Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Yogya istimewa, Indonesia jaya. Bentengi tradisi dari serbuan kapitalis

leave a comment »

Borobudur, candi terakhir Buddhismus - Mahayana di Jawa. Denah persegi berukuran 123 x 123 m, puncaknya 42 meter. Ukiran dinding seluas 1900 m2 membentang sepanjang 2.500 m, terbentuk dari 1300 potongan cerita. Dari teras bawah ke atas menjabarkan perjalanan Sidharta dari manusia biasa menjadi Sang Buddha, dari dunia profan menuju nirwana. Universum dibagi 3 : dunia bawah tanah ( Kamadhatu ), dunia profan di bumi ( Rapudhatu ) dan dunia suci di mana nirwana berada ( Arupadhatu ), tapi tidak terlihat dari luar karena letaknya tersembunyi bagi manusia biasa ( Buddha di dalam stupa ). Bentuk stupa sebagai jelmaan universum, manifestasi alam semesta. Pusat jagad yang tak punya batas ruang ( jagad raya ). Semua fenomena kehidupan melebur dalam satu bangunan sakral. Ingin menjabarkan kehadiran-Nya. Candi Borobudur, Mendut, Kalasan, Pawon dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra ( pertengahan abad 8 ). Mataram Kuno. Apakah kita akan menghapus kearifan ribuan tahun ini karena peneliti asing ( dari peradaban Barat yang jauh lebih muda ) mengatakan monarki kita tidak cocok dengan demokrasi mereka ? Tiga minggu juga lupa. Sultan dari Kraton Yogya adalah pewaris tahta Mataram, penjaga ( keturunan dinasti pembangun ) candi Borobudur, Prambanan, dan seni adiluhung bangsa kita. Ingin survive dari gempuran pasar bebas ? Pilih istimewa. ( foto : photography-match )

Harga diri. Referendum. 2 hal mendebarkan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Menyesakkan dada jika diabaikan. Yogyakarta dalam spotlight tersebut saat ini. Ada apa ?

“Tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan konstitusi maupun nilai-nilai demokrasi,” kata presiden, 26 November 2010 ( Trust no.06 thn IX ). Kawula Yogya terluka dengan kalimat sensitif usai rapat kabinet RUU Keistimewaan DIY  itu. RUU yang dipersoalkan itu memuat pasal pemilihan yang membuat Sultan Hamengku Buwono dan Paduka Paku Alam tak lagi otomatis menjadi gubernur dan wakil gubernur DIY.

Monarki  di mata orang Amerika. WikiLeaks  di mata orang Indonesia.

Monarki. What’s wrong with that ? Benedict Anderson, peneliti Indonesia asal AS mengatakan ( Tempo, edisi 42/ 13-19 Desember 2010 ),”.. Propaganda dari istana itu mengatakan raja sangat dihormati dsb, persis seperti Yogyakarta menyebutkan tak bisa melepaskan kesultanan. Politik putra putri mahkota itu cermin feodalisme dan kemauan gila-gilaan seperti di Korea Utara. Ketimbang membagi kekuasaan kepada orang lain, lebih baik membagi kepada anak sendiri meski berotak ayam. Ketika zaman revolusi sampai 1950-an, kaum bangsawan atau raja kecil-kecilan merasa terancam karena tekanan dari bawah. Masyarakat melihat mereka sebagai antek penjajah, brengsek, dsb. ( sehingga lebih memilih partai yang memiliki dasar haluan kuat seperti PNI, PKI dan Masyumi ).

Raja kecil ini lalu mencoba kembali dengan masuk birokrasi tanpa melalui proses pemilihan. Soeharto mengebiri semua partai politik sehingga ada kesempatan bangsawan ini comeback. Soeharto menganggap bagus ada raja kecil di tingkat lokal yang tak berarti secara nasional. Raja kecil ini dipelihara dan diberi uang sehingga berperan seperti zaman dulu. Semacam dizombikan. Memunculkan Sultan itu akan memberi harapan serupa kepada raja kecil di daerah lain. Kesan saya melihat sejarah kerajaan di beberapa negara lain di dunia, kalau kerajaan dihapuskan, orang akan lupa dalam waktu 3 minggu. Jadi, kalau habis, tak akan kembali… Kaum elite mengatakan bahwa bahwa semua masalah karena Yahudi dan Amerika, maksudnya supaya tidak membenci mereka. Jadi, ini politik mengalihkan kemarahan masyarakat ke target luar untuk menutupi kegagalan ekonomi dalam negeri.”

