Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Angklung & KPA 3 : laris manis di mancanegara. Angklung is Indonesia.

with 2 comments

KPA 3 tengah beraksi, mempesona penonton bule di luar negeri. “Symphony no.1” karya Schumann yang mereka mainkan membius 2000 pendengar di dalam kemegahan gedung antik. Nggak nyangka, ya, seni tradisi kita dihargai begitu tinggi di luar. Bagaimana dengan di negeri sendiri ?

Angklung kembali mendunia. SMAN 3 Bandung kembali mempertahankan eksistensi angklung sebagai alat musik tradisional khas nusantara di mata internasional. Para siswa Keluarga Paduan Angklung SMA Negeri 3 Bandung ( KPA 3 ) meraih penghargaan internasional dalam “4th Summa Cum Laude International Youth Music Festival Vienna 2010” di Wina Austria, 3-7 Juli 2010 lalu. Pada festival yang baru dimulai 2007 itu, KPA 3 Bandung meraih penghargaan “Winner of the Special Award of the Summa Cum Laude Festival”.

Prestasi yang ditorehkan 37 siswa dan beberapa alumni SMAN 3 Bandung yang mengikuti festival di sejumlah negara di Eropa, luar biasa. KPA 3 membawa nama bangsa dan ikut memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya angklung, di dunia internasional. KPA 3 bertolak ke Eropa pada 27 Juni lalu. Selain ke Wina, Austria, KPA 3 juga mengikuti 3 festival lainnya yang digelar di Maribor, Slovenia ( “22nd International CIOPP Folklore Festival Folkart” ) dan Spanyol ( “Festival Internacional de Folklore of Ciudad Real” di Ciudad, Real dan “Festival Folklorico International of Extremadura” di Badajoz ).

Saat berlaga di Festival SummaCum Laude, KPA 3 mengalunkan 3 lagu andalan, yakni “Symphony no.1” karya Robert Scumann, “Palladio Mov 1 Allegretto” karya Karl Jenkins dan lagu “Badai Pasti Berlalu” karya Eros Djarot. Berkat kemenangan ini, KPA 3 diberi kesempatan tampil pada Gala Winners Concert di Golden Hall Musikverein bersama 9 pemenang lainnya.”Berdasarkan laporan dari Kedutaan Besar Indonesia di Wina, KPA 3 telah memukau penonton yang berjumlah lebih 2000 orang dengan alunan angklung “Symphony no.1” karya Schumann,” kata Firmansyah Noor, wakil Manajemen Mutu SMAN 3 Bandung.

Angklung raksasa, profesor musik klasik di Austria, rampak kendang  & tari tradisi

KPA3Bologna

Tari tradisi pun ikut menyemarakkan kehadiran KPA3 di even2 internasional. Menambah kecantikan Indonesia. Duh, senangnya melihat adik-adik kita memperkenalkan budaya Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Semoga Allah memberkati kalian ..

Yang pria, dengan tari dari pulau dewata, tak kalah membanggakan. Indonesia is Bali, some people said. No, no, .. Bali is a part of Indonesia. There're more. 33 .. and we'll never be apart.

Selain mengikuti rangkaian festival, KPA 3 juga diberi kesempatan tampil pada parade di taman, menyelenggarakan lokakarya ( workshop ) mengenai angklung di hadapan mahasiswa dan pengajar Sekolah Musik Universitas Wina, serta menggelar konser di Museum Etnologi Wina. Dalam workshop angklung, anggota KPA 3 bertukar pikiran dengan para profesor musik klasik. Bagaimana memadukan komposisi musik klasik dengan menggunakan instrumen musik folk instrument yakni angklung. Dalam konser di Museum Etnologi Wina, KPA 3 juga menampilkan aksi rampak kendang dan beberapa tarian nusantara dengan iringan musik angklung.

Di sela2 konser sempat digelar lelang angklung raksasa untuk penonton sebagai upaya amal. Angklung raksasa berhasil dilelang dengan harga 160 euro ( Rp 1,8 juta ). Pihak museum juga mengizinkan KPA 3 mempromosikan busana batik dan aneka cendera mata dari Indonesia yang cukup diminati para penonton.

