Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Diplomasi nasi goreng, Indonesia – AS main lumpur. Indonesia menegur, Indonesia yess !

leave a comment »

Nasi goreng, siapa yang tidak kenal ? Berawal dari sisa nasi dibuang sayang, kemudian naik status menjadi menu andalan dan diplomasi Indonesia dalam jamuan kenegaraan. Menjadi pintu masuk produk kita ke manca negara. Thanks for the nasi goreng, Obama said. Bisakah kita mengajak pemimpin dunia lainnya mengajak makan nasi goreng ? Seraya bercanda, seraya mendamaikan dunia. It's a hard thing to do, I know. But will you ? ( foto : newnews )

Pulang kampung, nih. Indonesia, bagian dari diri saya. Indonesia, punya arti penting bagi saya dan Amerika. Saya tak mengira masuk Istana Negara sebagai presiden Amerika. Thanks for the bakso, the nasi goreng, the emping, the kerupuk. Semuanya enak. Assalamu’alaikum. Siapa sang pencuri hati ? Yeahh .. Barack Obama.

Siapa yang tercuri ? Sebagian besar warga Indonesia, kata komentator di teve. Dengar gemuruh 6000 hadirin di aula Universitas Indonesia, ketika Obama mengucapkan kata2 dalam bahasa Indonesia ( 10/11/2010 ). Bergemuruh lagi, ketika presiden ke-44 Amerika itu menjanjikan pertukaran mahasiswa AS dan Indonesia. Begitu antusiasnya sebagian warga kita bisa studi di negeri Paman Sam. Why ?

Bukan sekedar gratisan seperti kegemaran banyak dari kita. Ada bau prestise di sana. Setidaknya, di mata sebagian orang kita. Yeah, .. American way. ( masih menganggap kiblat kemajuan ). Melihat tongkrongan selebriti Hollywood yang gemerlap dengan busana teranyar rancangan desainer kelas dunia, atau dar-der-dor-boom tentara elit AS dengan seragam macho nan serasi plus alutsista mutakhir (  malam minggu nonton film “Black Hawk Down” di TransTV  ? ). Siapa yang tidak tergiur ? ( sekaligus terintimidasi. Andai kekuatan itu digunakan untuk melindungi kaum lemah, bukan menginvasi Irak, Afganistan, dll, dengan berbagai dalih. Atau bangsa lain mengambil alih melakukannya ? ).

Mahasiswa AS, pilih mandi lumpur atau sensasi terjun ?

Bergulat dalam lumpur, sebagian tradisi beberapa suku di Indonesia. Semula, saya geli melihat bule mandi lumpur bersama warga desa seraya tertawa. Bagaimana, kalau kegiatan menyenangkan itu lalu mengeratkan hubungan orang Indonesia dengan orang luar, terlebih yang distrust & mistrust about us ? People to people. O, Indonesia itu ternyata ramah dan baik. Bukan teroris. That's awesome ..

Lalu, bagaimana jika mahasiswa AS ke Indonesia ? Apakah mereka akan ikut bermain lumpur, merasakan cara hidup dan belajar seni tradisi kita seperti di tayangan “Belajar Indonesia” ? ( TransTV, Sabtu-Minggu, jam 13.30 ). Atau ikut heboh berdemo, seperti marak terjadi belakangan ini ? Saya teringat satu episode di Oprah Show, tentang seorang pria sukses bergelimang materi di usia muda. Ia kemudian tergelincir kemaksiatan dan foya2. 24 pria semalam ( dia gay ), yang tak dia ingat lagi. Kena AIDS. Use drug you suck. Sampai titik tak tertahankan, pemuda ini lalu terjun bunuh diri dari ketinggian konstruksi bangunan belum jadi, berseliweran tulangan besi. Berharap Tuhan menjawab doanya, menginginkannya.

Ajaib, si pemuda tidak mati meski jatuh terhempas keras. Ketika siuman, wajahnya berseri-seri seperti matahari. Tak pernah secemerlang ini. Ia bahagia sebagai konsultan seks aman di komunitasnya kini, meski AIDS terus menggerogoti daya tahan tubuhnya hingga maut menjemput. Meski tak lagi punya uang, ia kini punya Dia. ( good choice, man. Nothing compare. Jika hamba merunduk pada-Nya, maka alam semesta pun dirundukkan-Nya padanya. Powerful, isn’t it ? ).

Banyak orang Amerika mencari-cari sensasi spiritual. Trend terbaru, banyak anak  melintasi zona mati dengan cara aneh2. Ingin tahu rasanya hidup kembali ( bagaimana kalau tak bisa kembali dan masih bergelimang dosa ? ). Kalau sudah begini, masih lebih asyik bermain lumpur dengan warga desa. Melihat kesederhanaan mereka, seolah tanpa beban. Mengagumi keindahan zamrud di khatulistiwa yang diciptakan Allah ketika tersenyum. I love Indonesia. I love You, God. ( bandingkan keindahan Indonesia dengan Italia, India, dan ingat ucapan Ketut ‘smile with your heart’ di film “Eat Pray Love” ). This is it. ( so much we can give if they’re looking for the piece of mind ).