Another American. Not us. Dengan agenda tersendiri. Yang jelas, Ben ogah kalau Yahudi dan Amerika jadi tumbal kemarahan warga Indonesia. ( seperti Bill Liddle, kita akan mengecil jika menelan semua perkataannya. Apa dia luput membahas agen2 AS / CIA di lingkungan Istana Negara ? No problem pemerintah negaranya menginvasi Irak, Afganistan, dan menyokong Israel secara membabi buta ? Tapi menjadi masalah besar kalau Sultan yang terbukti mengayomi warga Yogya dari  jaman Pangeran Mangkubumi  ( arsitek yang berperan dalam pembangunan kota Surakarta ( 1743-1744 M ) dan Yogyakarta ( 1746 M ), sampai Sultan Hamengku Buwono X,  diinginkan rakyatnya agar tetap  istimewa dengan penetapan. Semata-mata teori  feodalisme ?

Belum lagi kawat2 rahasia diplomatik  Amerika  yang disampaikan Julian Assange di situs whistle blower-nya, WikiLeaks. Bukankah ini lebih genting buat warga AS  yang selama ini dibohongi oleh rezim pemerintahnya ?  Tidakkah ini yang harus diusik Ben hingga ke akar-akarnya jika benar ia idealis  ?  Whose side is he ? ).

Demokratis kok menginvasi Irak. Pilih demokrasi atau Sultan ? Berkaca pada Thailand ..

Bukankah lebih pantas kalau Ben meneliti negaranya sendiri ? Kenapa yang mengaku paling demokratis,  kok bisa-bisanya memaksa kehendaknya pada negara yang ingin berbeda ?  (  seperti, menjatuhkan bom tandan  ke Irak, karena Saddam Husein ingin mengganti dolar dengan euro dalam transaksi minyak  ). Yang ingin istimewa dengan Sultan tercinta mereka, mestikah dipaksa menelan ‘demokrasi’ juga ? Feodal Jawa tak sampai menyengsarakan warga negara lain. Bukankah yang lebih parah, yang seharusnya diprioritaskan untuk diteliti  ( dan segera dikoreksi  ) sebelum Tuhan menjatuhkan hukuman-Nya sendiri ?

(  Atau Ben sudah tak berdaya di negerinya ? Sejak tahun 1973 hingga Soeharto lengser, Ben dilarang masuk Indonesia. Ia lalu tinggal di Thailand sampai sekarang. Thailand sempat digoyang demo berbulan-bulan/ berlarut-larut hingga berdarah-darah beberapa waktu lalu. Antara massa Kaus Kuning yang pro-pemerintah & militer/ PM Abhisit Vejjajiva, dengan massa Kaus Merah/ pro-mantan PM terguling, Thaksin. Ben berkata,”Belakangan banyak orang sadar bahwa memilih orang harus berdasarkan kebijaksanaan, bukan uang. Gerakan ini mengancam Bangkok dan Kerajaan. Kesadaran politik sudah banyak berubah. Kalau pergi ke daerah itu, anda bisa melihat baliho “Raja si Bangsat” dengan bahasa Thai yang lebih kasar.”

Sampai hari ini, Thailand masih tertatih-tatih mengembalikan kejayaan negerinya seperti sediakala. Saat Raja Bhumibol Adulyadej, ( keturunan Jenderal Paya Tak yang melepaskan  Siam dari daerah vassal raja Birma ( 1767 M ) dan mendirikan ibukota Bangkok ? ), masih sangat dihormati oleh seluruh rakyatnya. Apakah warga negara asing seperti Ben ini yang menghembuskan fatamorgana ‘demokrasi ‘ hingga Thailand jungkir balik ? Tidak rikuh menceritakan pemimpin negara sahabat Indonesia ini sebagai si Bangsat ( dengan bahasa yang lebih kasar ) ? . Anda bisa menebak pikiran Ben tentang Sultan Hamengku Buwono X  ?

