Great People & City

Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Jaringan global terorisme, Ahmadiyah, pemurtadan, Kristenisasi : mayoritas Indonesia 2020 ? Get real ( or is it real ? )

with 5 comments

TNI diperbantukan menangani teroris ? Selama ini, Densus 88 Mabes Polri yang berada di TKP. Tapi 'dinosaurus' terorisme terus beranak pinak di Indonesia. Apa daya, penjaga NKRI pun dikerahkan. Setuju. Di luar negeri juga begitu. Kalau yang meneror adalah muslim gadungan dan pemeluk non muslim pada penganut agama mayoritas di negeri ini ( Islam ), bagaimana, pak ? Rapatkan barisan. Giliran ormas Islam dan kaum intelektual turun tangan menghalau pemikiran asing yang ingin memecah belah bangsa Indonesia. Siap ? ( foto : hizbut-tahrir.or.id )

Terorisme. Seperti lagu lama yang diputar pada situasi tertentu. Timbul tenggelam. Why ?

Apakah Indonesia biangnya teror ? Sampai warganya yang mayoritas muslim pun  ( 85,1 %,  dituduh ) melanggar HAM, karena melakukan ( dan membiarkan ) kekerasan pada ‘muslim’ lainnya terjadi.

Begitu gilanya kita, sampai ‘jeruk makan jeruk’ ( di benak penggagas teror sejati, seraya terkekeh di belakang ). Sampai sebagian orang ( bahkan setingkat anggota dewan, pengamat HAM, dll ) percaya, memang kita kurang toleran. Operasi Sajadah dengan enteng diplintir menjadi Operasi Haram Jadah ( dapat sensasinya, bung ? sebagian anggota dewan tampaknya masih dalam taraf belajar bunyi, belum terpikir dampak bebunyian yang ditimbulkan, apalagi memperjuangkan kesejahteraan rakyat  ). 2 gubernur ( Jabar, Jatim ), kata ‘capres’, mesti dipanggil presiden untuk mempertanggungjawabkan ‘perbuatannya’ ( mengeluarkan Pergub dan SKG pelarangan aktivitas Ahmadiyah ). Siapa keblinger ?

Nyengirnya Ahmadiyah, terkekehnya dalang, bikin gemas ?

Mengapa penoda agama ( dan simpatisannya)  bisa bicara seangkuh itu di forum JLC ?  Kalau tahu begini kejadiannya, celetuk si jubir kecewa, … (  mereka tak datang, seperti saat diundang diskusi yang digelar bersama Kementerian Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung, Mabes Polri, pada 29 Maret 2011 di Kementerian Agama, Jakarta. Juga, tak datang ketika diundang sholat Jum’at oleh gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Alasan mereka, tak seiman dan seimam ). Apa mereka tak bersyukur ? Masih diundang semeja dengan penganut agama yang mereka nodai  ( ketika mestinya sudah mendekam di penjara 5 tahun sesuai UU Anti Penodaan Agama ). Ahmadiyah di Pakistan diperlakukan sebagai sekte minoritas di luar Islam. Di Malaysia dan di mana2 ( negara mayoritas muslim ), Ahmadiyah sudah dilarang. Lihat wajah si jubir ketika diminta mengucapkan syahadat. Lihat juga ketika ditanya siapa nabi terakhir ? Nyengir.

( dalam hati Mirza ? ). Ketika kepepet soal justifikasi Ahmadiyah, mereka ngeles ( dibantu sebagian penggiat HAM yang bisa mereka manipulasi ) : tapi bukan berarti 40 kasus kekerasan pada Ahmadiyah dibiarkan menggantung, tak terhukum, kata mereka ( cek website mereka, betapa mereka mengiba atas ‘kebrutalan’ yang dilakukan ‘muslim’ Indonesia. Apa mereka sengaja memancing amuk warga, mengoleksinya, untuk ditayangkan ke seluruh dunia ? Mereka makan dan hidup dari bumi Indonesia, tapi mereka juga menodainya. Warga negara macam apa pula ini ?  ).

Mana korban lebih banyak ? Ahmadiyah atau umat Islam ?

Hello ? Anybody ? Berapa muslim yang sudah mereka murtadkan ? 50.000 orang ? ( anggota Ahmadiyah yang dulu muslim ). Hei, nak, ada nabi setelah Muhammad, lho. Hei, tetangga, ada kitab setelah Al-Qur’an, lho. Dst. Anda tahu kerugian seorang yang murtad ? ( neraka, bahkan seluruh kekayaan di bumi, dan ribuan kali lipatnya tak bisa menebusnya ). 305 orang ( pengurus cabang  ) yang seharusnya dipenjara, adakah para penyokong HAM dan supremasi hukum pernah mempermasalahkan ? Ketika terjadi kekerasan pada anggotanya, kontan penganut Ahmadiyah menuduh pergub biang keladinya. Ketika bonek melakukan kekerasan, geng liar menyabet tewas orang yang bukan anggota mereka, atau demonstran merusak fasilitas umum, apakah penganut Ahmadiyah menuding pergub biang keroknya ?  ( tidak ). Oo, mereka pun ternyata diskriminatif.

Kita yang mainstream ( muslim yang meyakini Muhammad Saw, nabi terakhir ) bisa tak terlindungi. How come ? ( do you believe this ?!  happened in our country ? ). Bagaimana sikap kita ( seharusnya ) terhadap ‘bom waktu’ bernama Ahmadiyah ini ?

Kongres AS ikut sibuk ? Kristen Katholik- Protestan serukun  Islam Sunni – Syiah ?

Isi kitab Tazkirah ( halaman 16 ) mengajak orang ( anggota Ahmadiyah berbuat ) kriminal ( pada siapa saja yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi ), dan loyal terhadap jaringan internasional. Perlu penjelasan apa lagi, penggiat HAM ? ( foto : suara-Islam ).

Ribuan anggota Front Umat Islam ( FUI ) mendatangi kedubes Amerika di Jakarta, Jumat ( 1/4/2011 ) kemarin. Mereka meminta AS jangan ikut campur urusan pembubaran Ahmadiyah, apalagi meminta pencabutan UU Anti Penodaan Agama. Seorang tokoh Islam  meminta umat Kristen jangan mencampuri urusan umat Islam. Kristen Khatolik dan Kristen Protestan bisa hidup rukun di Amerika dan Indonesia karena secara aqidah sama. Seperti juga Islam Sunni dan Islam Syiah bisa rukun di Indonesia dan Iran. Tapi, Ahmadiyah sudah menyalahi aqidah. Allah Swt, Al-Qur’an & Sunnah, Nabi Muhammad Saw, rukun iman ( keyakinan pada Allah Swt, malaikat-Nya, rasul-Nya, kitab-Nya, takdir-Nya, hari akhirat ) dan rukun Islam ( kewajiban syahadat, sholat, puasa, zakat, haji ) dalam Islam dilarang diutak-atik. Harga mati.

