Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

‘atm’ bersama bernama Gayus : pejabat jual posisi, belia jual diri. Negara bubar ?

leave a comment »

Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, terdiri Kuntoro Mangkusubroto ( ketua ), Denny Indrayana ( sekretaris ), Agung Darmono, Mas Achmad Santosa, Herman Effendi dan Yunus Husein. Gebrakan mereka membuat gerah banyak kalangan, terutama mereka yang terindikasi korupsi. Aburizal Bakrie, ketum Golkar, sempat menghentikan Denny dan berkata,"Anda ini, ya, yang mengarahkan kasus Gayus ke ranah politik. Kalau anda terus menggiring ke wilayah politik, anda juga akan saya selesaikan secara politik." Lalu, kita ingat kisah Sri Mulyani, Lapindo, cara AB menjadi ketum, mengalahkan seniornya Surya Paloh. Lalu, kita lihat demo kemarin ( 24/1/2011 ) menuntut pembubaran Satgas. Bang Ota, Denny dan Yunus dicerca penuh kebencian. What's wrong with these people ? Tidakkah mereka melihat Satgas sedang berusaha menyelamatkan masa depan negeri ini ? Ketika atasan mereka terlihat gamang bertindak. Mungkinkah Denny bersinergi dengan Hotma, punten2 dulu dan saling belajar satu sama lain ? Keduanya punya semangat dan esensi yang sama untuk memberi yang terbaik untuk bangsa ini. Ketika raksasa bersatu, maka rakyat pun mesti solid. Ganyang koruptor ! ( foto : okezone ).

Gayus. Sebuah nama, belakangan ini, melebihi kepopuleran Ariel. Apa pasal ?  Apa karena ia mempertontonkan permisifnya korupsi di negeri ini secara gamblang ? Apa karena ia ‘bernyanyi’ menyeret banyak nama di instansinya, Direktorat Jenderal Pajak ? Juga kepolisian, kejaksaan, pengadilan, imigrasi, jajaran petinggi partai bahkan istana ?  Atau karena teve, radio, koran, majalah, internet membahas ulahnya ? Atau karena wig dan kacamatanya yang gampang dicurigai orang ketika plesiran ke Bali, Kuala Lumpur, Singapura dan Makau ?

Kasus Gayus Halomoan Partahanan Tambunan ibarat puting beliung, menerbangkan karung2 beras ( uang rakyat ) yang telah kosong digerogoti isinya. Di bawahnya, tikus2 pelakunya, berlarian ke sana sini, menyelamatkan diri, menyembunyikan diri, atau ‘menyandera’ tikus lain demi gerakan tutup mulut bersama. Demi dalih kestabilan politik ? ( apa iya ? atau  malas berubah/ tobat ? ). Apa mereka tahu, gara2 uang yang mereka curi, perempuan2 belia 13 – 15 tahun di desa2 miskin, dijual orang tuanya seharga Rp 500 ribu untuk pemuas nafsu pria hidung belang ? Remaja putri terpaksa menari striptis tiap malam untuk bertahan hidup sepeninggal ayahnya wafat, plus memaki-maki ibunya yang guru ngaji karena melarangnya ? (  di keluarga lain, sebagian suami yang menganggur, setelah puas melakukan KDRT memilih kabur dan kawin lagi ). Remaja putra yang tak kunjung mendapat kerja memilih bergabung dengan teman senasib, mabuk-mabukan, memalak warga sekitar, menjadi predator sesamanya, menyalahkan semua kegagalan hidupnya pada ibunya dan membantingnya !

Sebagian potret buram masyarakat kita hari ini, apa tikus2 itu menyempatkan diri berhenti, dan melihat hasil perbuatan mereka ? Apa para politikus yang menebar uang untuk membeli suara, tahu mereka sedang mengajari warga RI menjadi korup dan murahan ? Tak bernilai. Anda tahu yang dilakukan orang yang merasa diri tak berharga ? Ia melacurkan diri pada seks semalam ( hamil di luar nikah ), bermalam-malam ( Gang Dolly, kompleks pelacuran terbesar di Asia Tenggara ? ), memanfaatkan jabatan sebagai sarana ‘atm’ pribadi ( dan bancakan seperti Gayus ), pedagang asyik2 saja menjual makanan basi, beracun, oplosan berbahaya, haram, dll, ( plus protes rusuh jika lapaknya disingkirkan satpol PP atau sarang prostitusi/ maksiat tempatnya mangkal ditutup ) asal dirinya bisa hidup ?  Go to hell other people. Seperti ( dicontohkan tanpa malu oleh ) pejabat korup ( juga pengacara, pengusaha hitam, oligarkh yang melilit istana ), orang2 kecil  ini  juga tak peduli orang lain mampus seketika, atau mati perlahan-lahan dengan ongkos rumah sakit selangit.  Apa yang terjadi jika warga tak merasakan manfaat dari negara ? Negara bubar.