Peradaban Sundaland ( 8.000 SM ), lebih tua dari peradaban Amerika ( 500 SM ). Usia kearifan lokal kita.

Indonesia dari ruang angkasa, terlihat dangkalan Sunda ( warna biru muda, di kedalaman sekitar 60 meter dari permukaan laut ). Terpikir, Indonesia awal peradaban dunia ? 10.000 tahun lalu, melebihi peradaban Sumeria, Mesopotamia, apalagi Amerika. I knew it ! ( it was our land )( foto :Google )

Ribuan tahun sejarah nusantara mengajarkan banyak hal pada kita. Anda baca tulisan Stephen James Oppenheimer, doktor ahli genetika dari Inggris, tentang Asia Tenggara  adalah sumber peradaban Barat ?  Indonesia, awal peradaban dunia. Eden in the East. Selama ini saya bertanya-tanya, kenapa Indonesia diwarisi begitu banyak seni tradisi dengan lebih 700 suku etnis ? Melebihi negara manapun di dunia. Rupanya, Asia Tenggara dulunya benua besar yang disebut Paparan Sunda ( Sundaland ). Daerah dengan budaya paling beragam, paling tua dan paling kaya di bumi. Sejumlah arkeolog menunjukkan bukti ketrampilan lokal seperti membuat tembikar, berlayar dan menangkap ikan telah ada 10.000 tahun lalu di sini. Ketrampilan bertani di Indonesia sudah ada lebih dari 4.000 tahun lalu. Mendiang arkeolog Surin Pookajorn menemukan butir beras dari era 7.000-5.000 tahun sebelum Masehi di Semenanjung Melayu.

Yang mengejutkan, peradaban tua Sumeria (  5.000 tahun SM, yang selama ini dianggap tertua di dunia, selain India ( 4.000 SM ), Mesir ( 3.100 SM ), Mesopotamia ( 2.700 SM ), Cina ( 2.100 SM  ), Amerika ( 500 SM )), juga dipengaruhi peradaban Asia Tenggara. Pertanian dan peternakan ( peradaban terorganisasi ) ditemukan di Indonesia, pertama kali. Bukan di Mesopotamia, kata pelaut Belanda, Kapten Hans Berekoven. Wow..  ( mendiang Arysio Nunes dos Santos, profesor fisika nuklir dari Brasil bahkan lebih dramatis lagi : negeri adidaya zaman kuno bernama Atlantis, terletak di Sundaland ! ).

Di kota kuno bawah air di Teluk Cambay, pantai barat India, tahun 2002, ditemukan artefak di kedalaman 40 meter, sekitar 20 km dari pantai, berusia 19.000 tahun lalu ( zaman es ). Peradaban kuno tsb sudah mampu membuat tembikar dan membakarnya pada 16.000 tahun lalu. Sudah membangun kota di tepi sungai dan rumah2 dalam susunan teratur. Ditemukan fosil biji2 makanan yang menunjukkan budidaya pertanian. Kota kuno ini bagian benua yang tenggelam di akhir zaman es. Setiap negara punya yang seperti ini, dan Indonesia memiliki bagian terbesar. Adakah kota kuno di balik timbunan lumpur di dasar Laut Jawa ?  Indonesia makin misterius dan mengejutkan saja, dari hari ke hari, don’t you think ?

Pithecantrhopus erectus, Homo sapiens, Homo erectus soloensis. Which are you ?