Isi kitab Tazkirah ( halaman 16 ) yang mengajak orang ( berbuat ) kriminal ( pada siapa saja yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi ), dan loyal terhadap jaringan internasional, ternyata membuat terkaget-kaget Ahmad Basho, anggota Komnas HAM. Loyalitas dan sanjungan terhadap pemerintahan Inggris ada di halaman 130 dan 373 kitab “Ruhani Khazain”, karangan MGA. Pengakuan sebagai pelayan setia Inggris ada di Juz 15 halaman 155 dan 156.”Jika memang betul dan diajarkan, atau sebagai pedoman, maka itu kriminal berat,” kata Ahmad. Oh,  akhirnya ( muncul pembelaan dari kubu HAM ).

HAM ala Indonesia, tidak dalam ruang hampa.

KH. Hasyim Muzadi, mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU ), meminta Komnas HAM dan penggiat HAM membuat HAM ala Indonesia. HAM tidak berdiri di ruang hampa. Tapi dalam bingkai etika, agama, hukum dan ideologi negara ( Pancasila ).   HAM untuk Indonesia seperti apa ?  Jangan mematok definisi atau mengikuti aturan Barat yang jelas2 sekuler ( tak terlalu peduli kemurnian agama, membiarkan yang tak beragama ). Indonesia bukan negara sekuler. Bukan pula negara agama. Indonesia adalah negara bangsa, tandasnya. HAM Ahmadiyah jangan mengganggu ‘HAM’ umat Islam di Indonesia.

(  seperti suasana di kost, flat, penginapan atau rumah. Ada etika tak tertulis : dilarang menyetel musik keras2 atau mengadakan pesta hingar-bingar yang membudekkan kuping tetangga. Itu sebabnya ada izin keramaian dari kepolisian yang membatasi waktu dan tempatnya. Dibatasi usaha komersial ( bising ) di kawasan hunian ( tenang ). Setiap orang berhak mendapat ketenangan untuk produktivitasnya. Pengalaman saya, dengan ‘mengajarkan’ empati :  bagaimana rasanya dibudekkan orang lain ? Bagaimana rasanya ngobrol apalagi memanggil-manggil orang  ( menunjukkan eksistensi ? ) sampai tak kedengaran suara sendiri ? Begitu juga kegeraman mereka yang membaca dan istirahat yang mendengar suara cekikikan ngakak ( kian lama kian keras, menulari yang lain )  hingga lewat tengah malam.

Apa tak ada hal lebih positif dan produktif yang bisa mereka kerjakan selain ngebet paling menonjol ? Menonjollah dengan prestasi terukur yang diakui masyarakat. Hidup ke depan makin berbatu dan bersaing. Anda dipastikan tak sempat leha2 tak jelas juntrung-nya, meninggikan diri dengan merendahkan orang lain, atau anda akan tergilas jaman. Ngoceh sedemonstratif itu hanya menghasilkan kebisingan bagi penghuni2 lain ( semoga si suami lebih menghargai istri, sehingga si istri tak perlu ‘berkicau’ untuk memancing penghargaan darinya. Cinta dan penghargaan adalah resep relasi pasutri. Pujilah dengan tulus, sekecil apapun satu pencapaian pasangan, setiap hari ).

Sekarang, era pasar bebas ( dengan ASEAN, China, India, Korsel, dst ). Warga asing dengan sejibun talentanya masuk pasar kerja Indonesia. Harga2 barang kebutuhan kian melambung, sehingga makin sedikit keluarga2 yang mampu mencukupi hidup dari penghasilan suami saja. Pelajari ketrampilan dan isilah kepala dengan pengetahuan berharga.  Apa selama bertahun-tahun mereka tak tahu etika hidup di kost? Kost ini bukan milik mbah-mu. Semua orang bayar di sini, bukan gratisan. Jika tak ingin diganggu, jangan mengganggu orang lain. Pikirkan orang di luar anda ketika anda menikmati kebebasan anda. Pikirkan kebebasan orang lain juga. Hak orang lain. Kebebasan anda dibatasi kebebasan orang lain. Kebebasan bertanggungjawab. Golden rule ).

Agama mayoritas diacak-acak lalu diabaikan. Poor us.

Apa muslim di sekitar jemaat Ahmadiyah tidak ketar-ketir melihat agama yang dianut bak nafas kehidupan ( setiap tarikan nafas mengingat Allah ), dipreteli sedikit demi sedikit ?  Hanya bisa menonton, karena pemerintah seolah membiarkan ( agama, moneter, hukum : kewenangan pemerintah pusat ). Hopeless. Poor us. Tahu2 kita dihadapkan pertengkaran dengan anggota keluarga yang kini berbeda prinsip, setelah salah satu terpengaruh.

Di Aceh, pasca konflik dan tsunami, donatur rehabilitasi dan rekonstruksi pembangunan leluasa masuk. Demikian pula berbagai ajaran sesat. Dipermudah dengan orang tua yang kurang mengajari agama pada anak. Apalagi orang dewasanya kurang iman, sehingga mudah menerima hal baru yang tak jelas asal usulnya. Penyebaran secara sembunyi2 saja sudah tidak lazim. Patut curiga sesat.

(  saya bergaul dengan pemeluk Katolik di SD dan universitas. Namun, masa2 sekarang ( mungkin setelah ledakan bom pertama tahun 2000 ), saya merasakan  jarak melebar dengan sebagian mereka. Ketika saya mengucap Bismillah untuk memulai kegiatan, beberapa diantara pemeluk Kristen seperti langsung memasang kode tertentu pada temannya untuk membatasi percakapan. Tak lagi guyub, atau ceria seperti sebelumnya. Seingat saya waktu SMA, ada ceramah agama Islam yang pendengarnya menggunakan kode tertentu bila membahas isu tertentu. Intuisi saya menangkap gerakan2 halus itu. Terjadi bisik2 kesal dari beberapa non muslim ketika tiba2 seorang masuk ruangan menyanyikan lagu2 Islami. Suasana beragama kita saat ini memang sedang panas dingin. Maklum.

Di Dago CFD, DDOI ikut ‘kambing mengembik’ saja.