Inferior karena publik AS terisolasi ? Ridiculous ..

Siapa yang menyangkal keindahan Indonesia ? Negeri yang diciptakan ketika Tuhan tersenyum. Senang rasanya melihat keindahan ini di filmnya Julia Roberts terbaru, "Eat Pray Love". Oh, Indonesia-ku. Smile with your heart, people ..

Bayangkan, jika Obama yang 4 tahun tinggal di Indonesia sewaktu SD ( 1967-1971 ) bisa ngomong sate, bakso dkk ( semoga pengusaha Indonesia menangkap peluang setelah makanan Indonesia disebut-sebut di radar dunia, iklan gratis ), apalagi yang bisa di-omongkan para mahasiswa AS jika belajar di sini ? Sisingaan, wayang golek, kuda lumping, reog ? Anies Baswedan berkata tentang pentingnya orang AS datang, belajar dan menulis tentang Indonesia. Menjadi ‘juru bicara’ Indonesia. ( semoga tidak seperti mantan dubes AS untuk Indonesia yang begitu fasih bahasa Indonesia, namun menjadi penganjur perang Irak. Islam tak dipahami dengan baik. Islam phobia ).

Apakah kehadiran Obama di Indonesia diikuti media dan orang AS di negerinya ? ( termasuk teman2 nasi goreng ). Penyambutan Obama di Jakarta dan media Indonesia terasa berlebihan. Sampai presiden Austria, Heinz Fischer, yang datang lebih dulu menjadi tersisih (  perangkat penerjemahnya terlambat berfungsi ). William ( Bill ) Liddle dengan kalem mengatakan, publik AS akan lebih menyimak kedatangan Obama di India dan Korea Selatan.

( What ??  Indonesia sudah dikeruk kekayaan alamnya dan difitnah macam2 dalam agenda terorisme mereka, tak juga masuk radar perhatian warga AS ?? Ter-la-lu, istilah Bang Rhoma. Kenapa Mr.Liddle itu tidak sekalian saja mengatakan, publik AS diisolasi dari berita dunia ?  Hidup di dunianya sendiri. Itu lebih kena ( dan sesungguhnya yang terjadi ) daripada mengecilkan ( meremehkan ) kita. Dan, sebagian warga kita masih memberi ruang pada orang2 macam ini ? Mengundangnya dalam seminar2 ? ( kita tidak inferior, kan ? ).

Say something nice or shut up, mister ( bukankah sebagai peneliti asing, mestinya ia juga menaruh hormat, apresiasi, empati pada kelompok yang ditelitinya ? Segitu lama meneliti Indonesia, masak nggak berasa ? Memang hambar, atau angkuh ?  ). Kita butuh suara2 yang membesarkan Indonesia. Jika AS ingin memperbaiki hubungannya dengan kita, pertama, hentikan perkataan buruk tentang Indonesia di AS dan jajaran pemerintahan Obama. Setuju ? )

Pemimpin bersuara hati, menjaga konstitusi.

Pasca inagurasi Obama, teman2 Oprah begitu antusias menceritakan sosok Obama. “Aku merasa udara pagi ini berbeda. Apa matahari bersinar lebih cemerlang hari ini ?”, ungkap artis tamu, menggambarkan kegembiraan hatinya. Begitu besar harapan digantungkan di pundak presiden kulit hitam pertama AS itu. Ketika pemulihan ekonomi terasa lambat, langsung dihajar hasil pemilu sela yang memenangkan lawan kubu Obama. Republik. Roda berputar kian berat ( apa mereka masih getol memuja memuji Obama ? ). Ketika retorika bagus, tapi tidak dilaksanakan ( tidak terjadi ) maka orang tidak percaya lagi. Ketika retorika tidak bagus, tapi eksekusi bagus ( terlaksana ) maka orang tidak tergerak. Pemimpin ideal ( lengkap ) : retorika bagus, eksekusi bagus.

Retorika positif jika visioner dan membangkitkan semangat juang para pendengarnya. Pemimpin yang datang dari bawah akan menyentuh banyak hati ketika berpidato. Jangan hanya jadi penghuni istana, kata Eep Saefulloh Fatah. Jadilah pemimpin yang bersuara dengan hati. Berani bertindak tidak populer. Tidak mengejar rating dan pooling. Tidak hanya menyenangkan konstituennya. Misalnya, Obama, di tengah protes warga AS, memilih membela minoritas muslim yang akan mendirikan Islamic Center dekat Ground Zero reruntuhan menara kembar WTC. Tugas presiden adalah menjaga konstitusi ( menurut konstitusi AS : agama minoritas berhak dilindungi ). Saya juga sudah meminta penarikan pasukan AS di Irak dan menutup penjara Guantanamo, kata Obama di depan ribuan hadirin dan jutaan pemirsa Indonesia.

Ahmadinejad – Obama makan nasi goreng ? Spesial pake telor ..