1,6 juta tahun lalu manusia purba, Pithecantrhopus erectus, hidup di Sangiran. 170 .000 sebelum Masehi, manusia modern, Homo sapiens, lahir di Afrika. 50.000  tahun SM, Homo erectus soloensis ( nenek moyang orang Indonesia ? )  sudah hidup di Ngandong, dekat Solo. Hasil penelitian Alan Wilson terhadap  150 individu asal Afrika, Eropa dan Australia menunjukkan : hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Selanjutnya, Profesor Dr.Sangkot Marzuki, dkk, meneliti 54.000 sampel DNA milik hampir 2.000 individu yang mewakili 73 populasi etnik di Asia. Hasilnya : Asia Tenggara merupakan episentrum migrasi Homo sapiens dari Afrika, yang kemudian melakukan arus balik migrasi ke berbagai kawasan. Dari Afrika hanya ada satu jalur migrasi, yaitu ke Asia. 50 % gen Asia Timur ditemukan di populasi Asia Tenggara. Keanekaragaman genetik di selatan semakin tinggi, sedangkan etnik di kawasan utara Asia lebih homogen. Teori Sangkot, “Out of Sundaland” : Asia Tenggara adalah pusat penyebaran populasi Asia.

Pemetaan genetis menunjukkan penduduk Asia berasal dari Asia Tenggara. (  dengan kacamata ini ASEAN terlihat lebih keren, ya, terlebih Indonesia yang memimpin pada tahun 2011, dengan rencana membentuk komunitas ASEAN yang lebih bertaji ). Penelitian hampir 100 ilmuwan genetika Asia, menyimpulkan : Asia Tenggara adalah pusat penyebaran ( manusia modern ) setelah Afrika. ( ada yang  ingat pelajaran SD ? : nenek moyang Indonesia dari Indocina/ Taiwan ? Ternyata terbalik. Justru, mereka berasal dari tempat kita. Mulanya, sekelompok manusia yang tersisa di Afrika ( akibat bencana dahsyat  yang membekukan sebagian besar permukaan, memusnahkan sebagian besar populasi manusia di bumi ), pada 90-85 ribu tahun lalu mulai  meninggalkan Afrika  menuju tempat kita ( yang hangat dan subur ) selama zaman es.

Dahsyatnya gunung api Indonesia :  kutub melebar,  Barat membeku. Freeze !

Tongkonan, rumah adat suku Toraja, Sulawesi Selatan, atapnya berbentuk perahu, padahal mereka tinggal di pegunungan. Tahu kenapa ? Leluhur mereka termasuk yang menyelamatkan diri dari banjir besar 8.000 tahun lalu yang menenggelamkan Sundaland. ( foto : debby purnama )

Setelah Gunung Toba meletus dan membekukan Eropa/ wilayah subtropis  ( abu vulkanik letusan Toba menutup atmosfer bertahun-tahun, melebarkan tudung es kutub utara hingga 50 derajat LU ), 74.000 tahun lalu, rombongan manusia  ini  eksodus lagi ke Papua, Australia dan India. Menyebar ke seluruh dunia, karena esnya mencair ( 6.000 SM ) dan terus meluas, sehingga menenggelam sebagian daratan ( sekitar 1,8 juta km2 di kedalaman 60 m di bawah laut  ), terbesar milik Indonesia ( Laut Jawa, Laut Natuna, Selat Karimata ), dan membawa kisah2 banjir itu. Banjir bandang di akhir zaman es menyebarkan penduduk dari Asia Tenggara ke Pasifik besar ( 3.500 SM ), termasuk Amerika. Mitologi serupa banjir Nabi Nuh ini dituturkan rumpun Melayu ke berbagai berbagai belahan bumi. Banyaknya kisah banjir yang mirip ini menunjukkan keterkaitan wilayah Austronesia ( Asia Tenggara ) dan berbagai penjuru dunia. Cerita banjir terbanyak ditemui di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara.

(  Model atap rumah Tongkonan, menggambarkan perahu yang digunakan Puang Buralangi saat berlayar ke Toraja, masih bisa anda lihat hari ini jika anda berwisata ke Sulawesi Selatan. Orang Toraja tinggal di pegunungan, tapi atap rumah adatnya berbentuk perahu, tidakkah membuat anda penasaran dengan sejarah leluhur bangsa Indonesia ? )

Kapitalis sekuler tak mengharmonikan kota dengan desa. Menumpuk kekayaan pribadi.