Seorang ibu teman kecil saya ( non muslim  ) mengatakan, hati2 ngomong dengan orang Islam, kalau Indonesia jadi negara Islam, kita semua disembelih seperti putra Ibrahim. Wah, ini jelas paranoid. Islam agama yang manusiawi. Percaya, deh. Orang2 sirik sering mendiskreditkan Islam. Jangan termakan fitnah. Anda mesti mendengar kisahnya secara utuh. Begitu sayangnya Allah pada Nabi Ibrahim, sampai  bapaknya agama2  samawi ( Yahudi, Kristen, Islam) ini dapat hewan kurban gratis, menggantikan putranya yang tetap hidup dan makin bersyukur. Ibrahim as sudah diselamatkan-Nya dari hukuman api membakar. Allah ingin menguji, sebesar apa keyakinan Ibrahim as pada Allah yang senantiasa menolongnya. Subhanallah.

Pagi ( 1/4/2011 ) komunitas “Dog’s Day Out – Indonesia” ( DDOI ) di radio Trijaya, membicarakan insiden ‘anjing rabies’ di kawasan Dago Car Free Day ( DCFD ), tempo hari. Kenapa korban gigitan anjing tidak dibawa ke Rumah Sakit Borromeus, yang lebih dekat, atau RS.Hasan Sadikin yang punya vaksin anti rabies ? Itu sih akal-akalan orang untuk mengenyahkan anjing dari DCFD, kata mereka. Apa anggota komunitas DDOI tidak tahu, kami yang muslim harus membilas bekas sentuhan anjing hingga 7 kali dengan tanah dan air, apalagi  akan ibadah ( sholat ). Seperti babi, anjing pun hewan najis ( berat ) bagi kami. Kecuali untuk berburu atau mengendus narkoba ( kepolisian ), anjing dilarang berada dalam rumah ( dekat kami ). Mohon kebebasan kalian membawa anjing ( apalagi tambah banyak ) tidak sampai menganggu kebebasan kami menghirup udara segar, bersepeda atau berjalan kaki. Di Bali, hampir setiap rumah memelihara anjing. Kalian lebih leluasa di wilayah mayoritas non muslim. Di kandang kambing mengembik, di kandang anjing menggonggong, kata peribahasa.  Saya tak berkata, anjing kalian kalah penting dibanding kami ( saya juga tak protes ketika anjing papasan dengan saya di Bali, kok ). Tapi, ikutilah etika di mana mayoritas berada. That will be wise. Ok ?

Islam Liberal rapuh. Berjuang keras masuk neraka.

HAM, sebetulnya, secara konseptual sangat rapuh, kata Akmal, M.Pd.I ( http://akmal.multiply.com ). Mereka ( penggiat Islam Liberal ) sengaja menggunakan kosa kata yang tidak kita kenal, karena referensinya dari Barat. HAM produk Barat. Isu2 seperti kebebasan, HAM, kesetaraan gender, persamaan, adalah sebagian diantaranya. Muslim yang tidak punya bekal agama cukup, akan sulit memahami mengapa Islam tidak menganut konsep HAM. Hak aborsi ( bukan demi menyelamatkan nyawa ibu  ), hubungan seks diluar nikah, homoseksual dan semacamnya, jelas tidak sejalan dengan Islam. Islam sebetulnya sudah moderat. Jika dimoderat-moderatkan, bukan Islam lagi namanya. Islam artinya tunduk ( taat ) pada aturan Allah, bukan membuat standar sendiri dan menyebutnya moderat, tradisional atau fundamental. Standar Allah itulah yang kita pakai. Jangan malas belajar, terus gali ilmu sedalam-dalamnya. Musuh2 Islam berjuang keras masuk neraka, masak kita santai2 berharap masuk surga ?

Sepertinya, di antara pemeluk agama, ada yang lebih menggebu dibanding lainnya. Ditemukan praktek pendangkalan aqidah atau kristenisasi di Aceh Barat dan aliran Millah Abraham di Bireuen. Juga, di Peurelak, Aceh Timur, Aceh Barat, Bener Meriah dan Banda Aceh. Juga di kampus IAIN Ar-Raniry dan Unsyiah serta perguruan2 tinggi lain  ( dari “Sabili”, edisi 16 th XVIII ). Misi Kristen sudah tidak lagi bagi2 mi instan, tapi berupaya menggoyahkan aqidah dengan cara memisahkan muslim dari Islam, kata Dewi Purnamawati, mantan aktivis gereja. Mengadopsi ajaran Samuel Zwemer dalam Konferensi Missionaris 1935. Menghancurkan kaum muslim dengan membuatnya tak berakhlak. Seorang muslim mereka buat bangga dengan pola hidup Nasrani dan cara pandang mereka. Deislamisasi. Dengan cara persuasif maupun brutal. Garam Dunia dan Terang Dunia Amanat Agung. Agenda tahun 2020 adalah transformasi dana penuaian jiwa :  Indonesia, mayoritas Kristen. Gerakan Global Gereja ( 3G ) tahun 2005-2020. Gerakan yang mempersatukan langkah mayoritas berbagai aliran kekristenan, komitmen antar umat kristiani, sampai tingkat global  (  lalu kita ingat, penggiat JIL mengincar kursi menteri, berharap batu loncatan ke RI-1 ? )

Putera : meninggikan diri dengan merendahkan agama lain. Bagaimana rembulan ?

Ada buku agama yang misinya meneguhkan iman pada Yesus, tapi isinya mencaci maki agama lain. Apakah iman pada Yesus dibangun di atas permusuhan dengan agama lain ? Allah, Nabi Muhammad Saw, al-Qur’an dan ritual peribadatan umat Islam dihina ( seperti di buku “Sang Putera & Sang Rembulan : Kristen dan Islam”- Heru Wibowo ). Harap tahu saja, secara teknis, keaslian al-Qur’an terjaga oleh banyaknya intelektual penghafal al-Qur’an sejak jaman Nabi Muhammad hingga sekarang ( jutaan umat Islam penghafal al-Qur’an, diluar kepala, tanpa kesalahan pada satu titik pun ). Tidak hanya dari tulisan dan manuskrip saja.

Umat Islam tidak sama dengan ahli kitab ( Yahudi dan Nasrani ) yang tidak menghafal kitab suci mereka. Bahkan, seandainya seluruh mushaf  ditiadakan, maka al-Qur’an tetap tersimpan di hati kaum muslimin. Al-Qur’an ditulis puluhan juru tulis di bawah pengawasan langsung Rasulullah. Saat wahyu turun, beliau memanggil para penulis untuk mencatat ayat tersebut dan meminta mereka membaca ulang yang dituliskan. Jika ada kesalahan, beliau langsung membetulkan. Setelah selesai, baru boleh disebarkan. Sedangkan Bibel baru ditulis setelah puluhan atau ratusan tahun nabi pembawa wahyu wafat. Kitab Perjanjian Lama disusun antara tahun 1.400 – 400 SM. Kitab Perjanjian Baru antara 50-100 Masehi.

