Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Agropolitan berbasis komoditas unggulan. Bangga jadi anak singkong.

leave a comment »

Aneka buah, sayur, menggiurkan. Datang dari desa. Komoditas unggul pertanian bisa menggiring desa penghasilnya menjadi agropolitan. Mandiri, bisa ekspor tanpa masuk kota. Para urban/ migran bisa kembali ke desa mereka, ikut membangun kampung halaman agar kian kinclong. Pembangunan merata, rakyat makmur sejahtera.

Ibukota sepi ? Presiden sedang sarapan ubi jalar ? Mungkinkah ? Ada ubi ada talas ( ada budi ada balas ). Ada juga, singkong, kentang, jagung bahkan sagu. And where is everybody ?

Bandung memang bukan Bontang, kota terkaya di Indonesia. Penghasil devisa 50 triliun  lebih ( pertahun ) dari ekspor migas ini cuma berpenduduk 167 ribu orang. ( Itu duit semua, ya ? Bukan singkong.. ). Bontang akan jadi kota mati, kalau  industri  besar di sana ditutup, kata walikotanya, Andi Sofyan Hasdam.( penghasil energi terbesar di dunia ? Aneh, ya. Padahal kurangnya energi, salah satu faktor  sulitnya pemerintah menurunkan bunga Kredit Usaha Rakyat ( KUR ) dibawah 2 digit. Syukur2, kalau bunga KUR  bisa 4-8 % seperti China dan Thailand, sehingga margin keuntungan masih cukup besar untuk memperbesar usaha dan ekspor. Sebagian mengatakan pemerintah mendahulukan kuota ekspor energi dulu, sebelum pasar dalam negeri. Coba kalau PLN diprioritaskan mendapat pasokan energi, karena menyangkut hajat orang banyak. Daya saing produk kita akan lebih tinggi. Apalagi, kalau kita juga berdaulat di bidang kesehatan ( saat ini 90 % bahan baku obat masih impor ). Warga Indonesia sehat dan sejahtera. Amboii.. indahnya ekonomi kerakyatan. Kepentingan rakyat didahulukan ).

Ibukota bisa sepi, karena tak ada urbanisasi lagi ( wah, kapan tuh ? ). Bahkan, mereka yang menyesaki bantaran sungai, kolong jembatan, emper pertokoan dan kantong2 kumuh kembali ke daerahnya sendiri dengan sukarela. Berbondong-bondong ke habitat semula. Pasalnya, desa mereka sudah bersolek menjadi agropolitan. Apa ini mimpi siang bolong ?

Petani & pemda seia sekata, komitmen dijaga, desa pun membangun. Agropolitan, yeuh ..

Petani sedang memanen buah naga. Kehidupan petani seperti terpinggirkan. Kebijakan selama ini sering tak pro petani, seperti pupuk mahal, infrastruktur kurang, kredit sulit, dsb. Banyak anak petani enggan meneruskan profesi orang tuanya. Bahkan malu disebut petani. Akankah konsep agropolitan dan gerakan desa membangun merubah nasib mereka ? Petani, profesi mulia, bisa juga membanggakan dan menjanjikan.

Sekretaris Ditjen Penataan Ruang, Ruchyat Deni Djakapermana dan  Sadarestuwati dari Komisi 5 DPR-RI sekaligus ketua HKTI Kabupaten Jombang terdengar serius soal agropolitan ini. Kemajuan di kawasan pedesaan atau pertanian, berbasis komoditas unggulan dan simpul2 penampungan, pengolahan untuk memberi nilai tambah secara hirarki, sebelum dibawa ke pelabuhan untuk ekspor. Tak perlu ke kota lagi untuk menjual produk desa, kecuali untuk memberi makan orang kota. Ada pasar alternatif ( ekspor ). Contoh agropolitan yang hampir jadi adalah Cibodas, yang menghasilkan hortikultur ; kol, wortel, sawi, dll. Kawasan Cibodas jangan jadi vila semua.

Setelah pemerintah daerah dan petani sepakat agropolitan, maka lahan yang ada akan dibenahi. Yang perlu ada akan diadakan. Tambah infrastruktur agar menjadi sesuatu sesuai pemetaan agropolitan. Pemda, petani dan warga harus menjaga komitmen dengan teguh. Jika lahan pertanian diubah menjadi kawasan industri ( atau melanggar RTRW daerah tsb ) maka akan didenda dan dipidana. Akumulatif. Di kawasan pertanian jangan membangun industri non pertanian. Lahan pertanian jangan disulap jadi lapangan golf. Ruang terbuka hijau dilarang diubah menjadi mall. Sebaliknya, para pemangku kepentingan di daerah harus berani membuat terobosan dalam pembuatan infrastruktur pertanian. Komunitas pertanian didorong untuk mengolah hasil pertanian dan menerjuni industri hilir ( yang terkait hasil pertanian ) agar konstribusi terhadap pemasukan negara menjadi besar. Mayoritas penduduk Indonesia masih bekerja di sektor pertanian.

13 dari 452 kota/ kabupaten. Desember 2010 sudah dekat.

Ngomong2, baru 13 kota/ kabupaten yang sudah memiliki perda RTRW. 7 kota/ kabupaten belum membuat sama sekali, diantaranya daerah pemekaran. 196 masih dalam proses persetujuan gubernur. 243 kota/ kabupaten masih merevisi RTRW sesuai UU no.26 tahun 2007. Penyesuaian ini diberi waktu 3 tahun, artinya akhir 2010 harus sudah jadi. Kementerian PU sebagai penanggung jawab men-support biaya/ finansial dan pelatihan teknis untuk kesiapan SDM. Sudah 80 PPNS ( penyidik PNS ) dihasilkan dari target 120 PPNS tahun ini. Lulusan disiplin ilmu yang terkait Tata Ruang ini tiap 6 bulan diberi studi kasus penyimpangan RTRW, bekerja sama dengan Polri, kejaksaan dan pengadilan. Setiap kota/ kabupaten mendapat 3 – 4 PPNS.

Ada acc ( persetujuan ) dari pusat untuk konsistensi penataan dan terintegrasi  secara nasional. Jika RTRW tidak selesai juga, sanksinya pemda tak bisa membuat perijinan. Adanya program percepatan menunjukkan semangat daerah menyelesaikan RTRW-nya. Diharapkan pemkot bekerjasama dengan forum perkotaan untuk menghasilkan RTRW yang terbaik dan realistis untuk warga kota. Jika RTRW dilaksanakan dengan baik, termasuk perwujudan kawasan agropolitan, maka lebih banyak tenaga kerja akan terserap. Masyarakat terlibat langsung dalam produksi, dari hulu hingga hilir. Seperti integrated farming yang dijalankan Sadarestuwati  yang mendirikan pusat pelatihan bagi 1.204 kelompok petani.

Kotoran sapi diolah menjadi kompos penyubur tanaman. Cairannya dibuang ke kolam lele ( menghemat 50 % pakan lele ). Lele tidak dijual begitu saja, tapi diberi nilai tambah menjadi kerupuk lele atau abon lele, sehingga pendapatan yang diperoleh petani/peternak menjadi lebih tinggi. Empon2 seperti kunyit, dll, bisa ditanam di sela2 hutan. Sektor pertanian yang tangguh bisa memperkuat ketahanan negara. Jadi, masih perlukah kita makan nasi hari Senin, makan singkong hari Selasa, kentang hari Rabu, ubi hari Kamis, talas hari Jumat, sagu hari Sabtu dan jagung hari Minggu ? Diversifikasi pangan. Atau Program Satu Hari tanpa Nasi.

Indonesia, swasembada beras. Kenapa masih impor ?

Pelabuhan ekspor, Jawa Barat mesti punya sendiri. Provinsi agraris yang memendam potensi luar biasa ini akan tersohor kembali di mancanegara jika infrastruktur produksi dan pariwisatanya memadai. Beranilah membuat terobosan ..

Tanyakan La Nina. Apa ia akan berhembus sampai Februari 2011 ? Cuaca ekstrim ( kemarau basah, hujan terus ) menyulitkan pengeringan gabah. Beras berkualitas tinggi dan awet, adalah yang dikeringkan dengan baik. Indonesia sudah swasembada beras, kata Sekretaris Menko Kesejahteraan Rakyat, Indroyono Soesilo. Dua tahun ini, produksi kita 64 juta ton beras. Impor 300 ribu ton beras masih kurang 10 % dari 33 juta ton. Negara dikatakan masih swasembada beras jika 90 % kebutuhan beras masih dipenuhi beras lokal. Negara mesti punya 7,5 juta ton beras untuk cadangan 3 bulan. Kita mesti punya ketahanan pangan yang tinggi. Selama ini, rata2 orang Indonesia makan 104 kg beras per tahun. Dengan “Program Satu Hari tanpa Nasi” maka 1,2 juta ton beras per hari bisa dihemat. Intinya, kita sebisa mungkin makan yang tak mengandung bahan impor. Kita tidak menanam terigu dan gandum ( mi instan dan roti termasuk daftar dikurangi  ? ). Jadi, kalau luar negeri menyetop ekspor, kita masih bisa makan dengan sumber karbohidrat yang kita miliki ( 77 jenis varian makanan pengganti beras ). Ketahanan pangan, ketahanan negara. ( pegang bambu runcing kalau lapar juga percuma, ditiup juga terjengkang. Apalagi  La Nina ). Tahan banting.

Ayo, mulai sekarang ajari anak2 anda makan singkong dan teman2-nya ( kembali jadi anak singkong, bukan anak keju ). Nenek moyang kita dari 500 suku bangsa ( belum termasuk 10 ribu suku terasing ) mengajari makan jagung, sagu, dll. Kearifan lokal, karena tidak selamanya cuaca bersahabat. Daerah2 yang dulu makan non beras, setelah kedatangan program raskin beralih ke beras, diharapkan kembali ke non beras. Come back. Para petani silakan menanam padi, tapi dipersilakan juga menanam non padi. Lahan subur untuk padi. Lahan kritis untuk non padi. 16 Oktober Hari Pangan Sedunia, saat itu negara2 diingatkan untuk memperhatikan ketersediaan pangannya. Iklim tak menentu akibat pemanasan global bisa  mempengaruhi hasil panen di negara lain. Bagaimana kalau Rusia tak mau mengekspor gandumnya yang tak sebanyak biasanya akibat global warming ? Atau Thailand memilih menggunakan beras untuk konsumsi dalam negeri dulu ?

Ketahanan pangan, ketahanan negara. Hunus bambu runcing dengan semangat baja.

Membangun agropolitan dibutuhkan komitmen teguh semua pihak. Dari presiden sampai petani. Ketahanan pangan, ketahanan negara. Sehari tanpa nasi ? Asyik2 aja tuh ..

Di pojok ring seberang ( seperti biasa ada suara berbeda ), Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia ( HKTI ) Jabar, Entang Sastraatmadja berkata,”( pemerintah ngomong ) Surplus tapi tak mencukupi” ( ‘panik’,  kok harga beras tidak turun2 setelah lebaran, masih di atas HPP beras ). Entang juga pengurus Dewan Ketahanan Pangan HKTI. Anggota DKP terdiri dari para pakar, wartawan, pengusaha, dan stakeholder pangan. Soal ketahanan pangan ini sudah didengungkan sejak 1950-an, Inpres 1978, Perpres 1999, 2009. Selama ini, pendekatannya proyek, APBD. Top down. Contohnya, program raskin yang memompa keseragaman mengkonsumsi beras.

Mestinya pendekatan gerakan, berbagi tugas antara swasta dengan para stakeholder ( para pemangku kepentingan ). Sosialisasi ke petani sangat belum. ( petani yang mana ? ). Di lapangan lebih banyak buruh tani. Pemilik sawah kebanyakan orang kota ( merekalah  yang memutuskan lahan pertaniannya akan ditanam apa. Padi atau non padi ). Komitmen ketahanan pangan mesti dipahami ( sama dan sebangun ) oleh network thinking ( presiden, gubernur, walikota, bupati sampai petani ), ditopang regulasi dari pusat sampai kabupaten dan didukung solid oleh jaringan institusi ( KADIN, Dewan Ketahanan Pangan, dsb ). Bagaimana bisa jalan kalau ketemunya cuma setahun sekali ?  Terlihat komprehensif tapi sulit diaplikasikan. Harus ada kesadaran dan political will yang kuat untuk mewujudkan ketahanan pangan bagi bangsa ini.

Dimulai dari kita, raskin atau tangkin. Anda mau makan nasi atau kentang hari ini ? Atau ubi jalar ? Teladan dari atas, ya. Tunggu pak presiden makan ubi jalar dulu, ah ..

Iklan

Written by Savitri

21 Oktober 2010 pada 13:01

Ditulis dalam Ragam

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s