Lara Jonggrang, kompleks pemujaan berukuran sekitar 150.000 m2. Candi terbesar dan terakhir yang didirikan masa kejayaan kerajaan Mataram I ( Mataram Kuno ) yang mengembangkan aliran Sivaismus, sebelum pusat kebudayaan, ekonomi dan politik kerajaan Jawa dipindahkan ke Jawa Timur. Di tengahnya ada Candi Siva setinggi 47 m. 224 candi setinggi 14 m mengelilinginya. Tembok keliling ketiga berukuran sekitar 390 x 390 m. Candi Prambanan mereplikasi universum. Pernah terpikir kita bisa bernasib naas seperti Michael Jackson jika monarki terakhir di Yogya dibonsai jadi macan ompong ? Irak, Afganistan dan Palestina ( bahkan Indonesia ) akankah ’terhapus' dari peta bumi ? The choise is ours, not theirs ( foreigners ) .. ( foto : sajansajan )

Dominasi kekuasaan profan (  sekuler ) menuntut pengaturan kembali hubungan antar benda dan antar manusia. Keseimbangan antara kota dan desa rusak karena kekuasaan profan tak mampu melestarikan hubungan antara perkotaan dan pedesaan. Kekuasaan profan tidak mencari keseimbangan. Yang diusahakan hanya kebebasan berdagang yang meningkatkan kekayaan di kota. Demi mencapai hasrat tamak itu, kekuasaan duniawi rela mengorbankan kebudayaan dan agama tradisional untuk berorientasi ke luar. Perkembangan kota2 pesisir Jawa jaman Mataram II ( setelah keruntuhan Majapahit ), nyaris mengikuti perkembangan kota2 di Eropa di awal jaman kapitalisme, kalau saja tidak ada pusat negara sekuat Mataram yang teguh memegang tradisi ( “Arsitektur kota Jawa,” Jo Santoso, 2008 ).

Mataram menghentikan proses pemupukan kekayaan kaum pesisir itu dengan caranya sendiri. ( jika tidak ada Mataram, bisa jadi kita bernasib seperti king of pop, Michael Jackson. Karir dan nyawanya dihabisi karena keceplosan isu anti-Semit. Warga Eropa dan AS diikat oleh UU nyeleneh ini. Membuat mereka bungkam ketika kebiadaban ekstremis Yahudi merajalela di tanah2 muslim. Apakah Ben masih membelanya ?  Lemahnya rakyat AS ini ( dalam mengontrol pemerintahnya ), apakah lantas ujug2 menjadi tanggung jawab Indonesia untuk ‘memadamkan kebakaran’ yang mereka sebabkan di Timur Tengah ? Wait a minute. Kok, enak di mereka, ya ?  )

Pasar bebas atasi dengan jurus budaya. Penjaga gawangnya, Sultan & warga Indonesia.

Di era milenium ini, ketika pasar bebas kian terbuka dan berlangsung sengit, di saat sebagian kita belum benar2 siap bersaing head to head, menjaga kekayaan budaya dan seni tradisi kita menjadi prioritas utama. Memberi nilai tambah pada produk kita ( jurus pamungkas yang begitu ditakuti para pengusung globalisasi yang menuntut serba seragam agar  pasar produk mereka membesar. Inikah agenda terselubung, peneliti2 asing yang mengaku  Indonesianis ?  ). Dari lebih 40 kerajaan dan kesultanan di tanah air, Sultan Yogyakarta sebagai pewaris tahta Mataram masih tegak berdiri melestarikan adat istiadat dan seni leluhur secara utuh dan didukung mayoritas rakyatnya. Ratusan tahun lalu, pendahulu mereka melakukan hal yang sama pada para pengusung kapitalis. Hari ini mereka berjuang kembali. Bisa jadi mereka, penjaga gawang terakhir harga diri kita menghadapi serbuan produk asing. Kita tidak ingin di Thailand-kan. Rusuh, setelah simbol2 kerajaan tak lagi dihargai. Ekonomi terpuruk karena kehilangan daya saing dari tradisi yang sangat berharga, yang mereka singkirkan, setelah Raja mereka dibangsatkan.