Ketidakhadiran para nabi dalam proses penulisan Bibel dan Alkitab ( baik Perjanjian Lama maupun Baru ) berpeluang terjadinya pemalsuan ( tahrif ) terhadap kitab suci tsb. Al-Qur’an dihafal oleh para sahabat yang langsung belajar pada Nabi Muhammad, sedang Bibel sama sekali tidak dihafal oleh orang2 yang mengimaninya. Ketiadaan penghafal Bibel dan Alkitab, tentu saja memperbesar peluang distorsi dan pemalsuan ayat. Proses pembukuan al-Qur’an dilakukan dengan cara menyalin ayat2 yang mengacu tulisan dan hafalan yang dihafal langsung di hadapan Rasulullah semasa hidupnya. Sedang, Bibel dan Alkitab mengacu tulisan manuskrip dalam bentuk papirus, scroll, dll, yang sebagian tak diketahui penulisnya, sebagian rusak dan tak terbaca.

Negeri banyak peraturan, lemah penegakan. Kesulitan terus menghadang.

Berbagai aliran sesat dengan KUHP pasal 156 a, tanpa perlu SKB, apalagi Keppres, sebetulnya sudah cukup untuk menghentikan Ahmadiyah. Kenapa berlarut-larut ? Ini diskriminasi hukum, kata Mahendradatta, dari Tim Pembela Muslim. Indonesia dibuat panas, supaya keamanan, ekonomi dan politik terganggu, sehingga kekuatan asing mudah menguasai. Umat Islam selalu diganggu dengan kasus aliran sesat, dan itu dilindungi oleh penggiat HAM, kata ustad Edy Lukito, SH, ketua Lembaga Umat Islam Surakarta ( LUIS ). Secara hukum dan konstitusi, sudah jelas pelanggaran nilai konstitusi, dan harus dibubarkan. Kalau tidak dibubarkan, pemerintah yang melanggar konstitusi, kata politisi PPP ( Ahmad Yani  ? ). Sesuai amanat Penpres no.1/ PNS/ 1965 tentang Pencegahan dan/ atau Penodaan Agama yang telah diundangkan dalam UU no.5 tahun 1965, sanksi administratif bagi institusi yang melanggar adalah dibubarkan melalui keppres.

Peraturan Gubernur ( pergub ) no.12  tahun 2011 tentang Larangan Kegiatan Jemaat Ahmadiyah, menegaskan : penganut, pengurus dan jemaat Ahmadiyah dilarang melakukan aktivitas dalam bentuk apapun, sepanjang berkaitan dengan kegiatan penyebaran, penafsiran dan aktivitas yang menyimpang dari pokok2 ajaran Islam. Pemasangan papan nama organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia ( JAI ) di tempat umum, pemasangan papan nama tempat peribadatan, lembaga pendidikan, pelarangan atribut JAI dalam bentuk apa pun. Kaum muslim sendiri diharapkan tidak bertindak anarkis. Jika melihat ada kegiatan Ahmadiyah setelah pergub turun, laporkan pada pihak berwajib.

Dukungan ormas bagi pergub Jabar. Bubarkan Ahmadiyah ? SBY , please ..

Tahun 2020, akankah Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang besar, bermartabat dan disegani bangsa2 lain di dunia ? Akankah kebangkitan Indonesia betul2 luar biasa dan mencengangkan banyak orang ? Akankah ekonomi kita tumbuh menjajari raksasa ekonomi dunia saat ini ? ( Brasil, Rusia, India, China ). Akankah semua warga RI termotivasi melakukan sesuatu berharga untuk negeri ini ? Akankah kaum muda menjadi pasukan terdepan dalam skill masing2 plus nasionalisme tinggi mewujudkan impian keemasan Indonesia ? Sebaiknya begitu. Karena dengan begitu, agenda mayoritas kristen dari GHF praktis gagal. Banyak umat Islam akan terselamatkan. Tantangan bukan main. Maju !

“Saya siap menjadi khatib Jumat di masjid yang dulunya dianggap sebagai Masjid Ahmadiyah. Jadi kita bersama-sama bisa melaksanakan shalat Jumat biar mereka ( Ahmadiyah ) dapat melebur dengan kaum muslimin dan tidak eksklusif lagi serta diharapkan kembali ke Islam yang sesungguhnya,”terang Ahmad Heryawan usai menggelar Rapat Koordinasi dengan walikota/ bupati se-Jawa Barat di Graha Bhayangkara, Kota Bandung. Koordinator Aliansi Pergerakan Islam ( API ) Jawa Barat, Asep Syarifudin, mengungkapkan pihaknya telah menyediakan 100 pengacara muslim jika ada yang menggugat peraturan gubernur itu walau pun pihaknya tetap bersikeras menginginkan pemerintah pusat membubarkan Ahmadiyah.

Sekretaris Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ( DDII ) Kabupaten Kuningan, Tatang Kurnia mengatakan, pergub harus diterapkan dengan sanksi yang tegas pula. Jangan sampai menjadi macan kertas, seperti saat SKB ( pengawasan tidak optimal ). Bahkan mereka berani merebut surat penyegelan dari Satpol PP Kuningan tatkala akan menyegel masjid tempat peribadatan Ahmadiyah. Sekitar 4.000 jemaat Ahmadiyah tinggal di daerah Manislor, Kuningan.”Saya ingin mereka kembali ke Islam dan tidak eksklusif lagi. Lembaga pendidikan dan organisasinya dibekukan saja. Bila tak mematuhi maka laporkan saja ke pihak yang berwajib,”pintanya. ( “Sabili”no.16 Th.XVIII ).

Ketua Umum Gerakan Reformis Islam ( GARIS ), H.Chep Hernawan, berkata meski sudah ada pergub, saat diajak sholat berjamaah, mereka malah kabur dan melakukan shalatnya di rumah anggota Ahmadiyah, bukan di masjid. Anggota Ahmadiyah harus dibina, tetapi jika para pengurus dan ustadnya membandel, seharusnya mereka diseret ke ranah hukum. Setelah pergub turun, pemkot Bandung segera melakukan rapat koordinasi dengan lembaga dan ormas terkait, yang hasilnya membentuk tim khusus untuk memantau, mengawasi dan membina jemaat Ahmadiyah ( 1.400 orang ) yang ada di kota Bandung.

