Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Sampah, sungai & hati emas. Gotong royong kembali, sampah pun keok.

leave a comment »

Emas. Betapa banyak yang menginginkan. Simpanan berharga ketika nilai uang menurun. Ketika kebutuhan melonjak, ia diterima di pegadaian dan bank manapun. Nilainya terus naik. Orang2 tertentu mematok harga diri hanya sebatas emas ( harta ) yang bergelantungan di badannya atau badan orang2 yang dianggap temannya ( menguntungkannya ). Tak lebih ( baca : tak punya lainnya yang bisa dibanggakan, termasuk kebaikan & kecerdasan. Bahkan mereka tak punya radar untuk membacanya ). Memicu orang untuk merampoknya. Jika hati yang bernilai emas, maka orang2 akan menjaga dan mendoakannya. Sampah bau dan sungai kotor pun berubah emas di tangannya.

Sampah jadi emas. Tukang sulap atau nenek sihir, pelakunya ? Manusia sekaliber apa yang menyentuhnya ? Apakah seperti Ciputra yang sanggup merubah kawasan rawa jadi real estate prestisius bernilai emas ? Atau seorang sederhana berhati emas yang menggerakkan komunitasnya mengolah sampah menjadi barang bernilai tinggi ? Selalu ada ilham ( dari Pencipta ) dan kemauan kuat dari diri para penyulap emas. The chosen ones.

1200 ton sampah tiap hari dibuang warga Bandung. 70 %  sampah organik, dari rumah tangga. Sebesar 10 kali lapangan sepak bola jika dijajarkan. Dan terus bertambah seiring pertambahan penduduk. Akankah Bandung jadi lautan sampah, setelah TPA Sarimukti habis masa pakainya akhir tahun ini ? Apa daya ?

Studi banding ke RW 06 Palasari. Terjangkau dan keren ..

Seorang Rudi Rudolf tidak menyerah. Warga RW 06 Kelurahan Palasari ini dengan sumringrah menceritakan lingkungan tempat tinggalnya kini menjadi tempat ‘studi banding’ warga RW lain ( nggak kalah dari Yunani yang jadi tempat studi banding etika para anggota dewan  ). Para warga RW diajari cara mengolah sampah menjadi kompos, cara memilah sampah dan membuat barang kerajinan dari bungkus sabun, makanan dan minuman. Sang fasilitator menceritakan jurus andalannya. Keranjang Takakura. Apa hebatnya ?

Keranjang seharga Rp 80 ribu ini bisa menyulap sampah menjadi kompos dalam waktu sebulan. Bisa ditaruh di mana saja, karena ada sekam peredam bau dan pencegah lalat. Biangnya, stater kit kompos. Anda tinggal memanen kompos, menyetornya ke bank sampah dan mendapat kompensasi. Pernah terpikir sampah jadi uang ? Selama ini sampah dibenci ( apalagi ‘sampah’ masyarakat ). Ternyata bagi para pecinta sampah, buangan tak berguna ini malah mendatangkan fulus dan lingkungan asri.

Kompos didistribusikan untuk penghijauan. Dijual dengan harga sangat kompetitif ( terjangkau ). Sebagian hasil penjualan kerajinan dan kompos dibelikan takakura bagi rumah yang belum memiliki. Saling berbagi dan membantu ( gotong royong, ciri bangsa kita telah kembali  ). Dari 247 rumah di RW 06, sudah 136 rumah yang bertakakura ria ( terlibat aktif menjaga lingkungan ).  Pantas dapat dana stimulus ( tak kalah dengan program Obama di Amrik sana ). Jadi the best five, dari 200 RW di kompetisi BG & C ( Bandung Green & Clean ) tahun 2010 ( tahun 2009 pesertanya 100 RW ). Siip ..

Berkat Takakura, gunung sampah Bandung terkikis.

Bagaimana Rudi dkk menggerakkan tetangga ? Apalagi kalau bukan botram ? Makan bareng dalam suasana santai. Warga pun diajak senam tiap Minggu, seraya tebar informasi. Selama 3 bulan, dilakukan pendekatan dan pemberian kepercayaan pada para warga. 4  RT warga kompleks lebih mudah dirangkul, menyusul 2 RT warga perkampungan, kemudian ( ada kaitan dengan tingkat pemahaman dan  waktu luang ? ). Kekompakan terus dijaga antara jajaran RW, RT dan PKK. Hasilnya ? Plastik, koran, bungkus2  berbondong-bondong disetor warga ke bank sampah. Mulailah kisah manis itu. Sampah jadi prestasi. Keterlibatan RW 06 dan RW-RW mitra BG & C menekan angka sampah Bandung hingga 10 %. Salut.

Apa itu Bandung Green & Clean ? BG & C beda2 tipis dengan GP & C. Samanya, ingin Bandung menjadi kota yang lebih nyaman ditinggali. Bersih nan hijau. Segar sepanjang mata memandang. Pikabetaheun. Setahu saya, BG & C adalah nama program sebuah LSM yang bekerja sama dengan pemerintah ( akses ke RW ), perusahaan Unilever dan koran Pikiran Rakyat untuk membersihkan dan menghijaukan Kota Bandung. Kegiatan penariknya adalah kompetisi berhadiah. Bandung bukan lagi kota pensiunan ( jaman kolonial ). Bandung kini kota yang berdenyut 24 jam tiap hari. Sampahnya pun melimpah. Everybody should  deal with it.

Pilahlah sampah dari atas. Makan singkong pun serasa keju.

Lahirlah Perda Pengolahan Sampah, turunan dari UU Pengolahan Sampah. Bagaimana implementasinya ? Testimoni penggiat BG & C ;  para pejabat, kadis2, camat, lurah, ketua RW dan RT banyak yang belum memilah sampah di rumah mereka sendiri. Bagaimana warga bisa disuruh memilah sampah dan menjaga lingkungan alam jika tidak ada teladan dari atas ? Memang, 6 RW di Taman Sari ikut BG & C. Apa mereka bisa juga diminta menghadapkan muka rumah mereka ke sungai  ? Kalau sungai masih keruh kecoklatan, dangkal, berbau busuk, dijejali bedeng2 liar, tidak difasilitasi tempat sampah di tepiannya, tidak ada sistim yang mengangkut sampah teronggok di sana sini, tidak ada jalan inspeksi untuk pengawasan, sehingga tetap kumuh. Lauk asin dengan nasi aking atau singkong kian tak berselera untuk disantap, dengan aroma tak sedap  dari arah jendela. Arung jeram di Sungai Cikapundung ?

Hanya di Bandung, wisatawan bisa arung jeram di pusat kota. Go for it.

Saya kira hanya sindiran menyedihkan, ketika dibilang ‘hanya di Bandung, orang bisa arung jeram di jalan raya’.  Air meluber tak tertahankan, akibat kondisi drainase tak memadai. Warga terus membuat pengerasan di lahan miliknya sehingga air tak terserap ke dalam tanah, hanya bisa pasrah mengalir ke permukaan menuju saluran yang tak pernah diperbesar sejak bertahun silam, meski penduduk bertambah berlipat-lipat. Para pembangun jarang memperhitungkan luas daerah resapan yang menyempit dan kapasitas drainase mengecil  di sekitarnya ketika merancang rumah ( pengerasan ) baru. Akibatnya bisa ditebak. Banjir cileuncang.

Arung jeram di sungai ? Butuh tekad baja dan teladan konsisten untuk mewujudkannya. Pemkot telah berupaya mengajak warga tepi sungai untuk membuang sampah pada tempatnya. Dengan makan bersama, kerja bakti membersihkan sungai, urun rembug, menebar ikan untuk dipancing bersama, dsb, warga diajak turut menjaga kualitas sungai. Merasa memiliki sungai. Sampah digiring masuk ke kantong keresek di tepian, ketimbang dilempar begitu saja ke sungai. Karakter warga kota dan pemimpinnya tercermin dari jernihnya air sungai. Nadi kehidupan sebuah peradaban. Akankah Cikapundung menjadi jalur wisata baru Kota Bandung ? Sungai menjadi emas …

Sanitasi Indonesia terburuk ke-3 setelah Timor Leste ?

Mandi di saluran irigasi desa Kutawaringin, kab.Bandung. Banyak warga kita di bawah garis kemiskinan terpaksa membersihkan diri dengan air seadanya. Penyakit menyerang, uang menipis, usia memendek. Habis mau apa lagi ?

58  triliun ( versi studi Bank Dunia tahun 2007 )  kerugian ekonomi kita akibat kondisi sanitasi buruk. Ke-3 terburuk di Asia Tenggara, setelah Laos dan Timor Leste. Bagaimana bisa negara sudah merdeka 65 tahun bisa disejajarkan dengan yang belum lama lahir ? ( menyalahkan korupsi lagi ? ). Bagaimana kondisinya setelah tragedi Wasior yang menyapu 80%  isi kota ? ( termasuk fasilitas sanitasi ). Setelah gempa dan tsunami Mentawai ? Setelah Gunung Merapi erupsi hebat hingga merenggut nyawa sang kuncen, Mbah Maridjan. Juga ratusan warga sekitarnya. Gempa, erupsi, letusan, tsunami, global warming, yang mengaktifkan 22 gunung berapi lainnya di tanah air, seperti anak gunung Krakatau. Nomor 3 terdahsyat di dunia, setelah letusan gunung Toba ( yang menenggelamkan sebagian besar daratan Atlantis ? ) dan Tambora. Ring of fire. All of big disasters  we have in this land, people

Can we handle it ?  (  how much money do we have ? )

(  di simpang Dago, Sabtu sore kemarin, sejumlah mahasiswa terlihat bersemangat bermain musik untuk penggalangan dana amal bagi korban bencana Wasior, Merapi dan Mentawai. Meski hujan rintik dan terpapar pekat asap dari kemacetan jalan, mereka terus beraksi. Pantang menyerah. Dengan kepedulian seperti ini, juga dari banyak elemen masyarakat lainnya, semoga yang tertimpa bencana bisa tabah. Doa kami bersamamu. Indonesia bertahanlah ).

Iklan

Written by Savitri

8 November 2010 pada 02:07

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s