Tercatat sudah 4 kali KPA 3 mengikuti berbagai kegiatan di berbagai dunia. Tahun 2002, ikut festival di Australia. Tahun 2004 di Polandia. Tahun 2008 di Yunani dan Roma. Namun, baru tahun ini KPA 3 mengikuti festivalnya dan mendapat penghargaan, kata Etty Sri Rejeki, wakil kepala sekolah bidang Hubungan Masyarakat SMAN 3 Bandung. KPA 3 memang telah mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti Pemprov Jabar, swasta dan sekolah. Dari sekolah hanya bersifat stimulan, selebihnya siswa mencari sumber pendanaan sendiri, termasuk konser2 sebelum keberangkatan ke Eropa. ( PR, 24/7/2010 )

Komen A.Savitri :

Udjo Ngalagena, sang legenda. Bersama istrinya, Uum Sumiati, beliau belajar angklung pada Daeng Soetigna. Awal 1967, beliau mendirikan padepokan seni “Saung Angklung Udjo : Sundanese Art & Bamboo Craft Center” di Jalan Padasuka 118, Bandung. Komunitas SAU berharap angklung, setelah ditetapkan sebagai warisan budaya dari Indonesia, bisa mensejahterakan para perajin kecil dan penggiat seni angklung dari semua lapisan. Tidak hanya pengusaha besar. Semoga harapan itu terwujud.

Pembuatan angklung di Saung Angklung Udjo. Angklung, alat tradisional dari bambu, yang dimainkan dengan cara digoyang. Pengembangan dari instrumen Calung, tabung bambu yang dipukul. Awalnya, angklung bernada pentatonis ( da mi na ti la ) dan dimainkan puluhan orang. Tahun 1938, Daeng Soetigna memodifikasi suara angklung menjadi diatonis ( do re me fa so la ti ). Angklung mulai dikenal secara internasional dalam Konferensi Asia-Afrika, Bandung, tahun 1955. Meski dengan teknik tertentu, angklung bisa dimainkan oleh beberapa orang saja, namun kini lebih sering ditampilkan dalam bentuk orkestra.

Menjelang ditetapkannya angklung sebagai warisan budaya asli bangsa Indonesia, menyusul batik yang sudah dikukuhkan sebelumnya, oleh Unesco (  badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan ), Saung Angklung Udjo ( SAU ) sangat berharap masyarakat Indonesia bersemangat mendukung dan turut aktif melestarikan angklung. Mencari tahu lebih banyak soal angklung sehingga memang pantas menjadi milik bangsa Indonesia, tidak diklaim negara tetangga.

Anda tahu kalau seni angklung ada di 17 provinsi kita ?  Angklung tradisional pun banyak macamnya ; seperti angklung buncis, gubrag, bungko, baduy, serta angklung Pak Daeng. Telusuri lebih jauh soal angklung di http://angklungisindonesia.com/

Kendala yang mungkin dihadapi untuk pengakuan Unesco tersebut, diantaranya kian langkanya angklung tradisional, pendidikan angklung yang masih tersendat, belum adanya museum angklung dan pusat database tentang angklung sehingga masyarakat Indonesia hanya familiar dengan angklung modern ( juri Unesco diam2 memantau, lho ).

Pengakuan angklung sebagai warisan budaya tak benda ( intangible cultural heritage of humanity ) milik Indonesia oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization ( Unesco ), tinggal menunggu sidang terakhir, yang rencananya akan digelar di Naerobi, Kenya, November 2010. Ayo, bantu seni angklung resmi menjadi milik Indonesia.

Sound branding. Dengar suara angklung, publik internasional ( kalau bisa ) langsung tahu itu dari Indonesia. Ingin ke Indonesia, belajar angklung, dan sekalian mampir ke tempat2 eksotis di tanah air. Turut menggerakkan sektor pariwisata dan usaha rakyat kecil. Is it your dream, too, people ?

Iklan

Written by Savitri

14 Agustus 2010 pada 05:57

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Indonesiaproud :
    Silakan. Semoga PR mengijinkan ( cantumkan sumbernya, ya ). Anda juga membanggakan.

    Savitri

    11 Oktober 2010 at 02:09

  2. Selamat atas kemenangan KPA 3 yg mengharumkan Indonesia dg angklungnya. Mohon izin menyebarkan informasinya lewat indonesiaproud.wordpress.com. Salam bangga!

    indonesiaproud

    8 Oktober 2010 at 07:00


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s