Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Berangkat ke medan perang. Proudly present .. blogger !

leave a comment »

Arti blog, blogger dan bapaknya ..

Blog, sejenis situs web individu. Diperbaharui secara berkala dengan tulisan, foto, video maupun grafis. Memuat komentar pengunjung. Konten diurutkan secara kronologis, berdasarkan waktu. Istilah blog berasal dari weblog yang dipopulerkan Jorn Barger, 17 Desember 1997. Web ( situs ), log ( buku harian ) artinya situs yang menampilkan catatan harian. Weblog berubah blog sejak Peter Merholz iseng memisahkan kata weblog menjadi “we blog” di blognya, peterme.com, Mei 1999.

Kehadiran blog di Barat direspon cukup cepat oleh pengguna internet di Indonesia. Tercatat di awal, Enda Nasution yang dijuluki Bapak Blogger Indonesia. “Apa Itu Blog ?”, tulisannya yang dilansir tahun 2001, Enda menyosialisasi penggunaan blog di tanah air. Berbagai komunitas blogger di tanah air bermunculan. Misalnya, Bandung Blog Village ( BBV ) yang berdiri 5 Juli 2002 menjadi komunitas blogger regional pertama di Indonesia. Berbagai komunitas blogger di Indonesia lalu “kopi darat”, bertemu di dunia nyata. Muncul berbagai ide kegiatan sosialisasi blog ke masyarakat. Pertemuan offline ini dinilai unik oleh pemerhati komunitas blogger di dunia. Mereka lalu datang, ingin tahu pola interaksi blogger2 Indonesia. Di negara lain, interaksi sebatas online.

27 Oktober 2007 dicanangkan sebagai Hari Blogger Nasional oleh Menkominfo di perhelatan Pesta Blogger 2007. Dengan harapan blog bisa menjamur di masyarakat, meningkatkan jumlah konten di tanah air sekaligus sebagai corong terbentuknya sistem demokrasi yang lebih adil. Momentum yang disambut media massa, perusahaan telekomunikasi dan komunitas blogger. Sepanjang tahun, mereka mengenalkan blog dan internet kepada masyarakat. Pemerintah menargetkan jumlah blogger mencapai satu juta pada tahun 2008. Sayang, tidak tercapai.

Blogger papan atas berhenti, blogger pun menyusut. Gara2 Facebook & Twitter ?

Donny BU, pemerhati komunitas online Indonesia, menyayangkan sedikitnya konten berbahasa Indonesia, terlebih yang berkualitas, ( dibanding negara lain ). Pengguna internet Indonesia hanya membuat satu halaman konten seumur hidupnya. Umumnya konten berisi curahan hati dan masalah pribadi. Penduduk Singapura minimal 2,7 halaman konten seumur hidupnya. Blogger luar menulis konten pengetahuan, solusi masalah sehari-hari dan laporan pewarta warga ( citizen journalist ).

Terjangan situs jejaring sosial dan blog mikro seperti Plurk dan Twitter sekitar tahun 2008 menyusutkan blogger2 tanah air. Mereka merasa lebih nyaman mempublikasikan pemikiran dalam 140 karakter, daripada menulis panjang lebar di blog. Blog mikro memiliki fitur2 yang memudahkan pengguna berbagi pemikiran dengan teman2nya. Sayangnya, penyedia layanan blog seperti Blogger dan WordPress belum punya fitur semacam ini.

Di  Facebook, buatan Mark Zuckerberg, pengguna bisa berstatus-ria dalam 420 karakter. Berbagi foto, video hingga catatan pemikiran. Sebagian blogger pun beralih menjadi facebooker. Priyadi, pemilik priyadi.net, sejak 30 Juni 2008, juga beberapa blogger papan atas Indonesia lainnya, berhenti mempublikasikan hasil pemikirannya di blog.

Blogger pengutuh demokrasi, corong hati ( nurani ).

Blog jadi alat perjuangan. Mata telinga kritis bagi masyarakat, atas fakta yang sebenarnya terjadi. Blogger bahkan dikirim ke medan tempur untuk memindai kejahatan perang yang mungkin dilakukan pemerintah. Sungguh sebuah kehormatan jika dipercaya pembaca sebesar itu. Terjadi ketidakadilan dan ketidakberesan ? Kita bisa memblognya. ( gambar : Mike Licht )

Menurut Hermawan Kertajaya, pakar pemasaran Indonesia, pengguna internet ( netizen ), termasuk blogger, berpengaruh besar pada kecenderungan masyarakat memilih produk. Berdampak politik dan sosial. Contoh, saat invasi Amerika ke Irak tahun 2003, sebagian masyarakat Amerika mengumpulkan dana untuk mengirimkan blogger2 kepercayaannya agar mendapat informasi yang benar tentang perang di Irak. Di saat media2 konvensional banyak yang membenarkan kejahatan perang Amerika. Gedung Putih memberi akses pada beberapa blogger untuk meliput beberapa peristiwa, setara yang diberikan pada media konvensional. Di tanah air, kita ingat Iwan Pilliang ( blog-presstalk.com ) yang mengungkap/ menyampaikan kepada masyarakat luas, atas kejadian sebenarnya atas kasus tewasnya David Hartanto Widjaya ( mahasiswa Indonesia yang dibunuh di kampusnya, di Singapura ).