Seorang Obama dalam sistem Amerika yang telah ratusan tahun umurnya. Bisakah merubah arah kebijakan luar negeri AS ? Di Korea Selatan, kemudian terdengar pidato Obama tentang pemberatan sanksi bagi Iran ( lezatnya nasi goreng sudah tak berbekas ). Aset Iran di AS dan Uni Eropa  dibekukan sejak Revolusi Iran. Apakah idealisme Obama ( jika ada ) akan diikuti garis komando di bawahnya ? Birokrasi punya kehendaknya sendiri. Tidak ikut atasan. Tidak ikut bawahan, atau pun rakyat yang dilayaninya. Di Indonesia, betapa sulit kita membongkar skandal Century yang ( diduga ) melibatkan orang istana dan pemerintahan. Meski suara sudah serak diteriakkan dalam serangkaian aksi unjuk rasa yang panjang dan melelahkan. Seorang Obama dalam kepungan lobi2 Yahudi yang menguasai Gedung Putih dan menggurita di dunia ? Tingkat kolesterol Obama naik setelah menjabat presiden ( stres pemicunya ? ). Apa hatinya meronta di balik senyumnya yang menawan ? Will he survive ? How about Ahmadinejad ?

Baik Ahmadinejad, maupun Obama datang dari bawah. Rakyat jelata yang hidup sederhana, dan sigap membantu warga miskin. Naik ke atas, menjadi presiden, karena reputasi dan pesona. Simpatik, dan sangat mencintai negeri masing2. Andai Obama tidak ( dipaku ) membicarakan ( digelayuti ) kepentingan segelintir penguasa ekonomi yang gemar mengumbar perang di negeri orang, saya pikir kedua presiden keren itu bisa makan nasi goreng seraya bercanda. Ada tabir yang dibuat kelompok tertentu dengan dunia Islam, sehingga kita bisa serunyam ini ( ditarik sana sini ). Indonesia, hadiah untuk Amerika, kata Richard Nixon bertahun silam. ( namanya hadiah, bisa diapa-apakan semau penerima ? termasuk disedot kekayaan alamnya. Kekalahan kita di KMB, terngiang perkataan analis intelijen. Di sisi lain, Amerika ( seperti ) terlihat memanjakan Indonesia. Indonesia belum layak masuk G-20 , kata pengamat. Di luar gedung, warga Seoul yang memprotes KTT  G-20  terlihat adu fisik dengan polisi Korsel. Dan, utusan Indonesia di dalam KTT yang diprotes itu ).

Tetap, sebagai hadiah yang luput dari pemberitaan media AS. Indonesia who ? Where ? How we come to this ?

Enggan menegur, korupsi menggunung, Indonesia tanggung ..

Bisa jadi eweuh pakeweuh ( sungkan ), mulanya. Keengganan menegur. Atau merasa bukan urusan. Tak mau repot. Di luar negeri, orang yang merokok di kawasan no smoking ( dilarang merokok ) bisa dimarahi nenek2. Di Indonesia, salah2 anda yang dipelototi perokok yang terganggu dengan teguran anda. Guru2 yang mengkritisi pungutan sekolah diintimidasi dan dimutasi. Orang cuma menonton dan cepat2 menjauh, daripada membela wanita yang dibentak-bentak pria seenak udel di tempat umum ( kesalahan mestinya dibicarakan secara 4 mata dengan emosi terkendali, bukannya diumbar seenaknya, menunjukkan rendahnya pengetahuan dan perilaku ).

Teguran secara real time, saat itu juga, membuat pelaku langsung tahu di mana titik kesalahannya ( kita dibanjiri informasi tiap detiknya, membuat satu peristiwa segera tertutup peristiwa lainnya. Masyarakat kita cepat lupa dan memaafkan, sehingga gunung misteri penegakan hukum dan pelanggaran HAM tak pernah tuntas, lenyap ditelan waktu. Padahal, kesalahan dan kekurangan kita tetap ada, tak pernah terkoreksi, mencetuskan kasus berikutnya yang menghabiskan energi, waktu dan uang kita. Tertinggallah kita, berputar-putar pada kesalahan yang sama ).

Sistem hukum, birokrasi dan sosial kita rusak, kata narasumber. Korupsi tetap merajalela ( lihat Gayus, setelah jadi tahanan pengadilan, leluasa keluar masuk rutan, nonton turnamen tenis di Bali. Alasannya, karena stres, kangen anak istri. Pikirkan itu sebelum korupsi, bukan setelah mencuri puluhan milyar. Pikir panjang. Apa bedanya dengan yang tak bersalah, kalau begitu. Bagaimana bisa jera ? Kita dukung hukuman pemiskinan bagi koruptor ). Obama dalam pidatonya mengisyaratkan pemberantasan korupsi di Indonesia harus tuntas ( agar daya beli warga Indonesia meningkat untuk menjadi pasar ekspor AS, dari sudut pandang AS ). Dengan dukungan ini, apakah presiden kita jadi berani mengatakan, hukuman seberat-seberatnya bagi koruptor ? Ganyang koruptor ?  We’ll see ..

Ketika kita bisa menghabisi tabiat korupsi, saat itu kita bisa makan nasi goreng dengan Obama dan Ahmadinejad dalam satu meja. Indonesia betul2 diperhitungkan di kancah dunia. Mau ?

Iklan

Written by Savitri

21 November 2010 pada 04:30

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s