Bubarkan Ahmadiyah dengan keppres. Saatnya membaur.

Menurut pengamatan KH.Athian Ali M. Dai ( ketua FUUI ), drs.Aminudin Yakub, M.Ag ( MUI ) dan Dr.Abdul Fatah ( Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama ( KUB ) Kementerian Agama RI, yang sepakat Ahmadiyah itu sesat dan menyesatkan, mengatakan, Ahmadiyah merubah strategi, dari yang tadinya lembut, sekarang keras. Menempatkan diri seperti orang yang terzalimi dan menggunakan media untuk menyebarkan kalau mereka korban pelanggaran HAM. Padahal mereka sesungguhnya yang telah melanggar HAM kaum muslim. Solusi paling tepat, menurut KH.Athian Ali M. Dai, adalah pemerintah membubarkan. Umat Islam setuju jika pemda mengeluarkan pergub pelarangan Ahmadiyah selama presiden belum berani mengeluarkan keppres pembubaran Ahmadiyah.

Ratusan umat Islam Bogor mengadakan tabligh akbar di lapangan Balai Kota Bogor, ahad ( 6/3/2011 ) yang digiatkan HASMI ( Harakah Sunniyah untuk Masyarakat Islam ) bersama ormas yang tergabung dalam FUI kota Bogor. DPP HASMI diketuai ustad Muhammad Sarbini MHI .”Ahmadiyah adalah umat penista, karena Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa beliau-lah nabi terakhir. Kepada presiden SBY, karena anda seorang muslim, maka bubarkanlah Ahmadiyah,”seru seorang orator.

Resolusi Dewan HAM PBB : menistakan agama melanggar HAM. Lho ?

Ustad Wiyuddin Abdurrasyid, sekretaris FUI kota Bogor siap mengawal, membantu sosialisasi peraturan tsb, siap membela martabat walikota Bogor dan gubernur Jawa Barat dari gugatan yang mungkin akan dilakukan kaum Ahmadiyah dan LSM komprador asing. SK Walikota Bogor nomor 300 poin 45 dan Peraturan Provinsi ( Perprov ) 3 Maret 2011 yang ditandatangani langsung gubernur Jawa Barat, kapolda dan aparat terkait, bisa jadi dasar hukum pembubaran Ahmadiyah. Resolusi Dewan HAM PBB 26 Maret 2009 pasal 18 ayat 3 mengatakan  : penistaan agama adalah melanggar HAM.

Lain lagi yang dikatakan Kristen F.Bauer, Konsul Jenderal AS di Surabaya,”Kami mengutuk kekerasan terhadap kelompok minoritas dan hukum seharusnya melindungi minoritas. Karena itu, perda seharusnya melindungi minoritas agar tak mengalami kekerasan dan bukan justru membatasi aktivitas.” Perda yang membatasi jemaat Ahmadiyah sebagai kelompok minoritas akan merusak reputasi Indonesia sebagai negara demokrasi dengan tradisi toleransi yang kuat, katanya, di sela2 Dialog Antar-Agama yang dihadiri 30 anak muda, diantaranya 6 mahasiswa peserta program “Studi of US Institute” untuk mempelajari dialog antar agama di AS dan sejumlah anak muda dari 5 agama di Jawa Timur. Menurut Bauer, kekerasan itu biasanya dimotifi salah paham, miskomunikasi dan pengetahuan kurang. Tapi, ketika ditanya motif mana yang melanda kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah. Ia tidak tahu ( atau pura2 tidak tahu ).

Pengebom sakit hati dibilang tak berperikemanusiaan. Ada di dunia yang mana, ya ?

Di layar kaca, terlihat Ali Imran ( terpidana bom Bali ) ketika ditanya soal bom buku, menyentil anggota JIL ( Jaringan Islam Liberal ),”Mbok, Islam-nya jangan begitu”. Di sisi lain, ia merasa sakit hati dibilang tak berperikemanusiaan ( ketika mengebom ?  ). Ada orang2 tertentu yang menganggap Pancasila tidak Islam. Orang di luar kelompok mereka disebut kafir ( bukan muslim ). Yang lain bilang, teroris bukan Islam. Apa hidup dalam rasa aman menjadi kemewahan ?

Mencari akar terorisme mestinya dilakukan oleh orang yang bebas kepentingan, agar tuntas, pinta anggota Jama’ah Anshorut Tauhid ( JAT ). Pemerintah jangan diberi ‘cek kosong’. Masyarakat madani harus mengawasi dan memberi koreksi. UU no.15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, nanti ada revisi. RUU tentang intelijen juga sedang dibahas. Sekarang, menahan tersangka selama 6 bulan, bertentangan dengan KUHP. UU anti subversi menahan tersangka 1 bulan.

NII : memburu muslim demi uang ( dan murtad ). Sejarah sesatnya.

NII ( Negara Islam Indonesia ) asalnya DI ( Darul Islam, diproklamasikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, 7 Agustus 1949 di Cisayong Tasikmalaya Jawa Barat). Kemudian, NII berupa penjelasan singkat terkait proklamasi. Tahun 1980-an diadakan musyawarah tiga wilayah besar ( Jawa Barat, Sulawesi dan Aceh ) di Tangerang, Jawa Barat, yang memutuskan Adah Djaelani Tirtapradja menjadi Imam NII. Wilayah NII yang tadinya 7 dimekarkan menjadi 9, dengan penambahan KW VIII ( Komandemen Wilayah VIII ) Priangan Barat ( mencakup Bogor, Sukabumi, Cianjur ), dan KW IX Jakarta Raya ( Jakarta, Tangerang, Bekasi ).

Tahun 1990-an KW IX menjadi Ummul Quro ( ibukota negara ) bagi NII, menggantikan Tasikmalaya, atas keputusan Adah Djaelani. Karena pentingnya menguasai ibukota sebagai pusat pemerintahan, maka dibuka program negara secara lebih luas dan puncaknya ketika pemerintahan dipegang Abu Toto Syekh Panji Gumilang ( yang juga Syekh Ma’had Al-Zaitun, Desa Gantar, Indramayu, Jawa Barat ) menggantikan Adah Djaelani sejak tahun 1992.