(  kalau pun ada kekurangan, misalnya akuntabilitas pengelolaan sejumlah gaduhan ( tanah hak guna pakai/ tanah garapan ), profesionalisme para patuh ( biasanya ditunjuk dari anggota keluarga Sultan ), bekel, patih, bupati, demang, mantri, panekar, panatu, paneket dalam pekerjaannya, atau pun kelayakan usia Sultan untuk memimpin, mereka sudah punya mekanisme sendiri yang sudah teruji ratusan tahun. Mekanisme ini bisa di-update/ di-upgrade agar lebih sesuai ritme masa kita. Teringat waktu Gunung Merapi erupsi kemarin, banyak yang mengeluh soal ketiadaan dana dari pemda, sehingga sebagian relawan terpaksa merogok kocek sendiri agar bisa bergerak lebih cepat, agar lebih banyak nyawa bisa diselamatkan. ( terbetik kabar : sebagian korban gempa Yogya tahun 2006  masih belum menerima dana bantuan, sampai hari ini ).

Pengabdian seumur hidup dan luka yang digarami. Remember us ..

Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X ( tengah ), permaisurinya, GKR Hemas ( kanan ) dan Sri Paku Alam IX ( kiri ) menyaksikan seni tari tradisi Kraton Yogya. Sekitar 300 motif batik dari kraton ini sudah dipatenkan. Itu baru dari seni batik saja, belum lagi dari seni tari, seni gamelan, dst. Saya masih ternganga dengan begitu banyak seni tradisi yang kita miliki. Kejutan2 terus bermunculan dari negeri ini, merunut masa lalunya yang menggelegar, menggelegak bak magma pijar.. my beloved country. My precious .. ( foto : Regina Safri/ Antara ).

Untung, masyarakat Indonesia di seluruh tanah air banyak menyumbang dan membantu. ( dan jika masyarakat Yogya menuntut referendum, tanpa menghiraukan kami dari provinsi lain, itu sungguh menyakitkan. All for one. One for all. Remember ? Lepasnya Timor-Timur dari pangkuan NKRI menyisakan trauma. Banyak keluarga yang tercerai berai masih merana di pengungsian sampai hari ini. Antar saudara berubah saling benci. Banyak veteran TNI dan keluarganya dirundung kegetiran hidup karena berjuang mempertahankan keutuhan NKRI di eks provinsi ke 27 RI tersebut. Referendum  yang diteriakkan di Yogya kemarin seperti menggarami luka itu. Perih. Don’t say that R  again, please..

Di sisi lain, Sultan juga punya keterbatasan untuk menanggung semua beban dan biaya, apalagi dengan bencana beruntun. Ketika RUU keistimewaan Yogya dibahas tahun 2007, saya seperti mendengar uneg2 terpendam Sultan terkait isu gubernur. Skala masalah hari ini, kita tahu, berbeda dengan generasi2  sebelumnya.  Bigger & more complicated. ( pernahkah warga Yogya, menanyakan keletihan  Sultan mengurus mereka ?  berterima kasih pada beliau ?  sungguh2 menanyakan keinginan beliau ? meski usaha baik ini takkan sanggup menandingi pengabdian seumur hidup beliau pada rakyat Yogya, pada NKRI.

Saya sendiri sebagai warga RI mengucapkan terima kasih tak terhingga pada Sultan Hamengku Buwono yang telah setia pada NKRI sejak kelahirannya 65 tahun lalu hingga hari ini. Turut aktif memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan kearifan ratusan tahun yang dimiliki Yogya dan dinasti Mataram ( ribuan tahun jika dihitung dari Mataram I ( kuno ) yang membangun candi Prambanan/ Lara Jonggrang (  Hindu Sivaisme yang dianut Raja Patapan  )  dan candi Borobudur  ( Budhismus-Mahayana yang dianut Putri Promodvardhani ) masa wangsa Syailendra ( abad 8 – 9 ). Semoga kebersamaan ini terus berlanjut, dalam suka dan duka, ya Sinuwun. Matur nuwun ).

