Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Perundingan perbatasan RI, kegigihan pejuang kemerdekaan & para pengukir Indonesia.

leave a comment »

KRI Krait-827 didesain dan dibuat oleh putra-putri Indonesia. 100 % Dilengkapi radar, senjata mitraliur dan meriam haluan laras ganda yang dapat dioperasikan secara otomatis maupun manual. Kita perlu banyak alutsista dan personel militer andal untuk menjaga wilayah NKRI yang begitu luas. Siapa yang tak ingin ditangkap di wilayah sendiri oleh pelanggar perbatasan kita ? Ayo, lestarikan seni tradisi dan gunakan produk dalam negeri.

Pengantar A.Savitri :

Apa jadinya besok ? Ketika perunding Indonesia dan Malaysia bertemu menindaklanjuti kisruh saling tangkap di perairan perbatasan kedua negara ? How do you feel, people ?

Kita mengira sudah memilih pemimpin yang tepat untuk berjalan di depan. 5 tahun lagi. Apakah harapan kita terlalu tinggi ?  Menjaga muka kita, harga diri sebagai bangsa. Menghadapi arogansi negeri 24 juta orang atau bahkan cuma 4 juta orang, mestikah negeri 235  juta orang ini kembali diminta menelan kesabaran ( kedongkolan, kepahitan ). Again ?

Sampai orang bosan, karena harapan kandas yang bertubi-tubi. Apatis. Tidak peduli. Mau ditipu, kek. Diinjak, kek. Diludahi, kek ( baca : dibunuh seperti David atau antrian TKI yang sudah mati, dan sedang menunggu mati, tanpa pembelaan ). Sebodo amat. Toh, ( sebagian ) kita sudah belel karena korupsi. Kumal, compang camping. Uang negara tersedot di pusat2 kekuasaan ( dan tak seorang pun berani, dan mampu menghentikan siklus jahat ini. Damn ). Sama sekali tak ada kebanggaan.

Karena kita besar, kita berani tegas. Bukan menangan.

Sistim politik kita yang menghasilkan pemimpin seperti itu, kata seorang pembicara. Pencitraan dan tokoh figur masih menjadi acuan sebagian besar pemilih kita. Bukan program unggulan dan kapabilitas sesungguhnya. Anda mau menuding siapa ? ( yang salah ). Gemerlap materi, prestise, masih menjadi runutan ( sebagian ) orang ketika memutuskan ; siapa yang akan dijadikan teman, tetangga, atau pemimpin mereka. Ukuran fisik. Lihat, Ahmadinejad. ( presiden Iran ). Bersahaja, tapi berwibawa, kata pembicara lainnya. Oh, iya ya .. ( saya dengar beliau menantang debat dengan Obama soal kebijakan luar negeri Amerika di Afganistan, dll. Mantaaap .. ).

Sebuah percakapan di radio menggelitik, atau menyengat. Tergantung angle anda. Termasuk yang sudah merasa nyaman, atau masih berjuang ? Yang di comfort zone biasanya bicaranya enteng seperti ini, “Jangan gara2 kita besar lalu ingin menangan” ( yang ngomong begini, biasanya do nothing, talk only. Maunya, nggak capek. Dialog segera dituntaskan, dan ia bisa segera ngaso.  Apa nggak risih, sudah sebesar setua ini masih mau dikadalin negara yang jauh lebih kecil ? Nggak inget Sipadan, Ligitan, Timor Timur lepas karena diplomasi kita yang lemah ? Kapan kita mau belajar ?