Lumrah yang mencelakakan. 1000 orang yang egois.

Ketimbang memainkan  angka statistik, tidakkah lebih baik para pejabat melihat kemiskinan ( yang sering mereka sangkal  ), seperti yang ditayangkan tim “Termehek-mehek” dan “Realigi”- Trans TV. Betapa banyak orang ( dan komunitas ) hanya memikirkan diri sendiri. Tanpa pikir, langsung mendamprat, memaki-maki, melempar telur busuk, mengusir orang  ( meski bermaksud baik, cukup bereputasi, pun sudah dijelaskan  ). Tidakkah mereka bisa santun menampik keberadaan kamera ? Negosiasi baik2 dengan kru. Masih rendahkah pengetahuan dan perilaku  sebagian besar warga kita ? Dalam pengalaman saya, rasionya bisa 1 : 1000. Sangat  jarang orang memikirkan kesulitan orang lain. Sejauh yang bisa mereka pikirkan tentang orang lain adalah pendapat orang  tentang dirinya ( penampilan fisiknya, harta yang dimilikinya, tak peduli dengan cara tidak halal  ).

Menengok ke belakang, ada komunitas di sana yang saling membenarkan dan menguatkan perilaku mereka. Keberlimpahan materi adalah tolok ukur kesuksesan. Apa pun caranya. Dari menghasut dan menebar data mentah, analisis amburadul, bahkan berita bohong. Yang panik, gegabah dan ceroboh menyebarluaskan, semata ada orang mau duduk mendengarkan kicauannya. Sebagian melakukan untuk memuaskan dendam karena kalah bersaing. Kedengkian seolah membutakan mata mereka atas maksud baik anda. Setumpuk alasan merasonalisasi perbuatan buruk. Lumrah bagi mereka, jika ketua lingkungan mengutip uang untuk pengurusan surat2  warga, setelah menakut-nakuti warga, jalan ke kecamatan jauh, menanjak, sulit, dst. Anggota kelompok satu merasa tak selevel dengan kelompok lainnya karena mereka nilai kurang gedongan. Nehi. Dan sederet ‘lumrah2’  lainnya, sehingga mereka yang menyimpang ini tetap dijadikan referensi untuk aneka perbuatan selanjutnya.

Sesepuh menghardik pedagang kue yang tidak mendahulukan dirinya dari pembeli yang lebih dulu datang. Pemilik usaha sendirian ( pramuniaga terakhir di-phk karena toko sepi ) mencecar konsumen yang tidak mengiyakan tawarannya. Anda yang akan membeli, jadi berasa ‘pramuniaga’ yang akan dipecat berikutnya. Pendekatan intimidatif. Betapa banyak orang2 dari pemuja materi melakukan cara primitif ini. Sebagai konsumen, saya memilih keluar toko, tak menoleh lagi  dan takkan kembali lagi  ( tak peduli setua apa orangnya ). Kesan materialistis ditanamkan kuat pada manusia sejak kecil. Sejak orientasi orang tua ( yang tak tahu ) memperlakukan anda. Uang lebih dihargai dari kebaikan ( anda tahu rasanya makanan spesial yang anda beli dari gaji pertama anda, disingkirkan dan diperbandingkan dengan pencapaian anak lain ?  tahu rasanya di tempat antah berantah ketika ayah di hadapan anda his entire life !  Mendadak anda tahu yang dirasakan Majoon di serial “Bread, Love and Dreams”. Siapkan banyak tisu saat menontonnya ).

Terpingkal : hukuman sosial atau putus asa ?

Setelah rumah, lingkungan, anda menghadapi komunitas sekolah dan kantor. Sepanjang perjalanan, media mainstream, sampai billboard membombardir anda dengan apa yang dianggap berharga masa ini : kulit yang putih, mulus dan bersinar. Wanita super yang membahagiakan semua orang ( kecuali dirinya ). Lose yourself. Mendadak anda tahu yang dirasakan Virginia ( Nicole Kidman ) dan 2 wanita generasi selanjutnya di film “The Hours”. Die inside. Dapur yang bersih mengkilat, rumah yang menawan, kebun yang segar, mobil mutakhir berjajar di garasi. Mendadak anda tahu yang dirasakan Elizabeth Gilbert ( Julia Roberts ) di film “Eat Pray Love”. No impulse. Ia dituntut mewujudkan semua mimpi suami, sedang mimpinya sendiri tak didengar ( piknik ke Bora ).