PIAGAM PENETAPAN

Kami, Presiden Republik Indonesia, menetapkan :

Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Abdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Kaping IX ing Ngayogyakarta Hadiningrat, pada kedudukannya dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kanjeng Sultan akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga untuk keselamatan daerah Yogyakarta sebagai bagian Republik Indonesia.

Jakarta, 19 Agustus 1945

Presiden Republik Indonesia

Ttd

Soekarno.

AMANAT SERI PADUKA INGKANG SINUWUN KANGDJENG SULTAN JOGJAKARTA

Kami, Hamengku Buwono IX, Sultan Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat, menjatakan :

  1. Bahwa  Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari negara Republik Indonesia.
  2. Bahwa kami sebagai kepala daerah memegang segala kekuasaan dalam negeri Ngajogjokarto Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubungan dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam negeri Ngajogjokarto Hadiningrat mulai saat ini berada di tangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja kami pegang seluruhnja.
  3. Bahwa perhubungan antara negeri Ngajogjokarto Hadiningrat dengan pemerintah pusat negara Republik Indonesia bersifat langsung dan kami bertanggung jawab atas negeri kami langsung kepada presiden Republik Indonesia.

Kami memerintahkan supaja segenap penduduk dalam negeri Ngajogjokarto Hadiningrat mengindahkan amanat kami ini.

Ngajogjokarto Hadiningrat, 28 Puasa, Ehe 1876 ( 5 September 1945 )

Hamengku Buwono

( dekrit ditandatangani Sultan Hamengku Buwono IX, Sri Paduka Paku Alam VIII dan Ketua Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta ( yang dirangkap Ketua KNI Daerah Yogyakarta ) sebagai wakil seluruh rakyat Yogyakarta ).

Monarki di mata founding father RI. It’s okay ...

Apa yang dikatakan para founding father negeri kita tentang monarki ? 19 Agustus 1945, dalam sidang PPKI ( Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ), Mohammad Hatta, Suroso, Suryohamijoyo dan Soepomo mendukung status quo Yogya. 6 September 1945, presiden Soekarno menyerahkan piagam penetapan kedudukan penguasa Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman, setelah Sultan mengeluarkan dekrit kerajaan ( Amanat 5 September 1945 ) yang berisi integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit integrasi yang juga dikeluarkan berbagai monarki di nusantara mengandung resiko besar.

( Sekutu dan NICA masih ganas menyerang. Ingat ( trilogi ) film ‘Merah Putih’ ?  Ingat peristiwa Agresi Militer I dan II mempertahankan kemerdekaan RI ?  Raja Luwu dari Sulawesi sampai meninggalkan istana untuk bergerilya mempertahankan dekritnya mendukung Indonesia. Padahal harta bendanya sudah disumbangkan untuk kemerdekaan RI  ( juga harta keraton/ istana seluruh nusantara ). Mengingat pengorbanan tiada tara dari penguasa monarki berumur ratusan/ ribuan tahun, pada masa NKRI masih bayi ini, lalu mendengar peneliti asing mencemooh monarki begitu rupa, hati saya tidak terima. Do you feel what  I feel ?  He don’t know us.  Itu yang benar. Dengan empati ini, kita bisa meraba perasaan keluarga kerajaan Thailand saat dibombardir ‘demokrasi’ ala Barat dan komentar2 merendahkan dari para peneliti asing ).

Keistimewaan adalah bentuk pengakuan dan penghormatan warisan tradisi, kekhususan dan kebudayaan kerajaan di Nusantara. Yogya, tetaplah istimewa ( Sultan dan keraton tetap eksis, dengan kekuatannya, lebih dari sekedar simbol, pelindung budaya dan pemersatu masyarakat Yogya  ). Sultan Hamengku Buwono IX  sejak awal mendukung kemerdekaan RI, memfasilitasi Yogya sebagai pusat pemerintahan, mensponsori Serangan Umum I Maret 1949  dan meneken perjanjian tentang daerah istimewa dengan pemerintah RI. (  Yogya adalah daerah istimewa setingkat provinsi, bukan provinsi yang diistimewakan ).  I say, we need Yogya on their way. Be yourself, people ..

Iklan

Written by Savitri

3 Januari 2011 pada 01:46

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s