Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Revolusi Mesir 2011, nostalgia reformasi Indonesia 1998. Konstitusi, ormas madani. What next ?

leave a comment »

Hari kemenangan rakyat Mesir, Jum'at 11 Februari 2011. Hari dimana Husni Mubarak berhasil mereka lengserkan dari kursi presiden yang sudah didudukinya selama 30 tahun. Hari bersejarah rakyat Indonesia, 21 Mei 1998, ketika presiden Soeharto lengser dari kekuasaan selama 32 tahun. Reformasi 98. Lagi2, kaum muda dan mahasiswa yang memulai perubahan besar di suatu negara. Siapa sangka, dengan jejaring sosial di dunia maya yang mereka akrabi, disambung undangan dari mulut ke mulut, presiden otoriter yang didukung AS, Israel dan militer itu bisa digulingkan ? Akankah Timur Tengah kembali bermartabat ? Anda juga merasakan sensasinya ? Ketika semangat kebangsaan kembali. Di tribun Gelora Bung Karno saat timnas sepak bola kita bertarung di AFF 2010, rasa satu itu ada, ya. Gemuruh "Indonesia !!". Begitu juga, rakyat Mesir hari2 ini. Feel good, right ? ( foto : Hizbut Tahrir )

People power. Kekuatan rakyat merebak dari Tunisia ke Mesir. Menulari negara2 republik monarkis Arab ( Jumlukiyyah Arabiyyah : aslinya republik tapi gelagatnya kerajaan, kepemimpinan dipegang puluhan tahun, diwariskan ke anggota keluarga ), terutama yang selama ini menjadi antek Barat. Ruhi ! ( pergi Mubarak ! ), seru tweeps ( tweet people ).”Ternyata tidak sulit mengajak pemuda Mesir turun ke jalan”, kata Gala, mahasiswa Universitas Ain Shams.”Jika Tunisia bisa, kami pasti bisa.” Apa hasil tekad mereka ?

Presiden yang sudah 30 tahun bertahta, tumbang. 18 hari, sejak Akun “We are all Khaled Said” di FB, yang difansi 44 ribu orang mengundang aksi 25 Januari 2011, untuk menurunkan Husni Mubarak. Jumat, 11 Februari 2011, hari bersejarah bagi rakyat Mesir. Untuk pertama kalinya, kediktatoran di Mesir bisa digulingkan oleh rakyat Mesir sendiri, bukan oleh diktator lain.

Pemuda, mahasiswa, profesor, jurnalis, oposisi, politikus, pengemis, pengusaha, pengacara, muslim, kristen, tua muda, kaya miskin, laki2 perempuan, semuanya turun ke jalan. Lapangan Tahrir, pusat Kairo, menyemut. Menyusul kemudian beberapa perwira militer. Iskandariah dan kota2 di luar ibukota Mesir pun berubah lautan manusia.

Ibu rumah tangga ikut turun. Mereka berorasi tak kalah lantang, cerdas dan menggegerkan. (  Siapa yang sanggup menandingi keberanian ibu jika sudah menyangkut keselamatan buah hatinya ? Sekompi pasukan terlatih pun akan kalah gigih ). Akankah ( rakyat negara2 ) Timur Tengah terinspirasi melakukan revolusi, membuka topeng, dan kembali bermartabat seperti pendahulu2 mereka, yang gigih membela kaum tertindas ?

Zombie lapar menerkam orang kaya. Sempat tunggang langgang ?

Kerumunan massa hingga 2 juta orang itu meneriakkan yel2 anti pemerintah. Mengerikan, apa yang bisa dilakukan orang terhina dan kelaparan. Meski lebih 300  nyawa terlepas, mereka tak surut selangkah pun menggulingkan presiden yang abai. ( dulu pernah dirilis film tentang mayat2 berjalan tertatih menuju gedung penguasa sebuah negeri. Bagaimana jika jutaan zombie lapar ini mengepung kediaman penguasa negara yang egois dan penguasa ekonomi yang serakah ? Orang2 yang sudah mati di segala lini sudah tak takut mati lagi ( wong sudah mati ). Sangat mengintimidasi. Sekutu yang bersenjata canggih saja sampai lari tunggang langgang kedatangan rakyat tak bersenjata macam ini. Kenekadan ala Indonesia masa perjuangan fisik ( melawan penjajah ). Sepatu yang diacung-acungkan, ala rakyat Mesir, kemarin.

Menggetarkan, melihat kaum muda, mahasiswa, warga tertindas menuntut haknya yang asasi. Hidup ( nafkah ), dan menyuarakan pendapat. Teriakan mereka mendirikan bulu roma. Jum’at marah. Meski, pasukan keamanan pemerintah ( kepolisian yang setia pada Mubarak, bahkan dibantu Israel ) menghujani mereka dengan peluru, gas berbahaya, batu, molotov, sampai korban berjatuhan, mereka tetap tegak berdiri, bertahan dan bertenda di Midan Tahrir ( tanpa senjata, mereka bahkan menggeledah rekannya agar tidak membawa senjata. Wah, benar2 siap jadi martir ). Whatever it takes. Salute.

Dari seberang sungai Nil, pria pengangguran, wanita berpakaian sederhana, anak2, dari Bulaq el-Dakkaour, Abbasia, dll, dengan bendera plastik bertangkai biru dan roti eish yang kasar, bersedia menjadi demonstran pro-Mubarak dan berbondong-bondong ke Tahrir Square. Bentrok dengan kaum reformis. Tawuran menegangkan itu akankah berujung perang saudara ?

10 ribu digebuki. 100 ribu diikuti. Rugi 3 triliun, aduh tak kuku ..

Massa demonstran menghadang tank militer Mesir. Berbeda dengan polisi, tentara Mesir lebih lunak pada pendemo. Mereka menolak menembaki massa. Waktu reformasi 98, TNI juga memihak rakyat. Iya, dong, sebanyak itu kalau tewas, siapa yang akan kerja dan menggaji mereka ? Good choice, sir. Pokoknya, selamat kalau berpihak pada rakyat, pemilik republik ini. Agree, sir ? ( foto : Abu Khalil )

Kalau ada 1000 pendemo, militer akan membiarkan. 10.000 pendemo, militer nggebuki ( memukuli ). 100.000 pendemo, militer ikut ( membaur, mendukung ), kata pengamat militer di teve. ( apalagi 2 juta, ya sudah ikut saja ). Seorang tentara Mesir di seberang kawat berdiri, tampak menepuk dada kiri, menunjukkan dukungannya pada demonstran anti-Mubarak. Lumpuhnya perekonomian Mesir dengan kerugian 310 juta USD perhari, termasuk tertahannya 2700 kapal tanker di Terusan Suez yang membawa 3 juta  barrel minyak, gara2 demo ( pemogokan ) massal , menjadi hal yang tak tertanggungkan Amerika dan Eropa.

Perkembangan sikon tak menguntungkan AS, strategi pun diubah. Mubarak, yang telah membuang harga dirinya menjaga kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah ( seperti juga Zine el-Abidine Ben Ali, Saddam Husein, Muhammad Reza Pahlevi ) pun ditinggalkan. AS kini ( seolah ) berada di belakang demonstran. Berharap kaum oposisi tak menganggu kepentingan AS di Timur Tengah, termasuk dalam memilih pengganti Mubarak. Pendemo menyerahkan polisi yang menyamar demonstran pro-Mubarak kepada militer Mesir. Jumat sore, Mubarak mundur, menyerahkan pemerintahan transisi pada tentara ( Dewan Agung Militer ). Militer Mesir, sekali lagi, ikut menentukan masa depan Mesir. Mereka punya waktu 6 bulan untuk menyelenggarakan pemilu jurdil ( jujur dan adil ). Yang akan memimpin Mesir pasca Mubarak lengser, adalah orang yang bisa diterima oleh militer Mesir, kelompok Islam ( garis keras ), AS dan terutama rakyat Mesir, kata pengamat. Who ?

Represi memacetkan regenerasi. Dibuka lowongan kerja : presiden Mesir, wapres, menteri, dst

Muncul nama Mohamed el-Baradei, mantan gubernur IAEA, anggota Dewan Pengawas ICG ( Internasional Crisis Group ), LSM internasional yang didanai George Soros. Baradei pernah meributkan nuklir Iran ( tapi saya juga membaca masa itu, Baradei pernah juga membela, setelah inspeksi ke fasilitas nuklir Iran, dengan mengatakan, tak ada jejak persenjataan nuklir di Iran seperti yang ditakutkan AS dan sekutunya. Sampai kemudian ia digantikan ). Apakah Sri Mulyani, yang pernah menjadi direktur IMF Asia Pasifik, dan kini direktur pelaksana Bank Dunia di Washington, akan selamanya dicoret merah ? Untuk memenangkan pertarungan, kita harus mengetahui seluk beluk lawan. Versi Fidel Castro, menjadi pahlawan, baik saja tidak cukup. Licik juga perlu ( pada situasi tertentu ), agar tak menjadi martir sia2. Baradei muncul dengan bendera Ikhwanul Muslimin, kelompok yang gigih ditentang Mubarak, seperti halnya Hizbullah di Libanon dan Hamas di Gaza.

Baradei protes tidak diundang pada pertemuan dialog oposisi dengan pemerintah.”Kami mau berdialog, justru untuk melaksanakan tuntutan para pemuda di Midan Tahrir,” kata Dr El-Sayyid el-Badawy Shahhata, ketum Partai Wafd, yang diundang dialog waktu itu, bersama partai Tagammu. Tuntutan itu diantaranya ; turun dan perginya Mubarak, pembuatan konstitusi baru ( UU darurat militer dicabut, UU pemilu diamandemen ) dan pembekuan parlemen. Sekjen Liga Arab, mantan menlu Mesir, Amir Moussa, menjadi kandidat yang juga banyak disebut para pengamat.

Umar Sulaiman, wapres yang diangkat Mubarak, mantan komandan intelijen Mesir, dikatakan calon pilihan AS oleh Wikileaks ( dikatakan Julian Assange tak mau menyebutkan penyandang dana pembebasan dirinya dari tahanan pengadilan Inggris, lalu isu yang ditebarkannya berasal dari dokumen yang sengaja dibuka oleh pemerintah AS, tak prinsipil bagi kepentingan AS, bahkan lebih banyak menyasar lawan2 AS, kemudian isu itu dibahas media mainstream AS yang dikuasai pengusaha zionis, adalah fakta yang patut membuat kita waspada, menyaring informasi dari Wikileaks lebih kritis lagi. Assange, yang dibunuh karakternya dengan tuduhan pelecehan seksual di Swedia, dan ditolak Komite Nobel Norwegia jika ada yang mencalonkan dirinya sebagai penerima Nobel Perdamaian, di sisi lain, membuat kita bertanya.

Ekspresi mikro peristiwa. Oligarkh meniup peluit ?

Ibarat 570 otot wajah, berbagai informasi yang bertebaran seantero jagad ini, termasuk dari Wikileaks, patut dicermati, dipilah, dianalisa untuk mengetahui ‘micro expression’ situasi yang sebenarnya terjadi. Dengan pengalaman, banyak membaca, mengikuti kronologis peristiwa demi peristiwa dalam dan luar negeri dari berbagai media sepanjang hidup kita ( negara ), menyimak beragam pendapat dari sudut pandang berbeda, mengasah kehalusan intuisi dengan seni, merenung dan berdoa, segala pertautan rumit itu bisa memberi clue, petunjuk, sebaiknya apa sikap kita. Assange, 39 tahun, master hacker asal Australia, saya belum memvonisnya sebagai penggembira.

Sebagian diri saya, mencoba berempati, jika berada di posisi Assange, dalam asuhan non muslim, dalam perangkap sistem kapitalis yang menggurita ( termasuk dahsyatnya disinformasi yang mereka buat ), kira2 sebesar apa kompromi yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup. Sebesar apa solidaritasnya yang tersisa terhadap kaum tertindas di luar dirinya. Kita perlu peniup peluit ( whistle blower ). Kita tak bisa mengubah dunia ini sendirian. Sebagian diri ini masih ingin, Assange, warga dari negeri yang pasukannya ikut menginvasi Afganistan, ( masih/ menjadi ) satu dari sekian warga negara maju yang menolak ambisi perang AS, atau arogansi negara mana pun. Semudah itukah menjadi Assange ? ( andai saya tahu niat dia sesungguhnya )

( seperti saya juga mengharap ada orang2 dari kaum oligarkh yang melilit istana, segelintir yang menguasai ekonomi Indonesia, mau keluar dari zona nyaman untuk lebih memikirkan pemerataan kesejahteraan  rakyat Indonesia dan bertindak nyata mewujudkannya. Masyarakat kita hari ini mengalami penurunan daya beli. Kesenjangan sosial yang ekstrim mencetuskan kecemburuan sosial dan konflik berkepanjangan. Instabilitas. Bumi ini punya batas daya pikul ( eksploitasi, pencemaran lingkungan ). Di tingkat global, kenaikan harga barang dan bahan pangan memicu proteksi perdagangan, ketegangan bahkan perang antar negara. Warga/ negara miskin terhantam, meletuskan ketidakstabilan sosial dan politik dalam negeri dan kawasan. Demonstrasi anti-pemerintah yang tak bisa dikelola, berujung perpecahan. Stateless. Ketidakseimbangan yang bermula dari kerakusan segelintir kelompok inikah, yang akan mencetuskan Perang Dunia ke-3 ? ).

Dari memimpin Arab menjadi pelayan Israel. Penghinaan tak tertahankan.

Kembali ke Mesir, puluhan tahun tindakan represif masa Anwar Sadat dan Mubarak, memperlangka bibit2 pemimpin masa depan ( seperti kita pasca Soeharto lengser, kelimpungan mencari sosok yang cocok masa itu, serasa muskil ada lagi yang ‘sebesar’ itu, saking lamanya dicuci otak, 32 tahun ). Sebagian yang lantang dipenjara, dibunuh atau hengkang ke luar negeri. Tak lagi mengakar. Padahal Mesir, gudangnya orang cerdas, pernah memiliki pemikir, ulama, pejuang sekelas Jamaluddin Al Afghani yang pemberani, dan muridnya, Syekh Muhammad Abduh. Bagaimana mungkin kawasan yang melahirkan tokoh2 besar di bidang politik dan budaya Islam, sangat disegani dan sempat menjadi pemimpin dunia Arab secara pemikiran maupun politik, bisa terpuruk sengsara, terhina dan penjamin setia agenda AS ( dan Israel ) ?

( saya masih ingat rombongan bantuan bertruk-truk untuk Gaza dari warga Inggris dihentikan, dilarang masuk Gaza dan diusir secara memalukan oleh pemerintahan Mubarak. Beberapa mahasiswa Indonesia dipenjara, dipukuli hingga patah tulang karena ikut berdemo. Kemarin, sebagian di-sweeping, dituduh ikut menggerakkan demo menjungkalkan Mubarak. Lorong2 di perbatasan Rafah dimatikan dengan pelat baja, sampai warga Gaza, anak2 dan wanita, kelaparan sambil dihujani rudal Israel hingga mampus, setelah diblokade sejak tahun 2007. Penjara terbesar di dunia. Lebih 1600 warga Gaza tewas dalam perang 21 hari, Januari 2009 lalu. Kekejaman manusia macam apa ini ? Muslim makan muslim ? Dengan pemahaman lebih baik tentang Allah, dosa berlipat-lipat dikenakan pada pengkhianat Islam. Azab apa yang menimpa Mubarak nanti ? Wallahua’lam ).

Hati2 piramida dari kepala manusia. Asia’s time ?

AS tak sekuat dulu, mencengkeram presiden boneka dan negeri2 yang disetirnya, apakah karena isi pundinya sebagian sudah tersedot China, India, Rusia dan Brasil ? Negeri2 besar surplus ekonomi dewasa ini. Bahan bakar ( dana ) balatentara AS mengempis karena defisit anggaran ( pertumbuhan ekonominya kini mengandalkan permintaan domestik ). China tidak ( belum mau ) menyebut dirinya nomor satu dan menghindari pendoktrinan terhadap negara2 yang bekerjasama dengannya ( lebih simpatik, dibanding AS yang suka menggurui, dengar saja ocehan para peneliti asingnya ). Sampai saatnya tiba, kata petinggi negeri Tirai Bambu. Saya lihat iklan grup layanan finansial di teve,”This is our time”. This is Asia’s time. Peta kawasan Asia pun merona merah.

Setahu saya, setelah perang dengan zionis, ada satu perang lagi melawan Yajuz Majuz ( dulu kaum yang memporakporandakan Irak , sebelum AS. Jengis Khan memimpin tentara Mongol yang efesien dan sangat kejam untuk merebut dan menghancurkan wilayah yang sangat luas, dianggap seluruh dunia pada waktu itu ( 1259 – 1368 M ). Teror, satu-satunya alat unifikasi. Kebudayaan dihancurkan dan tak pernah bisa diperbaiki. Kubilai Khan, pemimpin ketiga setelah Jengis, mendirikan kemaharajaan berdasarkan asas rasial. Kalau Mesir membuat piramida dari batu, maka tentara Mongol membuatnya dari kepala orang yang dibunuh.

Di Tiongkok, orang Mongol punya kedudukan dan hak istimewa. Warga jajahan ( asli China ) dianggap hewan, yang ekor rambutnya bisa ditarik seenak udel. Petani diisap darahnya dengan pajak mencekik, kerja paksa dan milisi_ dari buku “Studi Budaya Dasar”- drs. MAW. Brouwer   ). Apakah saatnya itu adalah .. ( one thing for sure, we must be careful. Defisit perdagangan Indonesia dengan China terus membengkak, naik 1 miliar USD menjadi 5,6 miliar USD tahun 2010 ). First thing first. Siapa pun yang nanti terpilih memimpin Mesir, jangan tergiur menjadi pasien IMF.  Aset2 negara bisa terjual ke tangan asing. Harga diri tergadai lagi. ( mestinya kita punya lembaga alternatif yang Islami, sehingga negara2 sekarat masih bisa bermartabat. Berapa uang kita, ya ?

Ingin reformasi sukses ? Koruptor dilarang masuk.

Orang2 dari rezim lalu yang korup jangan sampai masuk pemerintahan reformasi. Dosa2 masa lalu akan menyandera pejabat sehingga tidak bisa berbuat tegas ketika hukum harus ditegakkan. Yang terjadi malah bahu membahu merekayasa kasus untuk menjerat pejabat yang bersih. Presiden, kepala kepolisian Mesir, Jaksa Agung, Hakim Agung ( ketua Mahkamah Agung ), ketua Mahkamah Konstitusi, ketua Dewan Perwakilan Rakyat ( parlemen ), ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ( wakil rakyat plus wakil provinsi, keduanya hasil pemilu legislatif, langsung dicontreng rakyat. Ala Indonesia lebih demokratis dari AS, tapi itu kami lakukan bertahap, sesuai perkembangan kedewasaan para pemilih kami  ), ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, hakim2 pengadilan Tindak Pidana Korupsi, ketua Komisi Yudisial ( menegakkan kehormatan hakim ), panglima militer, juga ketua Komisi Pemilihan Umum, haruslah orang yang berintegritas tinggi, berani tegas, cerdas, kapabel, komunikatif dan berkomitmen kuat pada kepentingan rakyat Mesir dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Negarawan sejati.

Semua ( perwakilan ) komponen bangsa, dilibatkan dalam dialog nasional merancang yang terbaik untuk masa depan Mesir ( syukur2 dunia Islam juga dipikirkan ). Siarkan di TV ( media elektronik, cetak ) sehingga rakyat Mesir bisa menyimak kesungguhan wakil mereka memperjuangkan nasib mereka dan bagaimana kesepakatan2 itu dibuat. Di kala banyak unsur terlibat dengan kebenaran masing2, jalan selamatnya adalah tiap pihak ( komponen2 bangsa ) menerima dan menghormati kesepakatan bersama ( konsensus ). Menjaganya penuh tanggung jawab. Konstitusi memang bukan kebenaran mutlak ( setiap masa diperbaiki sesuai tuntutan jaman ), melainkan kearifan bangsa yang ingin hidup harmonis satu sama lain. Kewajiban presiden untuk mematuhinya, juga segenap jajaran di bawahnya. Rakyat ( termasuk ormas ) juga harus konstitusional. Bergerak di luar sistem ( konstitusi : hukum, UU, peraturan2, norma, etika ) ada konsekuensinya. Selama hukum dijalankan dengan benar oleh aparatnya yang bersih berwibawa, tak ada salahnya menempuh jalur hukum. Dari presiden sampai pengemis, siapa saja, sama kedudukannya di hadapan hukum. Itu baru adil. Setuju ?

Pilih pembubaran atau ‘parlemen’ jalanan ? Ormas sehat, pilar masyarakat madani.

Partisipasi masyarakat yang tergabung dalam ormas ( organisasi massa ) harus diakomodasi. Kalau membahayakan komunitas lain, tinggal diserahkan ke pengadilan merujuk Undang-undang keormasan ( jika mediasi dengan tokoh/ lembaga/ departemen agama sudah gagal ). Contohnya Indonesia, meski hidup di sini lebih berat, subsidi sangat kurang dibanding Mesir, apalagi beasiswa, kami tak sampai menggulingkan presiden ( tahun ini ) karena kami masih bebas menjerit pada pemimpin yang kami pilih secara langsung ( pilpres ). Melakukan protes berat ( begitu panasnya hingga adu otot dengan polisi seusia kami, plus menjebol trotoar untuk adu timpuk batu hingga sama2 bocor kepala, yang pasti energi kemarahan telah tersalurkan ). Seru.

Yang terlalu provokatif dan membahayakan, saking marahnya, diamankan polisi beberapa waktu, ditanyai dan dipulangkan sorenya, setelah bubaran demo. Tak ada yang sampai patah tulang ( kalau sampai ada, eye for eye, deh. Benjut untuk benjut. Impas ). Sport jantung sedikit, tak apa2. Namanya juga democrazy.

Ketika parlemen tak mendengar, masih ada pers ( pilar demokrasi ke-4, setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif ) tempat kami curhat berbagi info kebobrokan pejabat untuk ditayangkan berulang di teve sampai si pejabat kapok, malu dan melakukan yang kami ( rakyat ) mau. Pokoknya, kami yang berkuasa di sini. Berdaulat di negeri kami ( sepenuhnya terus kami perjuangkan ). Pemerintah hanya menfasilitasi urusan kami ( wapres Boediono juga mengatakan begitu ketika menyambut sebagian teman kami yang dievakuasi dari Mesir ketika demo anti-Mubarak berlangsung. Ya, kan, Pak Boed ?

Sudah 2400 dari 6000 warga kami di Mesir yang dievakuasi. 600 orang kabarnya kader Partai Keadilan Sejahtera ( PKS ). Partai ini ( dikatakan ) cabang Ikhwanul Muslimin di Indonesia. PKS ada di kabinet SBY, parlemen dan pemerintahan di daerah. Bahkan tahun 2004-2009, ketua/ presiden PKS waktu itu, menjabat ketua MPR. PKS adalah partai yang mendapat suara ke-5 terbanyak dalam pemilu 2009 yang diikuti 72 % pemilih ( 171 juta pemilih terdaftar dari 235 juta penduduk Indonesia. Pemilu 2004 diikuti 84 % pemilih. Bandingkan dengan  Kanada, Inggris, Amerika yang  hanya 64 % ). Jadi, tak ada yang salah dengan partai Islam. Bahkan, mantan ketua PKS yang menjadi menteri komunikasi dan informasi sekarang, lebih banyak lucunya daripada serem-nya. Pandai berpantun. We’re just fine.

Blogger Indonesia penyeimbang pers & pemerintah. Terbebas di dunia, bertanggung jawab.

Pers, jurnalis dan pewarta warga ( blogger seperti saya ) diberi kebebasan bertanggung jawab. Ormas sehat ( termasuk LSM ), supremasi hukum, komnas HAM dan pers bertanggung jawab adalah pilar masyarakat madani. Partisipasi aktif masyarakat terus didorong. Ormas berfungsi mengedukasi, mengayomi masyarakat dan sarana mengemukakan pendapat sewajarnya. Blogger dan para pengamat mengemukakan pendapat, analisis, mengawasi dan mengkritisi kekurangan pemerintah. Bersikap oposisi, memberitahu kekurangan eksekutif pada masyarakat, juga memberi solusinya. Dibilang, pers Indonesia paling bebas di dunia. Dari yang dibungkam lebih 32 tahun, kemudian menjadi sangat bebas ( tak ada SIUP dan pembreidelan lagi, diganti UU Pers, UU Informasi dan Transaksi Elektronik, UU Antipornografi ) menciptakan keterkejutan sendiri.

Kegaduhan yang berujung demo dan tuntutan pengadilan akibat pelanggaran privasi, pencemaran nama baik, banjir informasi dalam dan luar negeri, publik dan privat, kevulgaran pemberitaan ( dramatisasi korban kecelakaan, pembunuhan, jasad tak utuh berdarah-darah diperlihatkan ), dst. Untung ada Komisi Penyiaran Indonesia, Dewan Pers, para blogger, facebooker, tweeps yang gencar melancarkan kritik membangun, sehingga pers hari ini lebih dewasa dari pers kemarin. Kami saling mengawasi satu sama lain, karena sekarang cerewet ( kritik ) tidak dilarang. Lebih banyak lubang kesalahan bisa kami hindari.

Kesabaran menjalani ujian reformasi. Kuatkan staminamu, kawan ..

Ingat kurang ajarnya kita ( reformis ) mejeng di atap gedung MPR/ DPR ? Mei 1998 ( foto : persatuan.web )

Ingat duel seru kita dengan polisi ? Mei 1998. Oh, those days .. ( foto : pdfi )

Yang sempat kami sesali sejak reformasi bergulir, yaitu masih adanya orang2  ( mindset ) dari rezim korup  di pemerintahan. Sehingga meski sudah 13 tahun berlalu sejak demonstrasi 1998  menggulingkan presiden Soeharto, kami masih berkutat mengurai benang kusut mega korupsi yang menyengsarakan banyak orang. Kami juga menyesal, sebagian aset negara terjual untuk membayar hutang pada IMF ( yang didominasi pengusaha AS ). Butuh kesabaran untuk melalui ini semua, menuju negara yang kami cita-citakan. Semoga kalian, warga Mesir, juga memiliki kesabaran ini.

Sabar jika presiden dihentikan di tengah jalan ( Indonesia 1998 – 2011 dilalui oleh 4 presiden, termasuk pemerintahan Habibie yang berumur 1,5 tahun. Megawati dan Abdurahman Wahid yang berbagi/ gantian memimpin dalam 5 tahun masa pemerintahan ). Sabar ketika presiden pilihan sebagian besar dari kalian ternyata belum sanggup memenuhi semua ekspektasi besar kalian. Sore kemarin ( 14/2/2011 ), saya lihat di teve, sebagian demonstran masih bertahan di Midan Tahrir untuk memastikan tuntutan mereka dipenuhi. Dewan kepresidenan masih belum dibubarkan. UU Darurat Militer belum dicabut. Bersabarlah mengawasi pemerintah, mengawal reformasi yang baru kalian lahirkan, untuk mewujudkan cita2 reformasi dan visi negeri kalian yang baru. The new you.

Passion-nya demonstran kita. Presiden terguling, satu tewas, kuping lepas.

Ingat mandi shower kita dengan water canon polisi ? Mei 1998. Siapa menduga, 13 tahun sesudahnya, kita bisa duduk satu sofa dengan 'lawan' kita, membicarakan peristiwa itu dengan santai ? ( namun tetap kritis ). Ya, waktu berlalu. Rekonsiliasi nasional, mendewasakan kita. Semoga Mesir bisa demikian. ( foto : mahapatihaul )

Seorang pengamat militer berkata, demonstrasi di Indonesia memang aneh. Passion-nya tinggi. Demo 1966 yang segitu masif-nya, cuma satu yang tewas. ( kita memang suka hebohnya sampai pemerintah mendengar, bukan tewasnya, pak ). Lihat Mesir, lebih 300 tewas. Setelah itu berjalan biasa. Di kita pasti sudah ribut menuntut keadilan ( iyalah, kalau dibiarkan bisa ketagihan represif lagi. Repot ). Menariknya, presiden Soeharto tak mengulur-ulur ketika mundur. Malam ditelpon ( AS ? ), paginya sudah menyatakan diri berhenti. Bandingkan Mubarak yang mengulur sampai seminggu baru mundur ( setelah didesak/ ditinggalkan militer ), itupun disampaikan Umar Sulaiman.

Tentara kita juga tidak ragu2 mendukung demonstran ( ya, sudah memenuhi kuota 100.000 itu kan ? ). Di Mesir meski sudah sejuta facebooker berdemo, tentara Mesir yang semula menjaga mendadak lenyap begitu Mubarak menyatakan takkan mencalonkan diri lagi di pemilu September 2011. Lalu, terjadilah tawuran itu ( dengan massa pro-Mubarak ) pada malam harinya. Ya, militer kita beda dengan militer Mesir. Tentara kita ( TNI/ dulu ABRI ) waktu itu masih bersuara di Senayan ( kompleks parlemen ), bukan tentara di lapangan thok. Jadi cepat menangkap jika terjadi kisruh politik. ( baru tahun 2004, TNI kembali ke barak, full profesional, tak lagi berbisnis, kita yang nyari untuk menggaji mereka ). TNI tak disuplai dana oleh AS seperti tentara Mesir. Tiap tahun 1,3 milyar USD digelontorkan AS untuk militer Mesir ( tentara AS cabang Mesir, seloroh pengamat ). Apalagi persenjataan TNI sedang diembargo AS. Betul2 tak ada alasan untuk ragu mendukung rakyat. Pokoknya, reformasi yess !

Detik menentukan. Pemimpin menyingkirkan egonya. We did it !

"Maka untuk menyelamatkan negara dan bangsa, pembangunan nasional, Pancasila, dan UUD 1945, serta persatuan dan kesatuan bangsa, saya mengambil keputusan .. berhenti," pidato presiden Soeharto, 21 Mei 1998, di Istana Negara, Jakarta. Air matanya menetes. Serepresif apapun pemimpin Indonesia, ia tak tega menghantamkan rakyat dengan militer atau massa pendukungnya. How lucky we are . So, thank you .. ( foto : wikipedia )

Apakah semulus itu ? Tidak juga. Ada massa pro-Soeharto yang merangsek masuk, sampai demonstran anti-Soeharto dipaksa keluar Senayan oleh militer. Gantian demo. Ada yang sampai kupingnya copot diseret keluar Senayan. Berdarah-darah, saking gawatnya situasi. Banyak toko dibakar. Chaos. Demo sudah dipersiapkan 2 bulan sebelum 21 Mei 1998 ( pidato pengunduran Soeharto ). Jenderal Wiranto, pangab waktu itu, menerima instruksi presiden ( Inpres ) untuk mengambil tindakan pengamanan jika situasi tak terkendali ( menurut Wiranto, Inpres itu mirip Supersemar yang jika mau dapat digunakan untuk mengambil alih kekuasaan_ dari buku “Habibie, Prabowo dan Wiranto bersaksi”- Tim Kick Andy, 2006 ).

Untung, Wiranto cukup bijak. Habibie ( wapres yang diangkat presiden, menggantikan Soeharto ) juga cukup bertahan. Presiden Soekarno, Soeharto dan Abdurrahman Wahid yang dihentikan di tengah jalan tak tega menghantamkan kita dengan militer, atau pun massa pendukung mereka. Kecintaan pucuk2 pimpinan kita terhadap negara dan bangsa ini ternyata masih cukup besar, sehingga mereka memilih mundur, menyingkirkan egonya. Kita pun selamat ( tak sampai terjerembab dalam perang saudara, kehabisan darah dan semangat ), menjadi kita hari ini. Pelajaran berharga untuk generasi pemimpin mendatang. Kami haturkan terima kasih tak terhingga pada para Bapak Bangsa.

Belum lekang pemandangan mengharukan di layar kaca, sorak sorai rakyat Mesir merayakan kemenangan revolusi mereka, muncul ancaman dari ormas yang dituding anarkis di tanah air,”Kalau kami dibubarkan, Indonesia akan kita Mesirkan !”. Oh, not again.

Ahmadiyah dipiara, ormas pun anarkis ? Mana yang dibubarkan ?

Membubarkan ormas anarkis harus dengan perintah pengadilan (  UU no 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan ( ormas ). Tak bisa begitu saja, ujar Yesmil Anwar, kriminolog dan dosen hukum Unpad. Dari 100.000 ormas di Indonesia, hanya 10 % yang tercatat. Ormas anarkis bisa merusak mental anak bangsa, kata yang pro-pembubaran. Yang lain bilang, ada elit politik yang memelihara ormas anarkis untuk mencapai keinginannya. Kalau mau negeri ini konflik terus, ya piara terus ormas2 itu ( termasuk Ahmadiyah, dengan 3 korban tewas di Cikeusik ). Ada pihak asing ( 6 negara ) yang meminta pemerintah jangan membubarkan Ahmadiyah, kata seorang tokoh masyarakat. Masa sekte Lia Eden, pemerintah bisa tegas, membubarkan mereka dan menghukum pemimpinnya. Kenapa sekarang, Ahmadiyah seperti dibiarkan, meresahkan masyarakat ? ( Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung, pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama, yang memerintahkan kepada penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam_ dari Wikipedia.org )

Alasan mereka ( juga simpatisannya ) Ahmadiyah sudah ada di Indonesia sejak belum merdeka. Kalau begitu sekte2 terlarang sebelum proklamasi pun bisa menuntut dibiarkan. Apa gunanya konstitusi, kalau begitu. Islam yang disepakati mayoritas penduduk negeri ini, Islam yang meyakini Muhammad Saw sebagai nabi penutup. Fatwa MUI ( Majelis Ulama Indonesia ) juga sudah menetapkan Ahmadiyah sesat. Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), pendiri Ahmadiyah di India, mengaku sebagai Mujaddid, al Masih dan al Mahdi. Bisa bentrok lagi nih kita, kalau faham2 menyimpang dari asasinya Islam ini terus dibiarkan. Tegaslah ( dalam koridor hukum ). Abu Bakar Ba’asyir ketika digiring petugas keluar dari pengadilan Jakarta Selatan, sempat menjawab pertanyaan wartawan,”Ahmadiyah dibubarkan saja, atau dijadikan sekte tersendiri ( tidak menggunakan nama dan atribut Islam ). Ahmadiyah ( dikendalikan ) dari Inggris”. ( negara yang ikut menginvasi Irak dan Afganistan ). Setelah segmen Islam di atas dipangkas, yang di bawah diadu domba, apakah akan membabat pula yang di tengah ? No way, man.

Isu miskin gagal, SARA pun dilempar. Indonesia & Mesir dalam paranoia Barat.

Anarki itu bertindak di luar sistem, juga AD/ART ormas. Isu kemiskinan kurang laku di Indonesia, kata Indra Perwira, pengamat politik dari Unpad. Di Eropa dan Amerika, orang menganggur bisa langsung terkapar di jalanan ( 100.000  tentara AS veteran perang Irak menjadi tunawisma, karena trauma mental, tanpa keahlian di luar perang_ dari VOA news ). Di Indonesia, pengangguran masih bisa survive karena ada saudara dan rumah zakat yang membantunya. Sehingga pihak2 yang ingin membonsai Indonesia, melempar isu yang lebih sensitif. SARA. Suku, agama, ras, antar golongan.

Penyerangan ( 6 Februari 2011 ) itu terlihat terorganisir, menggunakan pita hijau, biru dan tak berpita ( 3 kelompok dari luar Cikeusik_penyelidikan Komnas HAM/ Tempo Interaktif. Polisi hanya diturunkan satu regu damas, padahal rencana serangan itu ( diduga ) sudah diketahui 2 hari sebelumnya. Biasanya, baru 100 orang kumpul di depan kantor komnas HAM, polisi sudah preventif menanyai mau apa, melarang membawa senjata. Kenapa di Cikeusik, para penyerang sebanyak itu bisa membawa golok, parang, tombak, pisau dan bambu tajam ? Sengaja dibiarkan ? Bahkan, ada saksi mata ( anggota Ahmadiyah, yang bersama 17 rekannya ke rumah Suparman, senior mereka ) yang sempat merekamnya dalam video ( dan meng-upload ke Youtube ). Apa-apaan ini ? Mencoreng muka sendiri ? ( atau by design, Indonesia didiskreditkan lagi ? ). Muslim Indonesia relatif santun. Damai. Sejarah penyebaran Islam dan pergerakan kemerdekaan banyak dikontribusi pejuang ( juga ormas ) muslim dengan cara2 bermartabat. Camkan sejarah.

Komnas HAM jangan lihat korban saja. Look at the whole picture. ( grand scenario Barat )

Anggota Komnas HAM melaporkan, sudah banyak kejadian penyerangan terhadap anggota Ahmadiyah yang dibiarkan tanpa tindak lanjut. Sejumlah warga yang ditahan dilepas kembali. Tinggal 3. Bukan karena desakan warga, kilah polisi. Anis Matta, wakil ketua DPR dari PKS, mengatakan, lihat secara keseluruhan. Kenapa terjadi penyerangan itu ?

Anggota Ahmadiyah relatif berpunya ( dari mana sumber dananya ? ). Kurang bersosialisasi. Mencari lokasi terpencil, jarang berdialog dengan muslim pada umumnya ( tidak mengakui Mirza ). Bagaimana kita menghadapi penganut yang menganggap Mirza ? Apa digenosida saja ? Jika masalah keyakinan, 1000 leher mereka diputus atau kepala mereka dibenturkan ke tembok hingga pecah, takkan membuat mereka ikut kita ( masuk Islam yang kaffah ), kata seorang kyai.

Orang dari NU ( Nahdlatul Ulama, ormas Islam terbesar di Indonesia dengan lebih 40 juta pengikutnya ) menyarankan, agar anggota Ahmadiyah dirangkul, didengarkan keyakinannya, lalu diberi pengertian, pemahaman yang benar tentang Islam. Kalau tidak bisa semua, ya sedapatnya, berapa orang, sedikit demi sedikit, bertahap. Kalau perlu  diadakan audensi, dialog, debat ilmiah, mimbar akademis untuk mengupas klaim Ahmadiyah tentang nabi. MUI dan departemen agama bisa membina melalui kecamatan dan kelurahan secara rutin terhadap penganut Ahmadiyah. ( menurut ketua Front Umat Islam ( FUI ) Bandung, KH Saiful Abdullah, pembinaan seperti itu belum serius dilakukan ).

SKB 3 Menteri dan UU beragama. We are today.

There we were, Desember 2010. 12 tahun setelah reformasi 98. Menggelorakan kembali semangat nasionalisme. Kemana lagi kita, 12 tahun mendatang ? ( foto: planet )

Ada anggota Komnas HAM yang menyarankan agar Surat Keputusan Bersama ( SKB ) 3 menteri ditinjau ulang, dikaji, hingga ke tingkat UU. Semua ormas dan komponen terkait diikutsertakan dalam penggodokannya. Dalam kehidupan bernegara, katanya, hanya UU yang boleh menjustifikasi seorang beragama dengan benar. Atau salah, sehingga harus dibubarkan. Hayo, siapa yang mau bubar ?

Begitulah kami, masih bergelut dengan konflik, riak2 hidup bernegara, menjalani kesepakatan demi kesepakatan. 13 tahun telah berlalu sejak reformasi digulirkan. Namun demikian, kami, juga kalian, rakyat Mesir, masih beruntung. Hidup. Mengingat apa yang bisa dilakukan tentara, seperti di lapangan Tiananmen, 1989. ( China memblokir berita terkait Mesir dan Tunisia belakangan ini ).

Rasa terbebaskan sebagai bangsa yang merdeka. Otonom. Powerful, setelah menggelorakan semangat nasional, kalian telah mengalaminya juga. 11 Februari 2011.  Feel good, right ? Itu modal utama membangun negara. Hidupkan terus di dada kalian,  sampai cita2 kalian terwujud. Bermartabat di dunia Arab. Bermartabat di hadapan Allah Swt. ( Kami sempat bernostalgia waktu perhelatan sepakbola, AFF 2010 kemarin. Bendera merah putih berkibar, garuda tersemat di dada kami, tribun penonton memerah oleh kaos kebanggaan kami  ). Selamat atas revolusi Mesir. Semoga transisinya berjalan damai. Allah bless you.

Iklan

Written by Savitri

15 Februari 2011 pada 19:31

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s