Blogger, tak dipungkiri, menjadi elemen masyarakat yang berperan menjaga proses demokrasi. Keberadaannya membantu masyarakat melek informasi. Kita sadar pentingnya blogger bagi masyarakat pendamba demokrasi utuh. (  disarikan dari tulisan Yudha P.Sunandar/ PR, 28/10/2010 )

===============

Berangkat ke medan perang ( pemikiran, peradaban ). Proudly present .. blogger.

Saya juga pengguna facebook, meski tak hanyut ( tak serajin facebooker ). Saya lebih suka disebut blogger, karena relatif lebih rajin ngeblog daripada update status. Blog, media yang saya anggap lebih pas menyampaikan uneg2. Saya keranjingan memperbaiki sesuatu yang kurang pas di masyarakat ( tapi saya bukan Anakin Skywalker, ya. Meski saya juga berlutut mengharapkan ‘power’ ( kekuatan ), tapi Allah Swt  yang saya harapkan di hadapan saya ). Saya sedih beberapa blogger senior ‘pensiun’. Kemarin, blog Dina Sulaeman ( penulis Ahmadinejad on Palestine ), saya lihat juga offline ( semoga tidak permanen jedanya ). 

Beberapa mengatakan,  lebih suka tidak menulis daripada menulis yang tidak berkualitas. Sebagian lagi mengatakan boring, sibuk. Bahkan ada yang bilang sebal ( ini pasti yang sering dimaki pengunjungnya yang dangkal, asal bunyi, cuma melihat permukaan tapi sok tahu, melihat fakta sepotong-potong, bandel pula jika diberitahu ). Isu sensitif semisal krisis Timur Tengah, Palestina, Irak, Afganistan, Taliban, Osama, Obama dan terorisme memang banyak membetot urat sabar. Hasil propaganda Barat membuat kita terbelah, beradu argumen dengan sengit. Perang pemikiran. Saya pun kenyang dibuatnya.

Sang koordinator, where are you ? We need you ..

Untuk Indonesia, saya amati, banyak yang serba parsial. Sepotong2. Koordinasi penanggulangan/ bantuan bencana, koordinasi galian kabel di bawah jalan ( pembangunan ), koordinasi intelijen, pendapat pengamat ( ahli ini, ahli itu ), pejabat, pemimpin, bahkan ulama, jarang yang melihat secara holistik. Begitu bertaburan bakat dan potensi di tanah air, tapi tak ada yang mendirigeni menjadi orkestra yang padu ( kekuatan besar ) untuk negeri ini. Belum ada ( muncul ) pemimpin yang sanggup melakukan, saat ini. Amat disayangkan. Padahal problem, tanggung jawab dan tantangan begitu besar, dan kian rumit dari hari ke hari.

Tulisan 140 – 420  karakter tak cukup mewadahi itu. Pengertian mendalam, yang membangunkan kesadaran. Bahkan, artikel di koran yang umumnya tak sampai 1/3 halaman, terasa kurang menukik tajam, menghasilkan intisari. Tak sampai mengendap di alam sadar ( apalagi sampai bawah sadar, tempat banyak keputusan penting diambil ). Buku ? Rekor orang Indonesia, setahu saya masih kurang dari 1 buku setahunnya. ( mirip 1 halaman blog seumur hidup, ya ). Bandingkan dengan negara maju, yang warganya mampu baca 3 buku perminggunya. Saya pikir, kedalaman pembaca buku perlu disebarluaskan kepada masyarakat. Blog, format tepat untuk itu.

Jika ingin Indonesia maju, kita perlu lebih banyak orang dengan kedalaman pembaca buku. Pembaca tabloid akan kalah dengan pembaca buku, kata orang bijak. Bagaimana kita bisa menandingi negara maju ? Lebih banyak baca buku ( syukur bisa 4 buku perminggu ), mulanya. Blog bisa menjembatani ke arah itu. Pelajar SD sulit memahami jika langsung diberi textbook mahasiswa. Blog dengan bahasa populer, bisa jadi sarana peningkatan pemahaman ( ibarat  kelas akselerasi ) sebelum mengunyah pengertian2 berat dalam khasanah ilmu, pengetahuan dan sains. Yang output-nya bersikap dan bertindak lebih tepat ( bijak ) dalam banyak aspek kehidupan. ( seperti keputusan menggunakan transportasi umum/ massal daripada mobil pribadi, yang bisa menghemat cadangan energi dan uang kita ).

Siapa tahu dengan usaha ini, kita punya pemimpin lebih baik pada 2014 nanti .. ( masyarakat pemilih harus juga dicerdaskan untuk bisa mencontreng yang tepat untuk Indonesia ). Sudah waktunya Indonesia tinggal landas. Para blogger kembalilah ke habitatmu. Would you, please ..

( A.Savitri, 25/11/2010 )

http://penulismenulis.blogspot.com

Iklan

Written by Savitri

17 November 2010 pada 15:24

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s