Lebih banyak orang yang meminta ( mengemis ) dengan kantong tanpa dasar ( sering hanya dengan justifikasi, ‘mau pahala atau dosa’, seperti diucapkan seorang penyiar radio. Simpel  ). Sebanyak apa pun anda menolong, takkan pernah cukup. Anda baru tersadar, anda telah melewatkan banyak hal dalam hidup anda. ( yang lain meninggal karena kelelahan menolong orang ). Setelah seluruh penghuni rumah anda kenyangkan perutnya, tak seorang pun dari mereka menanyakan anda sudah makan atau belum. Perut anda belum terisi seteguk air atau sesuap nasi sedari pagi ( anda tahu rasanya 4 hari perut tak terisi makanan ? persendian anda akan berderit, sampai  suara engsel tulang anda terdengar, dan anda akan terjungkal begitu menaiki trotoar,  menyisakan lebam di tubuh berminggu- minggu, jangan tanyakan hancurnya hati  ), dan mereka mentertawakan anda ?  They just don’t get it. Still.

Di ruang kuliah, anda mungkin terbengong, mendengar seisi kelas tertawa ketika dosen berkata Indonesia hampir tak bisa membuat apa pun, bahkan jarum pun China yang membuatnya. Lelucon tidak lucu, tapi mereka tertawa ? Saya terbengong, mereka tertawa juga ketika saya memilih mengerjakan soal sendiri, tanpa melihat bocoran jawaban yang mereka bawa. Saya terbengong, staf  yang bermain pingpong ( masa restrukturisasi proyek ) tertawa melihat saya masih menekuni gambar kerja. Kemarin pun saya masih terbengong, melihat penyiar teve saling melempar joke tentang plesiran Gayus. Apa Gayus sekarang menjadi bintang komedi ? Begitu banyak orang terpingkal-pingkal oleh kecerobohannya.

Saya ragu apa Gayus ( juga ‘Gayus2’ lainnya ) akan kapok melihat wajah2 senyum begitu. Tak  melotot marah meski masa depan negeri ini, anak cucu,  terkoyak ?  Apa ini dagelan ?  Apa pingkal ini semacam hukuman sosial terhadap pelaku ? (  orang2 yang kurang empati/ EQ rendah, setahu saya, tak bisa menangkap ekspresi dengan benar ). Manipulasi adalah bahasa ( satu-satunya ) yang diketahui Gayus. Begitu lihainya ia menjawab pertanyaan penyidik. Begitu ‘inosen’-nya dia plesiran di belakang ( tanpa sepengetahuan/ membohongi ) penasehat hukumnya ( dan masih dimaafkan pula ! diringankan hukumannya ).

570 otot wajah yang tak menyesal. Jangan terkecoh, Bang

Kecenderungan psikopat, kata seorang psikolog. Mengelabui banyak orang, mungkin termasuk dirinya sendiri. Merasa layak jadi staf/ saksi ahli Kapolri, Jaksa Agung dan KPK. Merasa cuma pelaku teri dan menjadi korban sistem, merasa bisa membalikkan situasi menjadi ‘pahlawan’. Tanpa penyesalan ( 570 otot wajah Gayus tak menunjukkan penyesalan, kata ahli micro expression ). Seolah berkata, loe juga akan melakukan apa yang gue lakuin sekarang. Ia mungkin hanya mengadop kata2 penasehat hukumnya yang berusaha memotivasinya agar berpindah kuadran menjadi orang baik. Gayus sesumbar 2 tahun bisa membasmi korupsi hingga tuntas jika dijadikan saksi ahli  ( seorang narasumber mengatakan, Gayus frustasi karena dia terus yang jadi bulan-bulanan hukuman atas skandal ini sementara jaringan di atasnya aman2 saja  ). Gayus berkata begitu, apakah untuk ‘mengintimidasi’ sponsornya selama ini, agar membantu meringankan hukuman dan terus memanjakannya ?

