Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Redenominasi, koin seribu terbaru, kawasan ekonomi bersama. Perlukah ?

with 4 comments

Pecahan uang kertas yang beredar di Indonesia saat ini, akankah menjadi benda purbakala pada tahun 2018 ? ( masuk museum ). Indonesia, memutuskan ..

Redenominasi. Benda apakah itu ? Sebagian kita mungkin bertanya, apa hubungannya denganku ? Kalau bandeng bakar untuk penganjal perut disela nonton lomba pencak silat, diperoleh dengan harga 10 rupiah saja, mau ?  Kita mungkin senang2 saja, tapi si mas penjual, bisa jadi keningnya berkerut ( kalau dia tidak melek info tergres ). Perasaan dia, menjualnya seharga Rp.10.000,- per porsi. Lengkap dengan timun, tomat, nasi, sambal kemasan, plus sendok plastik. Something wrong here.

Bermula dari kepedihan sekelompok orang yang berkiprah di bidang perduitan. Melihat rupiah dihargai ‘murah’ di antara mata uang asing. Satu dolar Amerika setara dengan sembilan ribu rupiah. 1 dengan 9000. Berapa kali lipatnya ?  Ketika orang asing cuma mengeluarkan selembar uang mereka, kita harus mengeluarkan 9 lembar Oeang Republik Indonesia. Kalau bule mengeluarkan 1 juta USD,  berapa koper kita harus membawa uang rupiah ? Rasa kebangsaan anda terusik ?

1 $ = Rp 1. Kapan, ya ?

Jaman Soeharto, 1 dolar AS ( USD ) sekitar Rp 2500,- (  tahun 1980-an ). Masa kejatuhannya menembus level Rp 15.000,- sehingga ia terpaksa lengser ( tahun 1998 ). Andai 1 USD setara dengan Rp 1,- . Wow, serasa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bule2, ya. Meski, mereka tingginya rata-rata 1,8 meter. Money talk. Kita tetap pede abis ( mestinya dengan 9000 pun pede ). Jadi, mas bandeng, nrimo dibayar Rp 10,- untuk hasil karya masterpiece-nya ?

Tak semua secerdas anda, kata pengamat. Orang di pelosok terpencil yang baru bisa pegang uang seribu rupiah, tentu sesenggukan kalau uang terbesar yang baru ia lihat, ditukar uang kecil ( koin Rp 50,- saja sudah jarang terlihat sekarang ). Perhitungkan dampak psikologisnya, biaya sosialisasinya, biaya mencetak uang baru, biaya mengganti dokumen, biaya sosial politiknya jika gagal sosialisasinya, dst. Kenapa tidak fokus saja pada program2 pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang dilibati Bank Indonesia ? Tanpa redenominasi pun, jika program2 tersebut berhasil mensejahterakan rakyat Indonesia maka nilai rupiah membaik dengan sendirinya. Lihat Vietnam, mereka melesat akan menyusul Indonesia. Uang koin kecil masih ada nilainya di sana. Masih sering digunakan. Kebanggaan pada uang bangsa sendiri cukup tebal. Coba di kita, uang receh hampir tak ada artinya. Di kasir swalayan pun lumrah  diswitch menjadi sumbangan amal. Bukan permen lagi. ( didera perasaan rikuh/ tak berdaya untuk menolak ).

Sebagian yang mengerti ekonomi beranggapan, jurus redenominasi ini, menunjukkan ketidakpercayadirian otoritas moneter melihat kemampuan bangsa sendiri. Lulusan S3 yang pinter2 tapi ceroboh. Kenapa tidak didiskusikan ke dalam dulu secara matang, daripada dilempar ke publik dan menjadi beban pikiran banyak orang ?  Kalau kejadiannya seperti krisis Yunani dengan mata uang bersama Euro, lalu tak ada satu negara pun di kawasan itu yang mau bertanggung jawab, bagaimana ?  Ketika satu jatuh, semua ikut terseret.

Di ring sebelah sana, si pro redenominasi tak kalah dengan jurus tangkisannya. Kita bisa belajar pada Turki. Ada 2 mata uang yang dipegang masyarakat pada masa transisi. Ibaratnya, si mas bandeng diberitahu ia bisa dibayar dengan 10.000 rupiah, atau 10 rupi ( mata uang baru kawasan regional/ Asia/ ASEAN, misalnya ). Biar masyarakat memilih mana yang lebih suka mereka gunakan. Jika, rupi lebih disukai, maka nilai mata uang kita akan ikut terangkat di komunitas internasional. Banyaknya angka nol ( digit ) juga bisa dipangkas, pendokumentasian lebih hemat ke depannya. Uang pecahan 25, 50, 100, 500 akan jadi sen. Misal, Rp 10.500,- akan jadi 10 rupi, 5 sen. Kita akan menarik uang kertas, dan lebih banyak menggunakan uang logam karena dinilai lebih awet, ujar si pro, masih semangat dengan ide bosnya.

Tahun 2011-2012, uang baru hasil redenominasi ini akan mulai disosialisasikan. Tahun 2013-2015 mulai diberlakukan ( masa transisi ), saatnya beredar 2 mata uang ( uang baru dan uang lama ). Tahun 2016 hingga 2018,  BI akan melakukan penarikan uang lama secara berangsur-angsur. Akhir 2018, uang lama yang saat ini beredar, ditargetkan sudah tidak ada lagi di masyarakat, kata Darmin Nasution.

Anda tahu sekarang arti redenominasi ? ( penyederhanaan nilai mata uang rupiah tanpa mengubah nilai tukarnya ). Posisi anda ? ( menerima atau menolak redenominasi ).

Uang baru Rp 10.000 dan koin Rp 1000. Tukar jauh-jauh hari lebaran.

Uang logam Rp 1000 ( seribu ) bergambar angklung dengan Gedung Sate sebagai latar belakangnya. Wah, kedua ikon Jawa Barat bisa makin ngetop, nih. Koin sebelumnya, memang terlihat elegan dengan 2 warna ( keemasan di bagian tengah ), namun gambar angklung dan gedung sate di koin baru, begitu menggembirakan. Seperlima penduduk Indonesia yang tinggal di Jabar, jelas mendukung dan menyambut kehadiran koin baru ini. Sae, sae ..

Gedung Sate, angklung dan koin. Apa hubungannya ? Ketiganya melebur menjadi uang logam baru pecahan Rp 1.000,-. Bank Indonesia juga meluncurkan uang pecahan Rp 10.000,- tahun emisi tahun 2005 dengan desain baru. Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia yang baru, mengatakan pemilihan motif angklung dengan latar belakang Gedung Sate merupakan wujud pelestarian kebudayaan nasional dan pelestarian tempat bersejarah dalam kehidupan bangsa. ( PR, 21/7/2010 ).

Uang logam Rp 1.000 bergambar Garuda Pancasila di bagian depan, berwarna putih keperakan, terbuat dari besi/ baja yang dilapisi nikel ( nickel plated steel ). Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan merasa bangga dan berharap ke depan Gedung Sate dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai landmark Jabar. Kian populernya angklung akan berdampak pada kepariwisataan dan kesejahteraan masyarakat  ( semoga bukan pabrikasi yang hanya memperkaya kelompok2 pengusaha tertentu seperti terjadi pada batik setelah ditetapkan UNESCO  sebagai khazanah budaya Indonesia, tapi benar2 mengalir ke penggiat seni angklung dan perajin kecil yang berada di lapisan bawah  masyarakat kita ).

Ungu kebiruan, membedakan Rp 10.000 dengan Rp 100.000. Syukurlah.

Uang kertas Rp 10.000 baru. Warnanya menjadi ungu kebiruan. Tidak tersamar lagi dengan uang kertas Rp 100.000 ( pecahan uang terbesar kedua di dunia setelah 500.000 Dong Vietnam ).

Perubahan uang kertas Rp 10.000 untuk mengoptimalkan fungsi elemen desain atau upgrading terutama pada warna yang semula dominan ungu kemerahan ( kita memang sering ragu, uang 100 ribu atau 10 ribu yang sedang kita pegang, warnanya mirip ), menjadi ungu kebiruan. Meski, terdapat perubahan pada unsur pengamanan lainnya, namun, elemen desain utama seperti bahan uang, gambar utama, dan ukuran uang tetap sama, tidak mengalami perubahan. Uang kertas pecahan Rp 10.000 desain lama masih tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah sepanjang belum dicabut dan ditarik dari peredaran oleh BI.

Wapres Boediono mengatakan, pemerintah daerah harus mampu menjaga kestabilan nilai mata uang. Salah satunya dengan mengendalikan inflasi. Hal tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah, termasuk pemda sebagai sumber dari inflasi nasional. Terkait semakin dekatnya lebaran, BI harus memperhatikan secara seksama peredaran uang baru tersebut, karena akan menjadi salah satu uang yang dicari masyarakat. Menjadi sorotan masyarakat, sehingga pengadaan dan peredarannya harus dilakukan secara cepat, amanah dan hasil optimal. Diperkirakan aliran pada saat lebaran akan mencapai Rp 49 triliun, meningkat sekitar 10 % dibanding tahun lalu. Persediaan uang hingga Agustus telah mencapai Rp 126 triliun. Lebih dari cukup. Masyarakat dihimbau untuk menukar uang jauh2 hari. Jangan H-3 atau H-5. Lebih baik sebulan sebelumnya, kata Budi Rohadi, Deputi Gubernur BI Bidang VII.

( pada Selasa lalu ( 20/7/2010 ) petugas dari BI, Yayan Sofyan, menjelaskan perbedaan uang kertas Rp 10.000  yang baru dan yang lama kepada warga yang akan menukarkan uang kertas pecahan Rp 10.000 dan uang logam pecahan Rp 1.000 di tempat parkir Bandung Indah Plaza ( BIP ), Jl.Merdeka, Bandung. Selain di BIP, lokasi penukaran spontan ini dilakukan pula di BSM dan Bank Indonesia. ( PR, 21/7/2010 )

Iklan

Written by Savitri

15 Agustus 2010 pada 06:55

Ditulis dalam Ragam

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Jabon :
    Ya, mungkin koinnya bukan seratus rupiahan, tapi setara nilai tukar 100 ribu uang kertas sekarang.

    Savitri

    24 Agustus 2010 at 16:58

  2. by jabon

    kalau dengan koin teralu ribet ters kalau banyak kan berat benget

    jabon

    22 Agustus 2010 at 06:38

  3. @ LesPB :
    Yang dikuatirkan demikian, kalau sosialisasinya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Kalau bangsa sudah cerdas & sejahtera, mereka akan mudah memahami redenominasi dan ketika diberlakukan tak menimbulkan gejolak tak perlu. Apakah bangsa ini sudah cerdas ?

    Savitri

    21 Agustus 2010 at 07:07

  4. Redenominasi,, yang jelas klo kasusnya jadi sanering seperti jaman dulu bisa menimbulkan kekacauan.

    LesPrivatBandung

    18 Agustus 2010 at 17:01


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s