Pernah memperhatikan anak kecil yang nakal ? Mereka selalu mencari celah untuk ‘menundukkan’ orang tuanya, untuk mengambil alih tongkat kekuasaan di rumah. Tahu takkan dihukum. Sampai akhirnya, ortunya tak bisa mengendalikannya lagi dan ia menjadi aib keluarga. Ia sebetulnya bisa diselamatkan jika sejak dini, ortu tegas memberi hukuman yang tepat. Hukuman salah satu bentuk cinta, agar anak tahu batas salah dan benar, sebelum ia nyasar terlalu jauh. Kita perlu ‘menghukum’ untuk menghentikan provokasi lebih jauh. Tanda sayang kita pada negara tetangga. Sebelum kemarahan yang terakumulasi meletus menjadi ‘perang’ yang tak tertahankan. Saat pemerintah terdelegitimasi, tak dihiraukan rakyat, semuanya akan kacau balau. Keamanan kawasan dipertaruhkan. Kena imbasnya. Pernah terpikir sampai ke sana ? ).

KRI Dewaruci, kapal latih bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut, TNI AL. Kapal yang berbasis di Surabaya ini kapal layar terbesar yang dimiliki TNI AL. Nama kapal diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa. Dewaruci dibuat pada tahun 1952 oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman Barat. KRI Dewaruci melayari kepulauan Indonesia dan luar negeri. Saya pikir kapal pajangan dari kayu di bufet kami hanya rekaan perajin. Ternyata Kapal RI ada yang seperti itu, ya. Keren ..

Kalau Malaysia dan Singapura suka mengulur-ulur pembahasan perbatasan dengan  kita,  kenapa kita tidak inisiatif duluan menentukan sendiri batas wilayah kita ? ( kalau mereka tak kunjung/ enggan membahas, seraya terus menguruk pasir menambah luas daratan ke arah wilayah kita, apa kita mau sampai bangkotan menunggu mereka seraya kehilangan sebagian teritori kita ? Atau ditangkapi seperti pegawai KKP ?  ). Kalau mereka protes keras, baru kita ladeni. Kalau mereka mengada-ada, berlebihan, kita tunjukkan posisi kita yang kuat dengan semua kekuatan yang kita miliki. Saya yakin, kalau terpaksa perang pun, mereka akan kalah. ( Irak dan Afganistan sampai hari ini belum bisa ditaklukkan AS bersama puluhan negara sekutunya, meski sudah menghabiskan dana trilyunan dolar selama 8 tahun lebih. We’re stronger than them, aren’t we ? Meski dibekali mesin perang tercanggih pada masanya, 2 jenderal AS/ sekutu tewas, kok, ketika berperang dengan kita ( Indonesia ) yang cuma punya bambu runcing dan kenekadan. Kita bisa belajar dari heroisme para pendahulu kita ).

Para perunding Indonesia, jangan kalah gertak, ya. Perjuangkan hak perbatasan kita hingga titik darah penghabisan. Ingat kegigihan para pejuang kemerdekaan. Berani maju ( selebihnya Allah yang menyelesaikan ). Tunjukkan nyali dan kecerdikan kalian .. ( of course, Mr. President, too )

Semoga dengan hasil itu, tak ada lagi penangkapan warga Indonesia di wilayah kita sendiri oleh bangsa asing. Tak ada warga RI yang tersia-sia di negeri orang. Please, no more ..

Peduli kotoran ? Peduli, dong, perbatasan wilayah RI.

Demo anti Malaysia. Kenapa kita sering panas dingin dengan negara serumpun ini, ya ? Ada yang mengipasi, atau memang sikap sebagian pihak yang merasa lebih tinggi dari pihak lainnya ? Kita ingat Manohara, Siti Hajar, dll, yang didzalimi warga mereka. Sebagian pelaku kekerasan dibiarkan bebas tanpa hukuman karena statusnya yang 'tinggi'. Ingin saya, Indonesia bersih dari korupsi, sehingga warga kita tak perlu jadi buruh rendahan di sana sekedar bertahan hidup. Impian anda tentang hubungan RI - Malaysia ?

“Main aksi anarki, sweeping. Melempar kotoran manusia, segala”, lanjut si pembicara. ( menlu Malaysia pasti gemas, bisa ditebak ). Anda peduli ? Apa kita perlu ( peduli ) ? Apa mereka peduli ketika 50 nelayan kita ditahan, atau TKI kita dihajar sampai mampus di sana ? Sebagian menunggu hukuman mati. Apa pemerintah kita peduli ? (  O, mereka pantas menerimanya. Berbuat kriminal. Kita serahkan saja pada Malaysia, katanya ( tanpa berupaya dulu memberi pendampingan hukum, atau mengecek ; betulkah seberat itu dosa para TKI malang sehingga harus mati memalukan di negeri orang ?  Saya pengen tahu, kalau si pembicara yang dihukum mati atau anggota keluarga tercintanya yang dieksekusi, bicaranya seperti apa. TKI itu punya keluarga, kan ?  ). Anda gregetan ?

Di tayangan “Kick Andy”-MetroTV  beberapa bulan lalu, seorang warga Indonesia menceritakan pengalamannya 2 tahun ditahan FBI. Gara2 dikira mau menyelundupkan senjata. Turis Indonesia yang sedang jalan2 lihat senjata di sebuah pameran itu tak menyangka bisa berakhir di bui Amerika. Ketika ia minta bantuan kedutaan, mereka bilang tak ada anggaran.

Padahal, si turis tidak minta uang jaminan pembebasan. Kalau tidak bisa memberi bantuan hukum, minimal beritahu informasi mendapatkannya. Apa pun tentang sistim hukum di Amerika. Mereka kan sudah tinggal lama di negeri Paman Sam. Dengan gondok, si turis berjuang terpaksa sendiri membebaskan diri. Persoalannya, adalah surat pemeriksaan yang disalahpahami.

Warga Indonesia di penjara AS berjuang sendiri. TKI di penjara Malaysia juga ?

Ketika bebas, baru diplomat kita datang menyalami. Si turis memilih ngeloyor pergi. 2 tahun terbuang percuma, gara2  sikap tidak peduli. Kasus David Hartanto yang mati mengenaskan di Singapura, wakil pemerintah kita juga cuma manggut2 manut, se-bullshit apapun penjelasan pihak Singapura. Kalau pemerintah sendiri tidak peduli, bagaimana pemerintah negara lain mau peduli ? Jangan cuma menyalahkan sikap demonstran yang gregetan dengan sikap pemerintah yang lembek terhadap provokasi negara tetangga. Itu adalah akumulasi kejengkelan warga kita dan provokasi negara tetangga yang kian menjadi-jadi ( seperti di atas angin karena ‘you know who’ di belakang mereka ). Tak tahu diri.

Tak jauh berbeda dengan tindakan tegas ( baca : sweeping ) oleh kelompok tertentu yang kuatir kemaksiatan merajalela dan mendatangkan murka Allah yang kita semua terpaksa menanggungnya. ( Anda masih percaya kalau alam semesta punya Penguasa dan hukum-Nya sendiri, kan ? ). Orang bilang ‘kekerasan’ itu menyalahi hukum dan tidak elok. Jika, pemerintah makin permisif terhadap kejahatan, melumrahkan sesuatu yang menyalahi syariat, karena negara lain begitu, sudah banyak yang begitu, maka jangan heran jika kelompok ini terpaksa bergerak menyelamatkan keluarga dan lingkungannya dari petaka yang lebih dahsyat.  Sekuat mereka bisa. Karena semua saluran mampet dan sistem negara telah menolak mereka ( karena bayang2 kapitalis dan ancaman kekuatan militer yang mereka miliki  ). Murka Allah, siapa yang bisa menandingi ? Ribuan kali bom atom Hiroshima belum bisa menandingi satu pun letusan gunung berapi. Apa kita mau mencoba ?

=====

Posko “Ganyang Malaysia” di 10 kota. Sudah 500 ribu orang.

Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) siap terhadap apa pun keputusan yang diambil pemerintah dalam perundingan dengan pemerintah Malaysia, pada 6 September 2010. Tugas TNI adalah menjaga kedaulatan negara, integritas, dan keutuhan wilayah NKRI serta menjaga keselamatan bangsa. Tugas tentara, siap perang setiap saat, kata Jenderal Djoko Santoso, Panglima TNI.

Ketegangan Indonesia-Malaysia belum juga menurun. Sejumlah warga di 10 kota berinisiatif mendirikan posko bela negara “Ganyang Malaysia”, didukung mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Purnawirawan Slamet Subianto. Para relawan (  saya dengar lebih 500.000 orang sudah bergabung ) dibekali ilmu bela negara oleh mantan2 pejuang dan tokoh2 nasional.

Enam nelayan asal Kelurahan Brandan Timur dan Kelurahan Sei Billah, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Barat, masih ditahan polisi Malaysia di Kedah, sejak 9 Juli 2010. Pemerintah Indonesia diminta segera melakukan diplomasi untuk membebaskan ke enam nelayan itu. Keluarga nelayan2 tsb baru mengetahui keberadaan kepala keluarga mereka dari TKI, kata M.Riza Damanik, sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan ( Kiara ). 6 nelayan yang ditahan adalah Zulham ( 40 ), Ismail ( 27 ), Amat ( 24 ), Hamid ( 50 ), Syahrial ( 42 ) dan Mahmud ( 42 ). Hingga saat ini ( PR, 29/8/2010 ), pemerintah Malaysia atau pun Kedutaan Besar RI di Malaysia tidak memberikan informasi terkait status keenam nelayan malang tsb. Berbeda dengan sikap pemerintah Indonesia, melalui Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dan Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, yang sigap melepas 7 pencuri ikan asal Malaysia.

3 staf KKP seharga 7 nelayan Malaysia + 56 nelayan Indonesia. Mahalnya perundingan.

Sejak 2008, lebih 50 nelayan tradisional asal Langkat ditangkap aparat Malaysia. Mereka dituduh memasuki wilayah laut Malaysia tanpa izin, tepatnya di kawasan Batu Putih, sekitar 2 mil laut sebelum perbatasan laut Indonesia. Hubungan Indonesia dengan Malaysia memanas menyusul insiden saling tangkap di Perairan Bintan, Kepulauan Riau pada 13 Agustus 2010. Tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP ) menangkap 7 nelayan Malaysia yang mencuri ikan di perairan tsb. Saat menggiring 7 nelayan, polisi laut Malaysia menangkap 3 petugas KKP dan melepas tembakan peringatan ( wah, kalau lewat patroli TNI AL saat itu, ditangkap sekalian polisi laut Malaysia itu. Sehingga polisi Malaysia mendapat lawan yang cocok.

Tentara kita, kan, sangar2. Jagonya perang di wilayah konflik dalam dan luar negeri. Tinggal presiden bilang ‘maju’ !  Seingat saya, ( saat panas klaim blok Ambalat ) mereka bilang di teve, siap perang ( ikut gusar rupanya ). Tinggal menunggu komando dari panglima tertinggi untuk urusan ‘menghajar’ para pelanggar perbatasan RI. Ingat, Laksamana Ceng Ho sampai perlu membawa dan menunjukkan kekuatan armada 8000 tentara untuk mengawal misi persahabatan dengan raja2 nusantara, agar bisa sukses. Jaman kita, jangan kalah style ‘diplomasi’, ah. Silakan, kalau TNI mau unjuk kekuatan menjelang dan selama perundingan perbatasan dengan Malaysia sampai hak perbatasan kita tercapai dengan benar dan sah. Tidak dikibuli, diakali, or something like that oleh negeri jiran ( dan para pendukungnya ).  Mau latihan perang atau hilir mudik dengan pesawat tempur dekat wilayah Malaysia, mangga. Sepertinya, presiden dan para perunding kita perlu disupport agar berani menunjukkan harga diri kita ).

Ketiga petugas KKP kemudian ditahan beberapa hari di Johor, Malaysia, sebelum akhirnya dilepaskan, bersamaan dilepaskan 7 nelayan Malaysia oleh aparat keamanan Indonesia. ( yang 50 nelayan, bagaimana nasibnya, pak ? ). Pemerintah Indonesia hanya melakukan diplomasi politik tanpa melakukan aksi. Padahal, pemerintah Malaysia sudah mau melakukan aksi diplomasi seperti travel warning. Kita sudah ketinggalan 2-0, kata Yanyan Muhammad Yani, pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran. Tiadanya aksi tegas dari pemerintah Indonesia dikuatirkan justru memicu masyarakat untuk menentukan aksinya sendiri. ( PR, 29/8/2010 )

Royalti menyedot uang kita ke luar negeri. Cina kaya oleh konten lokal.

Konten lokal menjadi salah satu kekuatan perekonomian Cina, selain regulasi yang dirancang berpihak pada dunia usaha dan kemudahan dalam berbagai aspek bisnis. Daya saing produk Cina meningkat di pasar global, oleh karenanya. Konten lokal menjadi salah satu bentuk efesiensi paling efektif yang diterapkan Cina, kata Deddy Widjaja ( Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia/ Apindo ). Contohnya dalam produksi pakaian ; bahan baku kapas ditanam petani Cina. Truk yang digunakan untuk mengangkut, buatan Cina. Kapal dipintal di Cina dengan menggunakan mesin buatan mereka sendiri, dst. Produk Cina nyaris tanpa biaya tambahan sehingga biaya produksi bisa ditekan. Cina nyaris tak harus menggulirkan uangnya ke luar negeri hanya untuk membayar royalti, seperti banyak terjadi di Indonesia.

“Sebenarnya Indonesia juga bisa dan memiliki potensi besar untuk bisa seperti Cina, bahkan lebih baik. Kuncinya adalah memupuk kecintaan terhadap produk lokal. Kenapa harus memakan ayam waralaba Amerika Serikat kalau bahan bakunya lokal ? Bukankah lebih baik memakan Ayam Suharti atau produk lokal lainnya ?” imbuhnya. Plus dukungan penuh pemerintah dalam bentuk kemudahan regulasi dan pembangunan infrastruktur memadai untuk meningkatkan perekonomian nasional.

Dukung Rumingkang ( seni tradisi, jati diri ) & Ayam Suharti ( produk dalam negeri ). Beli kapal perang ( alutsista ) agar kita tidak dihina, NKRI terjaga aman, kita tidak ditangkapi orang asing di wilayah perbatasan kita sendiri. TNI bertebaran & mengawal kita. Setuju ?

Beberapa fakta pendukung daya saing produk Cina yang kerap diklaim berbagai pihak nyatanya dimiliki Indonesia. Dibilang nilai tukar Cina dibuat sangat lemah agar produknya berdaya saing, faktanya nilai tukar Indonesia lebih lemah. Dibilang tengan kerja Cina murah, faktanya Indonesia lebih murah. Tahun 2004, indeks upah di Cina 1 USD perjam, sementara Indonesia 0,7 USD perjam, kata Arief Bustaman ( peneliti dan dosen FE Unpad ). Mestinya, daya saing produk Indonesia lebih tinggi. Sayangnya, kondisi ini tidak didukung regulasi yang membuat efesiensi, sehingga penanaman modal asing terus tergerus. Dua hal tsb yang membedakan keadaan ekonomi kita dengan Cina. ( PR, 15/8/2010 ).

Anda bisa menarik benang merah dengan pilihan kita memakan “Ayam Suharti” ketimbang waralaba asing, sekarang ? Atau pembelaan saya terhadap Rumingkang di IMB-TransTV ? Kenali negerimu, cintai negerimu, gunakan produk dalam negeri.

( Sehingga kita bisa membekali TNI dengan banyak kapal perang, squadron tempur, personel militer yang perkasa untuk menjaga kedaulatan RI dan martabat kita sebagai bangsa. Sehingga kita bisa memberi asupan bergizi  untuk penjaga perbatasan dan warga kita di pulau2 terdepan. Sehingga kita bisa bertindak tegas ketika negara tetangga sedang kumat menghina, nyelonong ke wilayah kita seenak udel. Nangkapin orang kita lagi. Kita, 1945, merdeka dengan berperang. Bukan hadiah. Bambu runcing, remember ?  350 tahun, sebagian orang bilang kita dijajah. Sebagian yang kritis mengatakan dengan pede, 350 tahun kita tidak pernah menyerah melawan bangsa asing. 350 tahun penjajah tak mampu menaklukkan kita. MERDEKA  atau MATI ! pekik Bung Tomo, merindingkan bulu roma. Kita, negara besar, dengan 235 juta penduduk dan 17.504 pulau. Ketegasan mengundang respek. Sikap lembek mengundang tawa di hati pihak yang remeh sekalipun  ).

Semoga merah putih warna hatimu ..

Seperti mereka yang memberi harapan ( dan kebanggaan ) di bawah ini. There’s a hope. Always.

=====

Mahitala, Wanadri, penggemar pece lele, mengukir Indonesia di 7 puncak dunia.

Puncak Kilimanjaro, 5.895 mdpl ? Brr..r, pasti dingin. Beberapa anak2 muda nekad ke sana, mencatatkan nama Indonesia dalam sejarah penaklukannya. Setiap kita punya cara unik untuk berkontribusi pada negara, ya ? Mengharukan..

Kalian merah dilatarbelakangi putih. Merah putih di dada kalian, kebanggaan di hati kami.

FransTumakaka ( 23 ) dan Janatan Ginting ( 21 ) dari jurusan Akuntansi FE, Sofyan Arief Fesa ( 27 ) dari program Magister Manajemen dan Broery Andrew ( 21 ) dari jurusan Fisika  Fakultas Teknologi & Sain, yang tergabung dalam Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar 2009-2012 ( ISSEMU ) mengibarkan bendera merah putih di 2 dari 7 puncak tertinggi di dunia. Puncak Carstensz Pyramid di Papua, Indonesia ( Januari 2009 ) dan Puncak Kilimanjaro ( Puncak Uhuru ) di Tanzania, Afrika ( 10 Agustus 2010, pukul 10.20 ) waktu setempat melalui Western Breach dengan formasi tim minimalis . Impian pendaki gunung seluruh dunia bisa mereka capai. Kebanggaan tak terhingga.

Mereka bertemu dengan tim USA ( 9/8/2010 ) beranggotakan 17 orang, 83 porter. Sedangkan ISSEMU, hanya beranggotakan 4 orang, ditemani 5 porter dan 2 guide. Seven summits adalah 7 puncak tertinggi dunia di 7 benua. Richard ( Dick ) Daniel Bass, warga AS, memperkenalkan istilah tsb sekitar tahun 1980, meski ada revisinya. Seven summits itu ;

  • Puncak Carstensz ( Papua/ 4.884 mdpl ),
  • Vinson Massif ( Antartika/ 4.897 mdpl ),
  • Elbrus ( Rusia/ 5.642 mdpl ),
  • Kilimanjaro ( Tanzania/ 5.895 mdpl ),
  • Denali/ Mc Kinley ( Alaska/ 6.194 ),
  • Aconcagua ( Argentina/ 6.962 mdpl ) dan
  • Sagarmatha/ Everest ( Nepal/ 8.850 mdpl ).
Ini dia, 4 anak nekad itu. Di saat, tim Amerika membawa 17 orang dan 83 porter. Mereka berani minimalis melewati shortcut yang curam, mencapai puncak. Kalian ini sebangsa cecak atau spiderman, ya ? Hidup Mahitala, Unpar, ISSEMU dan Indonesia !!

Menurut www.7puncakdunia.net sudah 108 pendaki dari 33 negara yang berhasil mencapainya, diantaranya Jepang, Cina, Korea Selatan, Singapura, Kuwait dan India. Dari Indonesia belum ada, kata Widyastuti, bagian publikasi ISSEMU. Untuk itulah, tim yang berangkat pada 4 Agustus 2010 itu akan melanjutkan perjalanan ke Puncak Elbrus ( target tercapai 24/8/2010 ), Vinson Massif ( Januari 2001 ), Aconcagua ( Februari 2011 ), Everest ( Maret-Mei 2011 ) dan Denali ( Mei 2011 ).

Saat mendaki Kilimanjaro, tim tak menempuh jalur Marangu yang banyak ditempuh pendaki lain, tetapi jalur Machame yang konturnya lebih rapat dan curam namun berjarak lebih pendek. Tim mendapat sponsor tunggal sebesar Rp 5,9 miliar. Tim Ekspedisi 7 Summits dari Indonesia, sebagian besar anggota Wanadri. Kami rindu masakan nusantara, terutama pecel lele, kata anggota tim ISSEMU. ( disarikan dr PR, 12/8/2010 ).

Ada Jalan Laswi di Bandung. Euis, Lasykar Wanita Indonesia ( Lasywi ) & semangat 45.

Gaung perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945 tetap terasa di saat Indonesia sudah merdeka 65 tahun. Berbagai usaha dilakukan para pejuang guna menggapai alam merdeka. Bebas dari belenggu penjajahan. Bahkan hingga berkorban nyawa. Setelah merdeka, pejuang sejati tak pernah berhenti. Semangat Euis Sari’ah Sartje ( 84 ), Eks Komandan Seksi I Lasykar Wanita Indonesia ( Lasywi ) Mardi-Hardjo, patut ditiru.”Kemerdekaan bukanlah kata akhir, tetapi merupakan awal untuk mewujudkan tujuan negara Indonesia yang damai, tenteram dan sejahtera. Pembangunan yang dilakukan di berbagai bidang hendaknya tetap dijiwai semangat memperkokoh rasa persatuan,”ujarnya.

Anggota Wirawati Catur Panca ( organisasi veteran pejuang wanita 45 ) pada sebuah acara mengenang perjuangan mereka, di Cikarang Jawa Barat. Seorang kakek veteran perang di teve mengatakan, setelah tanah air merdeka, ia hanya bisa menyewa tanah dan membeli air. Yang kaya cuma pejabat, katanya seraya terkekeh. Miris ?

Menurut wanita kelahiran Bandung, 30 Mei 1926 ini, Lasywi Mardi-Hardjo dibentuk 12 September 1945 dibentuk di Bandung, bermarkas di Jalan Pangeran Sumedang ( sekarang Jalan Otoiskandardinata ). Mula2 Lasywi terdiri para pelajar putri dari berbagai sekolah menengah di Bandung dan ibu2 dari Fujingkai. Setelah banyak yang bergabung, dibentuklah pasukan2 yang terdiri 2 seksi ( peleton ) membawahi 8 regu. Selain berjuang memikul senjata, para anggota Lasywi juga diterjunkan membantu korban banjir Cikapundung, korban pengeboman Cibodas, pencari berita kondisi medan peperangan, bertugas di dapur umum, serta di bidang kesehatan.

“Di waktu senggang, kami mendapat latihan baris-berbaris, bongkar pasang senjata, bela diri tangan kosong, anggar, serta membaca kode morse dan bendera. Semoga, semangat perjuangan dan pengorbanan tetap menjiwai generasi kini dalam pembangunan bangsa di alam kemerdekaan,”kata Euis. ( PR, 13/8/2010 )

Uang RI kumal di perbatasan, warga ingin pindah kewarganegaraan, Winny pun terjun turun tangan.

Winny Erwindia tergugah, mengetahui warga Indonesia di perbatasan memegang uang RI yang kumal, ia lalu mengupayakan pendirian kantor2 bank di sana. Anda terpikir sampai ke situ ? Uang kumal berkorelasi dengan kurangnya perhatian pusat kepada warga di perbatasan.

Setelah mengundurkan diri sebagai dirut Bank Pembangunan Daerah ( BPD ) DKI pada 22 Juli 2010, Winny Erwindia ( 59 ) tidak bisa benar2 meninggalkan dunia perbankan yang telah membesarkannya. Dengan pengalaman demikian banyak, dari bank ke bank, ia kini menjadi ketua umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah ( Asbanda ) yang beranggotakan 26 BPD. Menurut Winny, ia mengemban misi untuk mempertahankan eksistensi daerah2 perbatasan agar tetap berada dalam pangkuan ibu pertiwi.

“Katanya, orang di perbatasan banyak yang ingin berpindah kewarganegaraan karena mereka merasa kurang diperhatikan. Di sana, tidak ada atau jarang kantor cabang bank. Lagian, di sana itu duitnya kumal2,”ujar wanita kelahiran Tegal, 11 Januari 1951 ini. Oleh karena itu, nantinya di daerah perbatasan akan didirikan kantor2 bank. Saat ini, Asbanda dengan 26 BPD mempunyai 2.252 kantor.

Asbanda yang kini menempati kantor baru di Menara MTH Jakarta, terus menguatkan komitmen untuk mempercepat pertumbuhan bank2 pembangunan daerah. Asbanda telah menyiapkan cetak biru BPD sebagai regional champion bersama Bank Indonesia untuk memperkuat daya saing dan kelembagaan. “Inginnya sih, bisa menjadi tuan di negeri sendiri atau pemenang di daerahnya.” ( PR, 25/8/2010 ).

Kodim Ciamis is the best. Dodi senyum, warga pun senyum. Maklum, panen 2 kali lipat.

Komandan Kodim ( Dandim ) Ciamis, Letnan Kolonel CZI Dodi Kuswadi ( 46 ) merasa bangga karena Kodim Ciamis dinilai sebagai kodim terbaik se-Indonesia. Penghargaan itu buah kerja keras semua jajaran Kodim Ciamis. Penilaian dilakukan oleh Angkatan Darat ( AD ), mulai dari manajemen hingga pembinaan yang telah dilakukan kodim setempat terhadap masyarakat. Dodi berhasil menata administrasi di Kodim Ciamis serta melakukan pembinaan pada masyarakat.

Salah satu pembinaan teritorial yang menonjol dilakukan oleh pria murah senyum ini, yakni meningkatkan pendapatan petani. Dia mengembangkan padi hibrida dan pola tanam padi yang tepat.”Awalnya saya merasa prihatin karena perolehan panen padi menurun. Akhirnya saya mencoba mempelajari masalah itu. Saya juga membuat deplot tanam padi hibrida di 3 kecamatan, yaitu Panumbangan, Pamarican dan Cihaurbeuti seluas 23 hektar,”ujarnya di lokasi bencana di Cimaragas, Kab. Ciamis.

Hasilnya, panen padi petani di daerah tsb melonjak tajam. Dari rata2 6 ton tiap hektar menjadi 9 ton lebih. Bahkan, ada yang mencapai 12 ton. Petani memang kadang ada yang tidak disiplin dalam pemupukan, penanganan hama, dan lainnya. Kami coba bangkitkan semangat petani agar berdisiplin, karena hasilnya bagus, kata Dodi yang turun langsung memberikan penyuluhan kepada petani di sawah. Dia ingin masyarakat benar2 sejahtera.

Dodi juga dinilai cukup berhasil dalam memelihara kebersihan. Kodim Ciamis jadi kantor terbersih di antara perkantoran di Ciamis, termasuk kantor pemerintahan. ( PR, 16/8/2010 ).

Anggota Kodim Ciamis ketika turun tangan membantu korban gempa Tasikmalaya tahun 2009. Bentuk kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Iklan

Written by Savitri

5 September 2010 pada 15:07

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: