Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Perampok dengan agenda besar, satpam, polisi & kesenjangan ekonomi. Quo vadis ?

with 3 comments

Ketika perampok menodongkan pistol, apa yang akan anda lakukan ? Kejahatan bersenjata kian meresahkan. Dipicu kesenjangan ekonomi dan perilaku korup pejabat dan penguasa. Kalau yang di atas bisa kaya dengan cara haram, kenapa kami tidak, pikir mereka. Toh, bebas hukuman. Ambil resiko terbesar, asyik-asyik aja tuh ..

Robin Hood beroperasi di Indonesia ? Pencuri dermawan dari belantara hutan Inggris yang terlihat cool dalam aksi-aksinya merampok orang kaya, apakah sudah menginspirasi perampok lokal ? Film2 produksi Hollywood, semacam “Ocean 12”dan “Italian Job” menampilkan bintang2 keren nan rupawan merampok bank dengan selamat,  lalu menjadi kaya dan tak terjamah hukum. Menggiurkan penonton untuk mengikutinya. Pejabat korup, pengusaha hitam dan para markus berbondong-bondong, seenak udel, merampok uang rakyat dengan nilai kolosal. Trilyunan. BLBI, Century-gate, misalnya. Ketika ketahuan dan mesti dihukum, susahnya minta ampun. Maklum, pengacara dan penegak hukum bisa dibayar mahal dengan uang jarahan.

Sudah dipenjara pun, masih bisa bebas dengan grasi, remisi 17 Agustus-an. Penegak hukum ( Antasari Azhar, ketua KPK yang berani, berdedikasi ) yang menangkapnya, malah dipenjara 18 tahun atas kejahatan yang tidak dilakukannya ( sudah begitu, masih dibanding dengan tuntutan hukuman mati agar tak mengusik kawanan koruptor lagi, now and forever ). Sistim hukum jungkir balik. Yang benar, sudah mengikuti UU pun, bisa kalah dengan yang mengakali dan mempermainkannya. Apa artinya Indonesia negara hukum ? Nyatanya, tak ada kepastian hukum. Tumpul ke atas, tajam ke bawah. Hanya kosmetik, lip service.

Yang di atas, kaya dengan korupsi. Yang kuat, membengkokkan hukum. Timbul ide2 berbahaya di kalangan bawah. Ketularan merampok, sekalian dalam jumlah fantastis. Enaknya dapat duit banyak dan hidup mewah. Jadi maling sekalipun. Nyaris tanpa konsekuensi. Masyarakat kacau dari pemerintahan yang asal ( radio Trijaya, 21/8/2010 ). Kejahatan kian menyolok, siang bolong, di tengah keramaian ( kemacetan ). Di Medan, Jakarta, Bekasi, Cirebon. Tanpa malu. Quick and deadly. Satpam ditembak, polisi dibunuh dalam berondongan peluru. In cold blood. Siapa yang salah ?

Perampokan besar di Medan. Who ?

Bukan koruptor yang disamakan dengan Robin Hood. Tapi, orang yang merampok untuk dibagikan pada orang2 miskin ( ada, gitu ? ). Terbetik, fenomena tokoh mempertahankan pengaruhnya dengan bersedekah atau bagi2 sembako. Apalagi menjelang lebaran. Walikota dan bupati yang korupsi sebagian didorong ‘kebutuhan’ memberi pada masyarakat sekitarnya. Di Medan, perampok terorganisir dengan senjata canggih, profesional, dingin, merampok bank CIMB Niaga ( dari Malaysia ). Di Mesir, lukisan bunga matahari karya pelukis kenamaan Van Gogh seharga 495 milyar rupiah dicuri. Perampok di Indonesia, tidak plagiat, tapi lebih kreatif.