Penyelewengan terjadi ketika pucuk pimpinan NII dipegang Abu Toto. Ia mengubah beberapa ketetapan Komandemen yang termuat dalam kitab PDB ( Pedoman Dharma Bakti ). Makna fai’ dan ghanimah yang tadinya bermakna harta rampasan dari musuh ketika terjadi peperangan ( fisik ), oleh Abu Toto diartikan sama saja, baik perang fisik maupun tidak. Artinya, harta orang selain NII boleh dirampas dan dianggap halal. Pemahaman ini tidak dicetuskan dalam bentuk ketetapan syura ( musyawarah KW IX ) atau tertulis, namun didoktrinkan pada jemaahnya. Sehingga jemaahnya banyak yang mencuri, merampok dan menipu, namun menganggapnya sebagai ibadah, karena sudah diinstruksikan oleh ‘negara’.

Dalam Kitab Undang-undang Dasar NII diwajibkan shalat fardhu 5 waktu, namun pada perkembangannya, dengan dalih ‘kondisi perang’, maka shalat pun dirapel. Artinya, dari mulai shalat dhuhur sampai subuh hanya dilakukan dalam satu waktu, masing2 satu rakaat. Ini doktrin Abu Toto dari tahun 2000-an. Mengenai puasa, mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Sudah terbit matahari pun masih boleh sahur, sedang jam 5 sore sudah boleh berbuka. Aneh, bukan ? ( dalil hadis diplintir seenak udel )

Gerakan ini memaksa anggota NII mencari satu orang per hari untuk dibawa tilawah, diarahkan hijrah dan dibaiat sebagai anggota NII. Anggapan NII, dengan baiat maka seseorang terhapus dari dosa masa lalu, tersucikan diri dan menjadi ahli surga. Peserta harus mengeluarkan shadaqah hijrah yang besarnya tergantung dosa yang dilakukan. Anggota NII aktif di Jakarta saat ini diperkirakan 120.000 orang ( dari http://waspada354.blogspot.com/2011/04/nii-ldii-jil-ahmadiyah-selalu-digegeri.html ).

Korban NII ingin berarti. Jangan buat dia merasa gagal di rumah.

Tahun 2011, anggota NII diperkirakan mencapai 200.000 orang. Korban NII umumnya usia SMP sampai mahasiswa, cenderung introver ( pendiam, tertutup ) dan punya passion besar ke-Islaman. Punya anggota keluarga tiba2 menghilang setelah mengkafirkan anda dan mencaci Pancasila ? ( atau burung Garuda, lambang negara kita ). Bisa jadi ia terdampar di kantong2 NII, menjadi budak pemerasan dan pemurtadan mereka. Bisa jadi ia dalam kondisi Laila Febriani ( Lian ), hilang ingatan setelah dicuci otaknya, atau dihipnotis.

Saya yang mengalami bagaimana seseorang menjadi pendiam atau tertutup ( karena pengecilan dari keluarga dan lingkungan secara terus menerus dalam berbagai bentuk ) dapat merasakan kejamnya gerakan ‘setan’ ini. Pendiam, karena apapun yang dikatakan, selama ini disalahkan. Tertutup karena, siapa sih yang mau dengar hinaan terus ? Hinaan yang selama ini diterima sudah sebatas ubun2, hampir tak tertanggungkan. Pemicu kecil saja sudah menumpahkan ( meledakkan ) emosinya. Di luar negeri, orang ‘terasing’ ini jadi agresif seperti menembak teman2 sekampus. Yang agresif ke dalam, menikam dirinya. Mati. Hidup seperti tak berguna. Beratnya hidup, seperti 20 kali lipat orang normal ( yang tak dihina orang2 terdekatnya ). Gagal bersaing, bahkan dengan anak cacat fisik, namun dipenuhi cinta oleh keluarganya. Nah, bagaimana jika yang ‘dibonsai’ di rumah ini, diperbudak lagi oleh NII ? Teganya.

( di teve, seorang penyiar ( normal ) terheran dan bertanya berulang kali, kenapa korban NII ( introver ) tak mendeteksi bahwa gerakan ini sesat atau mau diajak ke situ, melakukan ini itu ? Harap tahu saja, bung. Problem besar introver, setidaknya yang saya rasakan ( dulu ) : ia merasa tidak cukup baik untuk orang lain ( karena pembonsaian tsa ). Ia berusaha menyenangkan orang lain, bahkan sampai ‘menghabiskan’ dirinya. Sekedar diakui bahwa ia normal. Kedua, alarm alaminya tak berfungsi ketika bertemu orang2 buruk, karena perlakuan buruk tsb familiar buatnya yang diperlakukan buruk oleh keluarganya. Tak ada bedanya. Sebaliknya, anak yang diperlakukan baik cepat bereaksi jika ada orang yang menjahatinya. Jelas, perbedaan sikap ( dan gestur ) yang diterimanya dari orang asing jika dibandingkan keluarganya ( yang wajar menghargainya ). Di samping, ia punya teman banyak ( jaringan luas, informasi melimpah ), karena nyaman bersosialisasi, sehingga lebih mudah konfirmasi, jika diajak aneh2 oleh kelompok tertentu.

Di episode Oprah Show, seorang anak korban penculikan psikopat ( sudah dicabuli berbulan-bulan, masih juga ) disalahkan masyarakat, kenapa mau ditawari sepeda oleh pelaku ? Sekali lagi, bocah ini disugesti ‘bodoh’ ( oleh masyarakat, mayoritas bukan introver ). Lalu, Oprah Winfrey ( introver, karena pemerkosaan oleh pamannya sendiri ) berempati dan membelanya,”Nak, itu bukan salahmu. Itu kelicikan pelaku yang terbiasa memanipulasi korbannya. Kamu anak yang baik. Tanamkan di dadamu, kamu anak yang baik dan pintar.” Saya pun demikian, dari semua perkataan buruk yang saya terima dari keluarga dan sekolah, jutaan kata2 memuakkan itu, terselip 2 kata yang beda : ‘saya kira kamu itu pemikir, Ni’ dan ‘analisis kamu boleh juga’. Pemikir dan analisis itu yang saya putar ulang di otak saya, menindih sumpah serapah yang mengecilkan saya selama bertahun – tahun. Hari ini, saya sepertinya menjadi 2 kata itu. Korban NII, pun bisa demikian. Apa pun ajakan NII, itu bukan salah anda. Kita tahu sekarang, bagaimana kondisi itu bisa terjadi. Terpenting adalah, anda siapa ? ( ingin menjadi apa ). Versi Elizabeth Gilbert ( penulis “Eat Love Pray” ) : What are you ? ( jawaban Julia Roberts di film : menyeberang ).

Pengejek, penghina, penjahat, predator, teroris, psikopat, sudah cukup banyak mengincar, masih ditambah dengan gerakan sesat berkedok agama. Sementara, pelajar dan mahasiswa yang masih doyan main seperti anak kecil dibiarkan bebas semau gue menganggu orang lain. Agama dicari untuk menenangkan hati, justru ketemu-nya yang menyesatkan dan mengintimidasi. Makin sulitkah menemukan orang baik2 dewasa ini ? Yang meneduhkan jiwa, meringankan beban dan mampu berempati. Mereka bisa dihitung dengan jari. Makin baik orang, makin diincar setan dan diganggu berandalan ( anda seperti ketemu mereka, yang siap mencuri waktu anda, di mana pun  ). Jadi, siapa bilang menjadi orang baik itu mudah ?

Selamatkan anggota keluarga yang ‘terinfeksi virus’ NII dengan menghubungi hotline Rehabilitasi NII Crisis Center atau MUI ( Majelis Ulama Indonesia ). Galang suara masyarakat untuk mendesak pemerintah membubarkan gerakan sesat NII. Setelah korban kembali ke rumah, hargai dan manusiakan dia. Dengan keyakinan bahwa ia diterima, dihargai, dicintai ( bukan ucapan verbal kosong, tapi seluruh ekspresi tubuh dan hati anda menghargainya, karena jenis kami sangat peka dengan detail dan gerakan halus. Kami tahu itu tulus atau bullshit, sekedar melepas kewajiban, setelah itu berbuat lagi, dan lagi  ), tidak lagi dikecilkan ( dianggap tak mampu, ditertawakan sampai tersugesti bodoh kalau berani memprotes, diceramahi berulang kali seperti pada anak kecil, disindir dengan gerakan kacak pinggang seolah lantai masih kotor, diserempet jika berpapasan agar mengkerut seperti cara2 penyiksa mengetes calon korban penghisapannya, dll ), maka ia tak perlu substitusi dari luar, terlebih yang tak jelas asal usulnya. Diterima, dihargai, dicintai, tidak lagi dikecilkan, membuatnya merasa cukup. Dengan kesadaran jati diri yang utuh, merasa berarti. Tinggal berkarya untuk meraih impian. That’s all.

MUI menerima konsultasi & advokasi ( korban NII )

Call Center 08985151228- Email – FS – Facebook – Tagged – Chat YM : ken_setia@yahoo.com

( MUI ) K.H Mahruf Amin ( 0816790343 )- Amidhan ( 081172000 )- Aminudin Yakub ( 0818404946 ) – K.H Kholil Ridwan ( 0816882911 )

Sukanto, Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center

Ma’ruf Amin, ketua MUI, melakukan penelitian Ponpes Al Zaitun ( tahun 2002 ) mengatakan,”Kami menemukan persamaan kaitan dalam kepemimpinan NII dan Ponpes Al Zaitun, yakni Panji Gumilang.”

Bachtiar Rivai, mantan wakil camat NII untuk wilayah Karanganyar, Kebumen juga menyatakan Panji Gumilang atau Abu Toto merupakan pemimpin NII.

Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, yang sudah bertobat dari NII ini menyimpulkan meskipun berkedok Islam, sesungguhnya ajaran NII adalah ajaran setan. Semua cara dihalalkan demi uang.

( dari http://waspada354.blogspot.com/2011/04/nii-ldii-jil-ahmadiyah-selalu-digegeri.html )

Solusi terorisme di Indonesia : kesejahteraan & beragama dengan wawasan kebangsaan.

Masa orde baru intel kuat sekali. Kewenangannya sekarang dipotong, sehingga hanya bisa monitor, dan sesekali menangkap ‘tangan’ dan ‘kaki’-nya ( pelaku terorisme di lapangan, kroco2-nya, bukang dalangnya  ). Mestinya, intel diberi wewenang yang memadai. Di luar negeri, seperti Malaysia ada Internal Security Act ( ISA ) untuk tindak pencegahan ( preventif. Tapi, di tangan orang yang salah bisa disalahgunakan untuk membungkam suara kritis mereka yang vokal pada pemerintah ). Selama ini, Densus 88 ( kepolisian ) yang bekerja di TKP, padahal ibarat dinosaurus, terorisme di Indonesia, anaknya sudah ke mana2, kata Tjipta Lesmana.

Asal diberi payung hukum, tentara bisa dikerahkan untuk menghentikan terorisme. Asal pemerintah berani dan tegas, teroris bisa di-deradikalisasi, kata Hasyim Muzadi. Wawasan keagamaan harus disertai pemahaman kebangsaan. Bukan semata teks agama ( ritual ), tapi juga nilai luhur agama ( kesejahteraan ). Badan Nasional Pemberantasan Terorisme ( BNPT ) diharapkan mampu menyelesaikan masalah terorisme dari 2 sisi. Integrated system dan combat terorism. Keluar dari penjara, sampai di pintu rumah dihadapkan masalah perut anak istri, lalu ada yang menawari uang, maka dengan mudah pelaku teror kambuh lagi. Perlu sistem tangguh dan leadership kuat untuk menangkal kejahatan terorisme. Satu komando. Densus harus kuat, tegas tapi terukur.

Kekuatan Pemurtadan Global  vs  Indonesia maju-kuat-makmur.

Barat berharap kekuatan ekonomi makro akan tetap dalam genggaman mereka. Rumusannya :  transformasi gagal jika umat Islam di Indonesia maju, kuat dan makmur. Transformasi sukses jika umat Islam putus asa, kesusahan, tak percaya pada pemimpin, dan chaos. ( mengikuti kerusuhan SARA  belakangan ini yang menyudutkan muslim ? It makes sense ). Banyak gereja di Indonesia telah menjadi anggota Global Harvest Force, yang terobsesi memobilisasi 10 juta pekerja tuaian (  pekerja pemurtadan ) di negara2 anggota. ( lalu kita ingat bom Natal/ gereja. Ulah militan agama tertentu, dengan dalang Barat di ujung rantai komando ?  ). Gereja membentuk departemen khusus anak, membantu Gembala Sidang. Sasarannya anak2 play group, TK, SD dan SMP awal. Misi guru Kristen : menanamkan komitmen penginjilan pada para siswa dan guru Pengajaran Agama Kristen ( PAK ) di sekolah negeri dan swasta, serta guru kristen yang mengajar bidang studi umum.

Penginjilan konvensional dan penginjilan sosial, berkembang menjadi proyek pemberdayaan masyarakat. ( adakah Lions Club dan Rotary Club termasuk dalam hajatan ini ? ). Bersama jejaring Proyek 2020, pelaku penginjilan bergayung sambut dengan gereja, lembaga Kristen, pelaku pendidikan, bahu membahu menguasai media massa, sumber dana, lalu menyamar berbagai profesi ( guru, pedagang, pengusaha, seniman, tukang, penyembuh, dll ). Konsep bipolar ( 2 kutub ) dengan memegang tampuk kepemimpinan ( kekuatan politik, parpol, fraksi di parlemen ). Sebagian elit parpol kristen berpolarisasi ke parpol lain untuk mempengaruhi kebijakan partai yang berpihak pada gereja. Agama mereka anggap  tidak menyelesaikan kesenjangan interaksi sosio-tekno-kultural. Kesenjangan antara pemahaman Islam dan realita hidup. ( sering kita lihat ustad majelis taklim hidup pas-pasan, dan disokong hidupnya oleh anggota majelis. Tumpulnya hukum di hadapan penguasa ekonomi, lama2 membuat orang mempertanyakan kehadiran Tuhan ( keadilan ). Mungkinkah sejarah Spanyol terulang ? ( jaman keemasan Islam yang cukup panjang lalu runtuh ).

Anda bisa melihat Ahmadiyah dalam konteks ini ? Hakikatnya tak berbeda dengan mereka. Memperlemah kaum muslim, mayoritas rakyat negeri ini. Apakah Indonesia tertinggal 500 tahun dari Kristen Katholik dan Kristen Protestan seperti dikatakan si ‘capres’ ? Atau justru, keblabasan. Begitu ‘toleran’-nya kita, sampai agama mayoritas diacak-acak pun dibiarkan saja. Mau berkeping berapa bagian negeri ini ke depan ? Intelektual harus melawan, melakukan sosialisasi ke berbagai pihak, membentuk forum khusus, membentuk komunikasi resmi dengan forum yang sudah ada, melakukan koordinasi dan membuat laporan rutin perkembangan gerakan pemurtadan ini. Jangan lengah dengan bujuk rayu para misionaris. Jangan termakan ‘ratapan’ anggota Ahmadiyah. Bubarkan saja. Setuju ?

Written by Savitri

7 April 2011 pada 19:41

Ditulis dalam Ragam

Tagged with , , , ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ swyt : hati nurani itu dipelihara dengan apa yang dimasukkan ke dalamnya. Jika kesombongan, kekerasan, iri dengki, pornografi, dll, yang masuk, maka nuraninya menghitam ( mati ). Kita juga perlu mendalami agama dan hal2 yang menjadi kontroversi, kenapa terjadi saling bunuh. Anda akan lebih ngeh setelah membaca posting terbaru saya tentang directur dan responder ( Badai di Demokrat .. ). Selamat membaca ..

    Savitri

    5 Juli 2011 at 18:55

  2. Diantara perbedaan2 masih ada satu persamaan diantara kita semua, Muslim, kristen, ahmadiyah dan apalah itu namanya yaitu Hati Nurani. Suara Hati Nurani adalah Suara Allah, maka biasakanlah mendengarNya. Apabila semua menggunakan Hati Nuraninya niscaya tidak akan ada permusuhan, tidak ada Mayoritas, minoritas, dsb. Amatilah sebenarnya kita telah dikuasai Nafsu-nafsu amarah, iri, dengki, serakah, dsb yg semuanya adalah rekayasa syetan dan iblis, hingga kita tak peduli lagi saudara, tetangga, sebangsa bisa saling menjelekkan dan saling bunuh. Saya sebagai manusia saja sedih melihatnya. Apalagi….. Tuhan… Astagafirullah.

    swyt

    28 Juni 2011 at 14:40

  3. @ cyber.tangerang :
    Setahu saya mesjid2 dibakar penduduk ( wilayah non muslim ) juga tak ditayangkan di TV. Mungkin, kuatir mendatangkan murka kaum muslim yang mayoritas di negeri ini. Lebih sulit mengendalikannya ( massa jumlah besar ), daripada, misalnya, minoritas non muslim yang dirugikan. Atau juga karena pertimbangan lain. Gereja/ tempat ibadah memang harus berizin/ mengajukan izin ke pihak terkait/ berwenang ( termasuk izin dari tetangga ). Saya terkesan dengan kepedulian anda pada kondisi beragama warga kita. Terus maju, ya !

    Savitri

    6 Juni 2011 at 21:38

  4. untuk para misionaris kristen indonesia…..
    sebetulnya permasalan mengenai perusakan rumah ibadah ibarat ada api pasti ada asap,…intinya jawaban ini semua adalah sebuah kejujuran dari pelaksananya.

    Seperti ditangerang,saya bahkan pernah di ajak untuk
    mengajak masuk kristen oleh misi seorang misionaris…saya sedih sebagai muslim karna yg memaksakan hal tersebut dari sahabat saya ….lambat laun saya bisa berikan pengertian dan kawan ku pun memahaminya ,tidak boleh memaksakan kehendak cukup jalani kebebasan sesuia agama masing2 …kalau bicara menjelekan kekurangan suatu agama setiap pemeluk agama saat ini banyak kekurangan kalu mau di ekspose.Begitu pula berita tv hanya indonesia bagian barat sajayg ditayangkan padahal berita kriminal dari indonesia bagian timur (mayoritas kristen) di timur juga ada.
    Maka dari itu saya perlu bicara bijaksana sebagai kebijaksaan atas nama menjaga kesatuan indonesia dengan kejujuran .
    1. Dalam mendirikan rumah ibadah sebaiknya izin
    a.Masyarakat Asli dikumpulkan Voting secara demokrasi
    b.Jangan membawa / menggunakan nama daerah atau yg asli padahal anda pendatang…kamiwarga asli sedih…

    2. Dalam berikan bantuan kemanusian silahkan saja gunakan sebuah kejujuran pakai nama dari perkumpulan gereja dan membuat serta mengedarkan buku tulis disitu khusus agama kristen….jujur

    Kalau anda masih berbuat bohong mengunakan nama inisial palsu…inilah akar permasalah awal yang anda buat(misionaris)….sebaiknya hargai mayoritas kristen yg nanti kena batunya…kasihan…(kawan saya juga ada kristen)……Acara TV juga jujur kalau jaman suharto tiap acara pasti diberi label “khusus kristen atau islam….
    Inti dari semua ini peka menggunakan kejujuran…..dan menghargai sesama warga indonesia……

    cyber.tangerang

    4 Juni 2011 at 23:41

  5. bubarkan ahhmadiyah saya setuju.
    gimana caranya biar pemurtadan bisa di stop… islam agamaku jangan sampe ada yang merusak… teroris basmi sebelum memecah belah NKRI yang kita cintai ini…nii BUBARKAN…saya doakan pak presiden SBY bisa atasi masalah negriku ini…

    nanang atabroni

    22 April 2011 at 19:52


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s