Gedung parlemen RI ( MPR-DPR-DPD ) Senayan, Jakarta. Banyak orang berharap pada wakil rakyat yang duduk di sini. Sejauh mana, harapan dan janji2 kampanye mereka direalisasikan ? Setelah pansus Century, menyusul panja pajak. Anda mengikuti follow-upnya ? ( foto : matanews )

Yang jelas kita tahu, ia divonis 7 tahun ( terhitung ringan, karena akumulasi 4 pasal minimum hukuman saja sudah 8 tahun  ), dan plesiran ke luar negeri, di mana sebagian orang bebas tak bersalah pun tak sanggup merasakan kemewahan itu. Apa manfaat kata2 sesumbarnya itu selain imbalan, fasilitas, keuntungan di pihaknya sejauh ini ? ( Bang Buyung dan Mbak Pia, kita mendapatkannya juga kan ? ) Setahu saya, Denny Indrayana dan Mas Achmad Santosa, beberapa yang terbaik dan pemberani yang masih dimiliki negeri ini, malah terjorok ke ‘bibir jurang’ karena perkataan Gayus.  Ia memang licin bagai belut. ( mengikuti script yang dirasa menguntungkannya, sponsor yang berusaha menjinakkan kicauannya, atau penasehat hukum yang sedang mempertaruhkan nama baik untuknya, atau mana saja yang enak untuknya ). Apa Gayus sedang menikmati perannya ?

(  ketika Cirus Sinaga mengancam akan membuka rekayasa kasus Antasari, ia tak kunjung ditetapkan sebagai tersangka. Ketika media memblow-up keanehan status mantan jaksa peneliti berkas Gayus ini, baru kemudian ( 24/1/2011 ) ia ditetapkan sebagai tersangka. Dan hari ini, sidang paripurna DPR akan memutuskan akankan panja pajak dibentuk untuk mengawal kasus yang menyita perhatian publik belakangan ini. Akankah bernasib seperti Century-gate ? Let’s see .. )

Ingat bangsa2 yang dimusnahkan. Loyal pada rakyat. Berhenti menyandera

Do we learn something here ?  Calon presiden berikutnya harus jeli melihat perangkap yang mungkin ditebar untuknya. Sekali terjerat, ia akan terseret dalam lingkaran sandera. Memandulkan dirinya sebagai panglima tertinggi banyak urusan penting di negeri ini. Termasuk dalam pemberantasan korupsi. Momok terbesar bangsa ini. Sampai seorang ketua KPK harus meringkuk di penjara atas tuduhan keji, sampai anggota Satgas dijorokkan ke ‘bibir jurang’  atas tuduhan melakukan tugas melebihi kewenangan mereka di Keppres 37/ 2001 ( saking gemasnya dengan manuver koruptor yang dibeking sejumlah penegak hukum yang berlama-lama, berputar-putar, melakukan tugasnya ), sampai wakil ketua KPK merasakan dibui, sampai anggota polisi, pengusaha, masyarakat yang tak bersalah pun dibui, dibunuh karakternya.

Sampai sebagian wakil rakyat mempertontonkan sandiwara normatif di hadapan rakyat ( siapa yang berani keluar dari Setgab ? ketika Century ( dana kampanye )  berkolaborasi dengan Gayus ( pengemplang pajak ) ?  raksasa2 bernama oligarkh, kian mirip dengan lobi Yahudi di Gedung Putih yang menyandera semua presiden AS ( kecuali John F. Kennedy yang keburu mati dibunuh ) dan menumpahkan darah rakyat Palestina, Irak dan Afganistan tanpa penyesalan, ya ?  Apa Indonesia sedang copy-paste ? ), sampai kelompok2 tertentu yang dicap teroris dikejar-kejar begitu hidung rakyat mengendus kasus2 konspirasi/ korupsi besar, sampai sebagian masyarakat kian lapar, ‘sakit’ dan sadis memangsa sesamanya akibat ketidakadilan yang dipertontonkan setiap hari.

Bukan kesalahan satu orang yang membahayakan peradaban, tapi ketika sebagian besar orang menganggap lumrah kesalahan itu. Bangsa2 yang dimusnahkan Allah dalam sejarah peradaban manusia ( kaum Aad, Tsamud, dll ) menganggap lumrah hubungan sejenis, menistakan utusan Allah (  nabi Nuh ( sekitar 3000 – 2500 SM ), nabi Ibrahim dan nabi Luth ( awal 2000 SM ), nabi Musa ( 1300 SM ), nabi Hud ( sekitar 1300 SM ), nabi Shalih ( sekitar 800 SM ), dst. Anda tergelitik apakah Atlantis tenggelam semata karena Gunung Toba meletus, atau ada tangan tak terlihat yang memutuskan sudah muak ? Kita yang hidup di atas puing2- nya, apakah sedang menuju kemuakan dan kemurkaan-Nya ( lagi ). Do we let ourselves  go ?

Iklan

Written by Savitri

25 Januari 2011 pada 03:29

Ditulis dalam Ragam

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s