Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Sepakbola, Soedirman & standar ruang perkotaan. Go.. go.. gool !!

leave a comment »

1 : 7. Indonesia dicukur habis Uruguay. Setengah lusin lebih. Jumat malam ( 8/10/2010 ) di Gelora Bung Karno, Jakarta. Tak perlu kaget, urutan 137 melawan urutan 4 dunia, ulas komentator sepakbola di teve.

Patung Jenderal Soedirman. Tidak semua orang bisa dipatungkan, dipajang di ruang publik. Pastilah yang berjasa besar bagi kawasan, kota maupun negara, yang diberi kehormatan untuk tampil di ruang kota. Menjadi sumber inspirasi, mengundang kontemplasi. Masa kita, sulit mencari jenderal, pemimpin partai, agama, negara yang diidolakan anak buah atau rakyatnya. Segelintir yang betul2 baik tak diberi ruang hingga ke puncak, katanya. Apa yang baik ini kurang gigih, kurang berpikir atau kurang berani ? Bertindaklah besar. Taman bermain, mulanya. Gol Piala Dunia tengahnya. Kedaulatan penuh RI, akhirnya. Berani bermimpi ?

Gegap gempita penonton meneriakkan ‘Indonesia !’ ( good for you, people .. in good and bad times ). Sayangnya, tak mampu menghantarkan timnas Indonesia memenangkan pertandingan. Ketika tim Uruguay mulai menggungguli Indonesia 1 : 2, saya mulai meremas, menurunkan topi. Mata mulai memicing, mengintip dari tepi topi. Bakal hujan gol, nih. Seberapa malu Indonesia mau dibantai negeri 3,3 juta penduduk ini ? Dag dig dug.

Makan apa mereka, cowok2 Uruguay itu ? Begitu perkasa melibas orang kita. Menit2 pertama, pemain Indonesia memang bermain rapi dan disiplin. Bahkan, Boaz Solossa ( 17 )  berhasil lebih dulu menyarangkan gol ke gawang Uruguay. Kiper Indonesia, Markus Haris Maulana ( 29 ), sekilas jagoan, andal menghentikan bola2 berbahaya ke gawangnya. Serasa nonton kiper terbaik dunia di even bergengsi Piala Dunia ( ciee .. ). Nah, itu berlaku di 20 menit pertama. Kala stamina pemain Indonesia masih prima.

Terkapar oleh China dan Uruguay. Energinya mana ?

Setelah kekuatan menurun, pikiran mengeruh, mulailah adegan bulan-bulanan itu ( seperti juga menimpa atlit bulu tangkis kita di 2 Thomas-Uber terakhir. Ingat Taufik Hidayat, dkk, yang seperti kehabisan tenaga di set ke-2 dan 3. Pada kemana nih, energinya atlit kita ? Teknik tidak kalah, tapi staminanya.. wah. Lihat Lin Dan dari China, pebulutangkis nomor satu dunia ( kala itu, kini ranking 2 dunia ). Badan ( relatif ) kurang tinggi ( liat berotot ), tapi kegesitannya bermain, patut diacungi jempol. Dari awal sampai akhir, tak sedikit pun terlihat kendur. Terus merangsek bak energizer tulen, sampai lawan terkapar ( termasuk pemain kita ). Saya seperti melihat biksu shaolin sedang menghajar para penyusup biaranya.

Ini hanya pertandingan persahabatan menjelang turnamen resmi Piala AFF 2010  yang akan berlangsung Desember 2010 nanti, lanjut komentator mencoba menenangkan pemirsa ( sekaligus menyadarkan saya dari biksu shaolin ). Untuk mengetahui kekurangan tim sepak bola Indonesia. 3 pemain asal Belanda akan merumput di Indonesia, kabarnya. Thank God. Saya nggak tega terus melihat adegan pencukuran semacam itu. Not cool.

Tim Indonesia perlu dikatalis sehingga meraih reputasi keren di dunia persepakbolaan. Dalam PON, Jabar dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, mentargetkan ( dan wajarnya ) meraih juara umum. 42 juta kepala dengan talenta beragam, probabilitanya tentu lebih besar untuk merebut posisi ranking satu, ketimbang provinsi lain yang lebih sedikit sumber daya manusianya. Masuk akal. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 dunia, mestinya ( sedikitnya ) bisa meraih posisi 4 dunia. Posisinya tim Uruguay itu. Spanyol saja, bisa jadi juara Piala Dunia  2010. Indonesia mestinya bisa. Kipasa ( kita pasti bisa ).

Incredible hero : menangis dalam ketakberdayaan orang lain.

Apalagi sepakbola adalah olahraga yang membuat kaum adam punya alasan berpelukan. Tertawa dan menangis bersama, tanpa dicurigai macam2. Sisi lembut di balik olahraga keras ini. ( need a huge ? tulis bule di luar negeri menawarkan pelukannya di tengah hiruk pikuk kota yang kian individualis ). Ini yang terlintas ketika kaum pria tetap asyik membicarakan si bola bundar, meski Indonesia masih tertinggal jauh dalam prestasi sepakbola. Wah, terbayang kalau Indonesia bisa sampai juara Piala Dunia. Seseru apa kaum pria menunjukkan sisi lain dirinya.

( bagi saya, pria yang betul2 kuat, yang berani menunjukkan sisi lembut dirinya. Budi Soehardi ( 53 ), peraih CNN Heroes 2009, melelehkan air mata ketika pengungsi Timor Timur di NTT terpaksa berbagi sebungkus mi instan untuk dimakan berempat, di saat sang pilot dihadiahi makanan lezat semeja penuh atas prestasi profesionalnya di Singapore Airlines. Pilot Garuda Airways ( 1976-1989 ) ini langsung mengontak teman, menghimpun bantuan dan terbang ke lokasi bencana. Selanjutnya, ia mengasuh anak yatim dan terlantar, bersama istri tercinta. Rruarr biasa ).

Ingat si Incredible ? ( one of my favourite anime movies ). Pensiunan hero yang perutnya tidak sixpack lagi, resah mencari jati diri. Pada pertempuran klimaks dengan maniak antagonis, si hero memilih menanggung beban sendirian daripada melibatkan istrinya yang juga pendekar kebenaran. Menantang maut. Not this time. I can’t bare to lose you again ! jeritnya histeris. Wow ..

Pria disebut dari mars, wanita dari venus. Salah paham sering terjadi. Wanita jagonya detail, pria umumnya buruk dalam hal ini. Bisa jadi mata mereka terus tertuju ke pertandingan sepakbola di layar kaca, ketimbang memuji baju baru yang dikenakan sang istri, segera berkemas menepati jadwal berkunjung ( yang dijanjikannya ) ke rumah mertua, atau bahkan  mencium istri di hari ulang tahunnya/ anniversary mereka. Mereka memang begitu, kata teman ( mungkin pria tak ingin ketinggalan keguyuban mereka, plus pelukan itu .. uw ),

Kalau cuma rangking 137 dunia, tanggung. Jadilah nomor satu. Bagaimana caranya ? Jika ingin mendamaikan dunia, mulailah dari anak2, kata Mahatma Gandhi. ( Ada hubungannya ? ) Jika ingin menyadarkan orang agar buang sampah pada tempatnya, mulailah dari anak2. Para belia ini bisa menegur, berteriak, jika dilihatnya orang dewasa membuang sampah sembarangan ( cara serupa ini berhasil di Mexico City ). Buat mereka tersipu malu dan tidak mengulangi perbuatan buruk itu, adikku. Ingat, orang lain bisa tewas terjegal lubang jalan, kalau selokan sampai mampet oleh sampah. Very dangerous .. ( don’t try this at home ).

RTH 30 % dan gelanggang pemuda, awal menuju juara Piala Dunia ? Just believe.

asavitri

Lapangan basket depan kolam Sentrum, Bandung. Siswa SMA 3 & 5 bisa berkumpul, berinteraksi, bercanda dan berlatih di sana, kapan saja kepenatan hinggap. Jika saja setiap lingkungan perumahan memiliki sarana seperti ini, stres warga kota tak sampai meletus jadi tawuran massal atau aksi anarki. Ketegangan bisa di-cooling down. Mau santai dulu, ah..

Jika ingin Indonesia jadi juara Piala Dunia, mulailah dengan menyediakan RTH 30 %, termasuk taman bermain anak, lapangan olahraga untuk pemuda dan gelanggang karang taruna. Daripada mereka menjadi anak jalanan, berkumpul dengan kawan senasib membentuk geng motor, melampiaskan kesumpekan dan kemarahan mereka pada masyarakat yang abai membina mereka. Loe loe gue gue. Karena semua lahan terbuka yang seharusnya disediakan untuk mereka, telah dirampas dan diserahkan pada pengusaha mall dan investor demi target PAD atau profit golongan tertentu.

Lalu siapa yang akan menggantikan kita di masa depan ? ( di saat tantangan jaman makin sulit, di saat minyak mengering selepas golden age 2020 nanti. Apa mereka terpaksa pasrah menjadi kuli bangsa maju, mengulangi nasib pendahulu kita yang terjajah ?  negeri besar ini tak cukup dipimpin keturunan orang2 kaya itu, yang kepekaan sosialnya kurang. Negeri ini butuh hero seperti kapten pilot Budi Soehardi, dokter Jose Rizal Jurnalis ( relawan kemanusiaan MER-C ), Susi Pudjiastuti ( pengusaha produk laut, juragan pesawat, yang begitu sigap menolong korban tsunami Aceh ), dkk. Atau senior mereka ;  Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan Jenderal Soedirman, dkk.

Polisi, geng motor, teroris. Siapa musuh bersama ?

3 pos polisi di Bandung ( diduga ) dirusak geng motor, setelah mereka marah dibubarkan malam harinya. Muncul  protap ‘penanggulangan anarki’ bagi pelaku anarki. ( bagaimana kalau kemudian pengunjuk rasa diam, polisinya yang anarki ?  Negara ini bisa amburadul, jika tak ada yang berani mengingatkan penyimpangan pemerintah ). Sebagian bilang, polisi baru mengeluarkan protap setelah isu penggulingan pemerintah kian santer. Jaga2 kalau demonstran makin gigih. Perampok saja sudah demen menghabisi polisi. Kenapa polisi bisa menjadi common enemy sekarang ? Terpuruk citranya. Sebagian pengamat kepolisian mengatakan, karena polisi terlalu mengintervensi masyarakat. Kehilangan wibawa. Cenderung jadi alat penguasa. Tidak netral lagi. Tidak to protect and to serve lagi.

Misalnya, buruh berdemonstrasi menuntut kesejahteraan. Hak mereka untuk menuntut itu dari majikannya. Tapi, ( sebagian )  polisi malah berpihak pada bos pabrik. Posisi polisi seharusnya netral, biarkan mereka berdemo. Kendalikan saja demonya agar tidak rusuh. Lalu, kasus2 yang menjerat polisi di pengadilan, belum memenuhi rasa keadilan masyarakat. Belum lagi, kita bicara senapan serbu yang mestinya senjata taktis TNI dalam keadaan darurat perang melawan musuh dari luar. Bukan untuk menembaki warga sendiri ( sebagian pengamat mengatakan ini pelanggaran HAM luar biasa ). Tak heran, kemarin terjadi insiden antara Densus dengan TNI AU. Bandara memiliki protokolernya sendiri. Dilarang membawa senjata tanpa izin kepala bandara. Jika demonstrasi sudah sangat anarki, chaos, di luar kemampuan polisi yang dirancang untuk mengatasi kriminal lokal dalam masa negara aman, maka polisi dianjurkan minta bantuan kekuatan lain ( TNI, dll ).

Di desa yang masih lekat dengan hukum adat, polisi sebaiknya menghormati pranata yang sudah ada di masyarakat. Biarkan mereka menertibkan warga adatnya sendiri. Polisi bisa mendekati lingkaran kecil ;  para tetua adat secara persuasif. Menghadapi warga yang lebih kebal seperti di Jakarta dan Makasar, polisi bisa masuk ke lingkaran kecil pemimpin demo. ( seorang koordinator demo mengaku, mereka terpaksa lebih keras, membuat setingan seperti itu, karena anggota dewan sudah tidak mendengar. Dengan kehebohan yang mereka buat, mereka merasa lebih didengar, diliput media massa, dan hasil ( tuntutan mereka ) lebih cepat tercapai ).

Protap sendiri ada 4 tahap ( seingat saya ) : jika terjadi anarki, lumpuhkan dulu dengan kekuatan fisik. Jika tidak mempan, baru gunakan alat tumpul ( pentungan, water canon, gas air mata, dll ). Belum mempan juga, beri tembakan peringatan. Belum berhenti juga, sementara nyawa polisi, warga terancam, baru diperbolehkan tembak di tempat/ bagian bawah ( sedapat mungkin tidak mematikan ). Ketegasan polisi harus ditujukan pada sasaran yang tepat dan alasan yang benar. Jika tidak ( atau asal-asalan ), maka polisi akan hilang wibawa, lalu  menjadi sasaran kemarahan masyarakat.

Polisi kita masih bersifat komandanisme. Menunggu instruksi atasan. Dalam keadaan genting, mestinya pemimpin pada level tertentu diperbolehkan mengambil tindakan darurat. Asal ia bisa mempertanggungjawabkan keputusan dan menjelaskan alasannya dengan baik ( masuk akal, tidak ada cara lain, dsb ), semestinya ia bisa selamat dari pemecatan atau hukuman berat lainnya. Menembak itu seperti UAN. Waktu latihan jago, tapi pas ujian ( situasi berbahaya ) bisa gagal ( kena jantung atau korban lain ). Mesti benar2 expert dan mental teruji. ( satpol PP yang cuma mengenyam diklat sebentar, tak layak memegang pistol. Di luar negeri, tidak ada satpol PP. Peran mereka digantikan teknologi. CCTV di mana2. Berani melanggar ?  Besok datang surat undangan untuk datang ke pengadilan ). Abad ke 19, ada kesepakatan yang berlaku untuk seluruh dunia, bahwa yang diperbolehkan memegang pistol dan dibenarkan membunuh adalah polisi dan tentara. Powerfull and dangerous. ( tanggung jawab pun besar untuk menjaganya, setiap butir peluru ada laporannya )

Ada olok2 di masyarakat, jangan lapor polisi kalau hilang sapi. Karena anda akan kehilangan kandang sapi untuk bayar polisi. Namun, kita tak bisa berdiam diri kalau polisi memang perlu mereformasi diri. Anda masih sayang pada lembaga keamanan kita, kan ? Agar Polri tetap terawasi oleh kita ( rakyat, pemilik republik ini ), pelanggaran polisi yang anda ketahui silakan lapor ke Kompolnas ( Komisi Kepolisian Nasional yang diketuai Djoko Suyanto, menko polhukam ) di website http://www.kompolnas.go.id/

RI kurang berdaulat di laut dan udara. Tuh, pesawat Singapura lewat ..

Sedikitnya 10 negara yang berbatasan dengan wilayah RI berpotensi menjadi musuh kita, kata pengamat intelijen sekaligus mantan perwira intelijen Kodam III Siliwangi ( Kapendam III Siliwangi ), kolonel ( purn ) Herman Ibrahim. Kita masih dalam tahap perundingan perbatasan dengan mereka. Kita belum sepenuhnya berdaulat. Laut dan udara kita masih kurang. Pesawat Singapura leluasa hilir mudik di wilayah udara kita, tanpa sanggup kita cegah, karena kurangnya alutsista. Akhirnya, kita terpaksa menyewakan dan … minta izin ketika melewatinya !  ( wilayah udara kita sendiri ). Ridiculous. Menyedihkan.

Untuk damai, kita harus siap perang. Perang itu terjadi bergiliran di berbagai wilayah dunia. Tak bisa kita hindari. ( di saat manusia terus bertambah dalam deret ukur, sementara cadangan sumber alam terus menipis  akibat kerakusan dan kesembronoan manusia memperlakukan alam ). Ofensif sudah waktunya, kata Herman, kembali menyentak saya. Tidak hanya internal, ke dalam terus, dengan sistim hamkamrata, pertahanan rakyat semesta, dengan sistim gerilya, yang sudah dilakukan sejak jaman penjajahan dulu.

( Betul juga, ya. Baheula pisan. Musuh sudah punya satelit mata2 di ruang angkasa, sekarang. CCTV di mana-mana siap menjerat anda yang mbalelo menjadi enemy of the state. Dikejar ke ujung dunia dengan piyama ( tak sempat ganti baju ). Pagi buta disergap pasukan elit yang nembak tidak pakai gemetar lagi. Kali ini, karena tugas negara, national security ( tak peduli siapa aktor intelektual sebenarnya, asal gaji bulanan tetap diterima, bukan saya yang dikejar. Itu sudah cukup ). Imagine that. Kisah di serial X-files atau film spionase/ konspirasi, seperti memang terjadi. Bukan sekedar khayalan sang kreator. Seperti para markus yang dulu cuma terendus baunya, sekarang terlihat ujudnya. They’re real ).

Kalau ingin damai harus siap perang. Musuh di perbatasan.

Musuh kita sekarang ada di perbatasan wilayah kita, bukan di dalam ( militan agama tertentu, yang mereka sebut teroris, yang sedang kucing-kucingan dengan Densus 88. Kita tak pernah tahu siapa sebetulnya yang meletakkan bom2 itu, di sana sini, dalam penggerebekan dan penyergapan. Pernah terpikir isu terorisme ini hanya halusinasi yang sengaja dihembuskan kubu Barat ?  Addicted to the west, untill you die. Agar bisnis senjata mereka tetap laku. Pulau2 di perbatasan kita rontok satu demi satu, jatuh ke tangan mereka ( ketahui sejarah Singapura, Malaysia, Australia dibentuk, dan lahirnya Timor Leste ) karena energi dan persenjataan kita terus digunakan untuk menguber-uber bangsa sendiri.

Kadang, saya terpikir, kita seperti bayi montok yang dagingnya begitu lembut untuk dimangsa ikan hiu di sekeliling rakit bernama NKRI. Sepotong kayu, Sipadan, lepas terpental oleh gigitan mereka. Ligitan lepas. Timor Timur lepas. Pulau Pasir lepas, dst. Air mata, darah dan nyawa para pahlawan kita terlepas dengan rasa sakit tak terperikan untuk mempertahankan ( merebut kembali ) lebih 17.508  kepulauan nusantara dari penjajah, dan kita dengan enteng melepasnya satu demi satu, demi bantuan asing dan janji2 utopis. Kurang nyali mempertahankan satu pulau pun ! Malu .. ( terngiang kalimat ‘apa yang telah kauberikan pada Indonesia ?’ What have you done ??!  jerit pejuang kita di alam kubur sana ).

Taman bermain dan arena berlatih : investasi masa depan. Get it.

timnas

Timnas Indonesia berpose sebelum pertandingan. Pernah bertanya-tanya : kenapa atlit Indonesia sering kehabisan stamina ketika berlaga ? Mungkinkah Indonesia jadi juara dunia sepak bola ? Kenapa atlit China dan Rusia bisa begitu perkasa di banyak even olahraga dunia ? Begitu banyak tanya, semoga bisa terjawab nanti ( foto : GOSport/ M Luthfi Makki )

Apa orang2 di comfort zone itu mengerti ? Kita butuh ruang terbuka hijau, sarana latihan, untuk anak2, remaja dan pemuda. Mulai melatih syaraf dan otot gerak sejak dini. ( Brandon umur 2 tahun sudah mengikuti gaya Shakira ). Daripada mereka menggelandang di jalanan berdebu yang cuma tahu mengemis. Mendapat uang dengan instan tanpa usaha. Sesumbar ingin jadi polisi karena bisa nggebuki maling, kata seorang anjal. Tapi baru lihat polisi sudah lari terbirit-birit. Bohong begitu ringan dilakukan. Apalagi norma lainnya ( amanah UUD 1945 : anak terlantar dipelihara/ tanggung jawab negara. Dari mana dananya ? Gunakan uang yang dibawa kabur para koruptor. Merekalah yang seharusnya diuber hingga ke ujung dunia. Mereka bisa aman sentosa sembunyi di Singapura. Tahu kenapa ? Majikan mereka tahu cara mengecilkan kita  ).

Lebih baik anak2 itu  ditempa menjadi penari2 cilik seperti Rumingkang, Brandon, drummer JP Millenix, dancer Fay Nabila, penyanyi Putri Ayu,  atau siapa pun yang bersembunyi di balik potensi masing2 ? Atau dibina menjadi calon peraih bola emas, sepatu emas, sarung perak dari Indonesia. Atau calon jenderal tangguh yang diidolakan anak buahnya ( seperti Jenderal Soedirman ), yang siap memimpin perang ofensif melawan ‘hiu2’ itu. Atau calon pemimpin yang tegas bertindak, visioner dan sayang pada rakyatnya.

So,  please, give us these spaces. ( and we’ll let you watching the football games, sir. Peacefully ).

===

Standar ruang kota.

Dalam penggunaan tanah di kota, digunakan standar agar tertib. Tidak mutlak, berupa petunjuk dan bimbingan.

  • Standar luas perumahan : 79 hektar per 1000 penduduk ( luas tanah 43,5 % ).
  • Standar luas industri : 10 hektar per 1000 penduduk ( luas tanah 5,3 % ).
  • Standar luas ruang terbuka : 37 hektar per 1000 penduduk ( luas tanah 21,5 % ).
  • Standar luas sarana pendidikan : 5 hektar per 1000 penduduk ( luas tanah 3 % ).
  • Standar luas tanah yang belum terpakai : 49 hektar per 1000 penduduk ( luas tanah 26,7 % ).

( Sumber: Keeble )

Standar luas yang sering digunakan di Indonesia dalam perencanaan kota, adalah kepadatan 80 – 200 jiwa per hektar. Kalau tiap keluarga diasumsikan 5 jiwa, maka terdapat 16 – 40 rumah per hektar.

Standar luas sarana umum :

  • Balai kesehatan : 200 m2 per 1000 penduduk.
  • Masjid/ r.ibadah : 250 m2 per 1000 penduduk.
  • Ruang terbuka/ taman : 5000 m2 per 1000 penduduk.
  • Tempat olahraga : 3000 m2 per 1000 penduduk.
  • Tempat bermain anak : 1000 m2 per 1000 penduduk.
  • Pasar : 500 m2 per 1000 penduduk.
  • Toko : 1000 m2 per 1000 penduduk.
  • Balai pertemuan : 250 m2 per 1000 penduduk.

(  sumber : Ditjen Pembangunan Desa )

Standar luas jenjang pendidikan :

  • Taman Kanak-kanak ( TK ) : minimal ada 3 ruangan. Tiap ruang berisi maksimal 20 murid. Jarak TK ke rumah sekitar  ½  kilometer. Luas tanah 700 m2. Melayani suatu lingkungan tempat tinggal berpopulasi 700 penduduk.
  • Sekolah Dasar ( SD ) : minimal ada 6 ruangan. Tiap ruang berisi maksimal 40 murid. Jarak TK ke rumah sekitar  ¾ kilometer. Luas tanah 8000 m2. Melayani suatu lingkungan tempat tinggal berpopulasi 3200 penduduk. Untuk SD 9 tahun : 9 ruang.
  • Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) : minimal ada 7 ruangan. Tiap ruang berisi maksimal 30 murid. Jarak SMP ke rumah sekitar 1 ½ kilometer ( 20 menit ). Luas tanah 10.000 m2. Melayani suatu lingkungan tempat tinggal berpopulasi 14.000 penduduk. Sekarang, SD dan SMP, umumnya telah disatukan menjadi sekolah dasar 9 tahun.
  • Sekolah Menengah Atas ( SMA ) : sebaiknya ada 14 ruangan. Tiap ruang berisi maksimal 30 murid. Jarak SMA ke rumah sekitar 20 – 30 menit perjalanan. Luas tanah 20.000 m2. Melayani suatu kawasan tempat tinggal berpopulasi 42.000 penduduk.
  • Pusat tempat kerja : ke rumah sekitar 20 – 30 menit ( berjalan kaki ).
  • Pusat kota ( mall, dsb ) : ke rumah sekitar 30 – 45 menit ( berjalan kaki ).
  • Pasar lokal : ke rumah sekitar 10 menit ( berjalan kaki ) atau ¾ km.
  • Tempat bermain anak ( dan taman lokal ) : ke rumah sekitar 10 menit ( berjalan kaki ) atau ¾ km.
  • Tempat olahraga ( dan pusat rekreasi ) : ke rumah sekitar 20 menit ( berjalan kaki ) atau 1 ½  km.
  • Taman umum ( atau cagar flora/ fauna/ kebun binatang ) : ke rumah sekitar 30 – 60 menit ( berjalan kaki ).

( sumber : Chapin )

Wilayah pedesaan memerlukan jalan yang tidak begitu lebar. Kota memerlukan jalan yang lebar2, pola jalan lebih rapat, dan lebih banyak tempat parkir. Tanah untuk jaringan transportasi bisa mencapai 15 % dari luas kota. Di desa, misalnya di wilayah perkebunan kelapa sawit, hanya sekitar 2 %.

Iklan

Written by Savitri

14 Oktober 2010 pada 10:59

Ditulis dalam Ragam

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s