Senjata laras panjang yang digunakan AK-47 kata kadiv humas Polri ( atau AK 101 / standar polisi, yang lebih canggih ? ). Di Afganistan, senjata AK-47 bisa diperoleh dengan mudah dan murah. 14-15 USD saja. Apakah perampokan ini ada hubungannya dengan kegeraman warga Indonesia atas penangkapan pegawai Dinas Kelautan & Perikanan Indonesia oleh polisi patroli Malaysia di Kepulauan Riau, wilayah Indonesia, beberapa waktu lalu ? Atau kegeraman atas penangkapan mantan pimpinan JI,  Abu Bakar Ba’asyir ?  Yang jelas, orang2 kaya kini jadi sasaran. Mereka yang kuat secara finansial, waspadalah. Bank, money changer, toko perhiasan mahal, ATM, SPBU, penggadaian, dll, jadi favorit para perampok belakangan ini. Rakyat kecil tak usah takut, kata pengamat berseloroh.

Tapi, bagaimana kalau mang bakso sedang mengantar pesanan karyawan toko emas yang tak sempat sarapan ? Atau anda sedang di bank, membayar tagihan listrik atau cicilan rumah ? Terjebak di tengah aksi perampokan yang menegangkan. Caught in the middle. Moncong senjata mengarah pada anda atau berputar mencari sasaran bergerak. Mereka berhelm, badan tertutup, bersarung tangan, banyak kerja, sedikit bicara ( bahasa isyarat ), punya pembagian tugas yang jelas, terencana, berpengalaman, punya mentalitas tinggi ( imagine that ). Organisasi sangat rapi. Team work yang bagus ( bukan sekedar untuk makan, tapi merampok untuk agenda khusus  ). Berani mengambil resiko terbesar. Setelah 2-3 hari pengintaian, mempelajari situasi, mereka beraksi. 16 penembak profesional yang tidak pake gemetar lagi ( sudah biasa dan terlatih menembak, membunuh orang serasa menepuk lalat, semisal residivis atau polisi/ tentara desertir ), siap menghabisi anda. Freeze.  Umur tinggal hitungan detik. Ingat semua dosa, hutang, ibadah yang bolong2. Judgement day.

Terjebak di tengah perampokan bank. Beri sinyal keluar.

Selain berdoa, ingat Allah yang menguasai semua kejadian, anda disarankan berikhtiar memberitahu orang terdekat dengan speed dial, ponsel dinyalakan sehingga suara perampokan yang tengah berlangsung terdengar di ujung telpon yang anda hubungi. Beri sinyal keluar. Sms. Jangan coba melawan orang bersenjata ( kecuali anda punya ketrampilan beladiri yang mumpuni, memegang senjata canggih pula, anggota pasukan khusus dan punya  nyawa cadangan. Ini anda, atau SWAT, ya ?  ).

Pengamanan bank di pusat lebih baik daripada di cabangnya. ( apakah BI mensyaratkan bank harus ditempatkan di lingkungan yang aman ? ) Pilih bank yang terletak di samping kantor polisi, atau militer. Jangan memilih yang dekat bengkel, di mana banyak orang datang bergerombol, tanpa kita tahu mereka berbahaya atau tidak. Pemilik bank bisa membangun pos polisi di dekat banknya beroperasi. Taruh orang cool di front office. Jangan pilih teller , CSR dan satpam yang gampang panik, ketakutan atau gugupan. Transaksi dalam jumlah banyak, bisa kontak ke polisi untuk meminta bantuan pengamanan/ pengawalan. Gratis. Jika ada yang mengenakan tarif dengan alasan untuk administrasi, bensin, dll, laporkan saja ke Kapolda Jabar, Irjen Sutarman di nomor 0811371881. Jika polisi tidak meminta, lalu anda ( tahu diri ) ingin memberi, sekedarnya ( untuk beli makan siang, misalnya ) dipersilakan. Toh, ratusan juta uang anda sudah selamat.

Jika ada polisi yang marah2, menyakiti masyarakat, selama perjalanan mudik, catat nama dan pangkatnya lalu laporkan ke Kombes Agus Rianto di nomor 08125118585. Ketika meninggalkan rumah : matikan peralatan listrik, lepas peralatan gas ( jangan dalam keadaan terpasang ), titip rumah ke tetangga yang dipercaya atau polisi/ polsek terdekat. Sejam sekali ada polisi yang keliling kompleks. Ada masalah keamanan lapor dulu ke polisi ( jangan ke media dulu ) sehingga bisa lebih cepat ditangani. Ada voice call, video call ponsel 3G di nomor 9119, kerjasama dengan Telkomsel, di 60 titik pos polisi di jalur mudik, Jawa Barat. 17.000 personel polisi dikerahkan di 1500 pos pengamanan. Demi mudik menjadi asyik.

(  Melihat polisi jangan jadi merasa tidak aman, jangan kebalik, kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Agus Rianto di radio Trijaya ( 24/8/2010 ). Anda pernah disetop oleh polisi yang tiba2 muncul di balik pohon gara2 melanggar lampu stopan yang terhalang pohon ? Kasus Gayus yang menyeret jenderal polisi bintang 3 Mabes Polri, rekening gendut polisi, drama kasus Antasari, Bibit-Chandra, Susno Duadji, membuat kepercayaan kita pada polisi, pengayom masyarakat ini, terkikis. Karena ulah segelintir yang rakus, rusak susu sebelanga. Ketika sedang hebohnya Polri dihujat, saya lihat polisi muda di perempatan jalan kelihatan memelas ketika dipandang ( takut dikeroyok massa yang sedang gemas, kali ).

Do you know what ? Minggu lalu, mobil saya tiba2 berhenti persis di letter S coret ( dilarang berhenti ). Ada2 saja ini kejadian. (  ya Allah, kenapa mati mesinnya di sini ? Banyak polisi berseliweran lagi. Bulan puasa. Banyak tilang, kata tetangga  ). Selang beberapa menit, seorang polisi bermotor berhenti menghampiri saya. Kalem, saya berkata,”Mesin mati kepanasan. Macet, pak. Bukan niatan saya berhenti di sini.” Dia minta saya menyalakan mesin. 2 kali tidak hidup juga.”Bensinnya habis, mungkin”, kata dia.”Ah, tidak. Saya baru ngisi, kok. Nih, masih naik jarumnya”, timpal saya. Lalu, dia ke belakang mendorong mobil saya menjauhi letter S. Setelah itu, saya lihat dia menuju perempatan, mulai mengatur lalulintas, mencairkan kemacetan sore itu. “Terima kasih, pak !”, teriak saya di belakang kemudi. Begitulah ‘keakraban’ saya dengan polisi. Pada polisi yang menanyakan SIM dan STNK saya, biasanya saya dahului dengan menanyakan kartu anggota polisinya.”Bener polisi ? Boleh lihat kartu identitasnya ?”. Tapi karena polisi baik hati itu tidak menanyakan surat kendaraan, saya jadi tidak sempat menghafal namanya. Siapa pun anda, pak polisi, semoga masih banyak polisi berdedikasi seperti anda. Good job, Sir. God bless you.

Rasio 1 polisi : 100 penduduk. Lingkungan aman terjaga ?

Polisi jumlahnya kurang ideal. Mestinya 1 polisi melayani 100 penduduk. Nyatanya bisa lebih 1000 penduduk. Polisi meyiasatinya dengan patroli, mendatangi pos-pos polisi dan area2 rawan kamtibmas.

Idealnya rasio polisi dengan masyarakat yang dijaganya adalah 1 : 300. Kalau bisa 1 : 100. Di Jakarta, rasionya masih 1 : 600. Di Jawa Barat 1 : 1000 lebih ( penduduk Jabar 43 juta jiwa, polisinya 32.000 orang. Sekitar 2/3, atau 21.000  personel akan dikerahkan untuk menjaga lalulintas jalur mudik lebaran, semi all-out. Polisi akan menjaga di jalur kereta api, masuk gerbong2 KA dan area2 rawan kamtibmas. Namun demikian, masyarakat harus tetap waspada di jalan, juga saat istirahat. Hati2 bajing loncat, penggembosan, pembiusan, dll.  Penerangan di jalur Pantura cukup bagus.  Anda harus lebih hati2 lagi ketika melalui jalan yang kurang penerangan, seperti di jalur tengah/ Subang ke kanan. Jangan terlalu konsumtif atau pamer, karena bisa menggiurkan penjahat untuk beraksi.  Sekitar 1/3 polisi sisanya, akan tetap melakukan tugas rutin melayani masyarakat luas ). Untuk mencapai angka ideal itu, perlu pendidikan dan biaya tinggi sehingga polisi merasa perlu memberdayakan masyarakat setempat, seperti pelatihan satpam, satpol, linmas/ hansip, komponen masyarakat, dll. Polisi juga dibantu TNI dan Dinas Perhubungan untuk menjaga keamanan, agar tetap kondusif masa lebaran tiba.

Tidak setiap bank ada polisinya. Tergantung kebijakan bank, ada budjet ( anggaran ) atau tidak untuk polisi. Kepolisian menyiasatinya dengan patroli, mendatangi pos2 yang perlu disinggahi. Jika polisi  sibuk karena jumlahnya kurang, jasa pengamanan swasta yang berkualitas, juga siap mengawal anda, termasuk yang ingin mudik lebaran dengan membawa uang banyak. Perusahaan pengamanan yang berkualitas biasa menggunakan pensiunan pasukan khusus dalam satu grup pengamanannya ( menjadi leader ).

Keramahan satpam, karena kamera atau panggilan tugas ?

Choose the right man on the right place. Anda terkesan dengan keramahan satpam di entrance ( pintu masuk ) bank ? Saya pernah ngetes ‘perilaku ramah’ satpam bank di pusat kota. Saya coba menanyakan staf mobile banking sebuah perusahaan seluler yang tak kunjung datang, setelah 1,5 jam saya menunggu di dekatnya. Tak bisa menjawab, ia memilih memalingkan wajah menyapa pengunjung yang baru masuk. Mengintimidasi ? Oo, ada kamera CCTV di pojok sana, lebih terlihat. Satpam ini juga tiba2 ada di samping nasabah yang tak kunjung menghampiri meja customer service, ‘ramah’ mempersilakan si nasabah ‘move his ass’ ke CSR tsb. Ketika saya pulang dengan kecewa, si satpam masih perlu berbalik memunggungi, pura2 tidak melihat saya. Ia memencet tombol antri di mana tidak ada siapa pun di sana. Satpam ternyata bisa ( merasa ) superior. Di salah satu mall ( keluhan konsumen di surat pembaca ), bahkan ada yang mentertawakan pengendara mobil lama yang minta bantuan diseberangkan. Padahal bayar parkirnya setara dengan mobil mercy yang baru ia seberangkan. Bayar tidak didiskon, pelayanan didiskon. Betapa pencitraan materialistis sudah merasuki kalangan bawah. Tak heran mereka ngiler untuk merampok juga. Apakah satpam superior ini peduli jika nasabah ‘bawahan’-nya dihadang rampok ? Ia sangat mungkin sembunyi, atau bahkan tertawa. Emang gue pikirin ?

Pencitraan di depan kamera CCTV bank milik asing. Siapa mau bergaya ?

Sebagian mereka melayani demi kesan di kamera ( yang dipantau majikan/ atasannya ). Bukan dari hati. Jika punya jiwa preman, terkamuflase sementara dengan sikap dibuat-buat. Perilaku mengintimidasi tetap muncul dalam bentuknya yang lain.  Saya baru tahu, satpam lahir dari beragam jasa pengamanan yang kini marak ditenderkan. Konsumennya cenderung cari yang paling murah, bukan yang paling berkualitas. Karena proses izin ( usaha pengamanan ) relatif mudah, mereka banting harga. Balapan dapat proyek. Mengerikan, jika jasa pengamanan menjadi industri. Profit  making. Amburadul tanpa kontrol. Jadi, jangan terlalu berharap bertemu satpam yang melayani anda dengan hati ( anda cuma sarana pencitraan dia di depan bosnya, yang kini lebih banyak dipegang orang asing/ kepemilikan saham mayoritas ). Apalagi, satpam yang sanggup melumpuhkan perampok, seperti sekuriti di luar negeri ( bayar cepek, kok, pengen aman ). Please, deehh ..

Satpam pun beragam kualitas. Ada yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan, klien, nasabah yang mereka jaga. Ada juga yang merasa superior dan kerja suka2. Tugas mereka mengantisipasi kejahatan. Mata telinga bagi polisi.

( Memang, masih ada satpam yang berdedikasi, yang bahkan rela berkorban nyawa demi menyelamatkan uang nasabah. Allah memberkahi kalian ). Di Indonesia, satpam dilatih untuk mengantisipasi kejahatan. Masih tugas polisi untuk menangani kejahatan. Satpam hanya dipersenjatai pentungan untuk membela diri kalau diserang. Beladiri yang dipelajari, standar polisi menggunakan tongkat. Polisi yang melatihnya. Saya pernah mencoba ngobrol dengan 3 satpam di bank dan ruko. Ketiganya bicaranya mirip. Menekan, dan mematikan bicara kita. Boring. Ternyata, memang begitulah kriteria satpam. Tidak banyak bicara, tidak merokok, siaga terus, menjadi mata telinga bagi polisi. Kalau pergi makan, mesti ada satpam lain yang mengganti tugasnya. Calon satpam diseleksi dengan syarat psikologis, fisik, kesehatan, umur minimal 17 tahun.

Membayarlah yang pantas untuk pengamanan berkualitas.

Dengan terjadi kasus perampokan besar di beberapa tempat di tanah air akhir2 ini, jasa pengamanan satpam dan pihak bank yang menyewanya didaulat untuk memperbaiki sistem perekrutan satpam. Kualitas lebih penting demi keselamatan nasabah dan karyawan. Security approach lebih penting daripada harga. Beranilah membayar yang pantas. Wahai, bapak satpam, pertajamlah sense ( kepekaan ) intelijen anda. Satpam bersuku Jawa yang sarat unggah ungguh bahasa mungkin kurang bisa mencermati gerakan orang Batak. Jadi, perlu dilihat lokasi penempatan yang sesuai. Bank di Medan, sebaiknya menggunakan satpam asal Medan juga. Lebih bagus lagi, dari warga sekitar. Pengamanan berlapis 24 jam akan diperoleh dari warga sekitar yang lebih tahu siapa pendatang dan siapa yang residivis. Siapa yang suka ngutil. Warga juga berkepentingan terus berlangsungnya pekerjaan anggota komunitas mereka yang ditempatkan di bank tsb, sehingga keamanan bank mereka jaga ekstra.

Cara pendekatan juga diubah, jangan fisik saja. Pendekatan office kurang baik. Hubungan perusahaan/ bank dengan masyarakat sekitar harus dibina. Perlu dilakukan juga, simulasi perampokan di bank. Terutama orang2 yang ada di ruang depan, dilatih untuk mengantisipasi perampokan, atau menggagalkan tindak kriminal tsb. ( di serial film teve asing, saya pernah melihat teller dengan ujung sepatunya di bawah meja menekan alarm bahaya yang langsung tersambung dengan kantor polisi. Apakah di Indonesia, ada yang begitu ? ).

Ada nomor hotline di Medan : 0811648978. Anda bisa melaporkan info sekecil apapun tentang kejahatan perampokan. Cermati lingkungan anda, adakah keganjilan yang mengganggu insting anda ? Beritahu apa yang anda lihat, yang anda alami ( jangan mengatakan ‘o, pak, orang itu mau mencuri !’,  jangan menfitnah atau menghakimi  ). Sampaikan ke polisi terdekat  ( atau telpon call center polisi ). Polsek ( tak perlu sampai Polrestabes ) agar anda segera terlayani. Diusahakan 10 menit polisi sudah sampai ke TKP ( Tempat Kejadian Perkara ). Semua mobile.

Di Inggris dan Jepang, ada program suami-istri yang polisi, tinggal di suatu lingkungan permukiman, tidak kemana-mana. Ngantor di situ, menyiapkan rumah seperti kantornya, membina masyarakat dengan cara kekeluargaan. Dengan kedekatan itu, info sekecil apa pun akan masuk, potensi bahaya akan cepat terdeteksi. Namun, meski di Indonesia ; 7,5 juta orang menganggur, 100 juta orang miskin, keamanannya masih cukup baik dibanding Afrika. Di sana, meski semua sudah dipasangi  listrik, kejahatan masih banyak terjadi. Di Indonesia, kita masih bisa main gaplek dalam keadaan pintu terbuka. Di Filipina, dalam sehari terjadi 10 penculikan. Tapi, dengan Singapura dan Malaysia, tingkat keamanan kita memang masih kalah.

Kesenjangan meningkat, kejahatan pun marak  ( di sekitar kita ).

Ada masalah kesenjangan ekonomi yang besar, kontraksi, yang melatarbelakangi kejahatan yang kian marak. Sekaligus menjadi justifikasi bagi para pelakunya. Koreksi distribusi kemakmuran yang bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat. Uang negara ( APBN ) diobral untuk kasus Lapindo. Sementara, rakyat kecil kebagian gas elpiji yang meledakkan rumahnya, karena minimnya anggaran konversi energi. Asesori tidak layak, sosialisasi kurang. Apakah pemerintah mampu mengembalikan situasi ? Mulai dari diri sendiri, membersihkan pemerintahan dari orang2 tamak yang gemar korupsi. Bohong segampang kentut. Lihat kasus Anggodo dan Gayus, alot sekali. Siapa di belakangnya ?

Bagaimana trend kejahatan ke depan, jika penguasa tak kunjung bisa memerintah dengan teladan ? Korupsi lah yang membuat Indonesia belum melesat. Adakah pemimpin, kini, menyadari kaitan mengguritanya korupsi  ( yang gamang ia berantas tuntas ) dengan mengerikannya kejahatan yang mencekam rakyat ? Do you hear us ?

Iklan

Written by Savitri

24 Agustus 2010 pada 16:28

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ Putri :
    Orang meninggal sudah ditentukan waktu dan tempatnya ( Lauh Mahfuz ). Yang penting kita meninggal dalam keadaan baik ( khusnul khotimah ). Cukup bekal untuk masuk surga-Nya. Pernah lihat film “Braveheart”- Mel Gibson ? Pemeran William Wallace itu asyik2 aja dihukum mati, karena melihat ruh istrinya melintas. Setahu saya, orang shaleh/ shalehah, meninggalnya bisa tersenyum. Kalau begitu, takutnya bukan kerja di bank, ya. Tapi takut kalau nggak disayang Allah. Setuju ?

    Savitri

    1 Maret 2011 at 20:38

  2. aku jadi takut kerja dibank tapi namanya mati ditanganAllah aku cuma berharap tdk pernah jd korban

    putri

    24 Februari 2011 at 18:06

  3. Mungkin para pemimpin Negeri ini hanyalah seorang PEMIMPI sehingga lebih senang tutup mata dan suka mengindeks seperti layaknya orang mau beli Nomor Buntut dijaman SDSB dulu….

    sempulur

    24 Agustus 2010 at 16:38


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: