ..

Belantara reklame, hutan besi yang mengurangi estetika kota.

Reklame megatron di depan Kantor Pos Besar Jl.Asia Afrika, Bandung. Karena keterbatasan dana untuk membangun jembatan penyeberangan, pemkot terkadang menggandeng swasta. Jadilah, pesan sponsor sebagai kompensasinya, tertayang. Yang ini masih mendingan, karena penyeberang tidak sampai tertutup reklame, sehingga aksi kriminal bisa dihindari. Cuma, rada curam menaiki anak tangganya. Di Dago, bahkan hilang railingnya. Setengah akrobatik melaluinya. Anginnya wuss, wuss ..

( ketika di jalan, mari kita lihat belantara reklame di Bandung, apakah masih mengikuti ketentuan ? Menurut Perda no.20 tahun 2009 ( Perubahan Perda no.02 tahun 2007 ), 7 kawasan bebas reklame ( tak boleh dipasangi papan reklame ) di Bandung adalah Jl. Asia Afrika, Braga, RAA Wiranatakusumah, Pajajaran, Ir.H.Juanda ( Dago ), Dr. Junjunan dan Jl.Pasteur. UU no.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, terutama Pasal 3 ( c ) berbunyi, terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. Penambahan 17 ruas jalan untuk reklame jenis bando, di Jl.Sunda ( 1 buah ), Jl.Suniaraja ( 2 buah ), Jl.Surya Sumantri ( 3 ), Jl.Gardujati ( 2 ), Jl.Gatot Subroto ( 5 ), Jl. Ahmad Yani ( 1 ), Jl.Oto Iskandardinata ( 2 ), Jl. Veteran ( 2 ), Jl. Lengkong Kecil ( 1 ), Jl. Naripan ( 1 ), Jl.Dipatiukur ( 2 ), Jl.Wastukancana ( 1 ), Jl.Aceh ( 1 ), Jl.Kiaracondong ( 1 ), Jl.Jakarta ( 1 ), Jl.Astanaanyar ( 1 ) dan  Jl.Pungkur ( 1 ).

Kuota reklame jenis bando di 24 ruas jalan lainnya : di Jl. Laswi ( 2 buah ), Jl.Pelajar Pejuang ( 2 ), Jl.BKR ( 2 ), Jl. Peta ( 2 ), Jl. Jamika ( 2 ), Jl.Moch Toha ( 2 ), Jl.Pasir Koja ( 2 ), Jl.Terusan Pasir Koja ( 2 ), Jl.Kopo ( 2 ),  Jl.Terusan Buah Batu ( 3 ), Jl.Buah Batu ( 4 ), Jl.Kebon Kawung ( 2 ), Jl.Pasir Kaliki ( 5 ), Jl. Sukajadi ( 6 ), Jl.Dr.Setiabudi ( 5 ), Jl.Cihampelas ( 6 ), Jl. Kebonjati ( 2 ), Jl.RE.Martadinata ( 5 ), Jl.Terusan Jakarta ( 2 ), Jl.Ujung Berung ( 5 ), Jl.Jend.Sudirman ( 6 ), Jl.Surapati ( 3 ), Jl.PHH. Mustopha ( 3 ) dan Jl.Merdeka ( 1 buah ))

Iklan

Written by Savitri

28 Juli 2010 pada 16:59

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Perkenalkan saya Thito mahasiswa arsitektur ITB. Apa boleh meminjam foto jembatan penyebrangan untuk menjadi bahan untuk menunjukkan kondisi existing kota Bandung untuk kompetisi desain intervensi jembatan penyebrangan tsb? Terima kasih

    Thito

    27 Juli 2013 at 19:33

  2. oke

    arob

    17 Agustus 2010 at 08:21

  3. keren gan

    arob

    16 Agustus 2010 at 22:32

  4. @ Tanpa Modal Besar :
    Sami2. Emang lelaki, ya, yang biasa membahas kendaraan dan lalulintas macet. Hmm ..

    Savitri

    8 Agustus 2010 at 07:02

  5. Bener-bener mantap blognya…bagus euy ulasannya. haturnuhun kang…

    Tanpa Modal Besar

    6 Agustus 2010 at 13:30


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: